cover
Contact Name
Suparman
Contact Email
suparman@uncp.ac.id
Phone
+6285261455244
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra
ISSN : 24433667     EISSN : 27154564     DOI : https://doi.org/10.30605/onoma
Core Subject : Education,
Onoma adalah jurnal akademik yang diterbitkan pada bulan Mei dan November oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Cokroaminoto Palopo. Jurnal ini menyajikan artikel-artikel ilmiah tentang pendidikan, bahasa dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,837 Documents
Intercultural Communication: Tantangan dan Strategi dalam Era Globalisasi Burhamzah, Muftihaturrahmah; Sunra, La; Dollah, Syarifuddin; Alamsyah, Alamsyah; Alissa Geisler
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7300

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan strategi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia dalam era globalisasi. Penelitian ini dilandasi oleh meningkatnya intensitas interaksi lintas budaya di lingkungan pendidikan tinggi, yang menuntut mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi komunikasi antarbudaya yang adaptif dan reflektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan 20 partisipan dari berbagai program studi yang memiliki pengalaman komunikasi antarbudaya melalui kegiatan pertukaran mahasiswa, kolaborasi internasional, maupun aktivitas akademik lintas budaya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, serta analisis dokumen reflektif. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu: (1) hambatan bahasa yang meliputi keterbatasan kosakata, perbedaan aksen, serta kesulitan dalam memahami makna pragmatik; (2) adaptasi budaya yang mencakup tahapan stres, penyesuaian, dan perkembangan identitas multikultural; serta (3) strategi komunikasi yang meliputi upaya klarifikasi, penyesuaian nonverbal, dan empati budaya guna menjaga efektivitas interaksi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi antarbudaya tidak hanya bergantung pada kemampuan linguistik, tetapi juga pada kesadaran budaya, refleksi diri, dan kemampuan adaptasi sosial. Oleh karena itu, penelitian ini mengimplikasikan pentingnya integrasi kompetensi antarbudaya ke dalam kurikulum pendidikan tinggi melalui pembelajaran berbasis pengalaman, kolaborasi internasional, dan refleksi antarbudaya. Dengan demikian, mahasiswa dapat meningkatkan kesadaran global, empati antarbudaya, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam lingkungan multikultural yang beragam.
Geografi Dialek Bahasa Daerah Tombulu di Kota Tomohon Imbang, Djeinnie; Tulung, Golda Juliet; Pua, Christo; Mogi, Amelia Cindy
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7359

Abstract

Penelitian ini berjudul “Geografi Dialek Bahasa Daerah Tombulu di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Adapun yang melatarbelakangi penelitian ini adanya keanekaragaman  bahasa yang digunakan di daerah tersebut. Penelitian dialektologi mengenai bahasa daerah di wilayah ini belum pernah dilakukan, sehingga belum tersedianya peta bahasa yang mendeskripsikan secara menyeluruh kondisi kebahasaan di daerah tersebut. Penelitian ini dilakukan di empat kelurahan yang ada di Kota Tomohon. Dalam pelaksanaan, tahapan penyediaan data digunakan metode cakap (wawancara) dengan teknik cakap semuka dan  teknik catat. Selanjutnya analisis data digunakan metode dialektometri, yaitu menghitung persentase leksikon untuk pengkategorisasian beda bahasa, beda dialek, beda subdialek, beda wicara atau tidak ada perbedaan.  Metode dialektometri ini  mengacu pada daftar kosakata dasar   yang berjumlah 795 kata dan beberapa frasa/klausa berdasarkan taksonomi sebagaimana contoh daftar pertanyaan yang ada pada bagian lampiran buku Nadra dan Reniwati (2023) yang disesuaikan dengan keadaan alam dan masyarakat daerah penelitian. Hasil penelitian ini adalah adanya perbedaan fonologi dan leksikal.  Berdasarkan hasil akhir penghitungan persentase kosakata, diperoleh simpulan bahwa tingkat kekerabatan bahasa berdasarkan penghitungan leksikon  terjadi perbedaan subdialek, yakni di bawah 25%.  Tampak dari 21 taksonomi yang terdiri atas 725 glos  pada keempat titik pengamatan,  perbedaannya berada pada  5,65 persen. Demikian juga dengan frasa dan klausa yang berjumlah 68 glos, hasilnya tidak ada perbedaan, perbedaan pada variasi tataran wicara saja.   Hasil ini menunjukkan bahwa dialek Tombulu  pada 4 titik pengamatan,  umumnya memiliki kesamaan karena berada di atas rata-rata atau sejumlah 94,35%.   Setiap taksonomi berbeda jumlah glos, disesuaikan dengan keadaan geografis titik pengamatan
Tradisi Ziarah di Banten sebagai Cermin Kearifan Lokal dalam Pendidikan Lusiana Cahyawibawa, Linda; Hafidh Amanatul Mulki; Dahlia Kusumawati; Odien Rosidin
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7661

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran tradisi ziarah dalam menanamkan nilai pendidikan karakter, seperti religiositas, toleransi, penghormatan terhadap leluhur, dan kebersamaan. Berlandaskan teori dari Semi dalam Endraswara (2003:4-5), penelitian ini menggunakan penelitian deskripsi kualitatif yang dilakukan dengan maksud membuat deskripsi, sebuah gambaran, atau analisis secara otomatis. Teknik pengumpulan data diambil dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hal ini menandakan adanya pengaruh yang sangat signifikan antara tradisi ziarah dan sistem Pendidikan di Indonesia. Selain mengandung nilai sejarah, ziarah juga syarat akan makna religi bagi peserta didik. Nilai yang terkandung di antaranya adalah (1) Nilai Religius, (2) Nilai Moral dan Etika, (3) Nilai Sosial dan Kebersamaan, (4) Nilai Sejarah dan Budaya Lokal, dan (5) Nilai Edukatif Keteladanan.
Optimalisasi Pelestarian Budaya Lokal menggunakan Augmented Reality sebagai Media Pembelajaran Inovatif Generasi Muda Salma P Nua; Muhammad Isla; Citra Yustitya Gobel; Risti P. Sari Hunowu
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7722

Abstract

Daerah Gorontalo memiliki kekayaan budaya lokal yang terbentuk dari perpaduan adat istiadat, nilai keislaman, dan warisan leluhur. Budaya ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari bahasa, kesenian, pakaian adat, arsitektur rumah tradisional, hingga upacara adat. Urgensi Penelitian ini adalah Pelestarian budaya lokal sedang menghadapi tantangan terutama dikalangan generasi digital yang mulai kehilangan minat dan keterikatan terhadap nilai budaya Lokal karena dipengaruhi oleh Budaya Asing. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran akan pudarnya identitas budaya daerah yang menjadi bagian penting dari kekayaan bangsa. Tujuan Penelitian adalah melakukan Optimalisasi Pelestarian Budaya Lokal menggunakan Augmented Reality sebagai Media Pembelajaran Inovatif  untuk Mendorong integrasi teknologi dalam pelestarian budaya melalui pendekatan edukatif, sesuai dengan karakteristik generasi digital dan Memberikan rekomendasi pengembangan pembelajaran dalam konteks pendidikan formal dan informal.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menggukur pengetahuan generasi muda terhadap respon pemanfaatan tekologi AR untuk pelestarian budaya lokal. Sedangkan Metode kualitatif sebagai pemahaman mendalam untuk mengeksplor pemanfaatan Desain Augmented Reality sebagai media pembelajaran. Hasil perhitungan mnggunakan skala Likert terhadap 121 responden, diperoleh nilai mean sebesar 4,33 termasuk dalam kategori “Sangat Baik”. Interpretasi menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki sikap sangat positif terhadap pelestarian budaya lokal menggunakan Augmented Reality. Hasil perancangan Augmented Reality dilakukan pada Rumah Adat Dulohupa, Bantayo Poboide, dan budaya lokal lainnya dengan hasil validasi visualisasi objek budaya dalam bentuk model tiga dimensi (3D) yang dipadukan dengan informasi tambahan berupa teks dan audio mampu meningkatkan pemahaman pengguna terhadap nilai sejarah, filosofi, arsitektur, dan makna budaya yang terkandung di dalam setiap objek. Teknologi AR terbukti mempermudah proses penyampaian informasi budaya yang sebelumnya bersifat statis menjadi lebih dinamis, kontekstual, dan mudah dipahami oleh generasi muda. Hal ini memvalidasi bahwa pemanfaatan Augmented Reality tidak hanya berfungsi sebagai media visualisasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi inovatif yang efektif dalam mendukung upaya pelestarian budaya lokal.
Representasi Sistem Aktivitas Kemasyarakatan Budaya Jawa dalam Novel Kereta Semar Lembu Sri Sanaliati; Ribut Wahyu Eriyanti; Arif Budi Wurianto
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7737

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi sistem aktivitas budaya Jawa dalam novel Kereta Semar Lembu karya Zaky Yamani, mencakup aktivitas religi, aktivitas kesenian, dan aktivitas kemasyarakatan yang membentuk identitas tokoh serta struktur makna dalam cerita. Dengan menggunakan pendekatan antropologi sastra paradigma Ratna, penelitian ini memanfaatkan metode deskriptif kualitatif melalui analisis isi terhadap kutipan, simbol, dialog, dan narasi yang berkaitan dengan budaya Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini merepresentasikan budaya Jawa secara komprehensif melalui simbol-simbol seperti kereta, rel, kerincingan perak, lampu minyak, dan bunga randa tapak yang menggambarkan konsep takdir, perjalanan hidup, dan hubungan manusia dengan dunia gaib. Selain itu, praktik budaya seperti selametan, penanda kelahiran dengan lampu, serta tradisi spiritual kejawen memperlihatkan bagaimana ritus dan nilai leluhur masih berperan dalam kehidupan tokoh. Aktivitas kemasyarakatan seperti gotong royong, unggah-ungguh, musyawarah, dan hubungan sosial komunal menunjukkan ikatan sosial masyarakat Jawa yang harmonis meskipun berada dalam tekanan modernisasi dan kolonialisme. Representasi-representasi tersebut menegaskan bahwa novel Kereta Semar Lembu bukan hanya menghadirkan cerita fiksi, tetapi juga menjadi medium reflektif yang memotret dinamika kultural dan spiritual masyarakat Jawa. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian antropologi sastra serta relevan untuk pengembangan pendidikan karakter berbasis nilai budaya lokal.
Analisis Kemampuan Literasi Baca-Tulis Siswa Kelas IV SD Inpres 1 Tondo Nur Azizah A. Maliada; Yusdin Bin M. Gagaramusu; Kadek Hariana; Zulnuraini, Zulnuraini; Danti Indriastuti Purnamasari
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7765

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kemampuan literasi baca-tulis siswa kelas IV SD Inpres 1 Tondo dengan meninjau empat aspek linguistik utama, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena rendahnya kemampuan membaca pemahaman dan menulis siswa sekolah dasar yang berdampak pada hasil belajar secara umum. Literasi baca-tulis dipandang sebagai fondasi penting bagi keberhasilan pembelajaran, namun implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya minat membaca, keterbatasan kosakata, serta lemahnya pemahaman siswa terhadap struktur bahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan di SD Inpres 1 Tondo, Kota Palu, dengan sumber data yang meliputi guru dan siswa kelas IV. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi teknik dan sumber untuk memastikan keandalan temuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi baca-tulis siswa berada pada kategori cukup baik, meskipun terdapat variasi kemampuan antar siswa. Pada aspek fonologi, sebagian besar siswa mampu melafalkan kata dengan benar, namun masih mengalami kesulitan pada kata dengan struktur kompleks. Pada aspek morfologi, siswa telah mengenali huruf dan kata dasar dengan baik, tetapi belum sepenuhnya memahami perubahan makna akibat penggunaan imbuhan. Aspek sintaksis menunjukkan bahwa siswa mampu menyusun kalimat sederhana, namun belum terampil dalam membentuk kalimat majemuk, sedangkan pada aspek semantik, pemahaman makna bacaan serta kemampuan menulis dengan variasi kosakata masih perlu ditingkatkan. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyajian gambaran empiris yang komprehensif mengenai kemampuan literasi baca-tulis siswa sekolah dasar berdasarkan empat aspek linguistik secara terpadu, khususnya pada konteks sekolah dasar di wilayah Sulawesi Tengah yang masih terbatas diteliti. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi guru dan pemangku kepentingan pendidikan dalam merancang strategi pembelajaran literasi yang lebih kontekstual, komunikatif, dan berkelanjutan, serta sebagai dasar pengembangan program literasi sekolah yang lebih efektif di masa mendatang.
Framing Bahasa dalam Pemberitaan Isu Kasus Beras Oplosan di Detik.com: Analisis Model Pan dan Kosicki Anatasya, Andira Maharani; S. Anshori, Dadang; Fuadin, Ahmad
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7818

Abstract

Bahasa memiliki peran krusial dalam pemberitaan, khususnya berita dengan isu pangan, seperti beras. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan penggunaan bahasa yang membentuk framing positif dan negatif dalam pemberitaan isu kasus beras oplosan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cara Detik.com menggunakan bahasa dalam membingkai isu kasus beras oplosan menjadi sebuah berita yang dapat membentuk opini publik. Data penelitian berupa delapan berita terkait isu kasus beras oplosan yang diterbitkan Detik.com pada periode 17 Juli 2025 hingga 6 Agustus 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena digunakan untuk memahami makna yang dibangun media melalui pilihan dan penggunaan bahasa dalam teks pemberitaan isu kasus beras oplosan. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dan simak catat. Analisis data dilakukan dengan kerangka framing Pan dan Kosicki yang meliputi struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Detik.com secara konsisten membingkai peristiwa beras oplosan sebagai pelanggaran serius yang berdampak negatif bagi masyarakat sebagai konsumen. Framing tersebut dibangun melalui pengunaan bahasa yang informatif, sensasional, dan dramatis sehingga membentuk opini publik yang cenderung meragukan kredibilitas produsen beras, sekaligus memaknai negara sebagai pihak yang hadir secara aktif dalam penanganan pelanggaran yang merugikan konsumen. Produsen dikonstruksikan sebagai aktor utama yang melakukan penyimpangan melalui kata atau frasa, seperti pengoplosan, pemalsuan label, permainan harga, modus, modus operandi, mengoplos, tiga pelanggaran sekaligus, dan tersangka. Sementara itu, pemerintah dan aparat penegak hukum diposisikan sebagai aktor yang responsif, solutif, dan korektif melalui kata atau frasa, seperti buka-bukaan, soroti, menyambut baik, komitmen, menjamin, pengecekan, penyitaan, rombak, dan menggodok. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada kajian wacana media serta menjadi refleksi bagi praktik jurnalistik agar penggunaan bahasa tetap menjunjung objektivitas dalam merepresentasikan realitas sosial. Selain itu, temuan yang dihasilkan juga diharapkan dapat memberikan pertimbangan bagi ruang kerja jurnalis, khususnya jurnalis Detik.com dalam meliput dan menulis pemberitaan terkait isu pangan.
Kajian Semiotika Mengenai Representasi Simbol Kekuasaan dan Identitas Perempuan dalam Novel Pusaka Candra sebagai Dasar Pengembangan Pembelajaran Literasi Sastra Berstandar Nasional Cici Dayanti; Syafi' Junadi
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7826

Abstract

Sastra merupakan medium representasi budaya yang memuat sistem tanda yang merefleksikan relasi kekuasaan serta konstruksi identitas perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi simbol kekuasaan dan identitas perempuan dalam novel Pusaka Candra serta mengkaji relevansinya sebagai dasar pengembangan pembelajaran literasi sastra berstandar nasional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes melalui analisis makna denotatif, konotatif, dan mitos terhadap teks novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol kekuasaan direpresentasikan melalui pusaka, struktur sosial, dan relasi antartokoh yang mereproduksi ideologi patriarkal, sementara identitas perempuan dibangun secara dinamis melalui simbol kepatuhan, kesadaran diri, serta perlawanan dan resistensi simbolik. Dibandingkan penelitian terdahulu yang cenderung mengkaji simbol atau gender secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan keduanya dan mengaitkannya dengan konteks pembelajaran literasi sastra. Kebaruan penelitian terletak pada pemanfaatan kajian semiotika sebagai dasar pengembangan pembelajaran literasi sastra, dengan implikasi bahwa novel Pusaka Candra relevan digunakan sebagai bahan ajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemaknaan simbolik peserta didik.
A Cross Cultural Pragmatic Analysis of He Ziran’s and Grice’s Principles in Mandarin Film Hi, Mom Dian Sari Unga Waru; Sukma, Sukma; Sri Khaerani Rahman; Liu Dan Dan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7845

Abstract

This study aims to compare the suitability of utterances based on He Ziran’s politeness-oriented pragmatic framework with H. P. Grice’s Cooperative Principle, using the contemporary Mandarin film Hi, Mom (2021) as the case study. The focus is on how the characters manage speech acts in everyday interactions, including both adherence to and deviations from pragmatic norms, and how such communication is interpreted by interlocutors. A qualitative pragmatic analysis was employed, examining selected dialogues that exemplify Grice’s maxims of quantity, quality, relation, and manner, alongside He Ziran’s principles of appropriateness and socio-cultural alignment. The findings reveal that while most dialogues conform to Grice’s Cooperative Principle, deliberate violations are employed to create humor, irony, or emotional emphasis. Meanwhile, He Ziran’s framework highlights the significance of cultural values in Chinese communication, particularly in familial hierarchy and intergenerational respect. The comparative analysis demonstrates that pragmatic principles are influenced not only by universal cooperative strategies but also by culturally embedded communicative norms. This study contributes to cross-cultural pragmatics and Mandarin as a foreign language pedagogy by deepening the understanding of effective communication strategies within contemporary Chinese cultural contexts.
Analisis Sosiolek Lirik Lagu Tabola Bale Karya Silet Open Up (feat. Jacson Zeran, Juan Reza & Diva Aurel): Kajian Sosiolinguistik Mohammad Matin Erca Handika; Kundharu Saddhono; Sumarwati, Sumarwati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7873

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan variasi bahasa sosiolek dalam lirik lagu Tabola Bale karya Silet Open Up (feat. Jacson Zeran, Juan Reza, & Diva Aurel) menggunakan pendekatan sosiolinguistik kualitatif. Penelitian ini fokus pada analisis fungsi-fungsi sosiolek, yaitu fungsi identitas dan hubungan, fungsi nilai sosial meliputi pujian kecantikan, komitmen, dan perubahan diri serta fungsi keakraban kepada pendengar sekaligus menyajikan makna yang terkandung dalam perpaduan bahasa Indonesia Timur dan bahasa Minang. Data dikumpulkan melalui teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) dan teknik Catat dari transkripsi lirik lagu di YouTube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu ini menampilkan sosiolek yang berfungsi sebagai penanda identitas hubungan informal “kaka”, “ade”, “nona” dan identitas Minang “uda”, “denai”, mewujudkan nilai sosial melalui pujian hiperbola dan komitmen asmara yang lugas, serta membangun keakraban menggunakan bahasa gaul “salting”, “mete” dan gaya komunikasi yang tidak bertele-tele. Secara keseluruhan, variasi sosiolek dalam lirik lagu ini mencerminkan narasi multikultural tentang percintaan yang lugas dan berorientasi komitmen.