Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Karakterisasi Fitokimia dan Gugus Fungsi Senyawa Alkaloid dan Flavonoid Kulit Batang Anamirta cocculus: Potensi Tanaman Endemik Papua Sebagai Obat Tradisional Fadhilah, Windi Nur; Muslihin, A.M.; Astuti, Ratih Arum
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 5 (2025): Oktober 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i5.2099

Abstract

Tali kuning (Anamirta cocculus) merupakan tanaman endemik Papua yang dikenal memiliki khasiat sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi senyawa alkaloid dan flavonoid dalam ekstrak kulit batang tali kuning menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan FTIR, dengan variasi jenis pelarut dan konsentrasi. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol menghasilkan kadar alkaloid tertinggi (0,778 mgAE/g) dan flavonoid tertinggi (0,524 mgQE/g), diikuti oleh etanol 90%, dan terendah pada etanol 70%. Gugus fungsi yang teridentifikasi dalam senyawa alkaloid dan flavonoid adalah O-H, N-H, C=O, dan C=C aromatik, serta senyawa lain seperti tanin dan terpenoid.
Uji Efektivitas Tanaman Patah Tulang (Euphorbia tirucalli) pada Mus musclus sebagai Antihiperglikemia Fahira, Ifana Nur; Muslihin, A.M.; Irwandi, Irwandi
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 5 (2025): Oktober 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i5.2191

Abstract

Hiperglikemia adalah kondisi dimana kadar gula dalam darah melebihi batas normal, sehingga hiperglikemia menjadi salah satu tanda dari penyakit diabetes melitus. Ekstrak tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli) diketahui memiliki kandungan senyawa yang berpotensi menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan dosis efektif ekstrak tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli) sebagai antihiperglikemia pada mencit (Mus musculus) putih. Penelitian ini menggunakan metode uji toleransi glukosa secara oral dengan membagi hewan uji kedalam 5 kelompok perlakuan, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit. Kelompok kontrol negatif diberikan Na CMC 1%, kelompok kontrol positif diberikan glibenklamid dengan dosis 5 mg, kelompok perlakuan diberikan sediaan suspensi tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli) dengan konsentrasi 2,5%, 5% dan 10%. Pengujian Pengukuran kadar glukosa darah dimulai pada menit 30, 60, 90, 120 dan 150 dengan menggunakan alat glukometer. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak tanaman memiliki aktivitas antihiperglikemia. Ekstrak tanaman patah tulang konsentrasi 2,5%, 5% dan 10% dapat menurunkan kadar glukosa darah pada mencit yang mengalami hiperglikemia. Konsentrasi dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah pada mencit yaitu konsentrasi ekstrak tanaman patah tulang 5% dan 10% dengan signifikansi >0,05 dengan kontrol positif.
PENGETAHUAN OBAT GENERIK MAHASISWA FARMASI DAN NON FARMASI DI UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG nurjanah, sartika wahyu; Budiyanto, Angga Bayu; Muslihin, A.M.
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.37041

Abstract

Kurangnya informasi dapat memicu pandangan negatif terhadap obat generik yang menyebabkan mahasiswa beranggapan bahwa obat generik kurang efektif atau kurang aman dibandingkan obat bermerek sehingga mereka ragu untuk menggunakan obat generik dan lebih memilih untuk menggunakan obat bermerek. Penelitian ini merupakan penelitian jenis analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan non random sampling. Instrumen penelitian ini adalah berupa alat tulis dan kuisioner yang telah diuji validitas dan uji reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat pengetahuan penggunaan obat generik pada mahasiswa farmasi dan non farmasi dan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan obat generik. Rata-rata mahasiswa farmasi memiliki pengetahuan terhadap obat generik tergolong cukup yaitu sebanyak 35 responden (13,67 %) dan mahasiswa non farmasi memiliki pengetahuan terhadap obat generik tergolong cukup yaitu sebanyak 110 responden (42,96%). Hasil analisis korelasi spearman menunjukkan bahwa program studi farmasi memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap pengetahuan mahasiswa tentang obat generik (r = -0,601, p < 0,01) jauh lebih besar dibandingkan dengan faktor-faktor demografis seperti usia, tingkat pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua selain itu jenis kelamin memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan tentang obat generik (r = 0,223, p < 0,01) menunjukkan adanya perbedaan yang cukup jelas antara laki-laki dan perempuan dalam hal pemahaman tentang obat generik. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan obat generik dikalangan mahasiswa adalah program studi dan jenis kelamin sedangkan usia, tingkat Pendidikan orang tua dan pekerjaan orang tua secara langsung tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap obat generik.
STUDI IN VITRO EKSTRAK KULIT BATANG TALI KUNING (A. cocculus) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Hardiansyah, La Ode; Muslihin, A.M.; Astuti, Ratih Arum
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.37849

Abstract

Radikal bebas merupakan ancaman serius bagi kesehatan manusia. Penelitian ini mengkaji potensi antioksidan dari ekstrak kulit batang tali kuning (A. cocculus) sebagai upaya untuk menemukan alternatif pengobatan alami dengan beberapa variasi pelarut pengekstraksi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol, etil asetat dan n-heksan kulit batang tali kuning (A. cocculus). Penelitian uji antioksidan menggunakan DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) dan diukur menggunakan alat spektrofotometer UV-Visibel . Sampel berasal dari daerah Misool Timur, Papua Barat Daya. Proses ekstraksi menggunakan teknik maserasi. Sampel tanaman diekstraksi menggunakan tiga pelarut yang berbda yaitu metanol, etil asetat, dan n-heksan. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, alkaloid, dan terpenoid pada ekstrak kulit batang tali kuning dengan pelarut pengekstraksi etil asetat dan metanol, sedangkan pada pelarut n-heksan positif alkaloid dan steroid. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak metanol dan ekstrak etil asetat memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 ekstrak metanol sebesar 36,92 ?g/mL dan ekstrak etil asetat sebesar 23,53 ?g/mL. Untuk hasil analisis ekstrak n-heksan menunjukkan aktivitas antioksidan yang tergolongng kuat dengan nilai IC50 sebesar 55,85 ?g/mL. Nilai ini mengindikasikan potensi ekstrak metanol, etil asetat, dan n-heksan sebagai antioksidan yang baik dibandingkan dengan vitamin C IC50 = 1,40 ?g/mL Kesimpulan bahwa pada ekstrak metanol dan ekstrak etil asetat terdapat tiga golongan senyawa yaitu flavonoid, alkaloid dan terpenoid, sedangkan pada ekstrak n-heksan terdapat dua golongan senyawa yaitu alkaloid dan steroid. Aktivitas antioksidan terkuat ada pada ekstrak etil asetat kulit batang tali kuning dengan didapatkan nilai IC50 sebesar 23,53 ?g/mL.
Research Trends of Stunting Related to Insulin-Like Growth Factor-1: Bibliometric Analysis Hardia, Lukman; Pratama, Agus Sangka; Muslihin, A. M.
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No SpecialIssue (2023): UNRAM journals and research based on science education, science applic
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9iSpecialIssue.6903

Abstract

Stunting is a condition in which a person's height is less than normal based on age and gender. The prevalence of stunting in Indonesia in 2021 is 24.4%. This illustrates that stunting is still a problem that cannot be resolved in Indonesia. Research on the incidence of stunting was carried out to determine its relationship with insulin-like growth factor-1 (IGF-1) levels. Search results on the Pubmed database obtained 446 English-language articles published from 1993 – April 12, 2023. The results of bibliometric analysis and VOSViewer show that new research trends began to be seen in 2018 to 2023 even though there had been publications previously in 1993 and 2000, but very minimal amount. The most dominating document types were journal articles with 310 publications (69.51%) and reviews with 89 publications (19.96%). The most trending keywords are humans (268), female (176), male (145), animals (142), insulin-like growth factor i/metabolism (94), child (74), adult (60), mice (56), pregnancy (47) and child preschool (43). The publishing journals that published the most articles were Frontiers in Endochronolgy (22 publications), International Journal of Molecular Sciences (19 publications), Scientific Reports (13 publications). The highest number of author collaborations is from the USA with 78 articles being the country with the most collaboration on both SCP and MCP with an MCP to SCP ratio of 0.244. China ranks second with the number of articles of 63 with an MCP ratio of 0.190.
Daun Mantangan Sebagai Kandidat Bahan Baku Obat: Uji Pra-Klinik Sebagai Obat Analgesik Selfiana Iek; A. M. Muslihin; Lukman Hardia
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52546

Abstract

Nyeri merupakan indikator alamiah tubuh yang bekerja dengan mekanisme peningkatan ekskresi dari berbagai mediator nyeri, seperti prostaglandin, histamin, dan bradikin. Penanganan nyeri secara farmakologis melibatkan penggunaan obat-obatan analgesik. Meskipun efektif, penggunaan jangka panjang dari obat-obatan sintetis dapat menimbulkan berbagai efek samping. Hal ini mendorong peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya mencari alternatif pengobatan alami yang lebih aman dengan efek samping yang minimal. Salah satu tanaman yang menarik perhatian adalah daun mantangan (Meremia peltata L. Merr.) yang memiliki kandungan flavonoid, saponin, tanin, dan steroid yang diyakini dapat mengatasi masalah nyeri. Tujuan: mengidentifikasi pengaruh ekstrak daun mantangan sebagai obat analgesik. Metode penelitian yaitu kuantitatif dengan desain eksperimental laboratorium pre and post-test with control group design. Data dianalisa menggunakan paired sample t-test dan independent sample t-test. Hasil: mencit (Mus musculus) yang diberi perlakuan ekstrak daun mantangan (Meremia peltata L. Merr.) dosis 26, 58, dan 115 mg/kgBB secara efektif dapat meningkatkan toleransi nyeri secara signifikan (p-value <0,05) jika dibandingkan dengan kontrol negatif yang diberikan suspensi na. cmc, dan berbeda tidak signifikan (p-value >0.05) jika dibandingkan dengan kelompok kontrol positif yang diberikan suspensi na. diklofenak. Kesimpulan: ekstrak daun mantangan (Meremia peltata L. Merr.) memiliki potensi sebagai obat analgesik pada dosis 26, 58, dan 115 mg/kgBB.
Analisa Kandungan Flavonoid dan Uji Efek Nefrotoksik Ekstrak Metanol Kulit Pisang Raja (Musa paradisiaca var. Sapientum) Sintya Sari Dwi Kusumaningrum; Lukman Hardia; A.M Muslihin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52699

Abstract

Kulit pisang raja (Musa paradisiaca var. Sapientum) merupakan limbah organik yang berpotensi mencemari lingkungan, namun mengandung senyawa bioaktif terutama flavonoid yang memiliki berbagai aktivitas biologis. Pemanfaatannya masih belum optimal dan data ilmiah terkait keamanan serta efeknya terhadap fungsi ginjal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rendemen ekstrak metanol kulit pisang raja, kadar flavonoid total, serta mengevaluasi pengaruh pemberiannya terhadap kadar kreatinin serum tikus sebagai indikator fungsi ginjal. Simplisia disiapkan melalui proses sortasi, pengeringan, dan penghalusan, kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Penetapan kadar flavonoid total dilakukan secara spektrofotometri ultraviolet-visible menggunakan pereaksi aluminium klorida. Pengujian efek nefrotoksisitas dilakukan dengan mengukur kadar kreatinin serum sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dianalisis menggunakan uji paired sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa dari 467 gram simplisia diperoleh 84 gram ekstrak kental dengan rendemen 17,99%. Kadar flavonoid total sebesar 29,6 mg/g atau setara 2959,9 QE. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan kadar kreatinin serum sebelum dan sesudah perlakuan (p>0,05). Disimpulkan bahwa ekstrak metanol kulit pisang raja memiliki kandungan flavonoid tinggi dan relatif aman terhadap fungsi ginjal, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan alami bernilai farmakologis sekaligus mengurangi limbah organik.
Faktor Risiko Resistensi Rifampicin Pada Pasien Tuberkulosis di RSUD Dr. J.P Wanane Kabupaten Sorong Serlin Marsela; Lukman Hardia; A.M Muslihin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52743

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan diindonesia. Rifampicin merupakan obat lini pertama yang paling penting dalam pengobatan tuberkulosis. Namun, ketidakpatuhan terhadap pengobatan, durasi terapi yang tidak sesuai standar, serta kondisi komorbid dapat memicu terjadinya resistensi terhadap rifampicin (TB-RO). Sehingga menurunkan keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian resistensi rifampicin pada pasien tuberkulosis di RSUD Dr. J.P. Wanane Kabupaten Sorong menggunakan metode analitik dengan pendekatan case control study, melibatkan 130 pasien TB periode Agustus 2023-Agustus 2025, terdiri dari 39 pasien resisten dan 91 pasien sensitif rifampicin. Data diperoleh melalui rekam medis dan dianalisis menggunakan uji chi-square serta perhitungan odds rasio (OR). Empat variabel yang diteliti yaitu, usia, jenis kelamin, lama pengobatan, riwayat komorbid. Hasil penelitian menunjukkan hanya variabel lama pengobatan yang berhubungan signifikan dengan kejadian resistensi rifampin (P=0,000; P<0,005) pasien dengan durasi pengobatan > 6 bulan memiliki risiko mengalami resistensi dibandingkan pasien yang menyelesaikan pengobatan sesuai standar. Dapat disimpulkan, lama pengobatan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian resistensi rifampicin pada pasien TB di RSUD Dr. J.P. Wanane Kabupaten Sorong. Kata Kunci: Tuberkulosis, Rifampicin, Resistensi Obat, Lama Pengobatan, Faktor Risiko Abstract Tuberculosis (TB) remains a major health problem in Indonesia. Rifampicin is the most important first-line drug in the treatment of tuberculosis. However, non-adherence to treatment, inadequate duration of therapy, and comorbid conditions can trigger rifampicin resistance (RO-TB), thus reducing the success of therapy. This study aims to determine the factors associated with the occurrence of rifampicin resistance in tuberculosis patients at Dr. J.P. Wanane Regional General Hospital, Sorong Regency, using an analytical method with a case-control study approach, involving 130 TB patients from August 2023 to August 2025, consisting of 39 resistant patients and 91 sensitive patients with rifampicin. Data were obtained through medical records and analyzed using the chi-square test and odds ratio (OR) calculation. Four variables studied were age, gender, duration of treatment, and history of comorbidities. The results showed that only the duration of treatment was significantly associated with the incidence of rifampin resistance (P=0.000; P<0.005). Patients with a duration of treatment >6 months had a higher risk of developing resistance compared to patients who completed treatment according to standards. It can be concluded that the duration of treatment is the most influential factor in the incidence of rifampicin resistance in TB patients at Dr. J.P. Wanane Regional Hospital, Sorong Regency. Keywords: Tuberculosis, Rifampicin, Drug Resistance, Treatment Duration, Risk Factors
Antibacterial Effectiveness Test of Wrap Leaf Extract (Smilax rotundifolia) Against Escherichia coli and Propionibacterium acnes Bacteria Heti Aisyah; Irwandi Irwandi; Angga Bayu Budiyanto; A.M. Muslihin
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 4 (2025): April
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i4.10699

Abstract

Diarrhea and acne, caused by the bacteria Escherichia coli and Propionibacterium acnes, are common illnesses in children and adults. Antibiotics can overcome bacterial infections, but cases of antibiotic resistance are increasing. This study aims to determine the effect of wrap leaf extract (Smilax rotundifolia) on the growth of P. acnes and E. coli. This research can support microbiology-based science learning that utilizes biodiversity for students. Phytochemical tests showed that the extract contained flavonoids, alkaloids and saponins. The results of antibacterial testing showed that wrap leaf extract was able to inhibit the growth of P. acnes bacteria from concentrations of 10% and 15% with an average inhibition of 5.31 mm and 6.42 mm, and the positive control (Amoxicillin) had an inhibition of 7.26 mm. However, E. coli did not show any inhibition zone. The Mann-Whitney test results showed that the wrapper leaf extract has antibacterial effectiveness by comparing the negative control with a concentration of 10% and 15% and the positive control with a concentration of 10%. There is a difference between the concentration comparison where the Sig.<0.05 value. Then, comparing the positive control with a concentration of 15% produces a Sig.>0.05 value, meaning there is no difference between the two.
In Vitro Study of The Activity of Yellow Rope (Anamirta cocculus) Extract As An Antibacterial Darmayanti Tumpu; A.M. Muslihin; Lukman Hardia
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 4 (2025): April
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i4.10753

Abstract

A. cocculus is an endemic plant to Papua, which is often used as medicine. This study aims to determine the antibacterial activity of the ethanol extract of A. cocculus stems against P. acne, S. aureus, and E. coli bacteria. This research also has the potential to be used as a contextual learning resource in biology classes, especially on the topic of antibacterial and secondary metabolite testing, using experimental methods. The antibacterial activity test was carried out using the disk diffusion method, which was performed in 3 concentrations, namely 5%, 10%, and 15%. The positive control used 2 μg of clindamycin antibiotic and 30 μg of chloramphenicol antibiotic; the negative control used Aqua Pro injection. Measurement of the diameter of the inhibition zone shows that A. cocculus extract can inhibit bacterial growth, concentration 5% (P. acnes = 9.18mm/medium; S. aureus = 9.17/medium, and E. coli = 3.91/weak), concentration 10% (P. acnes = 11.86mm/strong; S. aureus = 11.88/strong, and E. coli = 5.17mm/medium), and concentration 15% (P. acnes = 11.56/strong; S. aureus = 12.9/strong, and E. coli = 5.86/medium).