Claim Missing Document
Check
Articles

Pemberdayaan Keluarga dalam Meningkatkan Adversity dan Spiritual Quotient Keluarga Pada Saat Pandemi di Rumah Sari, Citra Windani Mambang; Juniarti, Neti; Yani, Desy Indra; witdiawati, witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i3.13044

Abstract

ABSTRAK  Tahun 2021 merupakan tahun ke 2 berlangsungnya pandemic covid-19 yang  menyebabkan semua orang menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah demi memutus mata rantai Covid19. Selain pembatasan aktivitas, adversity dan spiritual merupakan suatu hal yang penting pada saat pandemi sebagai ketahanan pada keluarga. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan keluarga dalam mengidentifikasi Adversity dan Spiritual Quotient anggota keluarganya serta mengembangkan strategi koping keluarga yang baik selama masa pandemi. Pengabdian ini merupakan rangkaian work-life balance yang dilaksanakan secara online dengan zoom meeting. Kegiatan ini dihadiri 208 orang yang terdiri dari peserta umum yang merupakan pekerja atau mahasiswa. Dari kuesioner wellnes yang disebarkan ke peserta hampir setengahnya dari peserta kurang merasa ceria, kurang merasa tenang dan santai, kurang merasa aktif, tidak bangun dengan perasaan segar dan istirahat, kehidupan sehari-hari tidak dipenuhi dengan hal-hal yang menarik dalam waktu dua minggu terakhir. Berdasarkan hal tersebut, keluarga dapat memahami dan mempraktekan secara langsung bagaimana menyiapkan mental keluarga terutama di masa pandemi. Hal ini juga dapat menjadi rekomendasi untuk perawat komunitas dalam merencanakan intervensi untuk keperawatan keluarga. Kata Kunci: Spiritual, Adversity, Keluarga, Pandemi, Wellnes, Worklife-Balance  ABSTRACT Year of 2021 is the 2nd year of the covid-19 pandemic which causes everyone to spend most of their time at home to break the Covid19 chain. In addition to activity restrictions, adversity and spirituality are important during a pandemic as resilience in families. This activity aims to increase family empowerment in identifying Adversity and Spiritual Quotient of their family members and developing good family coping strategies during the pandemic. This service is a series of work-life balance which is carried out online with zoom meetings. This activity was attended by 208 people consisting of general participants who are workers or students. From the wellness questionnaire distributed to participants, almost half of the participants did not feel cheerful, did not feel calm and relaxed, did not feel active, did not wake up feeling refreshed and rested, and their daily lives were not filled with interesting things in the last two weeks. Based on this, families can understand and practice directly how to mentally prepare families, especially during a pandemic. This can also be a recommendation for community nurses in planning interventions for family nursing. Keywords: Spirituality, Adversity, Family, Pandemic, Wellness, Work-Life Balance
Program Ceting Mbah Salimah sebagai Upaya Ketahanan Pangan untuk Pencegahan Stunting di Keluarga Kecamatan Rancaekek Sari, Citra Windani Mambang; Haroen, Hartiah; Witdiawati, Witdiawati; Sumarni, Nina
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i8.15203

Abstract

ABSTRAK  Ketahanan pangan adalah dengan memiliki akses yang cukup terhadap pangan yang bergizi dan bervariasi. Sebuah keluarga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi setiap anggotanya, memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Ketahanan pangan sebuah keluarga merupakan suatu upaya pencegahan stunting di keluarga. CETING MBAH SALIMAH, Cegah Stunting dengan menanam Buah dan Sayur di Lingkungan Rumah dilaksanakan di Desa Sukamulya dengan metode workshop yang dihadiri 39 keluarga. Nilai pelaksanaan post-test untuk penyampaian materi tentang penanaman buah dan sayuran membuahkan hasil, menunjukkan bahwa peserta lebih memahami materi tentang penanaman buah dan sayur, dengan peningkatan pemahaman sebesar 22,57 % dari 51,28 menjadi 73,85. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan dilakukan dengan lancar dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang konsep penanaman dengan media tanah. Program ini diharapkan dapat berlanjut dengan melanjutkan inovasi dengan fokus pada bercocok tanam yang sederhana sebagai upaya pencegahan stunting di keluarga. Kata Kunci: Program Ceting, Ketahanan Pangan, Stunting ABSTRACT Food security is having sufficient access to nutritious and varied food. A family can meet the nutritional needs of each member, ensure optimal growth and development, and increase the body's resistance to disease. A family's food security is an effort to prevent stunting in the family. CETING MBAH SALIMAH, Prevent Stunting by planting Fruits and Vegetables in the Home Environment was implemented in Sukamulya Village with a workshop method attended by 39 families. The value of the implementation of the post-test for the delivery of material on planting fruits and vegetables produced results, showing that participants better understood the material on planting fruits and vegetables, with an increase in understanding by 22.57% from 51.28 to 73.85. These results show that the activities were carried out smoothly and provided a better understanding of the concept of planting with soil media. This program is expected to continue by continuing innovations with a focus on simple farming as an effort to prevent stunting in the family.  Keywords: Ceting Program, Food Security, Stunting
Pendidikan Kesehatan tentang Peran Remaja dalam Pencegahan Stunting Witdiawati, Witdiawati; Purnama, Dadang; Rosidin, Udin; Shalahuddin, Iwan; Sumarni, Nina
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i4.13904

Abstract

ABSTRAK Pencegahan stunting memerlukan upaya bersama dari seluruh komponen komunitas, dan peran remaja sangat penting dalam upaya ini. Tujuan kegiatan adalah edukasi kesehatan peningkatan pengetahuan remaja mengenai stunting dan peran remaja dalam pencegahan stunting. Pendidikan kesehatan diberikan dengan metode ceramah dan diskusi, pre test dan post test. Sasaran kegiatan adalah remaja di Rw 09 Kelurahan Ciwalen. Hasil. Kegiatan di hadiri remaja perwakilan dari tiap RT dan remaja Karang Taruna di RW 09 kelurahan Ciwalen. Terdapat pengingkatan pengetahuan sebelum dan sesuai pendidikan kesehatan tentang stunting dengan peningkatan nilai sebesar 27,68 %. Dimana hasil nilai pretest rata-rata adalah 3 (55,38%) dan pada post test nilai rata – rata adalah 4-5 yaitu (83,06%). Kesimpulan, setelah dilakukan Pendidikan Kesehatan, pengetahuan terkait pencegahan stunting pada 17 responden meningkat. Dengan pengetahuan, kesadaran, dan tindakan yang tepat, remaja dapat berkontribusi signifikan dalam mengurangi angka stunting di Masyarakat. Kata Kunci: Stunting, Remaja, Pendidikan Kesehatan  ABSTRACT Stunting prevention requires a concerted effort from all components of the community, and the role of adolescents is very important in this effort. The purpose of the activity is health education, increasing adolescent knowledge about stunting and the role of adolescents in stunting prevention. Health education is provided by lecture and discussion, pre test and post test methods. The target of the activity was teenagers in Rw 09 Ciwalen Village. Result. The activity was attended by 17 youth representatives from each RT and Karang Taruna teenagers in RW 09 Ciwalen sub-district. There was an increase in knowledge before and according to health education about stunting with an increase in value of 27.68%. Where the average pretest score is 3 (55.38%) and in the post test the average value is 4-5, namely (83.06%). In conclusion, after Health Education was conducted, knowledge related to stunting prevention in 17 respondents increased. With the right knowledge, awareness, and action, adolescents can contribute significantly to reducing stunting rates in society.  Keywords: Stunting, Adolescent Education, Health Education
Program Kitasuka (Kesehatan Gigi dan Kesehatan Anak Paud) sebagai Upaya Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rancaekek Haroen, Hartiah; Juniarti, Neti; Sari, Citra Windani Mambang; Witdiawati, Witdiawati; Mulya, Adelse Prima
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i8.15133

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan permasalahan di Indonesia. Salah satu pencegahan stunting adalah penerapan perilaku hidup bersih dan sehat termasuk di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Anak PAUD memiliki peran penting dalam membentuk perkembangan anak sejak dini. Melalui edukasi dan demonstrasi aktivitas kebersihan cuci tangan dan sikat gigi, anak-anak PAUD diharapkan mampu memahami dan mengaplikasikan langkah-langkah penting dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Hasil pengabdian dapat diidentifikasi bahwa terdapat peningkatan sebanyak 68% pada skor pre-test dan post-test. Perilaku hidup sehat dan bersih pada anak sekolah sangatlah penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka secara optimal. Perilaku hidup sehat dan bersih pada anak sekolah sangatlah penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka secara optimal. Kata Kunci: Kitasuka, Perilaku Hidup Bersih, Stunting  ABSTRACT Stunting is a problem in Indonesia. One of the prevention of stunting is the implementation of clean and healthy living behaviors including in the Early Childhood Education (PAUD) environment. PAUD children have an important role in shaping children's development from an early age. Through education and demonstration of hand washing and tooth brushing hygiene activities, PAUD children are expected to be able to understand and apply important steps in maintaining personal and environmental hygiene. The results of the service can be identified that there is an increase of 68% in the pre-test and post-test scores. Healthy and clean living behavior in school children is very important to support their optimal growth and development. Healthy and clean living behavior in school children is very important to support their optimal growth and development. Keywords: Kitasuka, Hygiene Behavior, Stunting
Hubungan Antara Usia dan Pengetahuan dengan Persepsi Stigma HIV/AIDS Pada Ibu Rumah Tangga di Kabupaten Garut Haroen, Hartiah; Hutomo, Wahyuni Maria Prasetyo; Mambangsari, Citra Windani; Witdiawati, Witdiawati; Harun, Hasniatisari
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i1.12991

Abstract

ABSTRACT There are approximately 5,100 new Human Immunodeficiency Virus (HIV) infections in the Housewife (IRT) group every year, and 35% of them are infected from their partners. This rate is higher than HIV cases in other groups such as the MSM (man sex with man). West Java is one of the four provinces with the highest number of HIV/AIDS cases in Indonesia. One of the districts in West Java with a high rate of HIV transmission is Garut Regency, where the estimation of 1,681 people with HIV/AIDS. To determine the relationship between age and knowledge with the perception of HIV/AIDS stigma among housewives. This research is a quantitative research with a cross sectional approach. Data collection was conducted in May 2023 and located in Village X, Garut Regency, West Java. The study population was housewives with inclusion criteria of women of childbearing age (aged 20-49 years) who resided permanently in the ciwalen sub-district area using purposive sampling technique as many as 97 housewives. Data collection was conducted door to door using a questionnaire which included demographic characteristics data, knowledge about HIV/AIDS using the HIV-KQ-18 Instrument consisting of 18 question items and perceived stigma using the stigma questionnaire from Berger's HIV Stigma Scale (HSS). Data were analyzed using SPSS software (Version 21), frequency distribution analysis and chi-square test. The research results showed that the majority of housewives (64 people, 66.0%) had poor knowledge about HIV, (32.0%) had high stigma about HIV and (34.0%) had low stigma. Meanwhile, only a few (34.0%) of the housewives had good knowledge and (25.8%) the housewives' stigma about HIV was low. Relationship between domestic workers' knowledge and stigma about HIV (P<0.021). The majority of housewives in the early adulthood stage (55 people, 56.7%), had high stigma (28.9%) and low stigma (27.8%), low stigma was more often found in late adulthood housewives (53.4%). Age was related to stigma about HIV (P < 0.014). To increase knowledge about HIV and reduce stigma in society, efforts are being made to increase knowledge and group discussions about HIV/AIDS. Keywords: HIV/AIDS, Housewives, Age, Knowledge, Stigma.  ABSTRAK Terdapat 5.100 infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) baru  pada kelompok Ibu Rumah Tangga (IRT) setiap tahunya dan sebagian besar 35% tertular dari pasangannya, angkat tersebut lebih tinggi dibandingkan kasus HIV pada kelompok lainnya seperti kelompok MSM (man sex with man). Jawa Barat merupakan salah satu dari empat provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Salah satu kabupaten di Jawa Barat yang  angka penularan HIV-nya tinggi adalah Kabupaten Garut,  perkiraan jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) sebanyak 1.681 orang. Diketahui hubungan usia dan pengetahuan dengan persepsi stigma  HIV/AIDS pada ibu rumah tangga. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2023 dan berlokasi di Desa X, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Populasi penelitian adalah ibu rumah tangga dengan kriteria inklusi wanita usia subur (usia 20-49 tahun) yang bertempat tinggal tetap di wilayah tersebut dengan menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 97 ibu rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan secara door to door dengan menggunakan kuesioner yang meliputi data karakteristik demografi, pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan menggunakan Instrumen HIV-KQ-18 yang terdiri dari 18 item pertanyaan dan stigma yang dirasakan dengan menggunakan kuesioner stigma dari Berger's HIV Stigma Scale (HSS). Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS (Versi 21), analisis distribusi frekuensi dan uji chi-square. Penelitian menunjukan mayoritas IRT (64 orang, 66,0%) memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang HIV, (32.0%) memiliki stigma tentang HIV yang tinggi dan (34,0%) yang memiliki Stigma rendah. Sementara hanya sedikit (34,0%) diantara IRT yang memiliki pengetahuan baik dan (25,8%) stigma IRT tentang HIV yang rendah. Hubungan pengetahuan dan stigma IRT tentang HIV (P<0.021). Mayoritas Usia IRT pada tahap dewasa awal (55 orang, 56.7%), memiliki  stigma tinggi (28,9%) dan stigma rendah( 27,8%), stigma rendah lebih banyak dijumpai pada IRT Usia dewasa akhir (53,4%). Usia memiliki hubungan dengan stigma tentang HIV (P < 0.014). Untuk meningkatkan pengetahuan tentang HIV dan mengurangi stigma di masyarakat  dilakukan upaya-upaya peningkatan pengetahuan dan  diskusi kelompok bersama tentang HIV/ AIDS. Kata Kunci: HIV/AIDS, Ibu Rumah Tangga, Usia, Pengetahuan, Stigma.
Studi Deskriptif: Sedentary Lifestyle pada Remaja di Era Digital Rahma, Syifa Imaniar; Lukman, Mamat; Witdiawati, Witdiawati
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i5.19890

Abstract

ABSTRACT The development of technology in the digital era has significantly changed the lifestyle of adolescents, especially in increasing sedentary lifestyle. This lifestyle if ignored will have a negative impact on health. Therefore, it is important to understand the pattern of sedentary lifestyle in adolescents. This study aims to describe the level of sedentary lifestyle in adolescents and analyze the characteristics of respondents who contribute to sedentary time. This study is a quantitative descriptive study with a cross-sectional design. The population of this study were X and XI grade students at SMKN 2 Garut. The sampling technique used stratified random sampling with a sample 220 adolescents. The research tool used the Adolescents Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Data analysis used univariate analysis which resulted in frequency distribution and percentage. The results of this study showed 86.8% of adolescents had a high sedentary lifestyle, with an average sedentary time reaching 8.3 hours / day. The most sedentary activity is using a computer/laptop/HP for recreation (131.8 minutes/day). Age, gender, and involvement in activities outside of school contributed to the high level of sedentary lifestyle. Adolescents in the digital era tend to have a high sedentary lifestyle, especially the use of digital devices for entertainment and low physical activity exacerbates this condition. Therefore, promotive and preventive efforts such as education and motivation are needed to increase physical activity and the negative impacts of a sedentary lifestyle. Keywords: Adolescent, Digital Era, Sedentary Lifestyle  ABSTRAK Perkembangan teknologi di era digital telah membawa perubahan signifikan terhadap gaya hidup remaja, terutama dalam meningkatkan sedentary lifestyle. Gaya hidup ini jika dibiarkan akan berdampak negative terhadap kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memahami pola sedentary lifestyle pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat sedentary lifestyle pada remaja serta menganalisis karakteristik responden yang berkontribusi terhadap waktu sedentary. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian ini merupakan siswa kelas X dan XI di SMKN 2 Garut. Teknik sampling menggunakan stratified random sampling dengan sampel sebanyak 220 remaja. Alat ukut penelitian menggunakan kuesioner Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Analisis data menggunakan analisis univariat yang menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan 86.8% remaja memiliki sedentary lifestyle yang tinggi, dengan rata-rata waktu sedentary mencapai 8.3 jam/hari. Aktivitas sedentary yang paling banyak dilakukan yaitu menggunakan computer/laptop/HP untuk hiburan (131.8 menit/hari). Faktor usia, jenis kelamin, serta keterlibatan dalam aktivitas di luar sekolah turut berkontribusi terhadap tingkat sedentary lifestyle yang tinggi. Remaja di era digital cenderung memiliki gaya hidup sedentary yang tinggi terutama penggunaan perangkat digital untuk hiburan dan rendahnya aktivitas fisik memperuruk kondisi ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotive dan preventif seperti edukasi dan motivasi dalam peningkatkan aktivitas fisik dan dampak negative dari gaya hidup sedentary. Kata Kunci: Era Digital, Remaja, Sedentary Lifestyle
Persepsi Remaja Terhadap Pernikahan Dini di Desa Rancabango Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut Sukmawati, Sukmawati; Nuraeni, Imel; Witdiawati, Witdiawati
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i1.12992

Abstract

ABSTRACT The rate of early marriage in various countries continues to increase from year to year. Indonesia is a country with the number of early marriages, ranking 37th in the world. West Java is ranked second highest after South Kalimantan. Garut is one of the districts in West Java with the largest number of contributors to early marriage, especially in Ranbrango village, Tarogong Kaler subdistrict. Adolescents' perceptions influence and play an important role in the incidence of early marriage. This research aims to determine the description of young women's perceptions of early marriage. The research method used was descriptive with a quantitative approach, the sample of young women aged 16-19 years was 138 people. The research instrument uses a questionnaire related to adolescent perceptions designed by Winda Desi Aryanti (2018) with validity test results of 0.361 and reliability of 0.943 consisting of 10 cognitive questions, 10 affective questions and 10 conative questions. Univariate data analysis presented in frequency and percentage distribution tables. The research results show that most perceptions of cognitive aspects are in the understanding category (90.6%), affective aspects are in the supporting category (62.3%), and conative aspects are in the unfavorable category (66.7%). Even though perceptions in the cognitive aspect show that teenagers understand and have good knowledge, there are still some teenagers who have problems with several indicators of the perception aspect of early marriage, namely in the affective aspect teenagers support early marriage and in the conative aspect teenagers are less favorable towards early marriage. Intervention is needed from health workers to provide education regarding early marriage and the impact it has on teenagers, parents and society so that it is hoped that it can reduce and prevent early marriage. Keywords: Early Marriage,  Perception, Teenager  ABSTRAK Angka pernikahan dini di berbagai negara terus mengalami peningkat dari tahun ke tahun. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah  pernikahan dini peringkat ke 37 di dunia. Jawa Barat  menduduki peringkat ke dua tertinggi setelah Kalimantan selatan. Garut termasuk salah satu kabupaten di Jawa Barat dengan penyumbang pernikahan dini terbanyak, khususnya didesa Rancabango kecamatan Tarogong Kaler. Persepsi remaja berpengaruh dan berperan penting terhadap kejadian pernikahan dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran  persepsi remaja putri  terhadap pernikahan dini. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, sampel remaja putri usia 16-19 tahun berjumlah 138 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner terkait persepsi remaja yang dirancang oleh Winda Desi Aryanti (2018) dengan hasil uji validitas 0,361 dan realibilitas 0,943 terdiri dari 10 pertanyaan kognitif, 10 pertanyaan afektif dan 10 pertanyaan konatif. Analisia data univariat yang disajika dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitan menunjukan persepsi aspek kognitif sebagian besar berada pada kategori paham (90,6%), aspek afektif berada pada kategori mendukung (62,3%), dan aspek konatif berada pada kategori kurang baik (66,7%). Meskipun persepsi pada aspek kognitif menunjukan remaja paham dan memiliki pengetahuan baik namun masih ditemukan beberapa remaja yang memiliki masalah pada beberapa indator aspek persepsi terhadap pernikahan dini yaitu pada aspek afektif remaja mendukung pernikahan dini dan aspek konatif remaja kurang baik terhadap pernikahan dini. Diperlukan intervensi dari tenaga kesehatan  untuk memberikan pendidikan terkait pernikahan usia dini beserta dampak yang ditimbulkan kepada remaja, orangtua, dan masyarakat sehingga  diharapkan dapat menurunkan dan mencegah terjadinya pernikahan dini. Kata Kunci: Pernikahan Dini, Persepsi, Remaja Putri
PENDIDIKAN KESEHATAN PERNIKAHAN YANG BAIK SECARA BIOLOGIS DAN PSIKOLOGIS : TEPAT BUKAN CEPAT: PENDIDIKAN KESEHATAN PERNIKAHAN YANG BAIK SECARA BIOLOGIS DAN PSIKOLOGIS : TEPAT BUKAN CEPAT Setiawan, Setiawan; Purnama, Dadang; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i2.157

Abstract

Menikah muda dapat mengakibatkan terjadinya masalah kehamilan, resiko penyulit persalinan karena besar kepala anak tidak dapat menyesuaikan bentuk punggung yang belum berkembang sempurna, bayi premature, resiko ibu meninggal dan masih banyak dampak bahaya lainnya. Tujuan kegiatan pendidikan kesehatan ini menjawab hasil survey, yang mana menurut pihak sekolah siswa SMA Negeri 19 Garut jarang mendapatkan pendidikan kesehatan mengenai bagaimana pernikahan dini berpengaruh secara biologis maupun psikologis pada angka kesakitan dan kematian, serta dapat mengurangi angka pernikahan dini yang terjadi, dan siswa lebih memahami mengenai hal-hal berbau seksualitas agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kegiatan dilakukan dengan, ceramah paparan materi, diskusi dan tanya jawab, melatih siswa untuk lebih memahami materi yang disampaikan. Hasil setelah dilaksanakan pendidikan dan promosi kesehatan mengenai pernikahan yang baik secara biologis dan psikologis : tepat bukan cepat, Kesimpulan : penting adanay keberlanjutan dari kegiatan pendidikan kesehatan di sekolah menegah atas untuk menambah wawasan siswa terkait konsep pernikahan lebih baik yang akan mereka lewati dimasa yang akan datang.
PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA RW 01 KELURAHAN KOTA WETAN KECAMATAN GARUT KOTA: PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA RW 01 KELURAHAN KOTA WETAN KECAMATAN GARUT KOTA Purnama, Dadang; Setiawan, Setiawan; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.188

Abstract

Kesehatan Reproduksi adalah kesehatan secara fisik, mental, dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi, serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan. Kesehatan reproduksi bukan hanya keadaan waktu hamil dan melahirkan, tetapi menyangkut perkembangan berbagai organ reproduksi serta fungsinya sejak dalam kandungan sampai akhir kehidupan. Tujuan kegiatan pendidikan kesehatan ini menjawab hasil survey pada remaja di masayarakat RW 01 Kelurahan Kota Wetan Kabupaten Garut, yang jarang mendapatkan pendidikan kesehatan, Dengan rendahnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi (77,19%) di RW 01 Kelurahan Kota Wetan diharapkan adanya pihak yang terlibat dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, salah satu pemecahan masalah tersebut adalah dengan pemberian edukasi mengenai kesehatan reproduksi kepada remaja, dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja di RW 01 Kelurahan Kota Wetan mengenai kesehatan reproduksi. Kegiatan dilakukan dengan, ceramah paparan materi, diskusi dan tanya jawab, melatih remaja untuk lebih memahami materi yang disampaikan. Hasil setelah dilaksanakan pendidikan dan promosi kesehatan mengenai perubahan perilaku sehat (kesehatan reproduksi) melalui pendidikan kesehatan bukan sekedar transfer pengetahuan dan sikap pendidik, namun bagaimana remaja sebagai pembelajar dapat berperilaku dalam mencapai keseimbangan antara lingkungan, perilaku, dan manusia. Kesimpulan : penting adanya keberlanjutan dari kegiatan pendidikan kesehatan pada remaja di masyarakat untuk menambah wawasan terkait kesehatan reproduksi yang lebih baik sebagai bekal melewati masa yang akan datang.
EDUKASI TENTANG KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA HOME INDUSTRY KONVEKSI JAKET KULIT SINTETIS KELURAHAN SUKAMENTRI KECAMATAN GARUT KOTA: EDUKASI TENTANG KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA HOME INDUSTRY KONVEKSI JAKET KULIT SINTETIS KELURAHAN SUKAMENTRI KECAMATAN GARUT KOTA Setiawan, Setiawan; Purnama, Dadang; Witdiawati, Witdiawati; Sunarya, Uu
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.189

Abstract

Di Kelurahan Sukamentri Kecamatan Garut Kota Kabupaten Garut, tepatnya di RW 13 terdapat sebuah home industry, bernama Home Industry Jaket Bilistic, bergerak di bidang produksi konveksi jaket kulit sintetis. Industri tersebut memiliki beberapa orang karyawan. Dalam proses pengerjaannya, industri tersebut memiliki beberapa risiko bahaya kesehatan dan keselamatan kerja yang mengancam setiap karyawannya. Bahaya tersebut antara lain: jam kerja yang relatif tinggi setiap harinya, perilaku karyawan yang mengabaikan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), dan tidak disediakannya anggaran pengobatan oleh pemilik industri.Target luaran yang ingin dicapai adalah penerapan jam kerja untuk setiap karyawan yaitu maksimal 8 jam perhari atau 40 jam per minggu, penerangan di tempat kerja baik siang maupun malam hari untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dalam mesin adan alatalat yang tajam, penggunaan APD selalu dilakukan pada setiap pekerjaan yang bisa mengundang bahaya pada kesehatan dan kecelakaan kerja, dan penyediaan anggaran kesehatan sebaiknya dilakukan dengan melakukan koordinasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang kesehatan.Metoda yang digunakan untuk mencapai target tersebut, tim pengabdian berusaha mengurangi risiko bahaya tersebut dengan memberikan edukasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja yang dibutuhkan oleh setiap karyawan.Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan mengadakan survai ke Home Industry Jaket Bilistic untuk melakukan observasi pada kondisi industri serta para karyawannya, kemudian bermusyawarah untuk melakukan edukasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja menyusun rencana kegiatan. Akhirnya edukasi dilakukan di lokasi industri tersebut dengan mengundang ketua RW 13 serta kader-kader kesehatan setempat. Hasil dari kegiatan ditunjukkan melalui peningkatan pengetahuan dari tes sebelum edukasi dengan tes sesudah edukasi. Peningkatan pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan kerja sebesar 34,06 point.
Co-Authors Ahmad Yamin AI MARDHIYAH, AI Aisyah, Salsa Andini, Wilda Annisya Awalia Arum Rukmasari Assidik, Muhamad Fajar Assidik Azzahra, Shafira Bakar, Shabila Fasa Noor Berlianti, Denisa Novianne Chandra Isabella Hostanida Purba Dadang Purnama Damar Irza Irza Desy Indra Yani Dinan, Nur Azmina Dwinaputri, Adinda Zahira Erna Irawan, Erna Fauzia, Nuris Azril Gustav, Ghina Irval Hartiah Haroen Harun, Hasniatisari Hasan, Nur Bilqis Haibah Mufidah Hendrawati Hendrawati Hidayat, Nabila Nur Fadilah Hutomo, Wahyuni MP Iceu Amira D.A Imas Rafiyah Inriyana, Ria Iwan Shalahuddin Iwan Sholahuddin K.H, Firla Husnul Kesumawati, Rianti Kintan Komala Kosim Kosim Kusman Ibrahim Laili Rahayuwati Lilis Mamuroh Luthfiyani, Nida M Noor, Rohmahalia Maidartati Maidartati, Maidartati Mamat Lukman Mambangsari, Citra Windani Mulya, Adelse Prima Mulyani, Airin Rizki Muryati Muryati Nara Raihani Neti Juniarti Nina Sumarni Ningrum, Tita Puspita Ningrum Noor, Rohmahalia M Nugraha, Puput Nuraeni, Imel Nurjanah, Lilis Siti Pataya, Amalla Putri, Syifa Nabilla Rahma, Syifa Imaniar Raihani, Nara Raini Diah Susanti Ramdani, Sucia Ratnasari, Indah Millenia Rifki Febriansyah Rohmahalian M. Noor Rukman Rukman Salsabila, Nada Salsabilla, Raisha Sari, Citra Windani Mambang Setiawan Setiawan Sheizi Prista Sari Sheizi Prita Sari Siti Fauziah Sri Hendrawati Sukmawati Sukmawati Sukmawati Sukmawati Tarigan, Sri Yenni Br Tetti Solehati Theresia Eriyani Udin Rosidin Umar Sumarna Umar Sumarna Uu Sunarya Wahyuni Maria Prasetyo Hutomo Windy Rakhmawati Yuliana Eka Putri, Yuliana Eka Yusshy Kurnia Herliani Zaenal Muttaqin