cover
Contact Name
Fera Sartika
Contact Email
mohammadrizkifadhilpratama@gmail.com
Phone
+6287815093560
Journal Mail Official
lp2m@umpalangkaraya.ac.id
Editorial Address
Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Building B 1st Floor RTA Milono St. Km.1,5 Palangka Raya 73111 INDONESIA
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
ISSN : -     EISSN : 26226111     DOI : https://doi.org/10.33084/bjmlt.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology is a Scientific Journal managed by Department of Medical Laboratory Technology Faculty of Health Science Universitas Muhammadiyah Palangkaraya and published twice a year (in October and April) by Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, contains articles of research and critical-analysis studies in Blood-transfusion Science, Clinical Chemistry, Hematology, Histopathology, Immunology, Microbiology, Parasitology, Toxicology, Food and drink Analysis, Molecular Biology, and other Medical Laboratory aspects.
Articles 229 Documents
Review Literature: an Update Faktor Risiko dan Skrining Awal Retinopati Diabetik Asram, Andi; Hidayati , Prema Hapsari; Novriansyah , Zulfikri Khalil; Hasan, Hasan; Rahmah, Marlyanti Nur
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12249

Abstract

Retinopati diabetik (RD) merupakan komplikasi mikrovaskular serius dari diabetes melitus (DM) yang dapat menyebabkan kebutaan bila tidak dideteksi secara dini. Prevalensi RD di Indonesia cukup tinggi, mencapai 43,1% pada pasien DM tipe 2, dengan 26,1% di antaranya mengancam penglihatan. Penelitian ini menggunakan metode literature review terhadap 10 artikel ilmiah yang relevan, dipublikasikan antara 2020–2025, untuk mengidentifikasi faktor risiko utama RD dan menekankan pentingnya skrining awal. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor risiko paling konsisten adalah durasi DM, kadar HbA1c tinggi, hipertensi, serta jenis kelamin laki-laki. Penurunan HbA1c sebesar 1% dapat menurunkan risiko RD hingga 40%, sedangkan penurunan tekanan darah 10 mmHg menurunkan risiko sebesar 35%. Dislipidemia juga berperan, meskipun hasil penelitian terkait masih bervariasi. Skrining awal RD terbukti efektif mencegah kebutaan melalui deteksi dini menggunakan fotografi fundus, Optical Coherence Tomography (OCT), dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Integrasi skrining ke layanan primer dan pemanfaatan telemedicine direkomendasikan untuk menjangkau daerah dengan akses terbatas. Kesimpulannya, pengendalian faktor risiko dan skrining rutin merupakan strategi utama dalam pencegahan RD dan pengurangan beban kesehatan masyarakat.
Hubungan Asuhan Antenatal terhadap Kejadian Stunting Ifu, Ahda Triani; Nasaruddin , Hermiaty; Harahap, Muhammad Wirawan; M.Said , Masita Fujiko; Samosir, Abdi Dwiyanto Putra
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12250

Abstract

Stunting masih menjadi masalah gizi utama pada balita di Indonesia, dengan prevalensi yang cenderung meningkat di beberapa wilayah, termasuk Sulawesi Selatan. kondisi ini berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kesehatan jangka panjang anak. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap status gizi anak adalah kualitas asuhan antenatal. Pelayanan antenatal yang tidak sesuai standar terbukti meningkatkan risiko terjadinya stunting. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keteraturan asuhan antenatal yang dilakukan ibu selama kehamilan, untuk mengetahui kejadian stunting pada balita, serta untuk menganalisis hubungan antara asuhan antenatal dengan kejadian stunting. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian menunjukkan bahwa hanya 27,5% ibu yang melakukan asuhan antenatal secara teratur sesuai standar. Kejadian stunting pada balita masih tinggi yaitu sebesar 62,5%. Terdapat hubungan signifikan antara keteraturan asuhan antenatal dengan kejadian stunting (p = 0,000)), di mana ketidakteraturan kunjungan meningkatkan risiko gangguan gizi tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa keteraturan asuhan antenatal berperan penting dalam mencegah stunting. Ibu yang tidak melakukan kunjungan antenatal secara teratur memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan anak dengan gangguan gizi, sehingga pemenuhan pelayanan antenatal sesuai standar perlu diperkuat.
Hubungan Tekanan Darah terhadap Kejadian Retinopati Diabetik pada Pasien di Klinik Mata JEC Orbita Makassar Nurfadilla, Nurfadilla; Gayatri , Sri Wahyuni; Aulia, Nur; Rahmah, Marlyanti Nur; Maharani, Ratih Natasha
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12251

Abstract

Retinopati diabetik merupakan komplikasi diabetes melitus yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Hipertensi yang sering menyertai diabetes diduga berperan dalam kerusakan pembuluh darah retina. Meskipun beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tekanan darah dan kejadian retinopati diabetik, hasil yang diperoleh masih bervariasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan antara tekanan darah terhadap kejadian retinopati diabetik pada pasien di Klinik Mata JEC Orbita Makassar. Jenis penelitian ini merupakan penelitian Analitik dengan menggunakan desain cross sectional berupa data rekam medis yang didapatkan dari Klinik Mata JEC Orbita Makassar. Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tekanan darah dan kejadian retinopati diabetik pada pasien di Klinik Mata JEC Orbita Makassar (p = 0,023). Peningkatan tekanan darah berhubungan dengan meningkatnya tingkat keparahan retinopati diabetik, di mana pasien dengan hipertensi derajat I–III lebih banyak mengalami retinopati diabetik proliferatif dibandingkan pasien dengan tekanan darah normal atau optimal. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tekanan darah dan kejadian retinopati diabetik, di mana tekanan darah yang lebih tinggi berkaitan dengan tingkat keparahan retinopati diabetik yang lebih berat pada pasien di Klinik Mata JEC Orbita Makassar.
Prevalensi Kelainan Refraksi pada Anak SD Inpres Tangkala 2 Makassar Dewan, Nur Syamsih; Rahmah, Marlyanti Nur; Jafar, Muh Alfian; K, Sri Irmandha; Namirah, Hanna Aulia
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12280

Abstract

Gangguan refraksi merupakan penyebab utama gangguan penglihatan pada anak yang dapat dicegah dan ditangani, namun masih banyak yang tidak terdeteksi. Di Sulawesi Selatan, angka kebutaan akibat gangguan refraksi tergolong tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi kelainan refraksi pada anak SD Inpres Tangkala 2 Makassar, dan untk mengetahui jenis-jenis kelainan refraksi pada anak SD Inpres Tangkala 2 Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan desain peneltian yang digunakan adalah studi cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kelainan refraksi pada siswa SD Inpres Tangkala 2 Makassar sebesar 27,8%, sedangkan 72,2% siswa memiliki refraksi normal. Jenis kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan adalah astigmatisme (64%), diikuti miopia (36%), dan tidak ditemukan kasus hipermetropia. Maka dapat disimpulkan bahwa kelainan refraksi masih ditemukan pada sebagian siswa, dengan astigmatisme sebagai jenis yang paling dominan, sehingga diperlukan deteksi dini untuk mencegah gangguan penglihatan lebih lanjut.
Hubungan Penurunan Fungsi Pendengaran dengan Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia di Puskesmas Pertiwi Makassar Zacky, Achmad Fauzan; Jaya, Muhammad Alim; Pratama, Ahmad Ardhani; Sanna, Andi Tenri; Abidin, Mohammad Reza Zainal
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12313

Abstract

Peningkatan jumlah lanjut usia di Indonesia diikuti oleh meningkatnya masalah kesehatan terkait penuaan, termasuk penurunan fungsi pendengaran dan fungsi kognitif. Gangguan pendengaran merupakan kondisi yang sering terjadi pada lansia dan diketahui dapat memengaruhi kemampuan komunikasi serta kemandirian. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penurunan fungsi pendengaran berhubungan dengan percepatan penurunan fungsi kognitif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis gangguan penurunan pendengaran pada lanjut usia, untuk mengetahui fungsi kognitif pada lanjut usia, serta untuk menganalisis hubungan gangguan penurunan pendengaran dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mengalami gangguan pendengaran tipe sensorineural dan menunjukkan penurunan fungsi kognitif, terutama pada kategori gangguan kognitif berat. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan penurunan pendengaran dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Maka dapat disimpulkan bahwa gangguan pendengaran tipe sensorineural dan penurunan fungsi kognitif banyak ditemukan pada lansia, namun penurunan fungsi pendengaran tidak berhubungan secara signifikan dengan fungsi kognitif.
Uji Aktivitas Antikolesterol Ekstrak Jamu Pahitan terhadap Mencit (Mus musculus) Hiperkolesterol Azhari, Charisa Maylani Putri; Aina, Ganea Qorry; Kusumawati, Nursalinda; Azahra, Sresta
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12352

Abstract

Kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi ini memicu terjadinya aterosklerosis, yaitu penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak lemak yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Salah satu ramuan tradisional yang digunakan secara turun-temurun untuk membantu mengatasi hiperkolesterolemia adalah jamu pahitan, yang terdiri atas sambiloto, brotowali, meniran, kumis kucing, daun salam, dan temulawak. Tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, tanin, dan kurkumin yang berpotensi menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antikolesterol ekstrak jamu pahitan terhadap mencit jantan (Mus musculus) yang diinduksi hiperkolesterolemia. Desain penelitian yang digunakan adalah True Experimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Sebanyak 25 ekor mencit jantan dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif, kontrol positif (simvastatin), serta tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak jamu pahitan masing-masing 200, 400, dan 600 mg/kg BB. Kadar kolesterol diukur pada hari ke-0, ke-5, ke-10, dan ke-15 menggunakan alat Point of Care Testing (Fora 6 Plus). Hasil menunjukkan bahwa dosis 200 mg/kg BB memberikan penurunan kadar kolesterol paling tinggi, yaitu sebesar 31,13%. Uji statistik Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan Mann-Whitney menggunakan koreksi Bonferroni menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kontrol negatif dengan seluruh kelompok perlakuan (p < 0,05). Dengan demikian, ekstrak jamu pahitan terbukti memiliki aktivitas antikolesterol dengan dosis optimal pada 200 mg/kg BB.
Analisis Resistensi Antibiotik di RSUP Wahidin Sudirohusodo Tahun 2023-2024 Anandhita, Anandhita; Muchtar, Amrizal; Zainal, Mohammad Reza; Gayatri, Sri Wahyuni; Reza, Darariani Iskandar
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12355

Abstract

Resistensi antibiotik saat ini menjadi ancaman serius global terhadap efektivitas pengobatan infeksi bakteri, dengan dampak berupa kegagalan pengobatan, kebutuhan obat alternatif yang lebih mahal dan aman, peningkatan angka kesakitan dan kematian, perpanjangan rawat inap, serta biaya layanan kesehatan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran resistensi antibiotik berdasarkan hasil uji sensitivitas (kategori Sensitif, Intermediate, dan Resisten) dari RSUP Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2023–2024, serta menganalisis hubungan antara jenis bakteri dan pola resistensinya. Penelitian kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional ini menggunakan data sekunder hasil kultur dan uji sensitivitas antibiotik; sampel dipilih dengan total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan distribusi bakteri dan pola resistensi yang bervariasi antar rumah sakit; bakteri Gram negatif memperlihatkan resistensi terutama terhadap antibiotik beta-laktam tertentu dan fluorokuinolon, dengan sensitivitas relatif pada karbapenem dan aminoglikosida. Bakteri Gram positif menunjukkan sensitivitas yang baik terhadap vancomycin dan linezolid, namun resistensi terhadap penicillin, makrolida, dan tetrasiklin masih ditemukan pada sebagian isolat. Pada Mycobacterium tuberculosis, sebagian besar isolat sensitif terhadap rifampicin, tetapi terdapat pula respons intermediate dan resisten. Secara keseluruhan, pola resistensi di rumah sakit bersifat heterogen dan spesifik terhadap jenis bakteri, sehingga penggunaan data antibiogram lokal penting sebagai dasar pemilihan terapi antibiotik yang rasional.
Karakteristik Pasien Systemic Lupus Erythematosus di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar 2020–2023 Anugrah, Muh. Arya; Nasaruddin, Hermiaty; Gayatri, Sri Wahyuni; Abdi, Dian Amelia; Yunita, Lisa
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12388

Abstract

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis dengan manifestasi klinis dan komplikasi yang beragam, sehingga pemetaan karakteristik pasien diperlukan untuk mendukung deteksi dini dan penatalaksanaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik pasien SLE di Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar periode 2020–2023. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan data sekunder rekam medis dan teknik total sampling. Sampel penelitian berjumlah 18 pasien yang memenuhi kriteria. Variabel yang dianalisis meliputi jenis kelamin, usia, manifestasi klinis, komplikasi, riwayat terapi, dan riwayat keluarga SLE. Hasil penelitian menunjukkan seluruh pasien berjenis kelamin perempuan (100,00%); kelompok usia terbanyak >40 tahun (66,66%); manifestasi klinis tersering adalah muskuloskeletal (50,0%); komplikasi tersering adalah nefritis lupus (27,77%); terapi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi imunosupresan dan kortikosteroid (55,56%); dan mayoritas pasien tidak memiliki riwayat keluarga SLE (66,66%). Disimpulkan bahwa pasien SLE pada periode penelitian didominasi perempuan usia >40 tahun dengan manifestasi muskuloskeletal, komplikasi nefritis lupus, serta penggunaan terapi kombinasi imunosupresan-kortikosteroid.
Karakteristik Pasien dengan Dehisensi Luka Post Laparotomi di RS Ibnu Sina Makassar Tahun 2021-2025 Putri, Waode Khusnul Khotimah; Juhamran , Reeny Purnamasari; Tahir , Akina Maulidhany; Gani , Azis Beru; Kurniawan, Agung
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12420

Abstract

Dehisensi luka merupakan komplikasi pascaoperasi akibat gangguan penyembuhan luka yang sering terjadi pada pasien post laparatomi. Risiko dehisensi dipengaruhi oleh faktor infeksi, kondisi pasien, dan karakteristik luka operasi. Tingginya angka tindakan laparatomi menunjukkan pentingnya pencegahan komplikasi pascaoperasi. Namun, data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya dehisensi luka pada pasien post laparatomi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Kejadian Dehisensi Luka pada Pasien setelah Menjalani Operasi Laparotomi di Rumah Sakit Ibnu Sina. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Hasil penelitian ini berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dehisensi luka pada pasien post laparatomi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar, meliputi usia 46–55 tahun, riwayat merokok, adanya komorbid, tindakan laparatomi emergensi, kadar hemoglobin rendah, kadar albumin rendah, serta adanya infeksi luka operasi. Maka dapat disimpulkan bahwa dehisensi luka pasca laparatomi dipengaruhi oleh faktor usia, kondisi klinis pasien, status nutrisi, jenis tindakan operasi, dan infeksi luka operasi, yang secara bersama-sama menghambat proses penyembuhan luka dan meningkatkan risiko terjadinya dehisensi.
Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Perkembangan Karakter Mahasiswa Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Periode 2025 Batariola, Nurfi Tarissyah; Mokhtar, Shulhana; Harahap, Muhammad Wirawan; Makmun, Armanto; Aisyah, Windy Nadia
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12421

Abstract

Organisasi kemahasiswaan, khususnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), berperan penting dalam pengembangan karakter mahasiswa melalui pembentukan nilai tanggung jawab, kepemimpinan, kedisiplinan, dan religiusitas. Dalam pendidikan kedokteran, penguatan karakter dan kompetensi non-akademik sejalan dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Budaya organisasi yang positif terbukti berkontribusi terhadap pembentukan karakter dan motivasi mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Organisasi Terhadap Perkembangan Karakter Mahasiswa Pengurus BEM Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Desain penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif, metode penelitian yang diambil adalah rancangan penelitian observasi analitik dengan desain penelitian potong lintang (cross-sectional). Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap perkembangan karakter mahasiswa pengurus BEM Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Budaya organisasi berkontribusi nyata dalam membentuk karakter disiplin, religius, kepemimpinan, dan tanggung jawab mahasiswa, sehingga tujuan umum penelitian untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap perkembangan karakter mahasiswa pengurus BEM FK UMI telah tercapai. Dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perkembangan karakter mahasiswa pengurus BEM Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia, khususnya pada aspek disiplin, religius, kepemimpinan, dan tanggung jawab.