Claim Missing Document
Check
Articles

PENGOLAHAN SAMPAH BERBASIS ENERGI TERBARUKAN DAN PENERAPAN SAMPAH DAUR ULANG PADA MATERIAL BANGUNAN DI TPST BANTARGEBANG Helen Agnesia; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12492

Abstract

The waste in the integrated waste treatment place (TPST) Bantargebang has been piling up, and a lack of action in the waste processing system. As a result of the garbage causing unpleasant odors, groundwater contamination, and disease for the surrounding environment, so to solve this problem, a waste management site is designed. This project aims to reduce waste and pollution and wants to utilize/recycle waste into a valuable thing. The research methods through literature studies and applying the 5R principle (Reduce, Reuse, Recycle, Resell, and Reshare) in the building can help reduce waste and pollution. Waste processing is processed through technology that produces renewable energy, namely RDF (Refuse Derived Fuel), a fuel substitute for coal. Then, recycled waste is used for building materials in a project, such as plastic bottles and glass bottles. Hopefully, this project can benefit the surrounding environment and provide an example that waste is not a worthless item, but many benefits can be done in recycling waste. Keywords: Renewable energy; Waste processing; Recycled waste materials; Refuse Derived Fuel; TPST Bantargebang.AbstrakSaat ini, sampah di Tempat Pembuangan Sampah Tepadu (TPST) Bantargebang mengalami menumpukkan sampah yang telah menggunung dan kurangnya tindakan dalam sistem pengolahan sampahnya. Akibat dari sampah tersebut menimbulkan bau tak sedap, air tanah tercemar dan adanya penyakit bagi lingkungan sekitar. Untuk mengatasi hal tersebut, dirancang sebuah tempat pengolahan sampah. Tujuan dari proyek ini yaitu untuk mengurangi sampah serta pencemarannya dan ingin memanfaatkan/mendaur ulang sampah menjadi barang yang bernilai. Dengan melakukan metode penelitian melalui studi literatur dan menerapakan prinsip 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Resell dan Reshare) pada bangunan sehingga dapat mengurangi sampah serta pencemaran yang telah terjadi. Pengolahan sampah akan diolah melalui teknologi yang menghasilkan energi terbarukan yaitu RDF (Refuse Derived Fuel), bahan bakar pengganti batu bara. Kemudian, sampah daur ulang akan dimanfaatkan untuk material bangunan pada proyek seperti sampah botol plastik dan botol kaca. Diharapkan proyek ini dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya dan dapat memberikan contoh kepada masyarakat bahwa sampah bukan barang yang tidak bernilai tetapi banyak manfaat yang dapat dilakukan dalam mendaur ulang sampah.
KONSEP BERKELANJUTAN PADA KANTOR MILENIAL TERINTEGRASI TRANSPORT HUB DI DUKUH ATAS Andre Onggara; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4581

Abstract

As Urban Interchange of Jakarta, Transport Hub is a key to promote sustainable transportation and mobility and to promote the use of public transportation. Dukuh Atas, as an interchange  between  major public transportation such as : MRT, LRT, KRL Sudirman, and KRL Bandara has become Transit Oriented Development based on masterplan of Dukuh Atas by Government of Indonesia. Millennial Office integrated with Transport hub is a form of  integration between activity-based working space and public transportation. This kind of integration is pioneered by  type and behaviour of millennials and it resulting the change of typology. The previous typology of office and transport hub aren’t fitted to be used by millennials. This cause the evolution of transport hub as an interchange between many public transportation and private vehicle and also an activity-based office which is separate room or zone based on activity. The Notion of office and transport hub’s type are re-composed by retrospectively analyze the typology and behaviour involved in it to be integrated  with surrounding place and public transportation. Other than facilitating  the interchanging between  transportation, the architecture of Millennial Office integrated with Transport Hub at Dukuh Atas became a pioneer of a working place with transport oriented development and to  promote the use of public transportation in Jakarta. AbstrakSebagai Urban Interchange, Transport Hub merupakan kunci sukses terjadinya perpindahan dan mobilitas secara berkelanjutan dan mempromosikan penggunaan transportasi publik. Dukuh Atas yang merupakan titik pertemuan beberapa transportasi publik besar seperti: MRT, LRT, KRL Sudirman, dan KRL Bandara menjadi salah satu kawasan berorientasi transit yang sedang direncanakan oleh pemerintah DKI Jakarta dan pihak MRT. Kantor Milenial terintegrasi Transport Hub di Dukuh Atas merupakan  bentuk integrasi antara transportasi publik dengan tempat kerja dengan tipologi  berbasis aktivitas. Hal ini dipelopori oleh  tipe dan perilaku dari milenial yang mendorong pergeseran tipologi dari transport hub dan kantor. Tipologi lama dari kantor dan transport hub sudah tidak cocok untuk generasi milenial. Hal ini  mendukung usulan desain transport hub sebagai tempat transit memiliki integrasi ke beberapa transportasi publik dan pribadi dan kantor berbasis aktivitas yang tidak dibatasi dalam cubicle atau ruang individual. Konsep tipologi dari transport hub dan kantor di komposisi ulang dengan metode kualitatif dengan melihat tipologi terdahulunya secara retrospektif dan menganalisis perilaku didalamnya, yang menghasilkan tipologi kantor dan transport hub menjadi satu kesatuan bangunan terintegrasi yang juga terhubung dengan daerah dan fasilitas transportasi publik sekitar. Selain sebagai sarana integrasi transportasi publik sekitar, arsitektur Kantor Milenial terintegrasi Transport Hub menjadi pelopor tempat  kerja yang berorientasi transit dan mendorong penghuninya untuk lebih menggunakan transportasi publik guna mengurangi polusi dan kemacetan di kota Jakarta.
WADAH PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK LEWAT BERMAIN DI CENGKARENG BARAT Kreszen Himawan; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10916

Abstract

Childhood is a stage in life where a children's foundation is starting to be built to prepare them for all aspects of life in adulthood. It is a stage where children learn and understand how to behave from the environment they live in. Childhood delinquency and immorality can continue up to adulthood. If that happens, it will affect the family's dwelling experience, the environment, and the child itself. That way, character building in childhood becomes very important. Children need moral and social education and training. The character education in elementary schools in Indonesia, one of the sources for the acquisition of knowledge for Indonesian children, is proven ineffective. A Place for Child’s Character Building in West Cengkareng aims to instill moral character values into children by giving moral lessons through play because play is an important component for child development. With the child-centric design method, children can freely and safely explore and use their imagination and creativity. This project is expected to be able to make children noble, confident, and responsible in interacting with the social and natural environment and living in society through pretend play, cooperative play, moral story books, moral films, dramatic role plays, service learning, and caring for animals and plants. The project is located close to the primary schools in West Cengkareng, acting as an educational facilities are located close to them to support character education in their schools. This project aims to create dwelling that prevents adult crime that is safe and enjoyable. Keywords:  play; child-centric design; dwelling; moral; character building AbstrakMasa kanak-kanak adalah masa dibangunnya pondasi anak untuk menjalani semua aspek kehidupan di masa dewasa, dimana anak-anak belajar, mengenal, mengetahui, dan mengerti cara bersikap dan berperilaku dari lingkungan sekitarnya. Kenakalan dan ketidakmoralan pada masa kanak-kanak mempunyai potensi untuk berlanjut dan bertumbuh menjadi kriminalitas pada masa dewasa. Jika hal tersebut terjadi, akan mempengaruhi pengalaman dwelling keluarga, lingkungan, dan anak itu sendiri. Dengan begitu, pembentukan karakter pada masa kanak-kanak menjadi sangat penting. Anak membutuhkan pendidikan dan pelatihan moral dan sosial. Pendidikan karakter di sekolah dasar di Indonesia, salah satu sumber terutama untuk pemerolehan ilmu dan pendidikan bagi anak Indonesia terbukti kurang efektif. Wadah Pembentukan Karakter Anak Lewat Bermain di Cengkareng Barat sebagai proyek bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter bermoral ke dalam anak dengan memberi pelajaran moral menggunakan metode bermain, karena bermain berupa komponen penting bagi perkembangan anak. Dengan metode perancangan child-centric design, anak-anak dapat secara bebas dan aman bereksplorasi dan menggunakan imajinasi dan kreativitasnya. Proyek ini diharapkan dapat membuat anak menjadi berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial dan alam, dan hidup bermasyarakat melalui pretend play, cooperative play, buku cerita bermoral, film bermoral, dramatic role play, service learning, dan memelihara hewan dan tumbuhan. Proyek berada dekat dengan sekolah-sekolah dasar di Cengkareng Barat, sebagai fasilitas edukatif yang terletak dekat dengannya untuk mendukung pendidikan karakter di sekolahnya. Proyek bertujuan untuk menciptakan dwelling yang mencegah kriminalitas masa dewasa yang aman dan menyenangkan.
RUANG KERJA DAN RELAKSASI BIOFILIK MASA DEPAN DI TUGU UTARA Yoseph Michael Chandra; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10776

Abstract

In dwelling, humans will always adapt to all changes that occur to stay alive and exist. With the COVID-19 pandemic, there have been many changes, one of which is in the way we work. Responding from WFH (Work From Home) to the COVID-19 Pandemic and Future Work Trends (remote working) which cause various problems (anxiety, loss of restroom, etc.) and the need to work, there is a need for projects that can accommodate Work Near Home, Relaxation, Social Interaction, and Connection to Nature. The Project consists of two programs, namely active and passive leisure programs, and co-working. The project also responds primarily to the millennial generation and Gen Z workers. Where it is hoped that these two programs can maintain a work-life balance and balance between the realm, natural, and digital world. For the applied design concept, the project has a cluster typology. Each cluster consists of several masses, varied programs, and each space becomes its mass. The Biophilic concept is also applied to design. The first aspect is Visual & Non-visual Connection to Nature, by presenting vegetation elements around the site and around the mass of the building, which aims to create a new work experience and relaxation. The second aspect is Biomorphic Form & Pattern, where the patterns formed are representations of living things. The building masses is inspired by the leaves of the lotus plant which influence the shape, size, and placement of the masses. The water element is added to create a floating impression like a lotus. So that with the creation of this project, it can fulfill dwelling in work and relaxation. Keywords: Bio-Philic; Cluster; COVID-19; Work Near Home Abstrak Dalam ber-dwelling, manusia akan selalu beradaptasi terhadap segala perubahan yang terjadi agar dapat tetap hidup dan ada (exist). Dengan adanya Pandemi COVID-19, menciptakan banyak perubahan, salah satunya terhadap cara kita bekerja. Merespon dari WFH (Work From Home) akan Pandemi COVID-19 dan Trend Bekerja Masa Depan (remote working) yang menimbulkan berbagai masalah (anxiety, kehilangan ruang istirahat, dll) dan kebutuhan akan bekerja, maka muncul kebutuhan akan proyek yang dapat mewadahi Work Near Home Relaksasi, Interaksi Sosial serta Koneksi Ke Alam. Proyek ini terdiri atas dua program yaitu program Leisure aktif dan pasif serta Co-working. Proyek pun merespon terutama terhadap pekerja generasi milenial dan gen Z. Kedua program tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan work life balance serta keseimbangan antara dunia realita, alam dan digital. Untuk konsep desain yang diterapkan, proyek memiliki tipologi kluster. Setiap kluster terdiri atas beberapa massa, program yang bervariasi dan setiap ruang menjadi massa sendiri. Konsep Biofilik juga diterapkan pada rancangan. Aspek pertama adalah Visual & Non visual Connection to Nature, dengan menghadirkan elemen vegetasi pada sekeliling tapak dan sekitar massa bangunan, yang bertujuan menciptakan pengalaman kerja dan relaksasi baru. Aspek kedua adalah Biomorphic Form & Pattern, melalui pola-pola yang terbentuk sebagai representasi dari makhluk hidup. Massa Bangunan terinspirasi dari daun tanaman teratai yang mempengaruhi bentuk, ukuran dan peletakan massa. Elemen air pun ditambahkan untuk menciptakan kesan mengambang layaknya teratai. Sehingga dengan terciptanya proyek ini, dapat memenuhi dwelling dalam bekerja dan relaksasi.
SANTA.Y - SEBUAH PASAR TRADISIONAL BARU Amanda Ineza Gandasasmita; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10828

Abstract

The Covid-19 pandemic case, which until now has no solution, causes us to live in the new normal era. But this new normal era has not completely prevented the spread of Covid-19. Many areas are feared to become new clusters of deployment and one of them is traditional markets. For millions of people in Indonesia, traditional markets are on average the first place to shop for daily necessities, apart from being more affordable than supermarkets, there is an opportunity to bargain on prices. Since the outbreak of the Covid-19 case, the income of traders has decreased because people are afraid to shop at traditional markets for reasons that health and hygiene are not guaranteed. Many new policies in the new normal era have not helped to restore the economy of traders and are also exacerbated by a lack of public understanding Covid-19. Santa modern market is one of the thematic markets which is quite well known, but over time, Santa modern market is starting to be abandoned. Then it is also exacerbated by the influx of pandemic which causes economic losses to its traders. So, this project is trying to make a new face about traditional markets in Indonesia and also presents a solution for the traditional market of the future. With a green concept in buildings and implementing a cross-ventilation system to prevent the spread of Covid-19, this project goals is to “Santa modern market” able to dwell during a pandemic to the future. Keywords: Covid-19; Dwelling; New Normal; Traditional Market Abstrak Kasus pandemi Covid-19 yang sampai sekarang belum ada solusinya menyebabkan kita harus hidup di era new normal. Tetapi era ini belum sepenuhnya dapat mencegah penyebaran Covid-19. Banyak area yang dikhawatirkan akan menjadi cluster baru penyebaran dan salah satunya adalah pasar tradisional. Untuk jutaan orang di Indonesia, pasar tradisional rata-rata menjadi tempat pertama untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, selain karena harganya yang lebih terjangkau dibanding pasar swalayan, ada keesmpatan untuk tawar menawar harga. Semenjak maraknya kasus Covid-19, pendapatan pedagang menurun karena masyarakat takut untuk berbelanja ke pasar tradisional dengan alasan kesehatan dan kebersihan yang belum terjamin. Banyak kebijakan baru di era new normal yang ternyata tidak membantu untuk mengembalikan ekonomi para pedagang dan juga diperparah dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang bahaya Covid-19. Pasar Santa merupakan salah satu pasar tematik yang cukup terkenal tetapi seiring berjalannya waktu, pasar Santa mulai ditinggalkan. Kemudian hal ini juga diperparah dengan masuknya pandemi yang menyebabkan kerugian ekonomi para pedagangnya. Sehingga proyek ini berusaha untuk membuat suatu wajah baru tentang pasar tradisional di Indonesia dan juga menghadirkan suatu solusi untuk pasar tradisional di masa depan. Dengan konsep hijau di dalam bangunan dan menerapkan sistem cross-ventilation­ untuk mencegah penyebaran Covid-19 bertujuan untuk menjadikan pasar Santa untuk dapat ber-dwelling di tengah pandemi hingga masa depan.
PENERAPAN SELF-SUFFICIENT PADA REDESAIN RUMAH SUSUN KEBON KACANG Silvia Silvia; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12490

Abstract

House is the safest place to avoid Covid-19. The lives of people who live in landed houses and flats are different. People's lives have changed drastically from all aspects, namely health, economic, social, and other aspects. This Covid-19 condition requires people to stop doing normal activities temporarily. This condition can be done by redesigning old flats as a solution, such as the Kebon Kacang flats. In addition to being old, this flat is also getting shabby, not to mention its strategic location in the middle of a city that should have potential. Kebon Kacang flats project aims explicitly at the residents of the flats by offering facilities to fulfill their daily activities and needs to avoid Covid-19. In addition, redesign tends to play an essential role in the environment, such as providing needs for residents so that they do not need to travel. These also impact ecology, such as increased air quality due to the reduced use of motorized vehicles. Using analytical descriptive research methods, literature studies and case studies, and the self-sufficient design methods approach aims to make the building and occupants mutually productive and create a new sufficient habit due to this pandemic. Self-sufficient application in this project involves rainwater harvesting, food production, green roof, and green balcony. The redesign of the Kebon Kacang flats offers residential, commercial programs such as food markets, food courts, cafes/coffee shops and kiosks, education for children, facilities such as hydroponics, gyms, playgrounds, and others.Keywords: Covid-19; flats; house; redesign; self-sufficient Abstrak Rumah menjadi tempat yang paling aman untuk menghindari Covid-19, tetapi perbedaan kehidupan masyarakat yang tinggal di rumah tapak dengan rumah susun sangatlah berbeda. Kehidupan masyarakat yang berubah drastis dari segala aspek, yakni aspek kesehatan, ekonomi, sosial, dan lainnya. Dimana kondisi Covid-19 ini mengharuskan masyarakat untuk secara temporari menghentikan aktivitas normal sampai tidak tahu lamanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meredesain rumah susun yang sudah berusia tua, misalnya rusun Kebon Kacang. Selain umur bangunan sudah tua, rusun ini juga sudah semakin kumuh, belum lagi letaknya yang strategis di tengah-tengah kota yang seharusnya dapat menjadi potensi. Dengan membangun proyek redesain rumah susun Kebon Kacang khususnya ditujukan untuk penghuni rumah susun dengan menawarkan fasilitas-fasilitas untuk memenuhi aktivitas dan kebutuhan sehari-hari mereka, serta sistem untuk menghindari Covid-19. Selain itu dengan redesain cenderung berperan penting terhadap lingkungan, selain menyediakan kebutuhan untuk penghuni sehingga tidak perlu melakukan perjalanan, ini juga berdampak terhadap ekologi, seperti kualitas udara yang meningkat akibat berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, studi literatur dan studi kasus, dan metode perancangan self-sufficient yang bertujuan agar bangunan dan penghuni dapat saling produktif serta mengubah kebiasaan penghuni menjadi lebih mandiri terkait pandemik Covid-19. Penerapan self-sufficient pada proyek meliputi rainwater harvesting, food production, green roof, serta green balcony.  Pada redesain rumah susun kebon kacang ini menawarkan program hunian, komersial seperti food market, foodcourt, café/coffee shop dan kios, pendidikan untuk anak, fasilitas-fasilitas seperti hidroponik, gym, taman bermain, dan lainnya.
WADAH KREASI DAN REKREASI DI CENGKARENG TIMUR Michael Fernandez Karyadi; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8629

Abstract

In todays modern era, the development of industry and commerce is extremely potent, producing lots of factories, and shops ranging from large scale to micro scale. An example of the district that is known to develop in this field is East Cengkareng located in west of Jakarta.This district, this area is packed with activities, from commerce and production, ranging from big to medium to micro business. On the other hand, this district also packed by middle rank to lower rank residential, proven from the concentrated small housing despite its high-density population. The consequences of highly concentrated activities in commerce and industry is a less developed facilities and categorized as a district with the highest Environmental and health problem in Jakarta. Through observation, data collection, and interviews, the advice, and aspirations of the residents are collected and reorganized based on third place theory and nest concept producing Creation and Re-Creation Building in East Cengkareng as a building designed entirely based on the needs of the residents around to talk, relax, relieve stress, and yet remain productive. This third place encourage people to recycle and remake trash actively. Through this activity, people can increase their life’s qualities and develop their potential, socially or skillfully. This building itself is made from many kinds of trashes such as waste plastic bottles, paper scraps, wood pieces, and others that are recycled and remade into a functional and comfortable building; in other words, this building is a ‘masterpiece’ on its own built with trashes. Keywords: architecture; east cengkareng; facilities; papercraft, third place AbstrakDi era modern ini, perkembangan industri dan niaga sangatlah pesat, menghasilkan banyak pabrik-pabrik and toko-toko dari yang berskala besar hingga mikro. Salah satu contoh wilayah yang berkembang dalam bidang ini adalah Cengkareng Timur yang terletak di Jakarta. Wilayah ini memiliki aktivitas yang sangat padat, mulai dari perdagangan, produksi, mulai dari usaha besar, menengah hingga usaha mikro. Dilain sisi, wilayah ini juga padat akan pemukiman menengah dan kebawah, terlihat dari padatnya bangunan dan penduduk. Sebagai akibat dari tingginya fokus dan aktivitas masyarakat di bidang industri dan niaga, wilayah ini kekurangan fasilitas sosial dan terkategori sebagai wilayah dengan Indeks Kerawanan Lingkungan dan Kesehatan (IKLK) tertinggi se DKI-Jakarta. Melalui observasi, pengumpulan data, dan wawancara, data-data dan kebutuhan serta aspirasi masyarakat dikumpulkan dan dikelola menurut teori third place dan nest concept, sehingga menghasilkan Wadah Kreasi dan Rekreasi di Cengkareng Timur yang didesain sepenuhnya berdasarkan kebutuhan masyarakat Cengkareng Timur untuk bercengkrama, bersantai, melepas penat, dan mengisi waktu luang, namun tetap produktif. Third place ini mengajak masyarakat untuk turut aktif dalam mengolah sampah terutama sampah kertas. Melalui aktivitas ini seseorang/masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidup dan potensi dirinya, secara sosial, maupun keterampilan. Bangunan ini sendiri dibuat dari berbagai macam sampah seperti botol bekas, kertas sisa, kayu bekas dan lain-lain yang diolah Kembali dan dibentuk menjadi sebuah bangunan yang fungsional dan nyaman, dengan kata lain bangunan ini adalah ‘mahakarya’ yang terbuat dari sampah.
KONSEP DESAIN MALL EKSIBISI UNTUK STARTUP: INTEGRASI ANTAR RUANG DIGITAL DAN FISIK Evian Putra Setiawan; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4504

Abstract

The growth of ecommerce in Indonesia especially is getting vast. The millennial generation which has been the prime generator of the economics shares the most user, either becomes the seller or the buyer. In online shop, a user is immediately directed to the main page that also directs to the category of a wanted item in less than a second. Although there have been online malls, physical malls are also considered  as neccesary for most people. Sellers need space where they can storytell and introduce their newly-invented products to get recognition so people are convinced to buy online. Buyers also come to physical malls to experience things they are not able to get online, meanwhile buyers also come to physical malls to inspect the quality of the product. Through a study of online shoppers behavior with Pattern Language method, we can conclude that online shoppers’ pattern are centralized, and physical mall shoppers’ pattern are linear instead. Therefore, the design concept of startup exhibition mall with integration between digital and physical space is created by applying centralized pattern as the building circulation to solve this matter. AbstrakPertumbuhan ecommerce khususnya di Indonesia semakin meningkat. Generasi milenial yang menjadi motor utama perekonomian merupakan pengguna terbesar, baik menjadi penjual maupun pembeli. Di dalam online shop, seorang pembeli langsung diarahkan ke dalam halaman utama yang langsung mengarahkan ke halaman kategori barang yang ingin dilihat secara cepat. Meski sudah hadir online shop, mall fisik pun tetap dibutuhkan. Penjual membutuhkan sebuah tempat untuk memamerkan dan mengenalkan produk barunya agar dikenal masyarakat dan dipercaya untuk dibeli melalui online shop, sedangkan pembeli juga datang ke mall fisik karena ingin mengetahui kualitas barang yang akan dibeli, serta menginginkan experience yang baru dan berbeda. Untuk mempelajari pola perilaku pengguna online shop, maka digunakan metode pattern language, sehingga didapatkan bahwa pola pengguna pada saat berbelanja adalah terpusat, sedangkan pola pengguna mall fisik adalah linear. Untuk menjawab tantangan kesejamanan, maka dihasilkan konsep desain mall eksibisi startup dengan integrasi antar ruang digital dan fisik yang menggunakan pola terpusat sebagai pola sirkulasi di dalam bangunan. 
PENERAPAN TEKTONIKA DAN BANGUNAN MODULAR DALAM PERANCANGAN PROYEK PENGAWASAN DAN REBOISASI HUTAN BEKAS TERBAKAR Efraim Jusuf; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12488

Abstract

The phenomenon that occurs is the amount of deforestation that occurs due to forest fires during the dry season, making forest areas dry. That makes a lot of forest land that has been burned to be barren without reforestation. So that the loss of biodiversity in the forest area and damage the existing ecosystem. A project is needed to reforest burnt forest land to minimize biodiversity loss and even restore it. The research method focused on the literature related to deforestation. The design method applied is based on tectonic principles and focuses on the Knock-down system to maximize reforestation on the forest land. In addition, applying Kevin Lynch's principles in the context of the city into the forest becomes a new thought in designing a reforestation project. The presence of a reforestation project and monitoring of burned forests are expected to be an example to minimize the loss of biodiversity and even restore it so that the forest ecosystem that supports human life can survive and not be lost. Keywords: deforestation; reforestation; tectonic; knock-downAbstrakFenomena yang terjadi merupakan banyaknya deforestasi yang terjadi akibat kebakaran hutan saat musim kemarau yang membuat kawasan hutan menjadi kering. Hal ini membuat banyaknya lahan hutan yang bekas terbakar menjadi tandus tanpa dilakukannya reboisasi kembali. Sehingga hilangnya keanekaragaman hayati yang ada kawasan hutan itu dan merusak ekosistem yang ada. Diperlukannya suatu proyek untuk mereboisasi lahan hutan bekas terbakar untuk meminimalisir hilangnya keanekaragaman hayati dan bahkan mengembalikannya. Metode penelitian yang dilakukan difokuskan melalui literatur-literatur yang berhubungan dengan deforestasi. Metode desain yang diterapkan berdasarkan pada prinsip tektonik dan juga berfokus pada sistem bongkar pasang sehingga dapat memaksimalkan reboisasi pada lahan hutan tersebut. Selain itu menerapkan prinsip Kevin Lynch dalam konteks kota ke dalam hutan menjadi suatu pemikiran baru dalam merancang suatu proyek reboisasi di hutan. Hadirnya proyek reboisasi dan pengawasan hutan bekas terbakar ini diharapkan dapat menjadi salah satu contoh untuk meminimalisir hilangnya keanekaragaman hayati dan bahkan mengembalikannya sehingga ekosistem hutan yang menopang kehidupan manusia dapat bertahan dan tidak hilang.
WADAH PERTUKARAN PENGALAMAN RUANG DI MENTENG Muhammad Yumna Helmy; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6900

Abstract

The urban life is not separated from the saturation of the daily routine and activities, which causes the level of stress ratio in major cities such as Jakarta is quite high. During the demands and routine of life, many people looking for entertainment or recreation to take off the fatigue of daily activities. The role of interaction room for the people of Menteng is very important, in addition to the physical layout of the environment, the public space also bears the function and significance of social and cultural very high. However, the rapid growth of the city's demand for urban land demands increased. The privatization of land, either individually, as well as legal entities/institutions, has caused the existence of public space to be increasingly affected. Even in the crowded settlements of residents, people have no more public space adequate to host their activities. People no longer have a shared space to interact with each other, communication between citizens; children no longer have a place to play in the outside space, so that the culture of togetherness and tolerance is increasingly misguided. With the presence of this container during busy and the needs of the surrounding community, it is expected to increase the attitude of tolerance between the community and produce new activities that can increase the productivity and tolerance between the surrounding residents who have a wide impact on the region. Abstrak Kejenuhan akan rutinitas serta aktivitas harian yang serba padat mwarnai kehidupan di perkotaan, hal ini yang mengakibatkan tingkat rasio kemungkinan stress di kota-kota besar seperti Jakarta lumayan besar. Ditengah rutinitas hidup, banyak orang yang mencari hiburan maupun rekreasi untuk semata-mata melepas kepenatan dari aktivitas sehari-hari. Kedudukan ruang interaksi bagi warga Menteng sangat berarti, tidak hanya menyangkut tata ruang fisik lingkungan, ruang publik juga mengemban peranan dan arti sosial serta kultural yang sangat besar. Tetapi, perkembangan kota yang cepat mengakibatkan tuntutan kebutuhan lahan perkotaan kian bertambah. Privatisasi lahan baik secara individual ataupun badan hukum/lembaga telah menimbulkan eksistensi ruang publik kian terpinggirkan. Apalagi di permukiman-permukiman padat penghuni, warga sudah tidak mempunyai lagi ruang publik yang mencukupi untuk mewadahi aktivitas mereka. Penduduk tidak lagi mempunyai ruang bersama buat silih korelasi, komunikasi antar warga, anak-anak tidak lagi mempunyai tempat bermain yang nyaman di ruang luar, sehingga budaya kebersamaan serta toleransi terus menjadi terkikis. Dengan hadirnya wadah ini di tengah tengah kesibukan dan kebutuhan masyarakat sekitar, diharapkan dapat meningkatkan sikap toleransi antar masyarkat dan menghasilkan kegiatan kegiatan yang baru yang dapat meningkatkan produktivitas dan toleransi antar warga sekitar yang berdampak luas terhadap kawasan sekitar.
Co-Authors Aktaria Oktafiani Alicia Arleeta Amanda Ineza Gandasasmita Amanda, Gisella Thalia Andi Surya Kurnia Andre Onggara Angga Ali Putra Anggrica, Kelly Azzahrah, Fatiyah Bryan Wesley Budijanto Chandra Caroline Sunjaya Kurniawan Celine Geraldine Choandi, Mieke Coreen Katrina Tania Danarto, Agus David Drago Suherman David Priatama Sutarman Denny Husin Denny Husin Denny Husin Dwisusanto, Basuki Edy Chandra Efraim Jusuf Elysia, Elysia Evian Putra Setiawan Febrianto, Willy Steven Ferdi James Firdauzi, Fairuz Hayya Franky Liauw Friska Hasibuan Friska Mariana Helen Agnesia Husin, Denny Huvito, Nathan Joni Chin Kevin Tanamas Kreszen Himawan Kusmin, Nathaniel Avelino Larasati, Marcella Dwiyanda Lilianny Sigit Arifin Lilianny Sigit Arifin Lukardi, Kelvin Margaretha Syandi Mariana Martinus Bambang S Martinus Bambang Susetyarto Melyna Melyna Michael Fernandez Karyadi Michael Hutagalung Mieke Choandi Muhammad Yumna Helmy Naniek Widayati Priyomarsono Naniek Widayati Priyomarsono Nathanael Hanli Nathaniel Avelino Kusmin Patricia Beatrice Priyomarsono, Naniek Widayati Putri Arlastasya Maria Adi Pataka Reynaldo Reynaldo Rilatupa, James Samsu Hendra Siwi Sebastian Joe Silvia Silvia Siwi, Samsu Hendra Soenarto , Deni Solikhah, Nafiah Steven Lim Steven Lim, Steven Tanoto, Reynaldi Therina Adela Titin Fatimah Tjahya, Timmy Setiawan Veren Calisca Widyanti, Metta William William Winata, Suwardana Wiraguna, Sidi Ahyar Wong, Cellina Y. Basuki Dwisusanto Y. Basuki Dwisusanto Yoseph Michael Chandra Yuanda Saputra