Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Culturally Responsive Music Education: Integrating the Minangkabau Song 'Batu Tagak' in Primary School Learning Delvia Mona; Suharto; Syahrul Syah Sinaga; Ardipal; Wadiyo
Paedagogi: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (e-journal) Vol. 12 No. 1 (2026): JUNE: 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/paedagogi.v12i1.73462

Abstract

This study aims to analyze the implementation of the Minangkabau song "Batu Tagak" in elementary school music education from a Culturally Responsive Music Education perspective. This research uses a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, interviews, documentation, and analysis of the song's sheet music, then analyzed using thematic analysis techniques. The results show that the musical characteristics of 'Batu Tagak,' which are simple and easy to learn, support its use as an effective learning resource. Exploring the lyrics helps students understand Minangkabau cultural values related to family relationships, the tradition of merantau (migration), attachment to hometown, and cultural symbols represented in the song. Through singing activities, discussions, and reflections, students actively construct cultural meaning by connecting the song's content with their own experiences. This learning also increases student engagement and strengthens their cultural identity as part of the Minangkabau community. The findings indicate that the musical characteristics of the song and students' cultural experiences work together as a pedagogical mechanism that supports Culturally Responsive Music Education practices. This study concludes that 'Batu Tagak' functions not only as a musical learning material but also as a pedagogical medium that links students' social and cultural experiences with the learning process in elementary schools. These findings demonstrate that traditional songs have the potential as a learning resource in Culturally Responsive Music Education practices, as well as a means of preserving local culture through education
Empowering Local Wisdom: The Role of Tembang Bocah Banyumasan in Promoting Sustainable Development Goals in Banyumas, Indonesia Emah Winangsit; Sunarto; Syahrul Syah Sinaga; Udi Utomo; Fajry Sub'haan Syah Sinaga; Chamil Arkhasa Nikko Mazlan
IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2025): IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/ibda.v23i2.15878

Abstract

Traditional cultural expressions offer robust, community-based pathways for advancing sustainable development; however, their concrete contributions to the Sustainable Development Goals (SDGs) are frequently overlooked in local policy and research. This study examines how Tembang Bocah Banyumasan supports SDG-related initiatives in Banyumas, Indonesia, with a particular focus on economic growth, health and well-being, education, and environmental awareness. Utilizing a qualitative phenomenological approach, data were gathered through in-depth interviews with musicologists, cultural activists, and community members involved in the production and promotion of this tradition. The findings were analyzed thematically through a sustainable development lens, linking cultural heritage and local wisdom to social transformation. Results indicate that Tembang Bocah Banyumasan not only solidifies cultural identity but also serves as an accessible platform for transmitting values, fostering children’s creativity, and encouraging civic participation. Furthermore, these cultural functions generate broader sustainability benefits by enhancing informal learning, reinforcing healthy social behaviors, stimulating creative economy opportunities, and promoting environmental stewardship. This study concludes that Tembang Bocah Banyumasan provides an authentic mechanism for localizing SDG initiatives while sustaining regional heritage and community resilience. Its novelty lies in the explicit mapping of a specific musical tradition to the SDGs, demonstrating how localized practices serve as grounded catalysts for sustainable development.
Kajian Semiotika Charles Peirce Dan Psikologi Warna Terhadap Arti Ayat Pada Kaligrafi Islam Digital Mtqn Korpri 2021 Hadi Alhail; Muh Fakhrihun Naam; Syahrul Syah Sinaga; Lilis Anggraini; Abdul Rahman Farras
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol 8, No 1 (2025): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/vh.v8i1.11125

Abstract

Pertentangan paradigmatik pro dan kontra peluncuran kaligrafi Islam digital dalam Musabaqah Tilawahtil Qur’an Nasional (MTQN) Korpri 2021 menjadi tantangan khusus. Seni kaligrafi Islam digital dinilai sebagai celah kontradiktif yang berpotensi mengurangi esensi pemaknaan dan keindahan spiritual dari kaligrafi Islam yang terletak pada aturan kaidah baku menjadi puncak estetika kaligrafi Islam. Lalu, bagaimana makna dari karya peserta kaligrafi Islam digital MTQN Korpri 2021 dalam kajian semiotika Charles Peirce?, bagaimana hasil pemaknaan dalam psikologi warna pada karya peserta kaligrafi Islam digital MTQN Korpri 2021?, dan bagaimana relasi dari hasil kajian semiotika Charles Peirce dan psikologi warna terhadap arti ayat, esensi makna, serta keindahan spiritual pada karya peserta kaligrafi Islam digital MTQN Korpri 2021? Metode penelitian kualitatif, desain yang digunakan deskriptif analitik. Fakta penelitian dihasilkan pada pembedahan subyek karya kaligrafi Islam digital peserta MTQN Korpri tahun 2021 menggunakan teori semiotika Charles Sander Peirce dan teori warna serta penelusuran arti ayat untuk menemukan relasi makna karya terhadap arti ayat. Lokasi di Pesantren Kaligrafi Islam LEMKA. Durasi riset 2 bulan, sejak 14 Desember 2023-14 Februari 2024, populasi sebanyak 14 karya arsip MTQN Korpri Nasional 2021, pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sample yakni 2 karya peserta MTQN Korpri 2021 terbaik 1 putra dan putri. Kredibilitas data menggunakan triangulasi data, teknik analisis data menggunakan teknik model Spardley, teknik pengumpulan data meliputi observasi, studi dokumen, wawancara dan diskusi/FGD. Intrument yang digunakan draft observasi, wawancara, analisis, kamera, dan perekam. Hasil kajian dan analisis membuktikan: (1) kajian semiotik karya terbaik 1 putra bermakna perasaan yang resah dan bermohon kepada Allah swt untuk berkumpul bersama golongan orang-orang yang sholeh dengan mengerjakan kebajikan yang diridhoi oleh Allah swt. Sedangkan karya terbaik 1 putri bermakna pengharapan yang besar untuk dikumpulkan dengan golongan orang-orang yang sholeh; (2) kajian psikologi warna pada karya terbaik 1 putra berarti realitas yang penuh tantangan dan sedih, sehingga manusia memohon untuk meraih kemakmuran yang abadi. Sedangkan karya terbaik 1 putri berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat terhadap dzat yang Maha Agung Allah swt, untuk meraih sinar kehidupan, kehangatan, ketenangan, dan suci; (3) relasi kajian semiotik dan psikologi warna terhadap arti ayat pada karya terbaik 1 putra dan putri hanya memiliki kesamaan makna pada harapan untuk digolongkan kepada orang-orang yang sholeh. Kajian ini membuktikan tidak terjadi perubahan esensi makna dari kaligrafi Islam digital. Selain itu, riset dan kajian ini membuktikan karya kaligrafi Islam digital memiliki unsur keindahan spiritual yang berasal dari khat atau tulisan Arab.  
Analisis Efektivitas Tes Musikalitas Mahasiswa Pada Pembelajaran Teori Musik Berbasis Open The Box Nafik Salafiyah; Wahyu Lestari; Teguh Supriyanto; Udi Utomo; Syahrul Syah Sinaga
Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni Vol. 4 No. 1 (2026): Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAKPN Sentani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69748/jmcd.v4i1.493

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas media edukasi Open the Box Wordwall dalam meningkatkan kualitas pembelajaran seni musik bagi mahasiswa kelas teori musik berbasis digital ini diujicobakan pada dua skala, yaitu skala kecil (4 mahasiswa) dan skala besar (40 mahasiswa), untuk melihat konsistensi pengaruhnya terhadap keterlibatan, motivasi, pemahaman konsep, dan hasil evaluasi pembelajaran teori musik. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan instrumen tes, angket, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya motivasi intrinsik pada mahasiswa berupa peningkatan signifikan pada partisipasi aktif mahasiswa, penguasaan konsep seni musik, dan performa evaluasi setelah menggunakan Open The Box. Elemen permainan seperti tantangan, visual interaktif, dan umpan balik cepat terbukti memperkuat retensi memori dan membuat proses pembelajaran lebih menarik. Temuan ini menegaskan bahwa Open The Box tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga sebagai strategi pedagogis yang mampu meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi tuntutan pembelajaran berbasis teknologi. Dengan demikian, Open the Box direkomendasikan sebagai media inovatif yang efektif dalam pengembangan kompetensi mahasiswa seni musik.
The Performance of the Shofar: Musical Liturgical Practice in Contemporary Christian Worship Septian Cipto Nugroho; Wadiyo Wadiyo; Syahrul Syah Sinaga; Maria Angelita Widna
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v26i3.15449

Abstract

This study addresses the need to enhance theological and musical literacy in contemporary Christian worship, where the Shofar is often used without a clear understanding of its sacred sound structure. The Shofar, rooted in Torah and Talmudic traditions, embodies symbolic and acoustic meanings that have been reinterpreted in Christian liturgical contexts. By examining this conceptual gap, the research positions the Shofar as a symbol of resurgent church music whose theological and musical depth has frequently been overlooked. Using a liturgical studies framework that integrates theology and musicology, this qualitative case study was conducted among pastors, worship leaders, musicians, and Shofar players across five charismatic and Pentecostal churches in Java, Indonesia. Data were collected through interviews, participant observation, and document analysis, and analyzed using content analysis and the Miles, Huberman, and Saldana interactive model. Findings indicate that most practitioners emphasize the Shofar’s symbolic and emotional appeal while neglecting its tonal codes: Tekiah, Shevarim, Teru’ah, and Tekiah Gedolah. The study concludes by emphasizing the importance of restoring interpretive depth and theological discernment through structured liturgical understanding, ensuring that sacred sound continues to serve as a coherent medium of worship, theology, and musical formation.