Claim Missing Document
Check
Articles

Rekontruksi pikukuh Tilu dalam Manajemen Babarit pada Upacara Serentaun Cigugur Kuningan Euis Suhaenah; Ai Juju Rohaeni; Wanda Listiani
PANGGUNG Vol 27 No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i2.258

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menemukan teori manajemen komunitas khususnya konsep pikukuh tilu dalam manajemen babarit dan model manajemen babarit dalam upacara adat. Luaran penelitian Fundamental ini berupa jurnal terakreditasi atau bereputasi internasional, laporan penelitian. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis kualitatif, sebagai langkah awal pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan obervasi lapangan. Hal ini menitikberatkan pada pengamatan yang didukung dengan wawancara dan perekaman kejadian. Wawancara dilakukan dengan pelaku, tokoh yang terlibat langsung, dan tokoh seniman yang terlibat didalamnya. Teknik wawancara yang mendalam dengan cara memilih informan kunci guna mendapatkan validitas data yang menghasilkan deskripsi yang lebih utuh dan menyeluruh. Hasil penelitian merujuk pada pola pikir masyarakat Sunda Wiwitan dengan konsep Pikukuh Tilu yakni ngaji badan, tuhu/mikukuh kana tanah, madep ka ratu-raja, dalam upacara adat ada 3 (tiga) tahapan dalam proses pengelolaan manajemen babarit yakni, ngajayak, babarit, nutu.Kata kunci :pikukuh tilu, manajemen komunitas, upacara adat, babarit, Cigugur Kuningan ABSTRACTThe research found the community management theory especially the babarit management with pikukuh tilu concept and the babarit management model in traditional ceremonies. Output this research are Accredited Scientific journal or international reputation.This research used the qualitative descriptive analysis. Field observation applied as the first step. The observation focuses on interview add event recording. The interview conducted with the informansuch as artists that involved in seren taun. Depth interview technique through the main informan get the valid data for the solid result and comprehensive desription. The research resultedrefer to the Sundanese mindset with the Pikukuh Tilu concept in traditional ceremonies through the tree steps of the Babarit management proses; ngajayak, babarit, nutu.Keywords:Pikukuh Tilu, Community Mangement, Tradisional ceremonies, Babarit, Cigugur Kuningan
Augmented Reality Pasua Pa Sebagai Alternatif Media Pembelajaran Seni Pertunjukan 4.0 Wanda Listiani; Sri Rustiyanti; Fani Dila Sari; IBG. Surya Peradantha
PANGGUNG Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1012

Abstract

Abstract            The collaboration between art and technology of augmented reality (AR) has not been get attention in the field of Nusantara Performing Arts. On the other side, performances of traditional dance get hardly found in the era of smartphone technology which gets more sophisticated. Mostly all people either kids or adults own handphone which can be used as the media for learning performing arts. This research aims to develop AR technology as the alternative performing arts learning media 4.0 by digitalizing performing arts from Biak tribe, Papua; Cikeruhan Sunda peforming arts, and Guel Aceh performing arts. These combined performing arts name from Papua, Sunda, and Aceh is shortened into PASUA PA. The research method applied is experiment method and interaction based on pixel-cloud avatar AR virtual dance. The result of the study portrays the phases of creative process of designing PASUA PA AR performing arts and the real time synchronization between music, virtual dancer, and 4.0 performing art learners.   Keywords: Augmented Reality, Papua-Sunda-Aceh, learning media, performing arts 4.0 Abstrak            Kolaborasi antara seni dan teknologi augmented reality (AR) masih belum banyak dilakukan dalam seni pertunjukan nusantara. Di sisi lain, semakin langkanya pertunjukan tari tradisi di setiap daerah di Indonesia di antara perkembangan teknologi smartphone. Padahal hampir setiap orang, mulai anak-anak hingga dewasa memiliki handphone yang dapat digunakan sebagai medium pembelajaran seni pertunjukan. Penelitian ini mengembangkan teknologi AR sebagai media alternatif pembelajaran seni pertunjukan 4.0 dengan mendigitalisasi seni pertunjukan khas Suku Biak Papua, seni pertunjukan Cikeruhan Sunda, dan seni pertunjukan Guel Aceh. Seni Pertunjukan Papua, Sunda dan Aceh disingkat PASUA PA. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dan interaksi berdasar pixel-cloud avatar penari virtual AR. Hasil penelitian ini menggambarkan tahapan proses kreatif pembuatan AR seni pertunjukan PASUA PA dan sinkronisasi real-time antara musik, penari virtual, dan pembelajar seni pertunjukan 4.0.  Kata kunci: Augmented Reality, Papua-Sunda-Aceh, Media Pembelajaran, Seni Pertunjukan 4.0 
Literasi Tubuh Virtual dalam Aplikasi Teknologi Augmented Reality PASUA PA Sri Rustiyanti; Wanda Listiani; Fani Dila Sari; Ida Bagus Gede Surya Peradantha
PANGGUNG Vol 30 No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i3.1271

Abstract

ABSTRACTBody language is a gesture that has meaning to express the expression of a dancer. The dancer’s body literacy is an empirical experience possessed in the ability to read choreography and do it continuously so that choreography becomes a body language literacy that is trained to become corporal acrobatic, corporal impulses, corporal instinc, and virtuosity as aesthetic experiences. This research reads and writes choreography of three dances namely Karwar Dance (Papua), Cikeruhan Dance (Sunda), and Guel Dance (Aceh) from dancer’s body language literacy to transform technology literacy by using augmented reality application media, combining reality and virtual in a form show. This study uses qualitative methods that focus more on the case study by involving problems and the purpose of viewing the performing arts from the visual culture of technology literacy. This paper is the result of a research by a consortium of Kemenristekdikti to redefine the identity of the dancer’s body, including a body shaped, well-controlled and well-established, patterned, there are standard movements and complete, occupying space well by applying and utilizing technology to produce findings from this research, namely AR Pasua PA (Augmented Reality Papua-Sunda-Aceh Performent Art). This finding is a new formula for the performance by utilizing the transfer from body language literacy to technology literacy.Keywords: body language literacy, technology literacy, augmented reality, digital art, AR Pasua PA.ABSTRAKBahasa tubuh adalah gesture yang mempunyai makna untuk mengungkapkan ekspresi dari seorang penari. Literasi tubuh penari merupakan pengalaman empirik yang dimiliki dalam kemampuan membaca koreografi dan melakukannya secara terus menerus sehingga koreografi yang dilakukan menjadi sebuah literasi bahasa tubuh yang terlatih menjadi corporal acrobatic, corporal impulses, corporal instinc, dan virtuisitas sebagai pengalaman estetis. Penelitian ini menganalisa koreografi tiga tarian yaitu Tari Karwar (Papua), Tari Cikeruhan (Sunda), dan Tari Guel (Aceh) dari literasi bahasa tubuh penari untuk ditransformasikan melalui teknologi Augmented Reality dengan menggabungkan realitas dan virtual dalam bentuk pertunjukan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan memfokuskan diri pada seni pertunjukan, budaya visual dan literasi teknologi. Penelitian ini merupakan hasil penelitian konsorsium seni KRUPT ristekBRIN. Penelitian yang meredefinisikan kembali identitas tubuh penari, antara lain tubuh berbentuk, dikuasai dengan baik dan mapan, berpola, sesuai dengan standar gerak yang pakem dan selesai, menempati ruang dengan baik dan mengaplikasi dan memanfaatkan teknologi sehingga capaian literasi tubuh dengan penggunaan teknologi digital 4.0 dalam bentuk aplikasi AR PASUA PA. Hasil penelitian ini merupakan formula baru seni pertunjukan dengan memanfaatkan alih wahana dari literasi tubuh ke dalam teknologi virtual.Kata kunci: literasi bahasa tubuh, literasi teknologi, augmented reality, seni digital, AR Pasua PA.
Taksonomi Intervensi Seni Kreatif untuk Kesehatan Mental Anrilia Ema M.N; Wanda Listiani
PANGGUNG Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i4.1787

Abstract

Intervensi seni kreatif berkembang dalam lintas disiplin ilmu seni dan psikologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan perkembangan penelitian psikologi seni khususnya taksonomi intervensi seni kreatif untuk kesehatan mental. Seni digunakan sebagai intervensi dalam upaya penyembuhan pasien atau non pasien yang mengalami gangguan kesehatan mental. Wabah Covid-19 menimbulkan stress dan secara signifikan mempengaruhi kesehatan mental individu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan analisis bibliometrik. Data diperoleh dari basis data scopus. Tujuh kata kunci untuk penelusuran data yaitu “psychology”, “art”, “art therapy”, “psychotherapy”, “psychosis”, “psychosis art” dan “pandemic”. Hasil penelusuran di export dalam bentuk format CSV. Data dianalisis berdasarkan abstrak dan tahun terbit. Data hasil export kemudian diolah menggunakan VOSViewer untuk mengetahui peta bibliometrik perkembangan penelitian psikologi seni yang terindeks di basis data scopus sejak tahun 1896 s.d 2021. Hasil penelitian menggambarkan taksonomi intervensi seni kreatif untuk kesehatan mental dan topik yang sering muncul dalam ranah ilmu psikologi seni.Kata kunci: psikologi seni, intervensi seni, kesehatan mental, taksonomi
Trajektori Hanami sebagai Diplomasi Budaya Jepang Wanda Listiani
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2378

Abstract

Diplomasi adalah sistem komunikasi internasional yang penting dan mekanisme komunikasi kolektif antar negara. Melalui diplomasi budaya, wisatawan mancanegara diharapkan tertarik untuk mengunjungi dan melihat langsung kekayaan budaya Jepang. Diplomasi budaya merupakan salah satu media representasi dan komunikasi dalam memperkenalkan kekayaan dan keragaman seni budaya Jepang. Perayaan melihat bunga setiap musim di Jepang yaitu, bunga plum pada bulan Februari, bunga iris pada awal Juni, bunga hydrangea pada akhir Juni, dan sebagainya. Perayaan besar tahunan sakura dan hanami adalah yang paling populer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis literatur. Hasil penelitian menggambarkan peristiwa melihat sakura di Jepang sebagai praktik diplomasi budaya Jepang. Jepang populer dengan citra sakura di tingkat internasional. Praktik hanami Jepang (melihat sakura) muncul di seluruh dunia. Hanami, mengenakan yukata dan acara budaya Jepang berkontribusi untuk mengartikulasikan diplomasi budaya Jepang di tingkat dunia. Kata kunci: hanami, sakura, Jepang, diplomasi budaya
Kesehatan Mental, Atraksi Seni Pencak dan Pariwisata Berkelanjutan Dalam Wacana Pariwisata Masa Depan M Ningdyah, Anrilia Ema; Listiani, Wanda; Rustiyanti, Sri; Millanyani, Heppy; Dwiatmini, Sriati; Suryanti
PANGGUNG Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i1.3694

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengekplorasi konsep kesehatan mental, atraksi seni pencak, dan pariwisata berkelanjutan yang berkembang dalam wacana pariwisata  masa depan. Berkembangnya dampak kesehatan mental, praktik atraksi seni dalam pariwisata mempengaruhi konsep, dan scenario pariwisata masa depan.  Pariwisata berkelanjutan berkontribusi pada sektor ekonomi kreatif, dan  pembangunan ekonomi lokal pedesaan khususnya penciptaan lapangan kerja  berbasis pelestarian lingkungan, budaya, dan masyarakat adat. Keterlibatan inklusif,  dan pengembangan kapasitas masyarakat lokal merupakan agenda penting dalam  pengembangan pariwisata di masa depan. Peningkatan kapasitas melalui partisipasi  berbasis masyarakat sebagai strategi ekowisata keberlanjutan, dan pelestarian  lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menganalisis 523  artikel dari database scopus dengan tema pariwisata masa depan menggunakan  perangkat lunak VOS viewer versi 1.6.17, model machine learning (ML) dengan teknik  wordcount, dan analisis regresi dengan Python versi 3.9.0. Analisis regresi digunakan  untuk mengetahui hubungan antara variabel yang ditemukan dari hasil analisis  VOSviewer sebelumnya. Temuan penelitian ini adalah empat variabel masa depan  pariwisata, yaitu inovasi, wisata berkelanjutan, wisatawan internasional, dan  manajemen destinasi.
Atraksi Wisata Kete’ Kesu sebagai Representasi Identitas Kelokalan Tana Toraja Rustiyanti, Sri; Listiani, Wanda; Dwiatmini, Sriati; Ningdyah, Anrilia E. M.; Suryanti
JURNAL RUPA Vol 9 No 1 (2024): Open Issue
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v9i1.7942

Abstract

Tana Toraja is a captivating destination for tourists situated in South Sulawesi. The Tana Toraja’s traditional iconic that famous for their rich local heritage are Tongkonan and Kete’ Kesu. These architectural treasures serve as tangible expressions of Tana Toraja’s distinct cultural identity. Tongkonan and Kete’ Kesu represent non-verbal forms of folklore, categorized among the ancient legacies that include grave sites resembling boats affixed to and suspended along cave cliffs. Within these stone graves lie numerous remains of skulls and human bones, some dating back decades or even centuries, moreover, alongside these hanging stone graves. There exist grandiose tombs reserved for nobility, adorned with unique features and displaying identity photographs of the deceased. This research used a qualitative approach and ethnographic methods. The ethnographic method is one of the methods of cultural anthropology studies. This research delved into the essence of Tana Toraja’s tourist allure. Researchers directly experience the daily lives of local people, collecting data through observation and interviews. The research results mapped the elements of Tana Toraja tourist attractions in various types of folklore consisting of oral folklore, partially oral folklore, and non-oral folklore.
Musik Iringan Tari Pencak Silat Rancak Takasima dalam Koreografi Idiom Baru Rustiyanti, Sri; Listiani, Wanda; Ningdyah, Anrilia E.M.; Dwiatmini, Sriati; Suryanti, Suryanti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.11998

Abstract

The objective of this article is to elucidate the significance of music in complementing the choreography of the innovative Pencak Silat dance form known as Rancak Takasima. In the realm of dance performance, music plays a pivotal role as an accompaniment. While dance accompaniment music can exist independently, the reciprocal is not true – dance cannot be fully actualized without the support of accompanying music. Essentially, dance and music are inseparable counterparts, mutually enhancing and interdependent, akin to the interconnected sides of a coin. In the crafting of a dance performance, the presence of dance accompaniment, specifically in the form of musical compositions, serves as a crucial catalyst. This concept is referred to as external music, encompassing instruments like percussion, strings, and wind instruments employed as accompaniment in dance. In contrast, internal music entails sounds not generated by instrumental music but rather emanating from the dancer or performer, such as vocals, rhythmic footwork, finger snaps, chest and thigh percussion, hand claps, elbow taps, and the use of galembong (a patting technique on wide-legged pants). This research used a qualitative method with a dance ethnographic approach model. This technique research collected data through diverse methods such as observation, demonstration, interviews, and documentation during creating the creative process of choreographing the new idiom of Rancak Takasima. The development of dance accompaniment music and choreography unfolds gradually, originating from initially abstract ideas and taking visual form through Seni Pencak movements and the musicality crafted by the internal body's dancers themselves and using sound of  'serut bambu' props. The research outcomes showcase the Seni Pencak dance accompaniment music model as a valuable contribution to the evolution of Pencak Silat Nusantara dance. This particular dance accompaniment music model integrates seamlessly into the new idiom's choreography, featuring the distinctive ‘serut bambu’ property that generates the accompanying dance music. This research result conducted under Penelitian Terapan Jalur Hilirisasi (PTJH) scheme. For those interested in learning more, the dance accompaniment music and Seni Pencak choreography of Rancak Takasima can be easily accessed through the website https://www.dayaversapasua.tech.
Digital Photographies of Silek Rantak Kudo Dance : The West Sumatra Folklore Preservation Rustiyanti, Sri; Listiani, Wanda; Ningdyah, Anrilia E.M.; Dwiatmini, Sriati; Suryanti
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 40 No 3 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v40i3.3087

Abstract

The Silek Rantak Kudo Dance, a rich expression of Indonesian folklore and cultural identity—particularly in West Sumatra—requires preservation. To support this effort, a photographic experiment was conducted to explore visual representations capable of conveying the folkloric elements embedded in the dance. Notably, there is a lack of scholarly literature on dance photography in Indonesia, making this study a pioneering contribution to the field. The experiment produced 66 photographs of the Silek Rantak Kudo Dance, with 10% selected for inclusion in a questionnaire aimed at evaluating whether respondents could effectively perceive the folkloric content. This research employed Visual Arts-Based Research Practices, with data collected through a literature review and questionnaires completed by 396 participants. Findings indicate that dance photography of Silek Rantak Kudo should emphasize traditional elements in both movement and visual representation to ensure its recognition as a traditional West Sumatran art form. Furthermore, the study demonstrates that photographic techniques—such as motion photography and posed imagery—can serve as effective tools for promoting and preserving the dance on social media among the Indonesian public.
PERANCANGAN ILUSTRASI JAJANAN TRADISIONAL KHAS SUNDA PADA MASKER THERMOCHROMIC Rahmawaty, Salsabila Hanny; Listiani, Wanda; Rohaeni, Ai Juju
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 9 No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v9i3.1777

Abstract

The Ministry of Health of the Republic of Indonesia has issued a new rule that requires people to wear masks when they want to go out of the house. Using masks does not reduce the value of existing fashion, because currently many sellers are creating masks with unique styles and following fashion but still paying attention to mask health standards. The application of the illustration of Sundanese snacks is one form of new innovation to maintain the Sundanese snack culture. The thermochromic technique is also applied to masks to make masks more attractive and have selling points, so that Indonesian food can be recognized and can become iconic fashion. The design of this work is derived from references obtained through the internet, pdf / Ebook books, and from the results of questionnaires which aim to develop a theoretical basis that will be used in creating works as reference and comparison materials. The work as a whole is exhibited in the form of an exhibition which is then arranged in such a way, with Thermochromic Masks as the main media and other supporting media.Keyword: Masker, Illustration, Traditional Street Food, Thermochromic------------------------------------------------------------------------------------------Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menerbitkan aturan baru yang mengharuskan masyarakat menggunakan masker saat hendak bepergian keluar rumah. Menggunakan masker sebenarnya tidak mengurangi nilai fashion yang ada, karena saat ini banyak penjual yang menciptakan masker dengan gaya unik dan mengikuti fashion namun tetap memperhatikan standar kesehatan masker. Penerapan ilustrasi jajanan Sunda merupakan salah satu bentuk inovasi baru untuk mempertahankan budaya jajanan Sunda. Teknik Thermochromic juga diterapkan pada masker untuk membuat masker yang lebih menarik dan memiliki nilai jual, dengan begitu makanan nusantara dapat dikenal dan dapat menjadi fashion yang iconic. Perancangan karya ini berasal dari referensi yang didapatkan melalui internet, buku pdf/Ebook, dan dari hasil quesioner yang bertujuan untuk menyusun dasar teori yang akan digunakan dalam menciptakan karya sebagai bahan referensi dan pembanding. Karya secara keseluruhan dipamerkan dalam bentuk pameran yang kemudian ditata sedemikian rupa, dengan masker thermochromic sebagai media utama dan media penunjang lainnya.Kata Kunci: Masker, Ilustrasi, Tajanan Tradisional, Thermochromic.
Co-Authors Agung Eko Sutrisno Agung Pascasuseno Agung Trihandono Putra Agus Cahyana Ai Juju Rochaeni Ai Juju Rochaeni, Ai Juju Ai Juju Rohaeni, Ai Juju Andang Iskandar Andang Iskandar, Andang Anggy Giri Prawiyogi Anrilia E.M Ningdyah Anrilia E.M Ningdyah Anrilia E.M. Ningdyah Anrilia E.M. Ningdyah Anrilia E.M. Ningdyah Ardi Radiansyah Ari Winarno Ariesa Pandanwangi Aris Junaedi Deni Yana Dian Widiawati Dinda Satya Upaja Budi Emilda, Nia Endang Caturwati Euis Suhaenah Euis Suhaenah Euis Suhaenah, Euis Fani Dila Sari Fani Dila Sari FANI DILA SARI Fani Dila Sari Fani Dila Sari G. R. Lono Lastoro Simatupang, G. R. Lono Lastoro Gatot Yudoko GR LonoLastoroSimatupang GR LonoLastoroSimatupang, GR Gymnastiar Gymnastiar Heddy Shri Ahimsa-Putra Heppy Millanyani IBG Surya Peradantha IBG Surya Peradantha IBG. Surya Peradantha IBG. Surya Peradantha IBG. Surya Peradantha IBG. Surya Peradantha Ida Bagus Gede Surya Peradantha Ida Bagus Gede Surya Peradantha Ida Bagus Gede Surya Peradhanta Ikhsanudin, Muhammad Ilham Irma Rachmaningsih Irma Rachmaningsih, Irma Jaeni Khairul Mustaqin, Khairul Krishna Permadi M Ningdyah, Anrilia Ema Muhammad Ilham Ikhsanudin Paramitha Pebrianti Peradantha, IBG. Surya Peradantha, Ida Bagus Gede Surya Rahmawaty, Salsabila Hanny Ramli, Zaenudin Retno Dwimarwati Salsabila Hanny Rahmawaty Sandi Rediansyah Sari, Fani Dila Sri Rustiyanti Sri Rustiyanti Sriati Dwiatmini Sriati Dwiatmini Sriati Dwiatmini Sriwardani, Nani SURYANTI Suryanti Suryanti Suryanti Suryanti Suryanti Togar M Simatupang Yasraf Amir Piliang Yasraf Amir Piliang Amir Piliang Yasraf Amir Piliang Amir Piliang, Yasraf Amir Piliang Amir Yuanita Handayati Yuliana Hambuwali