cover
Contact Name
Putranto Manalu
Contact Email
putrantomanalu@unprimdn.ac.id
Phone
+6261453 2820
Journal Mail Official
jpms@unprimdn.ac.id
Editorial Address
Jl. Belanga No.1 Simp. Jl. Ayahanda, Medan
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Prima Medika Sains
ISSN : 26863502     EISSN : 27146707     DOI : https://doi.org/10.34012/jpms
Core Subject : Health,
Jurnal Prima Medika Sains adalah jurnal ilmiah di bidang kesehatan dan kedokteran yang terbit dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Juni dan Desember. Diterbitkan oleh Universitas Prima Indonesia yang secara teknis dikelola Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia. Berisi tulisan hasil penelitian lapangan atau laboratorium maupun studi pustaka di bidang kesehatan dan kedokteran.
Articles 154 Documents
Penentuan kadar total fenolik, total flavonoid, dan uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kerai payung (Filicium decipiens) terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermis Hoswari, Cindy Natasya; Br Karo, Reh Malem; Yudha, M
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3699

Abstract

Tanaman kerai payung (Filicium decipiens) merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan alternatif dalam pembuatan obat. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti senyawa fenolik, flavonoid, tanin, alkaloid, saponin dan terpenoid. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kadar total fenolik, total flavonoid ekstrak etanol daun Filicium decipiens serta aktivitasnya terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermis. Ekstrak etanol daun Filicium secipiens diperoleh melalui metode ekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol. Kadar total fenolik dan flavonoid ekstrak etanol daun Filicium decipiens ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Visible. Penentuan kadar total fenolik dan flavonoid masing-masing menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteau dan . Ekstrak dibuat dalam variasi konsentrasi (25%,50%%,100%) dan dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi cakram. Berdasarkan pada hasil penelitian diperoleh bahwa kadar total fenolik dan flavonoid ekstrak etanol daun Kerai Payung masing-masing adalah 234,79 mg/GAE/g dan 4,5905 mg/QE/g. Hasil uji aktivitas antibakteri pada berbagai variasi konsentrasi ekstrak terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermis diperoleh masing-masing zona hambat terbesar pada konsentrasi ekstrak 100% yaitu 17,72 mm untuk Propionibacterium acnes dan 18,18 mm untuk Staphylococcus epidermis. Zona hambat yang dihasilkan tersebut tergolong kuat.
Aktivitas antibakteri bakteri endofit daun kelapa sawit (Elaeis guineensis) terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Harmileni, Harmileni; Saragih, Gimelliya; Hidayani, Tengku Rachmi; Mirnandaulia, Meutia
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3755

Abstract

Mikroorganisme endofit adalah mikroorganisme yang terdapat dalam jaringan tanaman dan memiliki kemiripan sifat senyawa bioaktif dengan tanaman inangnya. Daun kelapa sawit diketahui memiliki aktivitas antibakteri, tetapi penelitian mengenai aktivitas antibakteri bakteri endofitnya belum pernah dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi bakteri endofit dari daun kelapa sawit serta menentukan aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Delapan isolat bakteri endofit berhasil diisolasi dari daun kelapa sawit. Satu isolat termasuk bakteri Gram negatif dan tujuh isolat adalah bakteri Gram positif. Analisa morfologi menunjukkan satu isolat berbentuk basil dan yang lain berbentuk kokus. Uji antibakteri menunjukkan satu isolat (IDS18) menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap S.aureus dengan zona hambat 13 mm, tetapi tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap E. coli. Sementara lima isolat yaitu IDS1, IDS10, IDS11, IDS14 dan IDS16 menunjukkan aktivitas yang lemah terhadap E.coli, tetapi tidak memiliki aktivitas terhadap S.aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri endofit daun kelapa sawit berpotensi sebagai penghasil senyawa antibakteri. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai optimasi produksi senyawa bioaktif antibakteri serta karakterisasinya.
Pengaruh penggunaan posisi orthopnea terhadap penurunan sesak nafas pada pasien TB paru Empraninta, Hanna Ester; Supardi, Supardi; Mahdalena, Piyanti Saurina
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3783

Abstract

TB paru dapat menyebabkan kerusakan atau fibrosis pada saluran pernapasan dan jaringan paru-paru, yang ditandai dengan kesulitan bernafas dan batuk. Studi ini bermaksud untuk menelaah lebih lanjut tentang efektifitas posisi orthopnea terhadap penurunan sesak nafas pada pasien TB paru. Studi ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode quasy experiment dengan rancangan two group pretest posttest design yang bertujuan mengukur penurunan sesak nafas pada pasien TB paru sebelum dan sesudah intervensi. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Pringadi Medan, pada bulan Agustus 2022. Subyek penelitian ini adalah 50 orang penderita penyakit TB yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang diberikan intervensi sebanyak 25 orang dan kelompok kontrol sebanyak 25 orang. Subjek penelitian direkrut dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan tahap pretest dan postest dengan menggunakan stopwatch untuk mengukur frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah diberikan intervensi orthopnea. Analisis data menggunakan uji T-Dependent untuk mengetahui perbedaan rerata frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah melakukan posisi orthopnea, serta mengetahui perbedaan rerata frekuensi pernapasan antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan frekuensi pernapasan pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah diberikan posisi orthopnea (p <0,001). Tidak terdapat perbedaan frekuensi pernasapan pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah diberikan posisi orthopnea (p= 0,057). Nilai rerata skor frekuensi pernapasan dan pada kelompok intervensi melalui pemberian posisi orthopnea menurun secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kepatuhan responden ketika diberikan intervensi juga membantu optimalisasi penurunan gejala sesak nafas.
Ketidakpatuhan minum obat pada pasien TB paru: Studi kualitatif Pasaribu, Grace Florita; Handini, Myrnawati Crie; Manurung, Jasmen; Manurung, Kesaktian; Sembiring, Rinawati; Siagian, Mindo Tua
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3788

Abstract

Tidak tuntasnya pengobatan dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya resistensi terhadap obat anti TBC. Oleh karena tingkat kepatuhan minum obat oleh penderita tuberkulosis paru (TB paru) menjadi kunci dalam keberhasilan pengobatan TB paru. Tujuan penelitian ini adalah menggali lebih dalam terjadinya ketidakpatuhan minum obat pada pasien TB paru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi fenomenologi melalui wawancara mendalam (in depth interview). Informan terdiri dari penderita TB paru, Pengawas Minum Obat (PMO), Pengelola Program TB dan Kepala Puskesmas Siatas Barita. Analisis data dilakukan dengan metode Miles dan Hubberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan terjadinya ketidakpatuhan minum obat pada pasien TB paru terutama disebabkan oleh efek samping obat yang dirasakan sehingga menyebabkan ketidaknyamanan terhadap kondisi tubuh, lupa minum obat dan jumlah obat yang banyak dikonsumsi karena menderita penyakit penyerta lainnya. PMO sangat berperan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat tidak hanya dengan mengingatkan minum obat tetapi dengan mengawasi langsung saat minum obat, mendampingi pasien saat kontrol dan ambil obat ke puskesmas serta memberi semangat dan motivasi sehingga pasien merasa termotivasi untuk sembuh. Upaya dari manajemen puskesmas untuk meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien TB paru adalah dengan melakukan penyuluhan cara minum obat, lama pengobatan, efek samping obat, monitoring efek samping obat dan melakukan home visit/kunjungan rumah untuk pemantauan pasien TB paru.
Dampak konsumsi biskuit kelor dan plasebo pada siswi dengan kebiasaan konsumsi teh sesudah makan terhadap peningkatan kadar hemoglobin Hasugian, Debora Katarina; Handini, Myrnawati Crie; Sembiring, Rinawati; Ketaren, Otniel; Sinaga, Janno; Sitorus, Mido Ester J
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3835

Abstract

Remaja putri yang mengalami penurunan hemoglobin (Hb) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Kebiasan konsumsi biskuit kelor merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan kadar Hb pada remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak konsumsi biskuit kelor dan placebo pada siswi dengan kebiasaan konsusmi teh sesudah makan terhadap peningkatan kadar Hb. Studi ini menggunakan metode quasy experiment dengan rancangan non randomized pretest-postest control group design. Lokasi penelitian dilakukan di kelas 2 SMP Negeri 1 Siatas Barita, Kecamatan Siatas Barita Kabupaten Tapanulis Utara, Maret 2023. Subjek penelitian adalah seluruh siswi kelas 2 SMP Negeri 1 Siatas Barita sebanyak 100 orang yang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok intervensi sebanyak 50 orang dan kelompok kontrol sebanyak 50 orang yang diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi penelitian berupa pemberian biskuit kelor dan placebo. Pengumpulan data dilakukan dengan tahap pre-test dan post-test dengan menggunakan Quik Check Hb untuk mengukur kadar Hb sebelum dan sesudah intervensi konsumsi biskuit kelor dan plasebo selama 1 bulan. Analisis data menggunakan uji T-Dependent dan T-Independent. Hasil penelitian melaporkan bahwa rerata kadar Hb yang mengkonsumsi biskuit kelor dengan kebiasaan tidak suka minum teh, mengalami perubahan kadar Hb yang signifikan. Terdapat perbedaan kadar Hb pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah konsumsi biskuit kelor antara siswi yang suka dan tidak suka minum teh (p < 0,001). Tidak terdapat perbedaan kadar Hb pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah konsumsi biskuit plasebo antara siswi yang suka dan tidak suka minum teh (p > 0,05). Konsumsi biskuit kelor dapat meningkatkan kadar Hb remaja putri yang tidak suka minum teh setelah makan.
Studi kualitatif: Rendahnya capaian kinerja SPM Pelayanan Kesehatan Balita Sibuea, Murni; Handini, Myrnawati Crie; Sitorus, Friska; Ketaren, Otniel; Sinaga, Janno; Sitorus, Mido Ester J.; Nababan, Donal
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3887

Abstract

Kinerja pelayanan kesehatan balita dapat diukur dengan melihat capaian SPM, sehingga dapat menjustifikasi mutu pelayanan kesehatan yang diberikan pada kelompok sasaran program pada kategori baik atau kurang baik. Selama tiga tahun terakhir terlihat bahwa pelayanan kesehatan bagi balita di Puskesmas Simarmata Kabupaten Samosir tidak mencapai target 100%. Penelitian ini berfokus untuk menggali lebih dalam penyebab rendahnya capaian SPM serta upaya yang sudah dilakukan agar target kinerja SPM Pelayanan Kesehatan Balita di Puskesmas Simarmata Kabupaten Samosir. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan fenomenologi yang dilakukan pada bulan September 2021 sampai Maret 2023. Informan pada penelitian ini terdiri dari kepala puskesmas, pengelola Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Simarmata, pengelola Program Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir, dan bidan desa. Sedangkan informan triangulasi terdiri dari ibu balita, kader posyandu dan guru PAUD. Pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Sebelum mengumpulkan data penelitian, peneliti telah melakukan observasi awal ke Puskesmas Simarmata dan mendapatkan data capaian SPM KIA. Selanjutnya data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan tahapan analisis yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Dari hasil analisis data terlihat bahwa capaian SPM pelayanan kesehatan balita di Puskesmas Simarmata Kabupaten Samosir hanya berada pada 74,71% dan dapat dikatakan masih jauh dari standar nasional. Berbagai penyebab yang bersifat teknis dan non teknis ditemukan pada riset ini yaitu rendahnya kunjungan ibu dan balita ke posyandu, pemantauan perkembangan tidak terdokumentasi dengan baik karena belum tersedianya formulir Data Dini Tumbuh Kembang (DDTK), petugas kesehatan masih merangkap jabatan, anggaran kegiatan yang terbatas dan jumlah kader yang terbatas.
Prevalensi dan faktor risiko stunting pada anak balita usia 0-59 bulan Surbakti, Suhartati; Handini, Myrnawati Crie; Hutajulu, Johansen; Ketaren, Otniel; Sembiring, Rinawati; Wandra, Toni; Nababan, Donal
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3900

Abstract

Kejadian stunting pada balita dapat mempengaruhi gangguan perkembangan kogninitif bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko stunting pada anak usia 0-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Siatas Barita Kabupaten Tapanuli Utara. Kejadian stunting pada balita berhubungan signifikan dengan riwayat BBLR, pemberian ASI Eksklusif, jarak kelahiran, namun tinggi badan ibu tidak berkorelasi signifikan terhadap kejadian stunting. Studi ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi case control. Subyek penelitian ini adalah seluruh anak balita usia 0-59 bulan sebanyak 855 orang. Besar sampel sebesar 135 orang dengan perbandingan 1:2 yaitu kelompok kasus sebanyak 45 orang, dan kelompok kontrol sebanyak 90 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling. Waktu penelitian dilakukan sejak Juni 2022 – Maret 2023. Analisis data menggunakan uji Chi square test dan Regresi logistik biner. Hasil penelitian melaporkan bahwa kejadian stunting pada balita berkorelasi kuat dengan riwayat BBLR, pemberian ASI Eksklusif, jarak kelahiran, namun tinggi badan ibu tidak berkorelasi signifikan terhadap kejadian stunting. Jarak kelahiran merupakan variabel yang dominan berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian stunting pada balita (p=0,004;OR=7,94;CI 95% 1,908-33,074). Untuk itu disarankan kepada ibu balita agar menjaga jarak kelahiran anak sehingga dapat memberikan pengasuhan yang baik bagi anak.
Manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosis dan tatalaksana abses paru pada anak Bakhtiar, Bakhtiar; Herdata, Heru Noviat; Liansyah, Tita Menawati; Zakaria, Iskandar; Sufriani, Sufriani; Safana, Garsia
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3909

Abstract

Abses paru merupakan rongga berdinding tebal yang mengandung bahan purulen akibat supurasi dan nekrosis pada parenkim paru yang terlibat. Berdasarkan faktor predsposisi, maka abses paru pada anak dapat dibagi menjadi abses paru primer dan sekunder. Penyebab utama terjadinya abses paru primer adalah Streptococcus pneumoniae atau Staphylococcus aureus. Abses sekunder diperberat oleh penyakit paru, misalnya bronkhiektasis, fibrosis kistik, infark paru. Diagnsosis abses paru pada anak ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang. Dicurigai abses paru apabila terdapat keluhan demam dan batuk, dan adanya tanda-tanda konsolidasi paru. Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk memperkuat diagnosis abses paru meliputi rontgen dada, ultrasonografi, dan computed tomography (CT Scan). Tatalaksana abses paru meliputi tatalaksana umum dan khusus. Tatalaksana umum meliputi pemberian makanan dan cairan yang cukup dan oksigen. Pemberian oksigen dilakukan jika ada gejala sesak nafas. Selanjutnya, tatalaksana khusus meliputi pemberikan antibiotika, drainase dan tindakan operatif (lobektomi). Antibiotik secara inta vena yang tepat direkomendasikan sebagai terapi awal untuk abses paru. Jika tidak ada perbaikan klinis dan radiologis yang bermakna, maka dipertimbangkan dilakukan drainase. Seterusnya, jika dengan drainase juga tidak ada perbaikan, maka langkah terakhir adalak dilakukan lobektomi.
Pemanfaatan pelayanan kesehatan pada pasien diabetes mellitus tipe 2 Sinurat, Buenita; Hidayah, Qisty Alifyah; Tarigan, Gita Febiolita Br; Dameria, Dameria; Samosir, Frans Judea; Sibagariang, Eva Ellya; Silalahi, Marlinang Isabella
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3920

Abstract

Kunjungan rutin pada failitas kesehatan dapat meningkatkan pengelolaan penyakit dan pencegahan komplikasi pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Laporan rutin Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara menunjukkan rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan di antara pasien DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Studi cross-sectional diselenggarakan di 3 puskesmas yang ada di Kabupaten Langkat pada bulan Juni - Juli 2022. Sebanyak 125 orang penderita DM tipe 2 disertakan dalam studi ini dengan mengisi kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan yang relevan dalam menyelidiki prediktor pemanfaatan layanan kesehatan. uji Chi Square digunakan untuk menganalisis korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat (α=0,05). Hasil studi menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p=0,018), aksesibilitas (p=0,011), kepemilikan jaminan kesehatan (p=0,002), dan peran keluarga (p=0,022) dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita diabetes melitus tipe 2. Diharapkan agar puskesmas rutin memberikan edukasi kepada pasien DM tipe 2 dan masyarakat dengan melakukan pendidikan kesehatan mengenai pencegahan dan pengelolaan DM tipe 2.
Individual and environmental risk factors for tuberculosis disease Simangunsong, Pahala Maringan Jubel; Wau, Herbert; Rusanti, Rina
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 2 (2023): December
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i2.4002

Abstract

This study aimed to analyse the association of individual and environmental factors with tuberculosis infection. The cross-sectional study was conducted in Puskesmas Sering, located in Medan Tembung subdistrict, North Sumatra, in November 2022. A total of 56 people were sampled in this study. Data were collected directly from the subjects by interview using a questionnaire sheet distributed to the respondents. Chi-square test was used to determine the significance of risk factors with tuberculosis disease. The results of the study showed that the prevalence of tuberculosis was 73.21%. The Chi Square test showed that all the risk factors such as age (0.002), gender (0.006), smoking habit (0.009), population density (0.014) and environmental sanitation (0.002) were significantly associated with tuberculosis disease.

Page 7 of 16 | Total Record : 154