cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
prepotifjurnalkesmas.up@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 26231573     EISSN : 26231581     DOI : https://doi.org/10.31004/prepotif
Core Subject : Health,
PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat adalah bidang kesehatan yang luas seperti kesehatan masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Epidemiologi, keperawatan, kebidanan, kedokteran, farmasi, psikologi kesehatan, nutrisi, teknologi kesehatan, analisis kesehatan, sistem informasi kesehatan, hukum kesehatan, rumah sakit manajemen, Ekonomi Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, kesehatan lingkungan dan sebagainya.
Articles 2,155 Documents
EFEK ANTIDIABETIK ORAL MONOTERAPI DAN KOMBINASI TERHADAP HbA1c PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NANIA KOTA AMBON Rizal, Rizal; Hariawan, Hamdan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42106

Abstract

Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan penyakit metabolik sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif baik oleh karena adanya disfungsi sel beta pankreas atau karena ambilan glukosa di jaringan perifer. Secara global prevalensi diabetes bertambah setiap waktu dan bahkan Indonesia menduduki peringkat 7 dunia penderita diabetes. Intervensi umum yang diberikan dalam penatalaksanaan pasien diabetes yaitu pemberian terapi farmakologi berupa pemberian antidiabetik tunggal atau kombinasi. Parameter yang menjadi target dalam terapi tersebut yaitu terjadinya normoglikemia. Rekomendasi parameter kontrol glikemik dari berbagai organisasi profesional dunia yaitu pemeriksaan HbA1c. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar HbA1c terhadap jenis terapi tunggal (monoterapi) dan kombinasi pada pasien DM tipe 2. Desain penelitian yaitu  analitik non-experimental dengan pendekatan cross-sectional. Hubungan antara variabel dianalisis menggunakan independent sample T test. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 28 pasien. Hasil penelitian didapatkan data riwayat diabetes paling tinggi pada pasien dengan lama menderita > 5 tahun (60,7%), memiliki komplikasi penyakit (64,3%), lama pengobatan  > 5 tahun (57,1%), kontrol rutin (60,7%), tidak patuh pada pengobatan (85,7%), terapi tidak sesuai berdasarkan nilai kadar HbA1c (57,1%), tidak mencapai target terapi (78,6%), monoterapi (60,7%), kadar glukosa darah sewaktu tidak normal (53,6%), dan kadar HbA1c tidak normal (78,6%). Hasil analisis menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan secara statistik pada target terapi HbA1c terhadap monoterapi dan kombinasi dengan nilai p=0,637. Pada penelitian ini tidak menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik karena adanya confounding factor yang tidak dikontrol yaitu tingkat kepatuhan, kesesuain terapi dan gaya hidup.
HUBUNGAN STATUS GIZI IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA PENERIMA PMT CSR DI KABUPATEN SUKOHARJO Levina, Astrid Chanda; Hidayati, Listyani; Muwakhidah, Muwakhidah
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42116

Abstract

Stunting pada anak balita merupakan masalah kesehatan yang sering disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, yang dimulai sejak masa kehamilan hingga masa balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi ibu hamil dengan kejadian stunting pada anak usia 12-60 bulan di Kabupaten Sukoharjo. Metode yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 100 ibu dan balita, yang dipilih menggunakan teknik multi-stage sampling dan random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner yang mencakup informasi tentang status gizi ibu selama hamil, serta catatan riwayat Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil dari buku KIA. Analisis data dilakukan dengan IBM SPSS Statistik 20 menggunakan uji Chi-square dan menghitung Prevalence Ratio (PR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti usia anak, pendidikan ibu, usia ibu saat hamil, status pekerjaan, dan pendapatan keluarga berperan dalam kejadian stunting pada anak. Anak usia 12-36 bulan dan anak perempuan memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi. Meskipun ibu dengan status gizi KEK dianggap berisiko, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara status gizi ibu hamil dan kejadian stunting pada anak dalam penelitian ini. Faktor sosial ekonomi, khususnya pendapatan keluarga, mempengaruhi pemenuhan gizi anak, terutama pada keluarga berpenghasilan rendah.
KARAKTERISTIK DEMOGRAFI LANSIA PENDERITA OSTEOARTHRITIS DI PANTI WERDHA KRISTEN HANA Dzahabiyyah, Tania Yumna; Gunawan, Shirly; Alfarisi, Mohamad Daffa; Tjongarta, Winny; Husada, Miftah; Listiono, Kevin Sanjaya; Putri, Hadyan Prasetyaningtyas; Sobiyanto, Mohammad Nuh; Marshanda, Santy; Harsisnowo, Raden; Amin, Mohamad Shodiqul; Rumbay, Vaya Talenta
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42133

Abstract

Osteoartritis (OA) menempati peringkat ketujuh sebagai penyebab years lived disability (YLD) pada lansia usia 70 tahun ke atas. Osteoartritis merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan rusaknya tulang rawan yang melapisi ujung tulang sendi, dan biasanya semakin memburuk seiring waktu. Penyakit ini sebagian besar menyerang lutut, tangan, dan pinggul, serta dapat sendi lainnya. Beberapa faktor risiko meliputi usia tua, jenis kelamin perempuan, obesitas, dan komorbid berupa hipertensi berperan besar dalam peningkatan kejadian OA. Mengetahui faktor risiko yang dapat dimodifikasi sangat penting untuk mencegah kecacatan dan meningkatkan kualitas hidup lansia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik serta faktor risiko lansia penderita OA. Penelitian dilakukan secara cross-sectional pada lansia penderita OA di Panti Werda Hana periode Oktober – November 2024 dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan dengan melakukan uji chi-square. Hasil studi menunjukkan, dari total 90 lansia yang tinggal di Panti Werda Hana, terdapat 26 lansia (28,9%) yang menderita OA. Pasien OA didominasi oleh perempuan (73,1%). Lansia penderita OA paling banyak berada dalam rentang usia 70-79 tahun (46,2%). Sebagian besar lansia (92,3%) mengalami OA di bagian lutut. Sebanyak 76,9% lansia penderita OA memiliki faktor risiko obesitas dan 76,9% memiliki komorbid berupa hipertensi. Pentingnya mengetahui faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti IMT yang tinggi dan pencegahan ataupun penanganan terhadap komorbid yang dialami untuk menurunkan kejadian OA dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
HUBUNGAN PENCEGAHAN PRIMER DEMENSIA DENGAN KEJADIAN DEMENSIA PADA LANSIA Alfarisi, Mohamad Daffa; Gunawan, Shirly; Dzahabiyyah, Tania Yumna; Tjongarta, Winny; Husada, Miftah; Listiono, Kevin Sanjaya; Putri, Hadyan Prasetyaningtyas; Sobiyanto, Mohammad Nuh; Marshanda, Santy; Harsisnowo, Raden; Amin, Mohamad Shodiqul; Rumbay, Vaya Talenta
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42134

Abstract

Demensia merupakan penyakit neurodegeneratif yang menjadi penyebab kematian nomor 7 di dunia. Berdasarkan World Health Organization (WHO) lebih dari 55 juta orang di dunia mengalami demensia. Penyakit ini menyebabkan kerusakan progresif yang berkaitan dengan memori, pengenalan, orientasi spasial dan temporal, serta komunikasi. Patofisiologi demensia belum sepenuhnya dimengerti. Pencegahan demensia pada lansia dapat dilakukan melalui upaya pencegahan primer, yaitu dengan menghilangkan faktor risiko tertentu. Salah satu pendekatan upaya ini adalah dengan tetap aktif secara kognitif, fisik dan sosial di usia paruh baya serta usia lanjut. Literatur ini merupakan hasil dari pencarian di Google Scholar, PubMed, Science Direct, Hindawi, Medline, dan Cochrane. Berikutnya dilakukan seleksi untuk memilih literatur yang sesuai. Peninjauan isi literatur yang telah memenuhi kriteria dilakukan untuk memulai penulisan kemudian diskusi disusun secara sistematis. Ada bukti observasional yang menunjukkan bahwa perkembangan demensia dapat ditunda dengan intervensi seperti modifikasi gaya hidup yaitu mendorong pasien untuk aktif secara fisik dan kognitif, menjaga pola makan yang sehat, serta mengelola gangguan pendengaran dan faktor risiko kardiovaskular, khususnya hipertensi. Patogenesis demensia belum sepenuhnya dimengerti, namun pencegahan primer dapat dipertimbangkan untuk dilakukan karena sebagian besar faktor yang terlibat dalam timbul dan berkembangnya demensia dapat diatasi, sehingga tujuan pencegahan ini dapat menunda timbulnya sindrom demensia pada lansia.
HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA SISWA DI SMA NEGERI 1 MLATI Alnodula, Rahma; Satriyandari, Yekti
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42174

Abstract

Depresi, kecemasan dan gangguan perilaku merupakan salah satu penyebab utama penyakit dan kecacatan dikalangan remaja. Sedangkan bunuh diri merupakan penyebab kematian keempat pada anak usia 15-29 tahun. Diperkirakan 3,6% anak usia 10-14 tahun dan 4,6% anak usia 15-19 tahun mengalami gangguan kecemasan. Depresi terjadi pada 1,1% remaja berusia 10-14 tahun dan 2,8% pada remaja berusia 15-19 tahun. Gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), yang ditandai dengan kesulitan memperhatikan, aktivitas berlebihan dan bertindak tanpa memperdulikan konsekuensinya terjadi pada 3,1% anak usia 10-14 tahun dan 2,4% anak usia 15-19 tahun. Gangguan perilaku (meliputi gejala perilaku destruktif atau menantang) terjadi pada 3,6% anak usia 10-14 tahun dan 2,4% anak usia 15-19 tahun. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di SMA Negeri 1 Mlati pada tanggal 12Juni 2024 didapatkan data dari hasil wawancara yang dilakukan kepada 10 siswa kelas 11, didapatkan hasil 6 siswa (60%) mengalami gangguan kesehatan mental dan 4 siswa (40%) tidak mengalami gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bersifat korelasi dengan desain penelitian cross-sectional yang bertujuan untuk mengamati hubungan antara faktor resiko dengan akibat yang terjadi berupa penyakit atau keadaan kesehatan dalam waktu yang bersamaan. Didapatkan bahwa siswa yang peran orang tuanya baik tidak mengalami gangguan sebanyak 20 responden dan yang mengalami gangguan sebanyak 34 responden sedangkan peran orang tua cukup siswa yang tidak mengalami gangguan mental sebanyak 10 responden dan yang mengalami gangguan sebanyak 36 responden. Hasil uji Spearman didapatkan hasil sig.(2-tailed) sebesar 0.002 dimana hasil ini lebih kecil dari 0.005 sehingga didapatkan bahwa terdapat hubungan antara peran orang tua dengan kesehatan mental anak remaja.
ANALISIS MANAJEMEN K3 JOB SAFETY ANALYSIS DENGAN METODE HIRARC STUDI DI RS X DI ACEH Alkhairi, Fauzan Akmal; Rinandar, Rinandar; Syahputri, Nada Sarah; Zakaria, Radhiah
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42232

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di rumah sakit merupakan aspek penting dalam memastikan lingkungan kerja yang aman bagi tenaga medis serta pelayanan yang optimal bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem manajemen K3 di Rumah Sakit X Aceh menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) dan Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC). Observasi dilakukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang radiologi, dan gudang B3 untuk mengidentifikasi potensi bahaya serta menilai tingkat risiko yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di ruang IGD terdapat 70% kegiatan berisiko tinggi dan 30% berisiko sedang. Di ruang radiologi, 19% kegiatan memiliki risiko tinggi, 50% risiko sedang, dan 31% risiko rendah. Sementara itu, seluruh kegiatan di gudang B3 memiliki tingkat risiko sedang. Risiko utama di IGD meliputi kontak dengan cairan tubuh pasien, cedera akibat pemindahan pasien, dan paparan bahan kimia. Di ruang radiologi, risiko signifikan berasal dari paparan radiasi dan cedera muskuloskeletal. Sedangkan di gudang B3, potensi bahaya meliputi gangguan otot skeletal dan risiko ergonomi. Untuk mengurangi risiko tersebut, perlu dilakukan peningkatan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), penyediaan fasilitas kerja yang lebih ergonomis, serta pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan. Implementasi strategi mitigasi yang optimal diharapkan dapat meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif..
IMPLEMENTASI KESELAMATAN PASIEN DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN PRIMER : LITERATURE REVIEW Palupi, Sayekti Intan; Dhamanti, Inge
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42369

Abstract

Fasilitas pelayanan kesehatan primer (FKTP) merupakan fasilitas yang memberikan pelayanan kesehatan dasar atau tingkat pertama. Berdasarkan data Sismonev DJSN (2024) menunjukkan bahwa proporsi FKTP lebih banyak daripada FKRTL serta jumlah kunjungan masyarakat ke FKTP terus meningkat pada tahun 2024. Amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 kepada fasilitas pelayanan kesehatan adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan mengutamakan keselamatan pasien. Berdasarkan penelitian terdahulu tentang implementasi keselamatan pasien di FKTP ditemukan belum diterapkan secara optimal. Penelitian ini merupakan Literature Review yang bertujuan untuk menganalisis implementasi keselamatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan primer di Indonesia. Pengumpulan literatur menggunakan database elektronik yaitu Google Scholar dan Portal Garuda. Kata Kunci yang digunakan adalah “implementasi keselamatan pasien” OR “ standar keselamatan pasien” OR “sasaran keselamatan pasien” OR “tujuh langkah menuju keselamatan pasien” AND “Pelayanan Kesehatan Primer” OR “Puskesmas” OR “Klinik Pratama” OR “Praktik Dokter”. Proses screening literatur dengan kata kunci disajikan dalam PRISMA Flowchart. Terdapat 11 literatur yang memenuhi kriteria penelitian. Berdasarkan hasil literatur review menunjukkan bahwa implementasi keselamatan pasien menurut Permenkes Nomor 11 Tahun 2017 yang terdiri dari implementasi standar, sasaran dan tujuh langkah menuju keselamatan pasien telah dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan primer khususnya puskesmas meskipun belum optimal dan masih perlu ditingkatkan aspek input dan prosesnya. Implementasi keselamatan pasien paling banyak ditemukan di Puskesmas.
PROFIL TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK DELIMA SLAWI KABUPATEN TEGAL susiyarti, susiyarti; Purgiyanti, Purgiyanti; Putri A, Dyah Ayu
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42372

Abstract

Pelayanan kefarmasian selain menjadi tuntutan profesionalisme juga dapat dilihat sebagai faktor yang menarik minat konsumen terhadap pembelian obat di apotek agar memperoleh kepuasan pasien. Terdapat lima dimensi yang mewakili kepuasan pasien terhadap pelayanan yaitu dimensi Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, dan Emphaty. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Apotek Delima. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif kuantitatif. Data berupa data primer berdasarkan pengisian kuesioner. Populasi adalah pasien yang mendapatkan pelayanan kefarmasian berjumlah 400 orang. Sampel berjumlah 80 orang ditentukan dengan rumus Slovin, teknik sampling secara purposive sampling. Kuesioner berisi 25 pertanyaan terkait kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian berdasarkan lima dimensi kepuasan yaitu Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, dan Emphaty. Tingkat kepuasan diukur dengan menggunakan skala Likert’s sebagai berikut: 5 = sangat puas, 4 = puas, 3 = cukup puas, 2 = kurang puas, 1 = tidak puas. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis menggunakan analisa univariat. Berdasarkan hasil penelitian tentang profil tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Apotek Delima Slawi Kabupaten Tegal diperoleh hasil pasien menyatakan Sangat Puas terhadap kualitas pelayanan di apotek tersebut. Hal ini dapat dilihat pada perolehan nilai pada masing-masing dimensi kepuasan diperoleh nilai yang baik yaitu pada dimensi tangibles 4,15, reliability 4,31, responsiveness 4,45, assurance 4,23 dan dimensi emphaty 4,28. Rata-rata dari lima dimensi diperoleh skor 4,28, skor tersebut masuk dalam interval sangat puas yaitu 4,1 – 5.
PENGARUH RIWAYAT PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN PENYAKIT INFEKSI (ISPA DAN DIARE) DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA Negari, Pawestri Pandu; Wardani, Dewi Kusuma; Hargono, Arief
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42415

Abstract

Indonesia masih memiliki prevalensi stunting di atas batas yang ditetapkan WHO yaitu 20%. Prevalensistunting pada Kabupaten Pamekasan belum mencapai target nasional sebesar 14% pada tahun 2024.Salah satu wilayah yang masih mengalami permasalahan ini adalah Puskesmas Sopaah di KecamatanPademawu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh riwayat pemberian ASI eksklusif danriwayat penyakit infeksi (ISPA dan diare) terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan.Desain penelitian yang digunakan adalah case control dengan total sampel sebanyak 54 balita, terdiridari 27 balita stunting (kasus) dan 27 balita tidak stunting (kontrol). Data diperoleh dari wawancaralangsung dengan responden dan dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Analisis data dilakukanmenggunakan uji chi-square dan perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwariwayat ASI eksklusif (p = 0,013; OR = 4,156), riwayat ISPA (p = 0,014; OR = 4,038), dan diare (p =0,006; OR = 4,857) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting. Balita yang tidak mendapatASI eksklusif dan yang memiliki riwayat ISPA atau diare lebih berisiko mengalami stunting. Olehkarena itu, diperlukan sosialisasi rutin tentang pentingnya ASI eksklusif dan pelatihan manajemen ASIperah bagi ibu bekerja. Pemanfaatan Buku KIA secara optimal juga perlu ditingkatkan sebagai saranakomunikasi, informasi, dan edukasi serta pemantauan tumbuh kembang balita.
HUBUNGAN FAKTOR EUCS DENGAN MANFAAT PENGGUNAAN SIMPUS DI PUSKESMAS WILAYAH KOTA SURAKARTA Mursiam, Endah Cahya; Setiyadi, Noor Alis
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42472

Abstract

Kemajuan teknologi informasi di sektor kesehatan semakin berkembang, mendorong penerapan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) untuk mengembangkan efisiensi dan kualitas layanan. Sejak 2011, implementasi SIMPUS di Kota Surakarta belum optimal, dan hingga kini belum ada evaluasi menyeluruh terkait kepuasan penggunaanya. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi tingkat kepuasan pengguna SIMPUS di Puskesmas Kota Surakarta menggunakan metode End-User Computing Satisfaction (EUCS). Pendekatan studi yang diterapkan berupa observasional analitik dengan metode kuantitatif serta rancangan cross-sectional. Populasi sebanyak 172 pekerja dari 17 puskesmas di Wilayah Kota Surakarta. Penelitian ini melibatkan sampel sebanyak 120 orang yang diperoleh menggunakan rumus Slovin dan teknik pengambilan secara memilih kelompok secara acak (Cluster Sampling). Penelitian ini menganalisis variabel Content, Format, Accuracy, Timeliness, dan Ease of Use. Data dihimpun dari kuesioner dan dianalisis memakai metode univariat serta uji bivariat Chi-square. Hasil analisis mengungkapkan bahwa terdapat keterkaitan yang signifikan antara Content (p = 0,017), Format (p = 0,000), Timeliness (p = 0,000), dan Ease of Use (p = 0,021) dengan manfaat nyata penggunaan SIMPUS, sementara Accuracy tidak memiliki hubungan signifikan (p = 1,000). Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan aspek isi, format, ketepatan waktu, dan kemudahan penggunaan berperan penting di dalam keberhasilan implementasi SIMPUS. Oleh karena itu, optimalisasi sistem diperlukan untuk meningkatkan kepuasan penggunaan dan efektivitas layanan kesehatan di Puskesmas Kota Surakarta.