Articles
The Evaluation of Parental Acceptance Towards Children with Sex Chromosomal Disorders of Sex Development Using A Mixed-Method
Iit Fitrianingrum;
Annastasia Ediati;
Tri Indah Winarni;
Sultana MH Faradz
Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 7, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/jbtr.v7i1.10710
Background: Sex chromosomal Disorder of sex development (DSD) is an atypical abnormality of external genitalia which is mismatched with its sex chromosome traits. The condition of children with DSD affects the dynamics in the family. Parents’ reactions after discovering this health problem vary greatly, such as being in a state of shock, confusion, or self-blame. However, parents’ acceptance is extremely important for better quality of caring, to the healthy social and emotional child development, and to make the best decisions regarding gender assignment.Objective: To describe the acceptance process of parents that have children with sex chromosomes mosaicism DSD.Methods: This study used a mixed-method with a sequential explanatory approach, which was preceded by quantitative data collection followed by qualitative. The total respondents consisted of 14 mothers and 12 fathers of 14 sex chromosome mosaicism DSD patients with XX/XY, X/XY, XYY or XXY variants. Quantitative data were collected using the Indonesian version of the Parental Acceptance-Rejection Questionnaire (PARQ), and interviews were conducted to determine the acceptance process.Results: Most acceptance cases were based on the surgical stage completion in which a higher number of mothers (71.43%) than fathers (50%).Conclusion: It is uneasy for parents to accept children with sex chromosome mosaicisms DSD, hence the fathers struggle more than mothers in accepting those affected. To the best of our knowledge this is the first study in Indonesia to help parent understand and accept their child condition.
Dampak Futsal-Berbasis-Psikologi-Positif pada Anak Usia Sekolah Dasar
Annastasia Ediati
Jurnal Ilmu Perilaku Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Ilmu Perilaku
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (288.979 KB)
|
DOI: 10.25077/jip.3.2.95-109.2019
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak intervensi olahraga futsal yang didesain dengan prinsip psikologi positif: positive emotion, engagement, relationships, meaning, dan accomplishment, yang biasa disingkat sebagai PERMA pada anak siswa sekolah dasar. Sejumlah 22 anak dari kelas I hingga kelas VI sekolah dasar berpartisipasi dalam penelitian ini. Perlakuan olahraga futsal diberikan selama 2 jam per minggu di sore hari sepulang sekolah. Data mengenai PERMA sebelum dan sesudah mengikuti futsal selama 10 kali diperoleh dari pelatih dan guru kelas menggunakan teknik wawancara dan kuesioner. Hasil analisis data menunjukkan adanya peningkatan skor yang sangat signifikan setelah mengikuti kegiatan futsal positif pada semua faktor PERMA. Namun guru kelas dan pelatih tampak memiliki perspektif yang berbeda dalam melihat peningkatan anak. Menurut guru kelas, perubahan yang paling menonjol terletak pada emosi positif dan pemaknaan (meaning). Sedangkan menurut pelatih, perubahan yang paling menonjol pada anak terlihat dalam hal keterlibatan (engagement), pencapaian (accomplishment), dan pemaknaan (meaning). Hasil penelitian ini merekomendasikan kegiatan olahraga futsal positif untuk anak-anak siswa sekolah dasar, terutama yang mengalami problem emosi dan perilaku. Penelitian serupa pada anak perempuan maupun remaja perlu dilakukan.
Differences in Development and Diet of Stunting and Non-Stunting Children in the Rowosari Health Center Work Area, Semarang, Indonesia
Avionita Latuihamallo;
Ani Margawati;
Maria Mexitalia;
Annastasia Ediati;
Ahmad Syauqy
Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) Vol 10, No 2 (2022): Juni
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/jgi.10.2.161-167
Background: Stunting in children aged 36-59 months is caused by the intake of energy and protein below the average RDA recommendation. This low consumption has an impact on different growth and development disorders.Objectives: This study aimed to determine the differences in the development and diet of stunted and non-stunted children aged 36-59 months.Materials and Methods: This was an observational study with a cross-sectional approach, which was carried out at the work area of the Rowosari Health Center. The sample population consisted of 67 children aged 36-59 months, which were selected using the simple random sampling technique. The characteristics of the subjects and mothers were then collected using a questionnaire. Meanwhile, data on the diet and child development were obtained with the 24-hour recall method and Developmental Pre-Screening Questionnaire (KPSP), respectively.Results: The results showed that there were differences in the development as well as energy and protein adequacy level of stunted and non-stunted children with a p-value <0.05.Conclusion: There were several deviant developments in non-stunted toddlers due to the lack of nutritional intake, stimulation, interaction with the environment as well as the low knowledge of mothers about child care patterns.
SELF-COMPASSION DAN RESILIENSI PADA MAHASISWA DI ERA ADAPTASI KEHIDUPAN BARU
Tasya Agnia Rahayu;
Annastasia Ediati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 10, Nomor 5, Tahun 2021 (Oktober 2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2021.32939
Pandemi COVID-19 memberikan dampak bagi hampir seluruh sektor pada kehidupan manusia. Termasuk pada sektor pendidikan perguruan tinggi, yang pada akhirnya kegiatan perkuliahan harus dilakukan secara daring. Perubahan-perubahan yang terjadi di era adaptasi kehidupan baru dapat menjadikan individu berada daam tekanan sehingga merasa stres, termasuk mahasiswa. Tuntutan akan penyesuaian diri terhadap perubahan ini tentu tidaklah mudah sehingga resiliensi menjadi penting, terutama di masa adaptasi kebiasaan baru ini. Salah satu hal yang diperlukan individu dalam memperbaiki kondisi psikologisnya adalah melalui self-compassion. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara self-compassion dan resiliensi pada mahasiswa tahun pertama. Populasi penelitian sebanyak 370 mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Angkatan 2020) dengan sampel penelitian sebanyak 193 mahasiswa. Alat ukur yang digunakan adalah Self-compassion Scale (24 aitem; α=0,918) dan Skala Resiliensi (31 aitem; α= 0,921). Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-compassion dan resiliensi pada mahasiswa (rxy = 0,764; p=0,000). Hal ini berarti, semakin baik self-compassion, maka resiliensi semakin baik pula, dan sebaliknya. Dapat dikatakan bahwa untuk meningkatkan resiliensi dapat dilakukan berbagai upaya seperti meningkatkan self-compassion.
HUBUNGAN ANTARA KETABAHAN DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA WANITA PENYANDANG LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK
Dina Maria;
Annastasia Ediati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 (April 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (295.683 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2018.21674
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara ketabahan dengan kesejahteraan psikologis pada wanita penyandang lupus eritematosus sistemik. Kesejahteraan psikologis adalah kemampuan untuk dapat menerima kondisi diri sendiri, memiliki hubungan positif dengan orang lain, mampu untuk hidup mandiri, mampu menciptakan lingkungan yang tepat bagi dirinya, memiliki tujuan hidup, serta berupaya untuk mengembangkan dirinya. Sampel penelitian ini adalah 40 wanita penyandang lupus eritematosus sistemik. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Ketabahan (23 item, α = 0,881) dan skala Kesejahteraan Psikologis (30 item, α = 0,918). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi Product Moment Pearson. Hasil analisis data menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara ketabahan dan kesejahteraan psikologis (rxy = 0,691; p < 0,001), artinya semakin tinggi ketabahan wanita penyandang lupus maka semakin tinggi pula kesejahteraan psikologisnya.
PENGALAMAN PROSES COMING OUT TRANSGENDER PADA KELUARGA DAN LINGKUNGAN
Amalia Adhandayani;
Annastasia Ediati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 (Oktober 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (184.787 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.14356
Individu transgender tentunya memiliki pengalaman yang berbeda-beda mengenai proses pengakuan dirinya (coming out) pada keluarga dan lingkungan mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengalaman proses coming out terhadap keluarga dan lingkungan yang terjadi pada individu transgender. Coming out adalah proses memberikan pemahaman kepada diri sendiri, kemudian kepada orang lain mengenai perasaan sebagai transgender atau cross-gender. Subjek penelitian ini berjumlah tiga orang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan IPA (Interpretative Phenomenologycal Analysis). Pengambilan data dilakukan dengan proses wawancara. Analisis data dilakukan dengan teknik IPA yang digambarkan sebagai siklus interaktif dan deduktif yang meliputi beberapa proses. Hasil dari penelitian ini mendeskripsikan pengalaman transgender sebagai proses yang penuh konflik sebelum sampai kepada coming out yang disampaikan dalam dua cara, yaitu dalam bentuk verbal (ucapan) maupun non-verbal (transisi). Keberhasilan coming out pun memiliki dampak pada perasaan dan emosi subjek. Pengalaman yang unik setiap individu dilihat dari bagaimana cara subjek melakukan coming out pada lingkungan dan keluarga. Selain menjadi sumbangsih bagi minimnya teori mengenai coming out pada transgender, hasil ini akan berpengaruh pada kejelasan perkembangan identitas transgender di dalam budaya Indonesia.
HUBUNGAN ANTARA SCHOOL WELL-BEING DENGAN KECENDERUNGAN KECANDUAN ONLINE GAME PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
Ananda Naftalia Saputra;
Annastasia Ediati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 9, Nomor 6, Tahun 2020 (Desember 2020)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2020.30070
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara school well-being dengan kecenderungan kecanduan online game pada siswa sekolah menengah kejuruan (SMK). School well-being adalah pandangan siswa terhadap kondisi sekolah (having), hubungan sosial (loving), pemenuhan diri (being), dan status kesehatan (health status). Kecenderungan kecanduan online game adalah derajat penggunaan game terkoneksi internet secara tidak sewajarnya dan berulang yang mendatangkan masalah emosional atau sosial. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Muhammadiyah 2 Semarang dengan sampel sebanyak 90 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh. Alat ukur dalam penelitian ini adalah Skala School Well-Being (21 aitem; α = 0,897) dan Skala Kecenderungan Kecanduan Online Game (33 aitem; α = 0,945). Hasil analisis data menggunakan uji korelasi Product Moment dari Pearson menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara school well-being dengan kecenderungan kecanduan online game pada siswa sekolah menengah kejuruan (r = -0,624; p = 0,000). Artinya semakin positif school well-being pada siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) semakin rendah kecenderungan kecanduan online game, dan sebaliknya.
PENERIMAAN DIRI PADA ORANGTUA YANG MEMILIKI ANAK SKIZOFRENIA (SebuahInterpretativePhenomenological Analysis)
Angga Wijanarko;
Annastasia Ediati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 (Agustus 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (244.753 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2016.15362
Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran penerimaan diri pada orangtua dari penderita skizofrenia. Pendekatan fenomenologis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis IPA (Interpretative Phenomenological Analysis) dan proses pengumpulan data menggunakan wawancara. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah empat orangtua kandung dari penderita, anak telah menderita skizofrenia selama lima tahun sejak didiagnosa dan memiliki riwayat kekambuhan. Temuan dari penelitian ini adalah penerimaan diri pada orangtua ditandai dengan penerimaan orangtua terhadap keadaan anaknya yang menderita skizofrenia serta adanya sikap positif terhadap permasalahan yang dihadapinya. Subjek melewati tiga tahap penerimaan, yaitu 1) penawaran, 2) marah, 3) menerima. Proses penerimaan diri pada orangtua berawal dari 1)kesadaran terhadap keadaan anak, 2) penilaian terhadap anak, 3) penemuan permasalahan, berupa situasi sulit saat anak kambuh, 4) penilaian atau sikap dari orang lain terhadap kondisi anak, 5) penerimaan. Faktor yang turut mempengaruhi penerimaan diri subjek adalah wawasan sosial, wawasan diri, religiusitas serta dukungan dari orang terdekat.
PENGARUH BUKU HARIAN UNTUK MENINGKATKAN KEPATUHAN PADA PASIEN HIPERTENSI: Studi Kuasi Eksperimen pada Pasien Hipertensi
Amilatul Khoiriyyah;
Annastasia Ediati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 (Januari 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (290.219 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.13087
Kepatuhan merupakan faktor penting dalam keberhasilan program pengobatan penyakit kronis, termasuk hipertensi. Berbagai macam kondisi dan komplikasi penyakit, kecacatan dan kematian dapat dicegah melalui pengontrolan perilaku dan kepatuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh buku harian dalam meningkatkan kepatuhan pada pasien hipertensi. Desain eksperimen yang digunakan adalah nonrandomized pretest-posttest control group design. Subjek penelitian berjumlah 23 orang merupakan pasien rawat jalan di RSUD Kota Semarang. Pemilihan subjek dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Kepatuhan Hill-Bone High Blood Pressure. Perlakuan pada kelompok eksperimen berupa pemberian buku harian yang harus diisi oleh subjek setiap hari selama empat minggu berturut-turut. Hasil pengujian hipotesis dengan teknik statistik nonparametrik Wilcoxon Test pada kelompok eksperimen menunjukkan kepatuhan kelompok eksperimen lebih tinggi setelah menggunakan buku harian (MdnPretest=11; MdnPosttest=10; p=0,019). Hasil perhitungan Mann-Whitney U Test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan kepatuhan kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol (MdnEksperimen=10; MdnKontrol=13; p=0,003). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan buku harian untuk membantu meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi.
ADIKSI GAME ONLINE DAN KETRAMPILAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA
Cesaria Septa Nirwanda;
Annastasia Ediati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 (Januari 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (234.785 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2016.14940
Kemampuan remaja dalam melakukan penyesuaian dengan lingkungan sosial diperoleh dari proses belajar melalui pengalaman baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan adiksi game online dengan keterampilan penyesuaian sosial pada remaja di Semarang. Adiksi game online adalah pola penggunaan game yang berlebihan dan mengakibatkan gangguan pada hidup individu. Keterampilan penyesuaian sosial adalah kemampuan untuk menerima dan mengatasi perubahan keadaan yang terjadi dalam hidupnya. Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara adiksi game online dengan keterampilan penyesuaian sosial, artinya semakin tinggi adiksi remaja terhadap game online, maka semakin rendah keterampilan penyesuaian sosialnya, dan sebaliknya. Populasi penelitian ini adalah pelajar di Semarang dengan usia 13 – 23 tahun yang bermain game online. Sampel penelitian berjumlah 146 remaja yang sedang bermain di Game Center. Teknik pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini berupa dua skala, yaitu Skala Keterampilan Penyesuaian Sosial (22 aitem; α = 0,822) dan Skala Adiksi Game Online (43 aitem; α = 0,935). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Product Moment dari Pearson. Berdasarkan analisis data yang dilakukan dapat disimpulkan ada hubungan negatif dan signifikan antara adiksi game online dengan keterampilan penyesuaian sosial pada remaja di Semarang (r = -0,153; p = 0,033).