Claim Missing Document
Check
Articles

The Relationship Between Service Quality and Outpatient Repeat Visit Interest at the Integrated Service Unit of Adi Husada Kapasari Hospital Saputra, Reinaldo Dwiki; Hermanto Wijaya; Afif Kurniawan; Yura Witsqa Firmansyah
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 3 (2025): Oktober: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v4i3.2278

Abstract

The quality of hospital services is an important factor that influences patient perception, satisfaction, and loyalty. This study aims to analyze the relationship between service quality and the interest of outpatients in revisiting the Integrated Service Unit at Adi Husada Kapasari Hospital. This quantitative cross-sectional study involved 68 respondents selected through purposive sampling from a population of 6,155 patients during the period March–June 2025. Service quality was measured using six dimensions: safe, effective, patient-centered, timely, efficient, and equitable. The interest in revisiting was measured based on the willingness of patients to return to use the services. Data analysis was performed using Spearman's rho correlation test. The results showed that all dimensions of service quality were in the good category, with the highest scores in the safe, efficient, and equitable dimensions (94.1%) and the lowest in the effective dimension (83.8%). Patient interest in return visits was very high, with 98.5% of respondents expressing interest in returning for treatment. However, the correlation test showed no significant relationship between service quality and interest in return visits (r = –0.026; p = 0.832). These findings indicate that even though service quality is high, other factors beyond service quality, such as location, cost, promotion, and third-party recommendations, are likely to have a greater influence on patients' decisions to return. Further research is recommended to explore other variables that may influence patients' interest in revisiting.
Prevalence, Risk Factors, and Impact of Bullying in Boarding School Environments: A Systematic Review Erindia, Firnanda; Firmansyah, Yura Witsqa; Orizani, Chindy Maria; Jannah, Fitriatul; Istiana, Dina; Suraya, Andi Safutra; Revani, Hilda Dea
Lontara Journal of Health Science and Technology Vol. 7 No. 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lontarariset.v7i1.641

Abstract

Bullying in boarding schools is a serious issue affecting students’ mental health, social relationships, and academic performance. Boarding schools, especially pesantren in Indonesia, present unique social and institutional contexts that may facilitate bullying. This study conducted a systematic review following PRISMA guidelines. Literature searches were performed in Scopus, ScienceDirect, PubMed, ProQuest, Web of Science, and Google Scholar for studies published between 2020 and 2025. Eligible articles focused on bullying in boarding schools and reported data on prevalence, risk factors, or impacts. Data were synthesized narratively. Bullying is common in boarding schools, including physical, verbal, and relational forms. Key risk factors include low self-esteem, limited resilience, negative parenting styles, unsafe school environments, and peer hierarchies. Bullying was associated with psychological distress, anxiety, depression, peer conflicts, reduced school engagement, and lower academic performance. Prevalence and severity varied across cultural and institutional contexts. Bullying in boarding schools is multifactorial, involving individual, familial, and school-level contributors. Unsafe climates and poor supervision intensify risks, while negative consequences extend beyond immediate harm to long-term mental health, social adjustment, and academic outcomes.
Demonstrasi pembuatan emulgel peppermint sebagai antinyamuk dalam pencegahan demam berdarah dengue di SMK Kartini Bhakti Mandiri Naomi Dwi Cahyanti; Yura Witsqa Firmansyah; Inez Angelia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27564

Abstract

AbstrakDemam Berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang banyak berkembang di daerah tropis terutama pada awal musim penghujan dan menjadi permasalahan kesehatan yang serius karena dapat mengakibatkan kematian. Vektor pembawa dari penyakit DBD adalah nyamuk yaitu Aedes aegypti. Repelen merupakan zat yang dapat membuat serangga tidak tertarik terhadap manusia, sehingga dapat mengurangi kontak antara vektor nyamuk pembawa penyakit dengan manusia. Minyak peppermint merupakan salah satu minyak atsiri yang tidak disukai aromanya oleh nyamuk, sehingga dapat dikembangkan menjadi produk farmasi yang komersial repelen. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan siswa terkait proses pembuatan emulgel peppermint sebagai antinyamuk. Metode yang digunakan pada kegiatan tersebut adalah demonstrasi pembuatan emulgel antinyamuk minyak peppermint dan pembuatan produk emulgel yang dipraktikkan langsung oleh 28 peserta pelatihan yang berasal dari siswa/i SMK Kartini Bhakti Mandiri. Keberhasilan dari kegiatan tersebut diketahui dengan mengukur tingkat pemahaman peserta melalui pengukuran pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Nilai rata-rata pengetahuan siswa sebelum dilakukan intervensi adalah 70 dan setelahnya menjadi 90. Kegiatan ini telah terbukti dalam peningkatan pengetahuan siswa dalm praktik pembuatan emulgel antinyamuk. kata kunci: emulgel; demam berdarah dengue; peppermint AbstractDengue fever is one of the most common diseases in the tropics, especially at the beginning of the rainy season, and is a serious health problem because it can cause death. The vector of DHF is the mosquito, Aedes aegypti. Repellents are substances that can make insects uninterested in humans, thus reducing contact between disease-carrying mosquito vectors and humans. peppermint oil is one of the essential oils whose aroma is disliked by mosquitoes so it can be developed into a commercial repellent pharmaceutical product. The purpose of this activity is to increase students' knowledge related to the process of making peppermint emulgel as mosquito repellent. The method used in the activity was a demonstration of making peppermint oil anti-mosquito emulgel and making emulgel products which were practiced directly by 28 trainees from students of SMK Kartini Bhakti Mandiri. The activity's success was known by measuring the level of understanding of the participants through the measurement of knowledge before and after the intervention. The average score of students' knowledge before the intervention was 70 and afterward became 90. This activity has been proven to increase student's knowledge in the practice of making anti-mosquito emulgel. Keywords: emulgel; dengue fever; peppermint
Inventarisasi penyakit pada warga di sekitar SMA Santa Maria 2 Bandung berbasis praktik kolaborasi interprofesional Susanti Niman; Yovita Mercya; Tina Shinta Parulian; Lanang Eko Sampurno; Florentina Dian Maharina; Yovita Tri Katarina; Friska Sinaga; Yura Witsqa Firmansyah; Decky Gunawan; July Ivone; Wenny Wati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.22026

Abstract

AbstrakPemeriksaan kesehatan dalam upaya preventif merupakan hal utama untuk dilakukan pada masyarakat. Permasalahan yang terjadi pada mitra (SMA Santa Maria 2 dan Kecamatan Kiaracondong) adalah belum adanya praktik kolaborasi interprofesional dalam menginventerisasi penyakit pada warga. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan menginventarisasi penyakit pada warga di sekitar SMA Santa Maria 2 Bandung berbasis praktik kolaborasi interprofesional. Metode pemberdayaan dilakukan menggunakan demonstrasi. Pelayanan kesehatan diikuti 86 warga masyarakat di wilayah sekitar SMA Santa Maria 2 Bandung pada Sabtu, 2 September 2023. Praktik kolaborasi interprofesional dilakukan oleh profesi dengan latar belakang keilmuan keperawatan, farmasi, rekam medis dan kedokteran. Hasil kegiatan pelayanan kesehatan pada masyarakat didapatkan data demografik (rata-rata usia 49 tahun dan masyarakat berjenis kelamin perempuan 57%), tanda vital dan riwayat kesehatan, diagnosa medis dan obat (pre-hipertensi 38.4%; gula darah tidak normal 4,5%; asam urat 10%; dan kolestrol 45%). Praktik kolaborasi interprofesional berjalan dengan baik dapat terlihat dari perilaku kolaboratif berdasarkan hasil self reported tim. Penyakit terbanyak berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan adalah hipertensi. Praktik kolaborasi interprofesional dapat dilakukan melalui kegiatan pengabdian masyarakat seperti pelayanan kesehatan masyarakat. Kata kunci: asam urat; hipertensi; kolestrol; praktik kolaborasi interprofesional AbstractThe practice of interprofessional collaboration through the cooperation of health professionals can have a positive impact on health services. Effective interprofessional collaboration practices will provide safe and high-quality health care to patients. This community service activity aims to provide health services to the community through free health checks and medication based on interprofessional collaboration practices. The empowerment method was carried out using demonstrations. Health services were attended by 86 community members in the area around Santa Maria 2 Bandung High School on Saturday, September 2, 2023. Interprofessional collaboration practices are carried out by professionals with scientific backgrounds in nursing, pharmacy, medical records, and medicine. The results of health service activities in the community obtained demographic data (average age of 49 years and 57% female), vital signs and medical history, medical diagnoses, and drugs (pre-hypertension 38.4%; abnormal blood sugar 4.5%; uric acid 10%; and cholesterol 45%). The practice of interprofessional collaboration goes well can be seen from collaborative behavior based on the results of the self-reported team. The most common disease based on the results of the health examination is hypertension. Interprofessional collaboration practices can be carried out through community service activities such as community health services. Keywords: cholesterol; hypertension; the practice of interprofessional; urin acid
Peningkatan pengetahuan tentang SNOMED-CT dan ICD-10 bagi tenaga perekam medis dan informasi kesehatan Yura Witsqa Firmansyah; Adi Anggoro Parulian; Hedie Kristiawan; Bhisma Jaya Prasaja; Ruddy Johannes Mandels; Imelda Retna Weningsih
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27137

Abstract

AbstrakPenggunaan SNOMED-CT dan ICD-10 bagi tenaga perekam medis dan informasi kesehatan dalam pengkodean penyakit menjadi tantangan bagi tenaga perekam medis dan informasi Kesehatan (PMIK) menimbulkan tantangan baru. Program ini dirancang sebagai solusi atas masalah yang dihadapi oleh tenaga PMIK dalam menjalankan tugasnya. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman terkait tantangan dan manfaat penggunaan SNOMED-CT dan ICD-10 bagi tenaga perekam medis dan informasi kesehatan, serta memberikan kompetensi tambahan yang diharapkan bisa dicapai melalui kegiatan ini. Pengabdian masyarakat dilakukan melalui metode ceramah yang dilanjutkan dengan diskusi kasus. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 September 2024, di Hotel Zest Sukajadi, Kota Bandung. Kegiatan ini dihadiri oleh 280 peserta, dengan 37 peserta mengikuti secara langsung, yakni mahasiswa tingkat 3 program rekam medis dan informasi kesehatan Universitas Santo Borromeus tahun ajaran 2023/2024, serta 243 peserta mengikuti secara daring, terdiri dari tenaga perekam medis dan informasi kesehatan yang tersebar di berbagai daerah. Berdasarkan hasil pengukuran, nilai rata-rata pengetahuan sebelum kegiatan pengabdian adalah 73,35 dan meningkat menjadi 91,36 (24,55%) setelah program. Implementasi SNOMED-CT sebagai pengganti ICD-10 memerlukan berbagai pertimbangan, termasuk kesiapan sumber daya manusia, kesiapan organisasi layanan kesehatan, dan teknologi yang mendukung penerapan SNOMED-CT. Kata kunci: ICD-10; kodifikasi penyakit; perekam medis dan informasi kesehatan; SNOMED-CT. AbstractUsing SNOMED-CT and ICD-10 for medical recorders and health information workers in disease coding has created new challenges. This program is designed as a solution to the problems faced by PMIK personnel in carrying out their duties. The purpose of this community service is to increase understanding of the challenges and benefits of using SNOMED-CT and ICD-10 for medical recorders and health information workers and provide additional competencies that are expected to be achieved through this activity. The community service was conducted through a lecture method followed by a case discussion. This event was held on Saturday, September 28, 2024, at Zest Hotel Sukajadi, Bandung City. This activity was attended by 280 participants, with 37 participants participating in person, namely 3rd-year students of the medical records and health information program at Santo Borromeus University in the 2023/2024 academic year, and 243 participants participating online, consisting of medical recorders and health information workers spread across various regions. Based on the measurement results, the average knowledge score before the intervention was 73.35 and increased to 91.36 after the intervention. Implementing SNOMED-CT as a replacement for ICD-10 requires various considerations, including the readiness of human resources, the preparedness of health service organizations, and the technology that supports the implementation of SNOMED-CT. Keywords: ICD-10; disease codification; medical recorder and health information; SNOMED-CT.
Peningkatan pengetahuan tentang pencegahan demam berdarah dengue menggunakan metode diskusi di SMP PGRI 1 Padalarang Agustinus Tian; Agatha Inggid; Grasila Ana; Sintia Bella Surbakti; Yura Witsqa Firmansyah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 4 (2025): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i4.31753

Abstract

AbstrakDemam Berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti merupakan ancaman  kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, terutama di daerah tropis.Tahun 2021 tercatat 73.518 kasus DBD dengan angka kematian 705 jiwa, sementara pada tahun 2022 terjadi peningkatan kasus menjadi 131.265 kasus dengan kenaikan angka mortalitas 1.183 kasus kematian. Pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa SMP terkait pencegahan DBD. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan metode diskusi. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 10 Desember 2024 bertempat di SMP PGRI 1 Padalarang  Kota Bandung. Kegiatan ini dihadiri 29 siswa kelas 7. Kegiatan yang dilakukan meliputi pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan siswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada rata-rata nilai pengetahuan siswa terkait DBD, dengan nilai rata-rata sebelum kegiatan adalah 66,90 dan meningkat menjadi 78,28 (11,38%) setelah pengabdian dilakukan mengindikasikan keberhasilan pendekatan edukatif ini. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi pada upaya pengendalian DBD melalui edukasi kesehatan di lingkungan sekolah. Kata kunci: demam berdarah dengue; diskusi; pengabdian masyarakat. AbstractDengue Hemorrhagic Fever (DHF) caused by the dengue virus and transmitted by the Aedes aegypti mosquito is a serious public health threat in Indonesia, especially in tropical areas. In 2021, there were 73,518 dengue cases with 705 deaths, while in 2022 there was an increase in cases to 131,265 cases with an increase in mortality of 1,183 deaths. This community service is to increase the awareness and knowledge of junior high school students regarding dengue prevention. This community service activity was carried out using the discussion method. This activity was carried out on Tuesday, December 10, 2024 at SMP PGRI 1 Padalarang, Bandung City. This activity was attended by 29 7th grade students. Activities carried out include pre-test and post-test to measure the increase in student knowledge. The results of the activity showed a significant increase in the average score of students' knowledge related to DHF, with the average score before the activity was 66.90 and increased to 78.28 (11.38%) after the service was carried out, indicating the success of this educational approach. Thus, this activity contributes to efforts to control DHF through health education in the school environment Keywords: dengue hemorrhagic fever; discussion; empowerment community
Green entrepreneurship: pemberdayaan ibu-ibu PKK Nagari Matua Hilia melalui aneka olahan produk kolang-kaling berbasis zero waste Tri Kurniawati; Desnita Desnita; Fauzan Aulia; Yura Witsqa Firmansyah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.33901

Abstract

Abstrak Program Green Entrepreneurship ini bertujuan meningkatkan keterampilan teknis dan non-teknis Ibu-Ibu PKK Nagari Matua Hilia dalam mengolah kolang-kaling menjadi produk bernilai tambah berbasis zero waste. Kegiatan diikuti oleh 30 peserta dan dilaksanakan di Balai Pertemuan Nagari Matua Hilia pada Agustus 2025 menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Pelatihan mencakup pembuatan selai, mie, dan es krim kolang-kaling, pengolahan limbah menjadi eco-enzyme dan pupuk organik, penguatan branding dan kemasan, pemasaran offline dan digital, serta pengurusan izin PIRT. Hasil analisis angket menunjukkan faktor pendorong utama adalah potensi sumber daya alam yang sangat tinggi (rata-rata skor 4,56), diikuti oleh semangat gotong royong dan keterampilan panen yang baik. Faktor penghambat yang menonjol adalah keterbatasan teknologi dan inovasi (rata-rata skor 4,29), pemasaran terbatas (4,22), kelembagaan lemah (4,22), serta kendala sumber daya manusia (4,00). Program ini mampu mengatasi sebagian hambatan tersebut melalui peningkatan inovasi produk, penguatan pemasaran, dan pembentukan kelembagaan usaha bersama yang mandiri. Model ini efektif mendukung peningkatan ekonomi rumah tangga, keberlanjutan lingkungan, dan layak direplikasi di wilayah lain dengan potensi serupa. Kata kunci: green entrepreneurship; kolang-kaling; pemberdayaan masyarakat; PKK; zero waste. Abstract The Green Entrepreneurship program aimed to improve the technical and non-technical skills of the PKK women in Nagari Matua Hilia in processing sugar palm fruit (kolang-kaling) into value-added products based on a zero wasteapproach. The program involved 30 participants and was conducted at the Nagari Matua Hilia Meeting Hall in August 2025 using the Participatory Action Research (PAR) approach. The training covered the production of kolang-kaling jam, noodles, and ice cream, the processing of waste into eco-enzyme and organic fertilizer, branding and packaging development, offline and digital marketing, and the registration of home industry food permits (PIRT). The survey results showed that the main driving factor was the very high potential of natural resources (average score 4.56), followed by strong community cooperation and good harvesting skills. The most prominent inhibiting factors were limited technology and innovation (average score 4.29), limited marketing (4.22), weak institutional support (4.22), and human resource constraints (4.00). The program addressed some of these barriers by improving product innovation, strengthening marketing, and establishing an independent community business group. This model proved effective in supporting household economic improvement, promoting environmental sustainability, and was feasible to replicate in other areas with similar potential. Keywords: community empowerment; green entrepreneurship; kolang-kaling; PKK; zero waste.
Program promosi kesehatan untuk penguatan budaya K3 Di SMA Negeri 12 Makassar Bonita, Andi Ferina Herbourine; Fitriani, Fitriani; Firmansyah, Yura Witsqa
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.37727

Abstract

Abstrak Lingkungan sekolah memiliki berbagai potensi bahaya (hazard) yang dapat mengancam keselamatan dan kesehatan seluruh warga sekolah, termasuk siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Namun, pemahaman dan penerapan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di sekolah masih terbatas sehingga diperlukan upaya promotif yang efektif untuk meningkatkan budaya keselamatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kesadaran warga sekolah terhadap penerapan K3 melalui edukasi yang terstruktur. Mitra sasaran adalah SMA Negeri 12 Makassar, dengan jumlah peserta sebanyak 87 orang yang terdiri atas siswa dan tenaga pendidik. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi K3 menggunakan presentasi ilmiah, diskusi interaktif, dan sesi tanya jawab untuk mendorong keterlibatan aktif peserta. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman, serta observasi partisipatif untuk menilai respons peserta. Hasil kegiatan menunjukkan rerata pengetahuan sebelum program sebesar 75 dan setelah program menjadi 85, disertai perubahan sikap yang lebih positif terhadap penerapan prinsip keselamatan. Secara kualitatif, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan merumuskan dua rencana tindak lanjut, yaitu melakukan identifikasi potensi bahaya di lingkungan sekolah serta menyusun langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan penyakit terkait aktivitas sekolah. Kegiatan ini berkontribusi dalam memperkuat budaya K3 di sekolah dan menjadi dasar bagi program keselamatan berkelanjutan. Kata kunci: bahaya; keselamatan dan kesehatan kerja; promosi kesehatan; budaya keselamatan. Abstract The school environment contains various potential hazards that may threaten the safety and health of all school members, including students, teachers, and education personnel. However, understanding and implementation of Occupational Safety and Health (OSH) principles in schools remain limited, necessitating effective promotive efforts to strengthen a safety culture. This community service activity aims to improve the knowledge, attitudes, and awareness of school members regarding OSH application through structured educational intervention. The target partner was SMA Negeri 12 Makassar, with a total of 87 participants consisting of students and teaching staff. The program was delivered through OSH material presentations, interactive discussions, and question-and-answer sessions to encourage active participation. Evaluation was conducted using pre-test and post-test assessments to measure improvements in understanding, complemented by participatory observation to assess participants’ responses. The results showed that the average knowledge score increased from 75 before the program to 85 afterward, accompanied by more positive attitudes toward the implementation of safety principles. Qualitatively, participants demonstrated high enthusiasm and formulated two follow-up plans: (1) conducting systematic identification of potential hazards within the school environment, and (2) developing preventive measures to reduce the risk of accidents and school-related illnesses. This activity contributed to strengthening the OSH culture at the school and served as a foundation for developing sustainable safety programs. Keywords: hazard; health promotion; occupational health and safety; safety culture.
Evaluasi Fluks Penetrasi Gel Ekstrak Binahong (Anredera Scandens) Secara in Vitro Dengan Sel Difusi Franz Purwaningsih, Hesti; Manika, Yosi Maristella; Firmansyah, Yura Witsqa
Jurnal Serambi Engineering Vol. 11 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman binahong dikenal memiliki berbagai aktivitas farmakologis, termasuk antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan, yang terutama berasal dari kandungan senyawa fenol dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penetrasi gel ekstrak binahong (Anredera scandens) menggunakan metode sel difusi Franz. Pengujian dilakukan untuk menentukan nilai fluks gel ekstrak binahong sebagai dasar penilaian efektivitasnya sebagai agen terapeutik topikal. Uji menunjukkan bahwa jumlah kumulatif senyawa fenol (Q) meningkat secara progresif selama 120 menit, menandakan sifat difusi yang bersifat kumulatif. Pada tahap awal, fluks tertinggi sebesar 0,167 µg/cm²·menit dicapai pada menit ke-20, yang dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi senyawa antara fase donor dan fase reseptor. Nilai fluks pada menit ke-20, 40, 60, 80, dan 120 berturut-turut adalah 0,1670; 0,0867; 0,0087; 0,0025; 0,0234; dan 0,0043 µg/cm²·menit. Fluktuasi fluks, terutama pada menit ke-80 hingga 100, diduga disebabkan oleh redistribusi senyawa aktif dari bagian dalam gel ke permukaan. Profil fluks ini sesuai dengan teori difusi pasif, namun kestabilannya terganggu karena tidak digunakan bahan enhancer penetrasi. Temuan ini menunjukkan bahwa gel ekstrak binahong memiliki potensi sebagai sediaan topikal untuk mendukung aktivitas farmakologis tanaman, meskipun formulasi lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan kestabilan dan laju penetrasinya.
Distribution and Pattern of Dengue Fever Cases in Bandung City, 2023, Indonesia: A Spatial Analysis Approach Yohana Allyn Setyawati; Adi Anggoro Parulian; Yura Witsqa Firmansyah
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 23 No 4 (2025): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Research and Community Service Unit, Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/infokes.Vol23.Iss4.1836

Abstract

Dengue haemorrhagic fever (DHF) is a significant health concern, categorised as a neglected tropical disease that requires substantial attention due to its high Case Fatality Rate (CFR) and associated mortality, especially in outbreak situations. DHF results from the dengue virus, categorised within group B of Arthropod-Borne Viruses (Arboviruses). The Bandung City Health Office reported 5,205 cases of dengue haemorrhagic fever in 2022 consisting of 2,646 (51%) male and 2,559 (49%) female patients. This study employs spatial analysis to chart the distribution of DHF cases, allowing for an assessment of potential spatial autocorrelation of DHF within the Bandung City region. This study on autocorrelation employed a retrospective cohort research design. This study focused on the incidence rates of DHF as reported by the Bandung City Health Office, with the analysis encompassing 30 sub-districts within Bandung City. The technique employed for sampling was total sampling. The independent variable in this investigation is the occurrence of DHF. The Moran I Index was employed in the spatial analysis to examine the distribution pattern of the variable. DHF incidence in 30 sub-districts of Bandung City is clustered with a Moran index value of 0.120934 in the interval 0 ≤ I ≤ 1, indicating positive spatial autocorrelation. The p-value of 0.001585 is smaller than the α value (5%), indicating statistical significance. The spatial pattern of DHF incidence is clustered, and there is autocorrelation between sub-districts in Bandung City in 2023. The distribution of DHF cases in Bandung City in 2023 is clustered. Scientific studies in the form of spatial analyses are recommended to be conducted in DHF endemic areas on a regular basis because they can provide basic information to support effective prevention and control of DHF cases.
Co-Authors -, Hesti Purwaningsih -, Muhammad Ilyas Nur Rachman Abdul Chodir Adi Anggoro Parulian Adi Anggoro Parulian Adi Wijayanto Adicita, Yosef Afdal Hardiyanto Afdal Hardiyanto Afdal Hardiyanto Afif Kurniawan Afif Kurniawan Afif Kurniawan Agatha Inggid Agustinus Tian Ahlun Najaa Nazzun Priyono Putro Andi Safutra Suraya Andika Agus Iryanto Annisa Zolanda Anselmus Ariano Riswana Anshah Silmi Afifah Arfadina Dwi Rosalina Arumdani, Intan Sekar Ayu Amisa Fajrianti Ayu Widyawati Bayu, Kristophorus Tegep Krisna Berlian, Alifia Intan Bhisma Jaya Prasaja Bonita, Andi Ferina Herbourine Chindy Maria Orizani Chindy Maria Orizani Chindy Maria Orizani Darmawan, Jean Gabriel Egidio Darwin Darwin Decky Gunawan Desnita Desnita Desti Azhari Devin Ahnaf Rana Rizqullah Dewi, M Falah Putra Dina Istiana Dina Istiana Eileen Savage Elanda Fikri Emanuela Citra Wiranda Putri Ewutia Sanara Farida Sugiester S Farida Sugiester S Fauzan Aulia Firnanda Erindia Firnanda Erindia Firnanda Erindia Fitriani Fitriani Fitriani, Winda Syahrian Fitriatul Jannah Fitriatul Jannah Fuadi, Mirza Fathan Gabriella Alicea Gita Prajati Grasila Ana Gusman Arsyad Hani Handayani Hanung Nurany Hardiyanto, Afdal Hardjanti, Maura Harys Tri Laksana Hastin Atas Asih Hedie Kristiawan Helty Margaretha Mangei Hendrawan, Danang Henny Lestyorini Hermanto Wijaya Hermanto Wijaya Heru Zaenal Arifin Hesti Purwaningsih Hesti Purwaningsih Hilda Dea Revani Hilda Dea Revani Husna, Riyana Ike Rachmawati Imelda Retna Weningsih Immanuella, Ester Hanantika Indra Maulana Widyanto Ineswari, Audria Inez Angelia Iryanto, Andika Agus Istiana, Dina Ivan Rifael Bonardo Johannes Situmorang July Ivone Lanang Eko Sampurno Lewinsca, Maurend Yayank Linda Yanti Juliana Noya Lisdayanti Simbolon Maharina, Florentina Dian Mahendra, Pasha Dwi Manika, Yosi Maristella Maurend Yayank Lewinsca Mhd. Fauzi Muhammad Fadli R Muhammad Fadli Ramadhansyah Muslyana Muslyana Muthia Azdzikra Nanda Devina Ajjanamira Nanda Ika Vera Marliana Naomi Dwi Cahyanti Nathania Andjela Stevany Nelly Verawati Novitasari, Karina Laras Nurfadhilla, Nabilla Bilqi Onny Setiani Oryza Filial Zulkarnain Oryza Filial Zulkarnain Pareira, Elisabeth Matrona Sintia Parulian, Tina Shinta Petra Devi Damara Prasaja, Bhisma Jaya Pratama, Aziz Yulianto Purwaningsih, Hesti Rafika Rafika Rafika Ramadani Sukaningtyas Ramadani Sukaningtyas Regina Fedora Elysia Rina Budi Kristiani Rotua Ruddy Johannes Mandels Ruth C Nababan Saputra, Reinaldo Dwiki Selfia Girsang Setyadi, Michael Kevin Silvia Haniwijaya Tjokro Sinaga, Friska Sintia Bella Surbakti Siti Nur Qomariah Siti Nurhidayati Sujeni Sujeni Sukaningtyas, Ramadani Susanti Niman Susanti Niman Sutra Diyana Tiara Islamiah Zaenal Tina Shinta Parulian Tina Shinta Parulian Titis Nabila Maharani Tjokro, Silvia Haniwijaya Tri Kurniawati Tri Suwanti Utomo, Yoga Victoria, Bernadette Violletha Shefierra Wahyu Istining Rahayu Wahyu Widiyantoro Wahyu Widyantoro Wahyu Widyantoro Wenny Wati Whisnu Trie Seno Ajie Wijaya, Hermanto Windy Supri Alfian Wityadarda, Carissa Yana Afrina Yohana Allyn Setyawati Yovita Mercya Yovita Tri Katarina Yusniar Hanani Darundiati Zolanda, Annisa