Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Kadar Nitrit pada Daun Katuk dan Daun Pegagan dengan Pereaksi Griess: Analysis of Nitrite Levels in Katuk Leaves and Pegagan Leaves with Griess Reagent Emma Emawati; Egy Rizky Maulana; Fauzan Zein Muttaqin; Lilis Silviana; Reza Pratama; Abdul Mulki Irpani
PharmaCine : Journal of Pharmacy, Medical and Health Science Vol. 7 No. 1 (2026): PharmaCine: Journal of Pharmacy, Medical and Health Science
Publisher : Bachelor of Pharmacy Study Program, Faculty of Health Sciences, Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/pc.v7i1.13535

Abstract

Vegetables are an important source of nutrition for humans. Katuk (Sauropus androgynus) and pegagan (Centella asiatica) are vegetables rich in nutrients and fibre, which are beneficial for the body. In addition to their many health benefits, these vegetables contain compounds that can be harmful to the body, such as nitrite (NO₂⁻). The harmful effect caused by nitrite is methemoglobinemia. This study aims to analyze the nitrite levels contained in katuk (Sauropus androgynus) and pegagan vegetables using a visible spectrophotometric method using the Griess reagent based on the diazotization reaction principle. Before the analysis of nitrite levels, method validation was carried out, including linearity, accuracy, and precision tests. From the results of the linearity test, the linear regression line equation was obtained, namely, y = 0.0551x + 0.153, r = 0.9977, BD = 0.5647 μ,g / mL, BK = 1.8824 μg / mL. The results of the similarity test obtained the coefficient of variation of the first day, 0.88%, the second 1.12%, and the third day, 1.26%. While the percentage of nitrate recovery at concentrations of 3, 6, and 9 μg / ml with the standard addition method was obtained, respectively, 116, 88, and 90%. The nitrite content in katuk yielded an average of 0,1684 mg/g, and in pegagan was 0,4218 mg/g.
Pemanfaatan Singkong Dalam Pembuatan Sushi Untuk Panganan Penderita Diabetes Emma Emawati; Winasih Rachmawati; Rizki Siti Nurfitria; Fauzan Zein; Ani Anggriani
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/xg4jz225

Abstract

Dabetes Militus (DM) disebut sebagai penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Hal ini karena gula tidak dapat dipakai oleh tubuh. Juga karenna pola hidup masyarakat yang tidak sehat mulai dari pola konsumsi yang serba instan, kurang aktivitas fisik dan life style yang buruk. Pada prinsipnya penderita DM harus melakukan pengaturan pada pola makannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan jumlah kalori dan zat gizi yang dibutuhkan, jenis bahan makanan serta keteraturan jadwal makan. Penatalaksanaan diabetes melitus selain dengan menggunakan obat dapat dilakukan dengan cara diet makanan, edukasi dan olahraga. Sebagai upaya untuk mencegah peningkatan prevalensi diabetes melitus pengaturan diet menjadi salah satu cara yang efektif untuk mencegah kenaikan kadar glukosa darah dan menurunkan kadar glukosa darah. Salah satu makanan yang mengandung kadar karbohidrat rendah adalah makanan berbahan dasar singkong. Melalui ketua PKK Karini di RW 05 Kelurahan Cicaheum diinformasikan bahwa cukup banyak penduduk yang mengidap penyakit Diabetes sehingga wilayah tersebut memerlukan beberapa pencerahan terkait penyakit diabetes apa penyebab dan bagaimana pencegahannya. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan pengetahuan dan keterampilan Kader dan masyarakat terkait Pemanfaatan singkong dalam pembuatan sushi untuk penderita DM. Post test dan pretest sebelum dan sesudah kegiatan kemudian diberi pelatihan membuat makanan cemilan berupa shushi berbahan dasar singkong. Hasil pengukuran Tingkat pengetahuan masyarakat terekait penyakit DM sebelum dilakukan penyuluhan sebesar 4,16% dan sesudah penyuluhan meningkat menjadi 62,50%, Hal ini menunjukan adanya perubahan yang signifikan. Dan Masyarakat terampil dalam membuat shushi singkong.  
ANALISIS KADAR OKSALAT DARI TEH SEGAR DAN TEH OLAHAN TERHADAP LAMA PENYEDUHAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV Emma Emawati
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 18 No 2 (2018)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v18i2.411

Abstract

Sebagian besar penyebab terjadinya batu ginjal adalah akibat penumpukan kalsium oksalat, senyawa yang terdapat secara alami di banyak makanan. Asupan oksalat yang tinggi dapat berakibat buruk bagi kesehatan manusia, salah satunya adalah pembentukan batu ginjal. Oleh sebab itu,  asupan oksalat harus dibatasi dengan rentang batas aman 40-50 mg per hari. Teh merupakan tanaman yang sering dikonsumsi sebagai minuman dalam bentuk air seduhan daunnya. Teh mengandung senyawa oksalat yang tinggi, yaitu lebih dari 10 mg kalsium oksalat per 99,2 gram penyajian. Waktu penyeduhan dapat mempengaruhi kadar oksalat yang terkandung dalam teh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar oksalat dalam teh, dan apakah lama penyeduhan dapat mempengaruhi kadar oksalat dalam air seduhan teh. Metode yang digunakan untuk penetapan kadar oksalat adalah metode spektrofotometri UV-Visibel dengan panjang gelombang 315 nm.  Penelitian ini diawali dengan pengumpulan sampel teh segar yang diambil pucuk daunnya yang diambil dari tempat budidaya tanaman teh. Sampel kemudian dideterminasi untuk memastikan sampel yang digunakan adalah teh (Camellia sinensis), kemudian dilakukan standarisasi simplisia meliputi kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol dan kadar abu total. Berikutnya dilakukan validasi metode analisis meliputi uji linieritas, batas deteksi, batas kuantisasi, presisi dan akurasi mengunakan metode standar adisi. Pengolahan data dengan panengujian statistik. Hasil validasi metode analisis kurva kalibrasi larutan baku oksalat memiliki persamaan garis regresi y = 0,1489 x + 0.1405 dengan nilai koefisien korelasi 0,9961. Batas deteksi dan batas kuantisasi dapat dihitung secara statistik masing masing sebesar 0.130 dan 0,0392. Keseksamaan dalam hari dinyatakan sebagai  koevisien variance sebesar 1: 22, dan persen perolehan kembali masing masing120, , 119 dan 122%. Dari hasil analisis oksalat dalam air seduhan teh tanpa pemeraman  berturut turut diperoleh kadar oksalat Teh hijau 1,117±0,004, teh fermentasi 0,447±0,207, teh segar 0,201±0,001. Untuk air seduhan teh dengan pemeraman massing masing teh hijau 0,093±0,0015, teh fermentasi 0,252±0,0006 dan teh segar 0,11±0,0015. Dari hasil data statistik menunjukan kadar oksalat dalam air seduhan teh dengan pemeraman dan tanpa pemeraman tidak ada perbedaan.Kata kunci: Oksalat, Spektrofotometri, Teh