Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan bahan ajar media pembelajaran fisika dengan pendekatan multi representasi untuk meningkatkan kemampuan pembuatan alat-alat praktikum calon guru fisika Chandra Sundaygara; Hestiningtyas Yuli Pratiwi; Muhammad Nur Hudha
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.7 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v2i2.2709

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh bahan ajar media pembelajaran fisika berbasis multi representasi untuk mengembangkan kemampuan membuat dan merangkai alat-alat percobaan fisika dan mengetahui kelayakan serta respon siswa terhadap bahan ajar ini pada materi listrik dan magnet. Metode penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (R&D). Desain penelitian menggunakan desain Four-D yaitu Define, Desain, Develop, Disseminate oleh Thiagarajan, dkk., 1974. Instrumen penelitian adalah angket. Data penelitian terdiri dari data uji kelayakan oleh validator dan data ujicoba terbatas yang diberikan kepada mahasiswa yang diperoleh melalui pemberian angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Uji kelayakan yang didasarkan validasi ahli media dan ahli materi diperoleh nilai rata-rata uji kelayakan sebesar 3,51 yang dikategorikan baik/valid sehingga bahan ajar layak digunakan, (2) Respon siswa terhadap bahan ajar media pembelajaran fisika berbasis multi representasi melalui ujicoba terbatas diperoleh nilai rata-rata ujicoba terbatas sebesar 3,58 yang dikategorikan baik/valid Kata Kunci: Bahan Ajar, Multi Representasi, Media pembelajaran Fisika
Meningkatkan Peran Serta Masyarakat dalam Mencegah Penyebaran Virus Covid-19 Dwi Haryoto; Hari Wisodo; Sujito; Arif Hidayat; Hestiningtyas Yuli Pratiwi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 1 (2021): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpm.v6i1.5019

Abstract

Community service has been carried out in RW 12 Kel. Merjosari Malang to increase the potential and participation of the community in health environment. The increase in the number of Covid-19 patients in Malang Raya, about 3,378 people, presents that the Covid-19 virus has increased drastically both number of patients confirmed positive and patients who died. The problems faced by partners are not understanding the Covid-19 disease, weak resources, limited funds, and difficulty accessing information. The method is socialization by conducting discussions, optimizing citizen resources, monitoring and evaluation. The result is conducting discussions, developing resources, providing training, providing counseling and assistance. Citizen involvement is to provide a place to install spraying equipment, maintain spraying facilities, provide a place to conduct training, provide human resources ready to be trained voluntarily. Citizens' anxiety and restlessness were slightly reduced by increased community understanding. Citizens give a positive assessment of service. This is proven by the percentage of residents giving a positive rating on average 95.68%, consisting of 95.33% giving a positive response, and 4.67% giving a negative response.
Optimalisasi Usaha Industri Kreatif Penyandang Disabilitas Sudi Dul Aji; Hena Dian Ayu; Hestiningtyas Yuli Pratiwi; Akhmad Jufriadi; Muhammad Nur Hudha
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2023): November
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This service aims to improve the economy and independence of the creative industries of people with disabilities. The creative industry is a printing and screen printing business owned by partners, namely people with disabilities, especially people who are deaf or hard of hearing and speech impaired. People with disabilities generally find it challenging to get access to funds because their limitations make it difficult to gain trust from the industry. The method offered in implementing this service is transferring science and technology for business development through discussions, guidance, sewing t-shirts and bags, marketing management training, and partner mentoring. Results from questionnaires and partner interviews show that understanding, skills, independence, and the number of products made have increased. In real terms, this service program has succeeded in increasing the turnover of partners. This phenomenon is because partners can receive screen printing and sewing totes and mug accessories simultaneously without going from second-hand (totes and accessories are no longer ordered by other tailors). Thus, this service can help the creative industries of people with hearing and speech impairments become more independent in their society.
Integrasion of Ethnoscience of Wayang Kulit in Guided Inquiry E-Modul to Strengthen Critical Thinking in Learning Light and Optical Devices F. Collin Maharani Manggul; Sholikhan; Hestiningtyas Yuli Pratiwi
Kasuari: Physics Education Journal (KPEJ) Vol. 8 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Universitas Papua, Jurusan Pendidikan Fisika FKIP Unipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/kpej.v8i1.940

Abstract

The integration of ethnoscience into the guided inquiry-based e-module is driven by students’ low critical thinking skills caused by the dominance of conventional, teacher-centered learning methods. The physics topics of light and optical instruments are linked with elements of the traditional wayang kulit art as an ethnoscience approach to create more meaningful and contextual learning experiences. This study aims to develop an interactive and contextual e-module to enhance students’ critical thinking skills. The development model used is ADDIE, which consists of five stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The research was conducted with 18 eighth-grade students at SMP Ma’arif 01 Nurul Muttaqin. Expert validation results showed that the e-module achieved feasibility scores of 84% for content and media, and 87% for language aspects. Teachers rated the practicality of the e-module very high with a score of 95%. During implementation, students’ critical thinking skills significantly improved, indicated by an average pretest score of 16.83 and a post-test score of 98.33. The N-Gain value of 0.9807 falls into the high category, demonstrating the e-module’s effectiveness in enhancing critical thinking abilities. Therefore, this guided inquiry-based ethnoscience e-module is both feasible and effective as an innovative and contextual science learning medium.
Penerapan Model Pembelajaran Talking Stick untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Fisika Materi Vektor Hilwa Mar’atus Solihah; Hestiningtyas Yuli Pratiwi; Anik Istyowati; Hilwa Mar’atus Solihah; Hestiningtyas Yuli Pratiwi; Anik Istyowati
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065v3i92023p777-786

Abstract

Penyebab rendahnya hasil belajar fisika yaitu kurangnya motivasi belajar siswa sebab siswa menganggap fisika merupakan pelajaran yang sangat sulit yang hanya membahas rumus dan perhitungan yang begitu rumit, metode, strategi, dan model pembelajaran yang digunakan belum bervariasi, selain itu lingkungan belajar yang monoton karena hanya di dalam ruangan, serta kurangnya penggunaan media pembelajaran oleh guru sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar fisika siswa. Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu alternatif penyelesaian masalah diatas yaitu dengan menerapkan model pembelajaran talking stick. Penelitian ini bertujuan guna mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar siswa pada materi vektor kelas X di salah satu SMA di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian jenis Penelitian Tindakan Kelas, untuk analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar angket motivasi belajar, soal pre tes, soal untuk mengetahui hasil belajar siswa disetiap siklusnya, dan catatan lapangan. Penelitian ini diperoleh data yaitu nilai rata- rata pre tes siswa (sebelum dilakukan pembelajaran) sebesar 59,5 ; sedangkan nilai rata- rata hasil belajar siklus 1 meningkat menjadi 71; kemudian nilai rata- rata hasil belajar siklus 2 meningkat menjadi 82,58; lalu nilai rata- rata hasil belajar siklus 3 meningkat menjadi 87,47. Data hasil motivasi belajar diperoleh rata- rata persentase motivasi belajar awal siswa sebesar 68,67 persen ; sedangkan rata- rata persentase motivasi belajar akhir siswa meningkat menjadi 77,47 persen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran talking stick dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa.
Penerapan Model Pembelajaran Talking Stick untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Fisika Materi Vektor Hilwa Mar’atus Solihah; Hestiningtyas Yuli Pratiwi; Anik Istyowati; Hilwa Mar’atus Solihah; Hestiningtyas Yuli Pratiwi; Anik Istyowati
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065v3i92023p777-786

Abstract

Penyebab rendahnya hasil belajar fisika yaitu kurangnya motivasi belajar siswa sebab siswa menganggap fisika merupakan pelajaran yang sangat sulit yang hanya membahas rumus dan perhitungan yang begitu rumit, metode, strategi, dan model pembelajaran yang digunakan belum bervariasi, selain itu lingkungan belajar yang monoton karena hanya di dalam ruangan, serta kurangnya penggunaan media pembelajaran oleh guru sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar fisika siswa. Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu alternatif penyelesaian masalah diatas yaitu dengan menerapkan model pembelajaran talking stick. Penelitian ini bertujuan guna mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar siswa pada materi vektor kelas X di salah satu SMA di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian jenis Penelitian Tindakan Kelas, untuk analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar angket motivasi belajar, soal pre tes, soal untuk mengetahui hasil belajar siswa disetiap siklusnya, dan catatan lapangan. Penelitian ini diperoleh data yaitu nilai rata- rata pre tes siswa (sebelum dilakukan pembelajaran) sebesar 59,5 ; sedangkan nilai rata- rata hasil belajar siklus 1 meningkat menjadi 71; kemudian nilai rata- rata hasil belajar siklus 2 meningkat menjadi 82,58; lalu nilai rata- rata hasil belajar siklus 3 meningkat menjadi 87,47. Data hasil motivasi belajar diperoleh rata- rata persentase motivasi belajar awal siswa sebesar 68,67 persen ; sedangkan rata- rata persentase motivasi belajar akhir siswa meningkat menjadi 77,47 persen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran talking stick dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa.
Penerapan Inkuiri Terbimbing dan Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Safril Taufiq Hidayat; Anik Istyowati; Safril Taufiq Hidayat; Anik Istyowati; Hestiningtyas Yuli Pratiwi
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065v3i92023p787-802

Abstract

Abstract: This Research aims to improve critical thinking skills by applying guided inquiry models and differentiated learning. The critical thinking skills were analyzed through five indicators, namely: providing simple explanations, building basic skills, drawing conclusions, providing further explanations, and developing strategies and tactics (Ennis, 1995). The research was motivated by observation results indicating that 69 percent or the majority of students in one class did not possess critical thinking skills. However, critical thinking skills are considered one of the components that need to be developed in 21st-century skills (Zubaidah, 2020), in line with the implementation of the independent curriculum (Indarta et al., 2022). The research adopted the design of classroom action research by Kemmis and Taggart, implemented in three cycles, using guided inquiry and differentiation strategies, with learner characteristics analyzed through learning motivation. Each cycle involved actions to enhance critical thinking skills. The success of the actions was determined by the improvement of critical thinking skills and the learning mastery. The results showed an increase in critical thinking skills from 76 percent (cycle 1) to 80 percent (cycle 2), and further to 87 percent (cycle 3), while learning mastery also improved from 54 percent (cycle 1) to 69 percent (cycle 2), and finally reached 100 percent (cycle 3). Abstrak: Penelitian yang bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dengan menerapkan model inkuiri terbimbing dan pembelajaran berdiferensiasi. Kemampuan berpikir kritis akan dianalisis melalui 5 indikator, yaitu: memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, membuat kesimpulan, membuat penjelasan lanjut, membuat strategi dan taktik (Ennis, 1995). Penelitian dilatarbelakangi dengan hasil observasi yang menunjukan dalam satu kelas 69 persen atau mayoritas belum memiliki kemampuan berpikir kritis. Padahal kemampuan berpikir kritis ialah salah satu komponen yang perlu dikembangkan dalam keterampilan abad 21 (Zubaidah, 2020), seiring dengan diterapkannya kurikulum merdeka (Indarta et al., 2022). Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian tindakan kelas desain dari Kemmis dan Taggart yang dilaksanakan dalam 3 siklus, menggunakan model inkuiri terbimbing dan strategi diferensiasi yang karakteristik peserta didiknya dianalisis melalui motivasi belajar. Setiap siklus dilakukan tindakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Keterberhasilan tindakan akan dilihat dari meningkatnya kemampuan berpikir kritis dan ketercapaian ketuntasan belajar secara klasikal. Hasil yang diperoleh kemampuan berpikir kritis meningkat dari 76 persen (siklus 1) menuju 80 persen (siklus 2) selanjutnya ke 87 persen (siklus 3), sedangkan ketuntasan belajar juga meningkat dari 54 persen (siklus 1) menuju 69 persen (siklus 2) dan selanjutnya ke 100 persen (siklus 3).