Claim Missing Document
Check
Articles

BUMDes as an Arena for Contesting Local Economic Policies: A Review of Village Government Politics in Enrekang Regency Hawing, Hardianto; Hamrun, Hamrun; Karim, Abdul; Wibowo, Yudhi Abdi
Amkop Management Accounting Review (AMAR) Vol. 6 No. 1 (2026): January - June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/amar.v6i1.3684

Abstract

Village-Owned Enterprises (BUMDes) are designed as strategic instruments to strengthen local economic development and increase village independence. However, in practice, village-owned enterprises function not only as economic entities but also as arenas for policy contestation involving power relations within village government. This study aims to analyze village-owned enterprises as an arena for local economic policy contestation by examining the political dynamics of village government in Enrekang Regency. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation studies. The results show that the process of formulating and implementing village-owned enterprise policies is influenced by the interaction of interests between the village head, village officials, the village consultative body, and local elites. This contestation has resulted in weak management professionalism, limited community participation, and the suboptimal contribution of village-owned enterprises to village economic growth. This study also found that strengthening participatory governance, institutional accountability, and digital-based transparency has the potential to reconstruct the role of village-owned enterprises as instruments for inclusive and sustainable local economic policy.
INOVASI RUMAH VERTIKAL KEPITING BAKAU (RVKB) BAGI KELOMPOK BUDIDAYA NELAYAN KAMPUNG LETTE, MAKASSAR Hamrun, Hamrun; Amalia, Andi Annisa; Wahyu, Farhanah
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.62285

Abstract

The community service program themed "Vertical Mangrove Crab House Innovation" aims to enhance the economic and social independence of the Fishermen's Cultivation Group in Kampung Lette, Makassar. This program emphasizes the principles of the blue economy, focusing on the sustainable management of coastal resources. The approach involves socialization, training, and mentoring the community in the application of mangrove crab cultivation technology based on vertical apartment systems and water recirculation. Active participation from the fishermen's group and the local community enables them to contribute actively at each stage of the process. This activity resulted in a significant increase in community knowledge and skills related to crab cultivation technology, as well as improvements in productivity and the quality of cultivated crabs. Additionally, the program successfully raised community awareness about the importance of preserving mangrove ecosystems as the natural habitat of mangrove crabs. The implementation of this model provides economic benefits to the community, contributes to the preservation of the coastal environment, and can be replicated in other coastal communities to expand its positive impact.Kegiatan pengabdian bertema inovasi Rumah Vertikal Kepiting Bakau bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan sosial Kelompok Budidaya Nelayan di Kampung Lette, Makassar. Program ini mengedepankan prinsip-prinsip blue economy, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan melibatkan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan masyarakat dalam penerapan tekonologi budidaya kepiting bakau berbasis sistem apartemen vertikal dan resirkulasi air. Partisipasi aktif kelompok nelayan dan masyarakat setempat, memungkinkan mereka berkontribusi aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Kegiatan ini menghasilkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan masyarakat terkait teknologi budidaya kepiting, serta peningkatan produktivitas dan kualitas hasil budidaya. Selain itu, kegiatan ini juga berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pelestarian ekosistem mangrove sebagai habitat alami kepiting bakau. Penerapan model ini memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, berkontribusi pada pelestarian lingkungan pesisir dan dapat direplikasi di komunitas pesisir lainnya untuk memperluas dampak positifnya.
Pengembangan Transportasi Publik Berbasis Smart Mobility Di Kota Makassar Amaliah Widyastuti Rachmat; Andi Luhur Prianto; Hamrun Hamrun; St. Nurmaeta
FisiPublik: Jurnal Ilmu Sosial dan Politik Vol. 4 No. 1 (2019): May
Publisher : Social and Political Sciences Faculty, Widya Gama Mahakam Samarinda University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/fpb.v4i1.739

Abstract

Artikel ini membahas tentang pengembangan trasportasi publik berbasis smart mobility di kota Makassar dan untuk mengetahui hambatan dalam pengembangan trasportasi publik berbasis smart mobility di Kota Makassar. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Data diproses dari hasil wawancara, dan observasi kemudian dianalisa dengan melihat ditinjau dari sejumlah aspek manajemen transportasi perkotaan yang dikemukakan yaitu Sistem Transportasi, Alternatif Akses, Acceptability, dan Berbasis Data (Aplikasi). Kemudian penelitian ini juga melihat hambatan yang ditemukan dalam penelitian ini. Adapun aktifitas dalam analisis data dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem transportasi di Kota Makassar terintegrasi dengan sistem transportasi yang dirancang oleh pemerintah provinsi selain itu sistem didukung dengan adanya kolaborasi dengan berbagai pihak dalam implementasi BRT (Bus Rapid Transit). Proses pengintegrasian sistem transportasi melalui proyek BRT telah menyiapkan sejumlah sarana prasana seperti pembukaan koridor halte yang telah memiliki jalur Bus Line namun belum optimal karena tidak memiliki jalur Busway sendiri masih melewati jalur umum bersama dengan kendaraan lainnya padahal BRT ini dapat maksimal dan efektif bila menggunakan jalur Busway tersendiri. Kemudahan masyarakat dalam memanfaatkan BRT belum terwujud secara optimal ini terlihat dari waktu menunggu dan jadwal kedatangan BRT yang sulit diprediksi, oleh karena itu akses BRT ini masih belum dapat dikategorikan sebagai alternatif akses. Aplikasi yang diakses masyarakat melalui smart phone berbasis android masih membutuhkan pengembangan dan penyesuaian fitur-fitur dalam aplikasinya. Selain itu, penggunaan aplikasi transportasi seperti Grab dan Gojek yang diaplikasikan secara online lebih diminati masyarakat karena lebih cepat dan sangat fleksibel sementara BRT mesti menunggu pada halte yang disediakan dengan perkiraan waktu yang tidak menentu.