cover
Contact Name
Neneng Siti Latifah
Contact Email
nenengmalahayati@gmail.com
Phone
+6281315863446
Journal Mail Official
neneng@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka NO 27 Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati)
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 24768944     EISSN : 2579726X     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Jurnal Kebidanan Malahayati menyediakan platform untuk mempublikasikan bidang kebidanan dan jurnal juga berusaha untuk memajukan kualitas penelitian dengan memperkenalkan atau menguraikan metode baru di bidang kesehatan kebidanan untuk publikasi termasuk kebidanan dan ilmu kesehatan inti. Jurnal ini berisi naskah tentang Ilmu Kesehatan yang meliputi: asuhan Kebidanan, Gizi, Psikologi, kebidanan komunitas, kesehatan Reproduksi, Kesehatan Lansia, Kesehatan Masyarakat
Articles 971 Documents
The Effect of Baby Massage on the Sleep Quality of Babies Aged 3-6 Months with ISPA Suminar, Erni Ratna; Kumalasary, Diyanah; Wahyu, Pesona Riyanti
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 7 (2025): Volume 11, Nomor 7 Juli 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i7.21647

Abstract

 Latar Belakang : Tingginya kesenjangan antara prevalensi ISPA dan presepsi orang tua mengenai masalah tidur bayi menggambarkan perlunya perhatian khusus mengenai masalah tidur pada bayi dengan gejala ISPA. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di TPMB Bdn.Sumarni,S.Keb,CHTT melalui data kunjungan pasien bayi usia 3–6 bulan pada bulan Januari– Desember 2023 terdapat 137 bayi usia 3-6 bulan yang berkunjung dan 56 diantaranya mengalami ISPA yang menyebabkan tidur menjadi tidak nyenyak.Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat bayi terhadap kualitas tidur bayi usia 3-6 bulan dengan ISPA di TPMB Bdn.Sumarni,S.Keb,CHTT Tahun 2024.Metode penelitian : Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan Pra-Eksperimental desain dan pendekatan one group pre-test pos-test desain. Sampel dalam penelitian ini yaitu bayi usia 3-6 bulan dengan ISPA berjumlah 30 responden, teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu Accidental Sampling. Teknik anlisa data menggunakan uji T-test.Hasil penelitian yang dilakukan kualitas tidur bayi sebelum diberi pijat 16 responden (53.3%) mayoritas memiliki masalah ringan pada kualitas tidurnya. Setelah diberi pijat 24 responden (80%) mayoritas tidak ada masalah pada kualitas tidurnya. Hasil uji statistik T-test didapatkan yaitu p value = 0.000 (p < 0.05).Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada pengaruh pijat bayi terhadap kualitas tidur bayi usia 3-6 bulan dengan ISPA diterima. artinya ada pengaruh yang signifikan pijat bayi terhadap kualitas tidur bayi usia 3-6 bulan dengan ISPA.Saran : Diharapkan bidan dan tenaga kesehatan lain dapat menerapkan pijat bayi sebagai terapi pelengkap pada bayi 3-6 bulan dengan ISPA untuk memperbaiki kualitas tidurnya. Kata Kunci : Pijat Bayi, Kualitas Tidur, ISPA ABSTRACT Background : The high gap between the prevalence of ARI and parents' perceptions regarding infant sleep problems illustrates the need for special attention regarding sleep problems in babies with ARI symptoms. Based on the results of a preliminary study conducted at TPMB Bdn.Sumarni, S.Keb, CHTT through patient visit data for babies aged 3-6 months in JanuaryDecember 2023, there were 137 babies aged 3-6 months who visited and 56 of them experienced ARI which caused sleep becomes restless. The aim of this research was to determine the effect of baby massage on the sleep quality of babies aged 3-6 months with ARI at TPMB Bdn. Sumarni, S. Keb, CHTT in 2024.In this research, researchers used quantitative methods with a preexperimental design and a one group pre-test post-test design approach. The sample in this study was babies aged 3-6 months with ISPA totaling 30 respondents. The sampling technique in this study was Accidental Sampling. The data analysis technique uses the T-test.The results of research conducted on the quality of baby's sleep before being given a massage, 16 respondents (53.3%) the majority had mild problems with the quality of their sleep. After being given a massage, the majority of 24 respondents (80%) had no problems with their sleep quality. The results of the T-test statistical test were p value = 0.000 (p < 0.05).Based on the research results, it can be seen that there is an influence of baby massage on the sleep quality of babies aged 3-6 months with ARI. This means that there is a significant effect of baby massage on the sleep quality of babies aged 3-6 months with ARI. It is hoped that midwives and other health workers can apply baby massage as a complementary therapy for babies 3-6 months with ISPA to improve their sleep quality. Keyword : Baby Massage, Sleep Quality, ARI.
Breastfeeding Practices During The First 1000 Days And Their Long-Term Association With Stunting In Children Under Five: A Systematic Literature Review Widyantari, Kadek Yuke; Fatriani, Rully; Sari, Nirma Lidia; listiana, Akma
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 7 (2025): Volume 11, Nomor 7 Juli 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i7.21055

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih bertahan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Praktik menyusui selama 1000 Hari Pertama Kehidupan telah diidentifikasi sebagai faktor penting yang memengaruhi pertumbuhan linear, meskipun hasil penelitian sebelumnya menunjukkan temuan yang beragam.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis bukti terkini mengenai hubungan antara praktik menyusui selama 1000 HPK dengan risiko stunting pada anak di bawah usia lima tahun.Metode: Tinjauan literatur sistematis dilakukan mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian dilakukan pada database PubMed, ScienceDirect, dan ProQuest, dengan batasan tahun terbit 2020–2025. Seleksi artikel menggunakan kerangka PICOS, dan penilaian kualitas menggunakan instrumen dari Joanna Briggs Institute.Hasil: Sebanyak 12 artikel memenuhi kriteria inklusi. ASI eksklusif secara konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko stunting. Inisiasi menyusui dini bersifat protektif, sementara menyusui lebih dari 12 bulan pada keluarga berpenghasilan rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko stunting akibat rendahnya keberagaman makanan. MP-ASI yang tidak memadai, berat badan lahir rendah, dan infeksi berulang turut memperburuk risiko.Kesimpulan: Praktik menyusui yang optimal selama 1000 HPK sangat penting untuk mencegah stunting. Keberhasilan menyusui perlu didukung oleh pendidikan ibu, pemberian MP-ASI yang sesuai, serta intervensi multifaktorial.Saran: Diperlukan program edukasi yang berkelanjutan bagi ibu mengenai praktik menyusui dan pemberian MP-ASI yang tepat, serta kebijakan yang mendukung intervensi lintas sektor untuk menanggulangi faktor risiko stunting secara komprehensif. Kata Kunci: menyusui, stunting, 1000 hari, MP-ASI, nutrisi dini, pertumbuhan anak ABSTRACT Background: Stunting remains a persistent public health issue in low- and middle-income countries, with long-term consequences for children's physical and cognitive development. Breastfeeding during the first 1000 days has been identified as a critical factor influencing linear growth, though previous studies have yielded mixed findings.Objective: This study aims to systematically review recent evidence on the relationship between breastfeeding practices during the first 1000 days and the risk of stunting among children under five.Methods: A systematic literature review was conducted using the PRISMA framework. Articles were retrieved from PubMed, ScienceDirect, and ProQuest, limited to studies published between 2020 and 2025. The PICOS model guided the inclusion criteria, and the Joanna Briggs Institute checklist was used for quality appraisal.Results: Twelve articles met the inclusion criteria. Exclusive breastfeeding was consistently associated with reduced stunting risk. Early initiation of breastfeeding had a protective effect, whereas prolonged breastfeeding beyond 12 months in poor households increased stunting risk, likely due to poor dietary diversity. Inadequate complementary feeding, low birth weight, and recurrent infections further compounded the risk.Conclusion: Optimal breastfeeding during the first 1000 days significantly reduces the risk of stunting. However, successful breastfeeding requires maternal education, appropriate complementary feeding, and multifactorial interventions.Suggestion: Sustainable maternal education programs and integrated policy support are essential to promote optimal feeding practices. Multisectoral interventions addressing nutrition, healthcare access, food security, and sanitation are recommended to effectively reduce stunting rates in vulnerable populations. Keywords: breastfeeding, stunting, 1000 days, complementary feeding, early nutrition, child growth
The Relationship Between Personal Hygiene Behavior And The Incidence Of Fluor Albus In Adolescent Girls Khoiroh, Nis'atul; Amelia Hanisyah Putri, Nabila; Rahmayani, Irma; Friska Armynia Subratha, Hesteria; Kurniawati, Yuni
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i9.22635

Abstract

Latar Belakang: Masa remaja merupakan masa peralihan dari fase anak-anak menuju fase dewasa yang ditandai oleh berbagai macam perubahan, termasuk pertumbuhan organ reproduksi. Remaja pada masa ini diharapkan untuk mulai memperhatikan kebersihan diri terutama kesehatan reproduksi, yang dimulai dengan menjaga kebersihan tubuh seperti kebersihan pada vagina agar terhindar dari berbagai kemungkinan penyakit, termasuk keputihan. Keputihan merupakan gangguan kedua terbanyak setelah gangguan menstruasi yang kerap dialami oleh remaja.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku higiene personal dengan kejadian keputihan pada remaja putri.Metode: Rancangan penelitian ini observasional analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan subjek penelitian menggunakan teknik consecutive sampling diperoleh 51 responden. Instrumen yang digunakan kuesioner. Analisis data menggunakan analisis univariabel dan bivariabel (uji Chi-Square).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan remaja putri sebagai subjek penelitian ini berada pada usia remaja awal (12-15 tahun) dan sebagian besar berusia 14 tahun (39,2%), serta hasil analisis bivariabel menunjukkan nilai p < 0,05 (PR 9,857; IK 95% 1,383 - 70,261).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara perilaku higiene personal dengan kejadian keputihan.Saran: Perlu diberikan promosi kesehatan mengenai kesehatan reproduksi khususnya higiene personal agar remaja putri memiliki pengetahuan yang mendalam, sehingga dapat berperilaku higiene personal yang baik dan mencegah terjadinya keputihan. Kata Kunci: Keputihan, Perilaku Higiene Personal, Remaja Putri ABSTRACT Background: Adolescence is a transitional period from childhood phase to adulthood phase, marked by a range of changes, which involves the development of the reproductive organs. Adolescents at this time are expected to start paying attention to personal hygiene, especially reproductive health, which starts from maintaining personal hygiene such as vaginal hygiene to avoid the possibility of diseases including fluor albus. Fluor albus is the second disorder after menstrual disorders that often occur in adolescents.Purpose: This study aims to analyze the relationship between personal hygiene behavior and the incidence of fluor albus in adolescent girls.Methods: This research design is analytic observational with cross sectional design. Taking research subjects using consecutive sampling technique obtained 51 respondents. The instrument used was a questionnaire. Data analysis using univariable and bivariable analysis (Chi-Square test).Results: The results showed that adolescent girls as the subject of this study were in early adolescence (12-15 years) and most were 14 years old (39.2%), and the results of bivariable analysis showed a p value < 0.05 (PR 9.857; CI 95% 1.383 - 70.261).Conclusion: There is a relationship between personal hygiene behavior and the incidence of fluor albus. Suggestions: Health promotion regarding reproductive health, especially personal hygiene, is necessary so that adolescent girls have in-depth knowledge, enabling them to practice good personal hygiene and prevent vaginal discharge. Keywords: Fluor Albus, Personal Hygiene Behavior, Adolescent Girls
Analysis Of Factors Affecting Stunting In Toddlers Iskhak, Muhamad; Diana, Sulis; Anggreni, Dhonna; Wari, Fitria Edni
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i9.22176

Abstract

Latar Belakang: Stunting pada balita memerlukan perhatian khusus karena menghambat perkembangan fisik dan mental anak, yang secara tidak langsung terkait dengan risiko penyakit dan kematian.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi insidensi stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Klenang, Kabupaten Probolinggo.Metode: Studi ini menggunakan desain kasus-kontrol kuantitatif. Variabel independen meliputi faktor individu (Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), riwayat ASI eksklusif, penyakit menular pada balita, status imunisasi), faktor ibu (status gizi ibu, usia ibu saat hamil, paritas, jarak kelahiran), dan faktor lingkungan (sumber air bersih, akses ke toilet). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah insidensi stunting. Populasi penelitian meliputi 359 ibu dan balita di wilayah kerja Puskesmas Cakar, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode proportional random sampling, menggunakan kuesioner sebagai instrumen. Analisis menggunakan uji regresi logistik.Hasil: Sebagian besar balita dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mengalami stunting, 44 (52,4%). 71 (84,5%) di antaranya diberikan ASI eksklusif. 83 (98,8%) balita stunting tidak menderita penyakit menular. 73 (86,9%) balita stunting telah mendapatkan imunisasi lengkap. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (nilai P 0,000 < 0,05), pemberian ASI eksklusif (nilai P 0,017 < 0,05), dan status imunisasi (nilai P 0,046 < 0,05) secara signifikan mempengaruhi stunting. Status penyakit menular (P-value 0,556 < 0,05) tidak mempengaruhi stunting.Kesimpulan: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan faktor dominan yang mempengaruhi stunting akibat asupan nutrisi yang tidak memadai selama kehamilan dan riwayat berat badan lahir rendah.Saran: Tenaga kesehatan harus meningkatkan pendidikan dan konseling bagi ibu hamil, ibu balita, dan calon orang tua tentang stunting, gizi, pengasuhan anak, dan pencegahan penyakit menular, melalui posyandu terpadu, kader kesehatan, dan media digital. Kata kunci: Faktor ibu, faktor individu, faktor lingkungan, stunting ABSTRACT Background: Toddler stunting requires special attention because it inhibits the physical and mental development of children which will indirectly be related to the risk of illness and death.Objective: The purpose of the study: to analyze the factors that influence the incidence of stunting in toddlers in the working area of the Klenang Health Center, Probolinggo Regency.Method: This study used a quantitative case-control design. The independent variables were individual factors (LBW, history of exclusive breastfeeding, toddler infectious diseases, immunization status), maternal factors (maternal nutritional status, maternal age during pregnancy, parity, birth spacing), and environmental factors (source of clean water, access to toilets). The dependent variable in this study was the incidence of stunting. The population was all 359 mothers and toddlers in the Cakar Community Health Center work area, Banyuanyar District, Probolinggo Regency. Proportional random sampling was used, with a questionnaire as the instrument. Analysis used a logistic regression test.Results: The majority of toddlers with LBW experienced stunting, 44 (52.4%). 71 (84.5%) were exclusively breastfed. 83 (98.8%) of the stunted toddlers did not have infectious diseases. 73 (86.9%) of the stunted toddlers had complete immunizations. Low birth weight (LBW) (P-value 0.000 < 0.05), exclusive breastfeeding (P-value 0.017 < 0.05), and immunization status (P-value 0.046 < 0.05) significantly affected stunting. Infectious disease status (P-value 0.556 < 0.05) did not influence stunting.Conclusion: Low birth weight (LBW) is the most dominant factor influencing stunting due to inadequate nutritional intake during pregnancy and a history of low birth weight.Suggestion: Health workers should increase education and counseling for pregnant women, mothers of toddlers, and expectant parents about stunting, nutrition, parenting, and infectious disease prevention, through integrated health posts (Posyandu), health cadres, and digital media. Keywords: Environmental factors, individual factors, maternal factors, stunting
Implementation Of Interprofessional- Colaboration (IPC) In The Community Health Center Regarding Exclusive Breastfeeding On Mothers' Knowledge, Attitudes And Exclusive Breastfeeding Achievements Putriana, Yeyen; Pranajaya, R; Risneni, Risneni
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i9.22559

Abstract

Pemberian ASI eklusif dan menyusu selama minimal 2 tahun membutuhkan pengetahuan dan sikap yang positif bagi ibu. Puskesmas sebagai bagian dari pemerintah berkewajiban untuk meningkatkan capaian ASI melalui salah satunya kegiatan kelas ibu. Kelas ibu dapat dimanfaatkan untuk menerapkan interprofesional colaborasi (IPC)  antara bidan, petugas imunisasi dan gizi untuk memberikan pendampingan selama menyusui.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas penerapan IPC bagian KIA, Imunisasi  dan Gizi tentang asi eklusif terhadap pengetahuan, sikap dan capaian asi eklusif di Puskesmas Kemiling Kota Bandar Lampung tahun 2024 .Metode penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan one group pre dan post test. Populasi penelitian seluruh ibu menyusui yang datang ke Puskesmas Kemiling. Sampel diambil dengan menggunakan purposive sampling dan menggunakan kriteria eklusi dan inklusi. Hasil perhitungan rumus Lemeshow didapatkan 30 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Media pendampingan menggunakan booklet . Analisi data menggunakan analisis univariat dan bivariat uji T dependen.Hasil penelitian di dapatkan terdapat peningkatan pengetahuan ibu sebelum dan setelah intervensi dengan V palue 0,0001 terdapat peningkatan sikap ibu sebelum dan setelah intervensi dengan V- palue 0,0002, terdapat peningkatan cakupan asi eklusif sebesar 93%. Kesimpulan penerapan IPC  untuk meningkatkan  pengetahuan, sikap dan capaian asi eklusif . Saran kepada  Puskesmas secara kontinue memberikan pendampingan di kelas ibu untuk meningkatkan cakupan asi dan menyusu selama 2 tahun . Kata Kunci ; ASI eklusif, Capaian, IPC, Pengetahuan, Sikap, ABSTRACT Exclusive breastfeeding and breastfeeding for at least two years require knowledge and a positive attitude from mothers. Community health centers, as part of the government, are obligated to improve breastfeeding outcomes through activities such as mothers' classes. These classes can be used to implement interprofessional collaboration (IPC) between midwives, immunization officers, and nutritionists to provide support during breastfeeding.The purpose of this study was to determine the effectiveness of the implementation of the IPC section of KIA, Immunization and Nutrition regarding exclusive breastfeeding on knowledge, attitudes and achievements of exclusive breastfeeding at the Kemiling Community Health Center, Bandar Lampung City in 2024.This research method is a quasi-experimental study with one group pre- and post-test. The study population was all breastfeeding mothers who came to the Kemiling Community Health Center. The sample was taken using purposive sampling and using exclusion and inclusion criteria. The results of the Lemeshow formula calculation obtained 30 respondents. The measurement instrument used was a questionnaire. The mentoring media used a booklet. Data analysis used univariate and bivariate analysis of the dependent T test.The results of the study showed an increase in maternal knowledge before and after intervention with V-palue 0.0001, there was an increase in maternal attitudes before and after intervention with V-palue 0.0002, there was an increase in exclusive breastfeeding coverage by 93%. The conclusion of the application of IPC to improve knowledge, attitudes and achievements of exclusive breastfeeding. Suggestions to the Community Health Center continuously provide assistance in mother's classes to increase the coverage of breast milk and breastfeeding for 2 years. Keywords: Exclusive breastfeeding, Achievement, IPC, Knowledge, Attitude
The Relationship Between the Utilization of the Maternal and Child Health (MCH) Handbook and Knowledge and Frequency of Antenatal Care (ANC) Visits at Candipuro Inpatient Health Center in 2025 Sari, Yuni Maryana; Ermasari, Anissa; Kurniasari, Devi; Fitria, Fitria
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i9.22539

Abstract

Latar Belakang: Berdasarkan data rekam medis di Puskesmas Rawat Inap Candipuro tahun 2024 diketahui dari 1147 ibu hamil dengan kunjungan K1 sebesar 88,93%, K4 sebesar 81,26% dan K6 sebesar 71,3%. Keberhasilan program kesehatan ibu dapat dinilai melalui indikator utama Angka Kematian Ibu (AKI). Ibu hamil yang membaca buku KIA akan mengalami peningkatan pengetahuan dan kesadaran kesehatan.Tujuan: Tujuan penelitian diketahui hubungan pemanfaatan buku kesehatan ibu dan anak (KIA) Dengan pengetahuan dan frekuensi kunjungan antenatal care (ANC) di Puskesmas Rawat Inap Candipuro Tahun 2025Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Candipuro sebanyak 68 ibu hamil dengan sampel yang digunakan sebanyak 54 responden, meggunakan teknik acidental sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner, analisis data secara univariat dan bivariat (uji chisquare).Hasil: Hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 28 (51,9%) responden memanfaatkan buku KIA, sebanyak 35 (64,8%) responden memiliki pengetahuan baik, dan sebanyak 30 (55,6%) responden melakukan kunjungan ANC tidak sesuai.Kesimpulan: . Ada hubungan pemanfaatan buku KIA dengan pengetahuan ibu hamil (p-value =0,013) dan hubungan pemanfaatan buku KIA dengan frekuensi kunjungan ANC pada ibu hamil (p-value =0,00) di Puskesmas Rawat Inap Candipuro tahun 2025.Saran: Saran bagi Ibu hamil diharapkan dapat memanfaatkan Buku KIA dengan membaca isinya secara rutin dan membawanya saat kunjungan ANC sebagai sumber informasi dan pencatatan kesehatan kehamilan. Kata Kunci: frekuensi kunjungan ANC, Ibu hamil, pemanfaatan buku KIA, pengetahuan ABSTRACT Background: Based on medical records at Candipuro Inpatient Health Center in 2024, out of 1,147 pregnant women, the percentage of K1 visits was 88.93%, K4 visits was 81.26%, and K6 visits was 71.3%. The success of maternal health programs can be assessed through a key indicator, the Maternal Mortality Rate (MMR). Pregnant women who read the Maternal and Child Health (MCH) Handbook are expected to experience an increase in knowledge and health awareness.Purpose This study aimed to determine the relationship between the utilization of the Maternal and Child Health (MCH) Handbook and knowledge as well as the frequency of antenatal care (ANC) visits at Candipuro Inpatient Health Center in 2025.Methods: This was a quantitative study with a cross-sectional design. The population consisted of all pregnant women in the working area of Candipuro Inpatient Health Center, totaling 68 women, with a sample of 54 respondents selected using accidental sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed through univariate and bivariate analyses (Chi-square test).Results: The results showed that 28 respondents (51.9%) utilized the MCH Handbook, 35 respondents (64.8%) had good knowledge, and 30 respondents (55.6%) had ANC visits that were not in accordance with the recommended schedule.Conclusion: There was a significant relationship between the utilization of the MCH Handbook and maternal knowledge (p-value = 0.013), as well as between the utilization of the MCH Handbook and the frequency of ANC visits among pregnant women (p-value = 0.00) at Candipuro Inpatient Health Center in 2025.Suggestion: Pregnant women are encouraged to make use of the MCH Handbook by regularly reading its contents and bringing it during ANC visits as a source of information and a record of maternal health. Keywords: ANC visit frequency, pregnant women, utilization of the MCH Handbook, knowledge
Analysis Of Risk Factors For Early Detection Of High Risk Pregnancy In The Third Trimester Mindarsih, Theresia; Pratiwi, Endah Dwi
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i9.22033

Abstract

Latar Belakang : Kehamilan memiliki risiko tinggi jika dipengaruhi faktor pemicu yang akan menyebabkan terjadinya komplikasi selama kehamilan dan bisa menimbulkan kehamilan yang patologis. Deteksi dini dalam pelayanan antenatal untuk menemukan ibu hamil berisiko agar dapat ditangani secara memadai untuk mencegah gangguan yang serius pada kehamilan. Faktor predisposisi risiko juga di kenali sejak awal sehingga dapat dilakukan upaya untuk mencegah ganngguan yang lebih berat pada ibu maupun janin.Tujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, pendidikan dan keteraturan ANC dengan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil trimester III di wilayah kerja puskesmas Sikumana, Kota Kupang Nusa Tenggara Timur.  Metode yang digunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester III. Teknik pengambilan sampel dengan total sampling yaitu 51 orang ibu hamil trimester III. Data dikumpulkan melalui kues ioner kemudian dianalisis  menggunakan uji statistik Chi-Square.Hasil penelitian terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan (0,006), sikap (0,020), keteraruran ANC (0.020) dengan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil trimester III sedangkan pendidikan (0,098) tidak ada kemaknaan secara statistic dengan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil trimester III.Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, serta keteratuan ANC  dengan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil trimester III dan pendidikan tidak ada hubungan dengan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil trimester III.Saran Pendidikan ini dapat diberikan melalui penyuluhan rutin di fasilitas kesehatan, pusat kesehatan terpadu (Posyandu), atau kunjungan rumah, dengan penekanan pada pentingnya pemeriksaan kehamilan (ANC) untuk memberikan perawatan dan pengawasan yang dapat mendeteksi tanda-tanda awal bahaya kehamilan, komplikasi, serta perencanaan dan tindakan yang tepat. Kata Kunci : Keteraturan_ANC, Pengetahuan, Pendidikan, Risiko_Tinggi, Sikap ABSTRACT Background: Pregnancy has a high risk if influenced by triggering factors that will cause complications during pregnancy and can lead to pathological pregnancies. Early detection in antenatal care to find pregnant women at risk so that they can be treated adequately to prevent serious disorders in pregnancy. Predisposing risk factors are also recognized early so that efforts can be made to prevent more serious disorders in the mother and fetus. This study aims to analyze the relationship between knowledge, attitudes, education and regularity of ANC with early detection of high-risk pregnant women in the third trimester in the working area of the Sikumana Community Health Center, Kupang City, East Nusa Tenggara. This type of research is quantitative with a cross-sectional approach. The population in this study were all pregnant women in the third trimester. The sampling technique with a total sampling of 51 pregnant women in the third trimester. Data were collected through a questionnaire and then analyzed using the Chi-Square statistical test . The results of the study showed a statistically significant relationship between knowledge (0.006), attitude (0.020), regularity of ANC (0.020) with early detection of high-risk pregnant women in the third trimester, while education (0.098) had no statistical significance with early detection of high-risk pregnant women in the third trimester. Conclusion: This study shows a significant relationship between knowledge, attitude, and regularity of ANC with early detection of high-risk pregnant women in the third trimester and education has no relationship with early detection of high-risk pregnant women in the third trimester.Suggestion This education can be provided through routine outreach at health facilities, integrated health posts (Posyandu), or home visits, with an emphasis on the importance of prenatal checkups (ANC) to provide care and supervision that can detect early signs of pregnancy danger signs, complications, and appropriate planning and action. Keywords: Regularity_ANC, Knowledge, Education, High_Risk, Attitude
Nutritional Status And Maternal Weight Gain During Pregnancy Are Associated With Low Birth Weight Fatimah, Syahda Lailatul; Lestari, Gangsar Indah; Riyanto, Riyanto
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i9.22560

Abstract

 Pendahuluan Berat bayi lahir rendah merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada bayi baru lahir dan dapat meningkatkan risiko komplikasi pada bayi baru lahir. 54% penyebab kematian bayi adalah latar belakang gizi.. Bayi dengan BBLR mempunyai peluang meninggal 10-20 kali lebih besar dari pada bayi yang lahir dengan berat lahir cukup. Dampak dari BBLR antara lain peningkatan risiko hipotermia, hipoglikemia, gangguan pernapasan, hiperbilirubinemia, dan lain-lain, serta  meningkatkan risiko gangguan perkembangan motorik dan kognitif, gangguan pertumbuhan, serta penyakit kronis. Prevelensi Kasus BBLR tahun 2021-2023 di Kota Metro terus mengalami kenaikan. Hasil penimbangan tahun 2021 terdapat 4,8% mengalami BBLR, pada  tahun 2022 terdapat 5,1% mengalami BBLR dan pada tahun 2023 terdapat 6.0% mengalami BBLR. Rendahnya status gizi ibu hamil selama kehamilan dapat mengakibatkan berbagai dampak tidak baik bagi ibu hamil dan bayinya diantaranya adalah bayi lahir dengan BBLR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dan kenaikan berat badan ibu selama hamil terhadap BBLR.Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain case control dan dilaksanakan pada bulan Mei 2025 di RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu dan bayi baru lahir di rumah sakit. Sampel penelitian ini berjumlah 80 responden terdiri atas 40 kelompok kasus (BBLR) dan 40 kelompok kontrol (Tidak BBLR). Sampel dipilih menggunakan alat ukur kuesioner untuk memperoleh data menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan (��) 0,05%.Hasil penelitian dari 80 responden menunjukkan ibu dengan status gizi dalam kategori beresiko BBLR  (25,0%) dan ibu dengan status gizi dalam kategori tidak beresiko BBLR (75,0%), sedangkan ibu dengan kenaikan berat badan selama hamil dalam kategori tidak sesuai IMT (77,5%) dan kategori sesuai IMT (22,2%). Hasil uji statistik diperoleh hasil adanya hubungan antara status gizi p-value = 0,003; OR = 13,000 dan kenaikan berat badan ibu selama hamil p-value = 0,001 ; OR = 4,660 dengan berat bayi lahir rendah.Kesimpulan penelitian adanya hubungan status gizi dan kenaikan berat badan ibu selama hamil dengan kejadian BBLR. Saran Perlu edukasi untuk upaya menurunkan dan mencegah kejadian BBLR dengan melakukan pemeriksaan rutin agar dapat membantu dalam mendeteksi dini status gizi ibu hamil serta melakukan pemantauan selama kehamilan. Kata kunci : IMT, status gizi, kenakan berat badan, BBLR ABSTRACT  Introduction Low birth weight is a common health problem in newborns and can increase the risk of complications in newborns. 54% of infant deaths are caused by nutritional background. Babies with low birth weight have a 10-20 times greater chance of dying than babies born with adequate birth weight. The impacts of low birth weight include an increased risk of hypothermia, hypoglycemia, respiratory disorders, hyperbilirubinemia, and others, as well as an increased risk of impaired motor and cognitive development, growth disorders, and chronic diseases. The prevalence of low birth weight cases in Metro City from 2021-2023 continues to increase. The results of weighing in 2021 showed 4.8% experiencing low birth weight, in 2022 there were 5.1% experiencing low birth weight and in 2023 there were 6.0% experiencing low birth weight. The low nutritional status of pregnant women during pregnancy can result in various adverse effects for pregnant women and their babies, including babies born with low birth weight. This study aims to determine the relationship between nutritional status and maternal weight gain during pregnancy with low birth weight.Method This research is an observational study with a case control design and was conducted in May 2025 at General Ahmad Yani Regional General Hospital, Metro City . The population of this study was all mothers and newborns at the hospital. The sample of this study amounted to 80 respondents consisting of 40 case groups (LBW) and 40 control groups (Not LBW). The sample was selected using a questionnaire measuring tool to obtain data using univariate and bivariate analysis using the Chi Square test with a significance level (��) of 0.05%.The results of the study from 80 respondents showed that mothers with nutritional status in the category at risk of LBW (25.0%) and mothers with nutritional status in the category not at risk of LBW (75.0%), while mothers with weight gain during pregnancy in the category not according to BMI (77.5%) and the category according to BMI (22.2%). The results of the statistical test obtained the results of a relationship between nutritional status p-value = 0.003; OR = 13,000 and maternal weight gain during pregnancy p-value = 0.001; OR = 4,660 with low birth weight.The conclusion of the study is that there is a relationship between nutritional status and maternal weight gain during pregnancy with the incidence of LBW. Suggestion : Education is needed to reduce and prevent the incidence of LBW by conducting routine check-ups to help in early detection of the nutritional status of pregnant women and conducting monitoring during pregnancy. Keywords : BMI, nutritional status, weight gain, LBW
The Relationship Of Knowledge With The Incidence Of Anemia In Premarital Women Andriani, Nita; Sunarsih, Sunarsih; Mariza, Ana
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i9.7976

Abstract

Latar Belakang: Pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh keberlanjutan dan kualitas generasi muda sebagai subjek maupun objek pembangunan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi anemia pada perempuan usia pranikah sebesar 26,50%, perempuan usia subur 26,9%, ibu hamil 40,1%, dan balita 47,0%. Di wilayah kerja Puskesmas Pugung Raharjo, kasus anemia pada perempuan usia pranikah periode Januari–April 2022 tercatat sebanyak 105 kasus.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian anemia pada perempuan usia pranikah di wilayah kerja Puskesmas Pugung Raharjo tahun 2021/2022.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dan pendekatan survei analitik. Populasi penelitian sebanyak 105 responden, seluruhnya dijadikan sampel dengan teknik total sampling. Analisis data menggunakan uji univariat dan bivariat.Hasil: Responden dengan pengetahuan cukup sebanyak 45 (42,9%). Responden yang tidak mengalami anemia sebanyak 58 (55,2%), sedangkan yang mengalami anemia 47 (44,8%). Pada kategori pengetahuan baik, tidak anemia 14 (13,3%) dan anemia 18 (17,1%). Pengetahuan cukup, tidak anemia 32 (30,5%) dan anemia 13 (45,0%). Pengetahuan kurang, tidak anemia 12 (11,4%) dan anemia 16 (15,2%). Hasil uji bivariat menunjukkan nilai p = 0,017 < α (0,05), artinya terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kejadian anemia.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian anemia pada perempuan usia pranikah.Saran: Diharapkan perempuan usia pranikah lebih memperhatikan kesehatan melalui pemeriksaan rutin, khususnya terkait anemia, serta menjaga pola konsumsi makanan bergizi seimbang. Kata kunci: Anemia, pengetahuan, pranikah ABSTRACT Background: The development of a nation is determined by the sustainability and quality of the younger generation as both subjects and objects of development. According to data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, the prevalence of anemia among premarital women is 26.50%, women of reproductive age 26.9%, pregnant women 40.1%, and children under five 47.0%. In the working area of Pugung Raharjo Public Health Center, there were 105 cases of anemia among premarital women during the period of January–April 2022. Objective: This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge and the incidence of anemia among premarital women in the working area of Pugung Raharjo Public Health Center in 2021/2022.Methods: This was a quantitative study with a cross-sectional design and an analytical survey approach. The study population consisted of 105 respondents, all of whom were included as the sample using a total sampling technique. Data analysis was conducted using univariate and bivariate tests.Results: Respondents with sufficient knowledge totaled 45 (42.9%). A total of 58 respondents (55.2%) did not experience anemia, while 47 respondents (44.8%) experienced anemia. In the good knowledge category, 14 (13.3%) had no anemia and 18 (17.1%) had anemia. In the sufficient knowledge category, 32 (30.5%) had no anemia and 13 (45.0%) had anemia. In the poor knowledge category, 12 (11.4%) had no anemia and 16 (15.2%) had anemia. The bivariate test showed a p-value of 0.017 < α (0.05), indicating a significant relationship between knowledge and the incidence of anemia.Conclusion: There is a significant relationship between the level of knowledge and the incidence of anemia among premarital women.Suggestion: Premarital women are encouraged to pay more attention to their health through regular check-ups, particularly concerning anemia, and to maintain a balanced and nutritious diet. Keywords: Anemia, knowledge, premarital women
Characteristic Description And Knowledge Of Pregnant Women About Exclusive Breastfeeding Kurniawati, Yuni; Hanisyah Putri, Nabila Amelia; Melastini, AA Putri; Khoiroh, Nis'atul; Sumiati, Sumiati
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i9.22637

Abstract

Latar Belakang: Upaya menurunkan angka kematian bayi (AKB) salah satunya dapat dilakukan melalui pemberian ASI eksklusif. Rendahnya cakupan ASI eksklusif umumnya dipengaruhi oleh faktor sosial budaya serta keterbatasan pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat ASI eksklusif.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran karakteristik dan pengetahuan ibu hamil tentang ASI eksklusif.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif ini dilaksanakan pada Agustus–September 2024 di Desa Tegallinggah, wilayah kerja Puskesmas Sukasada I. Sebanyak 35 ibu hamil trimester II dan III diikutsertakan dengan teknik total sampling. Data karakteristik dan pengetahuan dikumpulkan melalui kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 20–35 tahun (80%), berpendidikan menengah (51,4%), multigravida (54,3%), tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga (57,1%), serta memiliki tingkat pengetahuan cukup (65,7%).Kesimpulan: Pengetahuan ibu merupakan faktor penting dalam keberhasilan ASI eksklusif, sehingga diperlukan intervensi edukasi selama masa antenatal care. Tingkat pengetahuan berkontribusi signifikan terhadap perubahan perilaku dalam mendukung keberhasilan menyusui. Tenaga kesehatan diharapkan lebih aktif memberikan informasi, sementara ibu perlu meningkatkan pemahaman mengenai manfaat dan teknik menyusui untuk mengoptimalkan keberhasilan ASI eksklusif. Kata Kunci : ASI Eksklusif, Karakteristik, Pengetahuan ABSTRACT Background: Reducing infant mortality can be achieved in part through exclusive breastfeeding. The low coverage of exclusive breastfeeding is generally influenced by socio-cultural factors and the limited knowledge of pregnant women regarding its benefits.Purpose:  This study aimed to identify the characteristics and knowledge of pregnant women regarding exclusive breastfeeding.Methods:  This descriptive quantitative study was conducted from August to September 2024 in Tegallinggah Village, within the Sukasada I Health Center area. A total of 35 pregnant women in their second and third trimesters were included using a total sampling approach. Data on maternal characteristics and knowledge were collected through questionnaires and analyzed using univariate methods to describe frequency distributions.Results: The results showed that the majority of respondents were aged 20–35 years (80%), had secondary education (51.4%), were multigravida (54.3%), were unemployed or housewives (57.1%), and had a sufficient level of knowledge (65.7%).Conclusion: Maternal knowledge is an important factor in the success of exclusive breastfeeding, indicating the need for educational interventions during antenatal care. Knowledge levels substantially influence behavioral changes that support breastfeeding success. Health care providers are expected to take a more active role in delivering information, while mothers are encouraged to enhance their understanding of breastfeeding benefits and techniques to optimize exclusive breastfeeding outcomes. Keywords: Exclusive Breastfeeding, Characteristics, Knowledge

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 12 (2025): Volume 11 No 12 Desember 2025 Vol 11, No 11 (2025): Volume 11 Nomor 11 November 2025 Vol 11, No 10 (2025): Volume 11 No 10 Oktober 2025 Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025 Vol 11, No 8 (2025): Volume 11 Nomor 8 Agustus 2025 Vol 11, No 7 (2025): Volume 11, Nomor 7 Juli 2025 Vol 11, No 6 (2025): Volume 11 No 6 Juni 2025 Vol 11, No 5 (2025): Volume 11 No 5 Mei 2025 Vol 11, No 4 (2025): Volume 11 No 4, April 2025 Vol 11, No 3 (2025): Volume 11 No 3 Maret 2025 Vol 11, No 2 (2025): Volume 11 No 2 Februari 2025 Vol 11, No 1 (2025): Volume 11 No 1 Januari 2025 Vol 10, No 12 (2024): Volume 10 No.12 Desember 2024 Vol 10, No 11 (2024): Volume 10 No.11 November 2024 Vol 10, No 10 (2024): Volume 10 No.10 Oktober 2024 Vol 10, No 9 (2024): Volume 10 No.9 September 2024 Vol 10, No 8 (2024): Volume 10,No.8 Agustus 2024 Vol 10, No 7 (2024): Volume 10,No.7 Juli 2024 Vol 10, No 6 (2024): Volume 10,No.6 Juni 2024 Vol 10, No 5 (2024): Volume 10,No.5 Mei 2024 Vol 10, No 4 (2024): Volume 10,No.4 April 2024 Vol 10, No 3 (2024): Volume 10,No.3 Maret 2024 Vol 10, No 2 (2024): Volume 10,No.2 Februari 2024 Vol 10, No 1 (2024): Volume 10, No 1 Januari 2024 Vol 9, No 4 (2023): Volume 9 No. 4 Oktober 2023 Vol 9, No 3 (2023): Volume 9 No. 3 Juli 2023 Vol 9, No 2 (2023): Volume 9 No.2 April 2023 Vol 9, No 1 (2023): Volume 9 No.1 Januari 2023 Vol 8, No 4 (2022): Volume 8 No.4 October 2022 Vol 8, No 3 (2022): Volume 8 No.3 July 2022 Vol 8, No 2 (2022): Vol 8.No.2.April 2022 Vol 8, No 1 (2022): Vol. 8 No. 1, Januari 2022 Vol 7, No 4 (2021): Vol.7 No.4 Oktober 2021 Vol 7, No 3 (2021): Vol.7 No.3 Juli 2021 Vol 7, No 2 (2021): Vol.7 No.2 April 2021 Vol 7, No 1 (2021): Volume 7,Nomor 1,Januari 2021 Vol 6, No 4 (2020): Volume 6 Nomor 4 Oktober 2020 Vol 6, No 3 (2020): Volume 6 Nomor 3 Juli 2020 Vol 6, No 2 (2020): Volume 6 Nomor 2 April 2020 Vol 6, No 1 (2020): Volume 6,Nomor 1,Januari 2020 Vol 5, No 4 (2019): volume 5 Nomor 4 Oktober 2019 Vol 5, No 3 (2019): Volume 5 Nomor 3, Juli 2019 Vol 5, No 2 (2019): Volume 5 Nomor 2 April 2019 Vol 5, No 1 (2019): Volume 5 Nomor 1 januari 2019 Vol 4, No 4 (2018): Volume 4 Nomor 4 Vol 4, No 3 (2018): Volume 4 Nomor 3 Vol 4, No 2 (2018): Volume 2 Nomor 2 Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 Vol 3, No 4 (2017): Volume 3 Nomor 4 Vol 3, No 3 (2017): Volume 3 Nomor 3 Vol 3, No 2 (2017): Volume 3 Nomor 2 Vol 3, No 1 (2017): Volume 3 Nomor 1 Vol 2, No 4 (2016): Volume 2 Nomor 4 Vol 2, No 3 (2016): Volume 2 Nomor 3 Vol 2, No 2 (2016): Volume 2 Nomor 2 Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 Vol 1, No 3 (2015): Volume 1 Nomor 3 Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 More Issue