cover
Contact Name
Fera Sartika
Contact Email
mohammadrizkifadhilpratama@gmail.com
Phone
+6287815093560
Journal Mail Official
lp2m@umpalangkaraya.ac.id
Editorial Address
Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Building B 1st Floor RTA Milono St. Km.1,5 Palangka Raya 73111 INDONESIA
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
ISSN : -     EISSN : 26226111     DOI : https://doi.org/10.33084/bjmlt.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology is a Scientific Journal managed by Department of Medical Laboratory Technology Faculty of Health Science Universitas Muhammadiyah Palangkaraya and published twice a year (in October and April) by Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, contains articles of research and critical-analysis studies in Blood-transfusion Science, Clinical Chemistry, Hematology, Histopathology, Immunology, Microbiology, Parasitology, Toxicology, Food and drink Analysis, Molecular Biology, and other Medical Laboratory aspects.
Articles 229 Documents
Studi Korelasi antara Konsumsi Kopi dengan Parameter Hematologis (Leukosit dan Eritrosit) Pratiwi, Chalies Diah; Hermawati, Andyanita Hanif; Fu’ana , Yan; Ulya, Nala Fidarotul
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.10768

Abstract

Kopi adalah minuman yang sangat populer dan dikonsumsi secara luas di seluruh dunia, mengandung senyawa bioaktif seperti kafein, asam klorogenat, dan polifenol yang dapat memengaruhi respons imun dan inflamasi. Senyawa ini juga berpotensi memengaruhi fisiologi darah, seperti proses eritropoiesis, terutama karena tanin dalam kopi dapat menurunkan ketersediaan zat besi non-heme. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kebiasaan konsumsi kopi dengan jumlah leukosit dan eritrosit. Dengan menggunakan analisis korelasi Pearson, data konsumsi kopi, yang dikelompokkan menjadi 3 gelas per hari dan lebih dari 3 gelas per hari, dianalisis terhadap jumlah leukosit dan eritrosit. Hasilnya menunjukkan korelasi yang sangat lemah dan tidak signifikan secara statistik antara konsumsi kopi dengan jumlah leukosit (r = 0,108, p = 0,632) dan eritrosit (r = 0,073, p = 0,745). Temuan ini konsisten dengan studi-studi sebelumnya yang melaporkan efek minimal atau tidak konsisten dari konsumsi kopi terhadap parameter hematologis. Oleh karena itu, hubungan antara konsumsi kopi dan parameter hematologis seperti jumlah leukosit dan eritrosit tidak terbukti signifikan dalam penelitian ini.
Gambaran Pengelolaan Limbah Laboratorium Patologi Anatomi di RSUD Panembahan Senopati Bantul Fauziah, Anis Putri; Rahmawati, Yeni; Nailufar, Yuyun
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.10958

Abstract

Laboratorium patologi anatomi menghasilkan limbah medis padat dan cair dapat membahayakan kesehatan manusia serta mencemari lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat. Pengelolaan limbah menjadi aspek penting dalam sistem pelayanan kesehatan yang aman dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengelolaan limbah laboratorium patologi anatomi di Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul dan membandingkannya dengan standar nasional berdasarkan Permenkes Nomor 18 Tahun 2020. Metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasional. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada lima responden yang terdiri dari petugas Ahli Teknologi Laboratorium Medis, petugas kebersihan dan pengawas, serta observasi langsung pada lokasi laboratorium. Data dianalisis secara manual menggunakan metode deskriptif dan dibandingkan dengan ketentuan regulasi nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pengurangan dan pemilahan, pengangkutan internal serta penyimpanan sementara limbah telah dilakukan sesuai ketentuan. Pengolahan internal belum dilaksanakan secara optimal sesuai dengan metode non-insenerasi yang diarahkan dikarenakan langsung dikirim ke pihak ketiga. Secara keseluruhan, limbah laboratorium ini dikelola dengan baik. Namun, pengolahan internal masih perlu ditingkatkan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa sebagian besar aspek pengelolaan limbah telah sesuai regulasi, tetapi pengolahan internal perlu ditingkatkan agar sistem pengolahan limbah lebih komprehensif.
Gambaran Karboksihemoglobin (COHb) Pada Pengrajin Genteng di Desa Urek-Urek Kecamatan Gondang Legi Kabupaten Malang Hidhayah, Nurul; Rahmawati, Previta Zeizar; Mahtuti, Erni Yohani
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.11084

Abstract

Karboksihemoglobin (COHb) merupakan gas beracun yang terbentuk dari proses pembakaran yang tidak sempurna. Pengrajin Genteng merupakan seseorang yang berada di lingkungan industri yang melakukan proses pembuatan sampai proses pembakaran hingga menjadi genteng sehingga berpotensi terpaparnya CO yang berikatan dengan hemoglobin yang akhirnya menjadi COHb. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar karboksihemoglobin pada pengrajin genteng. Jenis penelitian ini deskriptif analitik, teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan menggunakan alat spektrofotometer UV - Vis dan analisis korelasi pearson. Hasil penelitian pada 20 orang pengrajin genteng didapatkan nilai rentang COHb sebesar 4,92% - 7,53% melebihi nilai normal kadar COHb <3,5%. Hasil uji korelasi pearson kadar COHb dengan lama merokok memperoleh nilai r = 0,322 dan nilai p sebesar 0,166 atau >0,05 yang menunjukkan bahwa lama merokok dengan kadar COHb tidak berhubungan, sedangkan hasil uji korelasi pearson kadar COHb dengan lama bekerja memperoleh nilai r = 0,578 dan nilai p sebesar 0,008 atau <0,05 yang berarti interval korelasi sedang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar COHb dengan lama bekerja.
Identifikasi Mycobacterium Tuberculosis dengan Pemeriksaan Mikroskopis pada Penderita TB Paru di RSUD Sultan Sulaiman Tahun 2025 Dachi , Juliawati Simaenaria; Hia, Elvi Sri Ristiani; Bangun, Seri Rayani
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.11832

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Infeksi tuberkulosis dapat menyerang berbagai organ tubuh manusia, yang terbanyak adalah paru (70–80%). Target global dan milstone penurunan insiden TBC dan kematian TBC telah ditetapkan sebagai bagian dari SDGs dan End TBC Strategi TBC pada akhir tahun 2030 yaitu  penurunan 90%. Oleh karena itu pemeriksaan identifikasi Mycobacterium tuberculosis perlu dilakukan untuk penegakan diagnosa TB Paru. Adapun tujuannya untuk mengetahui jenis gram, bentuk, dan jumlah Mycobacterium tuberculosis dari sampel sputum pada penderita TB Paru dengan pewarnaan ziehl neelsen di RSUD Sultan Sulaiman tahun 2025. Metode yang digunakan deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 14 orang. Dari pemeriksaan yang dilakukan ditemukan jenis gram Mycobacterium tuberculosis gram positif sebanyak 14, Mycobacterium tuberculosis berbentuk basil, jumlah dari 14 sampel maka indeks bakteri +1 pada 9 sampel (64.2%), indeks bakteri +2 pada 3 sampel (21.42%), indeks bakteri +3 pada 2 sampel (14.28%). Perlu dilakukan pemeriksan Mycobacterium tuberculosis dengan metode TCM.
Analisis Pengaruh Pemberian Gel Lidah Buaya terhadap Penyembuhan Luka pada Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Aloksan Sunge, Shania Fadila; Juhamran , Reeny Purnamasari; Anggita, Dwi; Iskandar , Darariani; Hasbi , Berry Erida
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.11865

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik dengan hiperglikemia yang dapat menghambat proses penyembuhan luka. Luka sayat pada penderita DM berisiko mengalami penyembuhan yang lambat dan infeksi. Lidah buaya (Aloe vera) memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, analgesik, dan hipoglikemik serta mengandung glukomanan yang dapat merangsang proliferasi fibroblas dan produksi kolagen. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lidah buaya efektif mempercepat penyembuhan luka pada kondisi diabetes melalui peningkatan regenerasi jaringan dan penurunan stres oksidatif. Oleh karena itu, lidah buaya berpotensi sebagai terapi alternatif dalam penyembuhan luka pada penderita DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap penyembuhan luka yang di induksi aloksan (1 dan 2), untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap penyembuhan luka yang di induksi aloksan (3 dan 4), untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap penyembuhan luka yang di induksi aloksan (1 dan 3), untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka antara kelompok pemberian gel lidah buaya dengan tidak pada mencit yang di induksi aloksan, dan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka antara kelompok pemberian gel lidah buaya dengan tidak pada mencit yang di induksi aloksan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan desain penelitian Posttest Control Group Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian gel lidah buaya menunjukkan kecenderungan mempercepat penyembuhan luka pada fase awal, baik pada luka yang diinduksi aloksan maupun luka sayat pada mencit yang tidak diinduksi aloksan. Kelompok yang diberi gel lidah buaya memiliki ukuran luka yang lebih kecil dibandingkan kelompok tanpa gel, dengan penyembuhan paling lambat ditemukan pada kelompok luka yang diinduksi aloksan tanpa perlakuan. Perbandingan antar kelompok (1–2, 3–4, 1–3) menunjukkan adanya perbaikan klinis pada kelompok perlakuan, namun uji Mann–Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik (p > 0,05). Pada luka sayat, efek gel lidah buaya kurang menonjol pada fase akhir penyembuhan karena regenerasi jaringan yang berlangsung cepat secara alami. Dapat disimpulkan bahwa gel lidah buaya berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka, terutama pada fase awal luka pada mencit yang diinduksi aloksan, namun pengaruh tersebut belum menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik dibandingkan tanpa pemberian gel.
Stabilitas Spesimen Urine Positif Amfetamin yang Diawetkan dengan Kitosan Febriani, Riska; Nurmalasari, Ary; Ridla Firdaus, Nabil; Setiawan, Doni
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.11907

Abstract

Amfetamin merupakan salah satu napza golongan psikotropika golongan II dengan potensi penyalahgunaan tinggi. Spesimen urine yang menggandung amfetamin banyak digunakan untuk dalam pemeriksaan toksikologi klinik dan forensik. Stabilitas analit selama penyimpanan menjadi faktor kritis terhadap keakuratan hasil. Degradasi senyawa aktif dalam urine dapat terjadi akibat pengaruh mikroorganisme, sehingga diperlukan pengawet alternatif yang aman dan efektif. Kitosan, yang merupakan polimer alami dengan kemampuan antimikroba, memiliki kemungkinan untuk dijadikan pengawet alternatif guna memperpanjang stabilitas amfetamin dalam urine. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kitosan 0% dan 2% dalam mempertahankan stabilitas amfetamin pada spesimen urine pada suhu ruang 25–27 °C dan suhu 2–8 °C selama empat minggu.   Metode penelitian ini adalah eksperimen murni (true experimental design) dengan enam kelompok perlakuan dan dua kali pengulangan per kelompok (n=2). Spesimen urine positif amfetamin diperiksa dengan menggunakan rapid test imunokromatografi. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis setelah uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi tidak normal (p=0,006). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antarkelompok perlakuan (p=0.960). Namun, penambahan kitosan 1% dan 2% pada suhu 2–8 °C mampu mempertahankan stabilitas hingga minggu kedua. Sedangkan tanpa dan dengan penambahan kitosan 1% dan 2% pada suhu ruang 25–27 °C hanya stabil hingga 1 minggu. Disimpulkan bahwa penambahan kitosan pada suhu 2–8 °C memperpanjang durasi stabilitas amfetamin di dalam spesimen urine.
Uji Diagnostik Polymerase Chain Reaction dibandingkan dengan Pewarnaan Eosin dalam Mendeteksi Infeksi Soil-Transmitted Helminths pada Siswa Sekolah Dasar di Palembang Ghiffari, Ahmad; Ridha, Muhammad Faiz; Pratiwi, Ratih; Hartanti, Miranti Dwi; Faradila, Faradila
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12030

Abstract

Soil-transmitted helminthiasis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada anak sekolah dasar di wilayah dengan sanitasi yang kurang memadai. Pemeriksaan mikroskopis feses masih banyak digunakan karena sederhana dan murah, namun memiliki keterbatasan pada infeksi dengan intensitas rendah. Metode molekuler seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) dikembangkan untuk meningkatkan deteksi, tetapi kinerjanya pada setting lokal masih perlu dievaluasi. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan desain cross-sectional yang melibatkan 30 sampel tinja siswa sekolah dasar. Pemeriksaan dilakukan menggunakan pewarnaan langsung dengan eosin (PLDE) sebagai metode rujukan dan PCR. Analisis dilakukan menggunakan tabel 2×2 untuk menentukan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif (PPV), nilai prediktif negatif (NPV), dan akurasi. DSE menunjukkan 8 dari 30 sampel (26,7%) positif, terdiri dari Ascaris lumbricoides (7 sampel) dan Trichuris trichiura (1 sampel). PCR mendeteksi DNA Ascaris lumbricoides pada 11 sampel (36,7%), tanpa deteksi Trichuris trichiura maupun hookworm. Dibandingkan metode rujukan, PCR memiliki sensitivitas 62,5%, spesifisitas 72,72%, PPV 45,45%, NPV 84,21%, dan akurasi 70%. PCR menunjukkan kinerja diagnostik sedang dan berpotensi sebagai metode pelengkap, terutama untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi. Namun, PCR belum mampu mendeteksi seluruh spesies STH yang teridentifikasi secara mikroskopis. Penggunaannya perlu mempertimbangkan kesiapan laboratorium, kualitas sampel, dan kemampuan deteksi spesies. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel lebih besar, target molekuler lebih luas, multiplex PCR, dan metode rujukan yang lebih komprehensif.
Hubungan Nilai Immature Platelet Fraction (IPF) Dengan Kejadian Trombositopenia Pada Pasien Demam Berdarah Dengue Baihaki, Ichwan; Aprilicia, Gita
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12150

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan utama di negara tropis dengan manifestasi khas trombositopenia, namun mekanisme dan respon sumsum tulang terhadap penurunan trombosit belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam praktik klinis. Immature Platelet Fraction (IPF) menggambarkan fraksi trombosit muda di sirkulasi dan berpotensi menjadi penanda tidak langsung trombopoiesis pada trombositopenia terkait infeksi dengue. Tujuan penelitian ini enilai hubungan nilai IPF dengan kejadian trombositopenia pada pasien DBD dengan antigen NS1 positif serta membandingkan nilai IPF pasien DBD dan non DBD. Studi deskriptif analitik menggunakan data sekunder laboratorium dari 14 pasien DBD dengan trombositopenia dan 14 subjek sehat sebagai kontrol di Rumah Sakit Yarsi Jakarta, periode November 2024-Maret 2025; pemeriksaan DENV dilakukan dengan uji cepat antigen NS1 dan IgM/IgG, sedangkan IPF diukur menggunakan Sysmex XN‑1000, kemudian dianalisis dengan uji T independen dan uji korelasi Pearson. Hasil rerata IPF pasien DBD adalah 8,5% (SD 2,34) dan pasien non DBD 2,3% (SD 1,36) dengan perbedaan bermakna (p<0,05), serta 93% pasien DBD dengan trombositopenia menunjukkan IPF tinggi. Terdapat korelasi negatif yang kuat dan signifikan antara jumlah trombosit dan IPF (p<0,05; r = -0,79), yang menunjukkan bahwa penurunan trombosit berkaitan dengan peningkatan IPF. Nilai IPF meningkat secara bermakna pada pasien DBD dengan trombositopenia dan berkorelasi kuat dengan penurunan jumlah trombosit, sehingga IPF berpotensi digunakan sebagai indikator laboratorium untuk memantau trombositopenia dan respon trombopoiesis pada DBD.
Uji Efektivitas Infusa Daun Kelor (Moringa oleifera) terhadap Kadar Glukosa Darah pada Tikus Putih (Rattus novergicus) dengan Obesitas K, Cecy Anggriani H.; Irmayanti, Irmayanti; Maharani, Ratih Natasha; Kamaluddin , Irna Diyana Kartika; Ansary , Suci Noviyanah
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12232

Abstract

Obesitas berhubungan erat dengan hiperglikemia dan peningkatan risiko diabetes melitus, yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia. Terapi farmakologis seperti metformin efektif menurunkan glukosa darah, namun penggunaan jangka panjang memiliki keterbatasan. Daun kelor (Moringa oleifera) mengandung senyawa bioaktif dan antioksidan yang berpotensi sebagai terapi nonfarmakologis penurun glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas infusa daun kelor (Moringa oleifera) terhadap penurunan kadar glukosa darah  pada tikus putih (Rattus novergicus) dengan obesitas. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif metode eksperimental laboratories dengan menggunakan desain penelitian pre and post test control group design dengan menggunakan tikus putih (Rattus novergicus) yang obesitas sebagai hewan coba untuk mengetahui efek dari pemberian infusa daun kelor (Moringa oleifera) terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus putih yang obesitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infusa daun kelor (Moringa oleifera) pada tikus putih (Rattus norvegicus) obesitas menyebabkan penurunan kadar glukosa darah secara signifikan dibandingkan kelompok tanpa perlakuan. Efektivitas penurunan glukosa darah meningkat seiring dengan peningkatan dosis, dengan dosis 800 mg/KgBB menunjukkan penurunan kadar glukosa darah paling besar dan sebanding dengan pemberian metformin. Dapat disimpulkan bahwa infusa daun kelor (Moringa oleifera) efektif menurunkan kadar glukosa darah pada tikus putih obesitas, dengan dosis 800 mg/KgBB sebagai dosis paling optimal.
Efek Pemberian Ekstrak Rebusan Teh Hijau (Camellia sinensis) terhadap Profil Lipid pada Mencit (Mus musculus L.) Dahlan, Muhammad Rifky Adani; Royani, Ida; Samosir , Abdi Dwiyanto Putra; Safitri, Asrini; Hamzah , Pratiwi Nasir
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12233

Abstract

Dislipidemia merupakan faktor utama terjadinya aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular, yang menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Terapi statin efektif menurunkan lipid, namun memiliki efek samping seperti myalgia serta gangguan fungsi hati dan ginjal. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi yang lebih aman. Teh hijau (Camellia sinensis) mengandung senyawa antioksidan yang berpotensi memperbaiki profil lipid. Namun, penelitian mengenai efek rebusan teh hijau varietas lokal Sulawesi terhadap profil lipid masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar kolesterol total pada darah mencit sebelum dan setelah pemberian ekstrak rebusan teh hijau (Camellia sinensis), untuk mengukur kadar trigliserida pada darah mencit sebelum dan setelah pemberian ekstrak rebusan teh hijau (Camellia sinensis), untuk mengukur kadar HDL dan LDL pada darah mencit setelah pemberian ekstrak rebusan teh hijau (Camellia sinensis), dan untuk menilai efek pemberian ekstrak rebusan teh hijau (Camellia sinensis) terhadap penurunan kolesterol total, trigliserida dan LDL serta peningkatan kadar HDL pada darah mencit perlakuan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental murni (true experimental). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak rebusan teh hijau (Camellia sinensis) pada mencit dengan diet tinggi lemak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap profil lipid. Dibandingkan kelompok kontrol, kelompok perlakuan mengalami penurunan bermakna kadar trigliserida dan LDL, sementara kadar kolesterol total dan HDL tetap stabil. Analisis statistik menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan pada seluruh parameter lipid, yang mengindikasikan efek hipolipidemik dari ekstrak rebusan teh hijau. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak rebusan teh hijau (Camellia sinensis) berpotensi memperbaiki profil lipid dengan menurunkan kadar trigliserida dan LDL serta mempertahankan kadar kolesterol total dan HDL dalam batas normal pada mencit dengan diet tinggi lemak. Efek ini diduga berkaitan dengan aktivitas antioksidan senyawa katekin dan polifenol, sehingga teh hijau berpotensi sebagai terapi alternatif pendukung dalam pencegahan dislipidemia.