cover
Contact Name
Yufitri Mayasari
Contact Email
yufitrimayasrai@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yufitrimayasari@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
ISSN : 16933079     EISSN : 26218356     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 186 Documents
PERBANDINGAN ANTARA TEKNIK TELL-SHOW-DO DAN TELL-PLAY-DO DALAM PENURUNAN KECEMASAN DENTAL Anisyah, Ika; Valenzka, Verena; Wibisono, Witriana Latifa; Triani, Rini
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i1.5015

Abstract

Latar Belakang: Kecemasan dental adalah salah satu alasan utama anak menghindari kunjungan ke dokter gigi. Gejala fisik yang muncul meliputi mual, muntah, peningkatan tekanan darah, detak jantung cepat dan berdebar, serta ketakutan berlebihan terhadap prosedur perawatan gigi yang tidak dapat dijelaskan. Pengelolaan kecemasan dental merupakan faktor penting dalam mencapai hasil perawatan optimal pada pasien anak. Untuk mengatasi kecemasan ini, American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) merekomendasikan pendekatan non-farmakologis. Teknik manajemen perilaku yang umum digunakan adalah Tell-Show-Do (TSD), yang kemudian dimodifikasi menjadi Tell-Play-Do (TPD). Teknik ini lebih berhasil dalam mengurangi kecemasan anak selama perawatan gigi. Tujuan dari penulisan ini untuk menjelaskan perbandingan teknik TSD dan TPD dalam mengurangi tingkat kecemasan dental pada anak TK dan SD Nusa Melati. Bahan dan Metode: Jenis penelitian observasional analitik dengan desain Cross Sectional. Teknik pengambilan sampel dengan Purposive Sampling di klinik praktik mandiri dokter gigi. Subjek terdiri dari 30 anak TK dan SD diamati oleh peneliti sambil mengisi lembaran Facial Image Scale, kemudian dilakukan demo dengan kriteria masing-masing kelompok TSD dan TPD yang setelah itu akan dilakukan pemeriksaan intraoral dan pemberian stiker kembali sambil diamati oleh peneliti untuk dilihat hasil perbandingan penurunan kecemasannya. Hasil dan Pembahasan: Hasil uji perbandingan antara TSD dan TPD menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam penurunan kecemasan dental, dengan nilai p-value 0,389 (p0,05). Teknik TSD dapat juga mengurangi kecemasan anak selama kunjungan gigi seperti dengan teknik TSD. Kesimpulan: Terdapat penurunan signifikan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan teknik TSD maupun TPD tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara teknik TSD dan TPD terhadap penurunan kecemasan dental.
PENGARUH HILANGNYA KONTAK OKLUSI TERHADAP PROPORSI TINGGI WAJAH PADA ANAK DENGAN SEVERE EARLY CHILDHOOD CARIES Sudarsini, Erni; Wardhani, Putri Kusuma; Supartinah, Al
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i1.3227

Abstract

Latar belakang: Severe Early Childhood Caries merupakan salah satu penyebab kerusakan mahkota gigi desidui maupun premature loss gigi desidui yang dapat mengakibatkan berkurangnya dimensi vertikal wajah. Tujuan: untuk menganalisa pengaruh hilangnya kontak oklusi terhadap proporsi tinggi wajah pada anak usia 3-5 tahun dengan Severe Early Childhood Caries. Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian adalah 121 anak usia 3-5 tahun dari 5 Posyandu dan 5 PAUD di Kecamatan Pulo Gadung. Tehnik pengambilan sampel berdasarkan sampel minimal dari penelitian sebelumnya. Klasifikasi kehilangan kontak oklusi berdasarkan indeks Eighner yang dimodifikasi. Tinggi wajah diukur berdasarkan metode Krull menggunakan jangka sorong. Analisis data menggunakan analisis Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian: Hasil uji Kruskal-Wallis berdasarkan data hasil penelitian pada subyek usia 3-5 tahun menunjukkan perbedaan proporsi tinggi wajah atas (p˂0.05) dan proporsi tinggi wajah bawah (p˂0.05) yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan proporsi tinggi wajah bawah paling pendek pada kelompok kehilangan kontak oklusi zona anterior serta posterior kanan dan kiri (31.28±0.17%). Kesimpulan: 1. Kehilangan kontak oklusi pada anak usia 3-5 tahun dengan S-ECC akan menyebabkan perbedaan proporsi tinggi wajah atas dan bawah. 2. Kehilangan kontak oklusi pada anak usia 3-5 tahun dengan S-ECC pada zona anterior serta posterior kanan dan kiri menyebabkan proporsi tinggi wajah bawah lebih pendek dibanding kelompok kontrol.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI PADA STATUS KARIES GIGI DI KELOMPOK MASYARAKAT PULAU SERAM, MALUKU Septalita, Annisa; M. Asim, Fauziah; Binarti, Irma; Milatia, Setia; Zulfa, Edia
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i1.5016

Abstract

Latar Belakang: Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang multifaktorial dan jika tidak ditangani dengan baik akan mempengaruhi banyak aspek dalam kualitas hidup suatu masyarakat, oleh karenanya penting untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor yang berkontribusi terhadap status karies gigi di masyarakat secara spesifik, termasuk di wilayah timur Indonesia yaitu Masyarakat Pulau Seram, Maluku. Bahan dan Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif berbasis data survei kesehatan gigi dan mulut, dengan desain cross sectional study. Sampel penelitian diambil dari populasi dengan teknik sampling yaitu total sampling, dilakukan dengan mendata keseluruhan masyarakat yang hadir dan bersedia mengikuti penelitian. Hasil Penelitian: Total responden berjumlah 1.589 orang, berjenis kelamin terbanyak perempuan (58%), tingkat pendidikan terbanyak belum tamat SD (51%), dan pekerjaan terbanyak belum/tidak bekerja (68%). Status karies gigi menunjukkan 73% free caries, dengan skor indeks dmf-t=1,26 dan DMF-T=2,61, dengan faktor yang berkontribusi terhadap status karies gigi tersebut adalah faktor kebiasaan menyikat gigi yang baik (frekuensi menyikat gigi 2x sehari sebesar 94,7% dan 99,4% responden menyikat gigi menggunakan pasta gigi). Pembahasan: Status karies gigi responden cukup baik, hal ini dimungkinkan oleh faktor habit menyikat gigi yang sudah baik. Kebiasaan menyikat gigi sebagai salah satu tindakan pencegahan termudah dan termurah yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masing-masing individu, sehingga dapat menurunkan potensi pembentukan karies gigi. Kesimpulan: Rata-rata pengalaman karies gigi responden termasuk kategori rendah dan sangat rendah, yang mengartikan bahwa status karies gigi pada populasi ini cukup baik dengan faktor yang berkontribusi pada status karies gigi tersebut adalah faktor kebiasaan menyikat gigi yang baik.
HUBUNGAN KONSUMSI JAJANAN DAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI TERHADAP KARIES GIGI PADA SISWA KELAS 5-6 SD abdi, Muhammad jayadi; Ilmianti, Ilmianti; Ulfa, Fahira
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i1.3900

Abstract

Latar Belakang: Karies adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai pada kerusakan jaringan, mulai dari permukaan gigi email, dentin dan meluas ke pulpa. Makanan jajanan salah satu makanan yang dikenal luas di masyarakat, terutama dikalangan anak-anak sekolah. Pola makan seimbang adalah suatu cara mengatur jumlah dan jenis makanan dalam bentuk makanan sehari- hari yang terdapat gizi seimbang menjadi zat pembangun serta zat pengatur pada tubuh. Menyikat gigi setelah makan dapat membersihkan sisa makanan yang menempel pada permukaan gigi sehingga dapat mencegah terbentuknya plak. Bahan dan metode Penelitian: Desain penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Uji statistic yang digunakan adalah uji chi-Square. Pembahasan: Mengetahui hubungan konsumsi jajanan dan kebiasaan menyikat gigi terhadap karies gigi pada siswa kelas 5-6 SD. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value Pada konsumsi jajanan sebesar 0,924 yang lebih besar daripada 0,05 (p-value0,05) yang menunjukkan tidak terdapat hubungan konsumsi jajanan terhadap karies gigi, tetapi pada kebiasaan menyikat gigi didapatkan nilai p-value sebesar 0,000 yang lebih kecil dari pada 0,05 (p-value0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi terhadap karies gigi. Kesimpulan: Pada penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan konsumsi jajanan terhadap karies gigi, namun terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi terhadap karies gigi pada siswa kelas 5-6 SDI Kampus Universitas Hasanuddin 1.
DAYA HAMBAT LARUTAN IRIGASI KUNYIT PUTIH (Curcuma Zedoaria) TERHADAP BAKTERI Enterococcus faecalis Paath, Stanny Linda; Aryanto, Mirza; Pongtiku, Arya Agung Permana
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i1.5024

Abstract

Latar Belakang: Perawatan saluran akar bertujuan untuk menghilangkan bakteri dan mencegah terjadinya infeksi ulang. Namun, perawatan saluran akar bisa gagal karena bakteri di dalam akar, yaitu Enterococcus faecalis. Bakteri ini dapat dihilangkan dengan larutan NaOCl karena memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi, tetapi memiliki kekurangan yaitu sitotoksik dengan aroma yang menyengat. Kunyit putih merupakan rempah-rempah dan sering digunakan sebagai obat tradisional. Ekstrak kunyit putih berpotensi menjadi alternatif bahan irigasi saluran akar karena mengandung bahan aktif yang bersifat antibakteri. Bahan dan Metode Penelitian: Penelitian dilakukan di 4 tempat berbeda yaitu laboratorium BPSI untuk pembuatan esktrak sampel kunyit putih, laboratorium kimia UI dan Yarsi untuk uji fitokimia, dan laboratorium bioteknologi PUSPIPTEK untuk uji daya hambat bakteri  Jenis penelitian eksperimental laboratorium yang menggunakan metode sumur/ zone well. Sampel berjumlah 28 sampel berupa biakan bakteri Enterococcus faecalis ATCC 29212 dalam media Mueller Hinton Agar (MHA). Empat kelompok perlakuan adalah ekstrak kunyit putih 80%, 100%, NaOCl 2,5%  dan akuades. Hasil Penelitian: Besar rata-rata daya hambat ekstrak kunyit putih (Curcuma zedoaria) konsentrasi 80% dan 100% adalah 1,69 mm dan 0,2686 mm, sedangkan pada NaOCl 2,5% sebesar 2,13 mm. Uji ANOVA  menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan  p=0,000 (p0,05). Pembahasan: Ekstrak Curcuma zedoaria 80% memiliki daya hambat terhadap E. faecalis yang lebih tinggi dibandingkan konsentrasi 100%. Makin tinggi konsentrasi tidak membuat daya hambatnya makin tinggi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti difusi pada media agar dan tidak stabilnya ekstrak.  Kesimpulan: Ekstrak kunyit putih memiliki daya hambat yang rendah terhadap bakteri Enterococcus faecalis ATCC 29212 dibandingkan NaOCl 2,5%.
GAMBARAN POSISI GIGI IMPAKSI MOLAR KETIGA DENGAN KANALIS MANDIBULA BERDASARKAN USIA DAN JENIS KELAMIN Kurniati, Novi; Putri, Nabila Athayazahra
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i1.4483

Abstract

Latar Belakang: Gigi molar ketiga merupakan gigi yang paling sering mengalami impaksi. Perawatan gigi impaksi dapat dilakukan dengan odontektomi. Odontektomi dapat mengakibatkan komplikasi seperti cedera saraf (2,6%-30,9%) akibat kurangnya pengetahuan terhadap hubungan akar gigi molar ketiga dengan kanalis mandibula. Mengetahui posisi gigi impaksi molar ketiga melalui radiografi panoramik sangat penting untuk mengurangi komplikasi yang akan terjadi untuk mengetahui hubungan antara gigi impaksi dengan kanalis mandibula menurut Rood dan Shehab. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran posisi gigi impaksi molar ketiga dengan kanalis mandibula berdasarkan usia dan jenis kelamin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain penelitian cross sectional menggunakan teknik total sampling. Sampel dari penelitian ini adalah seluruh data foto radiografi panoramik RSKGM-P UPDM(B) dari bulan Juli 2023 hingga Januari 2024  sebanyak 387 gigi dari 206 foto radiografi panoramik digital. Hasil: Dari 387 gigi impaksi molar ketiga rahang bawah, sebanyak 310 gigi berelasi dengan kanalis mandibula. Pada perempuan sebanyak 239 gigi (81,8%) dan pada laki-laki sebanyak 71 gigi (74,4%). Relasi paling banyak adalah relasi A atau akar menggelap sebanyak 180 gigi (46,5%). Kesimpulan: Prevalensi gigi impaksi yang berelasi dengan kanalis mandibula adalah sebesar 80,1% dan relasi yang paling sering ditemukan adalah akar menggelap (46,5%). Tingkat kejadian berdasarkan jenis kelamin lebih banyak pada perempuan dengan relasi akar menggelap (75%) dan tingkat kejadian berdasarkan usia paling banyak terjadi pada usia 24 tahun dengan relasi akar menggelap (36,1%).
PENGARUH STERILISASI TERHADAP KEKUATAN TARIK MEMBRAN NANOKOMPOSIT DISINTESIS DARI ESKTRAK Cymbopogon citratus (Kitosan Agen Penstabil) Kurniawan, Florencia Livia; Komariah, Komariah; Ozora, Rochelle Gita; Nurlidar, Farah
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i1.5079

Abstract

Latar Belakang: Membran nanokomposit merupakan gabungan antara beberapa material dengan tujuan untuk membentuk suatu material baru yang kaya akan manfaat. Material membran nanokomposit terdiri dari dua atau lebih bahan yang digabungkan menjadi satu, yang terdiri dari filler dan agen penstabil. Filler yang digunakan adalah AgNO3 dan agen penstabil yang digunakan adalah kitosan kumbang tanduk (Xylotrupes gideon). Membran nanokomposit yang diperuntukkan sebagai media penyembuh luka wajib bersifat tidak beracun, tidak menimbulkan alergi dan terbuat dari bahan biomaterial yang bersifat anti bakteri dan antiinflamasi. Nanokomposit yang berasal dari turunan kitosan kumbang tanduk telah menarik perhatian yang besar, terutama karena memiliki sifat fisik dan kimia yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh sterilisasi terhadap sifat mekanik dari membran nanokomposit yang akan digunakan sebagai antiseptik dalam rongga mulut. Bahan dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan membran nanokomposit yang diuji kekuatan tarik, dan perpanjangannya, serta kesterilitasan membran. Membran nanokomposit dipotong sesuai standar, dan dibagi menjadi dua kelompok nilai sterilisasi yaitu 0 kGy dan 25 kGy. Hasil: Hasil uji analisis statistik One-way ANOVA menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari tensile strength, stress at break, dan elongation adalah 0,187; 0,187; dan 0,992 secara berurutan sehigga dapat dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan antar spesimen dikarenakan p0,05. Pembahasan: Kekuatan tarik merupakan salah satu parameter utama untuk menilai kelayakan material sebagai membran, khususnya dalam aplikasi biomedis seperti pembalut luka atau media antiseptik mulut. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara spesimen yang disterilisasi dan tidak disterilisasi (p 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa proses sterilisasi dengan sinar gamma 25 kGy tidak secara substansial mempengaruhi integritas mekanik dari membran yang diuji. Kesimpulan: Rata rata kekuatan tarik yang dilakukan pada membran nanokomposit tidak mengalami perubahan signifikan setelah dilakukan proses sterilisasi dengan radiasi sinar gamma.
Gambaran Radiografi Posisi Foramen Mentale Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin di RSKGMP UPDM(B) Kurniati, Novi; Rusdiwan, Haliga Azizyah
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i2.6015

Abstract

Latar Belakang: Foramen mentale merupakan struktur anatomi penting pada mandibula yang berperan dalam anestesi, pembedahan, dan pemasangan miniscrew. Kesalahan identifikasi posisi foramen mentale dapat menyebabkan cedera saraf dan gangguan sensorik. Variasi posisi foramen mentale dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, sehingga pemahaman akurat sangat diperlukan dalam praktik klinis. Metode: Penelitian deskriptif observasional dengan desain potong lintang ini menggunakan 70 radiograf panoramik digital pasien di RSKGMP UPDM(B) yang memenuhi kriteria inklusi. Sebanyak 140 foramen mentale dianalisis menggunakan klasifikasi posisi horizontal menurut Al Jasser Nwoku serta pengukuran jarak vertikal dari alveolar crest dengan perangkat lunak AIS 2D App. Hasil: Mayoritas sampel berusia 17–25 tahun (85,7%) dan berjenis kelamin perempuan (77,1). Posisi foramen mentale terbanyak pada sisi kanan adalah posisi 4, sedangkan pada sisi kiri dominan posisi 3. Rata-rata jarak vertikal pada kelompok usia 17–25 tahun adalah 17,0–17,1 mm; pada laki-laki 17,7–17,9 mm; dan pada perempuan 16,7–16,8 mm. Kesimpulan: Posisi foramen mentale bervariasi menurut usia dan jenis kelamin serta tidak selalu simetris, namun umumnya terletak pada regio premolar kedua sesuai klasifikasi Al Jasser Nwoku.
Extraction of Mandibular Second Molar In A Former Drug Users, Alcohol Consumers, and Active Smokers Kusumastiwi, Pipiet Okti; Ardlina, Syifa’
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i2.6011

Abstract

Background: Extraction of Mandibular Second Molar Extraction in Former Drug Users, Alcohol Consumers, and Active Smoker has a high risk of complications. Case report and case treatment: A 34-year-old male presented with a non-restorable carious lesion on the lower right second molar (tooth 47) and requested extraction. The patient reported poor oral hygiene, active smoking, alcohol consumption, and a prior history of chlorpromazine abuse. The extraction was performed under Inferior Alveolar Nerve Block (IANB) using Lidocaine. Anesthesia lasted approximately one hour, after which pain resumed. Post-extraction healing was monitored over two months, during which the socket of tooth 47 showed delayed epithelial closure. Discussions: Alpha-adrenergic receptor blockade from chlorpromazine, hepatic cytochrome P450 enzyme alterations due to alcohol, systemic acidosis, and post-operative smoking are known to influence the efficacy of local anesthesia and impair healing. Nicotine-induced vasoconstriction and xerostomia further disrupt tissue regeneration. Despite the absence of acute complications, socket healing remained incomplete at 8 weeks post-extraction. Conclusion: This case emphasizes the importance of evaluating systemic and behavioral risk factors before extraction.
Hubungan Stunting dan Kejadian Karies Gigi pada Anak Stunting di Kabupaten Klaten Jawa Tengah-Indonesia Badruddin, Iwany Amalliah; Andarini, Lintang; Adiatman, Melissa; Bahar, Armasastra; Ramadhani, Atik; Darwita, Risqa Rina
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i2.5868

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah malnutrisi kronis pada anak yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Stunting tidak hanya dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan kognitif, namun juga lebih rentan mengalami karies gigi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara stunting dan kejadian karies gigi pada anak stunting usia 0-3 tahun di kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bahan dan Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data primer dari program JUWITA 1000 HARTA oleh Puskesmas Juwiring. Sebanyak 264 anak yang mengalami stunting menjadi subjek dengan teknik purposive sampling. Status karies gigi diperiksa menggunakan kamera intraoral. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Hasil dan Pembahasan: Dari 248 anak yang memenuhi kriteria, proporsi karies gigi 75% pada anak dengan kondisi sangat pendek (severely stunted), dan 53,9% pada pendek (stunted). Hubungan antara status stunting dan kejadian karies gigi adalah signifikan (p 0,01) dengan OR= 1,39 (95% CI; 1,11–1,74). Selain itu, faktor-faktor status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan orang tua, dan pola makan anak juga menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kejadian karies gigi (p 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara stunting dengan kejadian karies pada anak penderita stunting usia 0-3 tahun di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Diperlukan program pencegahan stunting untuk mencegah terjadinya kejadian karies gigi pada anak secara tidak langsung.