Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Hubungan Status Gizi Berdasarkan IMT dan Umur Menarche dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Undiksha: The Association of Nutritional Status Based on Body Mass Index and Age at Menarche with the Incidence of Dysmenorrhea Among Midwifery Students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha Komang Putri Natia Sutiartini; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini; Putu Irma Pratiwi
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4966

Abstract

Dysmenorrhea is a common pain complaint experienced during menstruation among women of reproductive age and may affect daily activities, including academic performance among students. Nutritional status and age at menarche are biological factors that are theoretically associated with the occurrence of dysmenorrhea; however, previous studies have reported inconsistent findings. This study aimed to examine the relationship between nutritional status and age at menarche with the occurrence of dysmenorrhea among midwifery students at Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). This study employed a quantitative approach with an analytic cross-sectional design. The study population included all active midwifery students from the 2023, 2024, and 2025 cohorts. A total sampling technique was applied. Of the 177 students in the study population, 159 had complete data and were included in the analysis. Data were collected using a structured questionnaire developed by the researchers according to the study variables, including nutritional status, age at menarche, and dysmenorrhea, and distributed online via Google Forms. Nutritional status was determined based on body mass index (BMI) calculated from self-reported body weight and height. To minimize potential bias, respondents were provided with clear instructions for reporting their most recent measurements, and data screening was conducted to identify implausible values prior to analysis. BMI values were then categorized as underweight, normal, and overweight according to the World Health Organization (WHO) criteria. Data analysis was performed using descriptive statistics for univariate analysis and the Chi-square test for bivariate analysis. The results showed that most respondents experienced dysmenorrhea (68.6%). The majority of respondents had normal nutritional status (54.1%) and experienced menarche within the normal age range (84.9%). The Chi-square test indicated no significant association between nutritional status and dysmenorrhea (p = 0.547). Similarly, age at menarche was not significantly associated with dysmenorrhea (p = 0.931). Based on these findings, it can be concluded that nutritional status and age at menarche are not significantly associated with the occurrence of dysmenorrhea among midwifery students. Reproductive health promotion in educational settings should adopt a more comprehensive approach by addressing not only biological factors but also psychological aspects and healthy lifestyle behaviors. Midwifery students are encouraged to maintain healthy lifestyles, increase physical activity, and manage stress as non-pharmacological strategies to reduce dysmenorrhea. Future studies are recommended to explore other factors potentially associated with dysmenorrhea using broader study designs or multivariate analysis.   Abstrak Dismenore merupakan keluhan nyeri yang sering muncul selama menstruasi pada perempuan usia reproduktif dan dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan akademik pada mahasiswa. Status gizi serta umur menarche merupakan faktor biologis yang secara teoritis dikaitkan dengan terjadinya dismenore, meskipun hasil penelitian terdahulu masih memperlihatkan temuan yang beragam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan umur menarche dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan undiksha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan survei analitik melalui desain potong lintang (cross sectional). Populasi penelitian mencakup seluruh mahasiswi jurusan Kebidanan angkatan 2023, 2024, dan 2025 yang berstatus aktif secara akademik. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Dari total 177 mahasiswi yang menjadi populasi penelitian, sebanyak 159 mahasiswi memiliki data lengkap dan dianalisis dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang disusun oleh peneliti sesuai dengan variabel penelitian, meliputi status gizi, usia menarche, dan kejadian dismenore, yang disebarkan secara daring melalui Google Form. Status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) yang dihitung dari data berat badan dan tinggi badan yang dilaporkan sendiri oleh responden, dengan upaya meminimalkan potensi bias melalui pemberian petunjuk pengisian yang jelas dan pemeriksaan kelogisan data sebelum analisis. Nilai IMT kemudian dikategorikan menjadi status gizi kurus, normal, dan lebih berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan statistik deskriptif dan secara bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden mengalami dismenore (68,6%). Mayoritas responden memiliki status gizi normal (54,1%) dan mengalami menarche pada rentang usia normal (84,9%). Hasil uji chi-square tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian dismenore (p = 0,547). Demikian pula, umur menarche tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian dismenore (p = 0,931). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa status gizi dan umur menarche tidak berkaitan secara signifikan dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan. Promosi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan faktor biologis tetapi juga faktor psikologis dan gaya hidup sehat. Mahasiswi kebidanan disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, meningkatkan aktivitas fisik, serta mengelola stres sebagai upaya non farmakologis dalam mengurangi keluhan dismenore. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor lain yang berpotensi berhubungan dengan dismenore menggunakan desain penelitian yang lebih luas atau analisis multivariat.
Analisis Hubungan Paritas dan Usia Ibu dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada Ibu Hamil : Analysis of the Association Between Parity and Maternal Age and the Occurrence of Chronic Energy Deficiency (CED) Among Pregnant Women Kadek Karunia Dita Rahayu; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini; Putu Irma Pratiwi; Luh Mertasari
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.700

Abstract

Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnancy remains a nutritional problem that may increase maternal health risks and hinder fetal growth. Parity and maternal age are often discussed as related factors, yet previous evidence is inconsistent, especially across midwifery care settings. This study examined the association of parity and maternal age with CED among pregnant women attending antenatal care (ANC) at TPMB Luh Mertasari in 2024-2025. A quantitative analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using ANC medical records. Total sampling included 188 pregnant women. CED status was determined using mid-upper arm circumference (MUAC): MUAC <23.5 cm was classified as CED and MUAC ≥23.5 cm as non-CED. Data were summarized using frequencies and percentages. Associations were tested using Fisher’s Exact test (two-sided) because at least one contingency-table cell had an expected count <5, with p<0.05 considered significant. Most participants were non-CED (90.4%). No CED cases were found in the high-risk parity group (n=26), while 18 women (11.1%) in the non-high-risk parity group (n=162) were classified as CED (p=0.141). In the high-risk age group (n=33), 3 women (9.1%) were classified as CED, and in the non-high-risk age group (n=155), 15 women (9.7%) were classified as CED (p=1.000). In conclusion, CED in this setting was not significantly associated with parity or maternal age. Given the multifactorial nature of CED, prevention should emphasize routine nutritional screening and strengthened nutrition interventions for all pregnant women during ANC. ABSTRAK Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ibu dan menghambat pertumbuhan janin. Paritas dan usia ibu kerap dipertimbangkan sebagai faktor yang berkaitan dengan KEK. Namun, temuan penelitian terdahulu masih bervariasi sehingga diperlukan bukti pada konteks pelayanan kebidanan. Penelitian ini menganalisis hubungan paritas dan usia ibu dengan kejadian KEK pada ibu hamil yang melakukan kunjungan antenatal (ANC) di TPMB Luh Mertasari tahun 2024-2025. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari rekam medis pelayanan ANC, dengan total sampling sebanyak 188 ibu hamil. Status KEK ditentukan berdasarkan Lingkar Lengan Atas (LiLA), yaitu KEK jika LiLA <23,5 cm dan tidak KEK jika LiLA ≥23,5 cm. Analisis univariat disajikan dalam frekuensi dan persentase, sedangkan analisis bivariat menggunakan Fisher’s Exact (2-sided) karena terdapat expected count <5, dengan p<0,05. Hasil menunjukkan sebagian besar responden tidak mengalami KEK (90,4%). Pada paritas berisiko (n=26) tidak ditemukan KEK, sedangkan pada paritas tidak berisiko (n=162) terdapat 18 responden (11,1%) dengan KEK, uji Fisher menunjukkan p=0,141. Pada usia berisiko (n=33) terdapat 3 responden (9,1%) dengan KEK dan pada usia tidak berisiko (n=155) terdapat 15 responden (9,7%) dengan KEK, uji Fisher menunjukkan p=1,000. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian KEK pada ibu hamil di TPMB Luh Mertasari tahun 2024-2025 tidak berkaitan secara signifikan dengan paritas maupun usia ibu. Mengingat KEK bersifat multifaktorial, upaya pencegahan perlu menekankan skrining status gizi secara rutin dan penguatan intervensi gizi pada seluruh ibu hamil selama pelayanan ANC.
Hubungan Antara Ukuran Lingkar Lengan Atas dan Indeks Massa Tubuh dengan Risiko Anemia pada Ibu Hamil Trimester Awal: The Relationship Between Upper Arm Circumference And Body Mass Index With The Incidence Of Anemia In First Trimester Pregnant Women Ni Luh Erlya Lionita; Putu Irma Pratiwi; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.702

Abstract

Anemia in pregnant women remains a public health problem that requires serious attention, especially in the first trimester when physiological changes begin to increase the need for iron. Nutritional status is a major factor associated with anemia in pregnant women. Assessment of nutritional status of pregnant women can be performed using Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) and Body Mass Index (BMI). However, data describing the relationship between MUAC and BMI and the incidence of anemia in pregnant women in the first trimester, particularly in midwifery practice, is still limited. Most studies still focus on the later trimester and are conducted in health facilities at the hospital and community health centers (Puskesmas). Therefore, research is needed to support early detection of anemia from early pregnancy. This study was conducted to examine the relationship between MUAC and BMI and the occurrence of anemia in pregnant women in the first trimester. This study applied a quantitative design with a descriptive analytical approach using a cross-sectional method. The population in this study included all pregnant women in the first trimester who visited the TPMB Putu Agustini in Tukadmungga Village, Buleleng Regency in 2025, totaling 91 respondents, with a total sample of 63 respondents determined using a purposive sampling technique. The data used were secondary data sourced from the antenatal care register. The instrument used in this study was an observation sheet or checklist used to record data from the register, including data on LiLA, BMI, and Hb levels of pregnant women. Data analysis was carried out through univariate and bivariate stages using the Fisher's Exact Test. The results of the study showed a significant relationship between LiLA and the occurrence of anemia (p = 0.014). In addition, a significant association was also found between BMI and anemia (p < 0.001). This study concluded that LiLA and BMI showed a significant relationship to anemia in pregnant women in the first trimester.   ABSTRAK Anemia pada ibu hamil hingga kini masih tergolong sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius, terutama pada trimester pertama ketika perubahan fisiologis mulai meningkatkan kebutuhan zat besi. Status gizi berperan sebagai faktor utama yang berkaitan dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Penilaian status gizi ibu hamil dapat dilakukan dengan menggunakan parameter Lingkar Lengan Atas (LiLA) dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Namun, data yang menggambarkan hubungan ukuran LiLA dan IMT terhadap kejadian anemia pada ibu hamil trimester I, khususnya pada pelayanan praktik mandiri bidan masih terbatas. Mayoritas studi masih memusatkan perhatian pada trimester lanjut serta dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat rumah sakit dan puskesmas. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mendukung deteksi dini anemia sejak awal kehamilan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan ukuran LiLA dan IMT terhadap terjadinya anemia pada ibu hamil trimester I. Studi ini menerapkan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik menggunakan metode cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh ibu hamil trimester I yang melakukan kunjungan ke TPMB Putu Agustini Desa Tukadmungga Kabupaten Buleleng pada tahun 2025 sebanyak 91 responden, dengan total sampel sebanyak 63 responden yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data yang digunakan berupa data sekunder yang bersumber dari register pelayanan antenatal. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi atau checklist yang dipakai untuk mencatat data dari register, meliputi data LiLA, IMT, dan kadar Hb ibu hamil.  Analisis data dilakukan melalui tahap univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara LiLA terhadap terjadinya anemia (p = 0,014). Selain itu, ditemukan pula keterkaitan yang signifikan antara IMT terhadap anemia (p < 0,001. Penelitian ini menyimpulkan bahwa LiLA dan IMT menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap anemia pada ibu hamil trimester I.
Hubungan Stres Akademik dengan Derajat Sindrom Pramenstruasi pada Mahasiswi Kebidanan: The Relationship between Academic Stress and the Severity of Premenstrual Syndrome among Midwifery Students Kadek Desy Ariyantini; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini; Putu Irma Pratiwi
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.703

Abstract

Premenstrual Syndrome (PMS) is a common condition experienced by women of reproductive age, including university students, characterized by a combination of physical, psychological, and emotional symptoms that occur during the luteal phase of the menstrual cycle. Psychological stress is recognized as one of the factors that may exacerbate PMS symptoms, particularly among students facing academic demands. This study aimed to determine the relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome among midwifery students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha. This research employed a correlational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all active midwifery students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha. A total of 159 respondents were included using a total sampling technique. Data were collected using the Perceived Stress Scale (PSS) to assess stress levels and the Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) to measure the incidence and severity of PMS. Data analysis included univariate analysis to describe respondent characteristics and bivariate analysis using the Spearman Rank correlation test with SPSS software. The results showed that most respondents experienced moderate stress levels (81.1%), while 13.8% experienced high stress and 5.0% experienced low stress. Regarding PMS, the majority of respondents experienced PMS of moderate severity (36.5%) and severe severity (31.4%), while only a small proportion did not experience PMS (3.1%). Statistical analysis revealed a significant relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome, with a p-value of 0.001 (p < 0.05). Higher stress levels were associated with increased severity of PMS symptoms. In conclusion, there is a significant relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome among midwifery students. These findings indicate that psychological stress plays an important role in the occurrence and severity of PMS. Therefore, stress management interventions and reproductive health education are essential to improve the well-being and academic performance of midwifery students.   ABSTRAK Premenstrual Syndrome (PMS) adalah gangguan yang sering terjadi pada perempuan dalam usia subur, termasuk mahasiswi, yang ditandai dengan munculnya berbagai keluhan fisik, emosional, dan psikologis pada fase luteal siklus menstruasi. Mahasiswi kebidanan termasuk kelompok yang berisiko mengalami stres akibat tekanan akademik dan praktik klinik yang berkelanjutan. Tingginya prevalensi sindrom pramenstruasi yang berpotensi dapat mengganggu fungsi akademik dan psikososial mahasiswi. Apabila faktor yang berhubungan dengan PMS, khususnya stres psikologis, tidak diidentifikasi, maka penanganan yang diberikan cenderung bersifat simptomatik dan tidak menyentuh faktor predisposisi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perburukan gejala, penurunan kualitas hidup, serta gangguan performa akademik. Oleh karena itu, penelitian ini penting sebagai dasar dalam penyusunan program manajemen stres dan promosi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan analitik korelasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Seluruh mahasiswi program studi D3 dan S1 Kebidanan angkatan 2023–2025 dijadikan populasi, dengan teknik total sampling sehingga diperoleh 159 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen Perceived Stress Scale (PSS) untuk menilai tingkat stres dan Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) untuk mengukur kejadian serta tingkat keparahan PMS. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank dengan bantuan SPSS. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami tingkat stres sedang (81,1%), dengan 13,8% mengalami stres tinggi dan 5,0% mengalami stres rendah. Berdasarkan kejadian Premenstrual Syndrome (PMS), sebagian besar responden mengalami PMS dengan derajat sedang (36,5%) dan berat (31,4%), sedangkan 3,1% tidak mengalami PMS. Hasil uji statistik Spearman Rank menunjukkan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dan kejadian PMS. Semakin tinggi tingkat stres, semakin berat derajat PMS yang dialami. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan derajat sindrom pramenstruasi pada mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha. Stres psikologis berperan dalam meningkatkan keparahan gejala PMS, sehingga diperlukan upaya manajemen stres serta edukasi kesehatan reproduksi guna meningkatkan kualitas hidup dan kesiapan akademik mahasiswi.
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Keteraturan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi Kebidanan: The Relationship Between Body Mass Index (BMI) and Menstrual Cycle Regularity in Midwifery Students I Gusti Ayu Agung Intan Dewi; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini; Putu Irma Pratiwi
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.705

Abstract

The menstrual cycle is an important component in assessing women's reproductive health, reflecting the balance of the hormonal system. Irregular menstrual cycles can be an indication of metabolic or hormonal disorders, one of which is related to Body Mass Index (BMI). A BMI that is below or above the normal range has the potential to disrupt estrogen hormone regulation, thereby increasing the risk of menstrual cycle disorders, especially among female students. This study aims to analyze the relationship between Body Mass Index (BMI) and menstrual cycle patterns among midwifery students at the Faculty of Medicine, Ganesha University of Education (Undiksha). This study used a cross-sectional design with a total sampling method, involving 158 active students who completed a questionnaire. Data collection was carried out by distributing questionnaires online through Google Forms. The data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed that the majority of respondents had a normal BMI (69.6%) and a normal menstrual cycle (75.9%). Statistical analysis showed that respondents with abnormal BMI (underweight or overweight) had a higher tendency to experience irregular menstrual cycles compared to respondents with normal BMI. Statistical tests showed a p-value of 0.040 (p <0.05), indicating a significant relationship between   ABSTRAK Siklus menstruasi merupakan salah satu komponen penting dalam menilai kesehatan reproduksi perempuan yang mencerminkan keseimbangan sistem hormonal. Ketidakteraturan siklus menstruasi dapat menjadi indikasi adanya gangguan metabolik atau hormonal, yang salah satunya berkaitan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Status IMT yang berada di bawah maupun di atas batas normal berpotensi mengganggu regulasi hormon estrogen sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan siklus menstruasi, khususnya pada kelompok mahasiswi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan pola siklus menstruasi pada mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan metode pengambilan sampel yakni total sampling, melibatkan 158 mahasiswi aktif yang mengisi kuesioner. Proses pengumpulan data dilaksanakan dengan membagikan kuesioner secara daring melalui Google Form. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki IMT dalam kategori normal (69,6%) dan siklus menstruasi normal (75,9%). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa responden dengan IMT tidak normal (kurus maupun overweigth) memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur dibandingkan dengan responden yang memiliki IMT normal. Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,040 (p <0,05), sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dan keteraturan siklus menstruasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa IMT berhubungan dengan keteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi Kebidanan FK Undiksha. Oleh karena itu, disarankan untuk mempertahankan IMT dalam rentang normal sebagai upaya menjaga kesehatan reproduksi.