Claim Missing Document
Check
Articles

Methodology of Hadith Content Criticism: A Study on the Thought of Salah al-Din bin Ahmad al-Adlabi Tasmin Tangngareng
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v17i1.1281

Abstract

This article examines Salah al-Din bin Ahmad al-Adlabi’s thought on the subject of methodology of criticism of the Prophet’s hadith content (matan). Al-Adlabi is a hadith scholar who has significat influence on the research methodology of hadith content. In his work entitled Manhaj Naqd al-Matn ‘Inda ‘Ulama al-Hadith al-Nabawiy, al-Adlabi outlines that the background necessitating the importance of the research methodology of hadith content comprises two factors, namely, there have been occurrences of falsification of the Prophet’s hadith at the time of transmission, and there has been a spread of al-wahm, that is, some errors or mistakes in the transmission of the Prophet’s hadith. To determine the quality of a hadith content, al-Adlabi put forward four standards for the validity of hadith content, they are: a), not contradicting to the instructions of al-Qur`an; b), does not conflict with more authentic hadith; c) does not conflict with a healthy mind, senses and history; d) the composition of its statements does not show the characteristics of prophethood. Al-Adlabi’s thought on the methodology of criticism of hadith content obviously worth further discussion. Hence, further study and deeper digging is required in order to give birth to more accurate, constructive, and comprehensive ideas.[Kritik hadis merupakan sesuatu yang penting dalam menilai suatu hadis diterima atau ditolaknya. Kajian atas krtiik hadis terutama kritik sanad sudah banyak dilakukan oleh ulama, sebaliknya kajian atas matan belum banyak. Artikel ini mengkaji Pemikiran Salah al-Din bin Ahmad al-Adlabi tentang Metodologi Kritik Matan Hadis. Al-Adlabi adalah pakar hadis yang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap metodologi penelitian matan hadis. Dalam karyanya yang berjudul Manhaj Naqd al-Matn ‘Inda ‘Ulama al-Hadis al-Nabawiy, al-Adlabi menguraikan bahwa latar belakang pentingnya metodologi penelitian matan hadis disebabkan dua faktor yaitu, telah tersebarnya pemalsuan hadis pada masa periwayatan, dan tersebarnya al-wahm yakni berbagai kekeliruan dalam periwayatan hadis. Untuk menentukan kualitas matan suatu hadis, maka al-Adlabi mengemukakan empat tolok ukur kaedah kesahihan matan hadis, yaitu; tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur`an; tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat; tidak bertentangan dengan akal yang sehat, indera dan sejarah; susunan pernyatannya tidak menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian. Pemikiran al-Adlabi tentang metodologi kritik matan hadis, kelihatannya sangat urgen untuk diperbincangkan lebih lanjut. Oleh karenya, masih diperlukan telaah pemikiran dan perbincangan yang lebih dalam, guna melahirkan ide-ide pemikiran yang lebih akurat, konstruktif, dan komprehensip.]
Understanding Hadith of The Prophet: The Image and Variety of Muslims’ Awareness in the Region of Gowa Tasmin Tangngareng
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v18i1.1469

Abstract

This paper presents an extensive examination about understanding Hadith (the Prophetic Tradition); the image and the range of Muslim society awareness in the region of Gowa. The study focuses on the village of Paccinongang in Gowa regency. Data collection techniques implemented include questionnaires, observation sheets, interview records, and direct observation in the field, and the analysis method applied is that of the qualitative-descriptive analysis. The level of the Muslim society’s knowledge of the Prophet’s Hadith in the village of Paccinongang is relatively low, to the extent that, broadly put, they can barely distinguish between the Qur’an and Hadith. The situation similarly applies in their level of understanding of the Prophet’s Hadith. However, there is a correlation between the level of understanding of Hadith and the level of its implementation. The better one’s awareness is, the higher the level of his implementation. In addition, the interest of the Muslim society in the Village of Paccinongang in studying the Prophet’s Hadith is relatively high. They wish for specific Hadith instructions and assessments in both formal and non-formal conducts. Additionally, the perception of Muslim society in the Village of Paccinongang about the position of the Department of Tafsir Hadith of UIN Alauddin as a learning institution for the Prophet’s Hadith is amazingly positive. The proof is that about 71% of respondents chose formal education as a fitting set for Hadith learnings.[Artikel ini mengkaji secara mendalam tentang pemahaman hadis Nabi saw, yakni potret dan ragam pengetahuan masyarakat Muslim Kabupaten Gowa. Fokus penelitian ini adalah kelurahan paccinongang Kab. Gowa. Tingkat pengetahuan masyarakat muslim kelurahan Paccinongang tentang hadis Nabi tergolong masih rendah kecuali bahwa pada umumnya mereka dapat membedakan al-Qur’an dan Hadis Nabi. Demikian pula tingkat Pemahaman masyarakat Muslim di Kelurahan Paccinongang Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa tentang hadis Nabi pada umumnya juga masih rendah. Namun, ada korelasi antara tingkat pemahaman hadis dan tingkat pengamalannya. Semakin tinggi pemahaman seseorang tentang hadis Nabi, maka semakin tinggi pula tingkat pengamalannya. Di samping itu,Minat masyarakat Muslim di Kelurahan Paccinongang, Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa mempelajari hadis Nabi tergolong tinggi. Mereka menginginkan agar ada pengajian khusus hadis dan pengkajian hadis, baik secara formal maupun non formal. Selain itu, persepsi masyarakat Muslim Kelurahan Paccinongang kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa tentang posisi dan kedudukan Jurusan Tafsir-Hadis UIN Alauddin sebagai institusi pembelajaran hadis Nabi sangat positif. Terbukti bahwa sekitar 71% responden memilih jalur pendidikan formal sebagai tempat belajar hadis.]
Jenis-Jenis Pendidikan (Formal, Nonformal Dan Informal) Dalam Perspektif Islam Titi Mildawati; Tasmin Tangngareng
Vifada Journal of Education Vol. 1 No. 2 (2023): July - December
Publisher : Yayasan Vifada Cendikia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70184/w33a8b87

Abstract

Penelitian mengangkat sebuah judul yaitu jenis-jenis pendidikan dalam perspektif hadis. Berangkat dari berbagai realita dalam kehidupan ini bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting diperoleh oleh setiap insan dalam mengendalikan dan menjadikan hidup lebih bermanfaat, bukan hanya pendidikan yang diperoleh di sekolah atau lembaga pendidikan secara formal, namun pendidikan yang paling utama diterapkan dan ditanamkan sejak diri adalah dalam keluarga, selain itu kita juga membutuhkan kehidupan sosial di masyarakat sehingga pendidikan nonformal juga menjadi salah satu pendukung kualitas kehidupan manusia. Oleh karena itu, ketiga jenis pendidikan ini formal, informal dan nonformal harus selalu bersinergi untuk mewujudkan kehidupan yang bermutu. Selanjutnya peneliti menyelesaikan persoalan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana jenis-jenis pendidikan mampu merubah kehidupan manusia untuk lebih berkualitas dalam pandangan Islam? Metode yang digunakan adalah mengumpulkan data dengan mengkaji literatur lewat buku, jurnal, intenet dan artikel lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Sehingga memperoleh sebuah hasil penelitian bahwa Pendidikan formal dapat memberikan ilmu pengetahuan secara terstruktur, akurat berdasarkan teori dalam pendidikan dengan mengikuti kurikulum pendidikan yang berlaku. Menciptakan kedisiplinan waktu, pemahaman yang sistematik serta memiliki landasan dan sumber yang valid. Pendidikan nonformal dapat memberikan keterampilan atau skill diluar dari pembelajaran formal, melatih manusia untuk bersosialisasi secara di masyarakat, melatih komunikasi dan interaksi serta melatih dalam pemecahan masalah yang lebih kompleks. Pendidikan informal, pengetahuan pertama yang diperoleh secara alami dalam lingkungan keluarga, tanpa batas waktu dan dapat berlangsung hingga akhir hayat
Interpretation of the Hadith Regarding the Command to Wipe the Khuf: Study of AGH. Lanre Said’ Work in the Islamic Law Perspective Tangngareng, Tasmin; Wangsa, Fadhlina Arief; Rayyn, I Gusti Bagus Agung Perdana
Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol 8, No 2 (2024): Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sjhk.v8i2.20401

Abstract

One aspect that is very important to pay attention to is related to purification in the realm of worship, including the command to wipe the khuf. Wiping the khuf is the ability to wipe one's shoes as a form of relief and as a substitute for wiping one's feet when performing ablution. However, this is still very rarely known by Muslims. This article aims to elaborate on the hadith regarding the command to wipe the khuf contained in the book al-Żikrā by AGH. Lanre Said. This is a descriptive qualitative research using the ma'ānī al-ḥadīṣ science approach, which is a contextual interpretation technique in analyzing the Islamic law contained in the hadith. The data is then analyzed and elaborated using contextual interpretation techniques. The results of the research show that contextually khuf is anything that is used to cover the feet made of thick cloth or leather. According to the science of ma‘ānī al-ḥadīṣ, considering asbāb al-wurud and paying attention to social situations and realities, this hadith must be understood contextually. Interpretation and understanding of the hadith contained in his work uses contextual understanding, in accordance with current developments. As for the Islamic law, the order to wipe the khuf only applies temporally or conditionally, even in the current context the order to wipe the khuf is only optional. The command to wipe the khuf according to Islamic law is basically permissible. Understanding this hadith will have implications for the elastic and flexible application of the Islamic law in the society.
A PROPHETIC STUDY ON EARTHQUAKE Tangngareng, Tasmin; Hasbullah, Hasbullah
Jurnal Adabiyah Vol 19 No 2 (2019): December (Islamic Studies)
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jad.v17i119i2a6

Abstract

The phenomenon of earthquakes has become part of human’s dark story within the history of the past people, in the current millennial era and it will still apply even to the end of the world. This article will discuss a study of earthquakes contained in the hadith of the Prophet (peace be upon him). In the history of prophethood, this phenomenon has occurred in Medina and even repeatedly experienced by the Prophet p.b.u.h. together with his faithful companions. The complex discourse will come to vision with the implementation of two contrasting technical dialogues on the subject, namely those of the theological and the scientific views. The complexity of the convergence of the two lies in the detail that each had a circumstance in the prophetic era and is mentioned in the words of the Prophet p.b.u.h. The theological view believes that an earthquake is a punishment from the Creator owing to the decadence of morality in a society, whereas in a scientific perspective, an earthquake occurs because of the shift of the earth’s plate which results in vibrations. Additionally, in the theological perspective, earthquakes are seen as parts of eschatology since there is a sign of their occurrence in the future mentioned in the hadith of the Prophet p.b.u.h. As for the theory of science, it is supported by the message of the Prophet p.b.u.h. that there is a geographical area with a high potential of earthquake strikes. Thus the discourse of the earthquake which has become a part of people’s lives, as is also mentioned in the Prophet’s hadith, will certainly come to pass for two main reasons, firstly it is related to the normative theological perspective and secondly, it is in accordance with the scientific studies. ملخصأصبحت ظاهرة الزلزال جزءًا من الجانب المظلم من حياة الناس، في تاريخ الشعوب السابقة حتى عصر الألفية الحالي وحتى يوم القيامة. سوف يناقش هذا المقال دراسة الزلازل الواردة في حديث النبي الكريم، وقد حدثت هذه الظاهرة في التاريخ النبوي في المدينة المنورة بل مرارًا وتكرارًا من قِبل النبي الكريم. مع الاصدقاء. سوف يولد خطاب معقد مع التناقض بين اثنين من الحوارات العلمية، وهما الرؤية اللاهوتية والنهج العلمي. تعقيد تقارب كل منهم له مصدر حدث في العصر النبوي أو مذكور في كلمات الرسول. وجهة النظر اللاهوتية تعتقد أن الزلزال كعقوبة من الخالق كان سببه الضرر المعنوي للمجتمع. بينما في منظور علمي، تحدث الزلازل بسبب تحول لوحات الأرض التي تسبب الاهتزاز. لا يزال في نظر اللاهوت، أصبح الزلزال جزءا من الاعتقاد في الغيب لأنه كان هناك علامة في الحديث النبوي. أن الزلزال سيحدث في المستقبل، في حين أن وجهة النظر العلمية تدعمها رسالة النبي. أن هناك منطقة جغرافية معرضة للزلازل. وهكذا يمكن أن يحدث خطاب الزلزال الذي تندمج مع الحياة المجتمعية في خطاب الحديث بالتأكيد لسببين رئيسيين، يتعلقان باللاهوت المعياري ولا يمكن فصلهما عن الدراسات العلمية.الكلمات المفتاحية: الحديث ، الزلزال ، الآراء اللاهوتية والعلمية Fenomena gempa bumi telah menjadi bagian dari sisi kelam kehidupan masyarakat, baik dalam sejarah umat-umat terdahulu sampai era milenial sekarang dan bahkan hingga menjelan hari kiamat. Artikel ini akan membahas sebuah studi gempa bumi yang terdapat dalam hadis Nabi saw., dalam sejarah kenabian fenomena ini pernah terjadi di Madinah bahkan berkali-kali dialami oleh Nabi saw. bersama dengan para sahabat. Jenis penelitian ini tergolong kualitatif dengan menggunakan pendekatan ilmu hadis, teologi, sosio-historis dan saintifik. Diskursus yang rumit pun akan lahir dengan pertentangan antara dua dialog keilmuan, yaitu pandangan teologi dengan pendekatan ilmiah (saintifik). Kerumitan konvergensi keduanya masing-masing mempunyai embrio yang pernah terjadi di era kenabian maupun disebut dalam sabda Sang Rasul. Pandangan teologi meyakini bahwa gempa sebagai azab dari Sang Pencipta disebabkan karena dekadansi moralitas dalam sebuah masyarakat. Sedangkan dalam perspektif saintis, gempa terjadi karena pergeseran lempeng bumi yang mengakibatkan sebuah getaran. Masih dalam pandangan teologi, gempa bumi menjadi bagian dari eskatologi karena terdapat sebuah isyarat dalam hadis Nabi saw. bahwa gempa akan terjadi di masa yang akan datang, sementara pandangan sains yang didukung oleh pesan Nabi saw. bahwa terdapat sebuah daerah geografis yang rawan terjadi gempa bumi. Dengan demikian wacana gempa bumi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat dalam diskursus hadis dapat dipastikan terjadi karena dua sebab pokok, berkaitan dengan teologi-normatif dan tidak terlepas dengan kajian ilmu pengetahuan (saitifik).Kata Kunci: Hadis, gempa bumi, pandangan teologi dan saintifik
Tunjangan Fungsional dan Motivasi Kerja Pustakawan Universitas Hasanuddin Tangngareng, Tasmin; Nasrullah; Mansur, Mujahidah; Tawakkal
Literatify: Trends in Library Developments Vol 5 No 2 (2024): SEPTEMBER
Publisher : UPT Perpustakaan UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/literatify.v5i2.50669

Abstract

This study investigates whether an increase in functional allowances can enhance the work motivation of librarians at the University of Hasanuddin Makassar Library. The primary research question is whether the increase in functional allowances leads to improved motivation among librarians. The objective of the study is to determine if raising functional allowances can boost librarians' work motivation at this library. Employing a descriptive research design with a qualitative approach, data collection techniques included observation, document analysis, and interviews with five librarians from the University of Hasanuddin Makassar Library. The findings indicate that increasing functional allowances positively affects librarians' work motivation, leading to greater enthusiasm and discipline in their work.
Implementasi Hadis Sunan Ibnu Majah Nomor 221 dalam Pelaksanaan Tugas Pustakawan Tangngareng, Tasmin; Tasbih, Muh.; Suprianto, Dedi
Maktabatun: Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 4 No 1 (2024): Maktabatun: Jurnal Perpustakaan dan Informasi
Publisher : Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tenaga perpustakaan selain menjadi profesional, pustakawan juga dituntut untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai aturan pelaksanaan keprofesiannya, seperti misalnya undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah tentang perpustakaan dan peraturan lain yang terkait. Selain aturan tersebut, landasan keagamaan jelas tidak boleh dikesampingkan. Landasan keagamaan yang dimaksud dalam hal ini ini adalah sumber-sumber hukum Islam yang dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan, khususnya bagi umat Islam. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian tersebut dipergunakan dengan maksud untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dari fokus yang diteliti. Penelitian ini dilakukan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidenreng Rappang yang berlokasi di jalan Harapan Baru Kompleks SKPD Blok B, Nomor 10 Kabupaten Sidenreng Rappang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan wawancara. Wawancara dilakukan terhadap 5 informan. Informan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pustakawan yang bertugas di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidenreng Rappang. Sudah sepatutnya pustakawan meneladani perilaku Rasulullah baik dalam kehidupan sehari-hari maupun yang terkait dengan tugas dan tanggung jawab dalam keprofesiannya khusunya dalam Hadis Sunan Ibnu Majah Nomor 211 yang menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidenreng Rappang, memandang bahwa Hadis Sunan Ibnu Majah Nomor 211 terkait dengan anjuran menuntut ilmu maupun anjuran tolong-menolong seharusnya menjadi dasar atau acuan dan juga sebagai motivasi bagi pustakawan untuk terus mengembangkan kompetensinya dengan cara mencari atau mempelajari ilmu-ilmu kepustakawanan maupun ilmu-ilmu lainnya yang terkait dengan pelaksanaan tugasnya sebagai pustakawan sehingga hal tersebut dapat berdampak baik bagi pelayanan perpustakaan terutama dalam membantu pemustaka menelusuri informasi atau untuk memenuhi kebutuhannya lainnya.
Kepemimpinan Perspektif Hadis Nabi saw. Tangngareng, Tasmin; Zulfahmi, Zulfahmi; al-Anshary, Fathul Mujahidin
Ihyaussunnah : Journal of Ulumul Hadith and Living Sunnah Vol 1 No 1 (2021): LIVING SUNNAH (June)
Publisher : Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.279 KB) | DOI: 10.24252/ihyaussunnah.v1i1.24586

Abstract

Politik dunia Islam dalam suksesi kepemimpinan telah memunculkan banyak agresi politik, mulai dari demokratis sampai kepada ketegangan yang mengundang pertumpahan darah. Di balik rentetan sejarah politik kepemimpinan dalam Islam, ternyata hadis Nabi saw. telah hadir dalam memberikan strategi politik damai. Suksesi kepemimpinan yang selalu dinamis berdialog dengan kehidupan masyarakat belahan bumi manapun. Sehingga seorang pemimpin yang terpilih diharapkan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Eksistensi hadis Nabi saw. menjadi solusi pengangkatan seorang pemimpin, misalnya larangan meminta jabatan bagi mereka yang dianggap lemah dan tuntunan hadis mengenai hak-hak seorang pemimpin serta sikap masyarakat dalam sebuah kepemimpinan
Sejarah Dan Kaidah Jarh Wa Al-Ta'dil Tangngngareng, Tasmin; S. Puyu, Darsul; Perdana Rayyn, I Gusti Bagus Agung
Ihyaussunnah : Journal of Ulumul Hadith and Living Sunnah Vol 1 No 2 (2021): ULUMUL HADITH (December)
Publisher : Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.555 KB) | DOI: 10.24252/ihyaussunnah.v1i2.29997

Abstract

This article discusses the history and rules or theoretical basis of al-jarh} wa al-ta'di>l as a branch of science that has an important role in the science of hadith. In this article, there are two important topics that will be the subject of discussion, namely, those related to the history of the science of al-jarh} wa al-ta``di>l and the rules of al-jarh} wa al-ta'di>l. Therefore, it is necessary to explain this so as not to cause a mistake in understanding it by conducting a historical study based on a literature review. So the conclusion is that al-jarh} wa al-ta'di>l started at the time of the Prophet. and continues to grow until the generation of tabi' al-ta>bi'i>n, even after. The rule of al-jarh} wa al-ta'di>l is a method or analytical knife used for problem solving in criticizing the sanad of hadith which is the object of research. Keywords: History, Rule, al-Jarh}, al-Ta‘di>l
Konsep Kritik Matan dalam Pelestarian Otentisitas Hadis Ilmi, Nur; Tangngareng, Tasmin; Farhah, Ummi
SETYAKI : Jurnal Studi Keagamaan Islam Vol. 2 No. 3 (2024): AGUSTUS
Publisher : CV Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/setyaki.v2i3.1485

Abstract

This article focuses on the concept of hadith text criticism, which is essential to understand when evaluating hadiths. It covers the history, objectives, benefits, and steps involved in the process of text criticism. The method employed is library research using a deductive-inductive analytical approach to assess the quality of a hadith, ensuring its authenticity is undisputed when practiced. The research findings reveal that both sanad (chain of narration) and matan (text) criticism have been in practice since the time of the Prophet Muhammad (peace be upon him). This practice was carried out by his companions, the tabi’in, the tabi’-tabi’in, and hadith scholars up to the present day. Text criticism is particularly important to determine whether a hadith's matan is authentic or not. If the matan is found to be unauthentic, the hadith cannot be used as a basis for religious matters.