Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Edutech

KOMPETENSI PEMBELAJARAN DALAM JARINGAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH DI JAWA BARAT Mario Emilzoli
EDUTECH Vol 21, No 3 (2022)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v21i3.52094

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi atas semakin meningkatnya kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di dalam jaringan sebagai upaya untuk senantiasa memfasilitasi siswa yang tidak dapat belajar secara langsung di sekolah selama masa Pandemi COVID-19. Peningkatan aktivitas pembelajaran dalam jaringan tersebut nyatanya memberikan masalah baru baik bagi guru, siswa maupun orang tua. Khusus guru, cukup banyak permasalahan yang ditemui, salah satu yang paling mendasar yaitu kurangnya pemahaman dan kemampuan guru dalam menyusun desain pembelajaran dalam jaringan dimana terdapat berbagai perbedaan terutama dalam hal pemanfaatan beberapa teknologi informasi dan komunikasi yang selama ini tidak terlalu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kompetensi guru MI di Jawa Barat terkait dengan pembelajaran dalam jaringan. Sampel penelitian ini berjumlah 100 orang guru yang berasal dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Bekasi, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan instrumen pengukuran (Rating scale). Hasil penelitian menunjukkan tingkat kompetensi guru MI secara umum berada pada kriteria Rendah (67%) dengan rincian tingkat pemahaman konsep pembelajaran dalam jaringan berada pada kriteria Sangat Rendah (32%), tingkat kompetensi perencanaan pembelajaran berada pada kategori Sangat Tinggi (98%), tingkat kompetensi pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan berada pada kategori Rendah (69%) dan tingkak kompetensi penyusunan instrumen evaluasi pembelajaran berada pada kategori Rendah (68%). Dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru MI dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran dalam jaringan masih rendah khususnya pada aspek pemahaman mengenai konsep pembelajaran dalam jaringan.
DESAIN KURIKULUM PELATIHAN DIGITALISASI PEMBELAJARAN KOLABORATIF BAGI WIDYAISWARA Syafril Ramadhon; Mario Emilzoli; Gema Rullyana
EDUTECH Vol 22, No 3 (2023)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v22i3.63147

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengembangkan desain kurikulum pelatihan Digitalisasi Pembelajaran Kolaboratif bagi Widyaiswara di lingkungan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (PPSDM Migas KESDM). Pengembangan desain kurikulum disusun melalui (1) identifikasi kebutuhan dengan merujuk pada kondisi pembelajaran yang saat ini dilaksanakan di PPSDMA Migas dan pemahaman Widyaiswara terkait dengan pembelajaran kolaboratif berbasis digital, (2) konten pembelajaran kolaboratif berbasis digital, (3) strategi pembelajaran yang akan digunakan dan (4) strategi penilaian yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Adapun temuan penelitian ini diantaranya daftar kompetensi yang dibutuhkan Widyaiswara dalam menerapkan pembelajaran kolaboratif berbasis digital, konten pembelajaran yang relevan untuk pembelajaran kolaboratif berbasis digital, penggunaan strategi pembelajaran student centered learning (SCL) dengan model pembelajaran berbasis kelompok dengan memanfaatkan platform digital google docs, google spreadsheet, google slide, explain everything dan whiteboard.fi. Dalam konteks strategi penilaian, pada desain kurikulum pelatihan digitalisasi pembelajaran kolaboratif pelatihan ini akan menggunakan penilaian formatif dan sumatif dengan memanfaatkan platform digital Quizizz. Adapun rekomendasi penelitian ini yaitu desain kurikulum yang telah disusun dapat dikembangkan lebih luas pada mata pelatihan yang bersifat praktif dan membutuhkan berbaga teknologi digital yang lebih variatif. This research was carried out with the aim of developing a Collaborative Learning Digitalization training curriculum design for Widyaiswara within the Oil and Gas Human Resources Development Center of the Ministry of Energy and Mineral Resources (PPSDM Migas KESDM). Curriculum design development is prepared through (1) identification of needs by referring to the learning conditions currently implemented at PPSDMA Migas and Widyaiswara's understanding related to digital-based collaborative learning, (2) digital-based collaborative learning content, (3) learning strategies that will be used and (4) assessment strategies that will be used in learning activities. The research approach used in this research is a quantitative and qualitative approach. The findings of this research include a list of competencies needed by Widyaiswara in implementing digital-based collaborative learning, relevant learning content for digital-based collaborative learning, the use of student centered learning (SCL) learning strategies with a group-based learning model using the digital platform google docs, google spreadsheet, google slides, explain everything and whiteboard.fi. In the context of assessment strategies, the curriculum design will use formative and summative assessments by utilizing the Quizizz digital platform. The recommendation of this research is that the curriculum design that has been prepared can be developed more widely in training courses that are practical in nature and require a more varied variety of digital technology.
TREN PENELITIAN HEUTAGOGI DI PENDIDIKAN TINGGI: SEBUAH ANALISIS BIBLIOMETRIK Hedar, Yusran; Tryono, F.X. Yudi; Ramadhon, Syafril; Priandani, Ai Pemi; Emilzoli, Mario
EDUTECH Vol 23, No 3 (2024)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v23i3.74885

Abstract

Higher education has undergone a significant transformation in recent decades due to technological developments, changing job market needs, and increased educational accessibility. Heutagogy, proposed by Stewart Hase and Chris Kenyon in 2000, emerged as an approach that prioritizes the independence and responsibility of learners in directing their learning process. This concept emphasizes learners as the main agent responsible for setting learning objectives, selecting resources, and evaluating learning outcomes. The main principles of heutagogy include independent learning, self-reflection, contextualization, and collaboration. In the digital era, heutagogy is increasingly relevant by utilizing online learning platforms, digital resources, and online collaboration tools. Research shows that heutagogy can improve learning motivation, student engagement, and the ability to apply knowledge in different contexts. This study uses bibliometric analysis to identify trends, key topics, and significant contributions to heutagogy literature in higher education and uncover existing research gaps.Dalam beberapa dekade terakhir, pendidikan tinggi mengalami transformasi signifikan akibat perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan pasar kerja, dan peningkatan aksesibilitas pendidikan. Heutagogi, yang diusulkan oleh Stewart Hase dan Chris Kenyon pada tahun 2000, muncul sebagai pendekatan yang mengutamakan kemandirian dan tanggung jawab peserta didik dalam mengarahkan proses belajarnya sendiri. Konsep ini menekankan peserta didik sebagai agen utama yang bertanggung jawab untuk menetapkan tujuan pembelajaran, memilih sumber daya, dan mengevaluasi hasil belajar. Prinsip utama heutagogi mencakup belajar mandiri, refleksi diri, kontekstualisasi, dan kolaborasi. Dalam era digital, heutagogi semakin relevan dengan memanfaatkan platform pembelajaran daring, sumber daya digital, dan alat kolaborasi online. Penelitian ini menggunakan analisis bibliometrik untuk mengidentifikasi tren, topik utama, dan kontribusi signifikan dalam literatur heutagogi di pendidikan tinggi, serta mengungkap kesenjangan penelitian yang ada. Berdasarkan analisis yang dilakukan, penelitian ini menunjukkan bahwa heutagogi dapat meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan mahasiswa, dan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks yang berbeda.