Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS METODE HILAH DALAM PROSES FATWA DSN-MUI ELIMARTATI ELIMARTATI
JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) Vol 15, No 1 (2016)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.196 KB) | DOI: 10.31958/juris.v15i1.490

Abstract

This study focused on the implementation of hilah method within the concept of fatawa of DSN concerning with Sharia banking product agreement. The problems of the research was formulated as follows: “Does DSN determine the fatawa concerning with Sharia banking product agreement apply the concept of hilah?”  This study belonged to library research which studied documents of fatawa of DSN. The method employed was normative qualitative using content analisys using the rules of istimbat. The study began with figuring out the position of  hilah method in Islamic laws. Next, gathering and analyzing the fatawa of DSN concerning with Sharia banking product. The finding showed that the process of determination of some fatawa applied hilah method by modifying the format of fikih muamalah.  Most of the determination of fatawa of DSN used hilah methods for the goode sake consideration.
AYAT AYAT TENTANG POLIGAMI Hj Elimartati
JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) Vol 10, No 1 (2011)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.748 KB) | DOI: 10.31958/juris.v10i1.925

Abstract

Setiap pilihan, baik monogami maupun poligami, memiliki implikasi positif di samping membawa konsekuensi resiko yang negative. Karena  manusia secara fitrah mepunyai potensi positif dan negative dari kedua kecenderungan tersebut. Dalam praktek keseharian poligami lebih banyak banyak membawa resiko mudarat dari pada manfaat. Dengan demikian, poligami itu bisa menjadi sumber konflik dalam kehidupan keluarga. Dengan demikian, poligami secara empiris dapat menjadi sumber konflik terhadap orang orang yang kena dampaknya dan  dapat juga pemicu suami  berbuat bohong terhadap isteri isterinya serta anak anaknya. Islam membolehkan lelaki untuk menikahi lebih dari satu istri, karena dalamnya terdapat maslahat yang mungkin juga ada mudharat. Hal mendasar yang merupakan penekanan adalah  poligami merupakan cara alternatif bukan pilihan utama. Islam tidak mewajibkan poligami dan tidak pula menganjurkannya. Orang yang hendak melakukan poligami hendaklah memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah diletakkan oleh Islam. 
KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN WAKAF UANG DI KABUPATEN TANAH DATAR Elimartati Elimartati
JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.257 KB) | DOI: 10.31958/juris.v16i2.976

Abstract

This research analyzes the policy of local government and people of Tanah Datar Regency in exploiting its potential, opportunity, human resources and challenges in increasing money waqf empowerment. The research method used was qualitative. The techniques used in collecting empirical data in the field were interviews and documentation. The findings of the research indicate that the guidelines for implementation of waqf and can be used as a foothold in the management and empowerment of money waqf. The potential of empowerment of money waqf in Tanah Datar Regency can be enhanced by strengthening the wakaf regulation in the regions, establishment of business partners, strengthening the quality of human resources with sharia insight, and adequate financial support. Policy can be done by cooperating with various parties, such as local government, syariah financial institutions (LKS), non-governmental organizations (NGOs), companies and others.
HILAH AL-SYARI’AH SEBAGAI UPAYA DALAM MENGUJUDKAN MAQASHID SYAR’IAH Dr. Elimartati M.Ag
JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) Vol 9, No 1 (2010)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.939 KB) | DOI: 10.31958/juris.v9i1.735

Abstract

Hilal refers to special actions which are taken as the efforts in changing Islamic laws. This is done by prioritizing physical deeds of the available law by means of particular methods to arrive at desired goals. This can only be performed by those who have specific skills and cannot be detected physically. Hilal can be regarded as one of alternate solutions to make things easier as long as no intention to legalize the forbidden ones and to forbid the legal ones, no violence toward the principles of Islamic law and merely the good sake of society. 
KRITIK TERHADAP KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG KETENTUAN HARTA BERSAMA DALAM PERKAWINAN Elimartati Elimartati; Elfia Elfia
JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) Vol 19, No 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.19 KB) | DOI: 10.31958/juris.v19i2.2283

Abstract

The development and social change of the community gives impact to the regulation of the collective assets of marriage. This paper will analyse the State Act of No.1 year 1974 the 35th Article and the compilation of Islamic law (KHI) especially the Article of 1f stating about the definition of the collective asset.  This research is a normative law research.  It used qualitative approach.  Data was analysed through content analysis.  Some of the finding shows that personal property and asset becomes the collective asset caused by the marital status.  Actually this changing should be stated and witnessed by the penghulu who committed the couple at the beginning of the marriage. The purpose is to avoid illegal changing of the property or asset.  The regulation in Indonesia has not yet organized this case as well as possible.  It must be reformulated again. Colletive asset causes the changing of responsibility to a husband in giving money to live his wife.  In KHI especially in Article 80 described about the the property and asset which can be used to making a living; they are personal asset and or shared asset gathering along the marriage.
Determination of The Ujrah of Gold Paid Goods at Mandiri Sharia Bank (BSM) Batusangkar Elimartati Elimartati; Muhammad Rizky Prima Sakti; Hebby Rahmatul Utamy; Utari Aulia Rifmadani
JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) Vol 20, No 2 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.344 KB) | DOI: 10.31958/juris.v20i2.4686

Abstract

This study analyzes the cost determination for a gold pawn ujrah at the branch of Banque Syariah Mandiri Batusangkar. This type of research is field research with qualitative methods. The analysis technique is based on the Fatwa DSN and the theory advanced by Rozalinda. The research results explain that the implementation of the gold pledge at the branch of Bank Syariah Mandiri Batusangkar in accordance with the Standar Operasional Prosedur (SOP) that have been set by the Bank. The costs of administration, maintenance and storage of the pledged goods are determined according to the amount of the customer's loan, the level of fees also depends on the amount of customer loans. So this is not in line with Fatwa DSN No. 25/DSN-MUI/III/2002 regarding Rahn, in point four, stated that maintenance and storage charges should not be based on loan amount. It is also not in line with the theory advanced by Rozalinda that the administration of administrative costs is based on the weight of the gold, the cost of maintaining and storing or renting the premises according to the content of the gold.
PERSEPSI MASYARAKAT DAN PEMANFAATAN TERHADAP HARTA BERSAMA BAGI ISTRI YANG BEKERJA TINJAUAN HUKUM KELUARGA ISLAM (Studi Jorong Padang Koto Tuo Mungka Kecamatan Mungka) Farid Kristata Putra; Elimartati Elimartati
Jurnal Integrasi Ilmu Syariah (Jisrah) Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.558 KB) | DOI: 10.31958/jisrah.v1i1.2699

Abstract

Studi ini mengkaji tentang persepsi masyarakat dan pemanfaatan terhadap harta bersama bagi istri yang bekerja di Jorong Padang Koto Tuo Mungka Kecamatan Mungka ditinjau dari Hukum Keluarga Islam. Permasalahannya adalah banyaknya para istri di Jorong Padang Koto Tuo yang menjadi pencari nafkah utama. Dari permasalahan tersebut muncul pertanyaan Bagaimana Tinjauan Hukum Keluarga Islam terhadap persepsi masyarakat dan pemanfaatan terhadap harta bersama tersebut. Penulisan ini merupakan penulisan lapangan. Data/bahan diperoleh dari wawancara. Setelah data terkumpul diolah dengan cara deskriptif. Dan dianalisi dengan cara pengolahan data kualitatif yaitu penguraian atau penggambaran secara tertulis tanpa menggunakan angka-angka atau statistik. Penulisan ini menemukan hasil bahwa istri yang menjadi pencari nafkah utama itu memahami perihal harta bersama tidak bertentangan dengan yang tercantum di dalam Kompilasi Hukum Islam dan Undang-undang Perkawinan serta memanfaatan secara bersama apa yang didapatnya untuk kebutuhan keluarga sehingga apa yang dilakukan tersebut merupakan tabarru’ bagi istri. Serta harta yang diperoleh tersebut dipergunakan untuk kebutuhan keluarga terutama anak-anaknya.
IMPLEMENTASI ATURAN ADAT TENTANG HARTA SUARANG SETELAH TERJADINYA PERCERAIAN MENURUT HUKUM ISLAM (Studi Kasus di Nagari Batu Balang) Wulan Pramadanti; Elimartati Elimartati
Jurnal Integrasi Ilmu Syariah (Jisrah) Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.816 KB) | DOI: 10.31958/jisrah.v2i1.3245

Abstract

Studi ini mengkaji aturan adat tentang harta suarang setelah terjadinya perceraian menurut Hukum Islam (Studi Kasus di Nagari Batu Balang). Permasalahannya adalah bagaimana implementasi aturan adat tentang harta suarang setelah terjadinya perceraian menurut Hukum Islam di Nagari Batu Balang. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan aturan Adat dan pelaksanaan aturan Adat terhadap harta Suarang setelah terjadinya perceraian dan untuk mengetahui dan menganalisis penerepan aturan Adat terhadap harta Suarang setelah terjadi perceraian di Nagari Batu Balang menurut Hukum Islam. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif. Adapun hasil temuan penelitian adalah bahwa peraturan harta suarang ditetapkan oleh niniak mamak pada tahun 1989 kemudian pelaksanaannya sebagian masyarakat ada yang membagi sebagian tidak. Adapun yang membagi sudah sesuai dengan ketentuan Undang-undang dan KHI dan yang tidak membagi ada beberapa alasan yaitu karna hartanya sedikit, harta dikuasai oleh istri, harta berada dikediaman istri. Pelaksanaan aturan tentang Harta Suarang menurut Hukum Islam termasuk kedalam kategori ‘Urf Shahih, yaitu Adat atau kebiasaan yang berlaku disuatu tempat yang tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, maka dapat dijadikan pegangan jika terjadi tuntutan terhadap permasalahan dan perselisihan mengenai harta itu sendiri. Dalam hal ini Hukum Islam tidak melarang dan dikategorikan kepada Mubah.
IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KABUPATEN PADANG PARIAMAN NOMOR 11 TAHUN 2018 TENTANG KETENTERAMAN DAN KETERTIBAN UMUM PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAH (Studi Kasus Orgen Tunggal di Nagari Kasang) Septiana Murni; Elimartati Elimartati
JISRAH: Jurnal Integrasi Ilmu Syariah Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.524 KB) | DOI: 10.31958/jisrah.v2i1.2870

Abstract

Penelitian ini menjelaskan Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariaman Nomor 11 Tahun 2018 tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum Studi kasus Nagari Kasang.  Dalam penerapan peraturan ini, masyarakat nagari kasang masih melanggar pasal 43 dan 42 yang mengatur batas waktu penayangan orgen tunggal. Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan (field research) dan penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini menemukan bahwa, pertama faktor tidak terlaksananya Peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariman Nomor 11 Tahun 2018 tentang Ketenraman dan Ketertiban Umum terhadap batas waktu penayangan orgen tunggal di Nagari Kasang  dikarenakan kurangnya kesadaran dari masyarakat, dan kurangnya kepedulian dari masyarakat untuk menjaga kenyamanan dan ketertiban bersama. Kedua, pelanggaran Peraturan Daerah ini yang terjadi secara terus-menerus di Nagari Kasang menimbulkan dampak negatif di tengah masyarakat. Apabila terjadi penayangan orgen tunggal melewati batas waktu memiliki pengaruh yang besar terhadap tingkah laku (moral) dan juga mendorong seseorang kearah terjadinya perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma susila yang dilakukan. Ketiga, Penerapan Peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariaman Nomor 11 Tahun 2018 tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum terhadap batas waktu penayangan orgen tunggal tidaklah sesuai kosep Fiqih Siyasah Dusturiyah. Dalam pembagiannya termasuk ke dalam Siyasah Tasyri’iyah yaitu kekuasaan pemerintah Islam dalam membuat dan menetapkan hukum untuk kemaslahatan, sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Annisa’ ayat 59 perintah untuk menaati pemimpin artinya taat kepada aturan yang dibuat pemimpin atau pemerintah untuk menjaga ketentraman dan ketertiban bersama.
TRADISI MAANTA NASI PANAMBAI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (Studi Kasus di Padang Luar Nagari III Koto Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar) Amelia Putri Maisa; Elimartati Elimartati
Jurnal Integrasi Ilmu Syariah (Jisrah) Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.479 KB) | DOI: 10.31958/jisrah.v2i1.3229

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tradisi Maanta Nasi Panambai dalam prespektif hukum Islam di Padang Luar Nagari III Koto, Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan menggunakan metode kualitatif. Sumber data primer adalah hasil wawancara dengan Niniak Mamak, orang yang tidak menjalankan, dan orang yang pernah menjalankan tradisi maanta nasi panambai. Selain itu data juga diperoleh dari buku-buku adat, karya ilmiah, jurnal dan buku-buku lain yang berkaitan dengan penelitian. Adapun temuan penelitian ini adalah bahwa nasi panambai diantar sebelum akad nikah dan sebagai syarat untuk melaksanakan walimah atau baralek. Hal ini bertujuan untuk menjalin dan mempererat hubungan silaturrahmi, dan sebagai i’lan. Akibat tidak menjalankan maanta nasi panambai anak tidak memiliki bako, orang tua dan anaknya tidak bisa memakai adat. Sebagian masyarakat menganggap berat untuk melaksanakan maanta nasi panambai dikarenakan tidak ada biaya yang cukup, menikah di rantau, dan terlalu banyak syarat-syarat atau adat yang dilaksanakan setelah maanta nasi panambai. Sedangkan sanksi tidak melaksanakan maanta nasi panamabai  membayar adat kapalo ameh yaitu dengan membayar dua atau tiga katidiang padi bahkan lebih sesuai kesepakatan niniak mamak dan melaksanakan adat alek tokok lutuik. Menurut hukum Islam proses pelaksanaan adat ini termasuk kepada ‘urf shahih karena tidak bertentangan dengan nash dan memiliki mashlahat yang besar dan tidak menimbulkan mudharat yang besar.