Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Analisis Kesulitan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Donggala Gazali Gazali; Gusti Ketut Alit Suputra; Ni Kadek karmaeni
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.7270

Abstract

The objective of this study is to analyze the learning difficulties in Indonesian language instruction in Donggala Regency and to provide solutions to address the challenges faced by elementary students in learning the Indonesian language. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The data analysis technique follows the Miles and Huberman model, which consists of four stages: data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. The results reveal that students encounter four main types of difficulties in learning Indonesian: (1) difficulty in understanding sentence structure due to limited ability in organizing grammatical components; (2) difficulty in speaking Indonesian, mainly influenced by the dominance of the mother tongue at home; (3) writing errors, particularly in spelling, capitalization, and punctuation; and (4) inability to read fluently, especially in recognizing and pronouncing words correctly. The contributing factors include limited vocabulary, differing linguistic backgrounds, monotonous teaching methods, and inadequate learning media. Proposed solutions involve implementing contextual teaching methods, utilizing visual and audio media, and providing intensive teacher guidance tailored to students’ characteristics. Abstrak Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis kesulitan pembelajaran Bahasa di kabupaten Donggala dan memberikan solusi dalam menghadapi kesulitan siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model miles dan huberman yang terdiri dari tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami empat jenis kesulitan utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu: (1) kesulitan memahami struktur kalimat karena rendahnya kemampuan dalam mengorganisasi unsur-unsur kalimat secara gramatikal; (2) kesulitan berbicara menggunakan Bahasa Indonesia yang disebabkan oleh pengaruh bahasa ibu yang dominan di lingkungan rumah; (3) kesalahan penulisan, terutama dalam ejaan, huruf kapital, dan penggunaan tanda baca; serta (4) belum bisa membaca secara lancar, terutama dalam mengenali dan mengucapkan kata dengan benar. Faktor penyebab kesulitan tersebut meliputi keterbatasan kosakata, perbedaan latar belakang bahasa, metode pembelajaran yang kurang bervariasi, serta keterbatasan media pembelajaran. Solusi yang ditawarkan meliputi penerapan metode pembelajaran yang kontekstual, pemanfaatan media visual dan audio, serta pendampingan intensif dari guru sesuai karakteristik siswa.
Linguistic landscape of Balinese society: Birth order and gender distinctions in proper names Majid Wajdi; I Nyoman Suka Sanjaya; Gusti Ketut Alit Suputra; Ni Nyoman Sarmi; I Ketut Suar Andyana
Journal of Education, Social & Communication Studies Vol. 1 No. 1 (2024): January 2024
Publisher : PT. MAWAMEDIA JAYAMUSTA BUANASIHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The primary objective of this study is to explore the social and cultural dimensions of Balinese personal names, specifically examining how the order of birth is reflected in the nomenclature. By delving into the historical and cultural context, the study aims to elucidate the societal roles and expectations associated with these names, providing a holistic understanding of their significance within the Balinese community. To achieve a comprehensive analysis, the study employs a combination of document study and the examination of students' attendance lists. Document study involves reviewing historical records, folklore, and other relevant texts to trace the evolution of Balinese naming conventions. Additionally, attending to students' attendance lists offers contemporary insights into the prevalence and adherence to traditional naming practices. The collected data will be subjected to qualitative analysis, utilizing both historical and contemporary perspectives. Thematic analysis will be applied to identify recurring patterns, cultural nuances, and changes over time. Comparative analysis of attendance lists will offer insights into the extent to which traditional naming practices persist in modern Balinese society. By synthesizing the findings from document study and attendance lists, this research aims to provide a nuanced understanding of Balinese naming conventions and their sociolinguistic implications. The study contributes to the preservation of cultural heritage by documenting these unique practices and highlights the importance of recognizing and respecting linguistic diversity in the face of evolving global trends.
From gear to culture: How technology shapes the world of rock climbing Gusti Ketut Alit Suputra; John Louise M. Marcaida; Aprianoto Aprianoto; Majid Wajdi; Ni Ketut Sekarti; Dessalegn Mekuriaw; M. Khairi Zawi
Journal of Education, Social & Communication Studies Vol. 2 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : PT. MAWAMEDIA JAYAMUSTA BUANASIHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71028/jescs.v2i1.7

Abstract

Rock climbing is a form of mountaineering that involves navigating steep cliffs, making it a physically demanding and extreme sport. Introduced in Indonesia in the 1970s, it has evolved from local expeditions to international competitions, gaining popularity among youth and adventure seekers. The sport requires both physical prowess and mental agility, blending strength, strategy, and safety. This paper explores the fundamental aspects of rock climbing, focusing on climbing techniques, necessary equipment, and the importance of safety. The objectives are to provide a comprehensive understanding of the sport, highlight its physical and mental benefits, and promote it as a fulfilling and educational activity. These benefits include enhanced physical strength, improved coordination, cognitive skill development, and boosted self-confidence. Data collection involved field observations of rock climbing environments and routes to capture the technical challenges and strategies used by climbers. Interviews with experienced climbers provided valuable insights into their experiences, techniques, and psychological approaches to overcoming obstacles. These qualitative methods allowed for a deeper understanding of the sport's physical, emotional, and technical dimensions. The analysis of the data highlights the sport’s rising international recognition, including its presence in the Olympics. It also underscores the cultural significance of rock climbing in Indonesia and the strategic role it plays in physical and mental development. This paper concludes by advocating for the growth of rock climbing as a popular and enriching sport, with the potential to positively influence personal development.
PELATIHAN KOMUNIKASI EFEKTIF BAGI KOMUNITAS PEMUDA PALINDO OFFICIAL DALAM MENYAMPAIKAN ASPIRASI PADA MASYARAKAT BALUASE KABUPATEN SIGI yunidar yunidar; Gusti Ketut Alit Suputra; Muh Tahir; Efendi Efendi; Nur Halifah
MALLOMO: Journal of Community Service Vol 6 No 1 (2025): Desember-Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/mallomo.v6i1.2396

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi efektif pemuda di Desa Baluase, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, khususnya anggota Komunitas Palindo Official. Permasalahan yang melatarbelakangi kegiatan ini adalah keterbatasan kemampuan komunikasi pemuda dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah maupun masyarakat. Kondisi ini menghambat kontribusi pemuda dalam menyuarakan isu-isu sosial, ekonomi, dan budaya yang berkembang di desa. Urgensi kegiatan ini memperkuat kapasitas pemuda sebagai agen perubahan sosial melalui penguasaan keterampilan komunikasi yang efektif. Metode pelaksanaan kegiatan terdiri dari pelatihan, diskusi, bimbingan, dan evaluasi, Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam keterampilan komunikasi pemuda. Hasil penilaian terhadap kemampuan menguasai prinsip 7C sebelum pelatihan yaitu sebagian besar peserta masih berada pada kategori Cukup, yang menunjukkan bahwa penguasaan aspek penilaian belum optimal. Hanya 20% yang masuk kategori Baik, sementara kategori rendah (Kurang dan Sangat Kurang) masih cukup signifikan (20%). Sedangkan penilian pada kemampuan peserta setelah pelatihan yaitu menunjukkan peningkatan kemampuan dengan capaian pada kategori Baik (53,3%) dan Sangat Baik (33,3%). Hanya sebagian kecil yang berada pada kategori Cukup (13,3%), sementara kategori rendah (Kurang dan Sangat Kurang) tidak muncul sama sekali. Dampak dari kegiatan ini adalah terbangunnya sinergi antara pemuda, masyarakat, dan pemerintah dalam mendorong pembangunan desa yang lebih inklusif dan partisipatif.
Penguatan Wawasan Lokal Masyarakat Bali di Daerah Perantauan (Studi Kasus Nilai Pendidikan Karakter dalam Gending Rare) : Kajian HermeneutikaPenguatan Wawasan Lokal Masyarakat Bali di Daerah Perantauan: Kajian Hermeneutika Gazali Gazali; Juniati Juniati; Moh. Tahir; Gusti Ketut Alit Suputra; Kadek Adi Mahera
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1544

Abstract

This study aims to identify the character education values contained in Gending Rare as well as to understand the meanings embedded within them. A qualitative method was used, with data collected through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed using Palmer’s hermeneutic approach to interpret the meanings found in the lyrics of Gending Rare, which include the songs Putri Cening Ayu, Juru Pencar, Meong-Meong, and Dadong Dauh. The findings indicate that the song Putri Cening Ayu contains six-character education values, namely religiosity, discipline, hard work, curiosity, appreciation of achievement, and responsibility. This song conveys the values of Balinese family life, particularly the relationship between mother and child. The mother’s instruction to her child to take care of the house reflects emotional closeness and the teaching of responsibility. The song Juru Pencar presents seven-character education values, including religiosity, discipline, hard work, appreciation of achievement, friendliness/communication, social care, and responsibility. It reflects the life of coastal communities in Bali who rely on fishing. Through its simple lyrics, the song conveys values of perseverance, cooperation, and environmental awareness. Meanwhile, the song Meong-Meong contains five-character education values: religiosity, hard work, independence, environmental care, and responsibility. It conveys life lessons through the story of a cat trying to catch a mouse. Animal characters are used as metaphors to instill careful, reflective, and responsible thinking in children. The song Dadong Dauh contains six-character education values, including religiosity, discipline, hard work, independence, environmental care, and responsibility. Its meaning portrays an elderly woman patiently caring for chickens as part of Balinese daily life. Through its simple narrative, the song conveys values of perseverance, attentiveness, and respect for the role of elders. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Gending Rare serta memahami makna yang terdapat di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan hermeneutika Palmer guna menafsirkan makna dalam syair Gending Rare, yang meliputi lagu Putri Cening Ayu, Juru Pencar, Meong-Meong, dan Dadong Dauh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu Putri Cening Ayu mengandung 6 nilai pendidikan karakter, di antaranya religius, disiplin, kerja keras, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, dan tanggung jawab. Lagu ini mengandung makna kehidupan keluarga Bali yang sarat nilai, khususnya dalam hubungan antara ibu dan anak. Amanah ibu kepada anak untuk menjaga rumah mencerminkan kedekatan emosional sekaligus pembelajaran tanggung jawab. Lagu Juru Pencar memuat 7 nilai pendidikan karakter, termasuk religius, disiplin, kerja keras, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, peduli sosial, dan tanggung jawab. Lagu ini mempunyai makna kehidupan masyarakat pesisir Bali yang menggantungkan hidup pada aktivitas menjala ikan. Melalui stair sederhana, lagu ini menyampaikan nilai perjuangan, kebersamaan, dan kesadaran lingkungan. Sementara itu, lagu Meong-Meong mengandung 5 nilai pendidikan karakter, yakni religius, kerja keras, mandiri, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Lagu ini mempunyai makna menyampaikan ajaran hidup melalui kisah seekor kucing yang berusaha menangkap tikus. Tokoh binatang digunakan sebagai metafora untuk menanamkan cara berpikir yang cermat, reflektif, dan bertanggung jawab. Lagu Dadong Dauh mengandung 6 nilai-nilai pendidikan karakter seperti religius, disiplin, kerja keras, mandiri, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Makna dalam lagu ini menggambarkan sosok nenek yang dengan sabar merawat ayam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Melalui kisah sederhana, lagu ini menyampaikan nilai ketekunan, perhatian, dan penghormatan terhadap peran orang tua.