Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Chinese Aesthetics of Situational Language Variety: A Study of 李薇 Character Studies in Drama 聊聊日常 (New Life Begins) 2022 Endah Putri Dewi; Nawang Putri Nastiti; Wahyu Suryana; Maria Mintowati; Yogi Bagus Adhimas
Journal of Maobi Vol 2, No 1 (2024): Journal of Maobi
Publisher : Confucius Institute Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/maobi.v2i1.84499

Abstract

In social life, communication is needed to be able to interact with each other using various ways, one of which is by speaking using existing languages.  In language activities, there is a language phenomenon, namely the variety of languages according to the situation. Researchers decided to examine the drama 聊聊日常 (New Life Begins) (2022) because there are many data found on the variety of languages according to the situation used by the character 李薇 Lǐ Wēi. In this study, this author analyzes how the various forms of language used by 李薇 Lǐ Wēi characters according to the situation that is happening in the drama 聊聊日常 (New Life Begins) using the theory of Martin Joos (1967). Research data were obtained from various dialogues of 李薇 Lǐ Wēi characters with other characters contained in the drama 聊聊日常 (New Life Begins) with a descriptive qualitative approach. The results of the analysis showed that in episodes one to five of the drama 聊聊日常 (New Life Begins) Lǐ Wēi's character used all kinds of language according to the situation based on the level of formality according to Martin Joos (1967), namely frozen variety, official variety (formal), business variety (consultative), casual variety (casual), and familiar variety (intimate). However, it was found that Lǐ Wēi characters mostly use casual varieties.
Permaknaan Kata Makna Verba 打(dǎ) Dengan Padanannya Dalam Bahasa Indonesia Yogi Bagus Adhimas; Endah Putri Dewi; Silviana Dwi Yanti; Deng Bo Er
CHANGLUN: Chinese Language, Literature, Culture and Linguistic Vol 2 No 2 (2023): December 2023
Publisher : Program Studi D3 Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.changlun.2023.2.2.9885

Abstract

Verba 打 (dǎ) dalam bahasa Mandarin memiliki banyak variasi, karena verba 打 bisa dibentuk dari potongan kata lain sehingga membentuk kata baru. Mempelajari verba sendiri merupakan hal yang sangat penting, terutama untuk pembelajar bahasa Mandarin. bahasa Mandarin sendiri tidak memiliki abjad, maka pembelajar harus banyak mengetahui koskata dalam belajar Bahasa Mandarin. Penelitian ini akan menjelaskan makna dan struktur pembentuk 打, serta kosakata yang menggunakan kata 打 yang populer digunakan pembelajar bahasa Mandarin di Indonesia. Seperti kosakat 打开 artinya membuka pintu, sebuah aktifitas yang menggunakan tangan. Kata 打 sering dikenal sebagai verba yang berhubungan dengan tangan seperti 打开门 artinya membuka pintu, 打扫 artinya membersihkan. Kedua kosa kata 打 tersebut berhubungan dengan tangan, tetapi 打算 artinya rencana tidak berhubungan dengan pekerjaan yang menggunakan tangan sebagai alat utamanya.
Optimalisasi Penguasaan "的", "地", "得" Melalui Penerapan Media Permainan "幸运数字" Yohanna Aprillia Purwaningtyas; Jingga Phraise Adonai; Sarah Nur Atmifah Retno; Yogi Bagus Adhimas; Febi Warta Nur Ani
CHANGLUN: Chinese Language, Literature, Culture and Linguistic Vol 3 No 1 (2024): June 2024
Publisher : Program Studi D3 Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.changlun.2024.3.1.11052

Abstract

Penggunaan kata bantu struktural dalam bahasa Mandarin merupakan salah satu materi yang cukup sulit dipelajari oleh para pembelajar bahasa Mandarin. Selama kegiatan perkuliahan berlangsung, mahasiswa sering kali mengalami kesulitan dalam membedakan penggunaan 的 de, 得 de dan 地 de. Hal tersebut disebabkan oleh masih kurangnya pemanfaatan media yang dapat melibatkan mahasiswa secara aktif. Oleh karena itu diperlukan pengembangan media pembelajaran agar dapat mengoptimalkan penguasaan 的 de, 得 de dan 地 de bagi para pembelajar. Untuk melihat perbedaan antara bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia, linguistik kontrastif digunakan, dengan penekanan pada pemahaman dan penggunaan kata bantu struktural 的 de, 得 de dan 地 de. Artikel ini menyoroti perbandingan penggunaan 的 de, 得 de dan 地 de dalam bahasa Indonesia dan memberikan metode inovatif untuk meningkatkan kemampuan berbicara Mandarin dengan menggunakan media permainan 幸运数字 Xìngyùn shùzì. Hasil yang diperoleh yakni penggunaan media permainan 幸运数字 Xìngyùn shùzì dapat mendorong penguasaan mahasiswa terhadap komponen 的 de, 得 de dan 地 de. Hal tersebut berdasarkan pada survei yang diambil dari 25 responden menunjukkan bahwa 70,8% atau sebanyak 17 mahasiswa merasa bahwa media permainan 幸运数字 Xìngyùn shùzì dapat memberikan pemahaman lebih terhadap penguasaan komponen的 de , 得 de dan 地 de. Dengan demikian hal tersebut dapat menjadi solusi atas kesulitan pemahaman komponen 的 de , 得 de dan 地 de pada mahasiswa.
Teknologi Smartphone, Artificial Intelligence, Dan Kebijaksanaan Etika Dalam Pendidikan Bahasa Mandarin Yogi Bagus Adhimas; Uray Afrina; Tri Bigrit Cleveresty
CHANGLUN: Chinese Language, Literature, Culture and Linguistic Vol 3 No 1 (2024): June 2024
Publisher : Program Studi D3 Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.changlun.2024.3.1.11977

Abstract

Teknologi dari masa ke masa semakin canggih dan memberikan kemudahan pada setiap kegiatan. Rasa mudah tersebut perlu diimbangi dengan landasan etika penggunaannya. Pada beberapa fase seperti pekerja bisa jadi teknologi memang sangat diperlukan untuk efisiensi dan tujuan positif lainnya. Berbeda dengan pembelajar, kemudahan mengakses materi memang selalu membuat nyaman, tapi keahlian diri agaknya hanya bisa diraih dengan berlatih secara kerja keras. Penelitian ini menganalisis pentingnya landasan etika menghadapi tawaran kemudahan teknologi yang akan dipaparkan dengan cara interpretasi yang mendalam dan disempurnakan oleh studi kapustakaan. Hasil dari struktur berfikir tersebut adalah bahwa teknologi ada untuk membantu dan bukan menjadi sesuatu yang wajib hadir. Kemampuan-kemampuan setiap individu pembelajar bahasa mandarin harus melalui tahapan belajar menulis dengan tangan sendiri, membaca kamus buku dan cara belajar konvensional lainnya, sebelum akhirnya menjadi individu yang mahir berbahasa Mandarin.
Metafora sebagai Representasi Kehilangan dalam Lirik Lagu 周深 pada Program 《音乐缘计划2》第二季 Afrizal Kautsar Putra; Yogi Bagus Adhimas
Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan  Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober: Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/pragmatik.v4i4.2926

Abstract

This research aims to identify metaphors and explain the representation of loss in the song lyrics performed by 周深 on the program 《音乐缘计划2》第二季, namely 《地球没有你》, 《全世界下雨》, and 《告别旅行》. The research uses a qualitative descriptive method with an interpretive approach. The data consist of words, phrases, clauses, and sentences containing metaphorical expressions, collected through documentation and note-taking techniques. The analysis was conducted using Lakoff and Johnson's conceptual metaphor theory through the mapping of the source domain and target domain, and was then interpreted based on Robert A. Neimeyer's Meaning Reconstruction perspective. The research results found 67 data, consisting of 63 metaphorical data and 4 literal/contextual data. The metaphor of loss is represented through images of journeys, breathing, the exhaustion of oxygen, the collapse of footing, silence, living organisms, fireworks, and scenery. From Neimeyer's perspective, these representations demonstrate the processes of sense-making, identity reconstruction, and benefit/significance finding. Loss is not only represented as the end of a relationship and the disruption of emotional stability, but also as a process of understanding separation, reorganizing identity, and finding new meaning from an experience that has come to an end.
Establishing a Material Description Table to Optimize Mandarin Proficiency for Indonesian Learners: An Applied Contrastive Analysis Perspective Yogi Bagus Adhimas; Anas Ahmadi; Miftachul Amri; Resdianto Permata Raharjo; Dyah Tjaturrini; Boer Deng
Eralingua: Jurnal Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra Vol 8, No 1 (2024): ERALINGUA
Publisher : Makassar State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/eralingua.v8i1.60724

Abstract

Abstract. This study aims to elucidate the most contrasting differences between Mandarin and Indonesian language rules. Based on the analysis results, it is hoped that this can serve as a foundation for creating a learning media, namely a descriptive material table. The study reveals that the most contrasting rule lies in the Indonesian language auxiliary number words, which have no more than 30 auxiliary number words, whereas in Mandarin, or known as 量, there are over 200 such words. Additionally, there is a rule for constructing past tense sentences. In Indonesian, a word meaning “finished” is used to indicate the past, contrasting with Mandarin, which employs the particle “了”, which can also have different meanings according to different rules. Furthermore, there is a Numeral system rule where Indonesian simply translates numbers into letters, while Mandarin has specific and detailed rules; this clearly presents a contrasting difference. There is also a rule on reduplication, or in Mandarin termed 重叠, where the quantity of rules between the two languages is almost balanced, yet the functions of usage are vastly contrasting. Lastly, there is the rule of “离合词”, a Mandarin language rule that has no equivalent in Indonesian. The method employed is a mixed-method approach, along with a narrative elaboration model based on quantitative differences in the amount of data between Mandarin and Indonesian languages, which are then expounded upon qualitatively. The data source used is the Confucius Institute (孔子学院) recommended books: 标准教程 Standard Course HSK (Hanyu Shuping Kaoshi / Chinese Proficiency Tes) 1 - 6 下 (Part 2). Data analysis techniques include identification, classification, and presentation of the results of data analysis. The results of the research and presentation show that there is a big gap between Mandarin and Bahasa Indonesia linguistic tools, with each of the rules that bind it. Therefore, it is necessary to develop a learning media to reduce this gap.Keywords: Material description table, Applied Contrastive Analysis, Mandarin, Indonesian Learners.
WECHAT AUTO TRANSLATION: ANALISIS PENERJEMAHAN BAHASA MANDARIN DALAM INDUSTRI IMPOR Ravela Elinando Da Silva; Miftachul Amri; Yogi Bagus Adhimas
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.16026

Abstract

The growth of globalization and cross-border business communication has increased the use of automatic translation, including the auto-translation feature in the WeChat application. However, automatic translation in business communication involving specialized terminology may produce inaccurate meanings due to limitations in understanding context and domain-specific knowledge. This study aims to analyze the translation techniques used by WeChat’s auto translation feature in Mandarin-to-Indonesian fruit import business communication and to compare its output with human translation. This study employed a qualitative approach with a case study design involving ten conversation samples between Indonesian importers and Chinese suppliers. The data were analyzed based on a classification of translation techniques. The results show that literal translation was found in 9 samples (90%), borrowing in 8 samples (80%), reduction in 8 samples (80%), and established equivalence in 6 samples (60%). Literal translation and borrowing tended to preserve the form of the source language, but they could produce unnatural or inaccurate translations when applied to fruit variety names, logistics terminology, and expressions requiring contextual understanding. Techniques that require adjustments in perspective, structure, and context, such as modulation, transposition, and adaptation, were also not always applied effectively by the system. Within the context of fruit import business communication through WeChat analyzed in this study, automatic translation still requires human editing and adjustment to improve meaning accuracy, readability, and the appropriateness of domain-specific terminology. ABSTRAK Perkembangan globalisasi dan komunikasi bisnis lintas negara meningkatkan penggunaan penerjemahan otomatis, termasuk fitur auto translation pada aplikasi WeChat. Namun, penerjemahan otomatis dalam komunikasi bisnis yang mengandung terminologi khusus berpotensi menghasilkan ketidaktepatan makna karena keterbatasannya dalam memahami konteks dan pengetahuan domain. Penelitian ini bertujuan menganalisis teknik penerjemahan yang digunakan oleh fitur auto translation WeChat dalam komunikasi bisnis impor buah dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia serta membandingkan hasilnya dengan penerjemahan manusia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus terhadap sepuluh sampel percakapan antara importir Indonesia dan pemasok Tiongkok. Data dianalisis berdasarkan klasifikasi teknik penerjemahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa teknik penerjemahan literal ditemukan pada 9 sampel (90%), peminjaman (borrowing) pada 8 sampel (80%), reduksi pada 8 sampel (80%), dan kesepadanan lazim pada 6 sampel (60%). Penerjemahan literal dan peminjaman cenderung mempertahankan bentuk bahasa sumber, tetapi dapat menghasilkan terjemahan yang kurang alami atau tidak tepat ketika diterapkan pada nama varietas buah, istilah logistik, dan ungkapan yang membutuhkan pemahaman kontekstual. Teknik yang memerlukan penyesuaian perspektif, struktur, dan konteks, seperti modulasi, transposisi, dan adaptasi, juga belum selalu diterapkan secara efektif oleh sistem. Dalam konteks komunikasi bisnis impor buah melalui WeChat yang dianalisis, hasil penerjemahan otomatis masih memerlukan penyuntingan dan penyesuaian oleh penerjemah manusia untuk meningkatkan ketepatan makna, keterbacaan, dan kesesuaian terminologi bidang.