Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Efektivitas Model Caring Islami “Praktis” dalam meningkatkan Pengetahuan Perawat Fajar Yousriatin; Hendra Priyatnanto; Nurul Jamil; Florensa Florensa; Lintang Sari
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i10.16892

Abstract

ABSTRACT Caring is an attitude that a nurse must have. In Islam, caring is carried out based on Alquran and Sunnah is Islamic Caring as a form of intellectually competent professional behavior from a nurse in providing nursing care to patients, families, and the community with full attention, care, friendliness, empathy, politeness, using communication. therapeutic, and always responsive and alert to provide the best service. This research aims to determine the effectiveness of the "PRACTIS" Islamic caring model in increasing nurses' knowledge about Islamic caring. The design of this research is pre-experiment research with one group pretest and posttest without a control group. The study results showed that knowledge, before the intervention was given, was mostly in the poor category (52.9%), then after being given the intervention it increased to the good category (79.41%). The PRACTIS Islamic caring model is one of the models developed to improve nurses' knowledge about Islamic caring. With good caring behavior, it is hoped that it will be one of the components of increasing patient recovery rates. Key words: Islamic Caring, Nurse, PRAKTIS   ABSTRAK Kepedulian (caring) merupakan sikap yang harus dimiliki oleh seorang perawat. Dalam islam, kepedulian yang dilakukan dengan landasan alquran dan sunnah merupakan Caring Islami sebagai bentuk perilaku profesional yang kompeten secara intelektual dari seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien, keluarga, dan masyarakat dengan penuh perhatian, peduli, ramah, empati, sopan, menggunakan komunikasi terapeutik, serta selalu tanggap dan sigap dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai efektivitas model caring islami “PRAKTIS” dalam meningkatkan pengetahuan perawat tentang caring islami. Desain penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperiment dengan one grup pretest posttest without control group. Hasil penelitian dimana pengetahuan sebelum diberikan intervensi sebagian besar pada kategori kurang (52,9%), kemudian setelah diberikan intervensi meningkat menjadi kategori baik (79.41%). Model caring islami PRAKTIS salah satu model yang dikembangkan untuk meningkatkan pengetahuan perawat tentang caring islami. Dengan perilaku caring yang baik, diharapkan menjadi salah satu komponen meningkatnya angka kesembuhan pasien. Kata kunci: Caring Islami, Perawat, PRAKTIS
EDUKASI DAN IMPLEMENTASI SELF-HEALING DIGITAL UNTUK MENGURANGI KECEMASAN REMAJA TERDAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN Nurul Hidayah; Florensa Florensa; Nisma Nisma; Popy Popy; Vina Ayu Suryani; Muhammad Luthfi
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2025): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecemasan dan rendahnya resiliensi merupakan masalah psikologis yang umum dialami remaja, terutama di wilayah rawan bencana. Intervensi berbasis psikospiritual melalui aplikasi digital menjadi salah satu alternatif yang efektif dan mudah diakses. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan resiliensi sekaligus menurunkan kecemasan siswa SMAN 1 Teluk Pakedai melalui implementasi aplikasi Qolbu Care. Metode yang digunakan meliputi edukasi kesehatan jiwa, praktik relaksasi pernapasan, doa, dan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) yang terintegrasi dalam aplikasi. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipatif dan refleksi pengalaman siswa setelah intervensi. Hasil kegiatan menunjukkan perubahan positif, berupa penurunan gejala kecemasan ringan hingga sedang serta peningkatan kemampuan adaptasi siswa dalam menghadapi tekanan akademik maupun lingkungan. Dari perspektif neurosains, perubahan ini berkaitan dengan berkurangnya hiperaktivitas amigdala, meningkatnya regulasi pada prefrontal cortex (PFC), serta neuroplastisitas pada jaringan PFC-amigdala-hipokampus yang mendukung peningkatan resiliensi. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan efektivitas intervensi digital berbasis mindfulness dan resiliensi dalam meningkatkan kesehatan mental remaja. Dengan demikian, implementasi aplikasi Qolbu Care terbukti menjadi intervensi non-farmakologis yang efektif, fleksibel, dan terjangkau untuk menurunkan kecemasan serta meningkatkan resiliensi pada remaja, khususnya di daerah dengan keterbatasan akses layanan psikologis formal.
PERAN SERTA ORANG TUA DALAM PEMANTAUAN PERKEMBANGAN MENTAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI Lintang Sari; Dewin Safitri; Wahyu Kirana; Florensa Florensa; Fajar Yousriatin; Yunita Anggreini
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2025): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan mental emosional sangat penting bagi perkembangan anak baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang, sehingga diperlukan perhatian khusus dalam mendeteksi kondisi mental emosional serta faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan masalah perkembangan yang terjadi. Peran orangtua merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan mental emosional anak usia dini. Peran serta atau keterlibatan orangtua merupakan faktor yang paling krusial karena orangtua adalah sosok yang menciptakan lingkungan aman dan nyaman serta menumbuhkan rasa sayang dan empati pada anak. Selain itu, orangtua juga mempunyai kewajiban untuk membimbing anak dalam mengenali, memahami dan mengungkapkan emosi yang dirasakan secara benar.Perkembangan mental emosional anak merupakan faktor yang memengaruhi kualitas hidup anak baik di masa kini maupun masa akan datang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orangtua terkait pentingnya peran serta orangtua dalam pemantauan perkembangan mental emosional anak usia dini. Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode partisipatif yang terdiri dari sosialisasi, penyuluhan dan edukasi, pendampingan, evaluasi dan umpan balik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan tanggal 08 Juli 2025 di Posyandu RW 5 wilayah kerja Puskesmas Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, Kalimantan Barat. Setelah diberikan edukasi mengenai pentingnya peran serta orangtua dalam pemantauan perkembangan mental emosional anak usia dini, 80% peserta menyampaikan sudah memahami terkait perkembangan mental emosional anak usia dini. Perkembangan mental emosional setiap anak bervariasi. Masa usia dini merupakan golden age atau masa keemasan dalam hidup seseorang, yang mencakup seluruh aspek perkembangan, diantaranya perkembangan fisik, kognitif, mental, sosial dan emosi. Pada tahap ini, otak anak berada dalam kondisi optimal untuk menyerap dan memproses informasi, sehingga setiap rangsangan atau stimulasi yang diberikan kepada anak akan mempengaruhi hidup mereka di masa akan datang.
Digital Mental Health Innovation: Effectiveness of Qolbu Care App in Reducing Anxiety and Improving Resilience among Adolescents in Disaster-Prone Areas Nurul Hidayah; Florensa; Nisma; Muhammad Luthfi; Yogasliana Fathudin
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol. 6 No. 2 (2025): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v6i2.7944

Abstract

High levels of anxiety and low resilience remain common psychological challenges faced by individuals in coping with life stressors. Technology-based approaches, such as mental health applications, offer innovative and easily accessible solutions, yet remain under-researched in Indonesia.  This study aims to analyze the Qolbu Care application’s effectiveness on respondents' anxiety and resilience levels. The research employed a quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest approach involving 90 respondents. The intervention was administered over eight weeks using the Qolbu Care application. Standardized anxiety and resilience questionnaires were used as research instruments. Data were analyzed using a paired t-test. The analysis revealed a statistically significant reduction in anxiety levels (mean = –16.45; SD = 8.12; SE = 1.05; p = 0.0001), as well as a statistically significant increase in resilience (mean = 11.40; SD = 6.85; SE = 0.98; p = 0.0001). The Qolbu Care application has proven effective in reducing anxiety and enhancing resilience among respondents. These findings affirm that digital-based interventions can be an innovative alternative for psychosocial support within nursing practice.
Determinant Factors of Emotional Mental Health in Adolescents: An Exploratory Study Florensa Florensa; Nurul Hidayah; Lintang Sari; Fajar Yousrihatin; Wulida Litaqia
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol. 15 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : LPPM Politeknik Sandi Karsa, South Sulawesi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiksh.v15i2.260

Abstract

Introduction: Adolescent emotional and mental health is an important component of overall development and well-being. During adolescence, individuals experience significant biological, psychological, and social changes that may increase vulnerability to emotional difficulties. Internal psychological factors such as coping mechanisms, self-esteem, and resilience are considered important determinants influencing adolescent mental health. Objective: This study aimed to explore the determinants of adolescent emotional mental health, particularly emotional difficulties. Research Methodology: This study employed a quantitative descriptive-analytic design. Data were collected from 478 adolescents aged 12–15 years in Pontianak, Indonesia, using structured questionnaires. The variables examined included coping mechanisms, self-esteem, and resilience as independent variables, while emotional difficulties and prosocial strengths served as dependent variables. Data were analyzed using Spearman Rank multivariate analysis to identify the strength and contribution of each determinant factor. Results: Most adolescents had normal prosocial abilities (83.5%), while emotional difficulties were considered normal in 52.7% of respondents. Coping mechanisms had the strongest contribution to emotional difficulties (R² = 0.391; 39.1%), followed by self-esteem (R² = 0.287; 28.7%) and resilience (R² = 0.042; 4.2%). In contrast, prosocial strengths were primarily influenced by resilience (R² = 0.148; 14.8%), followed by coping mechanisms (R² = 0.063; 6.3%) and self-esteem (R² = 0.048; 4.8%). Conclusion: Coping mechanisms, self-esteem, and resilience are significant determinants of adolescent emotional and mental health. Strengthening adaptive coping skills, enhancing self-esteem, and fostering resilience may improve adolescents’ emotional well-being and prosocial development
Peningkatan Literasi Kesehatan Jiwa Remaja melalui Program Edukasi di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Florensa Florensa; Nurul Hidayah; Wahyu Kirana; Lintang Sari; Fajar Yousriatin; Nurul Huda; Dwi Puji Astuti
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i2.24386

Abstract

ABSTRAK Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami permasalahan kesehatan jiwa, terutama remaja yang berada dalam lingkungan pembinaan seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Kondisi keterbatasan sosial, tekanan psikologis, serta stigma dapat berdampak pada kesejahteraan mental remaja binaan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan jiwa remaja melalui program edukasi kesehatan jiwa di LPKA Sungai Raya / Lapas Anak Pontianak. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan 70 remaja binaan sebagai peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, dan pemberian materi edukatif mengenai kesehatan jiwa remaja, pengenalan emosi, strategi koping adaptif, serta pentingnya mencari bantuan. Evaluasi kegiatan dilakukan secara kualitatif melalui observasi partisipasi, keaktifan diskusi, dan umpan balik peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengikuti kegiatan dengan antusias, mampu mengungkapkan pemahaman dasar tentang kesehatan jiwa, serta menunjukkan sikap yang lebih terbuka dalam membicarakan perasaan dan masalah psikologis. Program edukasi ini diharapkan menjadi upaya promotif dan preventif dalam mendukung kesehatan jiwa remaja binaan di LPKA. Kata Kunci: Literasi Kesehatan Jiwa, Remaja, Edukasi, LPKA, Pengabdian Masyarakat.  ABSTRACT Adolescents are a particularly vulnerable age group when it comes to mental health issues, especially those in institutional care settings such as Juvenile Correctional Facilities (LPKA). Social limitations, psychological pressures, and stigma can significantly impact the mental well-being of these young individuals. This Community Service Program (PKM) aims to enhance adolescent mental health literacy through an educational initiative at the Sungai Raya LPKA / Pontianak Juvenile Detention Center. The program engaged 70 incarcerated youth as participants. Implementation methods included interactive counseling, group discussions, and educational materials covering adolescent mental health, emotional awareness, adaptive coping strategies, and the importance of seeking professional support. The activity was evaluated qualitatively through observation of participation, engagement in discussions, and participant feedback. Results indicate that participants enthusiastically took part in the program, demonstrated a foundational understanding of mental health, and showed greater openness in discussing feelings and psychological issues. This educational initiative is expected to serve as a promotive and preventive effort in supporting the mental health of juvenile inmates at LPKA. Keywords: Mental Health Literacy, Adolescents, Education, LPKA, Community Service.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Early Psychosis Pada Remaja Awal di SMPN X Kota Pontianak Dessy Andriani; Florensa Florensa; Mimi Amaludin
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 6 No. 2 (2024): July 2024
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v6i2.253

Abstract

Latar Belakang: Remaja akan dihadapkan dengan berbagai macam perubahan, meliputi perubahan biologis, fisik, kognitif, sosial serta emosional, juga berbagai tugas perkembangan. Perubahan ini mengakibatkan remaja rentan terhadap masalah kesehatan mental. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian early psychosis pada remaja awal di SMP Negeri Kota Pontianak. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh siswa di 6 SMP Negeri yang ada di Kota Pontianak, yaitu 1.138 orang siswa dan sampel sebanyak 140 orang dengan teknik probability sampling. Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner. Analisis data menggunakan uji korelasi statistik non parametrik Spearman Rank. Hasil: Responden yang mengalami prodromal early psychosis dalam kategori tidak prodromal 20 orang (14,3%), prodromal ringan 49 orang (35%), prodromal sedang 51 orang (36,4%) dan prodromal berat 20 orang (14,3%). Responden yang mengalami resiliensi pada kategori tinggi sebanyak 131 orang (93,6%) dan rendah sebanyak 9 orang (6,4%). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara mekanisme koping dengan prodromal early psychosis.
Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat Deni Setiyawan; Florensa; Dewin Safitri
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i1.309

Abstract

Background: Schizophrenia is a chronic illness that requires long-term and continuous management. In an effort to maximize the recovery process, the role of family is crucial in the care of schizophrenia patients. One important task of the family is to attend to the patient's needs, such as taking medication regularly. Objective: This study aims to analyze the relationship between family resilience and medication adherence in schizophrenia patients. Methods: This research is a quantitative study using a descriptive-analytic approach with a cross-sectional design. The sample size of 96 respondents consists of patients and their families. The sampling technique used is purposive sampling. The data collection method used is a questionnaire. The statistical test used is the Gamma Test. Results: The study showed a significant relationship between family resilience and medication adherence in schizophrenia patients (p = 0.004) with a moderate correlation and a positive direction (r = 0.453). Conclusion: Family resilience is essential in the process of caring for patients with schizophrenia, where each family member can provide positive motivation, support, and work together to overcome any difficulties or problems experienced by the patient, including taking medication regularly. The hospital, thru the Keswamas, is advised to always educate the public about the importance of family resilience in providing maximum care for schizophrenia patients to prevent relapse.
Hubungan Antara Resiliensi Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Lansia Penderita Diabetes Melitus Di RSUD Sambas Dian Hana Lestari; Florensa Florensa; Yunita Dwi Anggreini
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i1.320

Abstract

Pendahuluan: Peningkatan signifikan kasus diabetes melitus pada lansia di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat dengan angka 9.564 kasus diabetes melitus pada tahun 2022, angka ini terus naik dari tahun 2019. Seiring dengan pertumbuhan populasi lansia secara global dan nasional. Seiring bertambahnya usia, lansia semakin rentan terhadap penyakit degeneratif seperti diabetes melitus. Diabetes melitus memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup lansia, baik fisik maupun mental karena pengobatan dan perawatan jangka panjang. Hasil awal menunjukkan bahwa banyak lansia dengan diabetes merasa menjadi beban bagi keluarga dan mengalami kesulitan finansial akibat penyakit ini. Maka dari itu, peneliti ingin mengetahui apakah resiliensi keluarga berhubungan dengan kualitas hidup lansia penderita diabetes melitus. Tujuan: Mengetahui apakah ada hubungan antara resiliensi keluarga dengan kualitas hidup pasien lansia yang menderita diabetes melitus. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif menggunakan cross-sectional study. Sampel berjumlah 82 dengan teknik time limited sampling & accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner FRAS dan DQOL yang sudah di uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat, analisis data bivariat menggunakan uji Gamma Hasil: P Value resiliensi keluarga dan kualitas hidup sebesar 0.001 yang artinya nilai p < 0,005 dengan korelasi koefisien sebesar 1,000. Kesimpulan: Ada hubungan antara resiliensi keluarga dengan kualitas hidup pasien lansia penderita diabetes melitus dengan tingkat hubungan rendah.
Pengembangan Aplikasi Digital ‘SiJiwaCare’ untuk Meningkatkan Kapasitas Kader Kesehatan dan Perawat dalam Recovery serta Deteksi Dini Gangguan Jiwa di Masyarakat Nurul Hidayah; Florensa; Nisma
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 8 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v8i1.396

Abstract

Latar Belakang: Skizofrenia memerlukan pemantauan berkelanjutan untuk mencegah kekambuhan, namun kapasitas kader dan perawat dalam deteksi dini serta dukungan pemulihan masih terbatas. Aplikasi SiJiwaCare dikembangkan untuk membantu peningkatan kompetensi tenaga kesehatan komunitas. Tujuan: Menilai efektivitas aplikasi SiJiwaCare dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dan perawat terkait deteksi dini serta dukungan pemulihan penyintas skizofrenia. Metode: Penelitian menggunakan mixed method desain sequential exploratory. Tahap kualitatif dilakukan melalui FGD untuk menggali kebutuhan dan keberterimaan aplikasi. Tahap kuantitatif menggunakan desain one group pre-test post-test pada 22 responden (2 perawat dan 20 kader). Instrumen meliputi kuesioner pengetahuan, lembar observasi keterampilan, dan System Usability Scale (SUS). Analisis kuantitatif menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dan korelasi Spearman, sedangkan kualitatif dengan analisis tematik. Hasil: Terdapat peningkatan signifikan pengetahuan (p=0,001) dan keterampilan (p=0,001). Korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif sedang antara peningkatan pengetahuan dan keterampilan (ρ=0,46; p=0,028) Nilai SUS 78 menunjukkan aplikasi berkategori baik dan mudah digunakan. Data kualitatif mendukung manfaat dan keberterimaan aplikasi di komunitas. Kesimpulan: SiJiwaCare efektif meningkatkan kapasitas kader dan perawat dalam deteksi dini dan dukungan pemulihan penyintas skizofrenia dan disarankan pengembangan fitur offline dan perluasan implementasi.