cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Hubungan antara Kadar Hepsidin dan Kadar Hemoglobin pada Kehamilan dengan Obesitas Ratnaningsih, Andi Sri; Sunarno, Isharyah; Madya, Fatmawati; Hamid, Firdaus; Irianta, Trika; Susiawaty, Susiawaty
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.583

Abstract

Tujuan: Untuk menilai kadar Hepsidin dan kadar hemoglobin menggunakan sampel darah dan selanjutnya dianalisis dengan metode ELISA.Metode: Penelitian ini merupakan kohort prospektif pada perempuan hamil dengan obesitas dan pembanding non-obesitas pada trimester pertama dan kedua di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Pendidikan Jejaring pada periode Januari - Agustus 2022.Hasil: Penelitian dilakukan terhadap 44 sampel yang terdiri atas 22 sampel kelompok ibu hamil dengan obesitas dan 22 sampel ibu hamil dengan IMT normal. Pada pasien obesitas tidak didapatkan korelasi antara kadar Hepsidin dan kadar hemoglobin di trimester pertama dengan nilai p=0.097 sedangkan pada trimester kedua terdapat korelasi dengan nilai p=0.028. Pada pasien non obesitas tidak didapatkan korelasi antara kadar Hepsidin dengan kadar hemoglobin nilai p=0.489 di trimester pertama dan nilai p=0.906 di trimester kedua.Kesimpulan: Peningkatan kadar Hepsidin dan anemia dapat ditemukan pada wanita obese yang sedang hamil, terutama pada trimester kedua.The Relationship Between Hepcidin Levels And Hemoglobin Levels In Pregnancy With ObesityAbstract Objective: To compare hepcidin levels and hemoglobin levels using blood samples and further analyzed with ELISA method.Method: This study is a prospective cohort of obese pregnant women and a non-obese comparator in the first and second trimesters at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital and Networking Teaching Hospitals in the period January - August 2022.Results: The study was conducted on 44 samples consisting of 22 samples of obese pregnant women and 22 samples of pregnant women with normal BMI. In obese sample, there was no correlation between hepcidin levels and hemoglobin levels in the first trimester with a value of p=0.097 while in the second trimester there was a correlation with a value of p=0.028. In non-obese patients, there was no correlation between hepcidin levels and hemoglobin levels, p = 0.489 in the first trimester and p= 0.906 in the second trimester.Conclusion: Increased hepcidin levels and anemia can be found in obese women in the second trimester of pregnancy.Key words: Hepcidin, Obesity, Hemoglobin
Differences in Grade II Perinealtearswound Healing using Fresh Amniotic Membranein Post Vaginal Delivery Women in RSUD Padang Panjang Indonesia Utama, Bobby Indra; Rahman, Andio; Firdawati, Firdawati; Burhan, Ida Rahmah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.712

Abstract

Introduction: Perineal tear is the most common complication of vaginal delivery which has the risk of infection and discomfort, also causes insecurity.The amniotic membrane has been shown to enhance wound healing through acceleration of epithelization, angiogenetic and antibacterial effects.Objective: This study aims to determine the difference in perineal wounds healing with or without the use of amniotic membranes.Methods: This was a cohort study conducted from December 2022 to January 2023 at Padang Panjang Hospital. Patients included were aged 17- 40 years with normal BMI without any comorbid such as diabetes mellitus, hypertension and blood disorders. The procedure was done by the same person at the same place and with the same equipment.Results: There were 28 patients who were divided into two groups i.e 14 patients who were given fresh amniotic membranes and 14 patients who were not given fresh amniotic membranes. The mean age, parity, last education, body mass index and type of perineal wound were similar between groups. In this study, there was a significant difference between recovery and pain degrees on the 10th day after the procedure between the two groups, while there was no significant difference in the incidence of infection on the 10th day and pain on the 2nd day.Conclusion: Fresh amniotic membrane improves healing and reduces the pain in perineal wound patients.Perbedaan Penyembuhan Luka Perineum Grade II dengan Penggunaan Selaput Amnion Segar pada Wanita Pasca-Persalinan Ervaginam di RSUD Padang Panjang IndonesiaAbstrakPendahuluan: Robekan perineum merupakan penyebab keduater banyak perdarahan postpartum. Selaput amnion telah terbukti meningkatkan hasil penyembuhan luka melalui efek percepatan epitelisasi, angiogenetic dan antibacterial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan pada luka perineum grade II dengan atau tanpa penggunaan selaput amnion. Metode: Penelitian ini merupakan jenis studikohort yang dilakukan dari Desember 2022 sampai Januari 2023 di RSUD Padang Panjang. Pasien yang diikutkan adalah pasien berusia 17 – 40 tahun dengan IMT normal tanpa adanya komorbiditas diabetes melitus, hipertensi dan kelainan darah. Penjahitan luka dan pemberian amnion dilakukan dengan operator, lokasi serta alat yang sama menggunakan PGA 2.0 teknik jelujur dan kulit dengan teknik subkutikuler. Hasil: Terdapatsebanyak 28 pasien yang dibagimenjadi dua kelompok, yaitu 14 pasien yang diberikan selaput amnion segar dan 14 pasien tidak diberikan selaput amnion segar. Reratausia, paritas, pendidikan terakhir, indeks masa tubuh, dan jenis luka perineum grade II serupa antar kelompok. Pada penelitian ini didapatkan perbedaan yang signifikan antara kesembuhan hari ke-10 dan derajat nyeri hari ke-10 pascatindakan antara kedua kelompok, sedangkan ada kejadian infeksihari ke-10 an nyerihari ke-2 tidak ditemukan perbedaan signifikan. Kesimpulan: Selaput amnion segar meningkatkankesembuhan dan menurunkannyeri pada pasiendenganluka perineum grade II.Kata kunci: Selaput amnion segar, kesembuhan, nyeri, infeksi, luka perineum grade II
Hubungan Tingkat Keparahan Infeksi Covid-19 pada Wanita Hamil dengan Luaran Maternal dan Perinatal di RSUPP Betun Kabupaten Malaka Heryawan, Iwan; Hidayat, Dini; Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.566

Abstract

Tujuan: Tingkat keparahan infeksi Covid-19 pada wanita hamil bisa menyebabkan luaran maternal dan perinatal yang berbeda-beda. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengetahui hubungan tingkat keparahan infeksi Covid-19 pada wanita hamil dengan luaran maternal dan perinatal.Metode: Penelitian menggunakan metode cross-sectional. Sampel berjumlah 90 orang. Pengambilan data berupa data rekam medis dengan instrumen menggunakan lembar ceklist mengenai luaran maternal dan luaran perinatal.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan luaran maternal pada kelompok variabel hipertensi, persalinan prematur, obesitas, dan mortalitas lebih besar dari 0,05 (nilai p>0,05) yang berarti tidak signifikan atau tidak bermakna secara statistik. Hasil luaran maternal pada kelompok variabel preeklampsia dan ketuban pecah dini lebih kecil dari 0,05 (nilai p<0,05) yang berarti signifikan atau bermakna secara statistik. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa terdapat perbedaan persentase yang signifikan. Pada luaran perinatal variabel berat badan perinatal, derajat asfiksia dan mortalitas perinatal lebih kecil dari 0,05 (nilai p<0.05) yang berarti signifikan atau bermakna secara statistik dengan demikian dapat dijelaskan bahwa terdapat perbedaan persentase yang signifikan secara statistik antara variabel berat badan perinatal, derajat asfiksia, dan mortalitas perinatal pada kelompok tingkat keparahan infeksi Covid-19.Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara tingkat keparahan infeksi Covid-19 dan luaran maternal pada kelompok prekemlasia dan ketuban pecah dini. Terdapat Hubungan bermakna antara tingkat keparahan infeksi Covid-19 dan luaran perinatal pada berat badan perinatal, derajat asfiksia, dan mortalitas perinatal.Correlation between Severity Level of Covid-19 Infection in Pregnant Women and Maternal and Perinatal Outcomes at RSUPP Betun Kabupaten MalakaAbstractObjective: The severity of Covid-19 infection in pregnant women can cause different maternal and perinatal outcomes. So the aim of this study was to correlation determine the severity of Covid-19 infection in pregnant women against maternal and perinatal outcomes.Method: Research using cross-sectional method. The sample is 90 people. Data collection was in the form of medical record data with instruments using checklist sheets regarding maternal and perinatal outcomes.Results: The results showed that maternal outcomes in the variable group hypertension, preterm labor, obesity and mortality were greater than 0.05 (p value> 0.05), which was not significant or not statistically significant. Meanwhile, the maternal outcome in the variable group of preeclampsia and premature rupture of membranes was less than 0.05 (p value <0.05), which was significant or statistically significant, thus it could be explained that there was a significant percentage difference. In the perinatal outcome, the variables of perinatal weight, degree of asphyxia and perinatal mortality were less than 0.05 (p value <0.05) which means significant or statistically significant. Thus it can be explained that there is a statistically significant percentage difference between the variables of perinatal weight, degree of asphyxia and perinatal mortality in the Covid-19 infection severity group.Conclusion: There is a significant relationship between the severity of Covid-19 infection and maternal outcomes in the pre-eclampsia and premature rupture of membranes groups. There is a significant relationship between the severity of Covid-19 infection and perinatal outcomes in perinatal weight, degree of asphyxia and perinatal mortality.Key words: Covid-19 infection severity, maternal outcome, perinatal outcome.
Gestational Weight Gain and Risk of Preeclampsia: A Case-Control Study Iswari, Wulan; Setyawan, Adi; Armawan, Edwin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.679

Abstract

Introduction: This study aims to investigate the relationship between gestational weight gain and preeclampsia among patients who delivered in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto. Methods: This was a case control study, conducted from October 2022 – March 2023. Data were gathered through electronic medical records and excluded pregnant patients with previous diagnosis of hypertension outside pregnancy, diabetes, renal disorder, and autoimmune disorder. Results: In this study, 156 patients with preeclampsia and 156 patients without preeclampsia were enrolled. Patients with high GWG have an increased risk of preeclampsia (OR 2.154 95%CI 1.353 – 3.429) compared to patients with adequate GWG (OR 0.984 95%CI 0.691 – 1.401). Patients with pre-pregnancy obesity also has an increased risk of preeclampsia (OR 1.625 95%CI 1.165 – 2.267) compared to normal pre-pregnancy weight (OR 0.564 95%CI 0.379-0.869).Discussion: Gestational weight gain and pre-pregnancy obesity appears to be independently linked to preeclampsia. Our findings reflect other studies that have been conducted on this subject, strengthening the synergistic effect between pre-pregnancy BMI and GWG on the risk of preeclampsia in local population. Conclusion: Excessive GWG during pregnancy and pre-pregnancy obesity increases the risk of developing preeclampsia.Peningkatan Berat Badan saat Kehamilan dan Risiko Preeklamsia: Sebuah Studi Case-ControlAbstrakPendahuluan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pertambahan berat badan dan kejadian preeklampsia pada pasien bersalin di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Studi ini merupakan studi case control yang dilakukan dari Oktober 2022 – Maret 2023. Data dikumpulkan melalui rekam medis elektronik dengan kriteria eksklusi berupa pasien hamil dengan diagnosis hipertensi sebelumnya di luar kehamilan, diabetes, gangguan ginjal, dan gangguan autoimun. Hasil: Dalam penelitian ini, terdapat 156 pasien dengan preeklampsia dan 156 pasien tanpa preeklampsia. Pasien dengan GWG tinggi memiliki peningkatan risiko preeklampsia (OR 2,154 95%CI 1,353 – 3,429) dibandingkan pasien dengan GWG adekuat (OR 0,984 95%CI 0,691 – 1,401). Pasien dengan obesitas prakehamilan juga memiliki peningkatan risiko preeklampsia (OR 1,625 95%CI 1,165 – 2,267) dibandingkan dengan berat badan normal sebelum hamil (OR 0,564 95%CI 0,379-0,869). Diskusi: Pertambahan berat badan gestasional dan obesitas pra-kehamilan tampaknya terkait secara independen dengan preeklampsia. Temuan kami mencerminkan penelitian lain yang telah dilakukan mengenai hal ini, memperkuat efek sinergis antara BMI pra-kehamilan dan kenaikan berat badan kehamilan pada risiko preeklampsia pada populasi lokal. Kesimpulan: Pertambahan berat badan selama kehamilan yang berlebihan selama kehamilan dan obesitas pra-kehamilan meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia. Kata kunci: Preeklampsia, Pertambahan Berat Badan Kehamilan, Obesitas
Effects of Calcium on Calmodulin and bFGF/FGF-2 Expression: In Vitro Study on the Sacrouterine Ligament Rahajeng, Rahajeng; Indriani, Anin; Ninik, Suheni; Nooryanto, M; Agung, I Wayan; Palapa, Heny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.579

Abstract

Objective: To evaluate the effects of calcium on the Sacrouterine Ligament by evaluating the expression of calmodulin and bFGF/FGF-2.Method: A true experimental study was carried out by assessing the cell cultures of sacrouterine ligament from female patients who underwent hysterectomy. The cell cultures were divided into groups that were exposed to calcium at different concentrations of 100 nM, 300 nM, 500 nM, 700 nM, and control group without any exposure. The expression of calmodulin and bFGF/FGF-2 was subsequently analyzed using immunofluorescence and ELISA method.Results: This study showed that exposure to calcium significantly affected calmodulin expression (p-value <0.05). The concentration found to be the most effective to induce calmodulin expression was at 500 nM. Calsium also significantly affected the bFGF/FGF-2 expression (p-value <0.05) with the concentration found to be the most effective to induce bFGF/FGF-2 expression at 500 nM.Conclusion: This study suggested that calcium had a significant positive effect of increasing extracellular matrix expression. A further in vivo study needs to be conducted in order to enhance the evidence of the potential effects to become a preventive agent for pelvic organ prolapse. Calcium is widely available in tropical countries like Indonesia, so this preparation is considered very easy for Indonesian women to apply.Key words: Calcium, calmodulin, bFGF/FGF-2, Extracellular MatrixPengaruh Kalsium pada Ekspresi Calmodulin dan bFGF/FGF-2: Studi In Vitro pada Ligamentum SakrouterinaAbstrakTujuan: Mengevaluasi efek kalsium pada Ligamen Sakrouterina dengan evaluasi ekspresi calmodulin dan bFGF/FGF-2,Metode: Sebuah penelitian true eksperimental dilakukan dengan menilai kultur sel ligamentum sakrouterurina dari pasien wanita yang menjalani histerektomi. Kultur sel dibagi menjadi beberapa kelompok yang diberi paparan kalsium pada konsentrasi yang berbeda yaitu 100 nM, 300 nM, 500 nM, 700 nM, dan kontrol tanpa paparan. Ekspresi calmodulin dan bFGF/FGF-2 selanjutnya dianalisis menggunakan metode ELISA dan imunofluoresensi.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa paparan kalsium berpengaruh nyata terhadap ekspresi calmodulin (p-value <0,05). Konsentrasi yang paling efektif untuk menginduksi ekspresi calmodulin adalah pada 500 nM. Kalsium juga berpengaruh nyata terhadap ekspresi bFGF/FGF-2 (p-value <0,05), dengan konsentrasi yang paling efektif untuk menginduksi ekspresi bFGF/FGF-2 adalah pada 500 nM.Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa kalsium memiliki efek positif yang signifikan terhadap peningkatan ekspresi matriks ekstraseluler. Penelitian in vivo lebih lanjut perlu dilakukan untuk meningkatkan bukti potensi efek sebagai agen pencegahan prolaps organ panggul. Kalsium banyak tersedia di negara tropis seperti Indonesia, sehingga olahan ini dinilai sangat mudah diterapkan untuk wanita Indonesia.Kata kunci: Kalsium, Calmodulin, bFGF/FGF-2, Matriks Ekstraseluler
Penggunaan Prednisolon sebagai Terapi Alternatif pada Pustular Psoriasis Of Pregnancy: Sebuah Laporan Kasus Nathania, Nathania; Sampeliling, Dave Grant; Setiawan, Dani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.656

Abstract

Tujuan: Pustular Psoriasis of Pregnancy (PPP) merupakan keadaan psoriasis berat yang jarang sekali terjadi pada kehamilan dan berkaitan dengan peningkatan risiko terjadinya kelahiran prematur dan berat badan bayi rendah. Pilihan kortikosteroid sebagai terapi lini pertama masih bervariasi antara prednison oral, siklosporin, kortikosteroid topikal, hingga kalsipotriene topikalKasus: Kami melaporkan presentasi kasus G4P3A0 usia 34 tahun dengan PPP berulang pada usia kehamilan 8 bulan. Pasien menjalani perawatan konservatif dengan Dexametasone 2x6 mg intramuskular sebagai pematang paru janin selama 2 hari lalu dilanjutkan dengan terapi prednisolon dosis tinggi (80 mg/hari) untuk PPP. Prednisolon dipilih sebagai alternatif terapi pada kasus ini sampai pasien melahirkan.Hasil: Bayi lahir aterm dengan APGAR skor 7 - 9. Tidak ada kelainan kongenital dan kelainan dermatologi pada janin. Keluhan kulit membaik setelah pasien melahirkan. Pengobatan prednisolon dilanjutkan sampai 2 minggu post partum dengan dosis diturunkan bertahap (50 mg/hari selama 1 minggu pertama dilanjutkan 30 mg/hari selama 1 minggu kemudian) lalu dihentikan. Kesimpulan Penggunaan prednisolon sebagai terapi alternatif PPP pada laporan kasus ini tidak menunjukkan adanya efek samping pada ibu maupun janin.Prednisolone as an Alternative Treatment for Pustular Psoriasis of Pregnancy: A Case ReportAbstractIntroduction: Pustular Psoriasis of Pregnancy (PPP) is a severe psoriasis condition that rarely occurs in pregnancy and is associated with an increased risk of premature birth and low birth weight. The choice of corticosteroids as a first-line therapy still varies between oral prednisone, cyclosporine, topical corticosteroids to topical calcipotriene.Case: In this case presentation, we report a 34-year-old G4P3A0 with recurrent PPP at 8 months of gestation. The patient had conservative management with Dexametasone 2x6 mg intramuskular as fetal lung maturation for 2 days, then was continued with high dose of Prednisolone (80 mg/hari) for PPP. Prednisolone was chosen as an alternative treatment in this case until the patient gave birth. Result:. The baby was born term with APGAR score 7-9. No congenital or dermatological problem on baby. Skin complaints resolved two months postpartum. Prednisolone was continued until 2 weeks postpartum with taped off doses (50 mg/day for the first week and 30 mg/day for the next week) and then was stopped. Conclusion: The usage of Prednisolone as an alternative treatment for PPP pada in this case report do not show any adverse outcomes.Key words: pustular psoriasis of pregnancy, prednisolone 
Current Evidence of Platelet-Rich Blood Plasma for Pelvic Organ Prolapse: A Review Fakhrizal, Edy; Simanjuntak, Arya Marganda; Hutapea, Anastasya
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.530

Abstract

Objective: To review the current evidence of the potential use of Platelet-Rich Plasma (PRP) in the field of urogynecology, especially in POP cases.Method: This review used several databases (Google Scholar, Pubmed, and Science Direct) and searched for English and Indonesian articles in the last ten years. Articles were received in the form of case reports, observational studies and clinical trials that discussed the use of Platelet-Rich Plasma in cases of Pelvic Organ Prolapse (POP).Results: A total of three articles were included in this review.Discussion: There were two patient studies and one in vitro study. The POP patient study showed favorable results with low recurrence rates in patients who received Platelet Rich-Plasma compared to those who did not and another study that conducted a one-year evaluation found no recurrences after the patients received Platelet Rich Plasma at the surgical site. The in vitro study showed good cell attachment and proliferation in vaginal tissue biopsies with Platelet-Rich Plasma applied to the tissue.Conclusion: Platelet-Rich Plasma may promote tissue regeneration, hence potentially reduce recurrency after reconstruction.Bukti Terkini Plasma Darah Kaya Trombosit untuk Prolaps Organ Panggul: Sebuah KajianTujuan: Untuk meninjau bukti terkini mengenai potensi penggunaan Platelet-Rich    Plasma di bidang uroginekologi, khususnya pada kasus POP.Metode:Tinjauan ini menggunakan beberapa database Google Scholar, Pubmed, dan Science Direct) dan mencari artikel berbahasa Inggris dan Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir. Artikel yang diterima berupa laporan kasus, studi observasional, dan uji klinis yang membahas penggunaan Platelet-Rich Plasma pada kasus Prolaps Organ Panggul (POP).Hasil: Sebanyak tiga artikel termasuk dalam tinjauan ini.Diskusi: Terdapat dua studi pasien dan satu studi in vitro. Studi pasien POP menunjukkan hasil yang baik dengan tingkat kekambuhan yang rendah pada pasien yang menerima PRP dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima Platelet-Rich Plasma dan studi lain yang melakukan evaluasi satu tahun tidak menemukan adanya kekambuhan setelah pasien menerima Platelet-Rich Plasma di tempat pembedahan. Studi in vitro menunjukkan perlekatan dan proliferasi sel yang baik pada biopsi jaringan vagina dengan Platelet-Rich Plasma yang diaplikasikan pada jaringan tersebut.Kesimpulan: Platelet-Rich Plasma dapat meningkatkan regenerasi jaringan, sehingga berpotensi mengurangi kekambuhan setelah rekonstruksi.Kata kunci: Platelet-Rich Blood Plasma, Prolaps Organ Panggul, Uroginekologi
Progressivity of Variable Deceleration to Late Deceleration – A Case Report and It’s Implication Suryawan, Alfonsus Zeus; Zaenudin, Aditya Rifandi; Erfiandi, Febia; Handono, Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.640

Abstract

Introduction: Cardiotocography (CTG) records changes in fetal heart rate and their temporal relationship with uterine contractions. This case report specifically highlights the progression of variable deceleration to late deceleration, its implication, and importance of variable deceleration.Case Report: A 42-year-old G4P2A1 patient at 37–38 weeks of gestation presented to our emergency unit with severe preeclampsia (170/110 mmHg) and irregular heart rate (120 – 70 – 110 bpm). We performed CTG and showed baseline 120–130, with no variability and accompanied by deceleration. The first 2 deceleration occur without the same timing as contraction, and the two later occur after contraction. We performed C-section on the patient and healthy female baby.Discussion: This case provides us with a rather unique pattern of CTG where we could see a slight progression from variable deceleration to late deceleration. Deceleration itself represents a reflex response of the fetus to reduce myocardial workload in response to stress; therefore, it can be secondary to cord compression or other causes. As this condition continues, the fetus deceleration progresses to late deceleration, presenting with a more dire condition and severe acidemic condition. Conclusion: Most of the time variable deceleration are classified as “cord compression” decelerations, while most cases of fetal acidemia in labor are due to reduction in uteroplacental perfusion not the compression of cord. Therefore, variable deceleration is an important sign of fetal acidemia, and when such if itis present, we should take the initiative for termination of pregnancy to prevent bad outcomes of the fetus.Progresivitas Deselerasi Variabel ke Deselerasi Lambat–Laporan Kasus dan ImplikasinyaAbstrakPendahuluan:Kardiotokografi merekam perubahan detak jantung janin dan hubungannya dengan kontraksi uterus. Laporan kasus ini hendak menunjukkan perubahan dari deselerasi variabel ke deselerasi lambat serta implikasi dan pentingnya deselerasi variabel.Laporan Kasus: Seorang wanita 42 tahun G4P2A1 gravida 37-38 minggu datang ke IGD dengan preeklamsia berat (170/110 mmHg) dan denyut jantung janin yang irreguler (120 – 70 – 110 x/menit). Setelah dilakukan kardiotokografi didapatkan baseline 120-130, tanpa ada akselerasi dan diikuti deselerasi. Dua deselerasi yang muncul pertama timbul tanpa ada hubungan dengan kontraksi uterus dan dua kontraksi berikut nya terjadi setelah kontraksi. Pasien kemudian dilakukan seksio sesarea dan lahir bayi perempuan sehat.Diskusi: Kasus ini memberikan gambaran kardiotokografi unik dengan adanya progresivitas dari deselerasi variabel ke deselerasi lambat. Deselerasi sendiri merupakan respon fetus terhadap stress dengan menurunkan beban kerja myocardium janin. Hal ini terjadi akibat hipoksia pada janin yang terjadi akibat kompresi tali pusat dan atau penyebab lain. Bila kondisi ini berlanjut menjadi deselerasi lambat maka kondisi fetus akan semakin memburuk dan masuk kedalam asidemia berat. Kesimpulan: Sering kali dalam melihat deselerasi variabel, kita menklasifikasikannya sebagai deselerasi yang disebabkan penekanan tali pusat/cord-compression yang bila dilakukan resusitasi dapat membaik. Akan tetapi mayoritas kasus dari asidemia fetus pada persalinan terjadi akibat penurunan aliran uteroplasental bukan dari kompresi tali pusat. Oleh karena itu deselerasi variabel justru merupakan tanda penting dalam menilai asidemia fetus dan bila ada dalam pemeriksaan karditokografi harus diambil langkah cepat untuk terminasi kehamilan guna mencegah luaran janin yang buruk.Kata kunci : kardiotokografi; deselerasi variabel; asidemia fetus
Neglected Traumatic Vulvar Hematoma: A Case Report Pratama, Nicholas; Riani, Mutiara; Mardjuki, Edihan; Darmawan, Budi; Ronny, Ronny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.598

Abstract

Introduction: Vulvar hematoma is a rare condition that can arise from many causes. In serious cases, the patient is hemodynamically unstable and requires immediate treatment. Multiple factors from patients and health care providers impact the outcome. Case Illustration: P0A0 60-year-old woman presented to the outpatient clinic with a painful lump in her vulva for 1 month after trauma and observation in primary care. She had previously consumed anticoagulants for venous insufficiency. Her family’s socioeconomic status was relatively poor. She did not have a complete comprehension of her illness. Physical examination revealed left major labia hematoma with a size of 5 x 10 cm, which was confirmed with ultrasonography. Incision and clot evacuation were performed under general anesthesia and showed a good outcome. Discussion: Vulva is an external part of female genitalia composed of smooth muscle and loose connective tissue with rich vascularization. This organ is prone to hematoma, and there is no consensus published yet. In this patient, the treatment was delayed for 1 month because of a failure to disseminate a clear care plan combined with the patient’s low literacy. Conclusion: Vulvar hematoma is a rare case that can be treated with a conservative, surgical, or embolization approach. Neglected cases can become chronic hematomas that lead to difficulties in diagnosis. A clear care plan should be successfully disseminated to the patient despite many communication challenges to ensure fast and appropriate medical treatment.Hematoma Vulva Traumatik Terbengkalai : Laporan KasusAbstrak Pendahuluan: Hematoma vulva adalah kasus jarang yang dapat timbul karena berbagai macam penyebab. Pada kasus yang berat, pasien dapat mengalami hemodinamik yang tak stabil dan memerlukan tatalaksana secepatnya. Berbagai macam faktor dari pasien dan tenaga kesehatan mempengaruhi hasil pengobatan.Ilustrasi Kasus: Wanita P0A0 usia 60 tahun datang ke poliklinik dengan benjolan yang menyebabkan nyeri pada vulva 1 bulan pasca trauma yang telah diobservasi di pelayanan primer. Pasien sebelumnya mengkonsumsi antikoagulan untuk insufisiensi vena. Sosioekonomi keluarga pasien relatif rendah. Pemeriksaan fisik menunjukkan hematoma labia mayor berukuran 5 x 10 cm yang dikonfirmasi dengan ultrasonografi. Pada pasien ini dilakukan insisi dan evakuasi gumpalan darah dibawah anestesi umum yang menunjukkan hasil yang baik. Diskusi: Vulva adalah organ genitalia eksternal wanita yang tersusun atas otot polos dan jaringan ikat longgar yang kaya vaskularisasi. Organ ini rentan mengalami hematoma dan saat ini belum terdapat konsensus. Penanganan pada pasien ini terlambat selama 1 bulan karena rencana penanganan yang tidak tersampaikan kepada pasien yang memiliki literasi kesehatan rendah. Kesimpulan: Hematoma vulva adalah kasus jarang yang dapat ditangani secara konservatif, pembedahan, maupun embolisasi. Kasus terbengkalai dapat menjadi hematoma kronis yang menyulitkan dalam diagnosis. Rencana penatalaksanaan yang jelas harus diberikan kepada pasien dengan segala kesulitan komunikasi demi tatalaksana yang cepat dan tepat.Kata kunci: hematoma vulva, terbengkalai, pemahaman kesehatan, literasi kesehatan rendah
Relationship Between Characteristics of Pregnant Women and Incidence of Anemia at I Melaya Health Center, Bali Province Wati, Ni Putu Eka Yadnya; Aristasari, Gusti Ayu Putu
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.692

Abstract

Introduction: Anemia is a condition of low levels of red blood cells (hemoglobin) in the body below normal values. Pregnant women are considered to have anemia if their hemoglobin is less than 11 gr/dl. Data retrieved from the Bali Health Department in 2022 shows obstetric complications due to anemia accounted for 23% of total pregnancies, while data retrieved from the Jembrana Health Department in 2022 shows that 445 out of 3965 pregnant women experienced anemia. This study aims to determine the relationship between the characteristics of pregnant women and the incidence of anemia in the working area of I Melaya Health Center.Method: This descriptive study uses a cross-sectional design based on secondary data with 132 samples.Results: This study shows that the proportion of cases of anemia in pregnant women at I Melaya Health Center in 2022 was 59 cases (44.7%). Most of the anemia occurs in pregnant women aged <20 years, in the third trimester, with grandemultigravida parity and at obese nutritional status.Conclusion: This study shows a significant relationship between maternal age, gestational age, the number of parities, and the incidence of anemia in pregnant women. However, there is an insignificant relationship between maternal nutritional status and the incidence of anemia in pregnant women at I Melaya Health Center.Hubungan antara Karakteristik Ibu Hamil dan Kejadian Anemia di Puskesmas I Melaya Provinsi BaliAbstrakPendahuluan: Anemia merupakan kondisi rendahnya kadar hemoglobin atau sel darah merah dalam tubuh di bawah nilai normal. Untuk kehamilan, dapat dikatakan seorang ibu mengalami anemia jika hemoglobin kurang dari 11 gr/dl. Berdasarkan data profil kesehatan Provinsi Bali tahun 2022, komplikasi kebidanan akibat anemia mencakup 23% dari total kehamilan dan data profil kesehatan Kabupaten Jembrana tahun 2022 menunjukkan 445 dari 3965 ibu hamil mengalami anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu hamil dan kejadian anemia di wilayah kerja UPTD Puskesmas I MelayaMetode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan design cross sectional berdasarkan data sekunder dengan sampel yang digunakan sebanyak 132 sampel.Hasil: Penelitian ini menunjukkan proporsi kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas I Melaya tahun 2022 adalah sebanyak 59 kasus (44,7%). Mayoritas anemia terjadi pada ibu hamil usia <20 tahun, usia kehamilan trimester III, jumlah anak grandemultigravida, dan status gizi obese.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu, usia kehamilan, dan jumlah paritas dan kejadian anemia pada ibu hamil. Namun, terdapat hubungan yang tidak signifikan antara status gizi ibu dan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas I Melaya.Kata kunci : anemia, ibu hamil, faktor risiko.