Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Cokorda Bagus Jaya
Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pediatric Cancer Parents' Salivary Alpha-Amylase (sAA) Level Utami, Kadek Cahya; Januraga, Pande Putu; Lesmana, Cokorda Bagus Jaya; Ani, Luh Seri
Babali Nursing Research Vol. 5 No. 4 (2024): October
Publisher : Babali Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37363/bnr.2024.54434

Abstract

Introduction: Parenting a child with cancer presents significant challenges that can increase parental stress. Without appropriate interventions, this stress may impair parents' ability to provide the best possible care for their children. To implement effective care strategies, healthcare professionals, particularly nurses, must assess the stress levels experienced by parents. One objective indicator of stress is salivary Alpha-Amylase (sAA), which can be measured using a cocorometer through saliva samples. This study aimed to assess sAA levels among parents of children with cancer. Methods: The research employed a descriptive, quantitative, cross-sectional design with a sample of 30 parents from Rumah Singgah Yayasan Peduli Kanker Anak Bali, selected through purposive sampling. The research instrument used was a NIPRO-brand cocorometer. Results: Findings revealed an average sAA level of 34.93 kIU/L, with a range from 5 kIU/L to 60 kIU/L. Higher sAA levels were observed among female respondents, those residing outside of Bali, and those caring for children under two years old. Conclusion: Continuous monitoring of parental stress using objective measures such as sAA is recommended for nurses to support optimal stress management.
RESIKO GANGGUAN JIWA PADA PASANGAN DENGAN BENTUK PERNIKAHAN PADA GELAHANG ANGGANI, A A SAGUNG RIA ARDHA; LESMANA, COKORDA BAGUS JAYA; ARIANI, NI KETUT PUTRI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4353

Abstract

In Balinese social customs, there are three types of marriage, namely ordinary marriage, nyentana marriage, and gelahang marriage. A gelahang marriage is a marriage where neither party says goodbye and both parties decide to maintain their status as kapurusa in fulfilling their obligations (swadharma) and rights (swadikara) in their respective families. Marriages in this gelahang are generally carried out because both parties are determined not to leave their families, so that ordinary marriages or nyentana marriages cannot occur. These social stressors can result in the risk of mental disorders in couples undergoing a marriage system. Several studies show that the use of a traditional marriage system, the use of an arranged marriage system, or marriages involving extended families pose a risk for the emergence of mental disorders in a person. A wedding at a gelahang requires the bride and groom to fulfill their obligations as kapurusa to each side of the family in fulfilling swadharma and self-sufficiency, and in carrying on ancestral traditions. This must be done equally by one side of the family and the other by the bridal couple who are carrying out the wedding at the gelahang. In a wedding at Gelahang, the burden of obligations on both sides of the family must be fulfilled so that the burden of obligations carried out increases on each side of the bride and groom. This can be an emotional and psychological stressor for brides and grooms who get married at Gelahang. Weddings carried out with various rituals are an illustration of the value in each procession undertaken. In many cultures, families have very high expectations of married couples. The pressure to live up to social standards can be overwhelming for couples. Marriage in a gelahang is a risk of mental disorders ABSTRAKDalam adat kemasyarakatan Bali, terdapat tiga jenis pernikahan yaitu pernikahan biasa, pernikahan nyentana, dan pernikahan pada gelahang. Pernikahan pada gelahang merupakan pernikahan dimana kedua belah pihak tidak ada yang melakukan mepamit dan kedua belah pihak memutuskan mempertahankan statusnya sebagai kapurusa dalam memenuhi kewajiban (swadharma) dan hak (swadikara) dalam masing-masing keluarga. Pernikahan pada gelahang ini umumnya dilakukan akibat kedua belah pihak bersih kukuh untuk tidak meninggalkan keluarganya, sehingga pernikahan biasa atau pernikahan nyentana tidak dapat terjadi. Stresor sosial ini dapat mengakibatkan munculnya risiko gangguan jiwa pada pasangan yang menjalani sistem pernikahan pada gelahang. Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan sistem pernikahan secara tradisional, penggunaan sistem perjodohan, atau pernikahan yang melibatkan keluarga besar menjadi risiko munculnya gangguan jiwa pada seseorang. Pernikahan pada gelahang mewajibkan kedua belah pengantin untuk memenuhi kewajibannya sebagai kapurusa kepada masing-masing pihak keluarga dalam memenuhi swadharma dan swadikara, dan dalam meneruskan tradisi leluhur. Hal ini wajib dilakukan sama rata pada pihak keluarga satu dan yang lainnya oleh pasangan pengantin yang menjalankan pernikahan pada gelahang. pada pernikahan pada gelahang, beban kewajiban pada kedua belah pihak keluarga wajib dipenuhi sehingga beban kewajiban yang dijalankan bertambah pada masing-masih pihak pengantin. Hal ini yang dapat menjadikan stresor emosional dan psikologis kepada pengantin yang menjalankan pernikahan pada gelahang. Pernikahan yang dilakukan dengan berbagai ritual menjadi gambaran nilai dalam masing-masing prosesi yang dijalani. Dalam banyak budaya, keluarga memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap pasangan yang menikah. Tekanan untuk memenuhi standar sosial bisa sangat membebani pasangan. Pernikahan pada gelahang sebagai resiko terjadinya gangguan jiwa
ASPEK SPIRITUAL DAN PENGGUNAAN ‘SPIRITUAL HEALTH ASSESSMENT SCALE’ DALAM RAWATAN HOSPICE: ARTICLE REVIEW JIMMY, JIMMY; ARIANI, NI KETUT PUTRI; SUTRISNA, I PUTU BELLY; LESMANA, COKORDA BAGUS JAYA; KURNIAWAN, LELY SETYAWATI; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4357

Abstract

The goal of hospice care is to relieve patient’s physical, psychological, social, and spiritual stress who are nearing the end of life, thereby ultimately improving the quality of life because hospice care views humans from a holistic perspective. Spirituality is a dynamic and essential aspect of humanity that includes the search for highest meaning, purpose in life, transcendence and connection with oneself, family and others which is manifested in beliefs, values, traditions and practices. This has had a positive impact that includes spiritual well-being, quality of life, adaptation, physical and psychological health which ultimately meets the needs of patients and families in finding meaning and purpose in life, restoring relationships and love and being able to accept death and maintain hope and support a dignified death. Mean center and Dignitiy psychotherapy has been tested as a psychotherapy that focuses on the patient's meaning and dignity. Spirituality is a concept that is not limited to religion and is a key concept in the care of terminal illness. Therefore, spiritual care is an important element of hospice care that significantly influences the quality of all care provided. The spiritual care guidance and assessment model was developed as a care guide in the fundamental and spiritual aspects of human beings in hospice care. Spiritual Health Assessment Scale (SHAS) is a scale developed to assess spiritual health that is used for the entire community and is not based only on religion which contains 3 domains in the form of self-development, self-actualization and self-realization. ABSTRAKTujuan dari perawatan hospice adalah untuk meringankan tekanan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien yang mendekati akhir hidup sehingga pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup karena rawatan hospice memandang manusia dari sudut pandang holistik. Spiritual adalah aspek dinamis dan essensial dari kemanusiaan yang mencakup pencarian makna tertinggi, tujuan hidup, transendensi dan hubungan dengan diri sendiri, keluarga dan orang lain yang terwujud dalam keyakinan, nilai, tradisi dan praktik. Hal ini telah memiliki dampak positif yang mencakup kesejahteraan spiritual, kualitas hidup, adaptasi, kesehatan fisik dan psikologis yang akhirnya memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga dalam menemukan makna dan tujuan hidup, memulihkan hubungan dan cinta serta bisa menerima kematian dan mempertahankan harapan serta mendukung kematian yang bermartabat. Mean center and Dignitiy psychotherapy telah diuji sebagai psikoterapi yang berfokus pada makna dan martabat pasien. Spritual adalah konsep yang tidak terbatas pada agama dan konsep kunci dalam tanda penting dalam perawatan penyakit terminal. Oleh karena itu , perawatan spiritual merupakan elemen penting dari perawatan hospice yang secara signifikan mempengaruhi kualitas seluruh perawatan yang diberikan.Model panduan perawatan spiritual dan penilaian dikembangkan sebagai panduan perawatan dalam aspek fundamental dan spiritual manusia dalam perawatan hospice. Spiritual Health Assessment Scale (SHAS) merupakan skala yang dikembangkan untuk mengkaji kesehatan spiritual yang digunakan untuk seluruh masyarakat dan tidak berdasarkan hanya pada agama yang berisi 3 dormain berupa pengembangan diri, aktualisasi diri dan realisasi diri
HUBUNGAN ANTARA GANGGUAN STRES PASKA TRAUMA DENGAN KUALITAS HIDUP PADA TENAGA KESEHATAN PENYINTAS COVID-19 DI RSUP PROF. DR. I G.N.G. NGOERAH DAMARNEGARA, ANAK AGUNG NGURAH ANDIKA; ARIANI, NI KETUT PUTRI; LESMANA, COKORDA BAGUS JAYA; PUTRA, I WAYAN GEDE ARTAWAN EKA; ARYANI, LUH NYOMAN ALIT; WAHYUNI, ANAK AYU SRI; KURNIAWAN, LELY SETYAWATI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4391

Abstract

The COVID-19 pandemic has had a significant impact on the mental health of health workers, including Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), which negatively affects their quality of life. This study aims to determine the prevalence of PTSD, quality of life, and the relationship between PTSD and quality of life in health workers who are COVID-19 survivors at Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah General Hospital. This analytical observational study used a cross-sectional design with the PCL-5 and WHOQOL-BREF questionnaires in 188 health workers from July to October 2022. The results showed a prevalence of PTSD of 10.1%. The overall quality of life was mostly in the good category (62.8%), but there were respondents with very poor (0.5%) and poor (3.2%) quality of life. In the physical health domain, the quality of life was mostly in the moderate category (61.7%), while the psychological, social relationships, and environmental domains showed variations in moderate to good quality of life with several respondents in the very poor category (0.5%). Analysis showed a trend towards worse overall quality of life in subjects with GSPT compared to those without (P<0.002). In conclusion, there is a significant relationship between GSPT and overall quality of life, although it does not apply to each domain of quality of life specifically. GSPT can reduce the overall quality of life of COVID-19 survivor health workers. ABSTRAKPandemi COVID-19 memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan mental tenaga kesehatan, termasuk Gangguan Stres Pasca Trauma (GSPT), yang memengaruhi kualitas hidup mereka secara negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi GSPT, kualitas hidup, serta hubungan antara GSPT dan kualitas hidup pada tenaga kesehatan penyintas COVID-19 di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah. Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain potong lintang dengan kuesioner PCL-5 dan WHOQOL-BREF pada 188 tenaga kesehatan dalam periode Juli hingga Oktober 2022. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi GSPT sebesar 10,1%. Kualitas hidup keseluruhan terbanyak berada pada kategori baik (62,8%), tetapi terdapat responden dengan kualitas hidup sangat buruk (0,5%) dan buruk (3,2%). Dalam domain kesehatan fisik, kualitas hidup terbanyak berada pada kategori sedang (61,7%), sedangkan domain psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan menunjukkan variasi kualitas hidup sedang hingga baik dengan beberapa responden pada kategori sangat buruk (0,5%). Analisis menunjukkan kecenderungan kualitas hidup keseluruhan yang lebih buruk pada subjek dengan GSPT dibandingkan yang tidak (P<0,002). Kesimpulan, terdapat hubungan signifikan antara GSPT dan kualitas hidup keseluruhan, meskipun tidak berlaku pada masing-masing domain kualitas hidup secara spesifik. GSPT dapat menurunkan kualitas hidup tenaga kesehatan penyintas COVID-19 secara keseluruhan.
HUBUNGAN KUALITAS HIDUP DAN TINGKAT KEBAHAGIAAN PADA KLIEN TERAPI RUMATAN METADON DI POLIKLINIK ADIKSI RS NGOERAH Ayustama, Fariza; Lesmana, Cokorda Bagus Jaya; Aryani, Luh Nyoman Alit; Putra, I Wayan Gede Artawan Eka; Mahardika, I Komang Ana
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i3.6615

Abstract

Methadone Maintenance Therapy (MMT) has been proven effective in reducing the risk of opioid relapse. However, psychosocial aspects such as happiness and quality of life are still rarely addressed as indicators of therapeutic success. To assess the relationship between quality of life (WHOQOL-BREF) and happiness level (Oxford Happiness Questionnaire/OHQ) among MMT clients in Bali Province. This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 36 respondents from four MMT institutions in Bali were selected purposively. Pearson correlation, chi-square, and multiple linear regression analyses were conducted. The mean total quality of life score (WHOQOL-BREF) was 118.53 ± 12.77, and the mean happiness score (OHQ) was 101.17 ± 15.67. Significant correlations were found between the psychological domain and happiness (r = 0.521; p = 0.001), the environmental domain (r = 0.415; p = 0.012), and the social domain (r = 0.336; p = 0.045). The physical domain was not significantly associated (r = 0.239; p = 0.161). In the multivariate analysis, significant predictors of happiness were marital status (B = -4.589; p = 0.004), duration of methadone use (B = 1.791; p = 0.007), and the psychological domain (B = 0.490; p = 0.022). The model's R² was 0.635, indicating a strong predictive contribution of these variables. There is a significant relationship between quality-of-life scores in the psychological, environmental and social domains with happiness scores. The control variables in the marital status and length of methadone use were significantly related to happiness scores in the multivariate model. The PTRM program needs to integrate supportive psychological, social and environmental approaches as part of holistic recovery. ABSTRAKProgram Terapi Rumatan Metadon (PTRM) terbukti efektif dalam menurunkan risiko kekambuhan opioid. Namun, indikator keberhasilan terapi belum banyak menyoroti aspek psikososial seperti kebahagiaan dan kualitas hidup. Menilai hubungan antara kualitas hidup (WHOQOL-BREF) dan tingkat kebahagiaan (Oxford Happiness Questionnaire/OHQ) pada klien PTRM di Provinsi Bali. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 36 responden dari empat institusi PTRM di Bali dipilih secara purposif. Analisis korelasi Pearson, chi-square, dan regresi linear multivariat digunakan. Skor rata-rata kualitas hidup (WHOQOL-BREF total) adalah 118,53 ± 12,77, sedangkan skor kebahagiaan (OHQ) adalah 101,17 ± 15,67. Terdapat korelasi signifikan antara domain psikologis dengan kebahagiaan (r = 0,521; p = 0,001), domain lingkungan (r = 0,415; p = 0,012), dan domain sosial (r = 0,336; p = 0,045). Domain fisik tidak menunjukkan hubungan bermakna (r = 0,239; p = 0,161). Dalam analisis multivariat, variabel yang berhubungan signifikan terhadap kebahagiaan adalah status perkawinan (B = -4,589; p = 0,004), lama penggunaan metadon (B = 1,791; p = 0,007), dan domain psikologis (B = 0,490; p = 0,022). R² model sebesar 0,635 menunjukkan kontribusi variabel-variabel prediktor terhadap kebahagiaan cukup kuat. Terdapat hubungan yang signifikan antara skor kualitas hidup pada domain psikologis, lingkungan dan sosial dengan skor kebahagiaan. Variabel kendali berupa perkawinan dan lama penggunaan metadon berhubungan signifikan terhadap skor kebahagiaan dalam model multivariat. Program PTRM perlu mengintegrasikan pendekatan psikologis, sosial dan lingkungan yang mendukung sebagai bagian dari pemulihan holistik.
Exploratory Excitability and Sensation Seeking as Moderating Factors on the Mere Exposure Effect Tiliopoulos, Niko; Au, Jacky; Lesmana, Cokorda Bagus Jaya
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 28 No 2 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 2, 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v28i2.4162

Abstract

The mere exposure effect (Zajonc, 1968) proposes that repeated exposure to a stimulus enhances one’s attitude towards it. The present study examined the moderating effects of sensation seeking and exploratory excitability on the mere exposure effect. Eighty-five females were exposed to photographs of faces subliminally. Participants completed the Sensation Seeking Scale (SSS-V) and the IPIP Variety-seeking questionnaires and provided liking and recognition ratings for faces previously viewed 0, 1, 2, 5, 10, or 25 times. Liking ratings did not vary as a function of exposure frequency. Sensation seeking failed to moderate the effect of exposure on liking for facial stimuli. Exploratory excitability appeared to interact with frequency of exposure, such that higher variety- seeking was associated with an increased liking for novel faces and a decreased liking for repeatedly exposed faces but the significance of this finding was questionable. Interpretation of these results, methodological limitations and directions for future research are discussed. Efek paparan sederhana (Zajonc, 1968) mengusulkan bahwa paparan berulang pada suatu stimulus meningkatkan sikap seseorang ke arah paparan. Penelitian ini meneliti efek kendali dari pencarian sensasi dan rangsangan eksplorasi pada efek paparan sederhana. Delapan puluh lima perempuan ditunjukkan foto-foto wajah secara terselubung. Peserta menyelesaikan Sensation Seeking Scale (SSS-V) dan kuesioner IPIP variety-seeking dan memberikan tingkat pengakuan dan keinginan untuk foto-foto wajah yang dilihat sebelumnya sebanyak 0, 1, 2, 5, 10, atau 25 kali. Tingkat menyukai tidak bervariasi dalam fungsi dari tingkat paparan. Mencari sensasi gagal mengendalikan pengaruh paparan terhadap keinginan untuk rangsangan wajah. Rangsangan eksplorasi terlihat berinteraksi dengan frekuensi paparan, seperti dalam hal ragam keinginan yang lebih tinggi dikaitkan dengan meningkatnya keinginan menyukai wajah yang baru dan menurun menyukai paparan wajah yang berulang, tetapi kemaknaan dari temuan masih dipertanyakan. Interpretasi dari hasil, keterbatasan metodologi dan arah untuk penelitian lanjutan dibahas dalam studi ini.