Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Kelelahan pada Awal Postpartum terhadap Motivasi Ibu Nifas dalam Pemberian ASI Gozali, Wigutomo; Pratiwi, Putu Irma
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 7 No 3 (2025): Juni 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i3.7297

Abstract

Perempuan yang telah melahirkan mengalami berbagai perubahan dalam kesejahteraan fisik dan mental. Gejala fisik yang dialami perempuan pasca melahirkan antara lain rasa tidak nyaman. kelelahan setelah persalinan tidak hanya membahayakan kesehatan ibu tetapi juga membahayakan bayi dan anak-anaknya. Kejadian ini dapat berdampak negatif pada produksi asi, ikatan ibu dan bayi, dan interaksi antara ibu dan bayi, sehingga dapat memperlambat perkembangan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelelahan pada awal postpartum terhadap motivasi ibu nifas dalam pemberian asi di kabupaten buleleng. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif menggunakan analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. sampel pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus slovin berjumlah 385 ibu nifas. teknik sampling menggunakan purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. instrumen yang digunakan ada dua, kuesioner pertama adalah postpartum fatigue scale (PFS) multidimensi yang dikembangkan oleh Milligan dkk pada tahun 1997 untuk menilai tingkat kelelahan pascapersalinan pada ibu dan kedua adalah breastfeeding motivational instructional measurement scale (BMIMS) yang dikembangkan oleh Janine Stockdale, kedua instrument tersebut sudah dikatakan valid dan reliabel secara internasional. Analisis data menggunakan sprearman’s rho correlation. lokasi penelitian ini adalah tempat praktik mandiri bidan (TPMB) yang ada di kabupaten bueleleng. Terdapat hubungan antara kelelahan ibu postpartum dengan motivasi pemberian asi eksklusif (p=0,001). Semakin tinggi tingkat kelelahan pascapersalinan yang dialami ibu, semakin rendah motivasi mereka untuk memberikan asi.
Knowledge and Attitudes of Pregnant Women Regarding Triple Elimination Screening in Buleleng Regency, Bali, Indonesia Sulyastini, Ni Komang; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Wilandari, Made Ririn Sri; Pratiwi, Putu Irma
Bali Medical and Wellness Journal Vol. 2 No. 2 (2025): Bali Medical and Wellness Journal
Publisher : PT BMW Journal Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71341/bmwj.v2i2.39

Abstract

Background: Triple elimination screening (for HIV, syphilis, and hepatitis) is a routine part of antenatal care, aimed at preventing transmission from mother to child. Objectives: This study investigated the relationship between pregnant women's knowledge and attitudes and their participation in triple elimination screening in Buleleng Regency, Bali. Methods: A cross-sectional, quantitative study was conducted with 371 pregnant women recruited from 36 midwife practices using cluster random sampling. Data on knowledge, attitudes, and screening participation were collected using a questionnaire. Chi-square tests were used to analyze the data. Results: Most participants were between 20 and 35 years old (84.6%), had a secondary education (60.1%), were multigravida (73.9%), and were in their third trimester (46.4%). Chi-square tests showed no significant relationship between knowledge and participation in screening for HIV (p = 0.25), syphilis (p = 0.10), or hepatitis (p = 0.06). However, a significant association was found between positive attitudes and screening participation for HIV (p = 0.04), syphilis (p = 0.05), and hepatitis (p = 0.04). Specifically, over 97% of women with positive attitudes underwent screening for HIV, syphilis and hepatitis. Conclusion: Positive attitudes are significantly associated with increased participation in triple elimination screening among pregnant women. Continued education from healthcare providers is important to improve screening rates.
Prevalensi dan Faktor-Faktor Terkait Depresi Postpartum di Kabupaten Buleleng: Prevalence and Associated Factors of Postpartum Depression in Buleleng Regency Pratiwi, Putu Irma; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Erlian, Ida Ayu
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4468

Abstract

Postpartum depression (PPD) comprises a cluster of depressive symptoms experienced by women within the first year after childbirth and represents a significant public mental health issue. The objective to determine the prevalence of, and factors associated with, PPD in Buleleng Regency in 2024. A cross-sectional study was conducted among postpartum women within 12 months of delivery between January and August 2024. A total of 317 participants were recruited using purposive sampling based on predefined inclusion and exclusion criteria. The Indonesian version of the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) was used to assess depressive symptoms. Data were analyzed in SPSS. Univariate analyses summarized respondent characteristics and PPD prevalence, while bivariate associations were examined using Chi-square tests and expressed as crude odds ratios (cOR) with 95% confidence intervals (CI). The Results are The highest prevalence of depressive symptoms occurred among women aged >35 years (39.1%), followed by those aged <20 years (22.2%), and was lowest in the 20–35-year group (5.3%). Preterm delivery was strongly associated with PPD compared with term delivery (cOR 61.87; 95% CI 21.25–180.11; p<0.001). Lack of partner support was also associated with higher odds of PPD (cOR 5.49; 95% CI 1.78–16.90; p<0.01). The findings highlight the need for routine EPDS screening, strengthening partner support, and closer monitoring of mothers with obstetric risk factors.   Abstrak Depresi Postpartum (DPP) mengikutsertakan beberapa gejala depresi umum yang terjadi pada perempuan ditahun pertama setelah melahirkan dan menjadi masalah kesehatan mental yang signifikan di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor terkait Depresi Postpartum di Kabupaten Buleleng Tahun 2024. Penelitian ini merupakan jenis penelitian cross sectional dengan populasi ibu nifas dalam 12 bulan terakhir di Kabupaten Buleleng, dilakukan pada Januari sampai Agustus 2024. Jumlah sampel 317 dengan teknik purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan adalah Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) versi Indonesia. Analisa data dilakukan menggunakan program analisis statistik SPSS. Analisis univariat menghitung statistik deskriptif seperti frekuensi dan persentase untuk karakteristik responden dan menentukan prevalensi gejala DPP. Uji bivariat dengan Chisquare dengan hasil prevalensi depresi tertinggi terdapat pada kelompok usia >35 tahun (39,1%), diikuti kelompok usia <20 tahun (22,2%), dan terendah pada kelompok usia 20-35 tahun (5,3%). Ibu dengan preterm memiliki peluang depresi yang jauh lebih tinggi dibanding aterm (cOR 61,87 dengan 95%CI 21-25-180.11; p<0,001). Ketiadaan dukungan pasangan juga berhubungan dengan peluang depresi yang lebih tinggi (cOR 5,49 dengan 95%CI 1,78–16,90; p<0,01). Temuan pada penelitian ini menunjukkan pentingnya skrining rutin (EPDS), penguatan dukungan pasangan, dan pemantauan lebih ketat pada ibu dengan risiko obstetrik.
Kebutuhan Psikososial Ibu Hamil dalam Mencegah Hipertensi Kehamilan: Studi Eksploratif : Psychosocial Needs of Pregnant Women for the Prevention of Hypertensive Disorders of Pregnancy (HDP): An Exploratory Study Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Putu Irma Pratiwi; Hendra Setiawan
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4489

Abstract

Hypertension in pregnancy is a major contributor to maternal and neonatal morbidity and mortality. Beyond clinical risk factors, psychosocial conditions—such as stress, anxiety, and social support—are increasingly recognized as influencing pregnancy health and potentially elevating the risk of hypertension. This study explored the psychosocial needs of pregnant women served by the Sukasada I Community Health Center (Puskesmas Sukasada I) in relation to preventing hypertension during pregnancy. A qualitative exploratory design was employed. Using purposive sampling, seven pregnant women aged 20–34 years who attended antenatal care at Puskesmas Sukasada I were recruited. Data were collected through semi-structured, in-depth interviews conducted by the principal investigator and/or trained team members using an interview guide, complemented by field observations in the waiting area and antenatal examination rooms to capture interactions with health workers and the service environment. Data were analyzed using thematic analysis: verbatim transcription, data reduction, coding, clustering, theme identification, and interpretation. Trustworthiness was enhanced through source triangulation (interviews–observations) and member checking. Twenty subthemes emerged and were organized into four overarching themes: (1) emotional and psychological needs (stress and anxiety management, emotion regulation, and planned pregnancy); (2) support needs (husband, family, and coworkers); (3) service-facility–related needs (access, room comfort, privacy, and service delivery); and (4) health-information needs (clear, consistent, and contextual materials on risks and prevention of hypertension). A key finding highlights that support—particularly from husbands and family—is the most decisive psychosocial need in preventing hypertension in pregnancy. Meeting psychosocial needs is an essential component of antenatal care. Health centers should integrate routine psychosocial screening, brief counseling, strengthened partner/family engagement, peer support groups, improved comfort and privacy of services, and user-friendly educational materials with clear referral pathways for psychological care. Future studies should test family- or partner-based interventions with larger samples to strengthen and generalize these findings.   Abstrak Hipertensi dalam kehamilan merupakan masalah kesehatan serius yang berkontribusi pada tingginya angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi. Selain faktor klinis, kondisi psikososial—seperti stres, kecemasan, dan dukungan sosial—kian diakui berpengaruh terhadap kesehatan kehamilan dan berpotensi meningkatkan risiko hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kebutuhan psikososial ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sukasada I dalam kaitannya dengan upaya pencegahan hipertensi pada kehamilan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi eksploratif. Partisipan dipilih secara purposive, terdiri dari 7 ibu hamil berusia 20–34 tahun yang melakukan pemeriksaan antenatal di Puskesmas Sukasada I. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur yang dilakukan peneliti utama/anggota tim terlatih berdasarkan panduan, serta observasi lapangan di ruang tunggu dan ruang pemeriksaan untuk menangkap interaksi ibu hamil dengan petugas dan lingkungan layanan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik: transkripsi verbatim, reduksi data, pengodean, pengelompokan, penentuan tema, dan interpretasi. Keabsahan data ditingkatkan melalui triangulasi sumber (wawancara–observasi) dan member checking. Hasil menunjukkan terbentuknya 20 subtema yang terhimpun dalam empat tema utama: (1) kebutuhan emosional dan psikologis (pengelolaan stres, kecemasan, regulasi emosi, kehamilan yang direncanakan); (2) kebutuhan dukungan (suami, keluarga, dan teman kerja); (3) kebutuhan terkait fasilitas layanan (akses, kenyamanan ruang, privasi, pelayanan); dan (4) kebutuhan informasi kesehatan (materi yang jelas, konsisten, dan kontekstual terkait risiko dan pencegahan hipertensi). Temuan kunci menggaris bawahi bahwa dukungan khususnya dari suami  dan keluarga merupakan kebutuhan psikososial yang paling menentukan dalam mencegah hipertensi pada kehamilan. Pemenuhan kebutuhan psikososial merupakan komponen esensial perawatan antenatal. Puskesmas disarankan mengintegrasikan skrining psikososial rutin, konseling singkat, penguatan peran pasangan/keluarga, kelompok dukungan sebaya, peningkatan kenyamanan dan privasi layanan, serta penyediaan materi edukasi yang mudah dipahami beserta alur rujukan psikologis. Penelitian lanjutan perlu menguji intervensi berbasis dukungan keluarga/pasangan dan melibatkan sampel lebih besar untuk menguatkan temuan ini.
PENGUATAN PROGRAM ASI EKSKLUSIF DAN PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PEMBERIAN INFORMASI DAN PELATIHAN PIJAT OKSITOSIN BAGI IBU HAMIL DI DESA PANJI, KABUPATEN BULELENG Pratiwi, Putu Irma; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Linda, Irma Nurma; Astuti, Anjar Tri; Wulandari, Made Ririn Sri; Ilmy, Shofi Khaqul; Widiarta, Made Bayu Oka; Jayanti, Made Anggita Abdi; Lionita, Ni Luh Erlya
Jurnal Pengemas Kesehatan Vol 3 No 01 (2024): Jurnal Pengemas Kesehatan (JPK)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Utama Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: WHO merekomendasikan ASI eksklusif sebagai satu-satunya sumber nutrisi untuk bayi hingga usia 6 tahun. ASI eksklusif menjadi salah satu faktor penting dalam menurunkan tingkat kematian bayi. Peningkatan jumlah ibu yang menyusui dapat menyelamatkan 820.000 anak di bawah usia lima tahun, termasuk 87% bayi berusia enam bulan. Meskipun demikian, angka pemberian ASI secara keseluruhan masih di bawah target yang ditetapkan secara internasional. Mencapai target dalam pemberian ASI sulit dilakukan karena terganggunya proses pemberian ASI. Kekurangan dan ketidaklancaran produksi ASI dapat mengakibatkan pasokan ASI yang tidak mencukupi bagi bayi. Tujuan dilakukannya kegiatan ini untuk Penguatan Program ASI Eksklusif Dan Pencegahan Stunting Melalui Pemberian Informasi Dan Pelatihan Pijat Oksitosin Bagi Ibu Hamil Di Desa Panji, Kabupaten Buleleng. Metode Metode kegiatan ini adalah pelatihan terhadap 15 ibu hamil di desa panji. Pelatihan dimulai dari pretest, penyampaian materi, praktek pijat oksitosin, diakhiri dengan posttest. Hasil pengabdian ini didapatkan peningkatan pengetahuan dari awalnya tidak ada pada kategori pengetahuan baik (0%) menjadi 80% memiliki pengetahuan baik diakhir pelatihan serta seluruh ibu hamil mampu melakukan pijat oksitosin yang mendukung terwujudnya program ASI Eksklusif guna mencegah terjadinya stunting sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas di desa tersebut. Kata Kunci: Asi Eksklusif, Pijat Oksitosin, Pelatihan, Ibu Hamil
Pelatihan dan Pendampingan OKE (Orhiba-Kegel Exercise) Wanita Premenopause Di Desa Baktiseraga Bali Anjar Tri Astuti; Luh Ari Arini; Rahutama Atidira; Putu Irma Pratiwi
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, April 2026
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jmm.v5i2.25503

Abstract

Wanita masa premenopause mengalami berbagai perubahan fisiologis akibat ketidakseimbangan hormon yang berdampak pada kesehatan reproduksi, termasuk penurunan fungsi seksual seperti berkurangnya keinginan seksual, lubrikasi yang tidak optimal, rasa tidak nyaman saat berhubungan, serta menurunnya kepuasan seksual. Kondisi ini menuntut adanya intervensi nonfarmakologis yang aman, mudah dilakukan, dan dapat diadaptasi oleh masyarakat. Salah satu upaya yang dapat diberikan adalah latihan orhiba berbasis gerakan ritmis, relaksasi, dan peregangan serta dikombinasikan dengan latihan otot dasar panggul atau kegel. Kombinasi ini mampu meningkatkan kekuatan otot dasar panggul, memperbaiki sirkulasi darah, serta fungsi seksual. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan wanita premenopause dalam melakukan OKE (Orhiba kombinasi Kegel Exercise) secara benar dan kontinu. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui edukasi, demonstrasi dan pelatihan, praktik mandiri, serta pendampingan intensif kepada kelompok perempuan di Desa Wisata Baktiseraga selama 1,5 bulan dengan sasaran kelompok ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Evaluasi keterampilan dilakukan menggunakan lembar observasi melalui penilaian awal dan penilaian setelah pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada seluruh aspek keterampilan peserta meliputi ketepatan mengikuti irama gerakan, kesesuaian postur tubuh, koordinasi gerakan, kemampuan melakukan kontraksi dan relaksasi otot dasar panggul, kemampuan menggabungkan gerakan orhiba dan kegel, serta durasi latihan yang mampu diikuti. Peserta mampu mempraktikkan gerakan secara lebih teratur dan tepat setelah latihan mandiri rutin di rumah. Dampak yang dirasakan meliputi tubuh lebih bugar, postur lebih stabil dan rileks, meningkatnya kekuatan otot dasar panggul, serta peningkatan kepercayaan diri dalam konteks fungsi seksual. Kegiatan ini juga memperkuat kesadaran peserta mengenai pentingnya kesehatan reproduksi sebagai bagian dari kualitas hidup wanita premenopause. Luaran yang dihasilkan dari program ini mencakup peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta, video pelaksanaan kegiatan, laporan pengabdian serta rencana keberlanjutan kegiatan PKK desa. Kegiatan pengabdian ini memberikan kontribusi nyata dalam pemberdayaan kesehatan perempuan premenopause melalui intervensi olahraga yang mudah diterapkan dan berpotensi menjadi program berkelanjutan di masyarakat.
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Hipertensi pada Ibu Hamil di TPMB “LM” Tahun 2024-2025: The Association of Body Mass Index (BMI) with Hypertension in Pregnant Women in TPMB “LM” during 2024-2025 Period Nyoman Gita Laksmi Maharani; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini; Putu Irma Pratiwi; Luh Mertasari
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4958

Abstract

Hypertensive disorders during pregnancy remain one of the leading obstetric complications contributing significantly to the high Maternal Mortality Rate (MMR). Maternal nutritional status, commonly assessed using Body Mass Index (BMI) measurement, has been recognized as a significant risk factor for the development of hypertension during pregnancy. Monitoring BMI from early pregnancy constitutes an essential component of antenatal care to support early detection and prevention of hypertensive disorders in pregnancy. This research aimed to determine the association between BMI and the incidence of hypertension among pregnant women. A quantitative descriptive study with cross-sectional design was conducted using secondary data obtained from medical records and maternal registers at the Independent Midwife Practice “LM” during the 2024-2025 period. This study sample consisted of 188 pregnant women selected through a total sampling technique based on predefined inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using univariate and bivariate approaches with the Chi-Square test at a significant level of ≤0,05. The findings indicated that the majority of respondents had a normal BMI (52,1%) and did not experience hypertension (66,5%). Statistical analysis indicated a significant association between BMI and the incidence of hypertension in pregnancy, with p-value of 0,000 (p≤0,05). A higher proportion of hypertension was observed among pregnant women classified as overweight and obese BMI compared to those with underweight or normal BMI. Therefore, optimizing BMI monitoring and nutritional status management from early pregnancy is necessary as part of preventive efforts against hypertension in pregnant women.   Abstrak Gangguan hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu komplikasi obstetri yang berkontribusi terhadap tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Status gizi ibu hamil yang dinilai melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) diketahui berperan besar sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi pada ibu hamil. Pemantauan IMT sejak awal kehamilan menjadi komponen penting dalam pelayanan antenatal untuk mendukung upaya deteksi dini dan pencegahan hipertensi dalam kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis dan buku register ibu hamil di Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) “LM” tahun 2024-2025. Sampel penelitian berjumlah 188 ibu hamil yang ditentukan melalui teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi ≤0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki IMT normal (52,1) dan tidak mengalami hipertensi (66,5%). Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil dengan p-value 0,000 (p≤0,05). Proporsi kejadian hipertensi lebih tinggi ditemukan pada ibu hamil dengan IMT gemuk dan obesitas dibandingkan dengan ibu hamil dengan IMT kurus atau normal. Sehingga, optimalisasi pemantauan IMT dan pengendalian status gizi sejak awal kehamilan perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan hipertensi pada ibu hamil.
Apakah Tingkat Stres Berhubungan dengan Siklus Menstruasi pada Dewasa Muda : Is Stress Levels Related to Menstrual Cycles in Young Adults Ni Kadek Dwi Nanda Restiani; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini; Putu Irma Pratiwi
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4959

Abstract

Regular menstruation is an important indicator of reproductive health because it reflects the balance of the hormonal system. Stress is one of the determinants that can affect the menstrual cycle. Midwifery students are a vulnerable group to experience stress due to academic demands and clinical practice. This study was conducted using a quantitative method using a cross-sectional approach. The study population consisted of female students of the D3 and S1 Midwifery study programs in the 2023-2025 intake. The study sample consisted of 158 respondents taken using a total sampling technique. Stress levels were measured using the Perceived Stress Scale (PSS-10) questionnaire, while menstrual cycles were categorized as normal and abnormal. Data analysis was performed using the chi-square test. The majority of respondents were in a state of moderate stress levels (80.4%) and had normal menstrual cycles (75.9%). The chi-square test results obtained a p-value of 0.489 (p > 0.05), which means there is no relationship between stress levels and menstrual cycles in midwifery students.. The stress levels experienced by most respondents were still within adaptive limits so they did not have a significant impact on the menstrual cycle. In addition, other factors such as body mass index (BMI), fatigue, lifestyle, and individual coping skills are confounding factors in influencing menstrual regularity. Stress levels are not significantly associated with menstrual regularity in midwifery students and are not the sole factor influencing menstrual regularity.   Abstrak Menstruasi yang teratur merupakan indikator penting dalam kesehatan reproduksi karena menggambarkan keseimbangan sistem hormonal. Stres menjadi salah satu determinan yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Mahasiswa kebidanan menjadi kelompok rentan mengalami stres akibat tuntutan akademik dan praktik klinik. Studi ini dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari mahasiswi program studi D3 dan S1 Kebidanan angkatan 2023-2025. Sampel penelitian berjumlah 158 responden yang diambil menggunakan tenik total sampling. Pengukuran tingkat stres dilakukan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10), sedangkan siklus menstruasi dikategorikan menjadi normal dan tidak normal. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Mayoritas responden berada dalam kondisi tingkat stres sedang (80,4%) dan memiliki siklus menstruasi normal (75,9%). Hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value yaitu 0,489 (p > 0,05), yang artinya tidak terdapat hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada mahasiswa kebidanan. Tingkat stres yang dialami responden sebagian besar masih berada dalam batas adaptif sehingga belum berdampak signifikan terhadap siklus menstruasi. selain itu, terdapat faktor lain seperti indeks massa tubuh (IMT), kelelahan, pola hidup dan kemampuan coping individu yang menjadi faktor perancu dalam mempengaruhi keteraturan menstruasi. Tingkat stres tidak berhubungan secara signifikan dengan keteraturan menstruasi pada mahasiswa kebidanan dan bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keteraturan menstruasi.
Hubungan Paritas dan Umur Kehamilan Terhadap Kejadian Anemia pada Ibu Hamil: The Relationship Between Parity and Gestational Age with the Incidence of Anemia in Pregnant Women Ni Kadek Gina Pramitayani; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini; Putu Irma Pratiwi
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4960

Abstract

Anemia during pregnancy remains a public health problem that carries the risk of increasing maternal and neonatal morbidity, including preterm birth, low birth weight, and other obstetric complications. Parity and gestational age are thought to contribute to the incidence of anemia, but previous studies have shown inconsistent findings. This study aims to analyze the relationship between parity and gestational age with the incidence of anemia in pregnant women. This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach and utilized secondary data from the antenatal care (ANC) service register. The study population was all pregnant women registered at the TPMB "PA" in 2025. The sample was determined using a total sampling technique with 124 respondents who met the inclusion criteria. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The Chi-Square test was initially applied, and when the assumptions were not met (expected count <5), Fisher’s Exact Test was used with a significance level of  p<0.05. The results showed no significant relationship between parity and the incidence of anemia in pregnant women (Fisher’s Exact test, p = 0.457). Similarly, gestational age was not significantly associated with the incidence of anemia (Fisher’s Exact test, p = 0.598). Parity and gestational age were not significantly associated with the incidence of anemia in pregnant women. These findings indicate that anemia in pregnancy is multifactorial and may be influenced by other factors such as nutritional status, adherence to iron tablet consumption, and regular antenatal care (ANC) checkups. Therefore, anemia prevention efforts need to focus on optimizing nutritional needs, adherence to iron supplementation, and improving the quality of antenatal care.   Abstrak Anemia selama kehamilan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berisiko meningkatkan morbiditas maternal dan neonatal, termasuk persalinan prematur, berat badan lahir rendah, serta komplikasi obstetri lainnya. Paritas dan umur kehamilan diduga berkontribusi terhadap kejadian anemia, namun hasil penelitian sebelumnya menujukkan temuan yang belum konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paritas dan umur kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil.  Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan memanfaatkan data sekunder dari register pelayanan antenatal care (ANC). Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang tercatat di TPMB “PA” tahun 2025. Sampel ditentukan menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden 124 orang yang memenuhi kriteria inklusi.  Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji Chi Square  digunakan pada tahap awal, dan apabila asumsi tidak terpenuhi (frekuensi harapan <5) maka digunakan uji Fisher’s Exact dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil dengan (Fisher’s Exact test, p = 0.457). Demikian pula, umur kehamilan tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia (Fisher’s Exact test, p = 0.598). Paritas dan umur kehamilan tidak berhubungan signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Temuan ini mengindikasikan bahwa anemia pada kehamilan bersifat multifaktorial dan dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti status gizi, kepatuhan konsumsi tablet Fe, serta keteraturan pemeriksaan ANC. Oleh karena itu, upaya pencegahan anemia perlu difokuskan pada optimalisasi pemenuhan gizi, kepatuhan suplementasi zat besi, dan peningkatan kualitas pelayanan antenatal.
Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng: Overview of Toddler Nutritional Status at Integrated Health Posts (Posyandu) in Selat Village, Buleleng Regency Ni Komang Aprilia Badrawati; Putu Irma Pratiwi; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4962

Abstract

Malnutrition among toddlers remains a major public health concern in Indonesia, marked by the coexistence of undernutrition and overnutrition. This study aimed to describe the nutritional status of toddlers using height-for-age, weight-for-height, and weight-for-age indicators at Integrated Health Posts (Posyandu) in Selat Village, Buleleng Regency . This study applied a descriptive quantitative design with a total sampling approach. All toddlers who attended Posyandu activities and were recorded during the study period were included. A total of 214 toddlers from six Posyandu in Selat Village were analyzed. Secondary data were obtained from routine Posyandu records, including age, sex, body weight, and height. Nutritional status was assessed using the World Health Organization Child Growth Standards, and Z-scores were calculated with WHO Anthro software. Data analysis was conducted univariately and presented in the form of frequency distributions and percentages. The findings showed that most toddlers were in the 24–59 months age group. Based on height-for-age, the majority of toddlers had normal growth status, although cases of stunting and severe stunting were still identified across all Posyandu. Assessment using weight-for-height indicated that most toddlers had normal nutritional status, while undernutrition, overweight, and obesity were also observed. Similarly, weight-for-age analysis revealed that most toddlers had normal body weight, but underweight and risk of overweight conditions remained present. These results indicate a double burden of malnutrition in Selat Village. Strengthening routine growth monitoring, improving the competence of health workers and Posyandu cadres in anthropometric assessment, and enhancing parental nutrition education are essential to prevent and manage nutritional problems among toddlers.   Abstrak Masalah gizi pada anak balita masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia, ditandai dengan masih ditemukannya kondisi stunting, wasting, underweight, serta overweight. Ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh pada masa balita dapat berdampak pada hambatan pertumbuhan fisik, gangguan perkembangan kognitif, serta peningkatan risiko kesakitan dan kematian pada usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status gizi balita berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), dan berat badan menurut umur (BB/U) di Posyandu Desa Selat, Kabupaten Buleleng. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling, yaitu melibatkan seluruh balita yang tercatat dan hadir pada kegiatan posyandu saat penelitian dilaksanakan. Jumlah sampel sebanyak 214 balita yang tersebar di enam posyandu, yaitu Posyandu Dauh Margi Srilestari II, Angsoka I, Melati, Mawar, Teratai, dan Sakura. Data diperoleh dari pencatatan kegiatan posyandu yang meliputi umur, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan balita. Penilaian status gizi dilakukan menggunakan standar antropometri WHO berdasarkan nilai Z-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kelompok usia 24–59 bulan. Berdasarkan indikator TB/U, mayoritas balita memiliki tinggi badan normal, namun masih ditemukan balita dengan kategori pendek dan sangat pendek di seluruh posyandu. Penilaian status gizi berdasarkan indikator BB/TB menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kategori gizi baik, meskipun masih terdapat balita dengan gizi kurang, gizi lebih, dan obesitas. Sementara itu, berdasarkan indikator BB/U, sebagian besar balita memiliki berat badan normal, namun masih dijumpai balita dengan berat badan kurang serta risiko berat badan lebih.