Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Asupan Energi dan Asupan Protein dengan Kebugaran Jasmani pada Mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta Imtinan Mauriko Safitri; Luluk Ria Rakhma; Nur Lathifah Mardiyati
Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 7 No. 1 (2024): Ranah Research : Journal Of Multidisciplinary Research and Development (Novembe
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/rrj.v7i1.1187

Abstract

Mahasiswa pada usia dewasa muda (18-26 tahun) berada dalam fase kritis perkembangan, di mana kebutuhan energi dan protein menjadi sangat penting untuk mendukung aktivitas sehari-hari dan kebugaran jasmani. Namun, banyak mahasiswa yang kurang memperhatikan asupan nutrisi dan aktivitas fisik yang dapat mempengaruhi kebugaran jasmani mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan energi dan asupan protein dengan kebugaran jasmani pada mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 64 mahasiswa yang dipilih secara acak menggunakan simple random sampling. Data asupan energi dan protein diperoleh melalui wawancara menggunakan food recall 24 jam selama 3 hari tidak berturut-turut, kemudian dianalisis menggunakan uji Rank Spearman untuk menentukan hubungan dengan kebugaran jasmani. Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan variabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta memiliki asupan energi baik (78,1%) dan protein (48,4%) yang kurang, meskipun 92,2% dari mereka memiliki tingkat kebugaran jasmani yang baik. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara asupan energi (p=0,005) dan asupan protein (p=0,007) dengan kebugaran jasmani mahasiswa. Kesimpulannya, asupan energi dan protein yang baik berperan penting dalam mendukung kebugaran jasmani mahasiswa.
Hubungan Asupan Karbohidrat dan Status Gizi dengan Kebugaran Jasmani pada Mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta Pradita Wahyuningtyas; Luluk Ria Rakhma; Nur Lathifah Mardiyati
Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 7 No. 1 (2024): Ranah Research : Journal Of Multidisciplinary Research and Development (Novembe
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/rrj.v7i1.1188

Abstract

Mahasiswa merupakan individu yang berada dalam tahap transisi menuju dewasa, umumnya berusia antara 18 hingga 25 tahun. Masa ini adalah fase kehidupan yang penuh aktivitas, sehingga membutuhkan keseimbangan antara aktivitas fisik dan pola makan yang tepat untuk mencapai pertumbuhan yang optimal serta menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Data dari Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa sekitar sekitar 66,5% dari 818.507 penduduk Indonesia tercatat memiliki tingkat kebugaran yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan karbohidrat dan status gizi dengan kebugaran jasmani mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 64 mahasiswa yang diambil secara acak, dengan pengukuran asupan karbohidrat menggunakan metode food recall 3x24 jam dan penentuan status gizi menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Kebugaran jasmani diukur melalui tes kebugaran standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 78,1% mahasiswa memiliki asupan karbohidrat yang kurang, sedangkan 76,6% mahasiswa memiliki status gizi normal. Analisis statistik menggunakan uji Rank Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara asupan karbohidrat dan status gizi dengan kebugaran jasmani, dengan nilai p=0,005 untuk asupan karbohidrat dan p=0,022 untuk status gizi. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan asupan karbohidrat yang memadai dan status gizi yang baik berkontribusi terhadap peningkatan kebugaran jasmani mahasiswa. Rekomendasi untuk meningkatkan kesadaran gizi dan pola makan yang seimbang di kalangan mahasiswa juga dibahas dalam penelitian ini.
Relationship Between Household Food Security And Nutritional Status Of Toddlers In Flood-Prone Areas Of Surakarta Rafifah, Hasna; Ria Rakhma, Luluk; Kurnia, Pramudya
JURNAL ILMIAH AGRINECA Vol 25 No 1 (2025): JURNAL ILMIAH AGRINECA
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/afp.v25i1.4128

Abstract

Flooding poses numerous negative consequences, particularly for the food security of households in areas prone to flooding. The nutritional health of children under five is directly affected by household food security, highlighting the strong connection between the two. The study was carried out in flood-prone areas within the Pasar Kliwon District of Surakarta, specifically in the villages of Sangkrah and Semanggi. This observational research used a proportional random sampling method to select participants. The respondents were heads of households or mothers, along with their children under five years of age. The collected data includes socio-economic factors such as income, gathered through interviews using a questionnaire. The HFIAS questionnaire was employed to assess household food security, while nutritional status was evaluated through anthropometric measurements. Z-scores were calculated using the WHO-Antro software, with WAZ and BAZ indicators serving to assess nutritional status. Statistical analyses, including the Fisher Exact test and Chi-Square test, were applied to examine correlations between variables. The results indicate that most households participating in this study are classified as food secure, and the majority of children under five are neither underweight nor wasted. While a positive link was identified between household income and food security, no significant correlation was observed between income and the nutritional status of children under five, as measured by WAZ or BAZ scores. Additionally, no relationship was found between household food security and the nutritional status of children under five based on WAZ or BAZ assessments.
Hubungan Pengetahuan Terkait Imunitas dengan Asupan Vitamin C pada Ibu Hamil Pasca Pandemi COVID-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Tanon 1 Sragen Hastuti, Rismayani; Rakhma, Luluk Ria
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i1.54948

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan mengenai imunitas dan asupan vitamin C pada ibu hamil pasca pandemi COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas Tanon 1, Sragen. Metode yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 66 ibu hamil sebagai subjek penelitian. Hasil menunjukkan bahwa 53% responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai imunitas, namun 69,7% memiliki asupan vitamin C yang kurang. Temuan ini menunjukkan perlunya peningkatan pengetahuan dan perhatian terhadap asupan gizi, khususnya vitamin C, untuk mendukung kesehatan ibu hamil dan janin di masa pandemi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi berharga bagi instansi kesehatan dan menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.
Si Dahsyat, Tentang Kita dan Isi Piringku: Upaya Preventif Atasi Stunting Sejak Dini di Desa Harjosari Kurnia, Pramudya; Firmansyah, Firmansyah; Sofyan, Aan; Kisnawaty, Sudrajah Warajati; Muwakhidah, Muwakhidah; Rakhma, Luluk Ria; Prawesthi, Tiva Eka; Fatimah, Fatimah; Kirana, Garda Sukma; Ariyanto, Fazri; Hani, Nur; Rahmawati, Seli Nur; Yolanda, Intania Widi; Mutiara, Intan
Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): JIPPM - Juni 2025
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jippm.761

Abstract

Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi secara kronis yang ditandai dengan kondisi anak yang memiliki tinggi badan dan BB kurang dari yang seharusnya. Kondisi ini dapat berakibat buruk dalam berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan anak. Prevalensi stunting di Desa Harjosari sebanyak 19 anak (9%), untuk mengatasi masalah tersebut berdasarkan keterangan dari petugas kesehatan setempat perlu adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman sebagai upaya preventif mengatasi stunting. Sehingga kegiatan yang diadakan di Desa Harjosari ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait gizi sebagai upaya preventif mengatasi stunting sejak dini. Penelitian ini mengadopsi metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, didukung dengan temuan dari observasi, wawancara, dan diskusi interaktif yang berfokus isu stunting serta dilaksanakan di Desa Harjosari, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, pada bulan Agustus-September 2024. Total keseluruhan partisipan dalam penelitian ini sebanyak 113 partisipan, dengan rincian partisipan kegiatan Implementasi Modul Tentang Kita BKKBN di SDN 02 Harjosari 70 partisipan, kegiatan Permainan Edukatif Isi Piringku sebanyak 28 partisipan dan kegiatan Si Dashat sebanyak 15 partisipan yang keduanya dilaksanakan di Aula Balai Desa Harjosari.
Hubungan riwayat ibu hamil anemia dengan berat badan dan panjang badan lahir bayi Mustika, Sandya Windu; Muwakhidah, Muwakhidah; Rakhma, Luluk Ria
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.875

Abstract

Background: Prevalence of pregnant women with anemia in 2013 was 37.1% and in 2018 it increased to 48.9%. In addition, as many as 51% of pregnant women experience anemia before giving birth. Anemia in pregnant women increases the risk of disorders in fetal development which is a factor influencing the weight and length of the baby at birth. Purpose: To determine the relationship between a history of anemia in pregnant women and the baby's birth weight and length. Method: Analytical study research with a cross-sectional study approach using consecutive sampling. The population of this study were mothers who gave birth at the Bringin Health Center, Ngawi Regency. This study was conducted in October, November, and December 2024 with a sample size of 37 respondents. Data analysis used in testing the relationship and strength between variables is the Chi Square Test statistical test with a degree of confidence p <0.05. Results: Pregnant women with hemoglobin levels who experience anemia are 12 respondents (32.4%). The results of the analysis of the relationship between anemia and birth weight obtained a value of p = 0.003 (<0.05). Mothers with anemia have a 7.29x greater risk of giving birth to a LBW baby. In addition, the relationship between anemia and birth length of the baby shows a relationship between the two variables (p = 0.013) and mothers with anemia have a 6.25x greater risk of giving birth to a short baby. Conclusion: There is a relationship between anemia in pregnant women and the birth weight and length of the baby. Suggestion: Pregnant women are expected to consume foods with high iron content.   Keywords: Anemia; Birth Length; Birth Weight; Pregnancy.   Pendahuluan: Prevalensi ibu hamil dengan anemia tahun 2013 sebesar 37.1% dan tahun 2018 mengalami peningkatan menjadi 48.9%. Selain itu, sebanyak 51% wanita hamil mengalami anemia sebelum melahirkan. Anemia pada ibu hamil memperbesar resiko gangguan terhadap perkembangan janin yang merupakan faktor pengaruh berat dan panjang bayi saat dilahirkan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan riwayat ibu hamil anemia dengan berat badan dan panjang lahir bayi. Metode: Penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional menggunakan consecutive sampling. Populasi penelitian ini ialah ibu yang melahirkan di Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2024 dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 37 responden. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik Chi Square Test dengan derajat kepercayaan p<0.05. Hasil: Ibu hamil dengan kadar hemoglobin yang mengalami anemia sebanyak 12 responden (32.4%). Hasil analisis hubungan antara anemia dengan berat badan lahir bayi memperoleh nilai p 0.003 (<0.05). Ibu dengan anemia memiliki resiko 7.29x lebih besar melahirkan bayi BBLR. Selain itu, hubungan anemia dengan panjang badan lahir bayi, menunjukkan adanya hubungan antara kedua variabel (p = 0.013) dan ibu dengan anemia memiliki resiko 6.25x lebih besar melahirkan bayi pendek. Simpulan: Ada hubungan antara ibu hamil anemia dengan berat badan dan panjang badan lahir bayi. Saran: Ibu hamil diharapkan konsumsi makanan dengan sumber zat besi yang tinggi.   Kata Kunci: Anemia; Berat Badan Lahir; Kehamilan; Panjang Badan Lahir.
Hubungan Ketahanan Pangan Keluarga dengan Status Gizi pada Wanita Usia Subur di Bendosari Masyiithoh Ridha Efendi; Luluk Ria Rakhma; Firmansyah, Firmansyah
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 4 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v4i4.6241

Abstract

Nutritional status in women of reproductive age is strongly influenced by food security, which plays an essential role in maintaining health. This study aimed to examine the correlation between household food security and the nutritional status of women of reproductive age in the Bendosari Community Health Center area, which covers three villages: Mulur, Mertan, and Toriyo. A total of 162 participants were selected using a simple random sampling method in this cross-sectional research. Food security was assessed using the Household Food Insecurity Access Scale (HFIAS) consisting of nine items related to food access, while nutritional status was measured through Mid-Upper Arm Circumference (MUAC), which represents the amount of fat reserves in the body. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of p<0.05. Findings revealed that 70.4% of respondents had household incomes below the regional minimum wage, and 9.9% were categorized as malnourished. The Chi-Square test produced a p-value of 0.037 (p<0.05), indicating a significant association between food security and women’s nutritional status in Bendosari. Food security is affected by factors such as income, education, knowledge, and household size, while women’s nutritional status is shaped by eating behaviors that, if poor, may result in health complications. These results highlight the importance of strengthening household food security to minimize the risk of Chronic Energy Deficiency among women of reproductive age.
Hubungan Asupan Pangan Lokal dengan Lingkar Lengan Atas pada Wanita Usia Subur di Wilayah Bendosari Wafiy Lailin Prehamukti; Luluk Ria Rakhma; Muwakhidah, Muwakhidah
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 4 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v4i4.6244

Abstract

Women of childbearing age are women who are still of reproductive age, ranging from 15 to 49 years old. Women of childbearing age are a group that is vulnerable to nutritional problems. One factor contributing to nutritional problems in women of childbearing age is inadequate nutritional intake. This nutritional intake can be obtained from consuming local foods, which can improve nutritional status. The objective of this study was to determine the relationship between local food intake and upper arm circumference in reproductive-age women in the Bendosari region. The research method used in this study was an observational analytical study with a cross-sectional design. A sample of 162 participants was selected using random sampling and adjusted according to inclusion criteria such as being aged 19–39 years, not currently pregnant, not currently on a diet, and willing to participate as respondents. Data on local food intake were obtained from the Semi-Quantitative Food Frequency SQ-FFQ form, while nutritional status was measured using upper arm circumference, a simple anthropometric indicator for assessing nutritional status, particularly muscle mass and body fat. This study used the Spearman's rank correlation test. The results showed a significant association between energy intake (p = 0.000), protein intake (p = 0.005), fat intake (p = 0.004), and carbohydrate intake (p = 0.000) with nutritional status. It can be concluded that dietary intake influences nutritional status.
Perbedaan indeks berat badan menurut tinggi badan sebelum dan sesudah pemberian makanan tambahan balita underweight Anggraeni, Mulia; Rakhma, Luluk Ria; Kisnawaty, Sudrajah Warajati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1205

Abstract

Background: Nutritional problems in toddlers, particularly underweight, remain a public health challenge in Indonesia. This condition can be influenced by consumption patterns, infections, and indirect factors, such as food access, parenting, sanitation, and health services. Furthermore, mothers' low nutritional knowledge also contributes to children's nutritional status. Lack of supplementary feeding programs is a major factor in the high rates of stunting and wasting in Indonesia. Continuous improvement in the distribution, education, and supervision of supplementary feeding programs is crucial to producing a healthier and more productive generation. Purpose: To determine the difference in body mass index according to height before and after the supplementary feeding programs to underweight infants. Method: A quantitative study using a quasi-experimental method was conducted at the Mojolaban Community Health Center, Sukoharjo, in April 2025. The independent variable was supplementary feeding program, while the dependent variable was weight-for-height. The sampling technique used total sampling, resulting in a sample size of 104 participants based on inclusion and exclusion criteria. Data analysis was performed using univariate analysis in the form of frequency distribution and bivariate analysis using the Wilcoxon test. Results: The mean ± SD of BB/TB Before was −1.7±0.7, with a range of values between −4.90 and −0.30. The mean BB/TB after intervention was −1.69 ± 0.7, with a range of values between −4.76 and 0.28. The Wilcoxon test results showed a p-value of 0.015, indicating a statistically significant difference between BB/TB before and after the supplementary feeding program implementation. Conclusion: Supplementary feeding program for 30 days has been shown to have a significant effect on improving the nutritional status of underweight infants. There was an increase in the Z-score for weight-for-height and the proportion of infants with normal nutritional status, indicating that supplementary feeding program intervention is effective in improving the nutritional status of infants.   Keywords: Body Weight Index; Height; Supplementary Feeding; Toddler; Underweight.   Pendahuluan: Masalah gizi pada balita, khususnya underweight, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh pola konsumsi, infeksi, dan faktor tidak langsung, seperti akses pangan, pola asuh, sanitasi, serta layanan kesehatan. Selain itu, rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi juga berkontribusi terhadap status gizi anak. Kurangnya pemberian makanan tambahan (PMT) menjadi faktor utama tingginya angka stunting dan wasting di Indonesia. Perbaikan distribusi, edukasi, dan pengawasan program PMT secara berkelanjutan sangat diperlukan untuk menghasilkan generasi yang lebih sehat dan produktif. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) sebelum dan sesudah pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita underweight. Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode quasi eksperimental, dilaksanakan di Puskesmas Mojolaban, Sukoharjo pada bulan April 2025. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT), sedangkan variabel dependen adalah berat badan menurut tinggi badan. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, didapatkan jumlah sampel sebanyak 104 partisipan. Analisis data yang digunakan adalah univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Nilai rata-rata (Mean±SD) BB/TB sebelum adalah −1.7±0.7, dengan rentang nilai antara −4.90 hingga −0.30. Nilai rata-rata BB/TB sesudah adalah −1.69±0.7, dengan rentang nilai antara −4.76 hingga 0.28. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p-value sebesar 0.015, yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara BB/TB sebelum dan sesudah pemberian PMT. Simpulan: PMT selama 30 hari terbukti berpengaruh signifikan terhadap perbaikan status gizi balita underweight. Terdapat peningkatan nilai Z-score BB/TB dan proporsi balita dengan status gizi normal, yang menunjukkan bahwa intervensi PMT efektif dalam meningkatkan status gizi balita.   Kata Kunci: Balita; Indeks Berat Badan; Makanan Tambahan; Tinggi Badan; Underweight.
Analisis efektivitas pemberian makanan tambahan terhadap indeks bb/u balita underweight Desiana, Zahra Ratnawati; Rakhma, Luluk Ria; Kisnawaty , Sudrajah Warajati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1211

Abstract

Background: Nutritional issues related to underweight remain a public health issue that impacts child growth and development. Supplemental feeding is one intervention taken to address underweight, particularly in early childhood, who are in a critical growth phase. The prevalence of underweight children in Indonesia reached 17.1%, while in Central Java the figure was 17.6% in 2022. In Sukoharjo Regency, the prevalence of underweight was recorded at 11.8%, with 228 cases reported in the Mojolaban Community Health Center area. This situation indicates the need for intervention to address the nutritional challenges faced by children. Purpose:  To analyze the effectiveness of supplementary feeding on the weight/age index of underweight toddlers. Method: A quasi-experimental study involving 100 underweight toddlers aged 12–60 months. Sampling was carried out through random sampling at the integrated service post within the Mojolaban Community Health Center area. Weight measurements were carried out using a digital scale specifically for children with an accuracy of 0.1 kg. The data obtained were analyzed using a weight-for-age (BW/A) z-score based on WHO guidelines. Normality testing was performed using the Shapiro-Wilk method, while differences were assessed using the Wilcoxon Signed Ranks Test with a significance level of p < 0.05. Results: There was an increase in BW/A in early childhood after a month-long (30-day) supplementary feeding intervention program. Children with normal nutritional status experienced an increase from 9.6% to 19.2%, while those in the severely malnourished category decreased from 14.4% to 10.6%. The nutritional status of underweight toddlers also decreased from 76% to 70.2%. Statistical analysis using the Wilcoxon Signed Ranks Test showed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference between BW/A values ​​before and after the supplementary feeding program. Conclusion: Supplemental feeding has an impact on the nutritional status of underweight toddlers, although the impact is not optimal and has not reached all targets equally. This supplemental nutrition intervention has the potential to increase its effectiveness through improvements in timing, quality, and family involvement in its implementation. Suggestion: Future research is recommended to extend the supplemental feeding period to observe the medium-term effects on the nutritional status of toddlers. Furthermore, a more in-depth review is needed, incorporating other variables, such as health background, eating habits, and environmental conditions that may influence nutritional status.   Keywords: Supplemental; Toddlers; Underweight; Weight/Age Index.   Pendahuluan: Masalah gizi terkait underweight masih tetap menjadi isu kesehatan masyarakat yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah salah satu langkah intervensi yang diambil untuk menangani masalah underweight, khususnya pada anak usia dini yang berada dalam fase pertumbuhan penting. Angka prevalensi anak underweight di Indonesia mencapai 17.1%, sementara di Jawa Tengah angkanya sebesar 17.6% pada tahun 2022. Di Kabupaten Sukoharjo, prevalensi underweight tercatat sebesar 11.8%, dengan 228 kasus yang dilaporkan di area Puskesmas Mojolaban. Situasi ini menandakan perlunya intervensi untuk menyelesaikan masalah gizi yang dihadapi oleh anak-anak. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas pemberian makanan tambahan terhadap indeks bb/u balita underweight. Metode: Penelitian kuasi eksperimen yang melibatkan 100 balita underweight berusia 12–60 bulan. Pengambilan sampel melalui random sampling di posyandu wilayah kerja Puskesmas Mojolaban. pengukuran berat badan menggunakan timbangan digital khusus anak dengan tingkat akurasi 0.1 kg. Data yang diperoleh dianalisis dengan z-score berat badan menurut umur (BB/U) berdasarkan pedoman dari WHO. Pengujian normalitas dilakukan menggunakan metode Shapiro-Wilk, sedangkan perbedaan data diuji menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test dengan tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Adanya peningkatan berat badan berdasarkan usia (BB/U) pada anak-anak usia dini setelah program intervensi PMT selama sebulan (30 hari). Anak-anak dengan status gizi normal mengalami kenaikan dari 9.6% menjadi 19.2%, sedangkan kategori gizi sangat kurang mengalami penurunan dari 14.4% menjadi 10.6%. Status gizi balita gizi kurang juga turun dari 76% menjadi 70.2%. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), sehingga adanya perbedaan signifikan antara nilai BB/U sebelum dan sesudah program PMT dilaksanakan. Simpulan: Pemberian makanan tambahan (PMT) memengaruhi perubahan status gizi balita underweight, meskipun dampaknya belum optimal dan belum menjangkau semua sasaran secara merata. Intervensi gizi tambahan ini memiliki potensi untuk meningkatkan efektivitasnya melalui perbaikan dalam waktu, kualitas, dan keterlibatan keluarga dalam pelaksanaanya. Saran: Penelitian selanjutnya dianjurkan untuk memperpanjang periode PMT, sehingga dapat mengamati efek dalam jangka menengah pada status gizi anak balita. Selain itu, diperlukan tinjauan yang lebih mendalam dengan memasukkan variabel lain, seperti latar belakang kesehatan, kebiasaan makan, dan kondisi lingkungan yang bisa berpengaruh pada status gizi.   Kata Kunci: Balita; Indeks BB/U; Pemberian Makanan Tambahan (PMT); Underweight.
Co-Authors Aan Sofyan Afiya, Marisa Puri Aini Fitria Aisyah, Widi Nur Aliya Maharani Putri Amanda Wahyu Kurniawan Ambar Yunita Ambar Yunita Nugraheni Andi Kurniawan Angdelakirana Apdika Sary Anggraeni, Mulia Annisa Nur Adelasanti APRILIANA, APRILIANA Ariyanto, Fazri Audi Tahta Aurellia Bagus Rizky Nur Hidayat Brainandiva Ade Fitria Cahya Rahma Utami Chindi Astuti Anjellia Salsabila Cholisoh, Zakky Dedi Hanwar Desiana, Zahra Ratnawati Dewi Rahmawati, Nur Indah Dita Sulistiyani Dwi Anggraini Dyah Intan Puspitasari Elida Soviana Elida Soviana Endang Nur Widiyaningsih Endang Setyaningsih ENI SETYOWATI Erindyah Retno Wikantyasning Erlinda Erlinda F., Apriliana W. F., Erlinda Fadhilah Nufus Muthmainah, Nur Farida Nur Isnaeni fatimah Fatimah Firmansyah Firmansyah Firmansyah Firmansyah Firmansyah Hani, Nur Harisma Kusumawardani Hastuti, Anindra Retno Hastuti, Rismayani Hirda, Dinda Aulia Ika Trisharyanti Dian Kusumowati Imtinan Mauriko Safitri Intan Puspitasari, Dyah Khantsa Mastura Khoirunnisa Khoirunnisa Kirana, Garda Sukma Kurnia Dewi, Emilia Kussudyarsana Kussudyarsana Listyani Hidayati Listyani Hidayati Listyani Hidayati Lutfi Nur Ratna Kusuma Marisa Puri Afiya Masyiithoh Ridha Efendi Mochammad Imron Awalludin Muchlison Anis Muchlison Anis Muhammad Ikhsan Al Af Ghani Mustika, Sandya Windu Mutalazimah Mutalazimah Mutiara, Intan Muwakhidah Muwakhidah Muwakhidah, M Nadia Aqiela Laili Niken Asih Pangastuti Nisa, Nuraeni Chairi nita puspitasari Noorsy, Nadhira Ahadea Norma Diena Amalia Nur Lathifah Mardiyati Nur Lathifah Mardiyati Nur ‘Azah Nuraeni Chairi Nisa Oktariani, Rina Pradita Wahyuningtyas Pradita, Laila Suci Pramudya Kurnia Prawesthi, Tiva Eka Puspita, Fadia Ayu Puteri Adlia Salsabila Putri, Qori' Selviana Rachma, Jenic Maulia Rafifah, Hasna Rahmawati, Seli Nur Rara Rahma Fadilla Refsya Azanti Putri Rima Munawaroh Salsabila, Puteri Adlia Sania Nayasari Khoirunnisa Setyaningrum Rahmawaty Setyo Nurwaini Shofi Mela Rosida Sholihah, Nabila Mar’atush Siti Zulaekah Siti Zulaekah Sudrajah Warajati Kisnawaty Suryaningrum, Aprilia Talitha Eka Maulinda Viviandita, Jesian Wachid Yahya Wafiy Lailin Prehamukti Wardani, Wening Sulistyo Widi Nur Aisyah Wilujeng, Sindy Wisnu Nurcahyo Wulandari, Falita Yolanda, Intania Widi Yuka Aulia Rahma