Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Analysis of Mangrove Suitability for Ecotourism Development Based on Geographic Information System in Kemboja Village North Kayong Regency, West Kalimantan Nova, Nova; Raynaldo, Adityo; Saputra, Robin
Journal of Applied Geospatial Information Vol. 8 No. 2 (2024): Journal of Applied Geospatial Information (JAGI)
Publisher : Politeknik Negeri Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30871/jagi.v8i2.8111

Abstract

Mangrove ecotourism has an important role in maintaining the balance of coastal ecosystems. Mangroves have various important benefits, such as in mitigating climate change with their ability to absorb carbon and protect coastal areas from abrasion. To improve tourism development, the Geographic Information System's ecotourism suitability analysis has become an important instrument. The purpose of this study is to explore mangrove types and the value of the Tourism Suitability Index. A Geographic Information System (GIS) and Tourism Suitability Index (TSI) approach was used to analyze parameter data, including mangrove density, species richness, mangrove thickness, tides and association biota. Results show that the dominant mangrove species are Xylocarpus granatum, Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata, and Bruguiera parviflora, with densities varying from 4 m²/ind to 23 m²/ind. Mangrove thickness varied from <50 to >500 meters, and biota association varied from 1 to 4 groups. The average tides vary in height, providing an important hydrological context. The land suitability analysis showed great mangrove ecotourism potential in Kemboja Village, with 2,532.20 hectares classified as highly suitable (46.07%) and 2,961.86 hectares classified as suitable (53.89%) for sustainable tourism development. Unsuitable areas cover 1.61 hectares (<1%).
Web GIS Based Benthic Habitat Mapping Update Supports Smart Island Lemukutan Zibar, Zan; Saputra, Robin; Raynaldo, Adityo; Supriyatno, Supriyatno
Journal of Applied Geospatial Information Vol. 8 No. 2 (2024): Journal of Applied Geospatial Information (JAGI)
Publisher : Politeknik Negeri Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30871/jagi.v8i2.8705

Abstract

Benthic habitats are important for the quality of life and global climate. Systematic and efficient information is important for the monitoring, mapping, and recording of aquatic bottom habitats, thus providing a habitat database. In the last decade, object-based image analysis (OBIA) has been accepted as an effective method for extracting and classifying information from high spatial resolution satellite imagery. Our study's goal is to use WebGIS to combine coral reef monitoring data from Lemukutan Island and find out how much coral cover there is on the island using the smart island WebGIS. This study took place from August 6th to August 13th, 2024, and used a total of 1097 field points to show where all the benthic habitats and Sentinel 2A image data sources were located. The research results obtained the extent of shallow water benthic habitat classification with different variations in each habitat class. The Rock Class covers an area of "‹"‹41,940 ha, the mixed class 2,409 ha, the coral class 130,340 ha, the dead coral class 49,249 ha, the macroalgae class 2,840 ha, and the sand class 12,140 ha. The overall accuracy (OA) results for the waters of Lemukutan Island obtained the highest value, namely 89.5833%, using the SVM algorithm. Regular monitoring of coral reefs can help update Lemukutan Island Smart Island data to become a catalyst in realizing a smart island ecosystem in West Kalimantan Province by presenting benthic habitat maps through web GIS services and realizing technology development for coastal areas and small islands.
Analisis Hubungan Kondisi Ekosistem Mangrove terhadap Produksi Ikan di Kawasan Konservasi Perairan Kayong Utara: Analysis of the Relationship Between Mangrove Ecosystem Conditions and Fish Production in the Marine Conservation Area of Kayong Utara Saputra, Robin; Raynaldo, Adityo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 16 No. 3 (2024): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v16i3.59955

Abstract

Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Kayong Utara bertujuan untuk melindungi dan memanfaatkan sumber daya perikanan secara berkelanjutan, termasuk udang penaeid, pesut, dan ekosistem mangrove. Pengelolaan yang efektif memerlukan data spasial mengenai target konservasi guna mendukung perencanaan dan evaluasi yang komprehensif. Penelitian ini menganalisis hubungan antara indeks vegetasi mangrove (NDVI) dari citra satelit dengan produksi ikan di kawasan konservasi menggunakan pendekatan produktivitas mangrove. Penelitian ini terdiri dari empat tahapan: (i) analisis stok dan produksi ikan dengan model produktivitas mangrove, (ii) analisis korelasi antara produksi ikan dan kondisi mangrove, (iii) pengukuran parameter fisikokimia perairan, serta (iv) analisis korelasi antara faktor fisikokimia perairan dan produksi ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi serasah mangrove mencapai 2,09±0,86 g berat kering/m²/hari atau 8,42±3,47 ton/ha/tahun, sementara produksi ikan berkisar antara 190,17–690,28 kg/ha/tahun dengan rata-rata 448,82±185,61 kg/ha/tahun. Terdapat korelasi positif sedang antara NDVI dan produksi ikan (r = 0,51), sedangkan parameter Dissolved Oxygen (DO) dan Muatan Padatan Tersuspensi (MPT) menunjukkan korelasi negatif terhadap produksi ikan (r = -0,65 dan -0,57). Hasil penelitian ini menegaskan peran penting ekosistem mangrove dalam mendukung produktivitas perikanan. Oleh karena itu, upaya konservasi mangrove perlu diperkuat guna menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber daya perikanan.
Rancang Bangun Alat Monitoring Pasang Surut Menggunakan Energi Matahari Berbasis Internet of Things (IoT) Santoso, Hendi; Munandar, Rizqan Khairan; Saputra, Robin; Zibar, Zan; Dodi, Dodi
Juvenil Vol 6, No 2: Mei (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i2.29729

Abstract

ABSTRAKPemantauan pasang surut air laut sangat penting dalam pengelolaan wilayah pesisir, keselamatan navigasi, dan studi lingkungan. Namun, sistem pemantauan pasang surut konvensional sering menghadapi kendala seperti biaya operasional yang tinggi dan ketergantungan pada sumber energi fosil. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun alat monitoring pasang surut berbasis Internet of Things (IoT) yang menggunakan sumber energi terbarukan berupa tenaga surya. Alat ini menggunakan modul ESP8266 sebagai mikrokontroler utama yang terhubung dengan sistem IoT melalui koneksi Wi-Fi. Panel surya berkapasitas 10 Wp dan aki 12 V 6 Ah digunakan untuk mendukung operasional alat secara mandiri sehingga dapat berfungsi terus-menerus tanpa bergantung pada listrik konvensional. Data yang diperoleh, seperti tinggi pasang surut air, dikirimkan secara real-time ke website khusus yang terintegrasi dengan database MySQL untuk menyimpan data pengukuran. Hal ini memudahkan pengguna dalam mengakses informasi historis dan melakukan analisis lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat monitoring pasang surut berbasis IoT dengan energi surya ini dapat beroperasi secara efektif dan memberikan solusi pemantauan pasang surut yang efisien serta ramah lingkungan.Kata Kunci: ESP8266, Internet of Things (IoT), Monitoring Pasang Surut, Panel Surya, Website.ABSTRACTThis study aims to design and develop a tidal monitoring device based on the Internet of Things (IoT) that utilizes solar energy as a renewable power source. The device is equipped with an ESP8266 module as the main microcontroller, which connects to the IoT system via Wi-Fi. A 10 Wp solar panel and a 12 V 6 Ah battery are used to ensure the device operates autonomously, allowing it to function continuously without relying on conventional power sources. Data collect-ed from the device, such as tidal height, is transmitted in real-time to a custom-developed web-site. The website is integrated with a MySQL database to store the measured tidal data, facilitat-ing easy access to historical data and further analysis. The results of this study demonstrate that the solar-powered tidal monitoring device based on IoT operates effectively, offering an efficient and environmentally friendly solution for tidal monitoring.Keywords: ESP8266, Internet of Things (IoT), Solar Panel, Tidal Monitoring, Website.
Macrozoobenthos Community Structure as a Bioindicator for Waters in Sungai Kakap Village, Kubu Raya Marista, Etha; Raynaldo, Adityo; Shofiyah, Sofi Siti; Zibar, Zan; Saputra, Robin; Linda, Riza
Jurnal Biologi Tropis Vol. 25 No. 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v25i4.10194

Abstract

Coastal waters are vital for aquatic life and human activities, yet their quality is highly susceptible to environmental pressures. Because macrozoobenthos are sensitive to environmental changes and have limited mobility, they are frequently utilized as bioindicators. This study aims to examine the structure of the macrozoobenthos community in the waters of Sungai Kakap Village, Kubu Raya Regency, and its relationship with environmental parameters. Samples were collected at five stations using purposive sampling with line transects and quadrants, then analyzed for density, diversity (H'), evenness (E), and dominance (C). A total of 14 species were found with distinct dominant patterns across stations, notably the high dominance of Neritina violacea, Corbicula fluminea, and Corbicula fluvitalis at Stations I, III, and V, respectively. Community structure analysis showed low diversity (H': 0.33–0.65) and high dominance (C: up to 0.84), suggesting a community structure dominated by a few species, leading to relatively low stability. Environmental parameters—temperature (30.1–31.7∘ C), salinity (0.50–3.00%), pH (5.45–7.58), and DO (3.77–7.51 mg/L)—were found to influence species distribution. These results confirm that macrozoobenthos is an effective bioindicator for water quality assessment in the Sungai Kakap area. The low community stability implies a need for consistent monitoring to prevent further degradation. Future research should focus on the impact of specific pollutants on these dominant species to support informed mangrove ecosystem management.
Mangrove Cerdas 4.0: Perancangan Geodatabase untuk Mendukung Transformasi Digital Pengelolaan Konservasi Perairan Kayong Utara Berbasis WebGIS Saputra, Robin; Zibar, Zan; Raynaldo, Adityo
Jurnal Laut Khatulistiwa Vol 8, No 3 (2025): October
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lkuntan.v8i3.98839

Abstract

Penelitian ini menghadirkan inovasi dalam pengelolaan ekosistem mangrove melalui pengembangan WebGIS Mangrove Cerdas 4.0, sebuah sistem digital interaktif yang mengintegrasikan data penginderaan jauh, survei lapangan, dan analisis kualitas air untuk mendukung konservasi pesisir berbasis data spasial. Inovasi ini menjawab kekosongan penerapan teknologi WebGIS yang selama ini belum optimal digunakan dalam pemantauan mangrove di Indonesia. Penelitian dilakukan di Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, dengan pendekatan kombinatif antara klasifikasi citra Sentinel-2B menggunakan algoritma Support Vector Machine (SVM), analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk kerapatan vegetasi, dan interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW) untuk parameter kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 15 jenis mangrove (12 sejati dan 3 asosiasi) dengan dominansi Rhizophora apiculata, R. mucronata, dan Sonneratia alba. Luas kawasan mangrove mencapai 13.871,70 ha dengan akurasi klasifikasi 70,73% (Kappa 0,5579). Berdasarkan NDVI, kerapatan mangrove terbagi atas kategori jarang (490,67 ha), sedang (6.713,92 ha), dan rapat (6.667,11 ha). Parameter kualitas air menunjukkan kondisi yang mendukung pertumbuhan mangrove, yaitu pH 7,0-8,69, DO 3,50-7,99 mg/L, salinitas 11,21-30,49‰, dan suhu 26,6–33,09°C. Seluruh hasil diintegrasikan dalam WebGIS berbasis Leaflet yang dapat diakses publik untuk monitoring konservasi. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi teknologi WebGIS berbasis data spasial dapat menjadi model transformasi digital pengelolaan ekosistem pesisir, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap konservasi berbasis sains dan partisipasi masyarakat di era 4.0.
Edukasi Interaktif Keanekaragaman Biota Laut dan Lingkungan di SDN 13 Pontianak Barat Shofiyah, Sofi Siti; Marista, Etha; Raynaldo, Adityo; Saputra, Robin; Zibar, Zan
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 1 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i1.1717

Abstract

Kegiatan pengenalan keanekaragaman biota laut dan peningkatan kesadaran menjaga lingkungan pesisir merupakan upaya penting dalam meningkatkan pemahaman sejak dini terhadap ekosistem laut yang rentan gangguan ekologis. Kebaruan dari program pengabdian ini terletak pada penggunaan pendekatan edukasi kontekstual yang secara spesifik mengangkat pengenalan biota laut endemik khas Kalimantan Barat, dipadukan dengan pendistribusian buku muatan lokal wawasan bahari guna menjembatani keterbatasan kurikulum formal. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 13 Pontianak Barat yang berlokasi di kawasan pesisir dan berpotensi menjadi agen perubahan dalam perlindungan lingkungan. Tujuan kegiatan adalah mengenalkan keanekaragaman biota laut lokal, meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dan mengajak mereka untuk menjadi agen perubahan yang peduli terhadap keberlanjutan pesisir. Jumlah peserta sebanyak 54 siswa, yang terdiri atas kelas 5 dan kelas 6. Metode pelaksanaan meliputi presentasi, ceramah, dan demonstrasi interaktif yang mencakup pengenalan keanekaragaman biota laut setempat, visualisasi audiovisual tentang hewan laut, serta penjelasan mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Evaluasi awal dilakukan melalui pretest untuk mengukur Tingkat pemahaman siswa dan kesadaran siswa. Hasil pretest menunjukkan rata-rata pemahaman siswa sebesar 65%, dengan skor pengenalan biota laut sebesar 58% dan kesadaran lingkungan mencapai 73%, yang mengindikasikan perlunya peningkatan pemahaman terutama dalam aspek pengenalan biota laut lokal. Sebagai evaluasi akhir, dilakukan kuis secara langsung dan acak kepada siswa setelah penyampaian materi. Hasilnya, siswa mampu menjawab pertanyaan secara antusias dan benar, yang menunjukkan peningkatan pemahaman serta keberhasilan metode penyampaian kontekstual yang digunakan dalam kegiatan ini.
Exploration of ethnomathematics in the coastal areas of West Kalimantan Dodi; Zan Zibar; Robin Saputra; Hendi Santoso; Rizqan Khairan Munandar
Ethnomathematics Journal Vol. 7 No. 1 (2026): March
Publisher : Ethnomath Association in cooperation with Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ej.v7i1.89451

Abstract

This study explores the ethnomathematical practices of coastal communities in West Kalimantan, Indonesia, revealing how traditional knowledge systems contain rich mathematical concepts embedded in daily life activities. Utilizing qualitative methods, field observations, interviews, and documentation, the research highlights how local practices such as maritime navigation, time estimation, fishing tool construction, trade measurements, and traditional crafts reflect applied mathematics. Although these concepts are not formally expressed in academic terms, they demonstrate a deep understanding of geometry, arithmetic, estimation, and patterns. The study underscores the potential of integrating ethnomathematics into formal education to create a more contextual, inclusive, and culturally relevant mathematics curriculum. These findings support of mathematics education by recognizing and legitimizing indigenous knowledge systems as valuable learning resources. By incorporating local mathematical practices into teaching, educators can bridge the gap between abstract concepts and students’ lived experiences, fostering deeper engagement, enhancing critical thinking, and strengthening cultural identity.
Pemberdayaan Pokdarwis Melalui Transplantasi Karang Berbasis WebGIS untuk Ekowisata Bahari Berkelanjutan di Pulau Lemukutan: Empowering Pokdarwis Through WebGIS-Based Coral Transplantation for Sustainable Marine Ecotourism on Lemukutan Island Zan Zibar; Robin Saputra; Fitra Wira Hadinata
Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jppmi.v5i1.1014

Abstract

Pulau Lemukutan merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) di Kalimantan Barat dengan kondisi tutupan terumbu karang dalam kategori sedang (25–50%), sehingga memerlukan intervensi rehabilitasi untuk mendukung keberlanjutan ekowisata,. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberdayakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rehabilitasi terumbu karang serta pemanfaatan teknologi webGIS sebagai media monitoring dan promosi,. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan teknis transplantasi, penerapan teknologi webGIS, pendampingan, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mitra yang signifikan, yaitu sebesar 83,1% mengenai ekosistem terumbu karang dan 70,4% terkait transplantasi berbasis webGIS serta ekowisata bahari berkelanjutan. Sebanyak 125 fragmen karang telah berhasil ditransplantasikan pada 25 unit media meja yang terintegrasi dengan platform webGIS sebagai sarana pemantauan digital. Kegiatan ini berhasil meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pelestarian ekosistem sekaligus memperkuat daya saing pariwisata bawah laut melalui inovasi digital.
Analisis Spasial Kerapatan dan Kondisi Ekologis Mangrove Menggunakan Citra Sentinel-2A di Desa Dusun Kecil Kabupaten Kayong Utara Robin Saputra; Zan Zibar; Rizqan Khairan Munandar; Hendi Santoso; Dodi Dodi
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 7 No 1 (2026): MANFISH JOUNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31573/manfish.v7i1.1167

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kesehatan ekosistem mangrove di Desa Dusun Kecil, Kabupaten Kayong Utara, melalui integrasi data penginderaan jauh Sentinel-2A, indeks vegetasi NDVI, klasifikasi berbasis piksel, serta pengukuran kualitas air. Pengolahan citra meliputi koreksi atmosferik dan geometrik, perhitungan NDVI, serta klasifikasi (SVM) untuk membedakan mangrove, non-mangrove, dan perairan. Data lapangan digunakan sebagai sampel validasi untuk menilai akurasi hasil klasifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangrove di wilayah kajian mencakup luas ±5.708,53 ha dengan delapan spesies utama, didominasi oleh Rhizophora apiculata yang mencerminkan kondisi substrat berlumpur dan dinamika pasang surut yang mendukung. Analisis NDVI mengidentifikasi tiga kelas kerapatan mangrove, yaitu rapat (3.357,59 ha), sedang (2.164,76 ha), dan jarang (186,18 ha), dengan dominasi kelas rapat yang menunjukkan kondisi ekologi yang relatif baik. Kualitas air di sekitar mangrove juga berada pada kisaran optimal untuk pertumbuhan, dengan suhu 29,72–32,69°C, DO 3,50–6,68 mg/L, salinitas 11,21–29,04 ppt, dan pH 7,69–8,29. Klasifikasi SVM menghasilkan nilai Akurasi Keseluruhan 75,73% dan Kappa 0,6579, sehingga dapat dikategorikan cukup baik untuk pemetaan tutupan lahan menggunakan citra resolusi menengah. Secara keseluruhan, integrasi NDVI, klasifikasi SVM, dan data kualitas air mengenai kondisi ekosistem mangrove yang masih relatif stabil, serta mengidentifikasi area berkerapatan rendah yang memerlukan perhatian konservasi dan pemantauan lebih lanjut.