Diana Wibowo
Department Of Orthodontic, University Of Lambung Mangkurat Banjarmasin, Indonesia

Published : 76 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search
Journal : Dentin

THE NEED FOR MALOCCLUSION TREATMENT AT 12-14 YEARS BASED ON IOTN-AC IN SOUTH DAHA DISTRICT Sherly Nuralisa Sinay; Diana Wibowo; Aulia Azizah
Dentin Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i1.8340

Abstract

ABSTRACTBackground: Malocclusion is a deviation that occurs in the teeth or malrelation of the dental arch that is not within the normal range. The prevalence of malocclusion in Indonesia is very high at 80%. Malocclusion cases in South Kalimantan Province with the age group of 12-14 years were 15.6%. The malocclusion index that the researcher used in this study was the Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) using the Aesthetic Component (AC). Purpose: To identify the level of need for malocclusion treatment at the age of 12-14 years based on IOTN-AC in South Daha District. Material and Methods: This study uses descriptive method with cross-sectional approach. The number of samples is 110 samples. Data analysis was carried out by using descriptive analysis. Result: The highest level of malocclusion treatment needs at the age of 12 years was score 3 by 31% and those who needed more treatment were male. The level of malocclusion treatment needs the most at the age of 13 years is score 2 by 36% and the male gender is the most in need of treatment. The level of malocclusion treatment needs the most at the age of 14 years is score 2 by 29% and the female gender is the most in need of treatment. Conclusion: The highest level of malocclusion treatment needs at the age of 12-14 years in South Daha District is score 2 (not requiring treatment) of 31% and those who need more treatment are male in South Daha District.Keywords: Adolescent, IOTN-AC, Malocclusion
GAMBARAN PROFIL JARINGAN LUNAK SECARA KLINIS DAN FOTO SEFALOMETRI PADA SUKU BANJAR Aulia Rahimah; Diana Wibowo; Ika Kusuma Wardani; Aulia Azizah; Deby Kania Tri Putri
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10744

Abstract

Latar Belakang: Salah satu penunjang akurat untuk penegakan diagnosa dalam perawatan ortodonti adalah analisis sefalometri. Analisis jaringan lunak pada wajah dapat dilakukan secara klinis dan sefalometri yang dikategorikan menjadi profil wajah cembung, cekung, dan lurus. Salah satu metode analisis sefalometri yang mampu menentukan profil wajah adalah Analisis rickets. Faktor ras dan keanekaragaman kultural sangat berpengaruh terhadap profil wajah seseorang. Tujuan: Menggambarkan profil jaringan lunak secara klinis dan foto sefalometri pada mahasiswa Suku Banjar FKG ULM. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel probability sampling menggunakan simple random sampling. Populasi adalah seluruh mahasiswa preklinik yang berasal dari Suku Banjar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat yang berjumlah 60 orang. Besar sampel minimal dihitung menggunakan rumus Deskriptif kategorik dan didapatkan hasil 39 sampel. Hasil: Analisis statistik deksriptif dari Analisis Rickett menunjukkan rerata jarak bibir atas terhadap garis estetik (Ls-E) adalah 0,34 mm dengan standar deviasi 0,25. Rerata jarak bibir bawah terhadap garis estetik (Li-E) adalah 1,66 mm dengan standar deviasi 2,63. Kesimpulan:  penelitian ini adalah secara klinik dan sefalometri menunjukkan mayoritas responden memiliki profil wajah cembung. Kata Kunci: Analisis Rickett, Profil jaringan lunak, Sefalometri, Suku Banjar.
HUBUNGAN TINGKAT KEPARAHAN KARIES TERHADAP KEJADIAN MALOKLUSI PADA ANAK SEKOLAH DASAR Natasya Nurul Izzati; Diana Wibowo; Rosihan Adhani; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Aulia Azizah
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10740

Abstract

Latar Belakang: Maloklusi masih menjadi permasalahan gigi dan mulut di Indonesia, dengan angka masalah sebesar 80%. Jenis maloklusi yang paling sering ditemui yaitu gigi berjejal. Salah satu faktor penyebab terjadinya maloklusi adalah karies gigi. Masalah karies masih menjadi perhatian di Kalimantan Selatan, dengan prevalensi sebesar 46,9%. Kejadian karies banyak dialami pada periode gigi bercampur, yang rentan terhadap masalah kesehatan gigi dan mulut. Karies yang tidak dirawat akan mempengaruhi kestabilan oklusi normal gigi-geligi sehingga terjadinya maloklusi. Keadaan tersebut dapat menyebabkan suatu keparahan pada gigi permanen jika tidak segera dilakukan perawatan. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat keparahan karies terhadap kejadian maloklusi pada siswa SDN 1 Banua Hanyar di kecamatan Pandawan kabupaten Hulu Sungai Tengah. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional serta analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Jumlah responden adalah sebanyak 39 orang. Hasil: Tingkat keparahan karies berada pada kategori sedang, dengan rata-rata DMF-T sebesar 2,7. Kejadian maloklusi berdasarkan pengukuran Occlusal Index didapatkan kategori maloklusi sedang yang perlu perawatan minor. Hasil uji korelasi Spearman didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,831 (>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keparahan karies terhadap kejadian maloklusi pada siswa SDN 1 Banua Hanyar Kecamatan Pandawan Hulu Sungai Tengah.  Kata kunci: Gigi Bercampur, Karies, Maloklusi, Occlusal Index.
GAMBARAN KEBIASAAN BURUK RONGGA MULUT DAN KEJADIAN MALOKLUSI PADA SISWA USIA 10-12 TAHUN Yasmina Aulia; Diana Wibowo; Aulia Azizah; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Nurdiana Dewi
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10742

Abstract

Latar Belakang: Maloklusi merupakan masalah gigi dan mulut tertinggi urutan ke 3 setelah karies dan penyakit periodontal. Maloklusi di usia 10-12 tahun sering terjadi karena usia tersebut sudah memasuki fase kedua dari periode gigi bercampur. Beberapa kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan maloklusi yaitu kebiasaan menghisap dan menggigit bibir, menggigit kuku, mengisap jari, bernafas melalui mulut, bruxism dan menjulurkan lidah. Indeks yang dapat digunakan pada periode gigi bercampur adalah Index Of Complexity, Outcome And Need (ICON). Tujuan: Untuk mengetahui gambaran kebiasaan buruk rongga mulut dan kejadian maloklusi pada siswa usia 10-12 tahun (Tinjauan pada siswa SDN Gambut 10 Kab. Banjar). Metode: Penelitian ini menggunakan metode desktiptif observasional dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling pada anak usia 10-12 tahun sebanyak 46 anak. Data kebiasaan buruk diperoleh melalui wawancara orang tua siswa dan pemeriksaan klinis kepada siswa, sedangkan data kejadian maloklusi diperoleh dari pengukuran indeks ICON. Hasil: Hasil penelitian ini yaitu kebiasaan buruk menggigit kuku/benda asing paling banyak ditemui sebesar 10,9%. Responden usia 10 tahun mengalami kejadian maloklusi dengan tingkat keparahan maloklusi paling banyak sebesar 43,4%. Tingkat keparahan maloklusi yang terjadi pada anak dengan memiliki kebiasaan buruk masuk dalam kategori memerlukan perawatan paling banyak 17,4% dari pada tanpa memiliki kebiasaan buruk. Kesimpulan: Keparahan maloklusi berdasarkan indeks ICON banyak ditemukan pada anak usia 10 tahun dan tingkat keparahan maloklusi lebih banyak ditemui pada anak yang memiliki kebiasaan buruk rongga mulut. Kata kunci :  ICON, Kebiasaan Buruk, Maloklusi
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DAN KARIES TERHADAP OHRQoL PADA ANAK USIA PRASEKOLAH I Made Yudha Dharmawan; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Diana Wibowo; Ika Kusuma Wardani
Dentin Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i1.12191

Abstract

Background: Children's dental and oral health problems are caused by many factors including parenting style which has a major influence on children's health and development. In Tanah Bumbu District, children aged over 3 years had a proportion of 50.74% with broken teeth, cavities and pain. Dental caries can cause disruption of children's quality of life such as sleep disturbances, eating disorders, loss of concentration in learning, infections, and other dangerous cases in children. Objective: To determine the relationship between parenting style and caries towards OHRQoL in preschool-aged children in Sungai Loban District. Method: Analytic observational study with a cross sectional approach. The sampling technique of non-probability sampling uses quota sampling. The population is all kindergartens in Sungai Loban District, namely 23 kindergartens with 918 children. The minimum sample size was calculated using the correlational analytic formula and the results obtained were 40 respondents consisting of parents and children taken from 3 kindergartens, namely Harapan Bersama Kindergarten, Taman Sari Kindergarten and Tunas Dewata Kindergarten, Sungai Loban District. Results: Most parents' parenting style has a democratic pattern; the average def-t index is 5.5 and belongs to the high category. The results of the Spearman correlation test showed that there was not a relationship between parenting style and OHRQoL (p>0.05). The results of the Spearman correlation test analysis showed that there was a relationship between caries and OHRQoL (p<0.05). Conclusion: There is a relationship between parenting style and caries to OHRQoL in preschool-aged children in Kindergarten in Sungai Loban District.Keywords: Caries,  OHRQoL, Parenting, Preschool children.
ANALISIS PERSAMAAN PERSEPSI REMAJA TENTANG KEBUTUHAN PERAWATAN ORTHODONTI TERHADAP KONDISI SEBENARNYA (Tinjauan pada Pelajar SMA/Sederajat di Banjarmasin Kawasan Non Perkotaan) Najma Nor Shalehah; Diana Wibowo; Rahmad Arifin; Aulia Azizah; Alexander Sitepu
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16561

Abstract

Background: In dental and oral health, malocclusion is an occlusal disorder that affects appearance and psychological well-being, especially among adolescents. There are two categories of contributing factors to malocclusion: general and local factors. Local factors directly impact the condition of the teeth, while general factors do not have a direct effect. Objective: Analyzing the congruence between adolescents' perceptions of orthodontic treatment needs using IKPO and their actual dental conditions measured by ICON. Methods: In this study, 175 randomly selected high school (or equivalent) students from non-urban areas of Banjarmasin were observed using a cross-sectional methodology. Results: The findings of this study indicate that the majority of participants fell into the category of requiring orthodontic treatment based on both IKPO and ICON. Cohen’s Kappa analysis showed a fair level of agreement between IKPO and ICON, with a value of 0.238. Conclusion: The conclusion of this study is that there is a fair level of agreement between adolescents’ perceptions of the need for orthodontic treatment and their actual dental conditions. ABSTRAKLatar Belakang: Pada kondisi kesehatan gigi dan mulut, maloklusi merupakan kelainan oklusi yang mempengaruhi penampilan dan kesejahteraan psikologis, terutama pada remaja. Terdapat dua kategori penyebab yang berkontribusi terhadap maloklusi, yaitu faktor umum dan faktor lokal. Faktor lokal berdampak langsung pada kondisi gigi, sedangkan faktor umum tidak berdampak langsung. Tujuan: Menganalisis persamaan persepsi remaja tentang kebutuhan perawatan orthodonti menggunakan IKPO terhadap kondisi sebenarnya menggunakan ICON. Metode: Dalam penelitian ini, 175 siswa SMA/sederajat yang dipilih secara acak di Banjarmasin kawasan non-perkotaan, diobservasi menggunakan metodologi cross-sectional. Hasil: Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta masuk dalam kategori membutuhkan perawatan orthodonti berdasarkan IKPO maupun ICON. Uji analisis Cohen’s Kappa menunjukkan adanya nilai persamaan yang masuk dalam kategori cukup antara IKPO dan ICON dengan nilai 0.238. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat tingkat persamaan yang cukup antara persepsi remaja tentang kebutuhan perawatan orthodonti terhadap kondisi gigi geligi yang sebenarnya.Kata Kunci: Maloklusi, Perawatan Orthodonti, Indeks Kebutuhan Perawatan Orthodonti, Index of Complexity, Outcome, and Need
GAMBARAN KESEIMBANGAN UKURAN GIGI DENGAN ANALISIS BOLTON PADA PELAJAR SUKU BANJAR (USIA 15-18 TAHUN) Kholish Atikah Azzam; Diana Wibowo; Alexander Sitepu; Rosihan Adhani; Yusrinie Wasiaturrahmah
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13110

Abstract

ABSTRACTBackground: South Kalimantan recorded having a high incidence of dental and oral health problems around 59.6% and malocclusion cases around 12%. The population of Banjar tribe in South Kalimantan is around 90%. Banjar’s genetic factors can influence the development of tooth size therefore influence result of normal occlusion. Bolton analysis is an index needed to determine balance of tooth size of upper and lower jaw. Objective: The aim of this research is to describe the discrepancy sizes using Bolton analysis in Banjar students (aged 15-18 years). Method: This research is an observasional descriptive study with cross-sectional approach. Results: The results showed that the average balance value for the size of the 6 anterior teeth (Anterior Ratio) was 79.51% ± 8.67. It was found that 97.6% of the samples were unbalanced with the highest frequency of jaw discrepancies in the mandible and the average value for balance size of the 12 teeth. overall (Overall Ratio) 91.32 ± 5.17, it was found that 98.8% of the sample numbers were unbalanced with the highest frequency of jaw discrepancy in the maxilla, namely 46 people (56.1%). Conclusion: The balance of tooth size in the Banjar tribe based on the anterior Bolton ratio was found to be predominantly unbalanced with the highest imbalance located in the lower jaw (mandible) and the overall Bolton ratio was found to be predominantly unbalanced with the highest imbalance located in the upper jaw (maxilla).Keywords : Tooth Size Discrepancy; Bolton Analysis; Banjar tribe  ABSTRAK Latar Belakang: Kalimantan Selatan tercatat memiliki angka kejadian permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang tinggi yaitu sekitar 59,6% dan kasus maloklusi sekitar 12%. Penduduk terbesar di Kalimantan Selatan adalah suku Banjar sekitar 90% dari populasi. Faktor genetik Suku Banjar dapat mempengaruhi perkembangan ukuran gigi sehingga dapat menentukan hasil oklusi normal. Analisis Bolton merupakan indeks yang sering digunakan dan diperlukan untuk menentukan keseimbangan ukuran gigi rahang atas dan bawah. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengambarkan keseimbangan ukuran gigi dengan analisis Bolton pada pelajar Suku Banjar (Usia 15-18 Tahun). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional Hasil: Hasil penelitian menunjukan nilai rata-rata keseimbangan ukuran 6 gigi anterior (Anterior Rasio) 79,51% ± 8,67 didapati 97,6% jumlah sampel tidak seimbang dengan frekuensi rahang yang berdeskrepansi terbanyak pada mandibula dan nilai rata-rata keseimbangan ukuran 12 gigi keseluruhan (Overall Rasio) 91,32 ± 5,17 didapati 98,8% jumlah sampel tidak seimbang dengan frekuensi rahang yang berdeskrepansi terbanyak pada maksila yaitu 46 orang (56,1%). Kesimpulan: Keseimbangan ukuran gigi pada Suku Banjar berdasarkan rasio anterior Bolton didapati mayoritas tidak seimbang dengan letak ketidakseimbangan tertinggi pada rahang bawah (mandibula) dan rasio keseluruhan Bolton didapati mayoritas tidak seimbang dengan letak ketidakseimbangan tertinggi pada rahang atas (maksila). Kata kunci :  Analisis Bolton, Keseimbangan Ukuran Gigi, Suku Banjar 
HUBUNGAN KESEIMBANGAN UKURAN GIGI GELIGI RAHANG ATAS DAN RAHANG BAWAH DENGAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI Andi Qathrah Nadia Salsabila; Diana Wibowo; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Norlaila Sarifah; Alexander Sitepu
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17740

Abstract

ABSTRACTBackground: In South Kalimantan, the prevalence of oral health problems is 56.83% among those aged 15-18 years. The prevalence of malocclusion is quite high at 12%. One of the factors causing malocclusion is the imbalance in the size of the upper and lower teeth, which can be assessed using Bolton's analysis. The severity of malocclusion varies between individuals and can be measured using ICON. Purpose: To analyze the relationship between the balance of the size of the upper and lower arch teeth and the severity of malocclusion in high school students in non-urban areas of Banjarmasin. Methods: An observational analytical study with a cross-sectional approach. A total of 175 adolescents aged 15-18 years. Bolton's analysis was used to measure the balance of the size of the upper and lower arch teeth, and the ICON index was used to assess the severity of malocclusion. Results: The results show a weak relationship and a negative value, the higher the balance of the anterior tooth size ratio, the lower the severity of the malocclusion, and the results of the correlation test show a very weak relationship and a negative value, the higher the balance of the overall tooth size ratio, the lower the severity of the malocclusion. Conclusion: The balance of tooth size, anterior tooth ratio and overall ratio based on Bolton analysis in high school students/equivalent in Banjarmasin non-urban areas is mostly unbalanced and the severity of malocclusion based on the ICON index has the highest frequency, namely in the low category.Keywords: Banjarmasin Non-Urban Areas, Bolton Analysis, High school students, ICON, Malocclusion ABSTRAKLatar Belakang: Masalah kesehatan gigi dan mulut di Kalimantan Selatan memiliki prevalensi sebesar 56,83% pada usia 15-18 tahun. Masalah maloklusi cukup tinggi sebesar 12%. Salah satu faktor penyebab maloklusi adalah ketidakseimbangan ukuran gigi atas dan bawah, yang dapat dinilai menggunakan analisis Bolton. Tingkat keparahan maloklusi bervariasi antar individu dan dapat diukur dengan menggunakan ICON. Tujuan: Menganalisis hubungan antara keseimbangan ukuran gigi lengkung atas dan bawah dengan tingkat keparahan maloklusi pada siswa SMA di wilayah non perkotaan Banjarmasin. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 175 remaja usia 15-18 tahun. Analisis Bolton digunakan untuk mengukur keseimbangan ukuran gigi lengkung atas dan bawah dan indeks ICON digunakan untuk menilai tingkat keparahan maloklusi. Hasil: Hasil uji korelasi terdapat hubungan yang lemah dan bernilai negatif, semakin tinggi keseimbangan ukuran gigi rasio anterior maka semakin rendah tingkat keparahan maloklusi, dan hasil uji korelasi terdapat hubungan yang sangat lemah dan bernilai negatif, semakin tinggi keseimbangan ukuran gigi rasio keseluruhan maka semakin rendah tingkat keparahan maloklusi. Kesimpulan: Keseimbangan ukuran gigi rasio gigi anterior dan rasio keseluruhan berdasarkan analisis Bolton pada siswa SMA/sederajat di Banjarmasin kawasan non perkotaan sebagian besar tidak seimbang dan tingkat keparahan maloklusi berdasarkan indeks ICON mempunyai frekuensi tertinggi yaitu pada kategori rendah. Kata kunci: Analisis Bolton, Banjarmasin Kawasan Non Perkotaan, ICON, Maloklusi, Pelajar SMA
EFEKTIVITAS VIDEO ANIMASI DALAM PENURUNAN NILAI INDEKS PLAK Raket Rizki Rahmaningtyas; Widodo Widodo; Galuh Dwinta Sari; Diana Wibowo; Didit Aspriyanto
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16560

Abstract

Background: Dental plaque, as a microbial biofilm, is the main causative factor for caries. The 2018 Riskesdas survey showed that the proportion of dental and oral problems reached 57.6%, with damaged, cavitated, or painful teeth accounting for 45.3%. Only 2.8% of the population practiced correct tooth-brushing behavior, resulting in poor oral hygiene and plaque accumulation. Educational methods using animated videos are needed to improve tooth-brushing techniques in a more effective and easily understandable manner. Purpose: To analyze the effectiveness of animated videos in reducing plaque index values among students aged 7–9 years at SDN Marabahan 2. Methods: This study employed a quasi-experimental method with a pretest-posttest group design. The population consisted of students at SDN Marabahan 2, and 50 respondents were selected through simple random sampling. Results: The paired t-test revealed a significant decrease in plaque index values following the animated video education intervention, with a p-value of <0,001 (p<0,05). Conclusion: Animated videos are an effective and efficient health education medium for oral health promotion programs, demonstrating significant reduction in plaque index values. Keywords:  Dental health education, animated videos, plaque index
GAMBARAN KEJADIAN MALOKLUSI BERDASARKAN KEBIASAAN BURUK PADA PELAJAR SMA DI WILAYAH NON-PERKOTAAN BANJARMASIN Saidatun Nisa; Diana Wibowo; Riky Hamdani; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Isnur Hatta
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17741

Abstract

ABSTRACT Background: Malocclusion is an abnormality in the growth and development of teeth that can be influenced by bad oral habits, such as mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, and bruxism. This condition is often not recognized by the individual, but can have a significant impact on oral function and aesthetics. Purpose: This study aims to describe the incidence of malocclusion based on the type of bad oral habits among high school students in non-urban Banjarmasin. Methods: This study is a descriptive study with a quantitative approach and a cross-sectional design. The sample consisted of 175 students selected using a simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires and oral clinical examinations, then analyzed descriptively using frequency distribution and percentages. Results: The results showed that the most common bad habit found was mouth breathing (24%), and the majority of those affected were females, while bruxism was most common in males (12.00%). The most common type of malocclusion found was protrusive (25.91%), with the highest prevalence in females. There is a tendency that certain types of bad habits can lead to certain types of malocclusion. Conclusion: Malocclusions based on bad habits are still common in non-urban areas of Banjarmasin, so there is a need for increased education regarding bad habits that can cause malocclusion. Keywords: bad habits, malocclusion, students ABSTRAKLatar Belakang: Maloklusi merupakan kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi-geligi yang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan buruk pada rongga mulut, seperti mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, dan bruxism. Kondisi ini sering tidak disadari oleh individu, namun dapat berdampak signifikan terhadap fungsi maupun estetika oral. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian maloklusi berdasarkan jenis kebiasaan buruk pada rongga mulut di kalangan pelajar SMA/sederajat di wilayah non-perkotaan Banjarmasin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Sampel terdiri atas 175 pelajar yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan klinis rongga mulut, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kebiasaan buruk yang paling banyak ditemukan adalah mouth breathing (24%) dan mayoritas yang mengalami adalah perempuan, sementara bruxism paling banyak dialami oleh laki- laki (12,00%). Jenis maloklusi yang paling sering ditemukan adalah protrusif (25,91%), dengan prevalensi tertinggi pada perempuan. Terdapat kecenderungan bahwa jenis kebiasaan buruk tertentu dapat menyebabkan jenis maloklusi tertentu. Kesimpulan: Kejadian maloklusi berdasarkan kebiasan buruk masih banyak ditemukan di wilayah non- perkotaan Banjarmasin, sehingga perlu adanya peningkatan edukasi mengenai kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan kejadian maloklusi.Kata kunci: kebiasaan buruk, maloklusi, pelajar
Co-Authors Agung Satria Wardhana Agung Satria Wardhana Ainna Dewi Iriani Akhmad Aufayed Ma’rifatullah Alexander Sitepu Andi Qathrah Nadia Salsabila Arief, Sabilal Arifin, Rahmad Aspriyanto, Didit Aulia Azizah Aulia Rahimah Bayu Indra Sukmana Cecep Hadyan Khairusy Chairunnisa Chairunnisa Chairunnisa Chairunnisa Della Alya Aaliyah Dewi Nurdiana Dewi Puspitasari Dewi Puspitasari Dilla Mayarani Dinda Chesya Dinie Muthia Iflah Dwi Kurniawan, Fajar Kusuma Dwiki Azhar Elda Rosemarwa Erine Febrianti Erwan Ridha Muzakki Eva Nor Jennah Fachriani, Fachriani Febrianti, Dinda Ayu Feroza, Nur Avia Firdaus, I Wayan Arya Krishnawan Fitriani Fitriani Hamdani, Riky Hapizah, Elvina Hatta, Isnur Herawani Herawani Hikmah Nurfajri Suala Husnul Mariah I Made Yudha Dharmawan Ichrom Nahzi, Muhammad Yanuar Iflah, Dinie Muthia Ika Kusuma Wardani Indri Indah Tari Irnamanda D.H., Irnamanda Isty Assadjadah Noormahmudah Juli Harnida Purwaningayu Khairusy, Cecep Hadyan Kholish Atikah Azzam Kusma Syafira Isnaini Larasitae G Banjang Malinda. M, Okky Melan Anisa Monatasia Sijabat Muhammad Akbar Rezalinoor Muhammad Arya Danendra Muhammad Aufar Rafif Adha Muhammad Muamar Khadafi Nada Putri Ariska Nadya Fatimah Alzahrah Najma Nor Shalehah Natasya Nurul Izzati Nelma Yulita Nolista Indah Rasyid Nor Sakinah Novarina Haryanti Novilia Pangestu Nur Annisa Islamiyati Nur Avia Feroza Nurah Tajjalia Okky Malinda. M Pangestu, Novilia Peniasi Peniasi Priska E. Siagian Rachmad Yamani Rahmad Arifin Raket Rizki Rahmaningtyas Ratu Rini Alfikri Renie Kumala Dewi Restika Hidayati Reysa Rosdayanti Rezalinoor, Muhammad Akbar Rosihan Adhani, Rosihan RR. Ella Evrita Hestiandari Sabila Maghfuroh Aqsha Syahari Saidatun Nisa Saiful Akhyar Lubis Sakinah, Nor Sandria Aprilano Sari, Galuh Dwinta Sarifah, Norlaila Setyawardhana, R. Harry Dharmawan Setyawardhana, Raden Harry Dharmawan Sherli Diana Sherly Nuralisa Sinay Sitepu, Alexander Sity Noormazidah Sri Hardianti Syada, Akbar Nazarullah Syada, Akbar Nazarullah Tara Syifa Hisanah Tri Putri, Deby Kania Utami, Juliyatin Putri Widodo Widodo Widodo Widodo Yasmina Aulia Yuni Kusumawati Yusrinie Wasiaturrahmah Z. Paramitha, Andi Irmaya Zairin Noor Helmi Zairin Noor Helmi