Claim Missing Document
Check
Articles

PERANCANGAN KANTOR BISNIS RINTISAN MILENIAL DI KRAMAT PELA Reynaldo Reynaldo; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4460

Abstract

In this era where millennials increasingly dominating the world, especially in the world of works, the boundaries between working with other activities are increasingly fading too. But because of their characters whose tend to be flexible in everything, millennials also prefer to work anywhere as long as there is an internet connection and electricity sources. For example, a coffee shop or cafe is a popular place for millennials to work with their laptops. Some of them are startup entrepreneurs where mostly they don’t have enough money to rent an office space, so that a startup business office is needed to suit with millennial behaviors and preferences. Therefore, there are 2 main objectives of the design of this startup business office; 1) to determine the startup office typology efficiently and precisely balancing the behavior of the millennial generation in starting and running a startup business; 2) to apply the results from the pattern language method that is appropriate for the design of this startup business office. In order for the design to be carried out properly and systematically, the compilers used the pattern language method to determine the zoning of human activities in the building area so that proper and clear in and out grooves are formed. The final results of the design are expected to increase the productivity of the millennial startup business supported by the typology of the appropriate startup business office. AbstrakDi era dimana generasi milenial semakin mendominasi dunia terutama di dalam dunia pekerjaan, batasan antara aktivitas bekerja dengan aktivitas-aktivitas lainnya semakin memudar. Namun karena karakteristik mereka yang cenderung fleksibel dalam segala hal, milenial juga cenderung lebih memilih untuk bekerja dimana saja selama ada koneksi internet dan stop kontak.  Sebagai contoh, coffee shop atau kafe menjadi tempat yang popular untuk orang-orang milenial untuk bekerja di depan laptopnya. Sebagian dari mereka adalah merupakan startup entrepenur yang dimana mereka masih belum memiliki biaya untuk menyewa sebuah area kantor, sehingga dibutuhkan sebuah kantor bisnis rintisan yang sesuai dengan perilaku dan kesejamanan milenial.  Oleh karena itu, terdapat 2 tujuan utama dari perancangan kantor bisnis rintisan ini; 1) menentukan dan mengkaji tipologi kantor startup yang secara efisien dan tepat untuk menyelaraskan perilaku generasi millennial dalam memulai dan menjalankan bisnis rintisan; 2) menerapkan hasil dari metode pattern language yang sesuai pada perancangan kantor bisnis rintisan ini. Agar perancangan kantor bisnis rintisan ini dapat dijalankan dengan baik dan sistematis, maka penyusun menggunakan metode pattern language menentukan zoning aktivitas manusia di area bangunan sehingga terbentuk alur-alur masuk dan keluar yang tepat dan jelas.  Hasil akhir dari perancangan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pebisnis rintisan milenial yang di dukung oleh tipologi kantor bisnis rintisan yang tepat.
GEDUNG PERTANIAN HORTIKULTURA MASA DEPAN DI KAMPUNG MUKA Bryan Wesley; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10903

Abstract

Because of the covid-19 virus pandemic in 2020, Indonesia is implementing large-scale social restrictions (PSBB) to protect healthy people from contracting the covid-19 virus. So most residents of Kampung Muka losing their jobs and unable to buy food for their daily needs. So they have to rely on the government’s non-cash food assistance program (BPNT). During the covid-19 pandemic occurred, the residents of Kampung Muka could not survive in their village and had to rely on government assistance to survive. The design method is the everydayness approach, by adding new daily activities in Kampung Muka, namely horticultural agriculture so that the residents can get a new source of livelihood. Also, horticultural agriculture is a source of food for residents during emergencies such as PSBB. Meanwhile, the commercial section is used as a place to sell food products and makes the view of horticultural agriculture a commercial attraction. Keywords: Commercial; Future; Government program; Horticultural agriculture Abstrak Dengan adanya pandemi virus Covid-19 pada tahun 2020, Indonesia memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk melindungi orang yang sehat agar tidak tertular virus covid-19. Mengakibatkan kebanyakan warga Kampung Muka kehilangan pekerjaannya dan tidak dapat membeli pangan untuk kebutuhan hidup mereka sehari hari. Sehingga mereka harus bergantung pada program bantuan pangan non tunai (BPNT) pemerintah. Pada kondisi yang terjadi saat pandemi covid-19, warga Kampung Muka tidak dapat bertahan hidup di dalam kampung mereka sendiri dan harus bergantung pada bantuan pemerintah untuk bertahan hidup. Metode perancangan yang digunakan adalah pendekatan everydayness, dengan menambah aktivitas keseharian yang baru di Kampung Muka yaitu pertanian hortikultura, agar para warga mendapatkan sumber pencaharian yang baru. Selain itu, pertanian hortikultura juga sebagai sumber pangan para warga saat kondisi darurat seperti PSBB. Sedangkan bagian komersial, dimanfaatkan sebagai tempat untuk menjual hasil pangan dan menjadikan view pertanian hortikultura sebagai daya tarik komersial.
PENERAPAN METODE NARASI ARSITEKTUR DALAM PERANCANGAN EKSTRAKURIKULER PENDIDIKAN EKOLOGI DI KAWASAN EDUTOWN, BSD Ferdi James; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12482

Abstract

Life in urban areas, which is accelerating and capitalist, makes humans less sensitive to their environment. Students only learn about nature and the environment through literacy and lack opportunities to learn directly from nature in urban areas. It causes a lack of awareness and mindset and indifferent behaviour towards nature and the surrounding environment within the city. With all the acceleration of development, BSD City must be balanced with the behavioural pattern of people who are aware and care about the environment. This project is a preventive measure against environmental damage. Technology and materials must be sustainable and environmentally friendly, but what is fundamental is human behaviour that must be sustainable and friendly to the environment and nature. Therefore, through the program "Ecological Education Extracurricular in the ‘Edutown’ Area, BSD," using the narrative method with a cultural ecology approach to assist in handling human thought patterns and behaviour towards nature and the environment. Through this project, it is hoped that students' awareness, mindset, and behaviour towards nature and its environment can be changed, developing the next generation of the nation who is intellectually intelligent and morally towards God, others, and the environment. Therefore in the future, humans can walk side by side with nature and maintain its sustainability. Keywords: ecology; education; environment; extracurricular; narrative architecture Abstrak Kehidupan di perkotaan yang selalu mengalami percepatan dan cenderung kapitalis membuat manusianya kurang peka terhadap lingkungannya. Pendidikan di perkotaan, siswa hanya belajar tentang alam dan lingkungan melalui literasi dan kurang kesempatan belajar langsung dari alam di perkotaan. Hal ini yang berdampak akan kurangnya kesadaran dan pola pikir serta perilaku tak acuh terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. BSD City dengan segala percepatan kemajuan dan perkembangannya harus diimbangi pula dengan pola perilaku masyarakat yang sadar dan peduli akan lingkungan. Proyek ini merupakan langkah tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan. Teknologi dan material harus sustainable dan ramah lingkungan, namun yang fundamental adalah perilaku manusia yang harus sustainable dan ramah pula terhadap lingkungan dan alam. Oleh karena itu melalui program “Ekstrakurikuler Pendidikan Ekologi di Kawasan Edutown, BSD”, dengan menggunakan metode narasi dengan pendekatan ekologi budaya untuk membantu dalam penanganan pola pikir dan perilaku manusia terhadap alam dan lingkungan. Diharapkan melalui proyek ini kesadaran, pola pikir dan perilaku siswa–siswa terhadap alam dan lingkunganya dapat berubah, sehingga tercipta generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga akhlak kepada Tuhan, sesama dan lingkungan. Sehingga kedepannya manusia dapat berjalan berdampingan dengan alam dan menjaga keberlangsungannya.
WADAH MUSIK KREASI BERBASIS INDIE Therina Adela; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8631

Abstract

Urban Modern Society daily activities can not be separated from all the bustle in the office, as well as at home with all the routine activities. All this daily bustle demands the people in the urban and urging them to keep working, and moving almost without them knowing the time so that there is a high possibility for the people to forget the need to rest and have a recess. As of this research are aimed to answer that needs, the people’s need to take a rest for a while, especially those people and society in Duren Tiga, an area with many offices, through the role of architecture in creating a space and place to relax in the middle of all the hustle and bustle activities. Methods used in this research are conducting a study, observation, and questionnaire for the preliminary data collection. Learning, reviewing, and observing the needs of the society, and the needs of activity as for the second step. The third is composing an architectural program suitable for the project, corresponding to the result of the observation, and answering the needs of the people so that the project’s objectives can be adequately achieved. Generally, the purpose of the project is to illustrate and define music and indie as the basic for the concept, design and activities, also for the answer to the needs of third place. Keywords: Activities; Creation; Indie; Music AbstrakKegiatan Masyarakat Kota Modern sehari-hari tidak terlepas dari segala kesibukannya dalam rutinitas di kantor maupun di rumah, dengan berbagai aktivitasnya. Kesibukan sehari-hari inilah yang menuntut masyarakat di kota modern untuk terus bekerja, bergerak, serta beraktivitas hampir tanpa mengenal waktu, sehingga sangat memungkinkan bagi mereka untuk melupakan kebutuhan akan beristirahat. Sehingga penelitian ini memiliki tujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat tersebut, terutama masyarakat Duren Tiga yang merupakan daerah dengan banyak perkantoran dan jasa, melalui peran arsitektur dalam menciptakan sebuah space maupun place untuk beristirahat dan bersantai di tengah kesibukan dan kepadatan aktivitas yang dijalani. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah studi, observasi dan penyebaran kuesioner sebagai pengumpulan data awal, mempelajari dan meninjau kebutuhan masyarakat dan kebutuhan aktivitas untuk melepas kejenuhan dan beristirahat sebagai tahap kedua. Ketiga, menyusun program yang dibutuhkan sesuai dengan hasil observasi, menjawab kebutuhan masyarakat sehingga tujuan proyek yang diinginkan akan tercapai dengan baik. Secara umum tujuan dari proyek ini untuk menggambarkan musik dan indie sebagai dasar perancangan dari konsep, desain serta aktivitas dan jawaban atas kebutuhan third place.  
PEMBENTUKAN RUANG KOLEKTIF SEBAGAI LANSKAP KREATIF MASYARAKAT KAMPUNG KOTA DI KEBON KACANG Nathanael Hanli; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6826

Abstract

The turn of the 21st century saw a transformation in urban society as the abundance of  physical resources no longer serves as the sole determinant of a city’s economic development, rather it is the human capital and the ideas produced which generate growth through the creative economy sector. The image of a city, engraved by diversity and distinctive local identity, engage with individuals from various communities, establishing a creative landscape as a third place where interaction between members of the creative class occurs. The neighbourhood of Kebon Kacang is known as a residential area which embraces the city-village typology (first place). Located next to the central business district and economic center of the city (second place), its inhabitants are forced to occupy negative spaces left in between the high density area of downtown Jakarta, such as sidewalks and empty lot, and overhauling them in a temporal and spontaneous manner into informal third places. Aside as a social space for the local residents, the informal third place of Kebon Kacang also function as a production house for a variety of local products, ranging from staple dishes to small scale textile industry. Through the synthesis process consisting of field observation and literature study regarding the formation of social space in urban kampung, the informal quality attributed to the creative landscape of Kebon Kacang serves as a foundation in the planning and design process of Kebon Kacang Collective Space. AbstrakAbad ke-21 menjadi saksi atas transformasi perekonomian masyarakat kota di mana perkembangan suatu kawasan tak lagi ditentukan oleh keberadaan sumber daya fisik semata, melainkan juga ide dan pemikiran manusia sebagai katalis perkembangan ekonomi kreatif. Diversitas serta identitas yang membentuk citra suatu kawasan mengundang hadirnya individu dari berbagai komunitas yang berbeda, menciptakan lanskap kreatif sebagai third place di mana masyarakat kreatif dapat berinteraksi satu sama lain dan saling bertukar pikiran. Kelurahan Kebon Kacang sebagai permukiman kampung kota (first place) yang berbatasan dengan sentra bisnis dan perekonomian kota (second place) berkepadatan tinggi mendorong pemanfaatan ruang-ruang antara yang tersisa seperti bahu jalan dan lahan kosong sebagai third place bersifat informal yang diisi secara cair dan temporal oleh masyarakatnya, menjadikannya tak hanya sebagai wadah interaksi melainkan juga sarana berkreasi yang menghasilkan produk-produk lokal seperti kuliner hingga industri tekstil skala kecil. Melalui investigasi kawasan yang didasari oleh dua metode utama, yakni observasi lapangan dan kajian pustaka terhadap pembentukan ruang sosial di kampung kota sebagai third place, potensi karakteristik informal dalam pembentukan ruang antara sebagai lanskap kreatif di kawasan Kebon Kacang pun diangkat sebagai gagasan dalam perencanaan dan perancangan Ruang Kolektif Kebon Kacang yang bertujuan menghadirkan  third place sebagai wadah interaksi, kreasi, dan promosi bagi seluruh lapisan masyarakat di Kelurahan Kebon Kacang.
RUANG RAJUTAN KEBERAGAMAN MASYARAKAT PASAR BARU Veren Calisca; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6830

Abstract

Social space as a whole is defined not only through its physical aspect, but also the intangible culture and tradition of its people. The non-physical aspect is commonly known as Genius Loci or sense of place which is distinctive and unique in each different places. The identity of Genius Loci covers the groundwork principle of creating place as a meeting point for the creative class where they could interact with each other to generate ideas collectively as the foundation of creative economy, generating the development of an urban area. Space is surrounded by high density building in Pasar Baru area, which left the remaining negative space as third place.  Pasar Baru is one of the districts in Jakarta with such diversed cultural identity which is one of the main principle in creating the creative place. Unfortunately, the district’s popularity as one of the main shopping area in Jakarta had faded due to the significant growth of shopping malls as new economic centres of the city. Design is created based on observation method through activity sequence of Pasar Baru citizen and literature research of social space as third place. Through the presence of cultural diversity such as festivals, staple culinary, ethnicity, creative products, to architectural style, it is hoped to aid in revitalizing Pasar Baru not only as a shopping distric but as a creative economy hub as well through Socail Linkage of Pasar Baru Diversity as a third place.AbstrakRuang sosial tidak hanya sekedar terbentuk oleh aspek fisik belaka, namun juga memiliki aspek-aspek non-fisik yang terbentuk oleh aspek-aspek budaya dan keseharian masyarakatnya. Aspek non fisik tersebut dikenal sebagai Genius Loci atau Sense of Place yang bersifat unik di setiap kawasan yang berbeda. Identitas dari Sense of Place tersebut mengandung prinsip-prinsip pada pembentukan place sebagai tempat berkumpul masyarakat kreatif dimana mereka tak hanya bersosialisasi namun juga saling bertukar ide sebagai sumber daya ekonomi kreatif yang menjadi landasan perkembangan dari suatu kota. Namun, ruang-ruang yang terbentuk hanya menyisakan ruang sisa sebagai tempat berkumpul di antara padatnya bangunan. Ruang ketiga yang hadirpun terletak jauh dari jangkauan masyarakat lokal. Kawasan Pasar Baru merupakan salah satu lokasi di Jakarta dengan diversitas yang tinggi sebagai salah satu syarat terbentuknya creative place. Sebagai salah satu pusat ekonomi Jakarta, Pasar Baru kini telah kalah populer dengan pusat perbelanjaan modern. Kurangnya wadah bagi kegiatan kreatif masyarakat juga menghambat perkembangan ekonomi yang kini berfokus pada kreatitas. Melalui metode observasi terhadap sekuen aktifitas pelaku kegiatan di kawasan Pasar Baru serta literatur ruang sosial sebagai third place, maka ditransformasikan desain yang mencirikan keberagaman melalui Ruang Rajutan Keberagaman Masyarakat Pasar Baru sebagai sentra ekonomi yang berbasis kreatifitas masyarakat selaku third place bagi kawasan Pasar Baru.
DESAIN FASILITAS OLAHRAGA DAN REKREASI DENGAN PENDEKATAN KANONIS DI DURI KEPA, JAKARTA Angga Ali Putra; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8621

Abstract

The problem of population density has become a fairly common problem in big cities. The effects that can arise from population problems include the appearance of slums, the decline in environmental quality, and the impact on psychological conditions in the form of stress. One method that can solve the problem due to population density is the construction of supporting facilities. Housing can be adequate and improve its quality because of the availability of supporting facilities in a residential group. This is because supporting facilities can facilitate direct contact between individuals, where several individuals can communicate. The existence of public facilities can also facilitate recreational activities such as sports that can reduce the impact of stress. So it takes place for people who want to gather, treats stress, loneliness, and alienation, not only as a place to escape but also to relax, be entertained, and also get peace in it. The Sports and Recreation Facility at Duri Kepa is a project created so that the community, especially the Duri Kepa residents, have a place to relax, unwind, and be free to express themselves as manifested in sports and recreation activities. The design methodology used is canonical design, a design approach based on various aspects such as the geometrical aspects of objects, proportional systems, modules, and mass order, all of which lead to rule as the basis of design. This project seeks to meet the physical and social needs of the village community easily reached from the first place and second place. This project will be a place for community social interaction. Keywords: Canonic Design; Recreation; Sport; Stress; Supporting Facilities  AbstrakMasalah kepadatan penduduk sudah menjadi masalah yang cukup lazim di kota besar. Efek yang dapat ditimbulkan dari masalah kependudukan, antara lain munculnya kawasan kumuh, turunya kualitas lingkungan dan dampak terhadap kondisi psikologis berupa stress. Salah satu metode yang dapat memecahkan masalah akibat padatnya penduduk yaitu pembangunan fasilitas pendukung. Suatu perumahan dapat menjadi efektif dan meningkat kualitasnya karena ketersediaan fasilitas pendukung di suatu kelompok hunian. Hal ini dikarenakan fasilitas pendukung dapat memfasilitasi kontak langsung antar individual, dimana beberapa individual dapat melakukan komunikasi. Kemudian adanya fasilitas umum juga dapat memfasilitasi kegiatan rekreasional seperti olahraga yang dapat mengurangi dampak stress. Sehingga dibutuhkan suatu tempat bagi orang yang ingin berkumpul, mengobati stress,kesepian dan keterasingan, tidak hanya dijadikan tempat untuk melarikan diri, tetapi dimana orang akan bersantai, terhibur dan juga mendapatkan ketenangan didalamnya. Fasilitas Olahraga dan Rekreasi di Duri Kepa adalah sebuah proyek yang dibuat  agar  masyarakat  khususnya  warga  Duri Kepa memiliki tempat untuk bersantai, melepas bosan, dan bebas untuk berekspresi di dalamnya yang diwujudkan dalam aktivitas berolahraga dan berekreasi. Metode desain yang digunakan adalah desain kanonis yaitu perancangan berdasarkan berbagai aspek tertentu seperti sistem proporsi, aspek geometrika objek, tatanan massa, modul yang mengarah kepada keteraturan. Proyek ini  berusaha  untuk  memenuhi kebutuhan fisik maupun sosial masyarakat kelurahannya dengan mudah di  jangkau dari  first place maupun second  place. Project  ini  akan  menjadi  tempat  yang  mewadahi  interaksi sosial masyarakat.
PERANCANGAN HUNIAN VERTIKAL SEBAGAI TEMPAT TINGGAL, BERKREASI, DAN BERINSPIRASI Coreen Katrina Tania; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16965

Abstract

With the continuous increase of population growth in urban life but not the availability of comparable urban land for housing, the demand for apartments becomes a solid investment. Vertical housing has much capacity and can create green open space in a vertical environment. The emergence of a new lifestyle of living and working forms a new residence based on the characteristics of generations. This paper examines the effect of changes in lifestyle that are no longer conventional on the development of vertical housing, namely living and working housing. Using the biophilic method as an effort to approach nature with spaces. The biophilic concept is a concept that shows the relationship between the natural environment and humans in the hope of being able to influence the physical and psychological conditions of the user. Applying the biophilic concept seeks to create an expected atmosphere or condition, which can provide opportunities for humans/users to live and work healthy, reduce users' stress levels, and have an inspiring and prosperous living environment by using designs closer to nature. The purpose of this paper is to find a new residential typology to deal with changing lifestyles in this generation related to the need for adequate housing in dense areas. That's why the construction of "Vertical Residential Design As A Creative and Inspirational Place to Live" can be a positive, valuable initiative in overcoming housing problems. Keywords: Apartment; Characteristics; Creative; Lifestyle; Vertical OccupancyAbstrakDengan meningkatnya pertambahan penduduk dalam kehidupan perkotaan dan tidak dengan adanya ketersediaan lahan perkotaan yang sebanding untuk perumahan, mengakibatkan permintaan apartemen menjadi investasi yang solid. Perumahan vertikal memiliki daya tampung yang banyak dan dapat mewujudkan ruang terbuka hijau di lingkungan vertikal. Munculnya gaya hidup baru bertinggal dan bekerja membentuk hunian baru yang didasarkan atas karakteristik generasi. Dalam tulisan ini diteliti mengenai pengaruh perubahan gaya hidup yang tidak lagi konvensional terhadap pengembangan hunian vertikal, yaitu hunian tinggal dan bekerja. Menggunakan metode biophilic, sebagai upaya pendekatan alam dengan ruang. Konsep biophilic merupakan konsep yang memperlihatkan hubungan antara alam sekitar dengan manusia dengan harapan mampu mempengaruhi kondisi fisik maupun kondisi psikologis pengguna. Penerapan konsep biophilic berupaya agar dapat menciptakan suasana atau kondisi yang diharapkan dimana dapat menyediakan kesempatan bagi manusia/pengguna dengan tujuan hidup dan bekerja yang sehat, mengurangi tingkat kestresan pengguna dan memiliki lingkungan hidup yang menginspirasi dan sejahtera menggunakan cara mendekatkan desain dengan alam. Tujuan dari tulisan ini untuk menemukan tipologi hunian baru untuk menghadapi perubahan gaya hidup di generasi ini terkait dengan kebutuhan rumah tinggal yang efektif di daerah padat. Oleh karena itulah pembangunan “Perancangan Desain Hunian Vertikal Sebagai Tempat Tinggal Berkreasi dan Berinspirasi” dapat menjadi inisiatif yang positif dan bermanfaat dalam mengatasi masalah tempat tinggal. 
INNOVATIVE LEARNING MODEL WITH INCLUSIVE-COLLABORATIVE APPROACH FOR STUDENTS WITH SPECIAL NEEDS Fermanto Lianto; Nafiah Solikhah; Andi Surya Kurnia; Franky Liauw; Margaretha Syandi; Caroline Sunjaya Kurniawan
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.13619.2021

Abstract

In order to face the era of technological disruption and the industrial revolution 4.0, it is necessary to improve the curriculum and educational methods for the Bachelor of Architecture that is friendly for disabilities. Therefore, it is necessary to innovate, research, and apply online and digital technology, architectural computing systems that can be utilized optimally in XYZ University’s architectural education model.  Architectural education must be sensitive and do self-introspection so that it can detect its position during the rapid development of science and technology. Specialized classroom design includes seating position, layout, optimized space, and usage of special computer applications to help students with disabilities in the study and learning process. The methodology approach used Descriptive, experimental, and quantitative methods based on an interdisciplinary approach centralized on psychological methods and designing facilities that support the learning process. The research resulted in designating a position in the classroom that is ideal for a student with disabilities. This position helps them to participate in the classroom efficiently. Equipment such as speakers and an LED TV is placed to help people with disabilities. Transcription software is used to transcribe lecturers in real-time. This research was conducted with the use of compatible software to get optimal results. Several methods and tools are used to support this research to obtain optimal results for the learning process, especially for people who are deaf or have low vision. Audio and visual aspects are prioritized without neglecting other supporting aspects. Dalam rangka menghadapi era disrupsi teknologi dan revolusi industri 4.0, perlu dilakukan penyempurnaan kurikulum dan metode pendidikan Sarjana Arsitektur yang ramah bagi disabilitas. Oleh karena itu perlu dilakukan inovasi, riset, dan menerapkan teknologi online dan digital, sistem komputasi arsitektural yang dapat dimanfaatkan secara optimal dalam model pendidikan arsitektur Universitas XYZ. Pendidikan arsitektur harus peka dan melakukan introspeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat. Desain ruang kelas khusus mencakup posisi tempat duduk, tata letak, ruang yang dioptimalkan, dan penggunaan aplikasi komputer khusus untuk membantu siswa penyandang disabilitas dalam proses belajar dan belajar. Pendekatan metodologi yang digunakan adalah metode Deskriptif, eksperimental, dan kuantitatif berdasarkan pendekatan interdisipliner, terpusat pada metode psikologis dan merancang fasilitas yang mendukung proses pembelajaran. Penelitian ini menghasilkan penunjukan posisi di kelas yang ideal bagi siswa penyandang disabilitas. Posisi ini membantu mereka untuk berpartisipasi di dalam kelas secara efisien. Perlengkapan seperti speaker dan TV LED ditempatkan untuk membantu para penyandang disabilitas. Software transkripsi digunakan untuk mentranskripsi dosen secara real-time. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan software yang kompatibel untuk mendapatkan hasil yang optimal. Beberapa metode dan alat digunakan untuk mendukung penelitian ini agar mendapatkan hasil yang optimal untuk proses pembelajaran, terutama bagi penyandang tunarungu atau low vision. Aspek audio dan visual diprioritaskan tanpa mengabaikan aspek pendukung lainnya.
PEMANFAATAN LIMBAH JELANTAH SEBAGAI PROGRAM PENGEMBANGAN PRODUK UMKM DI WILAYAH KAMPUNG KOTA Samsu Hendra Siwi; Fermanto Lianto; Joni Chin
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v4i2.13186

Abstract

“Jelantah” as household waste produced from kitchen activities is used frying oil that has been used several times. This used cooking oil is harmful to health because it already contains carcinogens. Carcinogens are substances that can trigger cancer. Body cells will be triggered to become cancer cells. Then, how to handle this used cooking oil? Many residents throw used cooking oil into waterways or sewers. This disposal will undoubtedly have an impact. The impact of environmental pollution, especially on water and soil, is being concentrated by environmentalists. The `` jelantahization” movement is one answer to the solution to this problem. Jelantahization is a RW 11 program so that residents are aware of the health and environmental hazards of used cooking oil. The cooking program is carried out from upstream to downstream, meaning from campaigns, mapping the distribution of residents who have collected used cooking oil, deposited used cooking oil, and made products from used cooking oil. , the use of soap produced from used cooking oil to the packaging of soap from used cooking oil and its marketing. The partner's problem is making a planned, structured, and measurable program whose outcome can be seen for its success. Partners also want assistance on the progress of the implementation of waste cooking oil utilization. This program is carried out together in RW 11, Pekayon Jaya Village, South Bekasi. Partner locations are residential areas that can be classified as urban villages. This PKM is carried out for program development and implementation assistance to obtain measurable results in quantity and quality. The stages were carried out from socialization to residents about the dangers of used cooking oil, both health and environmental hazards, awareness socialization of used cooking waste collection, training on the soap making process, packingABSTRAK:Minyak jelantah sebagai limbah rumah tangga yang dihasilkan dari aktivitas dapur yaitu bekas minyak penggorengan yang sudah beberapa kali dipakai. Minyak jelantah ini berbahaya bagi kesehatan karena sudah mengandung karsinogen. Karsinogen adalah zat yang dapat memicu kanker. Sel-sel tubuh akan dipicu menjadi sel-sel kanker. Kemudian, bagaimana penanganan minyak jelantah ini? Banyak warga yang membuang minyak jelantah ke saluran air ataupun ke selokan. Pembuangan ini tentu akan menjadikan dampak. Dampak pencemaran lingkungan terutama pada air dan tanah menjadi konsentrasi oleh pemerhati lingkungan. Gerakan jelantahisasi merupakan satu jawaban untuk solusi permasalahan ini. Jelantahisasi merupakan program RW 11 agar warga sadar akan bahaya kesehatan dan bahaya lingkungan pada minyak jelantah ini. Program Jelantahisasi dilakukan dari hulu ke hilir, artinya dari kampanye, pemetaan sebaran warga yang sudah melakukan pengumpulan minyak jelantah, setor minyak jelantah, pembuatan produk dari minyak jelantah, pemakaian sabun hasil dari minyak jelantah, hingga pengemasan sabun dari minyak jelantah serta pemasarannya. Permasalahan mitra adalah pada pembuatan program yang terencana, terstruktur dan terukur yang outcomenya dapat terlihat jelas untuk keberhasilannya. Mitra juga menginginkan pendampingan progres pelaksanaan Pemanfaatan limbah minyak jelantah. Program ini dilakukan bersama-sama se wilayah RW 11, Kelurahan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan. Lokasi mitra merupakan wilayah perumahan yang dapat digolongkan sebagai kampung kota. PKM ini dilakukan untuk pembuatan program dan pendampingan pelaksanaan hingga mendapatkan hasil yang terukur secara kuantitas dan kualitas. Tahapan-tahapan dilakukan dari   sosialisasi ke warga tentang bahaya jelantah baik bahaya kesehatan dan lingkungan, sosialisasi kesadaran pengumpulan limbah jelantah, pelatihan proses pembuatan sabun, packing
Co-Authors Aktaria Oktafiani Alicia Arleeta Amanda Ineza Gandasasmita Amanda, Gisella Thalia Andi Surya Kurnia Andre Onggara Angga Ali Putra Anggrica, Kelly Azzahrah, Fatiyah Bryan Wesley Budijanto Chandra Caroline Sunjaya Kurniawan Celine Geraldine Choandi, Mieke Coreen Katrina Tania Danarto, Agus David Drago Suherman David Priatama Sutarman Denny Husin Denny Husin Denny Husin Dwisusanto, Basuki Edy Chandra Efraim Jusuf Elysia, Elysia Evian Putra Setiawan Febrianto, Willy Steven Ferdi James Firdauzi, Fairuz Hayya Franky Liauw Friska Hasibuan Friska Mariana Helen Agnesia Husin, Denny Huvito, Nathan Joni Chin Kevin Tanamas Kreszen Himawan Kusmin, Nathaniel Avelino Larasati, Marcella Dwiyanda Lilianny Sigit Arifin Lilianny Sigit Arifin Lukardi, Kelvin Margaretha Syandi Mariana Martinus Bambang S Martinus Bambang Susetyarto Melyna Melyna Michael Fernandez Karyadi Michael Hutagalung Mieke Choandi Muhammad Yumna Helmy Naniek Widayati Priyomarsono Naniek Widayati Priyomarsono Nathanael Hanli Nathaniel Avelino Kusmin Patricia Beatrice Priyomarsono, Naniek Widayati Putri Arlastasya Maria Adi Pataka Reynaldo Reynaldo Rilatupa, James Samsu Hendra Siwi Sebastian Joe Silvia Silvia Siwi, Samsu Hendra Soenarto , Deni Solikhah, Nafiah Steven Lim Steven Lim, Steven Tanoto, Reynaldi Therina Adela Titin Fatimah Tjahya, Timmy Setiawan Veren Calisca Widyanti, Metta William William Winata, Suwardana Wiraguna, Sidi Ahyar Wong, Cellina Y. Basuki Dwisusanto Y. Basuki Dwisusanto Yoseph Michael Chandra Yuanda Saputra