Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan Kualitas Air Sumur Gali Berdasarkan Parameter Besi (Fe) dengan Pemanfaatan Kulit Pisang Kepok di Dusun Alekanrung Desa Kanrung Kabupaten Sinjai Andi Susilawaty; Munawir Amansyah; Jumiati Jumiati
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 7, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.61 KB) | DOI: 10.24252/as.v7i2.2001

Abstract

Kulit Pisang Kepok (Musa acuminate L.) adalah salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai penurun kadar zat Besi yang ada pada air, penurun kadar logam berat yang lain seperti timah, mangan dan variabel lainnya. Kulit pisang terdiri dari sejumlah nitrogen, sulfur dan komponen organik seperti asam karboksilat, selulosa, hemiselulosa, pigmen klorofil dan zat pektin yang mengandung asam galacturonic, arabinosa, galaktosa dan rhamnosa. Asam galacturonic dapat mengikat kuat ion logam yang merupakan gugus fungsi gula karboksil. Berdasarkan pemeriksaan pendahuluan di laboratorium ternyata air sumur gali memiliki kadar zat Besi sebanyak 1,67 mg/L, padahal standar yang diperbolehkan untuk air bersih dalam Standar Kualitas Baku Mutu Air menurut Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990 adalah 1,0 mg/L. Penelitian ini dilakukan di Dusun Alekanrung Desa Kanrung Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai dan pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, yang bertujuan untuk mengetahui berapa besar tingkat penurunan kandungan logam besi (Fe) dengan memanfaatkan kulit pisang kepok pada air sumur gali. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen sungguhan (True Experiment). Desain penelitian yang digunakan adalah pre test-post test with control group design, dimana terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian  tentang  Peningkatan Kualitas Air Sumur Gali Berdasarkan Parameter Besi (Fe) dengan Pemanfaatan Kulit Pisang Kepok, maka dapat diambil kesimpulan untuk uji Laboratorium bahwa tingkat kadar zat besi  (Fe) pada air sumur gali sebelum mendapat perlakuan adalah 1,67 mg/L. Kemudian terjadi penurunan tingkat kadar zat Besi (Fe) air sesudah mendapat perlakuan dengan Kulit Pisang Kepok yaitu dengan berat20 gr sebanyak 0,80 mg/L atau 52%,40gr sebanyak 0,94 mg/L atau 43,7% dan 60gr sebanyak 0,81 atau 51%.Diharapkan kepada masyarakat agar memperhatikan sarana air bersih yang mereka gunakan dengan melakukan pengolahan terlebih dahulu, salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan kulit pisang kepok.Kepada peneliti lain, disarankan untuk meneliti manfaat kulit pisang kepok ini dengan indikator parameter yang lain 
Peningkatan Kualitas Air Sumur Gali Pada Parameter Mangan (Mn), Besi (Fe) Dan Coliform Dengan Pemanfaatan Biji Asam (Tamarindus indica) dan Biji Kelor (Moringa oleifera) di Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Imam Ashim Dwi Santy Damayati; Andi Susilawaty; Hastuti Indriani
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 8, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.556 KB) | DOI: 10.24252/as.v8i1.2084

Abstract

Serbuk biji asam jawa mengandung tanin, minyak esensial, dan polimer alami (protein) seperti pati, getah, dan albuminoid. Sedangkan biji kelor mengandung zat aktif rhamnosyloxy-benzil-isothiocyante, yang mampu mengadsorbsi dan menetralisir partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam limbah tersuspensi dengan partikel kotoran yang melayang dalam air Penelitian ini dilakukan di Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Imam Ashim dan pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, yang bertujuan untuk mengetahui berapa besar tingkat penurunan kandungan mangan (Mn), besi (Fe) dan total coliform dengan memanfaatkan biji asam jawa dan biji kelor pada air sumur gali. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian secara kuantitatif dengan pendekatan penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment).Berdasarkan hasil penelitian  tentang  peningkatan kualitas air sumur gali pada parameter mangan (Mn), besi (Fe), dan coliform dengan pemanfaatan biji asam dan biji kelor, maka dapat diambil kesimpulan untuk uji Laboratorium bahwa tingkat kadar mangan (Mn) pada air sumur gali sebelum mendapat perlakuan adalah 0.42 ppm, besi (Fe) 8.15 ppm dan total coliform 490 APM/100 ml. Kemudian terjadi penurunan tingkat kadar mangan sesudah mendapat perlakuan dan didapatkan nilai tertinggi pada perlakuan A:K 250:750 mg/L sebanyak 0.23 ppm atau 45.23%. Pada parameter besi (Fe) terjadi penurunan setelah mendapat perlakuan dan didapatkan nilai tertinggi pada perlakuan A:K 250:750 mg/L sebanyak 4.3 ppm atau 47.23%. Sedangkan pada total coliform terjadi penurunan setelah mendapat perlakuan dengan nilai tertinggi terjadi pada A:K 75:25 mg/100 ml sebanyak 24.6 APM/100 ml atau 94.97%. 
Kerentanan Ketersediaan Air Bersih di Daerah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sulawesi Selatan Indonesia Andi Susilawaty; Munawir Amansyah; Nildawati Nildawati
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 8, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.237 KB) | DOI: 10.24252/as.v8i2.2666

Abstract

Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan, juga manusia selama hidupnya selalu memerlukan air. Dengan demikian semakin naik jumlah penduduk dan laju pertumbuhannya semakin naik pula laju pemanfaatan sumber-sumber air. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi ilmiah, sosial dan praktis tentang risiko kesehatan lingkungan dari aspek ketersediaan air bersih. Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan penilaian resiko kesehatan lingkungan. Model pengukuran adalah bagian dari model yang diteliti dimana pada pendekatan SEM terdiri atas sebuah variabel  laten (konstruk) dan beberapa variabel manifest (indikator) yang menjelaskan variabel laten tersebut. Pulau-pulau yang diteliti yaitu 8 pulau-pulau kecil berpenghuni yang berada pada gugus Pulau 9 Kabupaten Sinjai dan 8 pulau-pulau kecil berpenghuni dalam wilayah Kota Makassar. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi persentase atau cakupan kualitas fisik air bersih tidak memenuhi syarat pada suatu pulau akan semakin besar pula risiko yang dapat muncul pada pulau-pulau kecil. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah, sosial dan praktis tentang risiko, sehingga penilaian ini dapat menunjang pengambilan keputusan atau kebijakan yang akan diterapkan pada sasaran. 
Identifikasi Aset Sarana Sanitasi Dasar Dengan Pendekatan Asset Based Community Development (Abcd) Di Desa Barugaia Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar. Andi Susilawaty; Nurdiyanah Nurdiyanah; Andi Aryadin
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 10, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.923 KB) | DOI: 10.24252/as.v10i1.5423

Abstract

Sarana sanitasi dasar di masyarakat harus selalu terpenuhi, upaya sanitasi dasar meliputi penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia (jamban), pengelolaan sampah dan saluran pembuangan air limbah(Azwar, 1996). Berdasarkan laporan MDGs tahun 2008 di Indonesia jumlah penduduk yang tidak memiliki akses air bersih sebesar 44,2 %, dan hanya 5,5 % penduduk di desa yang mempunyai akses air bersih. Selanjutnya pada tempat-tempat umum cakupan penduduk yang mempunyai akses air bersih hanya 32,9% (WHO, 2008).Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi aset manusia, aset fisik, aset alam, aset sosial dan aset finasial yang berhubungan dengan sarana sanitasi dasar di Desa Barugaia Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif (mix method) dengan konsep pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dengan metode In Depth Interviewatau wawancara mendalam. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 15 (lima belas) orang dan ditentukan secara Snowball Sampling.Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi aset yang berhubungan dengan sarana sanitasi dasar di Desa Barugaia Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar adalah : Aset manusia yaitu pertukangan kayu dan batu, tukang las, pembuat jaring, pembuat perahu sampan, dll; Aset fisik yaitu kantor desa, puskesmas, gedung PKK, masjid, mushollah, poskamling, posyandu, kantor Coremap, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, jalan raya, kantor BPD dan saluran irigasi; Aset alam yaitu tanah, air, hutan da udara. Sangatlah banyak yang dapat dimanfaatkan di Desa Barugaia ini terbukti dengan aset alam yang melimpah seperti pohon kelapa, tambang batu dan tambang pasir; Aset sosial yaitu budaya gotong royong dan saling tong menolong, kelompok nelayang dan kelompo tani; Aset finansial yaitu sumber finasial masyarakat barugaia, salah satunya pada pengolahan kelapa menjadi kopra.
Penilaian Risiko Sanitasi Lingkungan di Pulau Balang Lompo Kelurahan Mattiro Sompe Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Andi Susilawaty; Abdul Majid HR. Lagu; Syahrul Basri; Ultry Maisari; Munawir Amansyah
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 10, Nomor 2, July-December 2018
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.213 KB) | DOI: 10.24252/as.v10i2.6872

Abstract

Penilaian risiko sanitasi lingkungan atau yang juga dikenal dengan Environmental Health Risk Assessment (EHRA) adalah studi untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku-perilaku yang berisiko pada kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran analisis risiko sanitasi lingkungan di Pulau Balang Lompo Kelurahan Mattiro Sompe Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan analitik. Responden dalam penelitian ini sebanyak 65 ruman yang diambil dengan simple random sampling. Data diolah dengan menggunakan SPSS 17.0 dan disajikan dalam bentuk tabel sederhana atau tabel frekuensi untuk analisis univariat. Hasil penelitian diperoleh bahwa bahaya-bahaya sanitasi lingkungan di Pulau Balang Lompo meliputi bahaya terkait kepemilikan tempat sampah (58,5%) dan air limbah domestik (37,4%). Adapun beberapa perilaku tidak sehat yang memberikan peluang keterpaparan bahaya, yaitu perilaku tidak Cuci Tangan Pakai Sabun (47,7%), Buang Air Besar Sembarangan (29,2%), tidak memilah sampah (83,1%), serta perilaku tidak melakukan penanganan sampah (84,6%).  Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat risiko sanitasi lingkungan di Pulau Balang Lompo menunjukkan bahwa RW 1 berada pada kategori Risiko sangat tinggi dengan nilai indeks risiko 191, RW 2 dengan kategori Risiko rendah dengan nilai indeks risiko 124, RW 3 dengan kategori Risiko rendah dengan nilai indeks risiko125 dan untuk RW 4 dengan kategori Risiko rendah dengan nilai indeks risiko 135. Beberapa faktor yang menjadi penyebab risiko sangat tinggi di RW 1 adalah penduduk yang menyimpang dari perilaku hidup sehat, tingkat pendidikan, kurangnya kepemilikan tempat sampah, kepemilikan SPAL dan kepemilikan jamban, serta tingginya tingkat kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan. Dalam hal ini, diperlukan risk communication agar masyarakat mengetahui dan memahami besaran risiko sanitasi lingkungan tempat tinggalnya, sehingga ada upaya pencegahan dalam bentuk peningkatan cakupan rumah tangga dan individu berperilaku bersih dan sehat
Analisis Kandungan Zat Gizi Roti Rumput Laut Lawi-Lawi (Ceulerpa racemosa) Subtitusi Tempe Sebagai Alternatif Perbaikan Gizi Masyarakat Syarfaini Syarfaini; Dwi Santy Damayati; Andi Susilawaty; Syamsul Alam; A. Mahirah Humaerah
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 11, Nomor 1, January-June 2019
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.15 KB) | DOI: 10.24252/as.v11i1.9437

Abstract

Roti rumput laut lawi-lawi subtitusi tempe merupakan salah satu produk diversifikasi pangan lokal dengan pemanfaatan rumput laut lawi-lawi (Ceulerpa racemosa) yang kaya zat besi (Fe) sebesar 9,9 mg/100 gram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, kadar air dan Zat Besi (Fe) serta uji organoleptik pada roti rumput laut lawi-lawi (Ceulerpa racemosa) subtitusi tempe. Jenis rancangan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dan pendekatan penelitian eksperimentatif dengan desain true-eksperimen. Metode yang digunakan untuk perlakuan rumput laut lawi-lawi dan tempe dengan perbandingan kelompok kontrol 100:0, kelompok eksperimen 75:25, 50:50, 25:75 dan 0:100. Hasil penelitian roti rumput laut lawi-lawi subtitusi tempe formulasi 100:0, 75:25, 50:50, 25:75 dan 0:100 berturut-turut yaitu karbohidrat (48,96%, 55,37%, 54,33%, 56,10% dan 53,99%), protein (8,25%, 8,77%, 10,28%, 11,42% dan 9,94 %), lemak (7,71%, 7,61%, 8,81%, 7,93% dan 8,79%), Fe (18,23277mg/kg, 17,17137mg/kg, 20,9091mg/kg, 16,80773mg/kg dan  10,81677 mg/kg) dan air (21,14%, 20,74%, 21,45%, 23,26% dan 25,16%). Uji hedonik dengan skor tertinggi terdapat pada formulasi 0:100 dengan kriteria sangat sangat suka dan formulasi 75:25, 50:50 serta 25:75 dengan kriteria sangat sangat suka. Adapun uji mutu hedonik dengan skor tertinggi pada formulasi 25:75 dengan kriteria agak baik. Uji Friedmen p<0,05 menunjukkan ada pengaruh subtitusi tempe terhadap kualitas roti rumput laut lawi-lawi dari aspek warna, rasa dan mutu over all serta tingkat kesukaan. Rekomendasi produk terbaik dari ke lima sampel untuk kebutuhan zat gizi makro dan zat gizi mikro adalah formulasi 25:75. Jadi disarankan bagi masyarakat agar dapat melakukan diversifikasi pangan seperti roti rumput laut lawi-lawi subtitusi tempe serta diperlukan penelitian lebih lanjut tentang zat gizi lain yang terkandung dalam roti rumput laut lawi-lawi (Ceulerpa racemosa) subtitusi tempe sebagai makanan tambahan guna memenuhi kebutuhan zat gizi masyarakat.
Uji Kemampuan Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) Dalam Menurunkan Jumlah Kuman Pada Peralatan Makan Di Cafetaria Perpustakaan UIN Alauddin Makassar Andi Susilawaty; Nurdiyanah Syarifuddin; Munawir Amansyah; Syahrul Basri; Nurul Wahyu Septiani
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 11, Nomor 2, July-December 2019
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.341 KB) | DOI: 10.24252/as.v11i2.11930

Abstract

Kebersihan alat makan merupakan bagian yang sangat penting dan berpengaruh terhadap kualitas makanan dan minuman. Untuk menjaga kebersihannya, dalam proses pencucian alat makan agar menggunakan desinfektan yang berfungsi untuk membebas hamakan peralatan makan yang digunakan. Salah satu alternative yang dapat digunakan yaitu buah belimbing wuluh yang mengandung senyawa antibakteri yang bersifat desinfektan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan larutan buah belimbing wuluh (averrhoa bilimbi) pada konsentrasi 5,0%, konsentrasi 7,5% dan konsentrasi 10,0% dalam menurunkan jumlah kuman pada peralatan makan di Cafetaria Perpustakaan UIN Alauddin Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan pretest-posttest control group design dengan metode pengambilan sampel menggunakan random sampling. Jumlah penjual sebanyak 3 penjual dengan jumlah piring sebanyak 30 buah terbagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan larutan buah belimbing wuluh dapat menurunkan jumlah kuman pada peralatan makan. Hal ini dapat dilihat dari penurunan jumlah kuman pada semua perlakuan. Rata – rata penurunan jumlah kuman pada larutan buah belimbing wuluh konsentrasi 5,0% sebesar 1606,66 koloni/cm2, pada larutan buah belimbing wuluh konsentrasi 7,5% sebesar 2411,11 koloni/cm2 dan pada larutan buah belimbing wuluh konsentrasi 10,0% sebesar  3590,55 koloni/cm2. Implikasi pada penelitian ini yaitu untuk peneliti selanjutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melakukan variasi konsentrasi dengan menaikkan konsentrasi dan melakukan variasi kontak peralatan makan dengan larutan buah belimbing wuluh sehingga di dapatkan jumlah yang memenuhi syarat serta melakukan penelitian dengan peralatan makan lainnya. Kata Kunci : larutan, buah belimbing wuluh, jumlah kuman, peralatan makan. 
Spatial modelling of acute respitory infection with environmental health factors in Gowa Regency, Indonesia Hadriani Hadriani; Andi Susilawaty; Emmi Bujawati
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 12, Nomor 2, July-December 2020
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-sihah.v12i2.15822

Abstract

Respiratory tract infections or ISPA is an infection that occurs in the nasal cavity, sinuses, and throat. ISPA is caused by influenza viruses, parainfluenza, and other typical viruses. The purpose of this study is to determine the spatial description of the environmental factor on ISPA disease in the working area of Gowa Regency, Indonesia. This research employs a quantitative research methodology by using a descriptive approach. The method used in this research was a spatial pattern. The research results showed that the spread of ISPA disease could be restrained based on several measurements. It reveals that the ventilation area of the respondent's house was 66.3% in which it did not meet the proper ventilation standards; the type of the wall used in the respondent's house was 25.0% which did not meet the proper wall standard; the type of floor used in the respondent's house was 31.3% which did not meet the proper floor standard; the density of the respondent’s house was 31.3% in which the occupancy density did not meet the proper density standard; the room temperature of the respondent’s house was 27.5% which did not meet the proper temperature standard, and lastly the spread of ISPA disease based on the humidity of the respondent's room was 32.5% which means that the room humidity did not meet the proper humidity standard. Based on the research results, it is expected that a clear understanding of the importance of maintaining a clean home environment could be gained.
Tindakan Pencegahan Covid-19 pada Masyarakat Sulawesi Selatan Syahrul Basri; Dian Rezki Wijaya; Nur Hidayat; Abdul Majid H.R. Lagu; Munawir Amansyah; Nurdiyanah Syarifuddin; Andi Susilawaty
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8 No 1 (2022): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah dinyatakan sebagai global pandemic oleh World Health Organization (WHO) sejak Maret 2020. Penetapan tersebut didasarkan pada sebaran 118 ribu kasus yang menjangkiti di 114 negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat penghasilan, potensi bahaya terpapar, pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan Covid-19 pada masyarakat Sulawesi Selatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional study. Adapun kesimpulan dari penelitian ini yaitu tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, potensi bahaya terpapar dengan tindakan pencegahan Covid-19 pada masyarakat Sulawesi Selatan. Adapun tingkat penge-tahuan dan sikap memiliki hubungan yang signifikan dengan tindakan pencegahan Covid-19 pada masyarakat Sulawesi Selatan. Karenanya, perlu edukasi lebih lanjut mengenai informasi penyakit covid-19 yang spesifik, valid dan tepat sasaran agar dapat meningkatkan tindakan pencegahan masyarakat. Kata Kunci: Pengetahuan, sikap, tindakan, pencegahan Covid-19
Efektivitas Ekstrak Serbuk Daun Pulai (Alstonia scholaris) Sebagai Larvasida Alami Terhadap Larva Aedes sp. Instar III Rachmat Saleh; Andi Susilawaty; Abdul Majid HR Lagu; Muh. Saleh
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8 No 1 (2022): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tanaman di Indonesia yang dimanfaatkan masyarakat secara tradisional sebagai obat adalah batang pulai (Alstonia scholaris). Bagian tanaman yang sering digunakan adalah daun, kulit batang, dan bunga. Tumbuhan ini mengandung senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid, alkaloid, steroid dan triterpenoid. Kandungan tersebut merupakan senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai larvasida alami untuk membunuh larva Aedes sp. sebagai upaya pengendalian vektor penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu nyamuk Aedes sp. Penelitian ini dilakukan pada dua lokasi yaitu Laboratorium Biologi-Farnasi dan Laboratorium Kesehatan Lingkungan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen murni (true experiment) dengan rancangan Posttest Only Control Group Design. Populasi dan sampel pada penelitian ini berjumlah 300 larva Aedes sp. Instar III sebagai hewan uji yang diambil dari Laboratorium Entomologi Universitas Hasanuddin dalam setiap replikasi menggunakan 25 larva. Perlakuan dilaksanakan dengan pemajanan terhadap larva Aedes sp. Instar III dengan konsentrasi 0%, 5%, 10% dan 15% masing-masing 2 gram serbuk daun pulai dengan tiga kali replikasi. Berdasarkan hasil pengamatan, presentase kematian larva Aedes sp. pada kontrol (-) tidak terdapat kematian, pada konsentrasi 5% yaitu 22% kematian dan pada konsentrasi 10% yaitu 46% kematian dan pada konsentrasi 15% yaitu 65% kematian. Dengan uji korelasi Pearson nilai Sig. 0,000<0,05 dan Koefisien korelasi Pearson sebesar 0,975 bahwa terdapat hubungan kuat antar variabel konsentrasi serbuk daun pulai dan jumlah kematian larva Aedes sp. serta semakin tinggi konsentrasi serbuk daun pulai yang diberikan maka semakin banyak larva Aedes sp. yang mati. Berdasarkan hasil uji analisis Probit menunjukkan nilai LC95 sebesar 42.165 atau 42% dan bila dikonversi dengan satuan part per million (ppm) adalah 126.000 ppm atau 12,6 g/l dan LT95 sebesar 2.301 menit atau 38 jam. Saran yang diberikan perlu dilakukan pengujian lebih lanjut terhadap produk serbuk daun pulai untuk melihat tingkat efektifitas dilapangan dan tingkat partisipasi masyarakat dalam menggunakan larvasida alami dari daun pulai. Kata Kunci : Tanaman Pulai, Larvasida Alami, Kematian Larva Aedes sp.
Co-Authors A. Mahirah Humaerah Abdul Majid H.R. Lagu Abdul Majid HR Lagu Abdul Majid HR. Lagu Alfiyah, Nilda Alim Syam Amboi, Wahyulan Andi Aryadin Andi Miftahul Jannah Andi Nur Rifa’atil Fahmiyah Arif, Zumiati Asis, Muh. Abdul Aswadi Aswadi Azriful Azriful Azriful Azriful, Azriful Bs. Titi Haerana Dian Rezki Wijaya Dwi Santy Damayati, Dwi Santy Eko Ardiansyah Emmi Bujawati Erniwati Ibrahim Evi Aprianti Radjiman Faradillah Azzahrah Fatmawaty Mallapiang Fira Fitranillah Firdah Firdah Habibi Habibi Habibi Habibi Hadriani Hadriani Hajrah Abdullah Hasbi Ibrahim Hastuti Indriani Hendra Wijaya Sumakul Indah Kurniawati Indah Lestari Irviani Anwar Ibrahim Jumadil Azhar Jumiati Jumiati Jumiati Jumiati Junita, Syamsurya Jusriani, Rini Khaerana, BS Titi La Ode Ismail Ahmad, La Ode Ismail Leonardo Sari, Avid M.Fais Satrianegara Maharani, Zaskia Mappau, Zrimurti Maqfirah Maqfirah Marsi Adi Purwadi Maruf, Irma Rachmawati Muh. Rusmin Muh. Saleh Muh. Saleh Muhammad Ikhtiar Muhammad Rusmin Muhammad Saleh Muhammad Saleh Muhammad Saleh Muhammad Saleh Muhammad Saleh Muhammad Syamsul Bachri Muhammad Zul Bashar Munawir Amansyah Munawir Amansyah Musdalifah Musdalifah Mutassirah Mutassirah Mutmainnah, Awalia Nildawati Nildawati Nirma Nirma Nur Aliah Nur Hidayat Nurdiyanah Nurdiyanah Nurdiyanah Syarifuddin Nurdiyanah Syarifuddin Nurdiyanah Syarifuddin Nurdiyanah Syarifuddin Nurdiyanah Syarifuddin Nurdiyanah Syarifuddin, Nurdiyanah Nurfadhillah Nurfadhillah Nurfadillah Sudirman Nurfadillah Tenri Ugi Nurfaika Nurfaika Nurrahmi Paizah Nurul Wahyu Septiani Putri Puspitasari Wahyuddin Rachmat Saleh Ramadhan Tosepu Ranti Ekasari, Ranti Rezki Rahmatullah Ruslan La Ane, Ruslan Sakka, Abdul Rahman Saptayuda, Agusfian Satrianegara, M. Faiz Sherli Wahyuni Siti Arnis Nurhidayah Jamal Sitti Raodhah Sukmawati, Andi Surahmawati Surahmawati Surahmawati Surahmawati Syahrul Basri Syamsul Alam Syarfaini Syarfaini Syarfaini Syarfaini Syarfaini Syarfaini Ultry Maisari Veithzal Rivai Zainal Vika Yuliandira Wahab, Wahyudi Wahyu Alfat Widya Sari