Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search
Journal : Vegetalika

Potensi Hasil dan Toleransi Curah hujan beberapa Klon Teh (Camelllia sinensis (L.) O. Kuntze) PGL di Bagian Kebun Kayulandak, PT. Pagilaran Gatot Wijoseno, Didik Indradewa, Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1358

Abstract

Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui karakter morfologi, potensi hasil, dan ketahanan curah hujan rendah dan tinggi klon PGL 1, 3, 4, 7, 10, 11, 12, 15, dan 17, 2) menentukan klon PGL yang berdaya hasil tinggi dan tahan cekaman curah hujan rendah maupun cekaman curah hujan tinggi, dan 3) menentukan hubungan kekerabatan diantara klon-klon PGL yang diuji mendasarkan kepada data karakter morfologi dan potensi hasil. Penelitian lapangan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal yang diuji adalah sembilan klon PGL yaitu PGL 1, 3, 4, 7, 10, 11, 12, 15, dan 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot per pucuk dan panjang ruas tunas mempengaruhi potensi hasil tiap klon secara langsung, sedangkan karakter morfologi lainnya tidak berpengaruh. Klon PGL 12 memiliki potensi hasil pucuk tinggi dan tingkat ketahanan terhadap berbagai aras curah hujan sehingga berpeluang untuk dilepas sebagai klon unggul nasional. Berdasarkan data karakter morfologis dan potensi hasil, klon PGL dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu I (PGL 1, PGL 3, PGL 4, PGL 10 dan PGL 11), II (PGL 7 dan PGL 17), III (PGL 12), dan IV (PGL 15). Berdasarkan data produksi, klon PGL dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu klon produksi rendah (PGL 1 dan PGL 7), klon produksi menengah (PGL 3, PGL 4, PGL 10, PGL 11, dan PGL 17), dan klon produksi tinggi (PGL 12 dan PGL 15).
Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.), Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.), dan Jahe (Zingiber officinale var. officinale) pada Sistem Agroforestri Jati di Zona Ledok Wonosari , Gunung Kidul Kiswanto , Didik Indradewa, dan Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1359

Abstract

Penelitian telah dijalankan untuk menentukan pertumbuhan dan hasil jagung, kacang tanah, serta jahe pada beberapa tingkat perkembangan sistem agroforesti berbasis jati. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal berupa tingkat perkembangan sistem agroforestri berbasis jati yaitu fase awal, tengah dan lanjut. Pengamatan dilakukan terhadap variabel pertumbuhan dan hasil jagung, kacang tanah serta jahe. Data yang diperoleh dianalisis Varians (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan jika terdapat beda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa tingkat perkembangan tegakan jati berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sela. Jagung pada agroforestri fase awal memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan fase tengah dan lanjut. Namun, kacang tanah memiliki pertumbuhan dan hasil yang sama bila ditanam pada agroforestri fase awal dan tengah. Sementara itu, pada agroforestri fase lanjut kacang tanah memiliki pertumbuhan dan hasil yang rendah dibandingkan dengan agroforestri fase awal dan tengah. Berbeda dengan jagung dan kacang tanah, jahe memiliki pertumbuhan dan hasil tertinggi pada agroforestri fase tengah. Oleh karena itu, tanaman yang direkomendasikan untuk agroforestri berbasis jati fase awal adalah jagung dan kacang tanah (sebagai sumber pangan dan pakan ternak ruminansia). Pada agroforestri fase tengah dapat ditanami jahe sebagai bahan herbal. Sementara itu, agroforestri fase lanjut memiliki potensi sebagai sumber pakan ternak ruminansia apabila di bawah tegakan jati ditanami jagung maupun kacang tanah.
Pengaruh Kadar NaCl Terhadap Hasil dan Mutu Buah Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) Hindun Rahmawati, Endang Sulistyaningsih, Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1595

Abstract

Tomat merupakan tanaman hortikultura yang bersifat moderat sensitif terhadap salinitas dengan batas toleransi 1,3-6 dS/m. Akhir-akhir ini, kualitas air irigasi mengalami penurunan karena akumulasi mineral garam dari intrusi air laut dan residu pupuk. Namun, penyiraman dengan air salin dapat meningkatkanmutu buah tomat (Yin et al., 2010). Oleh karena itu, pengaruh penyiraman larutan NaCl terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas tomat menjadi tujuan dari penelitian ini.Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap, terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah kadar penyiraman larutan NaCl, yaitu 0, 2500, 5000, dan 7500 ppm. Faktor kedua adalah varietas tomat, yaitu ‘Warani’ dan ‘Permata’. Penyiraman NaCl dilakukan sejak tanaman berbunga sampai panen, dengan interval tiga hari sekali. Respon tanaman terhadap penyiraman NaCl dievaluasi dengan mengamati pertumbuhan tanaman, komponen hasil, dan kualitas hasil tomat.Hasil penelitian menunjukka n bahwa tidak ada interaksi antara kadar NaCl dengan varietas tomat. Pertumbuhan tanaman (bobot kering akar dan kandungan klorofil), hasil, dan mutu buah tomat (padatan terlarut total) meningkat pada pemberian NaCl sebesar 2500 ppm apabila dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi perlakuan NaCl (kontrol), tetapi pertumbuhan tanaman menurun ketika tanaman diberi perlakuan NaCl sebesar 5000 ppm dan 7500 ppm. Kadar NaCl yang optimum untuk meningkatkan mutu buah tomat adalah sebesar 2500 ppm. Pada umumnya, ‘Warani’ dan ‘Permata’ memiliki pertumbuhan, hasil, dan mutu buah yang sama.
Pengaruh Lama Penyinaran Ultraviolet-C dan Cara Pengemasan Terhadap Mutu Buah Stroberi (Fragaria x ananassa Duchesne) Selama Penyimpanan Reza Pahlevi Nasution, Sri Trisnowati, Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.2418

Abstract

Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh lama penyinaran UV-C dan cara pengemasan terhadap umur simpan dan mutu buah stroberi dan 2) menentukan lama penyinaran UV-C dan cara pengemasan yang paling optimal untuk memperpanjang umur simpan dan mutu buah stroberi. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial, dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah lama penyinaran UV-C, yaitu 0 menit, 5 menit, 10 menit, dan 15 menit. Faktor kedua adalah cara pengemasan, yaitu tanpa dikemas, vakum, dan wadah styrofoam dibungkus plastik. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel kualitas buah stroberi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Pola hubungan antar variabel kualitas buah ditentukan dengan analisis korelasi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa Lama penyinaran UV-C tidak berpengaruh terhadap umur simpan buah stroberi. Kemasan vakum mampu menghambat proses pematangan buah stroberi sehingga umur simpan buah menjadi lebih panjang, walaupun tidak berbeda nyata dengan kemasan styrofoam. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan UV-C dengan daya lampu lebih besar dari 15 watt serta durasi penyinaran yang bervariasi.
Pertumbuhan dan Hasil Kubis (Brassica oleraceae L.) dalam Sistem Tumpangsari dengan Bawang Daun (Allium fistulosum L.) Mila Laras Setyowati, Endang Sulistyaningsih, Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.295 KB) | DOI: 10.22146/veg.3996

Abstract

 INTISARIPetani kubis di dataran tinggi sering mengalami gagal panen karena adanya faktor lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan dan hasil kubis, salah satunya adalah penyakit. Pada saat ini, penyakit utama pada kubis yang menyebabkan petani gagal panen adalah penyakit yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae. Oleh karena itu, perlu dikaji sistem tanam tumpangsari kubis dengan tanaman lainnya agar petani tetap dapat memanen krop kubis.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan serta hasil kubis yang ditumbuhkan dalam sistem tanam tumpangsari dengan bawang daun. Penelitian dilaksanakan di dataran tinggi yang berlokasi di Dusun Daru, Desa Pagergunung, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah pada bulan Agustus sampai November 2011. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal, dengan 3 blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diuji adalah tumpangsari kubis dan bawang daun, monokulutur kubis dan monokultur bawang daun. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel lingkungan, pertumbuhan dan hasil tanaman kubis serta bawang daun. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan uji-t.Hasil penelitian memberikan informasi bahwa tumpangsari kubis dengan bawang daun lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan monokulturnya karena tumpangsari tersebut menghasilkan land equivalent ratio (LER) sebesar 2,68. Pada satu hamparan lahan yang sama dapat dipanen dua komoditas yaitu kubis dan bawang daun.Kata kunci : bawang daun, kubis, monokultur, tumpangsari
Pengayaan Oksigen di Zona Perakaran untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.) Secara Hidroponik Redha Fauzi, Eka Tarwaca Susila Putra, dan Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.377 KB) | DOI: 10.22146/veg.4006

Abstract

INTISARI Penelitian bertujuan untuk 1) menentukan kadar oksigen yang optimal untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan hasil tanaman selada dan 2) mengetahui pengaruh pengkayaan oksigen di zona perakaran terhadap serapan N, P, K, Ca, Mg dan Fe oleh tanaman selada yang ditanam secara hidroponik. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diuji adalah pemberian aerasi dengan tekanan udara tertentu pada media tumbuh, yaitu 0,012 mPa; 0,006 mPa; 0,003 mPa; dan 0 mPa. Pemberian tekanan udara dilakukan dengan menggunakan aerator. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel lingkungan, pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil tanaman selada. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Dunnet. Konsentrasi oksigen yang optimal untuk meningkatkan pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil tanaman selada ditentukan dengan analisis regresi. Sedangkan pola hubungan antar variabel pengamatan ditentukan dengan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman selada terus mengalami peningkatan sejalan dengan kenaikan tekanan aerasi dan konsentrasi oksigen terlarut dalam media tumbuh hidroponik hingga 0,012 mPa dan 12,23 mg/l. Kemampuan tanaman selada untuk mengakumulasi N, P, K, Ca, Mg, dan Fe dalam jaringan daunnya terus mengalami peningkatan sejalan dengan bertambahnya tekanan aerasi maupun konsentrasi oksigen terlarut dalam media tumbuh hidroponik, hingga tekanan aerasi sebesar 0,012 mPa dan konsentrasi oksigen terlarut sebesar 12,23 mg/l. Pemberian tekanan aerasi sebesar 0,012 mPa dengan konsentrasi oksigen terlarut sebesar 12,23 mg/l berpotensi untuk memperpendek umur panen tanaman selada dari yang semula 28 hari menjadi 14 hari setelah pindah tanam.Kata kunci : selada, hidroponik, pengkayaan oksigen
Pengaruh Macam dan Konsenterasi Bahan Organik Sumber Zat Pengatur Tumbuh Alami Terhadap Pertumbuhan Awal Tebu (Saccharum officinarum L.) Helena Leovici, Dody Kastono, dan Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.695 KB) | DOI: 10.22146/veg.4012

Abstract

INTISARI Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh macam dan konsentrasi bahan organik sumber zat pengatur tumbuh alami terhadap pertumbuhan awal tebu dan 2) menentukan konsentrasi optimum setiap bahan organik bagi pertumbuhan awal tebu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2012 – April 2013 di Kebun Tridharma Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, D. I. Yogyakarta.Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) satu faktor dengan 5 blok sebagai ulangan. Faktor yang diuji adalah macam bahan organik sumber zat pengatur tumbuh alami, yaitu air kelapa muda 25, 50, dan 75 %; urin sapi perah 25, 50, dan 75 %; serta ekstrak kecambah kacang hijau 25, 50, dan 75 %. Sebagai pembanding digunakan bibit tebu yang tidak mendapatkan aplikasi bahan organik sumber zat pengatur tumbuh alami. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa anasir iklim mikro di sekitar tempat penelitian serta variabel pertumbuhan tanaman. Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5 %, dan dilanjutkan dengan uji Dunnet apabila hasil analisis varian menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuanHasil penelitian memberikan informasi bahwa perlakuan air kelapa muda 25 % mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot segar akar, bobot segar tajuk, bobot segar total, bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot kering total, volume akar, dan luas daun tebu jika dibandingkan dengan kontrol (tanpa bahan organik). Perlakuan urin sapi perah 50 dan 75 % serta ekstrak kecambah kacang hijau 25, 50, dan 75 % memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan tanpa bahan organik pada semua variabel pertumbuhan tebu. Hasil analisis regresi memberikan informasi bahwa konsentrasi air kelapa muda yang optimum bagi pertumbuhan awal tebu adalah 38,70 %, sedangkan pada urin sapi perah sebesar 34,44 %.Kata kunci: tebu, air kelapa, urin sapi, ekstrak kecambah kacang hijau, ZPT
Induksi Ketahanan Kekeringan Delapan Hibrida Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan Silika Amanda Yashinta Dewi, Eka Tarwaca Susila Putra, Sri Trisnowati
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.462 KB) | DOI: 10.22146/veg.5154

Abstract

INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui respon delapan hibrida kelapa sawit terhadap aplikasi silika (Si) pada kondisi cekaman kekeringan, 2) menentukan dosis Si yang optimal untuk menginduksi ketahanan delapan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan. Penelitian dilaksanakan di Dusun Bendosari, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY pada bulan Mei 2013 – Februari 2014. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial, dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah hibrida kelapa sawit, terdiri dari delapan hibrida yaitu Yangambi, Avros, Langkat, PPKS 239, Simalungun, PPKS 718, PPKS 540 dan Dumpy. Faktor kedua adalah dosis aplikasi Si, terdiri dari lima aras yaitu 0,00; 2,60; 5,10; 7,70 dan 10,20 gram/bibit. Variabel yang diamati dalam penelitian meliputi kondisi lingkungan, konsentrasi Si dalam jaringan, aktivitas fisiologis serta pertumbuhan bibit. Data yang diperoleh dianalisis varian (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) jika terdapat beda nyata antar perlakuan. Dosis optimal Si yang mampu meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan ditentukan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa hibrida PPKS 239 dan Yangambi lebih tahan terhadap cekaman kekeringan jika dibandingkan dengan Avros, Langkat, Simalungun, PPKS 540, PPKS 718 dan Dumpy. Dosis optimal Si yang mampu menginduksi ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan adalah pada kisaran 5,1 -10,2 gram/bibit. Aplikasi Si pada bibit kelapa sawit mampu menginduksi ketahanannya terhadap cekaman kekeringan melalui mekanisme pengerasan, pemanjangan dan perluasan akar serta stomata yang tetap membuka lebih lebar.Kata kunci: silika, hibrida, Elaeis guineensis, cekaman kekeringan
Kesesuaian Tanaman Ganyong (Canna indica L.), Suweg (Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson), dan Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) pada Agroforestri Perbukitan Menoreh Halim Wicaksono, Eka Tarwaca Susila Putra, dan Sri Muhartini
Vegetalika Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.667 KB) | DOI: 10.22146/veg.6426

Abstract

Penelitian betujuan untuk 1) mendapatkan kelas kesesuaian lahan tanaman ganyong, suweg dan ubi kayu, dan 2) mendapatkan kadar amilum yang dihasilkan oleh ganyong, suweg dan ubi kayu dalam sistem agroforestri pada beberapa zona ketinggian Pebukitan Menoreh. Penelitian dilakukan dengan metode survei berdasarkan strata ketinggian (stratified random sampling) pada tiga zona di Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, yaitu zona bawah (300-500 mdpl), tengah (500-700 mdpl), dan atas (700-900 mdpl). Pengamatan dilakukan terhadap variabel iklim mikro, karakter fisika dan kimia tanah serta kandungan amilum dalam umbi ganyong, suweg dan ubi kayu. Kelas kesesuaian lahan menurut FAO dan Sys ditentukan dengan pendekatan analisis mempautkan yaitu membandingkan syarat tumbuh tanaman dengan kualitas lahan menggunakan tabel matching. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa menurut sistem FAO, ganyong memiliki sub kelas kesesuaian lahan aktual N1mpada ketiga zona, serta sub kelas kesesuaian lahan potensial S3mdi zona bawah dan S3wm di zona tengah dan atas. Suweg memiliki sub kelas kesesuaian lahan aktual S3m pada zona bawah dan tengah, serta N1mpada zona atas. Sub kelas kesesuaian lahan potensial untuk suweg adalah S3m di zona bawah dan atas, serta S2m di zona tengah. Ubi kayu memiliki sub kelas kesesuaian lahan aktual N1mpada ketiga zona, dan sub kelas kesesuaian lahan potensial S3mdi zona bawah dan S3m di zona tengah serta atas. Urutan kesesuaian lahan menurut Sys untuk masing-masing komoditas adalah zona tengah-bawah-atas. Kadar amilum ganyong, suweg dan ubi kayu pada ketiga zona tidak berbeda nyata. Kata kunci : agroforestri, zona ketinggian dan amilum
HUBUNGAN KOMPONEN HASIL DAN HASIL TIGA BELAS KULTIVAR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) Aditya Herwin Dwiputra; Didik Indradewa; Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.397 KB) | DOI: 10.22146/veg.10474

Abstract

Penelitian bertujuan untuk 1) untuk mencari hubungan antara hasil dan komponen hasil berbagai kultivar kedelai, 2) untuk menentukan variabel komponen hasil yang memiliki hubungan paling erat dengan hasil beberapa kultivar kedelai, dan 3) untuk mendapatkan kultivar kedelai dengan hasil yang tinggi. Penelitian lapangan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal yang diuji adalah tiga belas kultivar kedelai yaitu Anjasmoro, Kaba, Argomulyo, Mahameru, Baluran, Muria, Burangang, Sinabung, Gema, Tanggamus, Gepak Kuning, Wilis dan Ijen. Hasil penelitian menunjukkan kultivar tanggamus merupakan kultivar yang memiliki hasil terbaik jika dibandingkan dengan kedua belas kultivar yang diuji hal ini terlihat dari data statistik yang menunjukkan hasil biji per tanaman yang paling tinggi. Variabel jumlah jumlah cabang, jumlah biji dan berat 100 biji adalah komponen hasil yang memilki hubungan erat terhadap hasil kedelai.
Co-Authors Aditya Herwin Dwiputra Ageng Kaloko Alam, Taufan Aldy Slamet Riyadi Alpandari, Heny Andi Nur Cahyo Anggraeni Marganingsih Annisa Khoiriyah Aprilia Ike Nurmalasari Arief Rahman Arizal Nur Hardiansyah Aryo Wijayanto Ayu Ainullah Muryasani Bambang Suwignyo Benediktus Dimas Surya Wirawan Benito Heru Purwanto Benny W.P. Brian Krisna BUDI SETIADI DARYONO Budiastuti Kurniasih Cahyo Wulandari Canggih Nailil Maghfiroh Deborah Gita Sakinah Dewa, Didik Indra Dewi, Fransisca Christiana DIAH RACHMAWATI Didik Indra Dewa Didik Indra Dewa Didik Indradewa Didik Indradewa Didik Indradewa Didik Indradewa Didik Indradewa Dody Kastono Dwi Nur Shinta Febriani Dyah Weny Respatie Eka Listia Eko Hanudin Eko Hanudin Eko Hanudin Endang Sulistyaningsih Farrasati, Rana Garusti, Garusti Hutagalung, St Novella Angelica Ika Betty Widyastuti Ika Betty Widyastuti Ika Irmayanti JAKA WIDADA Kaloko, Ageng Kartikawati, Rina Khairi, Alfassabiq Kurniasih, Budiastuti Lilis Suryani Lubis, Sutan Tarmizi Maghfiroh, Canggih Nailil Meksy Dianawati Melisa Melisa Muchammad Ambar Huda Muhdan Syarovy Nasrudin Nasrudin Novi Yulanda Sari Nurwita, Ardian Nuzul Hijri Darlan Okti Wulandari Pradiko, Iput Pradina Yenny Novitasari Prapto Yudono Prapto Yudono Prapto Yudono Prapto Yudono Prapto Yudono Prapto Yudono Prasetiyanto, Lukas Priyo Prianto, Sukirno Dwiasmoro Priyono Suryanto Purnomo Purnomo Putra, Sukmana Siswandana R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Ramces Sitohang Ramot Christian Ratnasani Ambarwati Siniwi Resti Utari Wahyudi Riyadi, Aldy Slamet Roberdi, Roberdi Rohlan Rogomulyo Rohman, Randi Abdur Rudi Hari Murti Ruslan Boy Sarlin Kusumaningrum Satiti Ratnasari Sigit Dwi Maryanto Silmia, Betha Siti Nurul Rofiqo Irwan Siti Subandiyah Sri Dewi HS, Endang Sri Trisnowati Sriyanto Waluyo Sriyanto Waluyo Sujadi Sujadi Sumaryanto Sumaryanto, Sumaryanto Supriyanta Supriyanta Suryana Riski Siregar Syarif, Afiya Nadhifah Thirafi, Dhaffa Agung Tohari Tohari Tohari Tohari Tony Liwang Toyip Toyip, Toyip Tri Rini Nuringtyas Tri Utami Utomo, Condro Valentina Dwi Suci Handayani Widyastuti, Ika Betty