Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Penerapan Self Foot Massage untuk Mengatasi Perfusi Perifer Tidak Efektif Pada Tn. A dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Rumah Sakit Royal Prima Jambi Arvida Bar; Nurhayati Nurhayati; Subang Aini Nasution
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58979

Abstract

Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang sering menimbulkan komplikasi berupa gangguan sirkulasi darah perifer yang dikenal dengan perfusi perifer tidak efektif. Kondisi ini ditandai dengan kaki dingin, kesemutan, penurunan sensitivitas, serta keterlambatan pengisian kapiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan self foot massage dalam mengatasi perfusi perifer tidak efektif pada Tn. A dengan Diabetes Mellitus tipe 2 di Rumah Sakit Royal Prima Jambi. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada satu pasien selama 5 hari pada tanggal 2–6 Maret 2026. Intervensi yang diberikan adalah self foot massage selama ±30 menit sebanyak 5 kali pertemuan, dengan evaluasi menggunakan Capillary Refill Time (CRT), suhu kaki, dan keluhan subjektif pasien. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Hasil menunjukkan adanya perbaikan perfusi perifer setelah dilakukan intervensi. Pada hari pertama CRT >3 detik dengan kaki teraba dingin, kemudian pada hari kelima CRT membaik menjadi ±2 detik, kaki terasa lebih hangat, dan keluhan kesemutan berkurang. Pasien juga mampu melakukan self foot massage secara mandiri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah self foot massage dapat membantu meningkatkan perfusi perifer pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 dengan masalah perfusi perifer tidak efektif.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SELF CARE BEHAVIOUR PADA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTABARU KECAMATAN GERAGAI TANJUNG JABUNG TIMUR Sondang Selviana Silitonga; Subang Aini Nasution; Zaimah Hilal
Nightingale: Journal of Nursing Vol. 4 No. 1 (2025): Nightingale: Journal of Nursing
Publisher : Universitas Adiwangsa Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi menjadi penyakit tidak menular yang memiliki angka komplikasi dan kematian yang cukup tinggi. Kondisi tersebut diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia (Kemenkes RI, 2021). Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan self care behavior hipertensi. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi self care behavior yakni umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan lama menderita hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan self care behavior pada pasien hipertensi. Metode penelitian menggunakan uji chi-squere dengan teknik purposive sample dan uji regresi. Hasill penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin (p-value 0,412) dan tingkat pendidikan (p-value 0,319) dengan self care behavior. terdapat hubungan antara umur (p-value 0,012) dan lama menderita hipertensi (p-value 0,034) dengan self care behavior pasien penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Baru Kecamatan geragai. Hasil uji multivariate diketahui umur merupakan faktor yang paling dominan dengan self care behavior pasien penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Baru Kecamatan geragai dengan OR 0,043-0,6167.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Stroke yang mendapat Perawatan Paliatif di Wilayah Puskesmas Muara Tembesi   Pitri Eka Yoandri; Lusep Putri Ningsih; Subang Aini Nasution; Winna Kurnia Sari.AZ
Nightingale: Journal of Nursing Vol. 5 No. 2 (2026): Nightingale: Journal of Nursing
Publisher : Universitas Adiwangsa Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke merupakan penyakit tidak menular yang serius, ditandai dengan serangan akut yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat atau kecacatan seumur hidup. Dukungan keluarga akan membuat pasien stroke merasa dihargai dan diterima, sehingga dapat meningkatkan semangat dan motivasi dalam dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien stroke yang mendapat perawatan paliatif di wilayah Pukesmas Muara Tembesi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 30 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square. Nilai Asymptotic Significance (2-sided) Person Chi-Square Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Stoke yang mendapat perawatan paliatif di Wilayah Puskesmas Muara Tembesi adalah 0,0472 (lebih kecil dari alpha α = 0,05). Sebagaimana dasar pengambilan keputusan terhadap hasil ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Stroke yang mendapat perawatan paliatif di Wilayah Puskesmas Muara Tembesi. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin baik dukungan keluarga yang diberikan, maka semakin baik pula kualitas hidup pasien stroke yang menjalani perawatan paliatif.
Efektivitas Simulasi Cuci Tangan WHO Terhadap Teknik Hand Hygiene Perawat di Ruang Perina RSU Kambang Rini Rahayu; Sri Mulyati; Subang Aini Nasution
Nightingale: Journal of Nursing Vol. 5 No. 2 (2026): Nightingale: Journal of Nursing
Publisher : Universitas Adiwangsa Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Hand hygiene merupakan upaya penting dalam pencegahan infeksi nosokomial, namun teknik hand hygiene perawat masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas simulasi cuci tangan sesuai pedoman WHO dalam meningkatkan teknik hand hygiene perawat di ruang Perina RSU Kambang. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan 11 perawat sebagai informan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi video. Hasil: Menunjukkan peningkatan teknik hand hygiene yang benar dari 27.3% sebelum simulasi menjadi 90.9% setelah simulasi. Perawat menilai simulasi efektif, praktis, mudah dipahami, dan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kepatuhan dalam melakukan  hand hygiene sesuai standar WHO. Simulasi cuci tangan WHO terbukti efektif meningkatkan praktik hand hygiene perawat dan direkomendasikan sebagai program pelatihan rutin rumah sakit.
Hubungan Kesepian dengan Kualitas Hidup Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Lokan Kab. Tanjung Jabung Timur Sekiawati; Subang Aini Nasution; Sri Mulyati
Nightingale: Journal of Nursing Vol. 5 No. 2 (2026): Nightingale: Journal of Nursing
Publisher : Universitas Adiwangsa Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Loneliness is one of the psychosocial problems commonly experienced by the elderly and can have an impact on their quality of life. Elderly individuals who experience loneliness tend to have limited social interactions, which affect their physical, psychological, and social conditions. This study aimed to determine the relationship between loneliness and quality of life among the elderly in the working area of Sungai Lokan Public Health Center. Methods: This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The population in this study consisted of all elderly individuals in the working area of Sungai Lokan Public Health Center, with a total sample of 61 respondents selected using a sampling technique (as appropriate). The instruments used were the UCLA Loneliness Scale to measure loneliness and WHOQOL to measure quality of life. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. Results: The results showed that most respondents had poor quality of life (34 respondents; 55.7%) and high levels of loneliness (24 respondents; 39.3%). The bivariate analysis indicated a significant relationship between loneliness and quality of life among the elderly, with a p-value of 0.000 (p < 0.05). Conclusion:. there is a significant relationship between loneliness and quality of life among the elderly, where higher levels of loneliness are associated with poorer quality of life
Penyuluhan Tentang Kesehatan Paru di Universitas Adiwangsa Jambi Melly Miranda; Thabina Anindya Rizaldi; Subang Aini Nasution; Meki Karolina
Nightingale: Journal of Nursing Vol. 5 No. 2 (2026): Nightingale: Journal of Nursing
Publisher : Universitas Adiwangsa Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lung health is an important aspect of maintaining quality of life and human productivity. The high incidence of lung diseases influenced by risk factors such as smoking, air pollution, and limited public knowledge highlights the importance of health education as a promotive and preventive effort. This activity aimed to improve students’ knowledge and awareness regarding lung health and lung disease prevention. The method used was health education through lectures and interactive discussions involving 40 students from the Faculty of Medicine, Universitas Adiwangsa Jambi. Evaluation was conducted using pre-tests and post-tests consisting of 15 multiple-choice questions. The results demonstrated an improvement in participants’ knowledge after the educational intervention. Before the activity, 2 participants had low knowledge, 28 had moderate knowledge, and 10 had high knowledge levels. After the intervention, no participants remained in the low-knowledge category, 7 participants were in the moderate category, and 33 participants achieved high knowledge levels. These findings indicate that lung health education was effective in improving participants’ knowledge and awareness regarding the importance of maintaining lung health and preventing lung diseases. Health education can serve as a promotive and preventive strategy to support the improvement of public health.
Analysis of the Effectiveness of Medical Waste Management Policies at Health Laboratory Andri Yanti; Subang Aini Nasution; Hartono Hartono; Rapael Ginting; Sondang Selviana Silitonga; Ismail Usman
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i2.1606

Abstract

The implementation of medical waste management policies at the laboratory level still faces challenges in the form of non-compliance with operational standards, limited resources, and weak evaluative monitoring. This study aims to analyze the effectiveness of medical waste management policies at the UPTD Puskesmas in Jambi City. This study uses a case study method, with a qualitative approach, where the sampling technique used is purposive sampling. Total number of informants in this study is 20 people. Data obtained from interviews, observations, and document analysis will be analyzed thematically to identify emerging patterns, themes, and issues related to medical waste management policies. As a result of data management, there are several regulations for medical waste management at the UPTD Puskesmas in Jambi City, starting from the Law on Environmental Protection and Management, Presidential Regulations, Ministerial Regulations, and SOPs for the Puskesmas themselves. Medical waste management is carried out through several stages, starting from sorting, internal transportation, temporary storage, to external transportation and processing involving third parties. There are challenges faced in medical waste management, including untrained human resources, budget constraints, and inconsistent external transportation schedules. Based on the results of the analysis and discussion regarding the effectiveness of medical waste management policies at the UPTD Labkesda Jambi City, it can be concluded that the Regulatory and Implementation Aspects of the UPTD Labkesda Jambi City already have a strong regulatory basis, both externally and internally and Cooperation Agreements with third parties. However, there is still a gap between written policies and implementation in the field, so that the effectiveness of the policy has not reached its optimal point. The Human Resources Aspect shows that the quality and quantity of human resources are the main determinants in waste management. The Infrastructure Aspect shows that the facilities are quite adequate, but more modern and sustainable waste management is needed.
Hubungan Pengetahuan Akseptor KB dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Jangka Panjang di Desa Tanjung Mudo Kecamatan Pangkalan Jambu Subang Aini Nasution; Sondang Selviana Silitonga; Nurhayati
JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) Vol. 1 No. 1 (2022): JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)
Publisher : UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) merupakan metode kontrasepsi yang mempunyai peranan penting dalam penurunan angka fertilitas. Salah satu faktor yang mempengaruhi MKJP adalah pengetahuan akseptor, karena dapat mempengaruhi perilaku peserta KB itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan akseptor KB dengan penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang. Penelitian ini menggunakan Case Control Design. Populasi berjumlah 127 orang yang terdiri dari akseptor KB MKJP sebanyak 13 oarang dan akseptor KB MJKP sebanyak 114 orang. Sampel sebanyak 36 respnden. Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling dimana seluruh akseptor KB MKJP diambil sebagai sampel. Instrument yang digunakan adalah lembar kusioner dengan 23 pertanyaan tentang MKJP. Data di analisa dengan Uji Chi Square. Hasil penelitian 55, 6% responden mempunyai pengetahuan Cukup. 63,9% responden menggunakan akseptor KB Non MKJP. Uji statistik menggunakan SPSS didapatkan hasil P Value (0,024) < α (0,05) menunjukan hasil bahwa Ada Hubungan Pengetahuan Akseptor KB dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Jangka Panjang.
Hubungan Sosial Budaya Terhadap Pemberian ASI Ekslusif pada Ibu Menyusui di Posyandu Desa Rantau Karya, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi Tahun 2025 Sri Mardhiah; Subang Aini Nasution; Dwi Rahmawati; Eprina Intami; Marinawati Ginting
JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)
Publisher : UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ASI Eksklusif merupakan makanan terbaik untuk bayi. Global Breasfeeding scorecard di dunia menyatakan tingkat menyusui tetap lebih rendah dari target, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sosial budaya dengan pemberian ASI eksklusif. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 14 Agustus 2025 di Puskesmas Desa Rantau Karya, melibatkan 38 ibu yang memiliki anak usia 0-2 tahun sebagai sampel. Hasil uji statistik menunjukkan p=0,000, sehingga hipotesis alternatif diterima, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara faktor sosial budaya dan praktik pemberian ASI eksklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63,2% ibu memberikan ASI eksklusif, meskipun masih di bawah target nasional. Faktor sosial budaya, seperti dukungan keluarga dan norma masyarakat, terbukti berperan penting dalam keberhasilan pemberian ASI. Pengetahuan dan sikap ibu juga mempengaruhi keputusan untuk menyusui secara eksklusif
Komparatif Gejala Menopause pada Wanita Jepang dan Indonesia: Perspektif Budaya dan Penanganan Siti Nurhatifah; Lailatul Badriah; Diane Marlin; Subang Aini Nasution
JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)
Publisher : UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Masa menopause bagi seorang wanita merupakan satu fase yang akan dilalui oleh setiap wanita pada usia di atas 45 tahun, meskipun demikian pada keadaan tertentu wanita dapat mengalami menopause dini di usia kurang dari 40 tahun. Sebelum masa menopause terjadi, wanita akan mengalami masa premenopause. Pada masa ini akan terjadi perubahan, yaitu fungsi reproduksi mulai menurun, perubahan hormon, perubahan fisik, maupun perubahan psikis (Linda, 2018)). Tanda-tanda menopause berbeda-beda antara individu dan budaya. Di negara-negara maju, seperti Jepang, menopause kerap dianggap sebagai perubahan alami dalam kehidupan seorang wanita dan diterima dengan lapang dada. wanita Jepang umumnya memiliki pandangan yang lebih positif terhadap menopause. Hal ini dipengaruhi oleh pola konsumsi tradisional Jepang yang kaya akan fitoestrogen, seperti isoflavon yang terdapat dalam produk kedelai (misalnya tahu dan tempe). Fitoestrogen terbukti efektif dalam meredakan gejala vasomotor seperti hot flashes (Chen et al., 2021). Ruang lingkup penelitian ini membahas tentang “Studi komparatif gejala menopause pada wanita jepang dan indonesia : perspektif budaya dan penanganan”. Adapun jenis penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif. penelitian ini dilakukan di wilayah kerja di Panti Jompo Anzuen jepang. Dengan jumlah populasi usia 50-100 tahun yang telah mengalami menopause alami. Sampel total 20 responden 10 dari Indonesia di sekitar penduduk desa Cianjur yaitu, 10 dari Jepang di panti Azuen. Teknik penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Disimpulkan bahwa gejala menopause sudah mulai dirasakan oleh wanita premenopause meskipun dalam skala ringan dan menengah saja, namun pada sebagian besar wanita premenopause ini merasa agak terganggu terutama gejala kelelahan atau mudah lelah, mudah lupa, gangguan tidur dan gejala vasomotor seperti hot flash dan keringat malam. Keluhan atau gejala menopause kecemasan, rasa menyendiri atau kesepian dan depresi belum banyak dirasakan dan hanya dirasakan dalam skala ringan, karena gejala menopause lain juga belum dirasakan terlalu berat oleh para wanita premenopause. Kemungkinan besar apabila sudah benar-benar berhenti haid atau menopause, barulah gejala kecemasan, rasa menyendiri dan depresi tersebut akan dirasakan berat dan amat mengganggu.