Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat - Deteksi Dini Penyakit Metabolik Melalui Penapisan Gula Darah, Asam Urat Dan Komposisi Tubuh Pada Populasi Dewasa Santoso, Alexander Halim; Kurniawan, Joshua; Gaofman, Brian Albert; Lumintang, Valentino Gilbert; Jaya, I Made Satya Pramana; Rayhan, Naufal
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 4 (2024): Journal Of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i4.1301

Abstract

The human body consists of four components at the molecular level: water, fat, protein and minerals. As we age, there can be an increase in fat mass and a decrease in muscle mass. A high proportion of body fat has a greater risk of cardiovascular disease, obesity, type 2 diabetes, several types of cancer, and premature death. Diabetes mellitus is a chronic disease characterised by increased blood sugar levels due to impaired insulin metabolism. Uncontrolled type 2 diabetes mellitus can result in significant complications such as cardiovascular disease, diabetic nephropathy (kidneys), diabetic retinopathy (eyes), neuropathy (nerves), and impaired wound healing. Hyperuricemia is an increase in uric acid levels above normal values. Hyperuricemia can increase the risk of cardiovascular disease, metabolic syndrome, and kidney stones. We conducted this early detection activity at Kalam Kudus Middle School, where the average age of the participants was 39 years. Based on the examination results, the average results for blood sugar levels, uric acid, total body fat, total body subcutaneous fat, visceral fat, and total body muscle mass were each 90 mg/dL; 4.9 mg/dL; 33.5%; 27.4%; 9%; and 24.8%. Through this activity, participants can understand the risk factors for metabolic diseases such as diabetes, hyperuremia and obesity, especially their impact on health status problems. We expect this activity to significantly improve the health and quality of life of participants.
Hubungan Kadar Vitamin D Dengan Kadar Albumin Pada Kelompok Lanjut Usia di Panti Santa Anna Ernawati, Ernawati; Charissa, Olivia; Santoso, Alexander Halim; Firmansyah, Yohanes; Wijaya, Dean Ascha; Nathaniel, Fernando; Satyanegara, William Gilbert; Sugiarto, Hans; Warsito, Jonathan Hadi; Lumintang, Valentino Gilbert; Suros, Angel Sharon
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i2.13123

Abstract

ABSTRACT Low albumin and vitamin D levels in the elderly are often due to factors such as malnutrition, inflammation, and illness. A deficiency in albumin can affect the availability of vitamin D because it binds to albumin. Maintaining normal levels of albumin and vitamin D in the elderly has positive impacts on nutrition, healing, infection prevention, and metabolic function. This cross-sectional study aimed to investigate the relationship between vitamin D levels and albumin levels in the elderly. It was conducted at Santa Anna Elderly Care Home in November 2023. The variables in this study were vitamin D levels and albumin levels. Statistical analysis was performed using the Mann-Whitney test. Out of 47 respondents, the average age was 77.55 years. Mann-Whitney test results indicated no significant relationship between 25-hydroxyvitamin D levels and albumin levels in blood serum (p-value: 0.770). The correlation between these two variables showed a negative correlation, meaning that lower levels of 25-hydroxyvitamin D were associated with higher albumin levels. This is interesting because it contradicts the research hypothesis, suggesting that albumin levels may be influenced by factors outside the variables being studied. The correlation result of 0.044 falls into the category of very weak and cannot be considered a determining variable between two variables. Further analysis using the Mann-Whitney test revealed that there was no significant relationship or difference in mean values between 25-hydroxyvitamin D levels in the hypoalbuminemia and normal groups (p-value: 0.919), and there was no significant relationship or difference in mean values between albumin levels in the vitamin D deficiency and normal groups. Keywords: Albumin, Elderly, Vitamin D  ABSTRAK Albumin dan vitamin D yang rendah pada lanjut usia dapat terjadi karena faktor malnutrisi, inflamasi, dan penyakit. Kekurangan albumin dapat memengaruhi ketersediaan vitamin D, hal ini disebabkan vitamin D terikat pada albumin. Memiliki kadar albumin dan kadar vitamin D yang normal pada lanjut usia berdampak positif pada status nutrisi, penyembuhan, pencegahan infeksi, dan fungsi metabolik. Penelitian potong lintang ini bertujuan mengetahui hubungan kadar vitamin D dengan kadar albumin pada lanjut usia yang dilakukan di Panti Lansia Santa Anna pada November 2023. Variabel dalam penelitian ini adalah kadar vitamin D dan kadar albumin. Analisis statistik menggunakan uji Mann Whitney. Dari 47 responden, rata-rata usia adalah 77,55 tahun. Hasil uji Mann Whitney menyatakan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar 25-hidroksi vitamin D dengan kadar albumin dalam serum darah (p-value: 0,770). Hasil korelasi antara kedua variabel tersebut menunjukan korelasi negatif yang berarti semakin rendah kadar 25-hidroksi vitamin D maka akan semakin tinggi kadar albumin. Hal ini cukup menarik dikarenakan berlawanan dengan hipotesis penelitian yang berarti pula sebenarnya kadar albumin disebabkan oleh banyak faktor di luar variabel yang diteliti. Hasil korelasi 0,044 masuk dalam kategori sangat lemah dan tidak dapat diperhitungkan sebagai variabel penentu antara kedua variabel. Hasil analisis lanjutan dengan uji Mann Whitney didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan atau perbedaan rerata yang bermakna antara kadar 25-hidroksi vitamin D pada kelompok hipoalbumin maupun kelompok yang normal (p-value: 0,919) serta tidak terdapat hubungan atau perbedaan rerata yang bermakna antara kadar albumin pada kelompok defisiensi vitamin D dan kelompok normal. Kata Kunci: Albumin, Lanjut Usia, Vitamin D
Association Of Anthropometric Measurement, Uric Acid, Vitamin D, Albumin, And Diabetes Mellitus With Frailty In The Elderly A Study At Bina Bhakti Elderly Home Santoso, Alexander Halim; Martin, Alfianto; Jap, Ayleen Nathalie; Lumintang, Valentino Gilbert; Alvianto, Fidelia
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KEDOKTERAN Vol. 4 No. 1 (2025): April : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrike.v4i1.4929

Abstract

Frailty is a common syndrome in older adults, marked by declining physiological reserves and increased vulnerability to adverse health outcomes. It impacts quality of life and links to higher morbidity, mortality, and healthcare needs. Identifying frailty markers early helps prevent or delay its onset. In Indonesia, frailty affects 10–20% of the elderly, with higher rates in rural areas and those over 75, driven by poor nutrition, chronic diseases, and limited healthcare access. This study explores these factors and their relationship with frailty in elderly residents of Bina Bhakti Elderly Home. This cross-sectional study analyzed anthropometric measurement, uric acid, vitamin D, albumin, and diabetes mellitus with frailty in 42 elderly residents, excluding those with cognitive impairments, acute illnesses, or psychiatric disorders. The analysis identified fasting blood glucose, HbA1c, and albumin as significant predictors of frailty, highlighting the importance of glucose regulation and nutritional status in frailty risk among the studied population. Fasting blood glucose, HbA1c, and albumin emerged as key predictors of frailty, highlighting the roles of glycemic control and nutritional health in reducing frailty risk. Lower fasting blood glucose and higher albumin levels were protective, while higher HbA1c increased vulnerability. Targeted interventions in these areas may effectively mitigate frailty risk.
PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN MENGENAI PENYAKIT GINJAL KRONIS MELALUI EDUKASI SKRINING FUNGSI GINJAL Hendrawan, Siufui; Alvianto, Fidelia; Lumintang, Valentino Gilbert
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i3.29755

Abstract

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan kondisi medis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan, yang dapat berkembang menjadi gagal ginjal kronis. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining fungsi ginjal dan edukasi mengenai PGK dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan deteksi dini PGK pada populasi lanjut usia. Metode PDCA diterapkan dalam kegiatan ini yang dilaksanakan dengan melakukan sesi edukasi dan skrining fungsi ginjal. Hasil skrining menunjukkan rata-rata usia peserta 74,05 tahun dengan 20,4% laki-laki dan 79,6% perempuan. Sebanyak 86% memiliki kadar kreatinin normal, sementara 14% mengalami hiperkreatininemia. Laju filtrasi glomerulus (eLFG) rata-rata adalah 62,89 mL/menit/1,73 m², dengan 50,5% responden memiliki eLFG normal dan 49,5% mengalami penurunan eLFG. Analisis jenis kelamin menunjukkan 84,2% laki-laki dan 86,5% perempuan memiliki kadar kreatinin normal, dengan 15,8% laki-laki dan 13,5% perempuan mengalami hiperkreatininemia. Hasil ini menekankan pentingnya pemantauan rutin fungsi ginjal dan edukasi kesehatan dalam upaya pencegahan dan manajemen PGK pada lansia, sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan kualitas hidup dan pengurangan risiko komplikasi PGK pada lansia.
PENCEGAHAN HIPERURESEMIA DAN OBESITAS MELALUI SKRINING KADAR ASAM URAT DAN STATUS GIZI PADA DEWASA USIA PRODUKTIF DI JAKARTA BARAT Santoso, Alexander Halim; Gunawan, Shirly; Lo, Geoffrey Christian; Pramana Jaya, I Made Satya; Lumintang, Valentino Gilbert
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i2.29277

Abstract

Hyperuricemia is a pathophysiological condition associated with chronic inflammatory diseases such as rheumatoid arthritis, diabetes, and cardiovascular and renal diseases. Hyperuricemia is related to lifestyle. Elevated serum uric acid levels can be a marker for metabolic syndrome which generally occurs in adults. So far it is not known what the prevalence of hyperuremia and obesity is among members of the Kodim XXX team and adults of productive age in West Jakarta. Promotion of healthy lifestyles and prevention of disease are fundamental principles behind public health and improving public health. Measuring uric acid levels can prevent acute attacks of gout. Anthropometry is a measurement method used to assess the size, proportions and composition of the human body. The results of anthropometric measurements can be used to assess nutritional status. The target of this activity is the XXX Kodim Team and the adult community of productive age in West Jakarta. The aim of this service is to obtain an overview of uric acid and nutritional status in the Kodim XXX team and adults of productive age so that they can prevent the occurrence of metabolic syndrome in the future.
Skrining Komprehensif Status Gizi dan Komposisi Tubuh pada Populasi Dewasa di Kelurahan Jelambar Wijaya, Bryan Anna; Lumintang, Valentino Gilbert; Dewanto, Paulus Gegana Thery; Santoso, Alexander Halim
Jurnal Pengabdian West Science Vol 4 No 12 (2025): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v4i12.2958

Abstract

Sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, dipicu oleh gaya hidup modern, urbanisasi, dan pola makan tinggi kalori. Di Indonesia, prevalensi sindrom metabolik mencapai sekitar 21,66%, dengan tingkat tertinggi tercatat di daerah perkotaan seperti Jakarta. Hal ini menyoroti pentingnya deteksi dini status gizi dan komposisi tubuh sebagai langkah pencegahan strategis terhadap gangguan metabolik. Kegiatan pelayanan masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining komprehensif terhadap status gizi dan komposisi tubuh di kalangan dewasa di Kecamatan Jelambar, Jakarta Barat. Penilaian meliputi pengukuran Indeks Massa Tubuh (BMI), lingkar tubuh, ketebalan lipatan kulit, dan analisis komposisi tubuh menggunakan alat analisis komposisi tubuh. Sebanyak 46 peserta berusia 20–63 tahun secara sukarela mengikuti program ini. Rata-rata BMI adalah 24,24 ± 4,25 kg/m², diklasifikasikan sebagai normal hingga kelebihan berat badan, dengan rata-rata lingkar pinggang 80,79 ± 11,47 cm yang menunjukkan kecenderungan obesitas sentral. Perempuan menunjukkan persentase lemak subkutan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, sementara laki-laki memiliki massa otot skeletal yang lebih besar. Variasi terkait usia menunjukkan penumpukan lemak yang meningkat dan penurunan massa otot secara bertahap selama masa dewasa tengah. Temuan ini menyoroti pentingnya pemantauan rutin status gizi dan komposisi tubuh sebagai pendekatan promotif-preventif untuk mengurangi risiko sindrom metabolik dan mendukung peningkatan kesehatan komunitas perkotaan.
STRATEGI PROMOTIF-PREVENTIF MELALUI SKRINING INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DAN KOMPOSISI TUBUH DALAM MENJAGA KESEHATAN MASYARAKAT Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna; Lumintang, Valentino Gilbert; Dewanto, Paulus Gegana Thery
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 3 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v3i6.3260

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk menerapkan strategi promotif–preventif melalui skrining indeks massa tubuh (IMT) dan komposisi tubuh sebagai upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya pada populasi lanjut usia. Metode pengabdian yang digunakan adalah pendekatan skrining berbasis komunitas dengan model Plan–Do–Check–Action (PDCA) yang dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan pemeriksaan IMT dan analisis komposisi tubuh menggunakan bioelectrical impedance analysis (BIA), evaluasi hasil berdasarkan kriteria WHO Asia-Pasifik, serta tindak lanjut berupa edukasi dan konseling kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dari 99 partisipan, lebih dari separuh berada pada kategori overweight hingga obesitas, dengan rerata IMT sebesar 24,23 kg/m², disertai tingginya persentase lemak tubuh dan kecenderungan penurunan massa otot rangka, terutama pada kelompok usia lanjut dan perempuan, yang mengindikasikan risiko sarkopenia–obesitas dan gangguan kardiometabolik. Simpulan, bahwa skrining IMT dan komposisi tubuh berbasis komunitas merupakan strategi promotif–preventif yang efektif, praktis, dan aplikatif untuk deteksi dini obesitas, peningkatan kesadaran kesehatan, serta sebagai dasar perencanaan intervensi gaya hidup sehat guna mendukung pencegahan penyakit tidak menular dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.  
Skrining Indeks Massa Tubuh, Lemak Viseral, Lemak Subkutan, dan Massa Otot Rangka pada Karyawan Perkantoran di Kawasan Sudirman, Jakarta Kosasih, Robert; Santoso, Alexander Halim; Teguh, Stanislas Kotska Marvel Mayello; Lumintang, Valentino Gilbert; Khoto, Anthon Eka Prayoga
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/7p6pzp58

Abstract

Pendahuluan: Kelebihan lemak tubuh, khususnya lemak viseral, merupakan salah satu faktor risiko utama yang berhubungan dengan penyakit metabolik dan kardiovaskular. Indeks Massa Tubuh (IMT) sering digunakan sebagai indikator status gizi, namun tidak selalu mencerminkan distribusi lemak tubuh secara akurat. Oleh karena itu, pemeriksaan komposisi tubuh menjadi langkah penting dalam mendeteksi dini risiko kesehatan pada kelompok pekerja yang cenderung memiliki gaya hidup sedentari. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai status gizi dan komposisi tubuh karyawan perkantoran di kawasan Sudirman Jakarta melalui skrining IMT dan komposisi tubuh dengan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) yang terintegrasi dengan edukasi kesehatan. Metode: Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Pada tahap Plan, dilakukan persiapan meliputi koordinasi teknis, penyiapan alat ukur, serta penyusunan materi penyuluhan. Tahap Do mencakup pelaksanaan sesi edukasi kesehatan interaktif mengenai pentingnya gizi seimbang, risiko obesitas abdominal, dan peran massa otot dalam metabolisme tubuh. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan antropometri berupa pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), serta pengukuran komposisi tubuh menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Parameter yang diukur meliputi lemak tubuh total, lemak viseral, lemak subkutan, dan massa otot rangka. Pada tahap Check, hasil pengukuran dianalisis dan disampaikan secara individual kepada peserta, disertai konseling singkat mengenai strategi modifikasi gaya hidup sehat. Tahap Action dilakukan melalui evaluasi kegiatan berdasarkan tingkat partisipasi dan umpan balik peserta untuk menyusun rekomendasi keberlanjutan program edukasi kesehatan di tempat kerja. Hasil: Rata-rata IMT peserta berada pada kategori overweight dengan variasi dari kurus hingga obesitas. Sebagian besar peserta memiliki kadar lemak tubuh dan lemak viseral yang melebihi batas normal, sementara massa otot rangka relatif rendah. Kondisi ini memperlihatkan ketidakseimbangan komposisi tubuh yang berpotensi meningkatkan risiko sindrom metabolik. Temuan tersebut menegaskan bahwa skrining berbasis BIA mampu mengungkap risiko yang tidak terdeteksi hanya dengan IMT. Kesimpulan: Kegiatan skrining yang dipadukan dengan edukasi kesehatan terbukti efektif dalam memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai status gizi dan risiko kesehatan peserta. Program ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan di lingkungan kerja sebagai strategi promotif-preventif dalam menurunkan risiko penyakit metabolik serta meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
Peningkatan Kesadaran Kesehatan Fisik melalui Skrining dan Edukasi Kekuatan Genggaman Tangan di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat: Enhancing Physical Health Awareness through Education and Handgrip Strength Screening in Kelurahan Kota Bambu, West Jakarta Santoso, Alexander Halim; Goh, Daneil; Lumintang, Valentino Gilbert; Amertha, Anak Agung Ngurah Putrayoga
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.116

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan fisik merupakan aspek penting dalam menunjang kualitas hidup, salah satu indikator sederhana yang dapat digunakan adalah kekuatan genggaman tangan. Pengukuran ini tidak hanya mencerminkan fungsi otot lokal, tetapi juga berkaitan dengan kondisi fungsional tubuh secara keseluruhan serta risiko gangguan metabolik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran kesehatan fisik sekaligus melakukan skrining kekuatan genggaman tangan pada masyarakat dewasa di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Juni 2025 dengan melibatkan 168 peserta yang bersedia mengikuti pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan. Metode menggunakan pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA), mencakup edukasi kesehatan, pemeriksaan genggaman tangan menggunakan dynamometer digital pada tangan kanan dan kiri, serta konseling singkat terkait hasil pengukuran. Hasil: Data pemeriksaan menunjukkan rata-rata kekuatan genggaman tangan kanan 25,28 kg dan tangan kiri 22,25 kg, dengan sebaran yang cukup bervariasi. Distribusi histogram memperlihatkan bahwa sebagian besar peserta berada pada kisaran nilai menengah, meskipun terdapat beberapa nilai ekstrem terutama pada tangan kanan. Kesimpulan: Hasil pemeriksaan ini menegaskan bahwa pemeriksaan genggaman tangan dapat menjadi alat skrining sederhana namun bermakna untuk mendeteksi variasi kapasitas otot dalam masyarakat. Integrasi edukasi dan pengukuran genggaman tangan di tingkat komunitas berpotensi meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kekuatan otot, sekaligus mendorong penerapan pola hidup aktif untuk mencegah penurunan fungsi fisik di masa depan.