Claim Missing Document
Check
Articles

PEMETAAN STRUKTUR LUAR KAMPUNG KOTA TANJUNG GEDONG Fermanto Lianto; Rudy Trisno; Mieke Choandi; Denny Husin
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v3i2.8820

Abstract

Kampung Tanjung Gedong is located at Tanjung Gedong lane. It is situated at the back of the educational area in Grogol, West of Jakarta. This kampung area is surrounded by the city’s facilities, like the University of Tarumanagara, the University of Trisakti, the Sumber Waras Hospital, other residential and commercial areas. In terms of the urban fabric, this kampung is characterized by irregularity and informality. Its streets are varied in size, meandering in shapes and forming a semi-labyrinth environment. Its inhabitants are students, laborers, street vendors, traders, etc. Despite having moderate spatial quality, Kampung Tanjung Gedong requires an improvement to be able to adapt to its context. One of the most effective solutions is to improve the condition by providing its inhabitants with education. Related to architecture, a community engagement project is planned to transfer knowledge by using mapping as training. It is intended to stimulate a better understanding of its inhabitants regarding the potency of the space. The activity includes documentation, both as actualization and archive. The methods are manual and digital mappings, it is a combination of hand and digital sketching by using manual tools and digital instruments. The mapping process is supported by Autodesk cad and camera as the tools. Drawing in this sense is utilized as a media for discussion and presentation. The finding is a cross-checking method, re-examination as a process to re-check existing location against archive and photography. The result is a series of manual, digital, and graphic mappings of kampung Gedong’s surface structureABSTRAK:Kampung Tanjung Gedong terletak di jalan Tanjung Gedong, berlokasi di belakang kawasan pendidikan Grogol Jakarta Barat. Dikeliling parsel-parsel kawasan pendidikan, seperti: Universitas Tarumanagara, Universitas Trisakti, Rumah Sakit Sumber Waras dan area komersial di sekitarnya; kampung Tanjung Gedong merupakan area pendukung yang menyediakan kebutuhan kawasan sekitar. Kampung ini karakteristik tidak beraturan, dengan kondisi rumah yang tidak selalu tertata. Kondisi jalan bervariasi dengan gang-gang yang berkelak-kelok. Pekerjaan penghuninya bervariasi dari: pekerja, mahasiswa, pedagang informal dan sebagainya. Meski hidup rukun dan damai, kondisi lingkungan dan ruang hidup mereka perlu terus ditingkatkan agar dapat beradaptasi dengan kemajuan jaman, salah satunya dengan transfer keilmuan tentang keruangan melalui pemetaan yang dapat memberikan pemahaman atas potensi ruang dan lingkungan tempat tinggal mereka. Selain itu, pemetaan berguna sebagai dokumentasi sebagai aktualisasi peta eksisting karena transformasi struktur kampung yang cepat. Pemetaan dilakukan dengan metode manual, yakni: sketsa menggunakan pola dan metode tracing dan digital menggunakan autodesk cad. Gambar adalah bahasa komunikasi pada sebuah lokasi sampel, sebuah hasil observasi, diskusi dan dokumentasi. Tujuannya kegiatan dalah memanfaatkan proses menggambar menjadi sarana pelatihan, sementara hasil akhir sebagai visualisasi yang berguna sebagai dokumentais. Temuannya adalah kedua metode saling melengkapi sebagai alat pertukaran informasi, dan memungkinkan pemeriksaan kembali (cross-checking) pada proses pemetaan. Hasil akhir berupa peta manual, pola pemetaan, peta digital dan peta grafis untuk mempresentasikan keruangan kampung.
PENGEMBANGAN TEKTONIKA FASHION ARCHITECTURE MANTEL Denny Husin; Fermanto Lianto
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.228 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.8101

Abstract

Market competition and the demands of the Indonesian fashion world, encourage the tailors of Kampung Baru to involve educational institutions to provide new academic and technical insights on fashion architecture in order to increase the usability and product image that results. Therefore a study was arranged to stimulate the participation of new village tailors to produce fashion architecture tectonics on coat designs. This knowledge can open up a new horizon of tailors in seeing clothing as a form of space. Using research techniques in community engagement activities has the potential to insert experiments in daily activities of the community by increasing the knowledge and skills of tailors. This research is a qualitative research with an action research approach, developing knowledge based on specific problems in the form of the ability of new village tailors who are stagnant in the replication of conventional techniques. The moulage technique in fashion is combined with the collage technique in the field of architecture to produce a three-dimensional volume on the coat that is the mainstay of the collection. The two techniques are combined with loosely bounded details, combining hand and machine creations so that clothing can respond to body movements. The end result is a fashion with volumetric character, built on integrated layers while showing flexibility and fluidity when the wearer moves. Architectural knowledge in this study is not implemented as conventional science but is a modification of the spatial in the form of clothing. Although the final prototype is in physical form of clothing; the concepts, methods and development of tectonics combine two sciences, namely fashion architecture. The strength of the tailor is focused on the seams of the layers of clothing that make up the spatial volume and detail of the design so that it is recognized as a characteristicABSTRAK:Kompetisi pasar dan tuntutan dunia mode Indonesia, mendorong penjahit Kampung Baru untuk melibatkan institusi pendidikan untuk memberikan wawasan akademik dan teknik baru pada fashion architecture agar dapat meningkatkan nilai guna dan citra produk yang hasilkan. Maka dari itu sebuah penelitian disusun untuk menstimulasi partisipasi penjahit kampung baru untuk menghasilkan tektonika fashion architecture pada desain mantel. Pengetahuan ini dapat membuka cakrawala baru kelompok penjahit dalam melihat pakaian sebagai salah satu bentuk keruangan. Menggunakan teknik penelitian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat berpotensi menyisipkan percobaan pada kegiatan harian masyarakat dengan meningkatkan wawasan dan keterampilan penjahit. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan action research, mengembangkan pengetahuan berdasarkan masalah spesifik berupa kemampuan penjahit kampung baru yang stagnan pada replikasi teknik konvensional. Teknik moulage pada fashion dikombinasikan dengan teknik collage di bidang arsitektur untuk menghasilkan volume tiga dimensional pada mantel yang menjadi andalan koleksi. Kedua teknik disatukan dengan detail loosely bounded, mengkombinasikan kreasi tangan dan mesin agar pakaian dapat merespon pergerakan tubuh. Hasil akhir berupa fashion yang berkarakter volumetrik, dibangun atas layer-layer yang terintegrasi sementara menunjukkan fleksibilitas dan fluiditas saat pemakainya bergerak. Pengetahuan arsitektur pada penelitian ini tidak diimplementasikan sebagai ilmu konvensional namun modifikasi keruangan dalam bentuk pakaian. Meskipun prototipe akhir berbentuk fisik pakaian; konsep, metode, dan pengembangan tektonika mengkombinasi dua keilmuan yakni fashion architecture. Kekuatan penjahit difokuskan pada jahitan terhadap lapisan pakaian yang membentuk volume keruangan dan detail pada desain sehingga dikenali sebagai ciri khas.
PEMBUATAN JAKET DENGAN FABRIKASI ARSITEKTURAL UNTUK INDUSTRI KECIL DI JALAN DAMAI Fermanto Lianto; Denny Husin; Yuanda Saputra
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.698 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v2i2.7237

Abstract

Fenomena tersingkirnya industri kecil dibidang fashion terjadi karena kompetisi global dari busana yang kian kompleks, menempatkan mereka yang berdaya ekonomi lemah dan kemampuan intelektual rendah menghadapi isu tidak bergeraknya sebuah usaha kecil akibat terhimpit oleh keadaan. Masalahnya kemampuan penjahit terbatas pada menghasilkan produk dengan kualitas rendah dan minim kreativitas sangat sulit berkompetisi dengan pemain besar busana. Metode kualitatif digunakan untuk menganalisis keadaan mitra dengan mengangkat kemampuan sederhana yang mereka miliki, untuk diinterpretasikan dan dikembangkan kompleksitasnya. Melalui alat percobaan arsitektural, kemampuan bidang pakaian dikombinasikan secara manual dan digital dengan teknik adjusting pattern dan folding architecture. Minat dan bakat mitra dalam membuat seragam wanita berupa lipit dinilai berpotensi meskipun sesungguhnya merupakan kemampuan dasar teknik pleated. Dengan bantuan peranti lunak, mitra diperkenalkan dengan mesin (lasercutting) dan pengembangan digital (photoshop dan autodesk) sehingga dapat mengelaborasi hasil lipitan menjadi fabrikasi arsitektural berupa jaket. Sebagai temuan, adjusting pattern dan folding architecture dapat dikembangkan melalui kemampuan mitra melipit, baik sebagai tekstur dan detail jaket arsitektural dan menghasilkan kebaruan pola karena memungkinkan modifikasi dengan peranti lunak komputer.  Melalui pengetahuan arsitektural efisiensi, presisi dan kreativitas mengisi celah kebutuhan industri yakni; 1) Kebutuhan mitra untuk menambah wawasan mengembangkan teknik lipit dan penyesuaian pola pada pakaian seragam sehingga melihat peluang usaha baru; 2) Industri tekstil untuk menghasilkan variasi pola arsitektural yang lebih kompleks tanpa harus membuat eksperimentasi sendiri; 3) Arsitek dan dosen untuk menggunakan keilmuan pada disiplin ilmu dan industri lain.
THE MEANING OF “BOUNDARY LINE” DUE TO THE PRECAST MODULE SYSTEM IN ‘RUSUNAWA’ BUMI CENGKARENG INDAH, JAKARTA, INDONESIA Y. Basuki Dwisusanto; Fermanto Lianto; Lilianny Sigit Arifin
Dimensi: Journal of Architecture and Built Environment Vol. 45 No. 2 (2018): DECEMBER 2018
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.853 KB) | DOI: 10.9744/dimensi.45.2.173-180

Abstract

This research reveals meaning of “boundary line” due to the precast module system in Seruni 8 block, ‘Rusunawa’ Bumi Cengkareng Indah, Jakarta, Indonesia. The Grounded Theory method, with the type of “constant comparison”, which is a semi-grounded theory, is chosen to express the meaning of the “boundary line” from the residents’ point of view. The coding process in data processing uses computer program Maxqda. The results of this study indicate that well-established relationships between occupants can transform the boundaries of private corridor ownership (individual territory) into joint ownership (communal territory) as a place to socialize and share goods placed in the corridor, and maintain the cleanliness of the corridor together, so that the “boundary line” due to the precast module system for residents of the Seruni 8 block, ‘Rusunawa’ Bumi Cengkareng Indah, Jakarta, does not affect the meaning of the boundaries as the individual territory, because the communal territory is stronger than the “boundary line” due to the precast module system.
METAVERSE DAN TEKNOLOGI DALAM DESAIN PASARAYA MANGGARAI David Drago Suherman; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22314

Abstract

Pasaraya Manggarai is a shopping center which is a branch of Pasaraya Grande. Pasaraya was originally a shopping center building with the first department store system in Jakarta and is one of the buildings that has become the center of attention in the Manggarai area. But with current technological advances, Pasaraya, which used to look modern, is now considered old-fashioned and no longer attractive to young people, especially compared to other big malls in Jakarta. In addition, Pasaraya also did not provide many other facilities besides the shopping center itself, so the building had some difficulty attracting the public and eventually closed. Therefore, this project aims to make this shopping center more attractive by redesigning the building. This can be in the form of entertainment, dinner, and others. By looking at the technology developments of our current era, the planned design would implement various technologies to attract visitors’ attention merged with the Trans-programming method. This ensures the building is resistant and can adapt to changing times. The technology applied would mainly be Virtual Reality, Augmented Reality, and Mixed Reality Technology with the metaverse Concept. This technology is expected to provide a building atmosphere that has never existed before and make visitors feel like they are in another world. Keywords:  Architecture; Metaverse; Pasaraya; Shopping; Technology Abstrak Pasaraya Manggarai adalah sebuah pusat perbelanjaan yang merupakan cabang dari Pasaraya Grande. Pasaraya pada awalnya merupakan salah satu bangunan pusat perbelanjaan dengan sistem departement store pertama di Jakarta, dan merupakan salah satu bangunan yang menjadi pusat perhatian di area Manggarai. Tetapi dengan kemajuan teknologi saat ini, Pasaraya yang dahulu terlihat modern, sekarang sudah dianggap kuno dan tidak lagi menarik bagi kaum muda, apa lagi jika dibandingkan dengan mall-mall besar lain di Jakarta. Selain itu Pasaraya juga tidak menyiapkan banyak fasilitas lain selain dari pusat perbelanjaan itu sendiri, sehingga bangunan mengalami kesulitan untuk menarik perhatian masyarakat, dan akhirnya tutup. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk membuat pusat perbelanjaan ini lebih menarik dengan mendesain kembali bangunan. Hal ini dapat berupa entertainment, diner, dan lain lain. Dengan melihat perkembangan jaman kita saat ini juga, desain yang direncanakan akan mengimplementasikan berbagai macam teknologi untuk menarik perhatian pengunjung yang akan disatukan dengan metode Trans-programming. Hal ini dilakukan untuk memastikan bangunan tahan dan dapat beradaptasi dengan perubahan jaman. Teknologi yang diterapkan secara utama akan berupa teknologi Virtual Reality, Augemnted Reality, dan Mixed Reality dengan konsep metaverse. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat memberikan suasana bangunan yang belum pernah ada sebelumnya, dan membuat pengunjung seperti berada pada dunia lain.
KONSEP SHOP AND FOOD TRUCK SEBAGAI RUANG BARU KOMUNITAS PECINTA MUSIK DAN MAKANAN DI PASAR SANTA Patricia Beatrice; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22320

Abstract

Along with the times, more and more new tourist or recreational places are opening, and old places are being abandoned. One of them is Pasar Santa, a market with a reasonably well-known existence for food and antiques, especially antique musical instruments, since 2014, then slowly abandoned by the public. The author uses the urban acupuncture method to solve problems in Santa Market as a meeting point for the music and food lover community, with the experimental method applying the concept of a shop and food truck, which still maintains the unique history and image of the area. Keywords:  Community; Market; Music; Recreation; Shop and Food Truck Abstrak Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak tempat-tempat wisata atau rekreasi baru yang buka dan tempat-tempat lama akan ditinggalkan. Salah satunya yaitu Pasar Santa, pasar ini merupakan sebuah pasar yang memiliki eksistensi yang cukup terkenal terhadap makanan dan barang-barang antik khususnya alat musik antik sejak tahun 2014, lalu perlahan ditinggalkan oleh masyarakat. Penulis memakai metode urban akupuntur untuk menyelesaikan permasalahan di Pasar Santa sebagai titik temu komunitas pecinta musik dan makanan, dengan metode eksperimental menerapkan konsep shop and food truck, yang tetap mempertahankan kekhasan sejarah dan citra kawasan.
ARSITEKTUR NARASI DI PASAR BUKU KWITANG Alicia Arleeta; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22322

Abstract

Kwitang Book Market-Senen is now no longer a book centre for Jakarta. Physical and social degradation as well as reduced economic activity in the Kwitang Book Market began with the regional control carried out by the DKI Regional Government and the lack of action taken by both the government and economic actors to adapt in the digital era. This research aims to re-create the Kwitang Book Market as a Jakarta book centre with the concept of spatial travel. This concept emphasizes the tourist attraction of reading books at the Kwitang Book Market. The spatial journey is processed through the memory of the heyday of Kwitang. The genius loci of the area and the formation of the communal space of books. The method used is the descriptive qualitative method with the help of pictures, maps, and diagrams. In addition, there is also a phenomenological method to explore the Senen area and the Kwitang Book Market. The design method used is narrative architecture which tells the culture of reading books and the sundries of the world of books. The conclusion of this research is to revive the book centre; it is necessary to update social activities and adapt economic actors in the digital era. The solution found in the research is to create a communal space that supports book social activities and the concept of travel with a book reading culture so that the atmosphere that occurs in the area is not artificial and varied. Keywords: Book Market; Community; Kwitang; Narration Abstrak Pasar Buku Kwitang-Senen sekarang sudah tidak lagi menjadi sentra buku Jakarta. Degradasi fisik dan sosial serta berkurangnya kegiatan ekonomi di Pasar Buku Kwitang diawali dengan adanya penertiban kawasan yang dilakukan oleh Pemda DKI dan kurangnya tindakan yang dilakukan baik pemerintah maupun pelaku ekonomi untuk beradaptasi di era zaman digital. Tujuan dari penelitian ini adalah menjadikan kembali Pasar Buku Kwitang sebagai sentra buku Jakarta dengan konsep perjalanan spasial. Konsep ini menekankan pada atraksi wisata membaca buku di Pasar Buku Kwitang. Perjalanan spasial diolah melalui memori masa jaya Kwitang, genius loci kawasan dan pembentukan ruang komunal buku. Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan bantuan gambar, peta, dan diagram. Selain itu juga metode fenomenologi untuk menelusuri kawasan Senen dan Pasar Buku Kwitang. Metode perancangan yang digunakan adalah arsitektur narasi yang menceritakan kultur membaca buku dan serba serbi dunia buku. Kesimpulan dari penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali sentra buku, perlu adanya pembaruan kegiatan sosial dan adaptasi pelaku ekonomi di era digital. Solusi yang ditemukan dalam penelitian yaitu membuat ruang komunal yang mengayomi kegiatan sosial buku dan konsep perjalanan dengan kultur membaca buku sehingga suasana yang terjadi di dalam kawasan tidak semu dan bervariasi.
BERMAIN DALAM MEMORI PASAR MAINAN GEMBRONG DENGAN PENERAPAN SPATIAL EXPERIENCE Aktaria Oktafiani; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22332

Abstract

The Gembrong Market site in the Jatinegara area, East Jakarta, is an area that has become a variety of destinations that come to buy cheap toys. However, the potential of the Gembrong Market will not always have; the development of road infrastructure at one time is a seller's product to continue peddling his wares. The research was conducted to find out how the innovation efforts in restoring the memory of the Gembrong Market in terms of architecture as well as how to integrate interactions between communities into it. The qualitative descriptive method is used to obtain field data to find facts and phenomena that describe the actual situation. Spatial Experience is an intermediary in the design method to realize how the old Gembrong Market atmosphere entered a design. To accommodate street vendors, especially those from Gembrong Market, to restore the image of the known cheap toy market. The concept of playing is applied by racing track toys into a building philosophy, where users would feel joy with the games or games. The results show that the toy market building, which is applied with the concept of playing, can attract the surrounding community, especially children, because of the play facilities that can look attractive to users and visitors who would come to the Gembrong Toy Market with the aim of shopping and playing. Keywords: Market; Memory; Play; Spatial Experience Abstrak Situs Pasar Gembrong dalam kawasan Jatinegara, Jakarta Timur merupakan kawasan perbelanjaan yang menjadi berbagai tujuan pelancong yang datang untuk memperoleh mainan murah. Namun potensi yang dimiliki Pasar Gembrong tidak selamanya memiliki eksistensi, adanya perkembangan infrastruktur jalan di dekatnya menjadi suatu penghambat para penjual untuk tetap menjajakan dagangannya. Penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana upaya inovasi dalam mengembalikan memori Pasar Gembrong dalam segi arsitektur sekaligus cara menyatukan interaksi antar masyarakat kedalamnya. Menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan memperoleh data lapangan untuk mengetahui fakta dan fenomena yang menggambarkan kondisi sebenarnya. Spatial Experience menjadi perantara dalam metode desain untuk mewujudkan bagaimana suasana Pasar Gembrong lama masuk ke dalam sebuah perancangan. Dirancang dengan tujuan mewadahi bagi pedagang kaki lima khususnya yang berasal dari Pasar Gembrong demi mengembalikan citra akan pasar mainan murah yang dikenal. Menerapkan konsep bermain dengan mengaplikasikan mainan racing track ke dalam sebuah filosofi bangunan, dimana pengunjung dan pengguna akan merasakan kegembiraan dengan permainan ataupun perbelanjaan yang ada di dalamnya. Hasil menunjukkan bahwa bangunan pasar mainan yang diaplikasikan dengan konsep bermain dapat menarik masyarakat sekitar kawasan khususnya anak-anak dikarenakan fasilitas bermain yang dapat terlihat menarik bagi pengguna maupun pengunjung yang akan datang ke dalam Pasar Mainan Gembrong dengan tujuan berbelanja maupun bermain.
MEMORI KOLEKTIF KAWASAN “LITTLE TOKYO” PADA “TEMPAT KETIGA” BLOK M Michael Hutagalung; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22621

Abstract

Blok M area is a part of Jakarta that is very popular with visitors and known for its endless activities. Because the Blok M area is an office and commercial area to meet daily primary and secondary needs. As a result of intense activity, the area of ​​Blok M has undergone some degradation of the region, such as physical, social, and spiritual degradation, which has changed the image of the place. Blok M area, known as "Little Tokyo", has its own regional identity due to its strong appeal. Known as "Little Tokyo" because various Japanese people live, work and socialize with the locals around Blok M. The research method in this case is a qualitative descriptive method using pictures, maps and diagrams, supported by identifying the relationship between regional degradation and urban space and designing using the urban acupuncture method with a contextual approach. The literature review concerns the identity of Little Tokyo, the collective memory of the Block M area, and the concept of the third place. This study aims to identify and revive the local values ​​of Blok M “Little Tokyo”, which are now disappearing. The development of this area does not destroy the existing story of “Little Tokyo”, so the concept of “Third Place” in “Little Tokyo” Blok M creates a new attraction with new efforts to open up opportunities to increase the value of the location and the investment value. In the ability to restore the collective memory of the Blok M region. Keywords:  Blok M;  colletive memories; “Little Tokyo”; locality; ‘Third Place’ Abstrak Kawasan Blok M merupakan bagian dari Jakarta yang sangat padat pengunjung dan terkenal dengan aktivitas yang tidak pernah berhenti. Karena Kawasan Blok M merupakan kawasan perkantoran dan komersial untuk memenuhi kebutuhan utama untuk kesehariannya. Akibat aktivitas yang intens, Kawasan Blok M terjadi degradasi kawasan tertentu, seperti degradasi fisik, sosial dan spiritual, yang mengubah citra tempat ini. Kawasan Blok M yang dikenal dengan sebutan "Little Tokyo" memiliki identitas kedaerahan tersendiri karena daya tariknya yang begitu kuat. Dikenal sebagai "Little Tokyo" karena banyak orang Jepang yang tinggal, bekerja, dan bersosialisasi dengan penduduk setempat di sekitar Blok M. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan gambar, peta dan diagram, didukung dengan mengidentifikasi keterkaitan degradasi kawasan dengan ruang kota dan perancangan menggunakan metode urban akupunktur dengan pendekatan kontekstual. Tinjauan literatur yang mendasari penelitian ini adalah identitas “Little Tokyo”, memori kolektif Kawasan Blok M, dan konsep tempat ketiga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal kawasan Blok M "Little Tokyo" yang kini mulai menghilang. Pengembangan kawasan ini tidak merusak sejarah "Little Tokyo" yang ada, sehingga konsep "Tempat Ketiga" di "Little Tokyo" Blok M menciptakan daya tarik baru dengan upaya baru untuk membuka peluang peningkatan nilai tempat dan nilai investasi yang mampu mengembalikan memori kolektif Kawasan Blok M.
DESAIN PASAR TAMAN PURING MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL Putri Arlastasya Maria Adi Pataka; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22635

Abstract

Acknowledging the importance of the market sector’s big role in a city. The existence of Taman Puring Market has a big influence on the daily activities of the local population. Thus, the problems that occur with the market are very important and affect the integration of the buying and selling chain as a market for used goods. When the chain is broken, there will be a certain person's welfare, especially market traders. By paying attention to the welfare of traders, Taman Puring Market creates a market for development and advancement of existing ties for the welfare of both sellers and buyers. Taman Puring Market has been known for a long time as a market for cheap shoes and used goods. A very historical Taman Puring Market trip. However, they are in danger of dying because of diminishing visitors due to the increase in the realm of online trading and the addition of the COVID-19 pandemic. Through qualitative methods supported by the Urban Acupuncture strategy with a daily analysis approach which results in the use of contextual concepts that aim to restore the identity and existence of the Taman Puring market as a used goods market realized in accordance with the surrounding context by designing a used goods facade as a support for the used goods market icon so that the market will be can support the surrounding area to develop as well by becoming an attractor that again reminds the importance of the Taman Puring Market and as a forum for market traders to move forward in balancing offline and online markets. Keywords:  market; park; urban acupuncture; used goods Abstrak Sektor pasar dalam sebuah kota memiliki peran yang  sangat penting. Keberadaan Pasar Taman Puring berpengaruh besar dalam kegiatan keseharian penduduk  setempat. Sehingga, permasalahan yang terjadi terhadap  pasar sangatlah penting  dan berpengaruh pada integrasi rantai  jual-beli  sebagai pasar barang bekas.  Ketika rantai  tersebut  ada  yang  terputus  akan  terjadi  adanya  ketidaksejahteraan  suatu  oknum tertentu khususnya pedagang pasar. Dengan memperhatikan kesejahteraan pedagang Pasar Taman Puring mewujudkan pasar untuk berkembang dan  majunya ikatan yang ada untuk kesejahteraan penjual maupun pembelinya. Pasar Taman  Puring dikenal sejak lama sebagai pasar sepatu murah dan barang bekas. Perjalanan Pasar Taman Puring yang sangat historis. Namun, terancam mati karena pengunjung yang kian berkurang akibat meningkatnya ranah perdagangan daring dan  ditambah  pandemi COVID-19.  Melalui metode kualitatif didukung dengan strategi Akupunktur Perkotaan dengan pendekatan analisis keseharian yang menghasilkan digunakannya konsep kontekstual yang bertujuan untuk mengembalikan identitas dan eksistensi pasar taman puring sebagai pasar barang bekas terwujud sesuai dengan konteks sekitar dengan perancangan fasad barang bekas sebagai pendukung ikon pasar barang bekas sehingga pasar nantinya dapat mendukung kawasan sekitarnya untuk ikut berkembang dengan menjadi atraktor yang kembali mengingatkan pentingnya Pasar Taman Puring dan sebagai wadah bagi pedagang pasar untuk ikut maju dalam menyeimbangkan pasar luring dan daring.