cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Volume 8 Nomor 3 November 2025" : 25 Documents clear
The Relationship Between Pre-Pregnancy Body Mass Index and the Incidence of Preeclampsia in Primigravida at Cibabat Regional Hospital Utami, Hasri Larasati; Gurnadi, Jeffry Iman; Pribadi, Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.972

Abstract

Objective: This study investigates the association between pre-pregnancy body mass index (BMI) and the incidence of preeclampsia in primigravida women.Methods: This cross-sectional study includes women who delivered at Cibabat General Hospital between 2023 and 2024. Pre-pregnancy BMI (kg/m²) was classified according to WHO categories: underweight (less than 18.5), normal (18.5–22.9), overweight (23.0–24.9), obese class I (25.0–29.9), and obese class II (≥30.0). The Spearman-Rho correlation coefficient was employed to analyze the relationship between pre-pregnancy BMI and the incidence of preeclampsia. Result: Our study demonstrated that, among 217 participants, 159 (73.3%) experienced preeclampsia. The proportion of women with an overweight/obese BMI who have preeclampsia is higher (36%-38%) compared to those with normal BMI (19%) and underweight BMI (15%). The Spearman-Rho correlation coefficient suggested a positive correlation between pre-pregnancy BMI and the incidence of preeclampsia (r = 0.367; p < 0.001), indicating that an increased BMI is statistically associated with an increased risk of preeclampsia.Conclusion: A BMI is associated with an increased risk of preeclampsia in primigravida women.Hubungan antara Indeks Massa Tubuh Sebelum Kehamilan terhadap Kejadian Preeklamsia pada Ibu Primigravida di RSUD CibabatAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara IMT pra-kehamilan dan insiden preeklamsia pada ibu primigravida.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang dan melibatkan ibu primigravida yang menjalani persalinan di RSUD Cibabat pada periode 2023 hingga 2024. IMT partisipan sebelum kehamilan dikategorikan berdasarkan standar WHO: berat badan kurang (< 18.5), normal (18.5-22.9), berat badan berlebih (23.0 – 24.9), obesitas tipe 1 (25.0 – 29.9), dan obesitas tipe 2 (≥30.0). Data kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan metode spearman-rho correlation coefficient untuk menetukan korelasi antara IMT pra kehamilan dan kejadian preeklampsia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, dari 217 partisipan pada penelitian ini, 73,3% diantaranya mengalami kejadian preeklamsia. Proporsi preeklampsia tampak lebih tinggi pada partisipan dengan berat badan berlebih/obesitas (36–38%) dibandingkan dengan partisipan dengan IMT normal (19%) dan IMT kurang berat badan (15%). Hasil uji spearman-Rho correlation coefficient menunjukkan korelasi positif antara IMT pra-kehamilan dan kejadian preeklamsia (r = 0,367; p < 0,001), mengindikasikan peningkatan IMT sebelum kehamilan berhubungan dengan risiko preeklamsia.Kesimpulan: Peningkatan IMT pra-kehamilan berhubungan dengan peningkatan risiko preeklamsia pada wanita primigravida.Kata kunci: Edukasi prakonsepsi; Indeks massa tubuh; Primigravida 
Reevaluating Predictors of Extremely Low Birth Weight: The Dominance of Hemoglobin over Maternal Age and the Discovery of 9.25 g/dL as a New Risk Threshold Normala, Ajeng; Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.937

Abstract

AbstractObjectives: Extremely Low Birth Weight (ELBW) is a critical factor influencing neonatal morbidity and mortality. Maternal anemia has been linked to negative pregnancy outcomes; the precise hemoglobin threshold for predicting ELBW risk remains poorly defined, especially in low-resource environments.Methods: A cross-sectional observational study was carried out at Ciawi District Hospital between 2019 and 2020. Data from medical records on maternal hemoglobin levels (g/dL) and neonatal birth weights (grams) were extracted for analysis. Statistical methods employed included the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests, as well as ROC curve analysis.Results: The study comprised 320 cases. The optimal cutoff value for maternal hemoglobin to accurately predict ELBW was identified as 9.25 g/dL (AUC 0.615; p = 0.045). Mothers with hemoglobin levels below this threshold exhibited a 2.1-fold increase in the risk of delivering ELBW infants (p = 0.039). Additionally, the negative predictive value was determined to be 94.05%, indicating that this threshold may serve as a viable screening tool for assessing the risk of ELBW.Conclusion: Maternal hemoglobin levels below 9.25 g/dL are significantly correlated with an elevated risk of ELBW. This threshold may function as an effective early screening parameter for identifying high-risk pregnancies, thereby improving maternal and neonatal health outcomes.Keywords: Birth Weight, ELBW, Hemoglobin, Maternal Anemia, Risk Screening Evaluasi Ulang Prediktor Berat Badan Lahir Sangat Rendah: Dominasi Hemoglobin pada Usia Ibu dan Penemuan 9,25 g/dL sebagai Ambang Risiko Baru AbstrakTujuan: Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLR) merupakan faktor penting yang memengaruhi morbiditas dan mortalitas neonatal. Anemia ibu telah dikaitkan dengan hasil kehamilan yang negatif. Ambang hemoglobin yang tepat untuk memprediksi risiko BBLR masih belum didefinisikan dengan baik, terutama di lingkungan dengan sumber daya rendah.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi observasional potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Daerah Ciawi antara tahun 2019 dan 2020. Dilakukan analisis data dari catatan medis tentang kadar hemoglobin ibu (g/dL) dan berat badan lahir neonatal (gram). Metode statistik yang digunakan meliputi uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney, dan analisis kurva ROC.Hasil: Studi ini terdiri atas 320 kasus. Nilai batas optimal hemoglobin ibu untuk memprediksi BBLR secara akurat diidentifikasi sebesar 9,25 g/dL (AUC 0,615; p = 0,045). Ibu dengan kadar hemoglobin di bawah ambang batas ini menunjukkan peningkatan risiko melahirkan bayi ELBW sebanyak 2,1 kali lipat (p = 0,039). Selain itu, nilai prediktif negatif ditetapkan sebesar 94,05%, yang menunjukkan bahwa ambang batas ini dapat berfungsi sebagai alat skrining yang layak untuk menilai risiko ELBW.Kesimpulan: Kadar hemoglobin ibu di bawah 9,25 g/dL berkorelasi signifikan dengan peningkatan risiko ELBW. Ambang batas ini dapat berfungsi sebagai parameter skrining dini yang efektif untuk mengidentifikasi kehamilan berisiko tinggi sehingga meningkatkan hasil kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
Pregnancy With Multidrug-Resistant Pulmonary Tuberculosis and Autoimmune Hemolytic Anemia Complicated by Intrauterine Growth Restriction - A Case Report Permata, Putri Indah; Aditya, Renny; Putri, Ruth Widhiati Raharjo; Isa, Mohamad; Kurniawan, Sigit Prasetia; Nurrasyidah, Ira
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.878

Abstract

AbstractIntroductionIntrauterine growth restriction (IUGR) is a major obstetric complication often caused by maternal infections and anemia. We present a case of IUGR in a pregnant woman caused by multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) and autoimmune hemolytic anemia (AIHA).Case presentationA 37-year-old G5P2A2 woman with confirmed MDR-TB and AIHA was treated with levofloxacin, clofazimine, cycloserine, ethambutol, bedaquiline, and methylprednisolone. Fetal biometry showed estimated fetal weight below the 10th percentile, with a significantly declining growth curve thereafter. After administration of fetal lung maturation at 33 – 34 weeks, she underwent an elective cesarean section at 35 – 36 weeks. A female infant weighing 1,840g was delivered. The treatment for MDR-TB and AIHA in the mother was continued afterward.ConclusionPregnancies complicated by MDR-TB and AIHA require strict monitoring and individualized multidisciplinary treatment. Further research is needed to establish treatment strategies that improve maternal and fetal outcomes in similar cases.Keywords : Autoimmune hemolytic anemia; intrauterine growth restriction; multidrug resistance; pregnancy; tuberculosis. Kehamilan dengan Tuberkulosis Paru Resisten Obat Ganda dan Anemia Hemolitik Autoimun yang Diperberat oleh Pertumbuhan Janin Terhambat – Laporan Kasus AbstrakPendahuluanIUGR adalah komplikasi obstetrik yang dapat disebabkan infeksi dan anemia pada maternal. Pada kasus ini dipresentasikan kasus wanita hamil dengan IUGR yang disebabkan multidrug resistant TB (MDR-TB) dan autoimmune hemolytic anemia (AIHA).Ilustrasi kasusIbu hamil 37 tahun G5P2A2 datang dengan TB-MDR dan AIHA. Pasien menjalani terapi TB-MDR dengan levofloksasin, klofazimin, sikloserin, etambutol, dan bedaquiline, serta metilprednisolon untuk AIHA. Pada fetal biometri ditemukan estimated fetal weight (EFW) di bawah 10 persentil dengan kurva pertumbuhan janin menurun signifikan setelahnya. Setelah dilakukan induksi pematangan paru janin pada usia kehamilan 33 - 34 minggu,  operasi sesar elektif dilakukan pada usia kehamilan 35 – 36 minggu melahirkan bayi perempuan dengan berat janin 1840gram. Pengobatan TB-MDR dan AIHA pada ibu dilanjutkan setelahnya.KesimpulanKehamilan dengan TB dan AIHA memerlukan pemantauan ketat dan terapi multidisiplin yang terindividualisasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan.Kata kunci : Hemolitik anemia autoimun; kehamilan; pertumbuhan janin terhambat; resisten obat; tuberkulosis.
Comparison of Endometriosis Characteristics in Adolescents and Women of Advanced Reproductive Age Paiki, Ottowgeissler Yabes Melaneson; Dewi, Marta Isyana; Harsono, Ali Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.991

Abstract

ABSTRACT Objective: To compare clinical and pathological characteristics of endometriosis between adolescents (10–19 years) and women of advanced reproductive age (35–45 years) to guide early diagnosis and tailored management. Methods: A retrospective, cross-sectional study of 68 patients (31 adolescents; 37 advanced-age women) with laparoscopically and histopathologically confirmed endometriosis at Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital between January 2022 and December 2024. Statistical analyses included independent t-tests, chi-square tests, and multivariate logistic regression. Results: Adolescents exhibited higher dysmenorrhea prevalence (80.6% vs. 43.2%; p=0.003), more early-stage disease (Stage I–II: 71% vs. 22%; p
Relationship between Antenatal Care in Severe Preeclampsia and Maternal and Neonatal Outcomes Iskandarsyah, Teuku Muhammad; Nurdiawan, Windi; Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.963

Abstract

Objective: This study aims to evaluate the relationship between the frequency of antenatal care (ANC) visits and maternal and infant outcomes in cases of severe preeclampsia.Methods: The collected data were processed using computerized methods to convert them into analyzable information. Data analysis was conducted to describe the proportion of each variable descriptively. Furthermore, the results were elaborated through descriptive analysis and hypothesis testing.Result: Based on medical record data, 91.7% of patients had undergone antenatal care (ANC) visits; however, only about 80% received pre-eclampsia screening services according to the 10T standard.Conclusion: The study concluded that inadequate antenatal care (ANC) visits were significantly associated with an increased risk of eclampsia and acute renal failure. On the other hand, there was no statistically significant association between ANC compliance and the occurrence of complications such as placental abruption, HELLP syndrome, DIC, and maternal death.Hubungan Antenatal Care Pada Preeklampsia Berat terhadap Luaran Maternal dan NeonatalAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara frekuensi kunjungan antenatal care (ANC) dan luaran maternal dan infant pada kasus preeklamsia berat.Metode: Data yang telah terkumpul diolah secara komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. Analisis data dilakukan untuk melihat gambaran proporsi masing-masing variabel yang disajikan secara deskriptif. Selanjutnya, hasil analisis tersebut diuraikan ke dalam analisis deskriptif dan pengujian hipotesis.Hasil: Berdasarkan data rekam medis, ditemukan bahwa 91,7% pasien telah menjalani kunjungan antenatal care (ANC), namun hanya 80% yang mendapatkan pelayanan skrining preeklamsia sesuai standar 10T.Kesimpulan: Kesimpulan menunjukkan bahwa kunjungan Antenatal Care (ANC) yang tidak memadai memiliki hubungan yang signifikan dengan peningkatan risiko eklamsia dan gagal ginjal akut. Sementara di sisi lain, tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat kepatuhan ANC dengan kejadian komplikasi seperti solusio plasenta, edema paru, Sindrom HELLP, DIC, dan kematian ibu.Kata kunci: Antenatal Care; Preeklamsia; Neonatal
Non-Severe Preeclampsia and Subclinical Inflammation: A Study of Cyclophilin A, NF-κB, PARP- 1, and Apoptosis in Human Placentas Resistantie, Novi; Wibowo, Noroyono; Prasmusinto, Damar; Jusman, Sri Widia Azraki; Yamin, Muhammad; Siregar, Nurjati Chairani; Prihartono, Joedo; Mose, Johannes Cornelius; Suhendro, Suhendro; Yunita, Ferdiana; Rosmanah, Lis; Margyaningsih, Nur Ita; Qotrunnada, Labibah; Roviqoh, Cindy Fawwaz; Rauf, Saidah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.947

Abstract

Objective: To compare the expression of CyP-A, NF-κB, PARP-1, and apoptotic index in Non-Severe Preeclampsia (NS-PE) and Normal Pregnancy (NP) and explore their roles in inflammation during preeclampsia.Methods: Conducted in Depok, Indonesia, the cross-sectional study involved 28 participants divided into NS-PE and NP groups based on ISSHP criteria. NP was defined as uncomplicated pregnancies at 38–40 weeks gestation. Placental weight was measured, and ELISA was used to assess biomolecule levels. Data were analyzed using T-tests or Mann-Whitney tests.Result: Maternal gestational age, body mass index, and leukocyte levels were significantly higher in NS-PE. The apoptotic index, measured by TUNEL assay, was also significantly elevated in NS-PE (41.56 ±24.87) compared to NP (23.96 ±18.79; p = 0.044). While CyP-A, PARP-1, and NF-κB levels were higher in NS-PE eventhough they were not statistically significant. Immunohistochemistry confirmed an overall increase in these molecules, supporting their clinical relevance.Conclusion: Despite the lack of statistical significance, increased inflammation and apoptosis in NS-PE may contribute to placental dysfunction and adverse pregnancy outcomes.Non-Severe Preeclampsia dan Inflamasi Subklinis: Studi CyP-A, NF-κB, PARP-1, dan Apoptosis pada Plasenta ManusiaAbstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ekspresi CyP-A, NF-κB, PARP-1, dan indeks apoptosis antara preeklamsia non-severe (NS-PE) dan kehamilan normal (NP), serta perannya dalam proses inflamasi pada preeklamsia.Metode: Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Depok, Indonesia, dengan 28 partisipan yang dikelompokkan menjadi NS-PE dan NP berdasarkan kriteria ISSHP. Berat plasenta diukur dan kadar biomolekul dianalisis menggunakan ELISA. Uji T dan alternatif Mann-Whitney digunakan untuk analisis statistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia kehamilan, indeks massa tubuh (IMT), dan kadar leukosit secara signifikan lebih tinggi pada NS-PE. Indeks apoptosis (TUNEL) juga lebih tinggi secara signifikan pada NS-PE (41,56 ±24,87) dibandingkan NP (23,96 ±18,79; p = 0,044). Kadar CyP-A, PARP-1, dan NF-κB lebih tinggi pada NS-PE meskipun tidak signifikan secara statistik, pemeriksaan IHK mengonfirmasi relevansi klinis peningkatan pada keseluruhan biomolekul tersebut. Kesimpulan: Meskipun signifikansi statistik rendah, peningkatan peradangan dan apoptosis pada NS-PE dapat menyebabkan disfungsi plasenta dan dampak buruk pada kehamilan.Kata kunci: Apoptosis; inflamasi; preeklamsia.
Analysis of Outpatient and Postpartum Family Planning Services in Makassar Teaching Hospitals for Two Years Madya, Fatmawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.983

Abstract

Objective: To evaluate the distribution and characteristics of the family planning (FP) service acceptors in the outpatient clinics and postpartum wards in the main teaching hospital and its affiliated hospitals in Makassar in a two-year period. Method: The retrospective descriptive study was conducted using FP service registers and patients’ medical records from January 2023 to January 2024. Data included sociodemographic characteristics (age, parity, education, occupation), type of procedure (postpartum vaginal delivery, caesarean section, curettage), and contraceptive method chosen (implant, intrauterine device [IUD], sterilization). All eligible acceptors during the study period were included. The Data were analyzed descriptively and presented as the frequencies and percentages. Result: The total of 5,684 FP acceptors is recorded. The most commonly used methods are IUD (2,882; 50.7%), implants (2,239; 39.4%), and sterilization (563; 9.9%). The majority of the acceptors are 20-35 years old (4,835; 85.1%) and have the parity two (1,978; 34.8%). The most contraceptive initiation occurs after the vaginal delivery (3,420; 60.2%). The high school graduates represent the largest education group (3,125; 54.9%), and housewives are the most frequent occupational group (3,974; 69.9%).Conclusion: The postpartum FP services remain the main entry point for the contraceptive use in the teaching and affiliated hospitals. The counseling strengthening, especially during the antenatal and postpartum care, may further improve the uptake of the appropriate contraception in line with the socio-demographic needs.Analisis Pelayanan Keluarga Berencana Rawat Jalan dan Pascasalin di Rumah Sakit Pendidikan di Makassar Selama Dua Tahun”Abstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi distribusi dan karakteristik akseptor pelayanan keluarga berencana (KB) pada poliklinik rawat jalan dan ruang nifas di rumah sakit pendidikan utama dan rumah sakit jejaring di Makassar selama periode dua tahun.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dilakukan dengan menggunakan register pelayanan KB dan rekam medis pasien dari Januari 2023 hingga Januari 2024. Data yang dikaji meliputi karakteristik sosiodemografi (usia, paritas, pendidikan, pekerjaan), jenis tindakan (persalinan pervaginam pascapersalinan, seksio sesarea, kuretase), serta metode kontrasepsi yang dipilih (implan, alat kontrasepsi dalam rahim, sterilisasi). Semua akseptor yang memenuhi kriteria selama periode penelitian diikutsertakan. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk frekuensi serta persentase.Hasil: Sebanyak 5.684 akseptor KB tercatat. Metode yang paling banyak digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (2.882; 50,7%), implan (2.239; 39,4%), dan sterilisasi (563; 9,9%). Mayoritas akseptor berusia 20-35 tahun (4.835; 85,1%) dan memiliki paritas dua (1.978; 34,8%). Sebagian besar inisiasi kontrasepsi dilakukan setelah persalinan pervaginam (3.420; 60,2%). Lulusan Sekolah Menengah Atas merupakan kelompok pendidikan terbesar (3.125; 54,9%), sedangkan ibu rumah tangga merupakan kelompok pekerjaan terbanyak (3.974; 69,9%).Kesimpulan: Pelayanan KB pascasalin tetap menjadi pintu masuk utama penggunaan kontrasepsi di rumah sakit pendidikan dan jejaring. Penguatan konseling, terutama pada masa antenatal dan pascasalin, dapat lebih meningkatkan pemilihan kontrasepsi yang tepat sesuai kebutuhan sosiodemografi.Kata kunci: Keluarga berencana, kontrasepsi pasca persalinan, Makassar, metode kontrasepsi, pelayanan rawat jalan
The Role of Neuron Growth Factor and Interleukin-10 in The Development of Pain in Adenomyosis: A Narrative Review Heriyanto, Agus; Tjahyadi, Dian; Rachmawati, Anita; Adlino, Luky
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.931

Abstract

Introduction: Adenomyosis, a benign uterine condition characterized by endometrial tissue within the myometrium, leads to uterine enlargement, infertility, dysmenorrhea, and heavy menstrual bleeding. While its precise etiology remains elusive, delayed pregnancy may contribute to its increasing incidence among infertile women. This condition, predominantly affecting parous women, is also associated with higher rates of early miscarriage. Although immune dysregulation in endometriosis is well-documented, comparable research in adenomyosis is limited.Objective: This review aims to explore the roles of Interleukin-10 (IL-10), an anti-inflammatory cytokine, and Neuronal Growth Factor (NGF), a neuroimmune factor, in adenomyosis.Discussion: Elevated IL-10 levels in ectopic endometrial tissue suggest a potential immunosuppressive mechanism that may exacerbate symptoms. NGF is also implicated in the pain and inflammation associated with adenomyosis. A deeper understanding of the interplay between IL-10 and NGF could offer critical insights into the inflammatory nature and pain mechanisms of this condition.Conclusion: This review proposes IL-10 as a potential inflammatory biomarker and NGF as a pain marker in adenomyosis, paving the way for future research into novel therapeutic targets. Elucidating these pathways could lead to treatments focused on mitigating inflammation and alleviating associated symptoms of adenomyosis.Keywords: adenomyosis; neuronal growth factor; interleukin-10; pelvic pain Peran Neuron Growth Factor (NGF) dan Interleukin-10 (IL-10) dalam pembentukan Nyeri pada Adenomyosis : Sebuah Review NaratifAbstrakPendahuluan: Adenomyosis, suatu kondisi rahim jinak yang ditandai dengan adanya jaringan endometrium di dalam miometrium, menyebabkan pembesaran rahim, infertilitas, dismenore, dan perdarahan menstruasi yang berat. Meskipun etiologi pastinya masih belum jelas, kehamilan yang tertunda kemungkinan berkontribusi pada peningkatan insidennya di kalangan wanita infertil. Kondisi ini, yang sebagian besar memengaruhi wanita multipara, juga dikaitkan dengan tingkat keguguran dini yang lebih tinggi. Meskipun disregulasi imun pada endometriosis telah didokumentasikan dengan baik, penelitian serupa pada adenomyosis masih terbatas.Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Interleukin-10 (IL-10), sitokin anti-inflamasi, Faktor Pertumbuhan Saraf (NGF) dan faktor neuroimun dalam adenomyosis.Diskusi: Peningkatan kadar IL-10 dalam jaringan endometrium ektopik menunjukkan mekanisme imunosupresif potensial yang dapat memperburuk gejala. NGF juga berperan dalam nyeri dan peradangan yang terkait dengan adenomyosis. Pemahaman yang lebih dalam tentang interaksi antara IL-10 dan NGF dapat memberikan wawasan penting mengenai sifat inflamasi dan mekanisme nyeri dari kondisi ini.Kesimpulan: Tinjauan ini mengusulkan IL-10 sebagai biomarker inflamasi potensial dan NGF sebagai penanda nyeri pada adenomyosis. Hal tersebut membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut untuk target terapeutik baru. Menguraikan jalur-jalur ini dapat mengarah pada perawatan yang berfokus pada mitigasi peradangan dan mengurangi gejala adenomyosis.Kata kunci: adenomiosis; interleukin-10; neuronal growth factor; nyeri pelvis.
The Critical Role of CT Imaging in Detecting Acute Neurological Complications of Eclampsia: A Case Series Ronosulistyo, Ayu Angelina; Zulvayanti, Zulvayanti; Hidayat, Dini; Nurdiawan, Windi; Susiarno, Hadi; Pusianawati, Dini; Weningtyas, Vyanda Sri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.924

Abstract

AbstractIntroduction: An intracranial hemorrhage (ICH) is a rare condition but potentially life-threatening event, especially in pregnancy, and could happen in patients with eclampsia. At Hasan Sadikin General Hospital (RSHS), several eclampsia cases are admitted annually, some with worsening neurological conditions. Neuroimaging using CT-Scan is indicated in patients with seizures, decreased consciousness, or visual disturbances to detect intracranial pathology.  Case: We reported three cases of maternal eclampsia, two patients' chief complaint was seizures, but all of our patients were unconscious. All of our patients had a previous history of pre-eclampsia in the last pregnancy. All of our patients performed a CT scan performed in postpartum patients as a neurologic examination. All of our patients have worse outcomes. The Medical and Health Research Ethics Committee of the Faculty of Medicine, Padjajaran University with Ref no: DP.04.03/D/XIV.6.5/71/2025.Conclusion: Neuroimaging in patients with seizure-induced worsening of the condition has an important role in identifying other abnormalities, specifically intracranial hemorrhage. In this study, we conclude that patients with seizures in pregnancy should be screened with neuroimaging (computed tomography scan) to rule out central nervous system pathology, thereby improving the patient's condition and reducing maternal mortality.Keywords: CT scan, Convulsion, Eclampsia, Pregnancy Peran Kritis Pencitraan CT dalam Mendeteksi Komplikasi Neurologis Akut pada Eklampsia: Seri KasusAbstrakPendahuluan: Perdarahan intrakranial (PIK) merupakan kondisi langka namun berpotensi mengancam jiwa, terutama pada kehamilan, dan dapat terjadi pada pasien eklampsia. Neuroimaging menggunakan CT-Scan berperan dalam deteksi dini perburukan kondisi pasien dengan penurunan kesadaran.Kasus: Penelitian ini melaporkan tiga kasus eklampsia maternal, keluhan utama dua pasien adalah kejang, namun semua pasien pada penelitian ini tidak sadar. Semua pasien memiliki riwayat preeklampsia sebelumnya pada kehamilan terakhir. Semua pasien melakukan CT scan sebagai pemeriksaan neurologis. Semua pasien memiliki hasil yang lebih buruk. Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dengan Ref no: DP.04.03/D/XIV.6.5/71/2025.Kesimpulan: Neuroimaging pada pasien dengan kondisi yang memburuk akibat kejang memiliki peran penting dalam mengidentifikasi kelainan lain, khususnya perdarahan intrakranial. Dalam penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa pasien dengan kejang selama kehamilan harus diskrining dengan neuroimaging (pemindaian tomografi terkomputasi) untuk menyingkirkan patologi sistem saraf pusat sehingga memperbaiki kondisi pasien dan mengurangi angka kematian ibu.Kata kunci: CT scan, Eklampsia, Kehamilan, Kejang
Reframing Female Genital Cosmetic and Aesthetic Surgery: Ethics, Function, and Sexual Health Beyond Appearance Sukarsa, Mochamad Rizkar Arev
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.1033

Abstract

In recent years, the convergence of aesthetic medicine and urogynecology has reshaped the dialogue on women’s health. Procedures once confined to reconstructive domains—repairing pelvic floor disorders, perineal trauma, or postpartum laxity—now coexist with aesthetic motivations emphasizing appearance and self-confidence. This editorial reflects on how female genital cosmetic surgery (FGCS) and female genital aesthetic surgery (FGAS) overlap yet differ ethically, functionally, and philosophically.Defining FGCS and FGASAccording to the American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) and the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), FGCS comprises elective surgical procedures that modify the appearance of genitalia without clear medical indication. These interventions originate in the cosmetic surgery paradigm, focusing on visual symmetry and patient satisfaction. In contrast, FGAS has evolved within gynecology and minimally invasive aesthetic medicine, aiming not only at external appearance but also at comfort, tissue quality, and functional harmony. The distinction matters: while FGCS is largely appearance-driven, FGAS aspires toward holistic well-being and sexual confidence. Recognizing these nuances helps physicians maintain ethical boundaries and ensure that patient motivation is grounded in informed understanding rather than social pressure.

Page 1 of 3 | Total Record : 25