Claim Missing Document
Check
Articles

Analysis of a Model for The Development of Sharia Cooperatives in Central Tapanuli Regency: The Analytic Network Process Method Muhammad Rahman; Rukiah Rukiah; Fatahuddin Aziz Siregar
Hikmah Vol. 23 No. 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Sumatera Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53802/hikmah.v23i1.647

Abstract

Sharia cooperatives play a strategic role in promoting equitable economic growth, particularly in Central Tapanuli Regency. However, their development still faces various challenges, such as low-quality human resources, weak institutional governance, limited capital, as well as insufficient regulatory support and competitiveness compared to other financial institutions. This study aims to analyze models for the development of Islamic cooperatives and determine effective strategic priorities to improve their performance. The study employs a mixed-methods approach using the Analytic Network Process (ANP) method. Data were collected through in-depth interviews and paired-comparison questionnaires involving experts, regulators, and cooperative managers. The results indicate that internal factors are the primary constraints, with a dominant focus on human resources, particularly managerial capabilities and understanding of Sharia principles. Meanwhile, external factors such as competitors and regulatory support also influence the development of the cooperatives. The implications of this study underscore the importance of strengthening human resource capacity through continuous training and adaptive policy support to enhance the competitiveness and sustainability of Islamic cooperatives.
SURAU WITHOUT BUYA: Authority and the Shifting Foundations of Minangkabau Cultural Life in Indonesia Febri Yulika; Iswandi Syahputra; Azhari Akmal Tarigan; Benny Ridwan; Fatahuddin Aziz Siregar
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 50, No 1 (2026)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v50i1.1568

Abstract

This study examines the shifting role of the surau within Minangkabau society in West Sumatra, where it once functioned as a central institution for worship, learning, and the moral formation of young men. Traditionally anchored in the authority of the buya, the surau embodied a living synthesis of Islamic teaching and customary values. Drawing on field-based research, including in-depth interviews with religious scholars, customary leaders, and cultural experts, this study traces a significant transformation in its contemporary meaning. The findings suggest that the gradual detachment of the surau from the figure of the buya has eroded its philosophical and cultural significance, reducing it to a largely symbolic or physical space. This shift is closely linked to the diversification of Islamic educational orientations and the growing influence of local political dynamics. As a result, the surau no longer operates as a formative cultural institution, raising broader questions about continuity, authority, and identity in Minangkabau society.
Reconstruction of Economic Law Regulations: Strengthening Buy Now Pay Later (BNPL) Governance in the Digital Economy Era Fatahuddin Aziz Siregar
Yurisprudentia: Jurnal Hukum Ekonomi Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/yurisprudentia.v12i1.20640

Abstract

The development of the digital economy has driven the transformation of financial services through the Buy Now Pay Later (BNPL) innovation that offers easy access to financing for the public. Behind its rapid growth, BNPL services also raise various legal issues, including unclear electronic contract clauses, weak consumer protection, misuse of personal data, irresponsible lending practices, and the lack of harmonization of legal arrangements that govern the BNPL ecosystem in Indonesia. This condition shows the need to reconstruct economic law regulations in order to be able to accommodate the development of financial technology while ensuring legal certainty and justice for all parties. This study aims to analyze the weaknesses of economic law regulations in BNPL governance and formulate a regulatory reconstruction model that is adaptive to the development of the digital economy. The research uses normative legal methods with laws and regulations, conceptual, and comparative approaches. Primary legal materials in the form of regulations regarding consumer protection, electronic transactions, personal data protection, and the financial services sector are analyzed qualitatively through interpretation, synchronization, and legal construction techniques. The results of the study show that BNPL regulations are still sectoral, not yet integrating consumer protection, personal data governance, transparency of credit scoring algorithms, and comprehensive cross-sector supervision. This research offers a reconstruction model of economic law regulations that focuses on regulatory harmonization, strengthening the principle of responsible lending, operator accountability, personal data protection, transparency of electronic contracts, and risk-based supervision mechanisms to realize fair, adaptive, and sustainable BNPL governance in the digital economy era.
Rekontruksi Makna Kafa`ah dalam Perkawinan dan Implikasinya terhadap Kesakinahan Rumah Tangga di Kota Padangsidimpuan Ade Irma Suryani; Fatahuddin Aziz Siregar
Jurnal AL-MAQASID: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/almaqasid.v12i1.19080

Abstract

Penelitian ini didasari oleh adanya kesenjangan antara teori kafa’ah dan fakta dilapangan bahwa kesepadanan ekonomi, nasab, dan status sosial tidak selalu melahirkan rumah tangga sakinah. Secara normatif, kafa’ah dipahami sebagai kesepadanan antara calon suami dan calon istri dalam aspek agama, akhlak, nasab, ekonomi, status sosial, pendidikan dan kondisi personal lainnya yang bertujuan meminimalisir konflik serta membangun kelurga yang sakinah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui konsep kafa’ah dalam perkawinan dan implikasinya terhadap kesakinahan rumah tangga di Kota Padangsidimpuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik sosial masyarakat Padangsidimpuan yang dipengaruhi oleh nilai Islam dan adat Mandailing, kafa’ah tidak hanya dipahami sebagai konsep fikih, tetapi juga sebagai tata nilai sosial yang berkaitan dengan kehormatan keluarga, penerimaan masyarakat, dan keselarasan antar keluarga besar. Kafa’ah tidak menjadi jaminan terwujudnya rumah tangga sakinah. Beberapa kasus memperlihatkan bahwa pasangan yang tampak sepadan dalam aspek ekonomi, nasab dan status sosial tetap mengalami konflik serius akibat lemahnya akhlak, kurangnya tanggungjawab, pengabaian pasangan, kekerasan fisik dan tekanan psikologis dalam rumah tangga. Kesepadanan formal tidak cukup untuk membangun sakinah apabila tidak disertai dengan kematangan moral, komitmen spiritual, komunikasi yang sehat dan kemampuan menyelesaikan konflik secara bijaksana. Kafa’ah perlu direkontruksi dari pemahaman yang bersifat formalistik menuju pemahaman yang substansi, yaitu kesepadanan yang menempatkan agama, akhlak, tanggungjawab dan visi hidup. Sakinah bukan sekedar kesamaan status sosial, ekonomi dan nasab, malainkan lahir dari relasi yang adil, saling menghargai, penuh kasih dan berorientasi pada Ridha Allah SWT.
Rekontruksi Makna Kafa`ah dalam Perkawinan dan Implikasinya terhadap Kesakinahan Rumah Tangga di Kota Padangsidimpuan Ade Irma Suryani; Fatahuddin Aziz Siregar
Jurnal AL-MAQASID: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/almaqasid.v12i1.19080

Abstract

Penelitian ini didasari oleh adanya kesenjangan antara teori kafa’ah dan fakta dilapangan bahwa kesepadanan ekonomi, nasab, dan status sosial tidak selalu melahirkan rumah tangga sakinah. Secara normatif, kafa’ah dipahami sebagai kesepadanan antara calon suami dan calon istri dalam aspek agama, akhlak, nasab, ekonomi, status sosial, pendidikan dan kondisi personal lainnya yang bertujuan meminimalisir konflik serta membangun kelurga yang sakinah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui konsep kafa’ah dalam perkawinan dan implikasinya terhadap kesakinahan rumah tangga di Kota Padangsidimpuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik sosial masyarakat Padangsidimpuan yang dipengaruhi oleh nilai Islam dan adat Mandailing, kafa’ah tidak hanya dipahami sebagai konsep fikih, tetapi juga sebagai tata nilai sosial yang berkaitan dengan kehormatan keluarga, penerimaan masyarakat, dan keselarasan antar keluarga besar. Kafa’ah tidak menjadi jaminan terwujudnya rumah tangga sakinah. Beberapa kasus memperlihatkan bahwa pasangan yang tampak sepadan dalam aspek ekonomi, nasab dan status sosial tetap mengalami konflik serius akibat lemahnya akhlak, kurangnya tanggungjawab, pengabaian pasangan, kekerasan fisik dan tekanan psikologis dalam rumah tangga. Kesepadanan formal tidak cukup untuk membangun sakinah apabila tidak disertai dengan kematangan moral, komitmen spiritual, komunikasi yang sehat dan kemampuan menyelesaikan konflik secara bijaksana. Kafa’ah perlu direkontruksi dari pemahaman yang bersifat formalistik menuju pemahaman yang substansi, yaitu kesepadanan yang menempatkan agama, akhlak, tanggungjawab dan visi hidup. Sakinah bukan sekedar kesamaan status sosial, ekonomi dan nasab, malainkan lahir dari relasi yang adil, saling menghargai, penuh kasih dan berorientasi pada Ridha Allah SWT.