Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANKILOSTOMIASIS PENYAKIT TROPIS TERABAIKAN: TINJAUANLITERATUR TENTANG EPIDEMIOLOGI, MANIFESTASI KLINIS,DIAGNOSIS, DAN STRATEGI PENGENDALIAN Irawati, Nur Bebi Ulfah; Hermawati, Luluk; Hilizza Awalina Zulfa; Prameswari , Yuda Nabella; Damayanti , Putri; Furqoni , Abdul Hadi
JURNAL BIOSENSE Vol 8 No 4 (2025): Edisi Oktober 2025
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v8i4.5721

Abstract

Ankilostomiasis merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh cacing Ancylostoma duodenal dan Necator americanus, dan tergolong sebagai salah satu penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Diseases, NTDs). Penyakit ini endemik di wilayah tropis dan subtropis, terutama di daerah dengan sanitasi lingkungan buruk dan kebiasaan tidak menggunakan alas kaki. Meskipun dapat ditangani dengan obat anthelmintik seperti albendazol dan mebendazol, reinfeksi sering terjadi karena akar masalah lingkungan dan sosial belum terselesaikan. Artikel ini bertujuan untuk meninjau secara komprehensif literatur ilmiah terkini mengenai agen penyebab, siklus hidup, epidemiologi, manifestasi klinis,diagnosis, serta strategi pencegahan dan pengendalian ankilostomiasis. Penelitian ini merupakan systematic literature review yang mengidentifikasi dan menganalisis literatur tahun 2014–2025 mengenai ankilostomiasis pada manusia, meliputi agen penyebab, siklushidup, prevalensi, manifestasi klinis, metode diagnosis, serta strategi pencegahan dan pengendalian, dengan seleksi artikel dilakukan berdasarkan pedoman PRISMA. Ankilostomiasis berkontribusi signifikan terhadap beban penyakit kronis melalui dampak seperti anemia defisiensi besi, gangguan tumbuh kembang anak, dan penurunan kapasitas produktif masyarakat. Diagnosis dini masih menjadi tantangan karena gejala yang tidak spesifik, sementara upaya pengendalian memerlukan intervensi lintas sektor, termasuk edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, perbaikan sanitasi, serta program deworming massal. Pengendalian ankilostomiasis tidak dapat mengandalkan terapi farmakologis semata, tetapi harus disertai dengan pendekatan lingkungan dan sosial yang menyeluruh. Strategi terpadu sangat diperlukan untuk menurunkan prevalensi dan memutus siklus penularan, terutama diwilayah endemis.
Problem-Based Learning Dan Pengembangan Higher-Order Thinking Skills Pada Mahasiswa Kedokteran: Tinjauan Literatur Wulansari, Ekawati Rini; Fidusia, Amanah Eva; Agustianti, Erika; Asma’ul Husna, Firda; Darifah, Siti; Trisnasari , erni; Hermawati, Luluk
Jurnal Inovasi Pendidikan Dan Pembelajaran Vol. 1 No. 3 (2025): Oktober
Publisher : Arfah BHMS Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63980/eduvasi.v1i3.93

Abstract

Modern medical education emphasizes not only the mastery of medical knowledge but also the development of higher-order thinking skills (HOTS), including critical thinking, problem solving, and self-directed learning (SDL). To achieve these learning outcomes, Problem-Based Learning (PBL) has become one of the most widely implemented instructional strategies in medical curricula worldwide. This literature-based study aims to systematically examine the contribution of PBL in medical education to the enhancement of students’ HOTS. The Methods was using A comprehensive literature search was conducted through PubMed, Scopus, and Google Scholar using the keywords “Problem-Based Learning,” “Medical Education,” “Higher-Order Thinking Skills,” “Critical Thinking,” “Problem solving,” and “Self-Directed Learning.” Inclusion criteria consisted of publications from 2015–2025, empirical research, systematic reviews, or literature reviews within the field of medical education. The Results are The findings indicate that PBL in medical education significantly improves critical thinking by fostering analytical and evaluative skills, enhances problem-solving ability through authentic clinical case scenarios, and supports self-directed learning by promoting learner autonomy in identifying study needs and accessing scientific evidence. The success of PBL depends on the quality of case scenarios, the role of tutors as facilitators, and the readiness of students to engage actively in the learning process. The Conclusion is Evidence from the literature highlights that Problem-Based Learning plays a pivotal role in developing higher-order thinking skills among medical students. Integrating PBL systematically into medical curricula—supported by adequate learning resources and trained facilitators—strengthens lifelong learning competencies and prepares students to face the complex challenges of modern healthcare.
Touch Dna Dalam Penerapan Ilmu Forensik: Tinjauan Literatur Adhayati, Baety; Hermawati, Luluk; Furqoni, Abdul Hadi
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 5 (2025): Volume 12 Nomor 5
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i5.20611

Abstract

DNA berasal dari sel-sel epitel yang tertinggal akibat kontak fisik minimal, telah menjadi komponen penting dalam ilmu forensik modern. Kajian ini bertujuan untuk menelaah secara sistematis aspek fundamental dan aplikatif dari Touch DNA, termasuk asal-usul biologis, metode pengumpulan, teknik analisis, serta tantangan interpretatif yang dihadapi dalam praktik forensik. Literatur dikumpulkan melalui penelusuran sistematis pada basis data elektronik PubMed, Scopus, dan Google Scholar, dengan menggunakan kombinasi kata kunci yang relevan. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan, untuk memastikan kualitas metodologis dan relevansi tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun analisis STR memungkinkan identifikasi DNA dengan jumlah sampel minimal, keberhasilan ekstraksi dan interpretasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jenis permukaan, durasi dan tekanan sentuhan, serta kondisi lingkungan. Teknik pengumpulan seperti pengusapan basah dan angkat perekat terbukti krusial dalam memaksimalkan perolehan DNA. Selain itu, keberadaan DNA campuran, risiko kontaminasi, dan transfer sekunder menjadi tantangan utama dalam validitas hasil. Pendekatan berbasis probabilistik dalam interpretasi genotipe kini semakin banyak diadopsi untuk mengatasi kompleksitas ini.
Workshop Pengolahan Sampah Rumah Tangga Sebagai Upaya Edukasi Literasi Lingkungan Berkelanjutan Di Desa Citeluk, Pandeglang , Banten Wulansari, Ekawati Rini; Hermawati, Luluk; Zulfa, Hilizza Awalina Zulfa; Ulfah Irawati, Nur Bebi Ulfah Irawati
Elevasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Vol. 1 No. 2 (2025): Juni
Publisher : Arfah BHMS Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63980/elevasi.v1i2.78

Abstract

Household waste management remains a significant challenge in many regions, including rural areas. The low level of environmental literacy among the community, particularly children, is one of the main factors contributing to the lack of awareness regarding the importance of sustainable waste management. This community service program aimed to improve environmental literacy among elementary school students in Citeluk Village, Pandeglang Regency, through an educational and participatory workshop. The program was carried out in two main sessions: an environmental literacy session delivered interactively, and a practical session involving the creation of flower pots from used plastic bottles. The results showed an increase in students’ understanding of types of waste and their environmental impact, as well as basic skills in recycling plastic waste into useful items. Additionally, the activity fostered ecological awareness and creativity in utilizing waste materials. This initiative had a positive impact and has the potential to be further developed as a school- and community-based environmental education model.
RESISTENSI INSEKTISIDA PADA AEDES AEGYPTI: MEKANISME BIOLOGIS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGENDALIAN DENGUE Irawati, Nur Bebi Ulfah; Hermawati, Luluk; Awalina Zulfa, Hilizza; Fitrina Nasution, Silvia
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 10 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v10i2.1977

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan global dengan Aedes aegypti sebagai vektor utama penularan. Penggunaan insektisida kimia masih menjadi strategi utama dalam pengendalian vektor, namun efektivitasnya semakin menurun akibat berkembangnya resistensi terhadap insektisida. Artikel ini merupakan tinjauan literatur terhadap 36 studi yang dipublikasikan pada 2015–2025 untuk mengeksplorasi mekanisme resistensi Ae. aegypti dan implikasinya terhadap pengendalian dengue. Hasil analisis menunjukkan bahwa resistensi berkembang melalui mekanisme metabolik, target-site (mutasi pada gen VGSC dan ace-1) yang dapat menimbulkan fenomena knockdown resistance (kdr), sementara peningkatan aktivitas enzim metabolik seperti esterases, glutation-S-transferase, dan sitokrom P450 berperan dalam detoksifikasi insektisida, penetrasi kutikula, serta resistensi perilaku nyamuk. Paparan jangka panjang terhadap insektisida juga dapat memicu ekspresi gen baru terkait struktur kutikula, metabolisme energi, dan protease, yang turut memperkuat resistensi. Faktor manusia, lingkungan, dan biologi nyamuk turut mempercepat proses seleksi resistensi. Resistensi yang meluas terbukti menurunkan efektivitas fogging, larvasida, dan insektisida rumah tangga, sehingga meningkatkan risiko penularan dengue. Sebagai respon, pendekatan alternatif seperti rotasi insektisida, penggunaan bioinsektisida, teknologi genetik, serta surveilans resistensi adaptif dinilai penting untuk memperkuat Integrated Vector Management (IVM). Temuan ini menegaskan bahwa resistensi insektisida bukan sekadar isu biologis, melainkan tantangan multidimensional yang menuntut strategi pengendalian terpadu dan berkelanjutan guna menekan insidensi dengue.