Claim Missing Document
Check
Articles

Efek Klonidin 3 μg/kgBB Drip Intravena terhadap Lama Kerja Blokade Motorik dan Sensorik pada Blok Subarakhnoid Gautama, Raditsya Mada; FRW, Calcarina; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 3 (2015): Volume 2 Number 3 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i3.7216

Abstract

Klonidin merupakan agonis reseptor α2 adrenergik yang bekerja sentral parsial selektif.Dalam bidang anestesi obat ini sudah banyak digunakan, selain sebagai obat antihipertensi juga digunakan untuk berbagai tujuan karena kemampuan klonidin dalam menimbulkan efek sedasi, ansiolitik, analgesik dan pengendalian hemodinamik.Manfaat yang biasanya diharapkan dari penggunaan klonidin bersama dengan obat anestesi lokal adalah pemanjangan blok sensorik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pemberian klonidin 3μg/kgBB drip intravena terhadap lama kerja blokade motorik dan sensorik pada SAB dengan bupivakain 0,5% hiperbarik. Desain yang digunakan adalah percobaan acak dengan pembutaan ganda terkontrol.Ruang lingkup penelitian adalah pasien yang menjalani pembedahan daerah perineum, anggota gerak bawah, urologi, dan ginekologi elektif di Instalasi Bedah Sentral RS Dr.Sardjito Yogyakarta. Subyek penelitian adalah 60 pasien pria dan wanita berusia 16-65 tahun dengan status fi sik ASA I-II, berat badan 40-70 kg, tinggi badan 150-170 cm (BMI 17,5-24,5kg/m2 ), dan lama operasi <120 menit. Subyek dibagi 2 kelompok, masing-masing kelompok 30 subyek dengan dropout sebesar 3 subyek.Semua subyek mendapat SAB dengan bupivakain hiperbarik 0,5% 15mg. Kelompok A mendapat klonidin 3μg/kgBB dalam NaCl 100ml sedangkan kelompok B mendapat NaCl 100ml. Obat diberikan 20 menit setelah penyuntikan SAB selama 20 menit dan diamati lama kerja blok sensorik, lama kerja blok motorik, tekanan darah, MAP, denyut jantung, laju pernafasan, dan saturasi O2 . Data demografi kedua kelompok sebanding.Hasil yang didapatkan adalah lama kerja blok sensorik kelompok Amemanjangbila dibandingkan dengan kelompok B yaitu 183,90±29,29 menit vs 162,70±25,46 menit,p=0,004(p<0,05). Lama kerja blok motorik kelompok Atidak memanjang bila dibandingkan dengan kelompok Byaitu 151,00±23,80 menit vs 145,00±15,.65 menit,p=0,253(p>0,05). Perubahan tekanan darah, MAP, denyut jantung, laju pernafasan, dan saturasi O2 tidak didapatkan perbedaan bermakna secara statistik. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu pemberian klonidin 3μg/kgBB drip intravena pada blok subarahnoid dengan bupivakain 0,5% hiperbarik memperpanjang lama kerja blokade sensorik. Pemberian klonidin 3μg/ kgBB drip intravena pada blok subarahnoid dengan bupivakain 0,5% hiperbarik tidak memperpanjang lama kerja blokade motorik.
Perbandingan Efek Penambahan antara Klonidin (50 μg) dan Fentanyl (25 μg) sebagai Adjuvan Bupivacain Hiperbarik 0,5% 12,5 mg Intrathekal sebagai Anestesi Spinal Setiawan, Yosy Budi; Sarosa, Pandit; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 3 (2015): Volume 2 Number 3 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i3.7217

Abstract

Latar belakang. Penambahan obat adjuvan pada anestesi spinal mempunyai beberapa tujuan, salah satunya adalah untuk memperpanjang durasi blok sensorik (analgesia) subarachnoid block (SAB). Klonidin merupakan salah satu obat adjuvan dalam anestesi spinal yang mempunyai efek memperkuat analgesi pada teknik blokade neuroaksial dengan cara berikatan pada reseptor adrenergik α-2 postsinaps kornu dorsalis medulla spinalis. Keuntungan klonidin di antaranya tidak menyebabkan depresi pernafasan dan pruritus, namun dapat menyebabkan hipotensi dan bradikardi. Fentanil mempunyai efek analgesi, sedasi, depresi pernafasan, dapat menyebabkan penurunan kesadaran pada dosis tinggi, serta efek samping berupa pruritus.Tujuan penelitian. Untuk mengetahui perbandingan efek penambahan klonidin 50 μg dan fentanyl 25 μg sebagai adjuvan bupivacain 0,5% hiperbarik 12,5 mg intratekal pada anestesi spinal meliputi: onsetanestesi spinal, lama kerja blok sensorik dan motorik serta efek samping seperti hipotensi, bradikardi, mual dan muntah.Metode penelitian. Rancangan penelitian menggunakan uji klinis acak terkontrol dengan pembutaan ganda. Subyek penelitian 80 pasien, usia 18-66 tahun, berat badan 40-75 kg, status fi sik ASA I & II. Pengamatan dilakukan terhadap onset SAB, durasi blok sensorik dan motorik SAB dengan metode Pinprick dan skala Bromage, serta terjadinya efek samping. Analisis data menggunakan independent samples t-testdan chi- square, bermakna bila p < 0,05, dengan tingkat kepercayaan 95%.Hasil penelitian. Diperoleh onset analgesia maksimal klonidin dibanding fentanil (8,30 ± 1,471vs 8,10 ± 1,566 menit); regresi 2 segmen (104,22 ± 22,903 vs 79,32 ± 15,714), regresi sampai segmen S2 (251,25 ± 28,233 vs 181,62 ± 33,174), dan lama kerja blok motorik (229,38 ± 35,377 vs 160,38 ± 36,557). Secara statistik terdapat perbedaan bermakna (p < 0,05; p = 0,001) regresi 2 segmen, regresi sampai segmen S2, dan lama kerja blok motorik antara kelompok klonidin dan kelompok fentanil. Tidak ada perbedaan efek samping berupa hipotensi, bradikardi, dan mual-muntah pada kelompok klonidin 50 μg dan kelompok fentanyl 25 μg.Kesimpulan. Penambahan klonidin 50 μg pada bupivacain hiperbarik 0,5% 12,5 mg dapat memperpanjang blok sensorik dan motorik, serta meminimalisir efek samping dibandingkan penambahan fentanyl 25 μg pada bupivacain hiperbarik 0,5% 12,5 mg sebagai anestesi spinal.
Efektivitas Penggunaan Ventilasi Non-Invasif pada Pasien Gagal Napas di ICU RS Dr Sardjito Baskoro, Windu Adi; Widodo, Untung; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 1 (2015): Volume 3 Number 1 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i1.7227

Abstract

Latar belakang: Gagal napas didefi nisikan sebagai ketidak-mampuan dalam sistem respirasi untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi, ventilasi atau metabolik pada pasien. Pada pasien gagal napas yang membutuhkan intubasi dan sedasi, erat hubungannya dengan tingginya kejadian VAP (Ventilator Associated Pneumonia) dan akibatnya terjadi kenaikan angka morbiditas dan mortalitas. Saat ini, NIV merupakan alternatif untuk terapi gagal napas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan NIV serta proporsi pasien gagal napas di ICU RS Dr Sardjito Yogyakarta.Metode: Penelitian ini dilakukan secara prospektif menggunakan uji klinis acak terkontrol desain paralel randomized controlled trial (RCT) dengan randomisasi blok permutasi. Subyek penelitian adalah 30 sampel pasien dewasa. Kelompok V adalah kelompok perlakuan yang menggunakan NIV (Ventilasi Non-Invasif) dan kelompok I adalah kelompok kontrol yang mendapatkan ventilasi mekanik dengan intubasi. Untuk mendapatkan hasil yang sahih maka kedua kelompok tersebut harus sebanding, dengan melakukan randomisasi sehingga semua variabel menjadi seimbang, kecuali untuk variabel perlakuan. Dilakukan pencatatan perubahan klinis respirasi, stabilitas hemodinamik, dan analisa gas darah. Data yang dikumpulkan dianalisa dengan uji t tes. Untuk data proporsi dilakukan analisa dengan tes chi-square. Jika p-value <0,05 dikatakan ada perbedaan yang bermakna secara statistik.Hasil: Dari data demografi tidak didapatkan perbedaan yang bermakna secara statistik (p>0,05) antara kedua kelompok penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar pasien akan mendapatkan perlakuan NIV dan Intubasi memiliki frekuensi napas yang cepat. Untuk perlakuan NIV, diperoleh nilaip-value diperoleh 0,01>0,05, artinya terdapat hubungan bermakna antara rasio P/F dengan kadar pCO2 dan frekuensi napas pada pasien gagal napas yang diberikan tindakan NIV. Namun secara klinis terdapat perbaikan frekuensi napas setelah dilakukan NIV. Hal ini dimungkinkan karena Work of Breathing (WOB) pasien berkurang sehingga klinis respirasi membaik, serta selanjutnya terjadi perbaikan status asam basa. Hal ini berbeda pada pasien gagal napas yang mendapat perlakuan Intubasi. Dari uji statistik didapatkan, nilai p-value diperoleh 0,09>0,05, artinya tidak terdapat hubungan bermakna antara rasio P/F dengan kadar pCO2 dan frekuensi napas pada pasien gagal napas yang diberikan tindakan Intubasi.Kesimpulan: Penggunaan NIV pada pasien gagal napas pada 3 jam pertama lebih efektif dalam memperbaiki klinis respirasi, kadar pCO2 dan rasio P/F dibanding penggunaan ventilasi mekanik dengan intubasi.
Gagal Penyapihan dari Ventilator Mekanik pada Pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik Eksaserbasi Akut Kusumasari, Nur Hesti; Widodo, Untung; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7273

Abstract

Pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang mengalami episode eksaserbasi akut berulang, sering membutuhkan ventilasi mekanik (VM). Berbagai metode dilakukan untuk penyapihan ventilasi mekanik. Beberapa hal yang diduga menyebabkan kegagalan penyapihan pada pasien ini antara lain : faktor pernapasan, kardiovaskular, dan gastrointestinal (nutrisi). Telah dilakukan pengelolaan di ruang intensif seorang pasien laki-laki umur 73 tahun dengan diagnosis Sepsis, PPOK eksaserbasi akut. Pasien dikelola selama 33 hari di ICU. Pasien dilakukan manajemen pernafasan dengan ventilasi mekanik atas indikasigagal napas tipe 2 (hiperkapnia) yang ditandai dengan peningkatan kadar PaCO2 dari hasil pemeriksaan analisa gas darah. Selama periode pengelolaan di intensive care unit (ICU) telah dicoba untuk dilakukan penyapihan dari ventilasi mekanik dan dilakukan ekstubasi pada hari ke-2 pengelolaan, namun mengalami kegagalan hingga pasien membutuhkan “prolonged mechanical ventilation”.
Efektifitas Penambahan Infus Efedrin 3 Mg/Menit sebelum Blok Subarakhnoid Dilanjutkan 1 Mg/ Menit 18 Menit Berikutnya untuk Mengurangi Kejadian Hipotensi karena Blok Subarakhnoid pada Seksio Sesaria Aji, Bambang Hantoro Sarti; Suryono S, Bambang; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7276

Abstract

Tujuan penelitian : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas profilaksis prabeban ringer laktat 20 ml/kgbb, 30 menit sebelum blok subarakhnoid ditambah infus efedrin 3 mg/menit, 2 menit sebelum blok subarakhnoid dilanjutkan 1 mg/menit selama 18 menit berikutnya untuk mengurangi kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani seksio sesaria. Desain penelitian Double Blind Randomized Controlled Clinical Trial. Subyek penelitian 92 pasien wanita, usia 20–45 tahun, BMI < 35 kg/m2, dan status fisik ASA I– II.Metode penelitian : Ruang lingkup penelitian adalah wanita hamil aterm yang menjalani seksio sesaria terencana dengan anestesi blok subarakhnoid, di kamar operasi RSUD Banyumas. Subyek dibagi 2 kelompok, masing-masing terdiri dari 46 pasien. Kelompok A adalah kelompok yang diberikan prabeban ringer laktat 20 ml/kgbb ditambah infus NaCl 0,9% 100 ml + efedrin 100 mg, sementara kelompok B adalah kelompok yang diberikan prabeban ringer laktat 20 ml/kgbb dan infus NaCl 0,9% 100 ml + NaCl 0,9% 2 ml. Pengukuran dilakukan pada semua subyek TDS, TDD, dan SpO2 setelah prabeban ringer laktat, setelah pemberian infus efedrin sebelum blok subarakhnoid, selanjutnya setiap 2 menit sampai menit ke 20 setelah blok subarakhnoid. Komplikasi dan tindakan rescue dicatat dan dilaporkan. Analisis data kuantitatif menggunakan menggunakan uji independent samples t-test dan data kualitatif akan diuji dengan chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%, dan dianggap bermakna bila p < 0,05 serta sangat bermakna bila p < 0,01.Hasil penelitian : Kejadian hipotensi diukur dengan menghitung penurunan tekanan darah sistolik dari tekanan darah sistolik basal. Kelompok A (efedrin) terjadi hipotensi pada 7 pasien (15,2%) atau mengurangi hipotensi 84,8%, sedangkan pada kelompok B (kontrol) terjadi hipotensi pada 26 pasien (56,5%) atau mengurangi hipotensi 43,5%. Hal ini menunjukkan ada perbedaan bermakna diantara kedua kelompok p < 0,05 (p = 0,001)Kesimpulan : Profilaksis prabeban ringer laktat 20 mg/kgbb, 30 menit sebelum anestesi blok subarakhnoid ditambah infus efedrin 3 mg/menit, 2 menit sebelum anestesi blok subarakhnoid dilanjutkan dengan 1 mg/menit selama 18 menit berikutnya efektif mengurangi kejadian hipotensi karena anestesi blok subarakhnoidpada pasien yang menjalani seksio sesaria.
Manajemen Cairan Perioperatif pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Ikhwandi, Arif; Widodo, Untung; Artika, I Gusti Ngurah Rai
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7295

Abstract

Ginjal memiliki fungsi vital dalam regulasi cairan, detoksifikasi, serta produksi hormon. Kegagalan ginjal menjalankan fungsinya bisa berakibat fatal. Terkait dengan ini, operasi dan anestesi pada pasien gagal ginjal besar pengaruhnya terhadap fungsi ginjal, dengan mayoritas morbiditas dan mortalitas pasien pasca operasi pada pasien gagal ginjal kronis. Mencapai normohidrasi masih menjadi isu utama pada pasien yang menjalani hemodialisis. Target klinisnya yaitu membuat status cairan pasien yang menjalani hemodialisis berada antara overload dan dehidrasi. Walaupun sulit untuk mencapai target ini dalam prakteknya. Parameter objektif dan klinis yang dapat dipakaiuntuk menentukan status hidrasi normal pada basis individu diperlukan untuk menentukan target berat badan yang sesuai. Pemberian cairan pada pasien gagal ginjal kronis sering menjadi perdebatan terutama pada pasien yang anuria yang menjalani dialisis. Untuk itu referat ini dibuat untuk memahami fungsi kerja ginjal dan kaitannya dengan manajemen cairan perioperatif pasien dengan penyakit ginjal kronik.
Perbandingan Kegagalan Penyapihan Ventilasi Mekanik antara T-PIECE DAN CPAP Sari, Ayu Rosema; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7301

Abstract

Latar Belakang : Tindakan penyapihan dari ventilasi mekanis merupakan hal yang cukup sering dikerjakan di unit perawatan intensif (ICU). Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk proses penyapihan tersebut, di antaranya T-piece dan CPAP. Tujuan penelitian ini membandingkan kegagalan penyapihan ventilasi mekanik antara T-piece dan CPAP.Metode : Rancangan penelitian ini adalah uji klinis terbuka acak terkontrol desain paralel. Subyek penelitian adalah pasien dewasa yang dirawat di ICU RSUP Dr Sardjito yang direncanakan untuk dilakukan penyapihan dan memenuhi kriteria penyapihan. Semua subyek/keluarga telah menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah pasien menolak untuk berpartisipasi dan pasien dengan trakheostomi. Kriteria drop out jika tidak mengikuti prosedur cara kerja, menarik diri dari keikutsertaan setelah dilakukan randomisasi dan autoekstubasi. Pemilihan sampel dilakukan secara consecutive sampling dan block random. Subyek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok T dengan T-piece O2 4L/menit dan kelompok C dengan CPAP, PEEP≤ 5cmH2 0 dan FiO2 ≤ 0,4. Dilakukan evaluasi selama 2 jam untuk menentukan apakah pasien layak ekstubasi atau tidak. Jika pasien dinilai layak ekstubasi maka ekstubasi dilakukan, sedangkan pasien yang tidak memenuhi kriteria ekstubasi maka dikembalikan ke mode ventilator semula dan dievaluasi ulang. Penyapihan ventilasi mekanik dikatakan sukses bila pasien tidak diintubasi ulang dalam 24 jam pertama pasca ekstubasi. Jika toleransi selama 24 jam tersebut kondisi pasien menunjukkan adanya tanda-tanda gagal nafas maka pasien diintubasi dan dihubungkan ke ventilator.Hasil : Terdapat perbedaan sangat bermakna (p<0,01) untuk kegagalan penyapihan pada pasien dengan T-piece. Kegagalan penyapihan pada pasien dengan T-piece 33,3% sedangkan untuk pasien CPAP 0% (p=0,007).Simpulan : Metode CPAP memberikan jumlah kegagalan penyapihan yang lebih rendah dibandingkan T-piece (0% vs 33,3%; p=0,007; p<0,01).
Perbandingan Efektivitas Penambahan Tramadol 0,125 Mg/Kgbb/Jam dengan Tramadol Bolus Intermitten 50mg Per 6 Jam pada Pasien yang Mendapatkan Fentanil 1 Μg/Kgbb/ Jam untuk Penanganan Nyeri Pasca Operasi Noegroho, Wahyu; Uyun, Yusmein; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 5 No 1 (2017): Volume 5 Number 1 (2018)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v5i1.7315

Abstract

Background : The effectiveness of tramadol and fentanyl as multimodal pain theraphy after surgery. Objective : The aim of this study is to compare the effectiveness of the addition of a continuous drip of tramadol is 0,125mg/kgbw /hour on a continuous fentanyl 1 ug/kg/h after the addition of bolus tramadol 50mg given every 6 hours in patients with fentanyl 1 ug/kgbw/hour as analgesia post operation. Methods : Thirty two patients who underwent surgery (oncology, gynecology and laminectomy) under general anesthesia were enrolled.. Samples were randomly divided into 2 groups TB and TK, each group contained 16 patients. In TK group got tramadol 0,125mg/kgbw/hour on a continuous fentanyl 1μg/kgbw/hour. TB group got Bolus tramadol 50 mg per 6 hours on a continuous fentanyl 1μg/kgbw/hour. Results : No significant clinical difference between VAS score TK Group and TB Group on minute 0, hour 6th and hour 12th (p > 0.05, p<0.05). Frequencies of additional fentanyl rescue at first 6 hour in TB group was 6 patients (37.5%), (VAS 4, 3 patients),(VAS 5, 2 patients), in TK group was 3 patients (18.8%), (VAS 4, 1 Patient), (VAS 5, 1 patient), (VAS 6, 1 patient). Additional of fentanyl rescue at second 6 hours in TB Group were 2 patients (12.5%), (VAS 4, 2 patients), in TK Group was 3 patients (18,8%), (VAS 4 , 2 patients) , (VAS 5, 1 patient). Conclusion : The addition of tramadol 0.125 mg/kgbw/h give the same effectiveness in clinical analgesia than tramadol intermittent bolus of 50 mg/6 hours in patients who received fentanyl 1 ug/kgbw/h for the treatment of postoperative pain
Efek Pemberian Ketamin Dosis 0,5 Mg/Kgbb Terhadap Onset Blokade Neuromuskular Oleh Atrakurium Al-Hilal, Said Rival; Sarosa H, Pandit; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 5 No 2 (2018): Volume 5 Number 2 (2018)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v5i2.7332

Abstract

Background. Atracurium is a nondepolarizing muscle relaxant agent. The onset of this drug is slower than succinylcholine thus limiting its use. Various attempts had been made to accelerate the onset of the nondepolarizing muscle relaxants. Various reports suggest that ketamine is associated with a better intubation conditions. Aims. The aim of this study was to determine the effect of ketamine 0.5 mg.kg-1 on neuromuscular blockade onset of atracurium. Method. The method was a Randomized Controlled Trial (RCT) with double blinding. Eighty adult patients aged 18-65 years with physical status according to class I and II of ASA classification who were undergoing elective surgery under general anesthesia in November 2016 up to January 2017, patients who met the inclusion and exclusion criteria were randomly divided into two groups: K (Ketamine ) and group S (Saline Control). Group K was given ketamine 0.5 mg.kg-1 while the S was given Saline. Eight patients were otherwise drop out because of tool’s error. The Onset of atracurium was measured by using a Train of Four. Result. The results of this study were the onset of neuromuscular blockade by atracurium in the ketamine group significantly faster (160.500 ± 58.956 seconds vs 288.750 ± 135.038 seconds; p = 0.001). Hemodynamic 8 changes (∆MAP : 6,500±7,965 mmHg vs 10,750±14,655 mmHg & ∆pulse rate : 3,737±11,700 x/minute vs 4,333±12,254 x/min) was not statistically significant (p = 0.123 and p = 0.831). Conclusion: The administration of ketamine 0.5 mgkg-1 accelerate the onset of neuromuscular blockade of atracurium.
Hubungan antara Lama CPB dan Aortic Cross Clamp dengan Mortalitas dan Lama Rawat di ICU pada Pasien Pascaoperasi Katup Jantung di RSUP Dr. Sardjito Anggraini, Diana; Widodo, Untung; Pratomo, Bhirowo Yudo
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 5 No 2 (2018): Volume 5 Number 2 (2018)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v5i2.7333

Abstract

Background: CPB (cardiopulmonary bypass) results a non physiologic circulation and AOX (aortic cross clamp) causes a hypoxic condition of myocard. The length of CPB and AOX are probably factors that influence the ICU outcome after valvular heart surgery. Objective: To determine whether CPB and AOX time have significant effect on postoperative ICU length of stay (LOS) and ICU mortality. Methods: Data were collected from hospital medical record from period 2010 until 2016. After inclusion and exclusion 57 patients were analyzed for mortality and LOS in ICU. Results: Among 57 patients, 9 (15%) had ICU stay > 3 days, the mean+SD CPB was 119,2+32,5 min, AOX 92,7+27,7 min, while 7 (12,3%) had mortality in ICU, the mean+SD CPB was 113,7+37,3 min, AOX 79,3+36 min. Statistically showed that there were no correlation between duration of CPB and AOX with LOS and mortality in ICU, but we found that increased LOS in patient with comorbid (CHF+other) (p=0,019 OR 7,7 CI 95% 1,39-42,66) while ICU mortality increased with value of APACHE II (p=0,015 OR 1,69 CI 95% 1,11-2,58). Conclusion: There were no correlation of CPB and AOX time against ICU LOS and in mortality ICU, but preoperative factor (CHF+other) and postoperative factor (APACHE II score) respectively have a factor correlation.
Co-Authors Abu Tholib Aman Adi Nugroho Adrin, Olga Elenska Agustina, Ayu Yesi Ainiyah, Ghonimah Zumroatun Aji, Bambang Hantoro Sarti Akbar, Shonnif Akhmad Yun Akhmad Yun Jufan Al-Hilal, Said Rival Andriani, Ika Jati Setya Anggraini, Diana Anisa Fadhila Farid Aprianti, Tutut Arif Setyo Wibowo Artika, I Gusti Ngurah Rai Bahrun, Nugraha Septian Baskoro, Windu Adi Bayu, Timor Krisna Bernadeta M Wara Kushartanti Bhaktiyar, Agung Bhirowo Yudo Pratomo Bowo Adiyanto Burhanuddin, Muhammad Fuad Calcarina Fitriani Retno Wisudarti Castro, Toto Damayanti Damayanti Dewi, Wahyu Jati Paramita Djayanti Sari Farizi, Sulaiman Al Ferdiansyah, David FRW, Calcarina Gafar, Wiramas Ikhsan Gautama, Raditsya Mada Gentong, Metia Gledis Gilang Hamam Hadi Harianto, Widi Yuli Hendra, Maijoni Hernawan, Agung Diky Heru Susilo Hihayat, Ibnu Hijriyatunnisa, Hijriyatunnisa Ikhwandi, Arif Indra Wijaya, Adi Irawati, Tri Endang Jaelani, M Jufan, Ahmad Yun Krispratama, Avian Kusumasari, Nur Hesti Lies Indriyatni Loru, Martha Yuanita Lumbantoruan, Mitra Maduretno Widowati Marthysal, Audhiaz Mi’raj, Geza Getar Mulyono, Arif Hei Muniroh Almunawar, Nira Naomi, Diah Anis Ningtias, Devi Rosita Noegroho, Wahyu Permatasari, Kartika Dewi Perwira, Rendra Prabowo, Janitra Prasamya, Erlangga Puspita, Mia Qurrotuaini, Dhiya Nisrina Rakhmatjati, Pradana Bayu Ramsi, Irhash Faisal Ratih Kumala Fajar Apsari Rudika Harminingtyas Sari, Ayu Rosema Sarosa, Pandit Satrya, Rafi Nanda Septiyono, Dwi Rahmat Gandhi Setiawan, Yosy Budi Shila Suryani, Shila Siti Helmyati Sudadi Sulistiyantoro, Antonius Catur Suryaman, Rifandi Suryono S, Bambang Susanti Wahyuningsih, Susanti Susetyowati Sutiyoso, Noor Aditya Tasriastuti, Nurohmi Ambar Teguh Setiadi Toruan, Joner Lumban Trifiana, May Lisa Triongko, Budi Ummi, Riadatul Wahyunigsih, Susanti Wicaksono, Galih Sahid Widowati, Madu Retno Widowati, Madurento Wijayanti, Maria Setya Yuliati - Yunita Widyastuti Yusmein Uyun Zulkarnaini, Zukarnaini