Claim Missing Document
Check
Articles

PENDAMPINGAN INOVASI TEKNOLOGI PERLUASAN SKALA BUDIDAYA UDANG VANAME MENGGUNAKAN SISTEM RECIRCULATING AQUACULTURE SYSTEM Hamrun, Hamrun; Wahyu, Farhanah; Paddiyatu, Nurhikmah; Amalia, Andi Annisa; Amir, Muh. Adjie Syahriansyah; Anwar, Syaiful
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i1.36860

Abstract

Abstrak: Pokdakan Kallang Bayang merupakan mitra kegiatan Pengabdian Berbasis Kemitraan Masyarakat yang bergerak dalam budidaya udang vaname di kawasan Muara Sungai Jeneberang, Kampung Lette, Makassar. Kelompok ini beranggotakan 15 orang dan menghadapi permasalahan keterbatasan pendapatan, jangkauan pemasaran yang sempit, serta kerentanan kolam terhadap banjir. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, pengelolaan usaha, dan penataan ruang budidaya melalui penerapan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS). Metode pelaksanaan dilakukan secara partisipatif melalui pelatihan teknis sistem filtrasi RAS, pembangunan kolam bioflokulasi berstruktur beton, penguatan manajemen kelembagaan, serta perancangan zonasi tata ruang usaha budidaya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penerapan RAS mampu meningkatkan survival rate udang hingga lebih dari 80% melalui efisiensi penggunaan air dan stabilitas kualitas lingkungan. Infrastruktur kolam beton juga meningkatkan ketahanan terhadap banjir dan menurunkan risiko kerusakan. Inovasi teknologi dan penguatan kapasitas kelompok terbukti meningkatkan produksi udang konsumsi dan adaptivitas usaha, meskipun pengembangan lanjutan masih diperlukan untuk efisiensi energi dan keberlanjutan budidaya.Abstract: Pokdakan Kallang Bayang is a partner in the Community-Based Partnership Service program engaged in vaname shrimp farming in the Muara Sungai Jeneberang area, Kampung Lette, Makassar. This group consists of 15 members and faces problems of limited income, narrow marketing reach, and pond vulnerability to flooding. This community service activity aims to increase production capacity, business management, and cultivation space planning through the application of Recirculating Aquaculture System (RAS) technology. The implementation method is carried out participatively through technical training on the RAS filtration system, construction of concrete bioflocculation ponds, strengthening of institutional management, and the design of cultivation business zoning. The results of the activity show that the application of RAS can increase the survival rate of shrimp to more than 80% through efficient water use and stable environmental quality. Concrete pond infrastructure also increases resistance to flooding and reduces the risk of damage. Technological innovation and capacity building of the group have been proven to increase shrimp production and business adaptability, although further development is still needed for energy efficiency and sustainable aquaculture.
Pengembangan Transportasi Publik Berbasis Smart Mobility Di Kota Makassar Rachmat, Amaliah Widyastuti; Prianto, Andi Luhur; Hamrun, Hamrun; Nurmaeta, St.
FisiPublik: Jurnal Ilmu Sosial dan Politik Vol. 4 No. 1 (2019): May
Publisher : Social and Political Sciences Faculty, Widya Gama Mahakam Samarinda University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/fpb.v4i1.739

Abstract

Artikel ini membahas tentang pengembangan trasportasi publik berbasis smart mobility di kota Makassar dan untuk mengetahui hambatan dalam pengembangan trasportasi publik berbasis smart mobility di Kota Makassar. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Data diproses dari hasil wawancara, dan observasi kemudian dianalisa dengan melihat ditinjau dari sejumlah aspek manajemen transportasi perkotaan yang dikemukakan yaitu Sistem Transportasi, Alternatif Akses, Acceptability, dan Berbasis Data (Aplikasi). Kemudian penelitian ini juga melihat hambatan yang ditemukan dalam penelitian ini. Adapun aktifitas dalam analisis data dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem transportasi di Kota Makassar terintegrasi dengan sistem transportasi yang dirancang oleh pemerintah provinsi selain itu sistem didukung dengan adanya kolaborasi dengan berbagai pihak dalam implementasi BRT (Bus Rapid Transit). Proses pengintegrasian sistem transportasi melalui proyek BRT telah menyiapkan sejumlah sarana prasana seperti pembukaan koridor halte yang telah memiliki jalur Bus Line namun belum optimal karena tidak memiliki jalur Busway sendiri masih melewati jalur umum bersama dengan kendaraan lainnya padahal BRT ini dapat maksimal dan efektif bila menggunakan jalur Busway tersendiri. Kemudahan masyarakat dalam memanfaatkan BRT belum terwujud secara optimal ini terlihat dari waktu menunggu dan jadwal kedatangan BRT yang sulit diprediksi, oleh karena itu akses BRT ini masih belum dapat dikategorikan sebagai alternatif akses. Aplikasi yang diakses masyarakat melalui smart phone berbasis android masih membutuhkan pengembangan dan penyesuaian fitur-fitur dalam aplikasinya. Selain itu, penggunaan aplikasi transportasi seperti Grab dan Gojek yang diaplikasikan secara online lebih diminati masyarakat karena lebih cepat dan sangat fleksibel sementara BRT mesti menunggu pada halte yang disediakan dengan perkiraan waktu yang tidak menentu.
BUMDes as an Arena for Contesting Local Economic Policies: A Review of Village Government Politics in Enrekang Regency Hawing, Hardianto; Hamrun, Hamrun; Karim, Abdul; Wibowo, Yudhi Abdi
Amkop Management Accounting Review (AMAR) Vol. 6 No. 1 (2026): January - June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/amar.v6i1.3684

Abstract

Village-Owned Enterprises (BUMDes) are designed as strategic instruments to strengthen local economic development and increase village independence. However, in practice, village-owned enterprises function not only as economic entities but also as arenas for policy contestation involving power relations within village government. This study aims to analyze village-owned enterprises as an arena for local economic policy contestation by examining the political dynamics of village government in Enrekang Regency. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation studies. The results show that the process of formulating and implementing village-owned enterprise policies is influenced by the interaction of interests between the village head, village officials, the village consultative body, and local elites. This contestation has resulted in weak management professionalism, limited community participation, and the suboptimal contribution of village-owned enterprises to village economic growth. This study also found that strengthening participatory governance, institutional accountability, and digital-based transparency has the potential to reconstruct the role of village-owned enterprises as instruments for inclusive and sustainable local economic policy.