Claim Missing Document
Check
Articles

UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) DALAM SEDIAAN OBAT KUMUR TERHADAP JAMUR Candida albicans PENYEBAB SARIAWAN Septiyanti, Anisa Eka; Retnaningsih, Agustina; Purnama, Robby Candra; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11874

Abstract

Kelor merupakan spesies family moringaceae yang sudah banyak ditanam. Kandungan Senyawa yang terdapat pada daun kelor memiliki aktivitas sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dalam sediaan obat kumur terhadap jamur Candida albicans. Penelitian dilakukan dengan cara daun kelor yang sudah dikeringkan kemudian digiling menjadi serbuk, kemudian dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak daun kelor dibuat sediaan obat kumur dengan 3 formulasi yaitu konsentrasi 6%, 8% dan 10%. Selanjutnya dilakukan uji fisik terhadap sediaan obat kumur yang meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji bobot jenis dan uji hedonik. Untuk uji aktivitas terhadap jamur Candida albicans dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada uji sifat fisik organoleptis, uji viskositas dan bobot jenis yaitu memenuhi syarat, sedangkan pada uji hedonik sediaan FI  dengan konsentrasi 6% paling banyak disukai. Untuk uji aktivitas antijamur ekstrak daun kelor dalam sediaan obat kumur dengan konsentrasi 6%, 8%, 10% menunjukan tidak adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa ekstrak daun kelor (Moringa oleiera L.) tidak menunjukan adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN SALEP EKSTRAK KULIT DURIAN (Durio zibethinus L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI SUMURAN Ningsih, Novia Sulistia; Winahyu, Diah Astika; Retnaningsih, Agustina
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.12076

Abstract

Kulit durian (Durio zibethinus L.) belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, umumnya masih hanya sebagai limbah. Kulit durian memiliki potensi sebagai antibakteri, sehingga perlu dikembangkan menjadi suatu sediaan farmasi untuk meningkatkan cara penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada sediaan salep ekstrak kulit durian (Durio zibethinus L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi sumuran. Kulit durian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 3 kali 24 jam, kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak pekat dibuat menjadi sediaan salep.  Formulasi salep ekstrak kulit durian dibuat 4 formulasi yaitu formulasi 5%, 10%, 15% dan 75%. Uji sifat fisik salep meliputi uji organoleptik, homogenitas, daya sebar, daya lekat dan pH. Kemudian salep dilakukan uji antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode sumuran. Hasil uji uji organoleptik salep menunjukkan bahwa ke 4 formulasi salep menghasilkan warna coklat, tekstur halus dan beraroma khas kulit durian. Hasil yang diperoleh pada uji sifat fisik salep telah memenuhi persyaratan salep yang baik. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa salep ekstrak kulit durian dengan formulasi 5%, 10% dan 15% tidak memiliki daya hambat dan pada formulasi 75% memiliki daya hambat rata-rata sebesar 13,30 mm dengan respon hambat pertumbuhan bakteri lemah.
EFFECTIVENESS OF THE LARVACIDE ETHANOL EXTRACT OF SOURSOP (Annona muricata L.) LEAVES AGAINST Aedes aegypti LARVA Selvi Marcellia; Tiara Inggrit Margareta; Agustina Retnaningsih
Majalah Biomorfologi Vol. 34 No. 1 (2024): MAJALAH BIOMORFOLOGI
Publisher : Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mbiom.v34i1.2024.45-51

Abstract

Highlights Dengue fever, caused by mosquitoes known as Aedes aegypti, can be avoided by applying larvicides while the insects are still in their larval stage. The extract from soursop leaves at a concentration of 3% is the most effective for Aedes aegypti larvae, resulting in 100% mortality.   Abstract Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by one of the four serotypes of dengue virus transmitted through mosquitoes, especially Aedes aegypti and Aedes albopictus. As the Aedes aegypti mosquito-borne DHF illness is still in its larval stage, it can be prevented by utilizing larvicides. A more secure and efficient method to eliminate mosquitoes is by using natural larvicides. Underutilized soursop leaves contain secondary metabolite components that can potentially be larvicides, such as annonins, saponins, flavonoids, and tannins. Objective: This study was to determine the effectiveness of soursop leaf extract as a larvicide in controlling Aedes aegypti vectors and to determine the most effective concentration of soursop leaf extract as an Aedes aegypti larvicide. Material and Method: The study was an analytic observational study utilizing a cross-sectional methodology. This study was carried out from March to May 2022. Soursop leaves were extracted using the percolation method, employing a solvent of 96% ethanol with alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. Results: The soursop leaves extract yielded in this study was as much as 131.22 grams (13.12%). The most effective concentration of soursop (Annona muricata L.) leaves was 3%, with a mortality value of 100%, not much different from the value resulting from 1% temephos. The LC50 results obtained a value of 0.163%. Conclusion: Soursop leaf extract was effective as a larvicide against Aedes aegypti mosquito larvae.
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK SEDIAAN SABUN MANDI CAIR EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) Safitri, Laila; Retnaningsih, Agustina; Winahyu, Diah Astika; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 1 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i1.14987

Abstract

Daun kelor memiliki kandungan metabolit sekunder salah satunya adalah senyawa alkaloid. Alkaloid memiliki salah satu aktivitas  antibakteri yang dapat diformulasikan menjadi sediaan sabun cair. Penelitian ini bertujuan untuk untuk membuat formulasi dalam bentuk sediaaan sabun cair ekstrak daun kelor dan mengetahui sifat fisik sabun cair dari ekstrak daun kelor. Proses pembuatan sabun mandi cair dilakukan dengan tahap awal preparasi daun kelor yang diolah menjadi serbuk lalu dilanjutkan dengan tahap maserasi menggunakan pelarut etanol 96% yang dilakukan selama 24 jam. Hasil dari proses maserasi kemudian dievaporasi untuk diambil ekstrak kental sehingga dapat digunakan untuk pembuatan sabun cair. Metode yang digunakan untuk pembuatan sabun dengan memanaskan fase minyak dan fase air dengan penambahan pengemulsi. Sabun mandi cair diformulasikan menjadi sediaan dengan empat formulasi yang berbeda, formulasi 0 (0%), formulasi 1 (5%), formulasi 2 (10%), dan formulasi 3 (15%). Sediaan sabun mandi cair dari ekstrak daun kelor yang diuji dengan menggunakan uji sifat fisik dalam penelitian ini meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, dan uji tinggi busa. Hasil pengujian ekstrak daun kelor positif mengandung alkaloid, pada uji sifat fisik sediaan sabun mandi cair ekstrak daun kelor semua formulasi dinyatakan memenuhi persyaratan pengujian organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, dan uji tinggi busa.
IDENTIFIKASI SENYAWA BIOAKTIF DARI EKSTRAK DAUN Eucalyptus pellita MENGGUNAKAN PELARUT AIR Kharisma, Gita; Retnaningsih, Agustina; Nusantari, Candra Saka; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 1 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i1.14625

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada ekstrak daun Eucalyptus pellita (E. Pellita) yang bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa flavonoid, tanin dan total fenolik. Metode yang digunakan adalah skrining fitokimia menggunakan reaksi warna dan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukan bahwa daun E. pellita positif mengandung flavonoid, tanin dan total fenolik. Ditandai dengan adanya reaksi yang terjadi pada tabung reaksi terdapat endapan berwarna merah bata dapat dikatakan positif mengandung senyawa flavonoid. kemudian dilihat dari reaksi yang terjadi pada tabung reaksi terdapat endapan putih dapat dikatakan positif mengandung senyawa tanin. Hasil dari pengukuran total fenolik dengan absorbansi pembanding asam galat diperoleh kurva linear R2 yaitu 0,9609 menunjukkan linearitas yang baik, maka persamaan regresi linear (y= 0,0116x+0036) didapatkan kadar total fenol pada daun E. pellita yaitu 83,4375 mg gallic acid equivalent/g, artinya dalam setiap gram ekstrak etanol daun E. pellita mengandung fenolik setara dengan 83,4375 mg asam galat.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) DALAM SEDIAAN OBAT KUMUR TERHADAP JAMUR Candida albicans PENYEBAB SARIAWAN Septiyanti, Anisa Eka; Retnaningsih, Agustina; Purnama, Robby Candra; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11874

Abstract

Kelor merupakan spesies family moringaceae yang sudah banyak ditanam. Kandungan Senyawa yang terdapat pada daun kelor memiliki aktivitas sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dalam sediaan obat kumur terhadap jamur Candida albicans. Penelitian dilakukan dengan cara daun kelor yang sudah dikeringkan kemudian digiling menjadi serbuk, kemudian dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak daun kelor dibuat sediaan obat kumur dengan 3 formulasi yaitu konsentrasi 6%, 8% dan 10%. Selanjutnya dilakukan uji fisik terhadap sediaan obat kumur yang meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji bobot jenis dan uji hedonik. Untuk uji aktivitas terhadap jamur Candida albicans dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada uji sifat fisik organoleptis, uji viskositas dan bobot jenis yaitu memenuhi syarat, sedangkan pada uji hedonik sediaan FI  dengan konsentrasi 6% paling banyak disukai. Untuk uji aktivitas antijamur ekstrak daun kelor dalam sediaan obat kumur dengan konsentrasi 6%, 8%, 10% menunjukan tidak adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa ekstrak daun kelor (Moringa oleiera L.) tidak menunjukan adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN SALEP EKSTRAK KULIT DURIAN (Durio zibethinus L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI SUMURAN Ningsih, Novia Sulistia; Winahyu, Diah Astika; Retnaningsih, Agustina
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.12076

Abstract

Kulit durian (Durio zibethinus L.) belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, umumnya masih hanya sebagai limbah. Kulit durian memiliki potensi sebagai antibakteri, sehingga perlu dikembangkan menjadi suatu sediaan farmasi untuk meningkatkan cara penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada sediaan salep ekstrak kulit durian (Durio zibethinus L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi sumuran. Kulit durian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 3 kali 24 jam, kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak pekat dibuat menjadi sediaan salep.  Formulasi salep ekstrak kulit durian dibuat 4 formulasi yaitu formulasi 5%, 10%, 15% dan 75%. Uji sifat fisik salep meliputi uji organoleptik, homogenitas, daya sebar, daya lekat dan pH. Kemudian salep dilakukan uji antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode sumuran. Hasil uji uji organoleptik salep menunjukkan bahwa ke 4 formulasi salep menghasilkan warna coklat, tekstur halus dan beraroma khas kulit durian. Hasil yang diperoleh pada uji sifat fisik salep telah memenuhi persyaratan salep yang baik. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa salep ekstrak kulit durian dengan formulasi 5%, 10% dan 15% tidak memiliki daya hambat dan pada formulasi 75% memiliki daya hambat rata-rata sebesar 13,30 mm dengan respon hambat pertumbuhan bakteri lemah.
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK SEDIAN LIP CREAM KOMBINASI EKSTRAK ETANOL KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) DAN SARI BUAH TOMAT (Solanum lycopersicum L.) Fatmawati, Rindi; Retnaningsih, Agustina; Sembiring, Enny Rimita
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.17785

Abstract

Kosmetik dibagi menjadi dua jenis yaitu skincare dan dekoratif. Salah satu kosmetik dekoratif yang paling terkenal yaitu pewarna bibir. Warna merupakan hal yang paling utama dalam formulasi sediaan kosmetika khususnya dalam sediaan kosmetik dekoratif. Kandungan brazilin pada secang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami serta kandungan asam glutamat dan sukrosa pada buah tomat dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kelembaban bibir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi ekstrak etanol kayu secang dan sari buah tomat dapat dijadikan pewarna alami dan pelembab bibir, serta untuk mengetahui perbedaan warna konsentrasi dari kombinasi ekstrak etanol kayu secang dan sari buah tomat. Kayu secang diekstraksi dengan menggunakan etanol 96% selama 3X24 jam, sementara buah tomat hanya diambil sari buahnya. Kemudian dilakukan skrining fitokimia pada ekstrak etanol kayu secang dan sari buah tomat. Lip cream dibuat dalam 4 formulasi dengan konsentrasi ekstrak etanol kayu secang F1 2%, F2 4%, dan F3 6%, untuk konsentrasi tomat semua formulasi menggunakan konsentasi 5%. Kemudian sediaan lip cream dilakukan uji sifat fisik dengan hasil telah memenuhi syarat, seperti uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH (F0 6,40, F1 6,34, F2 6,37, F3 6,42), uji daya sebar (F0 5,70 cm, F1 5,73 cm, F2 5,63 cm , F3 5,76 cm), uji daya oles, uji stabilitas, dan uji kesukaan. Pada uji stabilitas lip cream mengalami perubahan, lip cream stabil dan tidak mengalami perubahan setelah minggu ke-4 sampai dengan bulan ke-3. Pada uji kesukaan F2 dipilih sebagai formulasi yang paling banyak disukai panelis. 
UJI HEDONIK DAN KANDUNGAN PROTEIN COOKIES BUAH DURIAN (Durio zibenthinus L) KOMBINASI TEPUNG BIJI DURIAN Putri, Selomita Nabela; Winahyu, Diah Astika; Retnaningsih, Agustina
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.17774

Abstract

Durian memiliki kandungan senyawa seperti fibre, protein, carbohydrates,vitamin A, dan vitamin B1. Biji durian bisa dimanfaatkan sebagai tepung biji durian oleh karena itu tepung biji durian bias dijadikan cookies yang salah satunya jenis biskuit yang dibuat dari adonan lunak berkadar lemak tinggi, relatif renyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji hedonik pada cookies buah durian kombinasi tepung biji durian dengan menggunakan kandungan protein. Proses pembuatan cookies , mentega, gula halus, vanili bubuk, dicampurkan lalu dimixer, setelah itu campurkan tepung terigu,tepung biji durian, baking powder,susu bubuk, dan tepung maizena dimixer Kembali hingga rata, kemudian tambahkan telur dan daging buah durian di mixer Kembali hingga rata, adonan cookies dicetak sesuai selera lalu tambahkan chococip ,lalu adonan tersebut dipanggang sampai matang. Sediaan cookies di uji dengan uji hedonik, uji kadar air, dan uji kadar protein dengan metode kjedhal. Pada uji hedonik mendapatkan hasil yang paling disukai formulasi 3 karena memiliki rasa yang khas ke durian untuk para responden, responden yang dipakai pada uji hedonik yaitu 24 orang. Uji kadar air berpengaruh besar terhadap daya tahan bahan pangan, kadar air tersebut mendapatkan hasil rata-rata yaitu 1,65 % sampel cookies tersebut memenuhi persyaratan SNI 01-2973-1992 yaitu maksimal 5 %. Uji kadar protein dengan metode kjedhal pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap destruksi, destilasi dan tahap titrasi ,kadar protein mendapatkan hasildengan rata-rata 8,87 % protein tersebut memenuhi persyaratan SNI 01-2973- 1992 yaitu minimum 5%.
UJI EFEKTIVITAS ANTIINFLAMASI DALAM SEDIAAN SALEP LIDAH BUAYA (Aloevera L) TERHADAP KELINCI JANTAN (Oryctolagus cuniculus) Falsianingrum, Mupi; Retnaningsih, Agustina; Feladita, Niken
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i1.9915

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas salep antiinflamasi ekstrak lidah buaya (Aloevera L) terhadap kelinci jantan. Perlakuan dilakukan pada tiga kelompok kelinci, setiap kelompok terdiri dari dua ekor kelinci. Kelompok pertama diberikan sediaan salep dengan konsentrasi ekstrak 10%. Kelompok kedua diberikan sediaan salep dengan konsentrasi ekstrak 15% dan kelompok ketiga diberikan sediaan salep dengan konsentrasi ekstrak 20%. Pengolesan dilakukan satu kali sehari dan pengamatan penyembuhan radang dilakukan selama tujuh hari. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, pada sediaan salep dengan konsentrasi ekstrak 20% menunjukan efektivitas penyembuh peradangan terhadap kelinci jantan pada hari ke-4, salep dengan konsentrasi ekstrak 15% menunjukkan efektivitas penyembuh peradangan terhadap kelinci jantan pada hari ke-4 dan ke-5 untuk salep dengan konsentrasi ekstrak 5% menunjukkan efektivitas penyembuh peradangan terhadap kelinci jantan pada hari ke-6. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa sediaan salep ekstrak lidah buaya (Aloevera L) efektif dalam penyembuhan peradangan, sediaan salep yang paling efektif yaitu pada sediaan salep dengan konsentrasi ekstrak 20%.