cover
Contact Name
Agus Mailana
Contact Email
agus.mailana@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agus.mailana@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 24069582     EISSN : 25812564     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir: is a peer review of a national journal published by the Tarbiyah Department of Al Hidayah Islamic High School in Bogor in an Islamic Education study program. This journal focuses on issues of Qur'anic science and interpretation.
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
KONSEP SELF-LOVE DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-AZHAR Cucu Samsiyah; Arsyad Sobby Kesuma; Kiki Muhamad Hakiki
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.9995

Abstract

Fenomena self-love dalam budaya populer saat ini sering dipandang sebagai bentuk pemberdayaan diri dan upaya menjaga kesehatan mental. Namun beberapa penerapannya terkadang berlebihan sehingga menimbulkan sikap permisivisme, individualisme, dan egoisme dan bertentangan dengan nilai-nilai moral dan spiritual Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis konsep self-love dalam perspektif Al-Qur’an melalui pendekatan tafsīr mauḍhu’i menggunakan sumber primer tafsir al-Azhar karya Buya HAMKA. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data penelitian ini yaitu menelusuri ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep self-love seperti karāmah, ‘izzah, tazkiyatun nafs, serta penerimaan diri dan kesadaran tanggung jawab. Sebanyak 6 ayat Al-Qur’an dipilih berdasarkan empat konsep utama tersebut di antaranya QS. Al-Isra [17]:70, QS. Al-Munafiqun [63]:8, QS. Al-Fathir [35]: 10, QS. Asy-Syams [91]:9-10, QS. Al-Ghafir [40]:64. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa HAMKA menjelaskan konsep self-love Islami dengan berlandaskan spiritual dan tanggung jawab moral. Konsep cinta diri dalam Al-Qur’an menurut HAMKA adalah usaha mengenali, menghargai, dan memperbaiki diri disertai ketakwaan kepada Allah. Konsep self-love dalam perspektif Al-Qur’an sebagaimana ditafsirkan HAMKA merupakan cinta diri yang seimbang dengan menghindarkan manusia dari sikap permisivisme, individualisme, dan egoisme serta menumbuhkan kesadaran diri untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah.
THE QUR’AN AND THE CHALLENGES OF MODERNITY: A Tafsir Analysis of Global Social Change Achmad Napis Qurtubi; Ahmad Farid; M. Makhrus Ali
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10023

Abstract

Perkembangan modernitas yang ditandai oleh globalisasi, digitalisasi, dan transformasi sosial global menghadirkan tantangan baru bagi cara umat Islam memahami dan mengaktualisasikan pesan Al-Qur’an, sehingga tafsir dituntut untuk terus beradaptasi dengan realitas kontemporer tanpa kehilangan fondasi normatifnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana tafsir Al-Qur’an merespons tantangan modernitas serta memetakan kecenderungan interpretasi kontemporer dalam menghadapi perubahan sosial global. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan hermeneutika kritis dan analisis sosial-kontekstual, yang menelaah karya-karya tafsir klasik dan modern serta teori-teori modernitas dan globalisasi sebagai kerangka interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir kontemporer bergerak dari pendekatan tekstual statis menuju interpretasi dialogis yang menekankan interaksi antara teks wahyu, konteks sejarah, dan realitas sosial masa kini, serta menonjolkan nilai-nilai etika universal Al-Qur’an seperti keadilan, keseimbangan, dan kasih sayang dalam merespons isu pluralisme, krisis moral, digitalisasi otoritas keagamaan, dan tantangan kemanusiaan global. Penelitian ini menyimpulkan bahwa modernitas tidak menegasikan relevansi Al-Qur’an, melainkan memperluas medan aktualisasi pesan wahyu, sehingga pengembangan tafsir kontekstual yang metodologis, kritis, dan etis menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan peran Al-Qur’an sebagai pedoman spiritual dan sosial di era perubahan global.
SPIRITUALITAS DOA DALAM PERSPEKTIF SEMANTIK IZUTSU: Studi Analisis Lafadz Doa Dalam Al-Qur’an Sarah Fajarwati; Abdul Muhaimin Zen; Muhammad Azizan Fitriana
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10055

Abstract

Manusia sebagai makhluk spiritual yang memiliki kemampuan untuk memahami dan menghayati serta menemukan makna dari sesuatu yang dilakukan atau dialami. Penelitian dengan pendekatan semantik Al-Qur’an ini bertujuan menganalisis bagaimana doa dipahami dan dialami dalam konteks spiritual atau religius. Analisis Welthanschauung Spiritualis Doa berguna mengeksplorasi bagaimana doa dipahami dan dirasakan oleh seseorang, berdasarkan nilai-nilai, keyakinan, dan prinsip-prinsip mereka dalam konteks spiritual atau religius. Adanya persamaan dalam penelitian sebelumnya yakni penggunaan teori semantik Al-Qur’an Izutsu, namun berbeda dalam pendekatan dan objek analisis yakni lafaz doa dalam Al-Qur’an. Fokus utama dari penelitian ini adalah pada makna dasar doa, makna relasi doa, serta analisis sinkronis dan diakronis doa. Penelitian ini menerapkan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologis dan linguistik. Sumber data utama dalam penelitian adalah Al-Qur’an dan buku "Relasi Tuhan dan Manusia" karya Toshihiko Izutsu, adapun data sekunder berupa data dokumentasi yang membahas ayat-ayat doa dan spiritual, semantik, dan kitab tafsir bercorak sufistik. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa spiritualitas doa dalam Al-Qur'an ditandai oleh kedalaman hubungan antara hamba dan Tuhan, dengan doa sebagai ungkapan permohonan, penghambaan, dan ketergantungan pada Tuhan. Doa tidak hanya merupakan ritual, tetapi juga sarana untuk memperkuat ikatan spiritual dan mengungkapkan kebutuhan mendalam serta rasa syukur
TRAUMA HEALING PERSPEKTIF AL-QUR’AN: Studi Kasus Korban Perkosaan di Lembaga Women Crisis Center (WCC) Mawar Balqis Cirebon Layali Hilwa; Ahmad Syukron; Ade Naelul Huda
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10056

Abstract

Perkembangan zaman yang kian maju sering kali menyebabkan peningkatan sosial dan kriminalitas masyarakat. Perkembangan ini memiliki efek yang signifikan terhadap kehidupan sosial, namun sebaliknya, kemajuan tersebut juga berkontribusi terhadap munculnya berbagai bentuk kejahatan. Salah satu bentuk kejahatan yang sering terjadi adalah kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi seksual. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk meneliti berbagai cara yang bisa diterapkan untuk trauma healing bagi korban perkosaan dalam persepektif Al-Qur’an. Penelitian ini mendalami ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang ketenangan jiwa, keyakinan, kesabaran, instrospeksi diri, hikmah tentang cobaan hidup yang dialami korban perkosaan. Serta upaya untuk mencapai kedamaian dalam pikiran dan hati. Metode penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan library research, dengan meneliti pemulihan korban pemerkosaan lewat Women Crisis Center (WCC) Mawar Balqis dengan mempertimbangkan aspek-aspek seperti pemilihan sampel, pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi hasil. Diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam bidang trauma healing dan kesehatan mental dari persepektif Al-Qur’an; Hasil penelitian ini menemukan bahwa pendekatan trauma-healing yang terinspirasi oleh nilai-nilai dan prinsip-prinsip Al-Quran dapat memiliki dampak yang positif dalam pemulihan trauma bagi korban, seperti muhasabah (kesadaran diri dan refleksi), doa dan koneksi spiritual, penerimaan diri (ikhlas) dan ridha dengan menerima cobaan dan ujian hidup sebagai bagian dari takdir Allah dan percaya pada kebijaksanaan Allah dapat membantu korban mengatasi trauma dan memperoleh kedamaian hati
FONDASI UKHWAH DAN ETIKA SOSIAL DALAM AL-QUR’AN: Analisis Tafsir Maudhui ayat Tafāhum dan Iḥtirām Lily Haris Maulani; M. Mukhid Mashuri; Wiwin Ainis Rohtih
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10140

Abstract

Studi ini meneliti landasan persaudaraan dan etika sosial dalam Al-Qur'an melalui analisis tafsir tahlili (interpretasi keagamaan) ayat-ayat yang mewakili konsep tafahum (saling pengertian) dan ihtiram (saling menghormati). Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan, studi ini membedah makna tekstual dan kontekstual ayat-ayat kunci, seperti QS. Al-Hujurat: 10-13, untuk mengungkap bagaimana Al-Qur'an membangun struktur masyarakat yang harmonis. Hasil analisis menunjukkan bahwa tafahum berperan sebagai pilar kognitif untuk meminimalkan prasangka, sedangkan ihtiram berfungsi sebagai pilar perilaku dalam menjaga kehormatan sesama manusia. Sinergi antara keduanya membentuk model etika sosial transformatif, di mana persaudaraan tidak hanya didasarkan pada keyakinan bersama, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan universal yang inklusif. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan nilai-nilai tafahum dan ihtiram merupakan solusi mendasar dalam menghadapi polarisasi sosial dan krisis etika di era kontemporer.
A AL-RU’YA DALAM AL-QUR’AN: (Studi penafsiran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani) Mochammad Ayuub Bil Ansori; Nyoko Adi Kuswoyo; Wiwin Ainis Rohtih
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10178

Abstract

Mimpi (al-ru’yā) dalam Al-Qur’an sering dipahami secara parsial sebagai fenomena tidur, padahal ia memiliki dimensi spiritual, epistemologis, dan moral yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan menjelaskan konsep al-ru’yā dalam Al-Qur’an melalui pendekatan penafsiran spiritual, serta mengungkap makna simbolik mimpi sebagai media bimbingan Ilahi dan evaluasi diri. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu‘i) terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan mimpi, disertai analisis pemaknaan sufistik. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa mimpi dalam Al-Qur’an terbagi menjadi mimpi yang benar sebagai busyra dari Allah dan mimpi yang bersumber dari gangguan setan atau refleksi kondisi nafsani. Simbol-simbol dalam mimpi merepresentasikan keadaan ruhani manusia, sehingga berfungsi sebagai sarana muhasabah dan pendidikan akhlak. Kesimpulannya, al-ru’yā bukan sekadar pengalaman tidur, tetapi merupakan instrumen spiritual yang menuntun manusia kepada perbaikan diri, peningkatan iman, serta kedekatan kepada Allah, dengan pemahaman yang tepat melalui bimbingan keilmuan dan spiritual.
KONSEP LIVING QUR’AN DALAM TAFSIR MARĀḤ LABĪD SEBAGAI SOLUSI QURANI TERHADAP FENOMENA FEAR OF MISSING OUT Puji Sri Rejeki; Ikhwanudin Ikhwanudin; Muhammad Nur Amin
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10196

Abstract

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) merupakan salah satu dampak psikologis dari tingginya intensitas penggunaan media sosial yang memicu kecemasan, perasaan tertinggal, serta kecenderungan individu untuk membandingkan diri dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dalam Tafsīr Marāḥ Labīd karya Nawawi al-Bantani yang berkaitan dengan konsep ketenangan batin, sekaligus merumuskan pendekatan Living Qur’an sebagai respons Qur’ani terhadap fenomena FOMO. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data utama bersumber dari Tafsīr Marāḥ Labīd, sementara data pendukung diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan dengan konsep Living Qur’an dan FOMO. Proses analisis dilakukan melalui metode content analysis terhadap penafsiran ayat-ayat yang memuat nilai-nilai dzikir, tawakal, dan qana’ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran dalam Tafsīr Marāḥ Labīd menegaskan tiga nilai utama, yakni dzikir sebagai dasar kesadaran spiritual, tawakkal sebagai mekanisme pengelolaan diri, serta qana’ah sebagai bentuk penerimaan diri yang proporsional, yang secara terpadu berkontribusi dalam membentuk ketenangan batin. Dalam perspektif Living Qur’an, nilai-nilai tersebut dapat diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mereduksi kecemasan dan tekanan sosial yang muncul akibat budaya digital. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa ajaran Al-Qur’an tetap memiliki relevansi sebagai sumber solusi spiritual dalam menjaga keseimbangan psikologis masyarakat di era digital.
KETAHANAN KELUARGA NABI DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PROFETIK: Analisis Struktur, Fungsi, dan Resiliensi Sosial Spiritual Siti Mukhliso; Hamdani Anwar; Wardah Nuroniyah
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10206

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis ketahanan keluarga nabi dalam perspektif ‎sosiologi profetik dengan fokus pada struktur, fungsi, dan resiliensi sosial-spiritual. ‎Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir tematik terhadap ‎ayat-ayat Al-Qur’an tentang keluarga Nabi Ibrahim, Yusuf, Muhammad, Nuh, dan ‎Luth. Analisis dilakukan menggunakan konsep humanisasi, liberasi, dan transendensi ‎dari Kuntowijoyo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan keluarga para nabi ‎dibangun atas ikatan iman, pembagian peran, musyawarah, dan tanggung jawab ‎moral. Fungsi keluarga meliputi pendidikan, perlindungan, dukungan emosional, ‎ekonomi, dan internalisasi nilai. Resiliensi keluarga profetik terbentuk melalui doa, ‎tawakal, dialog, pengampunan, dan dukungan sosial. Keluarga Nabi Ibrahim ‎menonjol dalam tauhid dan pengorbanan, Nabi Yusuf dalam rekonsiliasi, Nabi ‎Muhammad dalam komunikasi dan keteladanan, sedangkan Nabi Nuh dan Nabi ‎Luth menegaskan bahwa ikatan iman lebih utama daripada hubungan biologis. ‎Penelitian ini menegaskan bahwa keluarga para nabi merupakan model ketahanan ‎keluarga Qur’ani yang relevan bagi keluarga Muslim kontemporer. Kebaruan ‎penelitian terletak pada penggunaan sosiologi profetik dan integrasi aspek struktur, ‎fungsi, serta resiliensi keluarga.‎
POLA HIDUP SEHAT DALAM AL-QUR’AN: TADABBUR QS. AL-BAQARAH AYAT 168 Rifka Ui; Haris Renaldi
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10211

Abstract

Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam memberikan pedoman bagi pola hidup sehat yang mencakup dimensi fisik, mental, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pola hidup sehat dalam Surah Al-Baqarah ayat 168 serta relevansinya terhadap pola konsumsi manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui metode Tadabbur Al-Qur’an yang dikembangkan oleh KH. Bachtiar Nasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Surah Al-Baqarah ayat 168 menekankan kewajiban mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib, menjauhi langkah-langkah setan, serta mengatur pola makan sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Ayat ini juga menunjukkan bahwa konsumsi yang halal dan baik tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan fisik, tetapi juga terhadap kedisiplinan spiritual dan kebersihan jiwa. Dengan demikian, tadabbur Surah Al-Baqarah ayat 168 menegaskan bahwa pola hidup sehat dalam perspektif Al-Qur’an berawal dari konsumsi yang halal, baik, dan bermanfaat serta berkaitan erat dengan ketaatan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.
REKONSTRUKSI MAKNA TOLERANSI DALAM AL-QUR’AN DI ERA MULTIKULTURAL: PENDEKATAN TAFSIR KONTEKSTUAL Anisa Hasanah; Luqman Abdul Jabbar; Moch. Riza Fahmi; Jimmy Malintang; Nuraidah Nuraidah
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10223

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi makna toleransi dalam Al-Qur’an di era multikultural melalui pendekatan tafsir kontekstual. Fokus kajian diarahkan pada analisis ayat-ayat kunci, yaitu Q.S. Al-Baqarah: 256, Q.S. Al-Kafirun: 1–6, Q.S. Al-Hujurāt: 13, dan Q.S. Āli ‘Imrān: 103. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir maudhu’i (tematik) yang mengintegrasikan aspek tekstual, historis, dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toleransi dalam Al-Qur’an berlandaskan pada prinsip kebebasan beragama, pengakuan terhadap pluralitas sebagai sunnatullah, serta dorongan untuk membangun interaksi sosial yang inklusif dan harmonis. Tafsir klasik menekankan aspek normatif dan menjaga kemurnian akidah, sedangkan tafsir kontemporer mengembangkan pemahaman yang lebih kontekstual dan relevan dengan masyarakat modern. Analisis kritis menunjukkan bahwa kedua pendekatan tersebut bersifat komplementer dan dapat diintegrasikan untuk menghasilkan pemahaman toleransi yang komprehensif. Penelitian ini menegaskan bahwa toleransi dalam Al-Qur’an bukanlah bentuk relativisme, melainkan keseimbangan antara komitmen teologis dan keterbukaan sosial dalam masyarakat multikultural