Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Etika Profesi Guru dalam Pembelajaran Triscilia , Keke; Musthan, Zulkifli
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 6 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i6.3960

Abstract

Etika profesi guru merupakan landasan moral dan pedoman perilaku yang harus dimiliki pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai teladan yang menanamkan nilai-nilai etika, moral, dan karakter bagi peserta didik. Artikel ini membahas konsep etika profesi guru, peranannya dalam pembelajaran, serta tantangan penerapan dan strategi penguatan etika profesi guru dalam pembelajaran. Kajian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh kemampuan guru untuk mengintegrasikan etika profesi ke dalam praktik mengajar, sehingga tercipta suasana pembelajaran yang bermakna, adil, dan berkarakter.
Kebenaran Pandangan Filsafat : Kajian Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi dalam Pendidikan Islam Sufiani, Sufiani; Musthan, Zulkifli; Muh. Shaleh
Shautut Tarbiyah-IAIN Kendari Vol. 31 No. 2, November (2025): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pend
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/str.v31i2, November.12041

Abstract

Philosophical studies in the fields of ontology, epistemology, and axiology play a crucial role in providing a comprehensive rationale for the development of Islamic Religious Education. Ontology addresses the nature of existence and reality, which in the context of Islamic Religious Education affirms that the existence of humans and the universe originates from God as the Creator. Epistemology highlights the nature of knowledge, its sources, and the means of acquiring it, where Islamic Religious Education views revelation, reason, and experience as primary, complementary sources of truth. Meanwhile, axiology emphasizes the value and purpose of knowledge, which in Islamic Religious Education is directed toward shaping individuals who are faithful, knowledgeable, and virtuous. Through an integrative approach, philosophy provides a conceptual foundation for teachers and students in understanding and internalizing Islamic values ​​critically, rationally, and applicably. Thus, this study demonstrates that the truth of philosophical perspectives is not only relevant in the theoretical realm but also serves as a practical foundation in Islamic Religious Education, aimed at realizing a perfect human being with a balance between spiritual, intellectual, and moral dimensions.
Integrasi Pemikiran Rekonstruksionisme dalam Pendidikan Agama Islam: Analisis Kritis Systematic Literature Review Tetambe, Ahmad Ghifari; Bahri, Samsul; Musthan, Zulkifli; Shaleh, Muh.
Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/althariqah.2025.vol10(2).23780

Abstract

This article aims to analyse the integration of reconstructionist thought in Islamic Religious Education. Reconstructionism as an approach in educational philosophy views education as an important instrument in the process of social change. In the realm of contemporary Islamic education, this approach has become a strategic alternative in responding to the challenges of modernity, the crisis of values, and the need for curriculum reform. This study adopts the Systematic Literature Review (SLR) method to examine five scientific articles highlighting the application of reconstructionist thought in the context of Islamic education. The research findings indicate that reconstructionist principles play a significant role in strengthening character education, redesigning the curriculum, mainstreaming the Islamization of knowledge, and fostering social awareness among students. The results of this study provide a solid theoretical foundation for the development of a more progressive, adaptive, and contextual model of Islamic education
Aliran Progresivisme: Tokoh-Tokohnya Tujuan Pendidikan dan Pandangannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Rahim, Marwan Kurniawan; Musthan, Zulkifli; Hadisi, La
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.2267

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) di era modern menghadapi tantangan serius berupa kecenderungan pembelajaran yang normatif, dogmatis, dan berorientasi pada hafalan, sehingga kurang mampu menumbuhkan kesadaran kritis, reflektif, dan kontekstual pada peserta didik. Kondisi ini menuntut adanya pembaruan paradigma pendidikan yang tidak hanya setia pada nilai-nilai ajaran Islam, tetapi juga responsif terhadap dinamika sosial, budaya, dan perkembangan zaman. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji aliran progresivisme dalam filsafat pendidikan serta menganalisis relevansinya terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya dalam perspektif pemikiran Prof. Dr. H. Zulkifli Musthan. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research) terhadap literatur filsafat pendidikan progresivisme dan karya-karya pendidikan Islam kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa progresivisme, meskipun berasal dari tradisi pemikiran Barat, memiliki sejumlah prinsip pedagogis yang dapat disinergikan dengan nilai-nilai dasar pendidikan Islam, seperti pembelajaran berpusat pada peserta didik, belajar melalui pengalaman, kebebasan berpikir yang bertanggung jawab, serta orientasi sosial pendidikan. Dalam perspektif Zulkifli Musthan, progresivisme bukan dipahami sebagai ideologi sekuler, melainkan sebagai pendekatan metodologis yang dapat merevitalisasi pembelajaran PAI agar lebih humanis, dialogis, dan transformatif. Integrasi progresivisme dalam PAI berpotensi membentuk peserta didik yang tidak hanya saleh secara individual, tetapi juga memiliki kesadaran kritis spiritual dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, artikel ini menegaskan bahwa progresivisme merupakan peluang strategis bagi pengembangan Pendidikan Agama Islam yang relevan dengan tantangan zaman tanpa meninggalkan prinsip tauhid dan akhlak sebagai fondasi utama.
Filsafat Pendidikan Islam Kegunaan Hikmah dan Hakikat Serta Hubungannya dengan Filsafat Ilmu Puteri, Sri Marlia; Musthan, Zulkifli; Hadisi, La
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.2273

Abstract

Filsafat pendidikan Islam merupakan cabang ilmu yang berupaya mengkaji secara mendalam hakikat, tujuan, dan nilai nilai utama yang menjadi dasar proses pendidikan dalam perspektif Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara filsafat pendidikan Islam dan filsafat ilmu sebagai dua bidang pemikiran yang memiliki kesamaan visi, yakni menuntun manusia pada kebenaran dan kebijaksanaan (hikmah). Fokus utama kajian ini meliputi identifikasi hakikat, fungsi, dan nilai nilai hikmah dalam filsafat pendidikan Islam, serta bagaimana konsep tersebut relevan terhadap pengembangan filsafat ilmu di era modern. Melalui metode studi literatur, penelitian ini menelusuri berbagai pemikiran dari para ahli filsafat Islam dan ilmu pengetahuan di Indonesia dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Pendekatan studi literatur dipilih karena mampu mengintegrasikan temuan konseptual yang telah teruji dari berbagai karya ilmiah sebelumnya, sekaligus merumuskan sintesis pemikiran yang kontekstual dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Hasil kajian menunjukkan bahwa filsafat pendidikan Islam memiliki kontribusi signifikan dalam membangun paradigma keilmuan yang selaras antara rasionalitas dan spiritualitas. Nilai hikmah di dalamnya menekankan pentingnya ilmu yang bermanfaat, tindakan yang arif, serta orientasi pengetahuan menuju kemaslahatan umat. Hubungan filsafat pendidikan Islam dan filsafat ilmu terletak pada kesamaan dasar epistemologis dan aksiologis, yaitu pencarian kebenaran yang menyeluruh dan berkeadilan. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan perlunya integrasi nilai nilai Islam dan filsafat ilmu untuk mewujudkan sistem pendidikan yang ilmiah, berkarakter, dan berlandaskan kemanusiaan.
Konsepsi Islam Dalam Filsafat Pendidikan Agama Islam Sudarmin, Sudarmin; Musthan, Zulkifli; Hadis, La
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.2276

Abstract

Filsafat pendidikan Agama Islam secara umum membahas berbagai isu yang muncul di bidang pendidikan. Seperti masalah-masalah yang menyangkut rancangan kurikulum pendidikan, sasaran pendidikan, strategi pengajaran, penilaian pendidikan, hakikat pengajar, hakikat pelajar, serta hal-hal yang lain. Oleh karena itu, penting untuk dipahami pokok-pokok bahasan yang tercakup dalam filsafat pendidikan Islam. Dalam pelaksanaannya, pendidikan Islam memerlukan beragam konsep yang sesuai untuk mengarahkan kegiatan pendidikan menuju tujuan yang diharapkan. Sebaik dan sempurna apa pun suatu konsep dalam pendidikan, konsep tersebut tidak akan bermakna jika tidak didukung oleh konsep-konsep lainnya. Dengan kata lain, konsep-konsep tersebut harus saling terhubung dan berkesinambungan. Apabila implementasi suatu konsep tidak sesuai dalam praktiknya, hal itu akan mengganggu proses pembelajaran. Oleh karena itu, seluruh konsep dalam filsafat pendidikan Islam adalah persyaratan mutlak untuk melaksanakan kegiatan pendidikan Islam secara efektif.
Pandangan Filsafat Pendidikan Agama Islam Tentang Hakikat Manusia Jusran, Jusran; Musthan, Zulkifli; Hadisi, La
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.2281

Abstract

Pandangan filsafat Pendidikan Agama Islam (PAI) tentang hakikat manusia merupakan fondasi penting dalam merumuskan tujuan, arah, dan praktik pendidikan Islam. Manusia diposisikan sebagai subjek utama pendidikan yang tidak hanya memiliki dimensi biologis dan rasional, tetapi juga dimensi spiritual yang melekat pada fitrah penciptaannya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif pandangan filsafat Pendidikan Agama Islam mengenai hakikat manusia serta implikasinya terhadap konsep dan praktik pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui analisis isi terhadap sumber-sumber primer dan sekunder berupa buku dan artikel jurnal ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan historis-kritis untuk menafsirkan gagasan-gagasan filosofis tentang manusia dalam pendidikan Islam secara kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa filsafat Pendidikan Agama Islam memandang manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki potensi jasmani, akal, dan ruhani secara seimbang. Manusia memiliki kedudukan ganda, yaitu sebagai hamba Allah (‘abdullāh) dan sebagai wakil Allah di bumi (khalīfatullāh fi al-arḍ), yang mengandung tanggung jawab teologis, moral, dan sosial. Pendidikan Islam berfungsi sebagai sarana utama untuk mengaktualisasikan potensi tersebut melalui integrasi iman, ilmu, dan amal, dengan tujuan akhir membentuk insān kāmil. Selain itu, pendidik dipandang memiliki peran strategis sebagai Wāriṡat al-Anbiyā’ dan teladan akhlak dalam membimbing peserta didik secara holistik. Kajian ini menegaskan bahwa pemahaman hakikat manusia dalam filsafat Pendidikan Agama Islam menjadi landasan konseptual yang penting bagi pengembangan pendidikan Islam yang humanis, integratif, dan transformatif di era kontemporer.
Rujukan Filsafat Ilmu dalam Integrasi Agama dan Sains serta Sejarah Perkembangannya MULY, MULYATI; Musthan, Zulkifli
Jurnal Edu Aksara Vol 5 No 1 (2026): Edu Aksara: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Publisher : CV. Global Aksara Pers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64499/eduaksara.v5i1.259

Abstract

Filsafat, ilmu, dan agama merupakan tiga pilar yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun peradaban manusia. Filsafat menyediakan fondasi konseptual yang memandu arah ilmu pengetahuan, sementara sains berperan sebagai manifestasi empiris dari refleksi filosofis. Agama, khususnya dalam tradisi Islam, memberikan nilai etis dan spiritual yang menjaga ilmu agar tidak kehilangan arah. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana filsafat berperan dalam mengintegrasikan ilmu dan sains, serta bagaimana pandangan Al-Qur’an dan sejarah Islam mendukung proses integrasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dengan merujuk pada karya-karya klasik filsafat Barat (Russell, Popper, Kuhn, Lakatos), serta karya filsuf dan cendekiawan Muslim (Al-Attas, Fazlur Rahman, Mulyadhi Kartanegara). Hasil kajian menunjukkan bahwa sejak Yunani Kuno hingga era kontemporer, ilmu pengetahuan tidak pernah terlepas dari kerangka filosofis. Pada masa keemasan Islam, integrasi filsafat, agama, dan sains melahirkan peradaban ilmu yang gemilang. Al-Qur’an sendiri mendorong manusia untuk menggunakan akal, meneliti fenomena alam, dan menjadikan ilmu sebagai sarana mengenal Allah. Relevansi kontemporer integrasi ini sangat kuat, terutama dalam menghadapi krisis lingkungan, tantangan etika teknologi, serta dehumanisasi akibat perkembangan sains modern. Dengan demikian, integrasi filsafat, ilmu, dan agama menjadi landasan penting untuk membangun ilmu pengetahuan yang utuh, bermakna, dan bermanfaat bagi kemanusiaan.