Claim Missing Document
Check
Articles

ENKULTURASI TARI MELAYU DI SANGGAR BUDAYA ACEH NUSANTARA (BUANA) KOTA BANDA ACEH Rahmina, Ayu; Ismawan, Ismawan; Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 4 (2021): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i4.22583

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Enkulturasi tari melayu di sanggar Budaya Aceh Nusantara kota Banda Aceh. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah proses enkulturasi tari melayu di sanggar Budaya Aceh Nusantara (Buana) kota Banda Aceh. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses enkulturasi tari melayu di sanggar Budaya Aceh Nusantara (Buana) kota Banda Aceh. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah penari dan koreografer/pendiri sanggar Budaya Aceh Nusantara. Objek dalam penelitian ini adalah tari melayu yang berjudul tari zapin pekajang. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses pembelajarannya, metode yang digunakan sebagaimana yang biasa dilakukan dalam mempelajari gerak dalam tari, dalam hal ini mengunakan hitungan di setiap langkah atau pergerakan tangan, namun pada prakteknya ada dua orang peraga tari, satu penari pria dan satu penari wanita yang dipandu oleh koreografer yang memberi intruksi. Proses ini dilakukan secara bertahap dengan lebih dahulu di praktekkan oleh peraga tari yang diarahkan oleh koreografer dan kemudian barulah mengikuti langkah demi langkah sesuai intruksinya. Dalam pengenalan tari melayu kepada anggota sanggar hampir sama sebagaimana yang di terima dari proses awal pembelajarannya, namun dalam hal ini yang dilakukan lebih kepada karakter tari-tari melayu yang ada di nusantara, seperti tari melayu yang ada di Aceh Tamiang, Deli, Riau, Palembang dan lainnya. Proses tahapan yang dilakukan untuk memudahkan peserta didik, yang dilakukan pertama kali adalah pengenalan karakter tubuh (sebagaimana proses pembelajaran awal) dan pembagian azas atau ragam gerak dalam setiap tari yang dipelajari.Kata Kunci: Enkulturasi, Tari Melayu, Zapin Pekajang
ANALISIS STILASI DALAM PROSES PEMBUATAN RANUP HIAS ACEH YANG DITINJAU DARI PRINSIP-PRINSIP DESAIN MASTURA, FADHILA; Palawi, Ari; Ismawan, Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 4 (2021): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i4.22584

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang berjudul Analisis Stilasi dalam Proses Pembuatan Ranup Hias Aceh yang ditinjau dari prinsip-prinsip desain, ini mengangkat masalah bagaimana teknik stilasi dalam proses pembuatan Ranup Hias Aceh yang ditinjau dari prinsip-prinsip desain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan stilasi dalam proses pembuatan Ranup hias Aceh mulai dari bentuk hasil stilasi Ranup hias, proses stilasi Ranup hias, alat dan bahan yang digunakan, pengolahan bahan serta penerapan prinsip-prinsip desain. Sumber data dalam penelitian ini adalah pembuat Ranup hias di Desa Keude Lapang dan di Desa Blang Me. Pendekatan yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini menggunakan jenis deskriptif. Lokasi penelitian ini dilakukan di Aceh Jeumpa (Bireuen), tepatnya di Desa Keude Lapang dan Desa Blang Me. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan pada bentuk dan teknik pembuatan Ranup hias di daerah Bireuen. Bentuk kreasi baru Ranup hias yang dihasilkan menggunakan teknik stilasi dengan metode pembentukan distorsi, deformasi dan transformasi. Bentuk-bentuk yang menjadi acuan adalah bentuk Burung Merak, Buah Nenas, Kupiyah Meuketop, Pinto Aceh dan Bungoeng Jeumpa. Pada proses pembuatannya, pembuat Ranup hias di Desa Keude Lapang dan pembuat Ranup hias di Desa Blang Me memiliki tahapan yang sama, yang membedakan adalah tingkat kreatifitas yang dimiliki oleh setiap pembuat Ranup hias. Perbedaan ini sangat berpengaruh pada hasil akhir yang dihasilkan. Sehingga setiap Ranup hias yang dihasilkan memiliki nilai estetika dan gaya artistik yang berbeda. Prinsip desain dalam teknik stilasi Ranup hias terdiri atas kesatuan, proporsi, keseimbangan, pengulangan, irama, dominan dan aksen.Kata Kunci: Stilasi, Ranup, Distorsi, Deformasi, Tranformasi.
PERKEMBANGAN TARI RATEB MEUSEUKAT TUNANG DI KABUPATEN ACEH BARAT DAYA Putri Salwa, Indah Shasqiah; Ismawan, Ismawan; Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 2 (2021): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i2.22574

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Perkembangan tari Meuseukat Tunang di Kabupaten Aceh Barat Daya adapun yang menjadi masalah pada penelitian ini adalah bagaimana perkembangan bentuk penyajian tari Meuseukat Tunang di Kabupaten Aceh Barat Daya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan bentuk penyajian tari Meuseukat Tunang di Kabupaten Aceh Barat Daya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dengan jenis penelitian deskriptif. Data yang diperoleh menggunakan teknik observasi secara langsung, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis menggunakan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Sumber data dalam penelitian ini adalah Sanggar Putri Sabawa Desa Blang Makmur Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya dan Sanggar Putri Karya Desa Lhok Puntoy Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perkembangan dalam bentuk penyajiannya. Di sanggar Putri Subawa, tari tradisional Rateb Meuseukat aktif sejak tahun 1972 dan mengalami perkembangan menjadi tari kreasi Meuseukat Tunang tahun 1996. Di sanggar Putri Karya, tari tradisional Rateb Meuseukat aktif pada tahun 1985 dan berkembang menjadi tari kreasi Meuseukat Tunang pada tahun 2000. Unsur yang mengalami perkembangan berdasarkan unsur bentuk penyajian tari yaitu adanya perubahan jumlah penari yang awalnya 12 penari dan 1 syeh berkembang menjadi penari yang beranggotakan 8, 10 bahkan bebas. Gerak pada tari tersebut mengalami perkembangan yang awalnya monoton sambil duduk, kini berubah menjadi lincah dengan adanya berdiri dan melompat. Pola Lantai yang awalnya duduk berjajar bekembang menjadi pola lantai yang bervariasi dalam berbagai bentuk dan merubah pertunjukan tari ini dalam beberapa kelompok dalam sekali penampilan. Yang terakhir yaitu unsur pendukung tari yaitu properti yang awalnya tidak ada kini ditambah dengan penggunaan Batee Ranup di akhir penampilan sedangkan tata rias dan busana tidak mengalami perkembangan.Kata kunci: Perkembangan, tari Meuseukat Tunang
STRATEGI PEMBELAJARAN EKSTRAKURIKULER PADUAN SUARA DI SMA SWASTA PANTI HARAPAN DESA LAWE DESKY KECAMATAN BABUL MAKMUR KABUPATEN ACEH TENGGARA Hutapea, Boison; Syai, Ahmad; Ismawan, Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 2 (2021): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i2.22573

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Strategi Pembelajaran Ekstrakurikuler Paduan Suara di SMA Swasta Panti Harapan Desa Lawe Desky Kecamatan Babul Makmur Kabupaten Aceh Tenggara, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Strategi Pembelajaran Ekstrakurikuler Paduan Suara di SMA Swasta Pantiharapan Lawe Desky Kecamatan Babul Makmur Kabupaten Aceh Tenggara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Strategi Pembelajaran Paduan Suara Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Seni di SMA Swasta Pantiharapan Desa Lawe Desky Kecamatan Babul Makmur Kabupaten Aceh Tenggara. Data di peroleh dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis dengan teknik analisis data model interaktif. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi data dan kecukupan referensial. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat Strategi Pembelajaran Paduan Suara Ekstrakurikuler SMA Swasta Panti Harapan Lawe Desky Kecamatan Babul Makmur Kabupaten Aceh Tenggara yang diguakan yaitu: memiliki proses pembelajaran padauan suara, perekrutan anggota paduan suara dengan menyeleksi angggota yang ingin bergabung dengan padauan suara, anggota yang antosias mengikuti latihan, memiliki tahap proses latihan seperti: pembagian suara, vocalizing, dan teknik vokal, memiliki waktu latihan yang rutin setiap minggunya.Kata Kunci: Strategi, Pembelajaran, Ekstrakurikuler, Paduan Suara
TARI PHO DALAM ADAT PERKAWINAN DI ACEH BAGIAN BARAT Edi, Muhammad; Ismawan, Ismawan; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i1.22566

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Tari Pho dalam adat perkawinan di Aceh bagian Barat, mengangkat masalah baimanakah tari Pho dalam adat perkawinan di Aceh bagian Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Tari Pho dalam adat perkawinan di Aceh bagian Barat. Sumber data dalam penelitian ini adalah Juhani selaku Ketua sanggar Cupeng Ilop Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya, Cut Asiah selaku Ketua sanggar Pocut Baren Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat dan Rohani selaku Ketua sanggar seni Cempala Kuneng Kecamatan krueng sabee Kabupaten Aceh Jaya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan secara keseluruhan terlihat pada bentuk gerak, tata busana, dan tata rias. Tari Pho ditarikan oleh wanita dan diiringi dengan syair-syair yang dilantunkan oleh seorang syahi. Penarinya berjumlah genap (8-12 orang). Tari Pho ini biasanya ditampilkan pada acara perkawinan dan khitanan dengan maksud menghibur penonton dan tuan rumah. Seorang syahi berada di samping panggung sambil melantunkan syair sesuai dengan permintaan pihak penyelenggara biasanya menggunakan syair yang bernuansa sejarah dan Islami. Tari Pho pada sanggar Cupeng Ilop, Pocut Baren, dan Cempala Kuneng ditarikan sehari sebelum hari resepsi perkawinan. Tari Pho pada setiap sanggarnya memiliki perbedaan. Tari Pho di sanggar Cupeng Ilop memiliki 8 gerakan, di sanggar Pocut Baren memiliki 9 gerakan, sedangkan di sanggar Cempala Kuneng memiliki 8 gerakan. Di sanggar Cupeng Ilop menggunakan gerak seulawet sebagai pembuka, sedangkan di sanggar Pocut Baren dan sanggar Cempala Kuneng menggunakan gerak saleum sebagai pembuka. Busana yang digunakan pada sanggar Cupeng Ilop menggunakan baju gamis dan jilbab kurung, pada sanggar Pocut Baren dan sanggar Cempala Kuneng menggunakan pakaian adat Aceh yang memiliki perbedaan pada bagian aksesoris kepala. Tata rias yang digunakan pada sanggar Cupeng Ilop menggunakan rias natural, pada sanggar Pocut Baren dan sanggar Cempala Kuneng menggunakan rias cantik. Persamaan yang terlihat disetiap sanggar ialah pada bentuk pola lantai dan bentuk panggung yang digunakan.Kata kunci: Perbedaan, Bentuk Penyajian, Tari Pho.
EKSISTENSI TARI RAPAI GELENG PADA SANGGAR BAYEUN SEUTIA DI MEULABOH KABUPATEN ACEH BARAT Nadia, Ayi Sri; Ismawan, Ismawan; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i1.22563

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Eksistensi tari Rapai Geleng pada Sanggar Bayeun Seutia di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat, mengangkat masalah bagaimana eksistensi tari rapai geleng di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan eksistensi tari rapai geleng di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Pendekatan yang digunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara, penyebaran angket/kuisoner dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi tari rapai geleng telah ada sejak tahun 2008, dimana terdapat satu sanggar yang mempertahankan tari rapai geleng sebagai tari utama pada sanggarnya yaitu sanggar Bayeun Seutia. Tari rapai geleng pada Sanggar Bayeun Seutia terlihat eksistensinya dan berkembang hingga ke tingkat nasional sampai saat ini.Tari rapai geleng ditampilkan dalam acara adat perkawinan, sunat rasul, penyambutan tamu, acara pemerintahan, acara daerah, dan lain sebagainya. Tari rapai geleng merupakan tarian etnis Aceh yang ditarikan oleh 12 orang laki-laki yang diiringin dengan tabuhan dari rapai. Tari rapai geleng masih eksis dan berkembang di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat dibuktikan dengan seringnya sanggar tersebut tampil dalam berbagai event sejak tahun 2008 sampai dengan 2019. Pada tahun 2008 tampil pada acara Pagelaran Seni dan Budaya Tanah Rencong, tahun 2009 tampil mewakili Provinsi Aceh di Istana Negara, tahun 2012 tampil pada acara pagelaran Seni Budaya Daerah Tingkat Provinsi, tahun 2014 tampil pada acara Pekan Kebudayaan Aceh Barat, tahun 2016 tampil pada Acara Jamboree Nasional di Cibubur, tahun 2018 tampil pada acara Pekan Kebudayaan Aceh-7 mewakili Kabupaten Kota, 2019 tampill pada acara Syuting Bocah Petualang Trans7 di Pesisir Pantai. Eksistensinya dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor tersebut terbagi menjadi 2 bagian yaitu, faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu dari keinginan dari Syeh Masri sendiri dan komitmen dari anggota sanggar, sedangkan faktor eksternal yaitu mencakup keluarga, masyarakat, lingkungan sosial dan pemerintah.Kata kunci: Eksistensi, Tari, Rapai Geleng.
KAJIAN KOREOGRAFI TARI PEURATEP ANEUK KARYA DINIAH DI SANGGAR LAM PEUNANGKEE KABUPATEN ACEH UTARA Dahlia, Meli; Supadmi, Tri; Ismawan, Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 6, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v6i1.22565

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul Kajian Koreografi Tari Peuratep Aneuk di Sanggar Lam Peunangkee Aceh Utara, mengangkat masalah bagaimana koreografi tari Peuratep Aneuk Karya Diniah di Sanggar Lam Peunangkee Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan koreografi tari Peuratep Aneuk Karya Diniah di Sanggar Lam Peunangkee Kabupaten Aceh Utara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah koreografi tari, pendiri Sanggar atau pelaku tari di Sanggar Lam Peunangkee Aceh Utara. Objek penelitian ini yaitu koreografi tari Peuratep Aneuk. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal yang diteliti, wawancara untuk menggali keterangan yang lebih mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan dengan cara menyelidiki benda-benda atau mengumpulkan gambar-gambar untuk membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Teknik analisis data yang dilakukan dengan reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan verifikasi data (conclusion drawing). Hasil penelitian menunjukan bahwa tari peuratep aneuk merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh Diniah, gerak dari tari Peuratep Aneuk merupakan gerak murni yang tidak mempunyai makna khusus hanya memperindah gerakan, pada awal penciptaan tari Peuratep aneuk koreografer terlebih dahulu menentukan tema dasar sebelum melakukan proses penggarapan sehingga tercipta hasil karya yang baik. Sebuah karya tari yang diciptakan harus melalui beberapa tahap yang dimulai dari tahap eksplorasi gerak adalah suatu pengalaman untuk mendapatkan rangsangan sehingga dapat memperkuat daya kreativitas, tahap improvisasi adalah tahap penemuan gerak secara kebetulan, tahap pembentukan adalah tahap terakhir dari proses koreografi. Dilihat dari gerak tari Peuratep Aneuk ini memiliki 13 ragam gerak, tari Peuratep Aneuk juga memiliki pola lantai dalam pertunjukannya, iringan musik pada tari Peuratep Aneuk sangat berperan penting sebagai musik pengiring dan penuntun gerak tariannya. Tata busana tari Peuratep Aneuk menggunakan busana Aceh sesuai dengan kewilayahan, dan tata rias tari Peuratep Aneuk adalah makeup minimalis sesuai dengan karakter keanggunan wanita Aceh.Kata Kunci: Kajian, Koreografi, Tari, Peuratep Aneuk
ANALISIS UNSUR GERAK SENI RAPAI GELENG Rahmi, Mauliza; Hartati, Tengku; Ismawan, Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 3 (2020): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i3.22553

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Analisi Unsur Gerak Seni Rapai Geleng. Penelitian ini mengangkat masalah tentang bagaimana penerapan unsur tenaga, ruang dan waktu pada gerak tari Rapai Geleng. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur tenaga, ruang dan waktu pada gerak tari Rapai Geleng. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif , subjek penelitian adalah Tari Rapai Geleng, sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah unsur gerak tari. Data diperoleh dengan teknik observasi, dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis menggunakan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Rapai Geleng terdiri dari tiga babak yaitu Saleum, Kisah dan Lani. Cenderung menggunakan tenaga yang ringan dan kuat. Ruang pada tari Rapai Geleng cenderung menggunakan level sedang dan rendah, namun ada juga yang menggukan level tinggi pada saat tangan menepuk ke atas kepala. Dan waktu dalam tari Rapai Geleng ini meliputi tempo lambat, tempo sedang, tempo cepat, tempo sedang ke lambat dan tempo sedang ke cepat, dalam hal ini biasa tempo yang cepat dapat mempengaruhi tenaga menjadi kuat.Kata kunci: Analisis, Unsur Gerak, Seni, Rapai Geleng
NILAI-NILAI PENDIDIKAN PADA SEBUKU BEGURU DALAM KONTEKS SOSIAL MASYARAKAT ETNIK GAYO Arda, Nantuhateni; Ismawan, Ismawan; Ramdiana, Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 3 (2020): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i3.22554

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Nilai-nilai Pendidikan pada Sebuku Beguru dalam Konteks Sosial Masyarakat Etnik Gayo. Mengangkat masalah tentang nilai-nilai pendidikan pada adat beguru dalam konteks sosial masyarakat etnik Gayo. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan pada adat beguru dalam konteks sosial masyarakat etnik gayo. metode penelitian ini adalah Deskriptif, dengan pendekatan Kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Teknik analisis data yaitu mereduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adat sebuku beguru merupakan salah satu dari proses upacara adat sebelum perkawinan Etnik Gayo yang dimulai dari Munginte, Mujule Emas, dan Beguru. Nilai-nilai pendidikan dan kehidupan sosial yang terkandung di dalam adat Sebuku Beguru yaitu nilai pendidikan aqidah, nilai pendidikan ibadah, dan nilai pendidikan akhlak.Kata Kunci: Sebuku Beguru, Etnik Gayo, Nilai-nilai Pendidikan.
ANALISIS STRUKTUR TARI KREASI RATOEH JAROE DI BANDA ACEH Almunadia, Almunadia; Supadmi, Tri; Ismawan, Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 3 (2020): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i3.22549

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Analisis struktur tari kreasi Ratoeh Jaroe di Banda Aceh. Mengangkat masalah bagaimana struktur gerak tari Ratoeh Jaroe dan tata hubungan gerak tari kreasi Ratoeh Jaroe di Banda Aceh. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana struktur gerak tari Ratoeh Jaroe dan mendeskripsikan tata hubungan gerak tari kreasi Ratoeh Jaroe di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah Yusri Saleh Dek Gam selaku penggerak tari Ratoeh Jaroe sedangkan objek penelitian adalah tari Ratoeh Jaroe dan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data kualitatif menggunakan reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata hubungan antar elemen dasar tari Ratoeh Jaroe yang memiliki unsur sikap dan gerak dari bagian tubuh yang terdiri dari 5 unsur sikap kepala dan 3 unsur gerak kepala, 4 unsur sikap badan dan 4 unsur gerak badan, 21 unsur sikap tangan dan 17 unsur gerak tangan, 3 unsur sikap kaki dan 6 unsur gerak kaki. Tata hubungan hierarkis gramatikal tari Ratoeh Jaroe memiliki 160 motif, 27 frase, 16 kalimat dan 3 gugus pada keseluruhan tari, dengan motif membentuk frase, frase membentuk kalimat, kalimat membentuk gugus serta gugus membentuk satu tarian yang utuh. Tata hubungan sintagmatis tari Ratoeh Jaroe memiliki hubungan seperti mata rantai yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya yang dimulai dari gugus ke 1 sampai gugus ke 3 kemudian tata hubungan paradigmatis Tari Ratoeh Jaroe terdapat pada gugus ke 2 kalimat ke 5 frase ke 9 motif ke 64-68 yang dapat ditukar pada gugus ke 2 kalimat ke 10 frase ke 19 dan motif ke 117-120.Kata kunci: Tari Kreasi Ratoeh Jaroe, Analisis, Struktur
Co-Authors Abdillah Abdillah Abdurrokhim ⠀ Ahmad Syai Ahnaf, Jemi Saputra Almunadia, Almunadia Am, Zakiati Amalia, Lula andini, amanda Arda, Nantuhateni Arifkan, Arizki Arismunandar, Reza Arrayyan, Ahyar Ashilla, Poetri Asmaul Husna Asmedy, Asmedy Aton Patonah, Aton Aulia Febrila, Ashya Bakhir , Norfarizah Mohd Cut Zuriana Dahlia, Meli Edi, Muhammad Elviana, Latifah Fadlurrahman, Al Faisal Helmi FALAH, MUHAMMAD FAZRUL Fathirma'ruf, Fathirma'ruf Fhata, Mizanul Fitri Anggriani Fitri, Aida Fitria Fitria Fitriah Fitriah hafid, mukhsin Hamdani Hamdani Hanifa, Nadila Hartawi Riskha, Hartawi Haryadi Permana Hendarmawan Hendarmawan, Hendarmawan Hilza, Widya Hulwan, Hulwan Hutapea, Boison Ildrem Syafri Indriana, Radilla Irfandi, Jalil Irvan Sophian, Irvan Iyan Haryanto, Iyan Jatiana, Cut Afrina Jatsiah, Siti Nadia Johanes Hutabarat Khoirullah, Nur Liana, Rizka Afriza Lihadi, Riva Lindawati Lindawati Maghfirah, Ridha Maghfirah, Ulen MASTURA, FADHILA Miranda, Intan Mirza Fahmi Mukti, Muhammad Ma'ruf Muslimah, Rina Mustaqilla, Syarifah Na:am, Muh Fakhrihun Nadia, Ayi Sri Nanda Natasia Nurbiyanti, Nurbiyanti Nurlaili Nurlaili Nurmuttaqin, T.Ikkin Palawi, Ari Pradifta, Alif Pramudyo, Tulus prayudi, Andi Puspita, Nelva Putri Salwa, Indah Shasqiah Rahmi, Mauliza Rahmina, Ayu Ramadian, Aldrin Ramdiana , Ramdiana Ramdiana, Ramdiana Rida Safuan Selian Safda, Deslima Safitri, Devira Samsuri Samsuri Saprana, Rifqi Dwi Siti Sarah, Siti Supadmi, Tri Supriyaddin, Supriyaddin Susana Susana Syafriruddin, Syafriruddin Syahputra, Muhammad Naufal Syamsuriana, Nur Syarif, Cut Anzar Tengku Hartati Ullya, Nailul Ulya, Raysa Hiyal Vijaya Isnaniawardhani Viliani, Devi Wahyuni, Laina Wulandari, Widyana Yohanes Tan, Yohanes Zakiyanti, Zakiyanti Zufialdi Zakaria, Zufialdi