Claim Missing Document
Check
Articles

PERLINDUNGAN DATA PRIBADI SEBAGAI INSTRUMEN HUKUM DALAM MENANGGULANGI KEJAHATAN PERBANKAN Noris Sugiarto; Indra Yuliawan; Arista Candra Irawati
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.42038

Abstract

Digital transformation in the banking sector has enhanced the efficiency of financial services while simultaneously increasing the risk of data-driven banking crimes. Customers’ personal data have become both the object and the primary means of various criminal activities, such as identity theft, phishing, and misuse of financial information. This condition necessitates robust personal data protection as an integral part of the banking legal system. This article aims to analyze the concept of personal data protection in the context of banking crimes, examine the legal framework governing personal data protection in the Indonesian banking sector, and explain the urgency of personal data protection as a legal instrument for preventing banking crimes. The research employs a normative legal method with statutory and conceptual approaches. The findings indicate that Law Number 27 of 2022 on Personal Data Protection strengthens the principle of bank secrecy and functions as both a preventive and repressive legal instrument in addressing data-based banking crimes. Personal data protection plays a crucial role not only in safeguarding customers’ rights but also in maintaining public trust and the stability of the national banking system.
Pengaruh Media Sosial Sehat Terhadap Keberhasilan Ujian Sekolah Ditinjau dari Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Arista Candra Irawati; Khifni Kafa Rufaida
Multimatrix Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Globalization has brought significant change toward social media communication as online media. Freedom and powerfull social media user participates, shares, and creates the content. Therefore, It is important to find a better content for students whose prepare final examination. Social media should become a motivation to for students to find educational content, nevertheless a negative aspect more popular. The paradox, then, emerges when the bad side finally meet internet regulation, UU ITE 2016, which restrict internet freedom. A regretful accident could be ignorance when the pupils of SMK Perintis 29 Ungaran have awareness and knowledge about the rules, compared with a breaking rule incident in SMK at Medan.Keywords: social media, final examination, success
Pendampingan Pemanfaatan Media TV Sekolah Sebagai Implementasi Pembelajaran Kontekstual Upaya Mendukung Sekolah Ramah Anak (SRA) Arista Candra Irawati; Nur Intan Rochmawati; Abdul Rohman
Multimatrix Vol. 4 No. 1 (2022): Kemajuan Teknologi Informatika Pada Era Dunia Digital
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan media yang baik untuk pembelajaran anak usia dini, sebaiknya mampu mengembangkan aspek perkembangan bahasa, kognitif, social emosional, motoric, dan Nilai Agama Moral (NAM). Apabila TV sebagai media elektronik mampu berperan dalam mengoptimalkan aspek-aspek perkembangan anak usia dini, maka TV layak untuk menjadi media pembelajaran bagi anak usia dini.Salah satu pemilihan media pembelajaran melalui media TV dalam masa pandemi Covis-19 pada satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai wujud mendukung Sekolah Ramah Anak (SRA) diperlukan strategi guru untuk berpikir cerdas mencari solusi atas masalah-masalah yang dihadapi peserta didik dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tidak bisa di pungkiri, pembelajaran secara daring (PJJ) memiliki kendala yang sangat luar biasa baik dari anak, orang tua maupun guru sendiri.Maka untuk itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan khusus para guru  KB/TK Islam Plus Assalamah Bandaran Barat dalam pemanfaatan media TV sekolah sebagai impelementasi Pembelajaran konseptual upaya pendukung Sekolah Ramah Anak (SRA) dengan program pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan penyuluhan dan pendampingan.Hasil yang didapat dalam penyuluhan dan pendampingan dapat memberikan manfaat kepada para guru dengan dibuktikan perubahan yang signitifkan antara hasil pre test dan post test. Pengetahuan dan keterampilan pemanfaatan TV sekolah membantu mengkonkritkan pemahaman peserta didik dalam memahami materi/konsep-konsep sederhana yang menjadi bahan belajar bagi peserta didik sesuai tema dan sesuai kelompok usia, mengembangkan potensi diri kepada kepada Kepala Sekolah dan Guru di KB/TK Islam Plus Assalamah dapat lebih lagi mengembangkan potensi diri/inovatif memberikan layanan pembelajaran berbasisi TV Sekolah upaya mendukung Sekolah Ramah Anak (SRA) Kata kunci: Media, TV Sekolah, Pembelajaran Konseptual, Sekolah Ramah Anak
CONSUMER PROTECTION AGAINST THE CIRCULATION OF BEEF RAISED IN GARBAGE DISPOSAL PLACE Ristiadi, Endri; Mulyandono, Tri Andi; Andreanto, Aloysius; Erieyanto, Ruddy; Irawati, Arista Candra
UNTAG Law Review Vol 9, No 2 (2025): UNTAG Law Review
Publisher : Faculty of Law Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/ulrev.v9i2.7103

Abstract

ABSTRACT This article examines consumer protection law regarding the circulation of unfit-for-consumption beef from the Jatibarang Final Disposal Site (TPSA) in Semarang City. The study employs normative and conceptual approaches, analyzing regulations on consumer protection, business responsibility, and law enforcement mechanisms. The findings indicate that although Indonesia has comprehensive regulations for beef distribution, field practices—including cattle grazing at TPSA—pose significant health risks due to heavy metal contamination, microplastics, and pathogens. Consumer protection encompasses the right to safe food, accurate information, and compensation in case of harm. The effectiveness of protection depends on consumer legal awareness, government supervision, and compliance by business actors. The study emphasizes the need for integrated regulation, public education, and consistent law enforcement to ensure food safety. Recommendations are provided for government authorities, law enforcement, academics, and the public to strengthen consumer protection systems and minimize health risks from hazardous food products.
CRIMINAL RESPONSIBILITY OF BUSINESS ACTORS FOR THE DISTRIBUTION OF FOOD CONTAINING DANGEROUS SUBSTANCES Waryadi, Winarto; Irawati, Arista Candra
UNTAG Law Review Vol 9, No 2 (2025): UNTAG Law Review
Publisher : Faculty of Law Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/ulrev.v9i2.6684

Abstract

ABSTRACTThe distribution of food containing hazardous chemicals remains a serious issue in consumer protection in Indonesia. Although the Consumer Protection Law, the Food Law, and various derivative regulations have provided a clear legal basis, practices in the field show that law enforcement is still weak. This study aims to analyze the criminal liability of business actors for the distribution of hazardous food by examining the applicable legal norms and their implementation in the field. The method used is empirical legal research with a normative juridical approach and field studies, through analysis of regulations, court decisions, and data from the Food and Drug Supervisory Agency (BPOM). The results of the study show that the forms of business operator liability can be civil, administrative, and criminal; however, obstacles such as limited resources, weak coordination between agencies, low legal awareness, and inconsistent court decisions mean that criminal sanctions are rarely applied to the fullest extent. This study emphasizes the importance of strengthening coordination among law enforcement agencies, harmonizing regulations, and applying consistent criminal sanctions to realize consumer protection. Theoretically, this study enriches the study of economic criminal law and consumer protection, while practically providing policy recommendations for improving the hazardous food control system in Indonesia.
CYBERBULLYING SEBAGAI VIKTIMISASI DIGITAL: KEBUTUHAN PENDEKATAN HUKUM PIDANA RESTORATIF DI INDONESIA.: CYBERBULLYING AS DIGITAL VICTIMIZATION: THE NEED FOR A RESTORATIVE CRIMINAL LAW APPROACH IN INDONESIA. Hana NurHanifah; Arista Candra Irawati
Journal Presumption of Law Vol 7 No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jpl.v7i2.15093

Abstract

Kemajuan teknologi informasi membawa konsekuensi sosial yang kompleks, termasuk meningkatnya kasus perundungan siber bentuk kekerasan digital yang menyerang psikologis korban secara berulang, anonim, dan tanpa batas ruang. Fenomena ini berdampak signifikan pada kesehatan mental, terutama pada anak dan remaja, yang kerap mengalami kecemasan, depresi, hingga trauma jangka panjang. Sayangnya, sistem hukum pidana Indonesia saat ini masih bersifat retributif, seperti tercermin dalam UU ITE dan KUHP Baru, yang tidak mengakomodasi mekanisme mediasi atau pemulihan psikologis korban. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas pendekatan hukum tersebut dan menawarkan integrasi pendekatan keadilan restoratif sebagai solusi hukum yang lebih humanis dan responsif terhadap korban. Metode yang digunakan adalah kualitatif normatif dengan pendekatan studi literatur terhadap regulasi, jurnal ilmiah, dan praktik hukum komparatif internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan keadilan restoratif melalui mediasi, dialog, dan rekonsiliasi sosial lebih mampu memenuhi kebutuhan psikologis korban dan mengurangi dampak negatif jangka panjang. Oleh karena itu, integrasi prinsip keadilan restoratif ke dalam kerangka hukum pidana Indonesia, khususnya dalam kasus cyberbullying, merupakan kebutuhan mendesak untuk menjamin perlindungan hukum yang substantif dan partisipatif.
Konstruksi Hukum Kerahasiaan Identitas Anak Terhadap Korban, Pelaku Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia Irawati, Arista Candra
Rampai Jurnal Hukum (RJH) Vol. 1 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/rjh.v1i1.1664

Abstract

Perlindungan hukum Negara Indonesia atas pemenuhan hak-hak anak yang herhadapan dengan hukum  atas kerahasiaan identitas sebagai korban, pelaku  merupakan bagian dari penghormatan, menjunjung tinggi hak asasi manusia. Convention On The Rights of The Child (Konvensi Hak-Hak Anak), Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945 memberikan jaminan segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah wajib menjunjung hukum dan pemerintahan dengan tidak ada kecualinya.  Undang-Undang NRI  Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang NRI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang NRI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana, dan Undang-Undang NRI Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia bertujuan menjamin kesejahteraan, menjadi bagian konstruksi hukum kerahasiaan identitas korban, pelaku anak yang berhadapan dengan hukum sebagai perlindungan Hak Asasi manusia.  Sejalan dengan  “The rights of the victim are acomponent part of the concept of human rights”. Kerahasiaan identitas anak sebagai pelaku dan korban melalui mass media untuk menghindari labelisasi yang berdampak negative. Dalam penerapannya sangat dipengaruhi kekuatan-kekuatan sosial dalam bekerjanya hukum di masyarakat. Sehingga  menjadi kewajiban untuk mewujudkan bersama  pembuat Undang-Undang untuk mengawasi dan mengontrol,  penegak hukum dan masyarakat, kewajiban bagi orang tua, masyarakat, lembaga Pers. Kesemuanya merupakan sistem yang menentukan dan berperan. mempunyai kesadaran bersama memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang.
Analisis Pola Asuh Orang Tua Terhdap Anak Yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Putri Diana; Arista Candra Irawati
Rampai Jurnal Hukum (RJH) Vol. 1 No. 2 (2022): September
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/rjh.v1i2.2238

Abstract

Parenting style has a very important role in preventing violence against children. Domestic violence is very close to children's lives. Violence that is often carried out in the household will affect children. Children who live in families who experience domestic violence have a higher risk of experiencing neglect, becoming victims of direct abuse and also have the risk of losing parents. There are four forms of domestic violence that are often perpetrated by parents against children, namely: physical violence, psychological violence, sexual violence and household neglect. This parenting style has a major impact on the moral ethics of children. Incorrect choice of parenting style can actually have several impacts on children, such as not being able to make decisions, not being good at building social relationships, disrupting physical development, having unstable emotions, and being more likely to disobey parents. Abstrak           Pola asuh mempunyai peran yang sangat penting dalam tindakan pencegahan kekerasan terhadap anak.  Kekerasan dalam rumah tangga sangatlah dekat dengan kehidupan anak, Kekerasan yang sering di lakukan didalam rumah tangga akan berpengaruh pada anak-anak.  Anak-anak yang tinggal dalam lingkup keluarga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami penelantaran, menjadi korban penganiayaan langsung dan juga memiliki resiko untuk kehilangan orang tua. Bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang sering di lakukan orang tua terhadap anak ada empat bentuk kekerasan yaitu: kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan penelantaran rumah tangga. Pola asuh tersebut berdampak besar pada etika moral anak. Salah pemilihan pola asuh nyatanya dapat membuat beberapa dampak pada anak, seperti tidak dapat membuat keputusan, kurang pintar dalam membangun hubungan sosial, gangguan pada perkembangan fisik, memiliki emosi yang kurang stabil, hingga lebih sering membangkang pada orangtua.
Legal Review of the Transfer of Fiduciary Guarantee Objects and the Legal Responsibilities of Creditors-Debtors S. Said; Indra Yuliawan; Arista Candra Irawati
Golden Ratio of Data in Summary Vol. 6 No. 3 (2026): May - July
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grdis.v6i3.2220

Abstract

Fiduciary security plays a central role in modern security transactions by allowing creditors to obtain enforceable ownership rights over movable assets, while debtors retain physical possession of the collateral. The effectiveness of fiduciary security depends not only on the creation of enforceable ownership rights in the event of default but also on the clear allocation of legal liability between the debtor and creditor when the pledged assets are transferred to another party. The transfer of fiduciary security objects gives rise to complex legal issues regarding the continuity of ownership rights. This article discusses: (1) how fiduciary security generates enforceable ownership rights in security transactions; and (2) how the responsibilities of the debtor and creditor toward the fiduciary security object shift when it is transferred to another party. This study employs a doctrinal legal research method, combining a statutory approach to analyze the normative framework of fiduciary security with a conceptual approach to examine ownership rights and debtor-creditor liability, as well as the judicial interpretation of Law Number 42 of 1999 concerning Fiduciary Security, specifically Constitutional Court Decision No. 18/PUU-XVII/2019 and Constitutional Court Decision No. 2/PUU-XIX/2021.