Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Tingkat Kepatuhan Pasien terhadap Pengobatan Hipertensi Berdasarkan Durasi Menderita Hipertensi di Puskesmas Tumbuan Kabupaten Seluma Carissa Chindy Putri Wulandari; Ikhsan Ikhsan; Tri Danang Kurniawan; Oky Hermansyah; Dwi Kurnia Putri
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2509

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang dan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sangat penting untuk menjaga tekanan darah tetap terkontrol serta mencegah komplikasi. Salah satu faktor yang memengaruhi kepatuhan pasien adalah lama menderita hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi berdasarkan lama sakit di Puskesmas Tumbuan Kabupaten Seluma tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 96 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner MMAS-4 (Morisky Medication Adherence Scale). Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pasien dengan lama sakit <5 tahun sebagian besar memiliki tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 25 responden (52,08%), kepatuhan sedang 17 responden (35,42%), dan kepatuhan rendah 6 responden (12,5%). Sedangkan pada pasien dengan lama sakit >5 tahun sebagian besar memiliki tingkat kepatuhan rendah sebanyak 22 responden (45,83%), kepatuhan sedang 16 responden (33,33%), dan kepatuhan tinggi 10 responden (20,83%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan durasi menderita hipertensi kurang dari 5 tahun lebih banyak berada pada kategori kepatuhan tinggi, sedangkan pasien dengan durasi menderita hipertensi lebih dari 5 tahun lebih banyak berada pada kategori kepatuhan rendah. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan gambaran tingkat kepatuhan berdasarkan durasi menderita hipertensi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan dukungan dari tenaga kesehatan serta keluarga untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hipertensi.
The Effect of Educational Videos on the Level of Hypertension Knowledge at the Muara Bangkahulu Community Health Center, Bengkulu City Amelia Cantika Hendri; Samwilson Slamet; Dwi Kurnia Putri; Tri Danang Kurniawan; Rizqa Hasanah
INDOGENIUS Vol 5 No 2 (2026): INDOGENIUS
Publisher : Department of Publication of Inspirasi Elburhani Foundation Desa. Pamokolan, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/igj.v5i2.1085

Abstract

Background & Objective: Hypertension is a chronic disease that is a major risk factor for global mortality. This study aims to analyze the effect of providing educational videos on the level of knowledge of hypertensive patients about health management and medication adherence. Method: A quasi-experimental study with a pre- test and post-test design was conducted on 55 respondents at the Muara Bangkahulu Community Health Center, Bengkulu City, from January to March 2026. Data were collected using the Hypertension Knowledge-Level Scale (HK-LS) questionnaire consisting of 24 items. Result: Before the intervention, the majority of respondents were in the sufficient (69%) and poor (25%) knowledge categories, with an average score of 15.25. After the educational video was provided, there was a significant increase with the good category increasing to 27%, sufficient to 73%, and no more respondents in the poor (0%) category, with an average score increasing to 17.40. The Wilcoxon Signed Rank Test showed a p-value <0.001, indicating a very significant effect of education on increasing knowledge. A total of 53 respondents (96.4%) experienced an increase in knowledge after the intervention. Conclusion: In conclusion, educational videos have proven effective in improving the knowledge of hypertension patients, particularly regarding pharmacological adherence, healthy lifestyles, and understanding of disease complications. Recommendations include implementing ongoing education, using diverse media for different levels of education, and further research focusing on behavior change and long- term retention.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Emulgel Ekstrak Etanl 96% Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa blimbi L.) Ledya Yulianti; Rose Intan Perma Sari; Samwilson Slamet; Deni Maryani; Tri Danang Kurniawan
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2404

Abstract

Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) berpotensi diformulasikan sebagai sediaan topikal dalam bentuk emulgel. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi emulgel ekstrak etanol 96% daun belimbing wuluh dengan variasi konsentrasi 1%, 5%, dan 10%. Metode penelitian meliputi ekstraksi secara maserasi menggunakan etanol 96% serta evaluasi sediaan melalui uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas, tipe emulsi, dan uji hedonik yang melibatkan 20 orang panelis, dengan setiap pengujian dilakukan sebanyak tiga kali replikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula menghasilkan sediaan semi padat, homogen, dan bertipe emulsi minyak dalam air (M/A) dengan pH yang sesuai dengan pH kulit. Perbedaan konsentrasi ekstrak mempengaruhi karakteristik fisik sediaan, terutama viskositas dan daya sebar. Uji hedonik menunjukkan bahwa formula dengan konsentrasi 1% (F1) merupakan yang paling disukai. Kesimpulannya, ekstrak daun belimbing wuluh dapat diformulasikan menjadi emulgel yang stabil secara fisik, dengan formula terbaik pada konsentrasi 1% karena memberikan karakteristik fisik dan tingkat penerimaan paling optimal.
Analisis Kadar Tanin Anggur Laut (Caulerpa racemosa) pada Variasi Konsentrasi Etanol Nabila Rasyada; Dwi Kurnia Putri; Vernonia Yora Saki; Ikhsan Ikhsan; Tri Danang Kurniawan
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2418

Abstract

Anggur laut (Caulerpa racemosa) mengandung tanin yang berpotensi untuk kesehatan, namun pengaruh konsentrasi pelarut terhadap kadar tanin masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan menentukan serta membandingkan kadar tanin pada ekstrak etanol 70% dan 96% menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Sampel dari Pantai Teluk Sepang diolah menjadi simplisia dan dimaserasi dengan etanol 70% dan 96%. Uji kualitatif menunjukkan kedua ekstrak positif tanin. Penetapan kadar dilakukan dengan metode Folin–Ciocalteu pada 775 nm dengan inkubasi 70 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar tanin pada ekstrak etanol 70% sebesar 6,8±0,22 mg TAE/g sedangkan pada ekstrak etanol 96% sebesar 5,5±0,31 mg TAE/g. Namun, secara statistik tidak terdapat perbedaan signifikan (p > 0,05). Artinya, perbedaan konsentrasi etanol tidak berpengaruh nyata terhadap kadar tanin, meskipun nilai etanol 70% lebih tinggi. Penelitian ini memberikan informasi ilmiah mengenai efektivitas pelarut etanol dalam ekstraksi tanin dari Caulerpa racemosa sebagai dasar pengembangan penelitian selanjutnya.
Formulasi dan Evaluasi Karakteristik Fisik Gel Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Berbasis HPMC Tiara Cantika; Rose Intan Perma Sari; Dwi Kurnia Putri; Yona Harianti Putri; Tri Danang Kurniawan
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2461

Abstract

Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) mengandung senyawa flavonoid, fenolik, dan minyak atsiri yang berpotensi digunakan sebagai bahan aktif sediaan topikal karena memiliki aktivitas antioksidan dan mampu melindungi kulit dari radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak daun kemangi dalam bentuk sediaan gel serta mengevaluasikan karakteristik fisik untuk menentukan formula terbaik. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diformulasikan menjadi empat formula yaitu F0 (0%), F1 (1%), F2 (4%), dan F3 (7%) dengan menggunakan basis HPMC. Evaluasi fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki bentuk semi padat, homogen, serta warna dan aroma khas daun kemangi. Nilai pH seluruh formula berada pada rentang 5,60-6,50 sehingga sesuai dengan pH kulit. Nilai viskositas seluruh formula memenuhi standar sediaan gel yaitu 3.000-50.000 cPs. Hasil daya sebar pada F1, F2, dan F3 memenuhi standar 5-7 cm, sedangkan seluruh formula memenuhi persyaratan daya lekat yang baik. Berdasarkan hasil evaluasi fisik dan uji hedonik, Formula 1 merupakan formula paling optimal karena memiliki karakteristik fisik yang stabil dan tingkat penerimaan panelis yang baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun kemangi berpotensi dikembangkan sebagai sediaan gel topikal berbahan alam.
Antioxidant Activity Of Body Lotion Formula Containing Rosella Petal Extract (Hibiscus sabdariffa) And Calamansi Orange Peel Essential Oil (Citrofortunella microcarpa) Suci Rahmawati; Oky Hermansyah; Rose Intan Perma Sari; Yendha Dwi Rolitta; Dwi Kurnia Putri; Tri Danang Kurniawan
Jurnal Pharmacopoeia Vol 5 No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jp.v5i1.1262

Abstract

Rosella petals contain anthocyanins, and calamansi orange peel essential oil contains limonene, both of which are antioxidant compounds. Antioxidants capture free radicals, allowing them to serve as active ingredients in preventing premature aging in skincare products such as body lotions. This study was aimed to formulate and test of the antioxidant level from body lotion formula containing roselle petal extract (Hibiscus sabdariffa L.) and calamansi orange peel essential oil (Citrofortunella microcarpa). Roselle petal extract was extracted by maceration method using 96% ethanol and calamansi essential oil was obtained by distillation using aquades. Body lotion formula was designed in three formulas (F1, F2, and F3) with differing concentrations of roselle extract and calamansi essential oil, respectively: F1 (1% and 3%), F2 (2% and 5%), and F3 (4% and 7%). The formulations were evaluated their physical properties (organoleptic characteristics, homogeneity, pH, spread ability, viscosity, and stability) and also antioxidant activity. The evaluation results were indicated that all formulations met physical standards but were unstable under heat. F1, F2, and F3 were semi-solid, homogeneous, pink in color, and had a distinctive calamansi aroma. The antioxidant evaluation yielded IC₅₀ values of 89.9 ppm, 81.7 ppm, and 69.7 ppm for F1, F2, and F3, respectively. In this study can be concluded that F3 formula had the highest antioxidant activity. This study was demonstrated that increasing the concentration both of roselle petal extract and essential oil of calamansi enhanced the antioxidant degree of body lotion formula.
Pelatihan Pembuatan Kosmetika Alami Pemerah Bibir (Lip Tint) Dari Buah Bit (Beta Vulgaris L.) Pada Siswa SMAN 1 Kota Bengkulu: Pelatihan Pembuatan Kosmetika Alami Pemerah Bibir (Lip Tint) Dari Buah Bit (Beta Vulgaris L.) Pada Siswa SMAN 1 Kota Bengkulu Rose Intan Perma Sari Rose; Muchammad Farid; Tri Danang Kurniawan; Oon Sapta
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v7i1.785

Abstract

Lip tint adalah sejenis lipstick yang teksturnya cair yang merupakan modifikasi antara lipstick dan liblam yang banyak diminati remaja putri. Maraknya penggunaan pewarna berbahaya yang sering digunakan pada kosmetik dapat memberikan dampak yang berbahaya bagi tubuh. Buah bit dapat digunakan sebagai pewarna pada lip tint karena mengandung pigmen warna alami yaitu senyawa betalain yang terdapat memberikan warna khas pada lip tint. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memanfaatkan buah bit sebagai pewarna pada pembuat kosmetik alami pemerah bibir (lip Tint). Metode yang digunakan meliputi penyuluhan dan pelatihan secara langsung kepada siswa SMAN 1 Kota Bengkulu, dengan total peserta sebanyak 30 orang. Proses pembuatan lip tint dilakukan dengan membuat sari buah bit kemudian ditambahkan bahan tambahan lip tint. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan post-test terhadap 30  peserta.  Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa khususnya untuk pembuatan lip tint dari buah bit. Kegiatan ini juga memberikan  dampak  positif  terhadap  kesadaran  siswa akan penggunaan kosmetik yang aman.
Formulation and Evaluation of Micellar Water Containing Green Tea Leaf Extract (Camellia sinensis L.) Savitri Cantika; Tri Danang Kurniawan; Dwi Kurnia Putri; Dwi Dominica; Suci Rahmawati
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v9i1.13651

Abstract

The use of natural ingredients in the cosmetics sector is currently growing, this study aims to formulate micellar water products from green tea leaf extract (Camellia sinensis L.). Green tea leaves are known to contain various active compounds such as flavonoids, saponins, alkaloids, and tannins that have antioxidant, anti-inflammatory, and antimicrobial properties, so they have potential in the formulation of micellar water products. Micellar water products have two surfactant parts that act hydrophilic which attracts water and hydrophobic parts that attract oil, so they can clean the face without needing to be rinsed which is able to remove dirt particles on the face. The extraction method used is maceration with 96% ethanol solvent and in the formulation of extract concentration variations used include 0.6%, 0.75%, and 0.9% with PEG-7 Glyceryl Cocoate surfactant of 0.2%. Based on observations in the physical evaluation of the preparation, the results of the four formulas are liquid, odorless and have a distinctive tea odor, clear color, transparent light brown, reddish brown, and reddish dark brown. The preparation with an average pH value of 5.12 - 6.44 has met the requirements of SNI-4380-1996 for topical use, while the viscosity results have an average of 1.5-1.24 cPs. The results of the irritation test showed no irritation from the four formulas that have been made. The results of the hedonic test showed that F3 was preferred by panelists in terms of aroma and texture, while for color F2 was preferred by panelists.
Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanol Kulit Buah Kopi Robusta (Coffea Canephora) dan Bunga Kecombrang (Etlingera Elatior) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus Halimatus Sadiah; Suci Rahmawati; Tri Danang Kurniawan; Ikhsan Ikhsan; Dwi Kurnia Putri
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v9i1.13347

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan, sehingga diperlukan alternatif antibakteri dari bahan alam. Kulit buah kopi robusta (Coffea canephora) dan bunga kecombrang (Etlingera elatior) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol kulit buah kopi robusta dan bunga kecombrang terhadap Staphylococcus aureus. Metode penelitian meliputi ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% serta uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram. Parameter yang diamati adalah diameter zona hambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus yang meningkat seiring dengan kenaikan konsentrasi, dengan kategori daya hambat dari lemah hingga kuat. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak etanol kulit buah kopi robusta dan bunga kecombrang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan efektivitas terbaik pada konsentrasi tinggi.
FORMULASI DAN EVALUASI MICELLAR WATER DARI EKSTRAK DAUN SIRIH CINA (Peperomia pellucida L.) Mesha Sevia Putri; Tri Danang Kurniawan; Samwilson Slamet; Putri Mulia; Dwi Kurnia Putri
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v9i1.13536

Abstract

Perkembangan produk pembersih wajah menunjukkan peningkatan yang signifikan, salah satunya micellar water yang memiliki keunggulan praktis dan efektif dalam mengangkat kotoran serta sisa make up. Daun sirih cina (Peperomia pellucida L.) merupakan salah satu bahan alami yang berpotensi digunakan sebagai zat aktif dalam kosmetik karena diketahui mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin serta memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan antibakteri. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun sirih cina dapat diformulasikan menjadi sediaan micellar water serta menentukan formula yang paling optimal berdasarkan evaluasi fisik dan tingkat kesukaan panelis. Pada penelitian ini dilakukan variasi konsentrasi ekstrak yaitu F0 (0%), F1 (3%), F2 (5%), dan F3 (7%). Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dan remaserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Berdasarkan hasil uji organoleptik seluruh formula berbentuk cair dan jernih, dengan perbedaan warna dan aroma yang semakin meningkat seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak. Hasil pengujian pH menunjukkan nilai berkisar antara 4,49–6,40 yang masih memenuhi persyaratan pH kulit menurut SNI-16-4399-1996. Uji viskositas menunjukkan peningkatan nilai seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak, namun masih mendekati viskositas air sehingga sesuai dengan karakteristik micellar water. Uji iritasi terhadap 10 panelis menunjukkan bahwa seluruh formula tidak menimbulkan iritasi. Uji daya bersih menunjukkan bahwa formula F2 dan F3 memiliki kemampuan pembersihan terbaik. Sementara itu, uji hedonik menunjukkan bahwa formula F2 (5%) merupakan formula yang paling disukai panelis berdasarkan parameter warna, tekstur, dan aroma. Pada penelitian ini sediaan micellar water dengan formula terbaik adalah F2 (5%) hal ini berdasarkan tingkat penerimaan panelis dan memiliki efektivitas pembersihan terbaik.