Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Kesepian sebagai prediktor agresi verbal di media sosial pada dewasa awal Putri Amaliah Putri Amaliah; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 1 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036123000

Abstract

Kasus agresi verbal di media sosial semakin, ditunjukkan oleh berbagai komentar bernada kasar, hinaan, serta ujaran kebencian yang ditujukan kepada figur publik maupun pengguna lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesepian terhadap perilaku agresi verbal di media sosial pada dewasa awal di wilayah Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian kausalitas dengan sampel 385 dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial di Kabupaten Karawang. Metode pengambilan sampel adalah non-probability sampling dengan teknik snowball sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan skala psikologi jenis likert yaitu skala Verbal Aggressiveness Scale (VAS) dari Infante & Wigley dan skala UCLA Loneliness Scale (versi 3 ) dari Russell. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka Ha diterima dan H0 ditolak, artinya ada pengaruh antara kesepian terhadap agresi verbal pada dewasa awal di Kabupaten Karawang. Kesepian memengaruhi agresi verbal sebesar 54,2%.
Resiliensi Remaja di Karawang dengan Orang Tua Bercerai: Ditinjau dari Self-Esteem dan Religiusitas Hanan Triatusholihah; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 12 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v7i12.9989

Abstract

The high divorce rate in Karawang has a significant impact on the psychological condition of adolescents, particularly in relation to their ability to adapt positively, or what is known as resilience. This study aims to determine the influence of self-esteem and religiosity on resilience in adolescents with divorced parents. Using a quantitative approach with a causal associative design, this study involved 395 respondents aged 10–21 years in Karawang with divorced family backgrounds. This study used the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) to measure self-esteem, the Centrality of Religiosity Scale (CRS) to measure religiosity, and the Resilience Quotient Scale (RQ) to measure resilience. Simultaneously, self-esteem and religiosity contributed 12.4% to resilience, with religiosity playing a more dominant role than self-esteem. The results of this study also showed that self-esteem had a positive and significant effect on adolescent resilience (t = 2.257; p = 0.025). Religiosity also has a positive and significant effect on adolescent resilience (t = 6.020; p = 0.000). The findings of this study confirm that higher levels of self-esteem and religiosity contribute to increased resilience in adolescents in coping with the impact of parental divorce.
DIGITAL WELL-BEING REMAJA: PSIKOEDUKASI UNTUK MENJAGA KESEIMBANGAN ANTARA DUNIA NYATA DAN DUNIA MAYA Ananda Saadatul Maulidia; Devi Marganing Tyas; Juan Berlianto Wahyudi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): NOPEMBER
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v8i2.5671

Abstract

ABSTRACTThe Digital Well-Being Psychoeducation Program was implemented at SMKN 2 Cikarang Barat to enhance students’ understanding and awareness of healthy, balanced, and responsible technology use. The program involved 40 students from grades X and XI, aged 15 to 18 years old. The learning materials covered key topics including the digital world and its psychological impacts, strategies for managing screen time, digital literacy, and the development of essential psychological skills such as self-esteem and assertive communication. The sessions were designed to be interactive and reflective, integrating discussions, educational games, and contextual activities that resonated with students’ everyday digital experiences. Results from the pre-test and post-test demonstrated a notable increase in comprehension, with the proportion of students classified as having “good knowledge” rising from 27.5% to 62.5%. Beyond cognitive improvement, students’ reflective feedback indicated positive growth in digital awareness and self-regulation, such as better time management, more critical evaluation of online information, and improved balance between online and offline activities. As part of the program’s sustainability efforts, a follow-up initiative was developed through the creation of a Digital Well-Being school wall magazine and the use of the school’s official social media platforms to showcase student-produced educational content. These initiatives aim to nurture a lasting culture of digital wellness and literacy within the school community. Overall, the findings suggest that psychoeducation serves not only to strengthen digital literacy but also to foster a reflective, empathetic, and sustainable approach to digital well-being among adolescents.Keywords: Psychoeducation, Digital Well-Being, Digital Literacy, Adolescents ABSTRAKProgram Psikoedukasi Digital Well-Being dilaksanakan di SMKN 2 Cikarang Barat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa mengenai penggunaan teknologi yang sehat, seimbang, dan bertanggung jawab. Kegiatan ini melibatkan 40 siswa kelas X dan XI berusia 15–18 tahun, dengan materi meliputi dampak psikologis kehidupan digital, pengelolaan waktu layar, literasi digital, serta keterampilan pribadi seperti harga diri dan komunikasi asertif. Kegiatan dirancang secara interaktif dan reflektif melalui diskusi, permainan, dan aktivitas yang relevan dengan kehidupan digital siswa sehari-hari. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, dengan kategori “pengetahuan baik” meningkat dari 27,5% menjadi 62,5%. Siswa juga melaporkan peningkatan kemampuan dalam mengatur waktu, berpikir kritis terhadap informasi daring, serta menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan offline. Sebagai upaya keberlanjutan, siswa membuat mading Digital Well-Being dan membagikan konten edukatif melalui mediaKata Kunci: Psikoedukasi, Kesejahteraan Digital, Literasi Digital, Remaja
Orang Tua Dan Anak : Sinergi Dalam Proses Pembelajaran Anak Usia Dini Devi Marganing Tyas; Yulyanti Minarsih; Ananda Saadatul Maulidia; Bramusti Aji Prabowo; Vania Zaimatun Nisa
KOLONI Vol. 3 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v3i4.700

Abstract

: This study aims to explore parental involvement in supporting early childhood learning processes, focusing on forms of involvement, influencing factors, and their impacts on children’s development. The background of this research is based on the importance of education during the golden age (0–6 years) in shaping the foundation of children’s cognitive, socio-emotional, and moral development. The method used is a descriptive qualitative approach with 3 parents of kindergarten students in Klaten as research subjects. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, analyzed using triangulation techniques to ensure validity. The findings reveal that parental involvement, such as assisting children in learning, providing emotional support, and maintaining consistency in learning methods at home, significantly impacts children’s academic abilities, social-emotional skills, and learning motivation. Major challenges identified include parents' busy schedules, lack of understanding of their roles, and the perception that education is solely the school’s responsibility. The study concludes that synergy between family and school is crucial to optimize early childhood development. This research offers practical recommendations to strengthen parental involvement through parenting training and collaborative programs with schools.
TEKANAN SANDWICH SYNDROME: MENGUNGKAP DUKUNGAN SOSIAL DAN KEBERSYUKURAN TERHADAP KEPUASAN HIDUP GENERASI Z DI KARAWANG Dedi Mulyani; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
Consilium: Education and Counseling Journal Vol 6 No 2 (2026): Edisi In Progres Agustus
Publisher : Biro 3 Kemahasiswaan dan Kerjasama Universitas Abduracman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/consilium.v6i2.8517

Abstract

Fenomena sandwich syndrome sudah dialami oleh generasi Z yang harus menyeimbangkan kebutuhan pribadi dan keluarga sekaligus wajib bertanggung jawab terhadap orang tua. Kepuasan hidup individu dapat terpengaruh oleh kondisi ini, terutama karena adanya tekanan finansial, emosional, dan psikologis. Dukungan sosial dan kebersyukuran dipandang sebagai faktor yang dapat meningkatkan kepuasan hidup generasi Z dengan sandwich syndrome. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial dan kebersyukuran terhadap kepuasan hidup generasi Z dengan sandwich syndrome di Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan metode snowball sampling. Penelitian ini melibatkan 385 sampel yang diperoleh berdasarkan rumus cochran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dukungan sosial dan kebersyukuran memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan hidup generasi Z dengan sandwich syndrome di Karawang. Kebersyukuran memiliki fungsi internal sebesar 2,1% yang membantu individu memaknai kehidupannya secara positif, sedangkan dukungan sosial adalah faktor yang paling dominan sebesar 57% dalam meningkatkan kepuasan hidup.