Missio Ecclesiae
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles
147 Documents
Penggunaan Yesaya 7:14 oleh Matius Sebagai Nas Profetik Mesianik Kelahiran Yesus: Studi Intertekstual
Saputra, Gilbeth Pramana;
Siahaan, Yosef Yunandow
Missio Ecclesiae Vol 13 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v13i2.291
Melalui Artikel ini. Penulis menganalisis dan membagikan hasil penelitian penggunaan Yesaya 7:14 dalam Matius 1:23. Penggunaan Yesaya 7:14 oleh Matius memiliki kesulitan untuk memahami makna pengutipan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitiatif, khususnya studi pustaka yang melibatkan tahap analisis konteks, kutipan dan teologis. Maksud penggunaan Yesaya 7:14 yang dilakukan Matius yaitu: Pertama, Yesaya 7:14 merupakan nas profetik yang berbicara akan kedatangan Mesias melalui seorang Perawan sehingga ayat itu harus dipahami memiliki penggenapan. Natur makna Yesaya 7:14 ialah single meaning, unified referent. Kedua, Matius memberitahu pembaca Injilnya bahwa Yesus adalah Raja yang dijanjikan untuk meneruskan eksistensi dinasti Daud yang dijanjikan Allah dalam Yesaya 7:14. Ia adalah Raja yang memiliki rasa takut akan Allah, berhikmat, adil dan pemerintahan di atas taktha Daud bahkan dunia tidak akan berkesudahan. Ketiga, Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah sekaligus Allah itu sendiri yang menjadi Mesias. Penyematan nama Imanuel pada diri Yesus mengindikasikan natur-Nya adalah pribadi sang Ilahi yang sama yang juga turut menyertai bangsa Yehuda di masa krisis. Allah yang menjadi Mesias. Singkatnya, Yesaya 7:14 adalah nubuat yang telah digenapi hanya melalui peristiwa di Matius 1:23. Dinasti Davidik diteruskan dalam kehidupan Yesus sebagai penggenapan yang sejati.
Pentingnya Penginjilan Terhadap Orang Yang Terlibat Okultisme Dalam Kisah Para Rasul 19: 1-20
Sibagariang, Julius Stefanus;
Sitepu, Sigit Haryanto
Missio Ecclesiae Vol 13 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v13i2.304
Penginjilan memiliki peran krusial dalam membantu jemaat memahami dan menghindari praktik okultisme. Okultisme, yang berasal dari kata "occult" (gelap, tersembunyi) dan "isme" (paham), merujuk pada kepercayaan terhadap kekuatan gaib di luar kuasa Tuhan. Kepercayaan ini sering mengarah pada praktik-praktik yang melibatkan roh-roh dan kekuatan supernatural, seperti mitos, perbintangan, dan ritual adat yang dapat menjebak individu dalam kuasa kegelapan. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana penginjilan dapat mencegah keterlibatan jemaat dalam okultisme dengan menekankan pentingnya pemahaman dan pengajaran yang benar tentang hal tersebut. Teks Kisah Para Rasul 19:1-20 dijadikan dasar untuk menganalisis penginjilan Paulus dalam menghadapi praktik okultisme di Efesus. Melalui survei terhadap penelitian-penelitan terdahulu, tampaknya belum ada yang mengkaitkan teks Kisah Para Rasul 19:1-20 dengan pentingnya penginjilan terhadap praktik okultisme. Penelitian ini menggunkana metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, serta metode hermeneutik untuk menganalisi teks Alkitab. Penelitian ini menemukan bahwa penginjilan tidak hanya penting untuk menyebarkan Injil tetapi juga untuk mengatasi tantangan kontemporer seperti okultisme. Melalui metode penelitian kualitatif pendekatan kepustakaan, juga diperkaya dengan hermeneutika analisis deskriptif, penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja perlu mengintegrasikan pentingnya penginjilan terhadap orang-orang yang terlibat praktik okultisme.
Kajian tentang Pentingnya Kualifikasi Keahlian Seorang Gembala Sidang dalam Melaksanakan Pelayanan Pastoral berdasarkan Surat Titus
Nap, John Jonathan;
Leiwakabessy, Theresya Maritza;
Suripatty, Legia
Missio Ecclesiae Vol 13 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v13i2.306
Tugas pastoral yang dilaksanakan oleh seorang penatua atau yang juga dikenal sebagai penilik jemaat oleh rasul Paulus, disebut sebagai ‘pekerjaan yang indah’ (1 Tim. 3:1), namun mengandung tanggungjawab yang besar. Ada tiga kualifikasi yang perlu di kembangkan oleh seorang penatua (gembala sidang) agar tugas yang diembannya dapat berjalan dengan baik yaitu kualifikasi spiritual (moral dan etika), kualifikasi intelektual (akademis/pengetahuan) dan kualifikasi keahlian (keterampilan). Oleh karena banyak kajian telah dilakukan untuk membahas pentingnya kualifikasi spiritual dan kualifikasi intelektual dari seorang penatua berdasarkan surat-surat pastoral, maka penelitian ini dilakukan secara khusus untuk membahas pentingnya kualifikasi keahlian bagi seorang penatua berdasarkan Surat Paulus kepada Titus. Penelitian ini juga akan fokus kepada Titus akan menjadikannya sebagai model pemimpin rohani dengan kualifikasi keahlian yang memadai yang membuat ia efektif dalam penggembalaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research melalui langkah-langkah biblical hermeneutic. Seorang gembala sidang tidak cukup hanya memiliki kualifikasi spiritual dan intelektual tetapi perlu mengembangkan diri dengan kualifikasi keahlian sehingga terampil dalam menangani pelayanan pastoral yang dipercayakan kepadanya.
Persepsi Gembala Jemaat Mengenai Pastoral Konseling
Talahatu, Samuel;
Michael, Michael;
Takaliuang, Jammes
Missio Ecclesiae Vol 13 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v13i2.315
Pastoral Konseling merupakan salah satu aspek penting di dalam pelayanan gereja. Pelayanan ini berkaitan dengan tugas penggembalaan dan lebih sering melakukan pendampingan kepada jemaat-jemaat yang memiliki masalah baik secara pribadi, keluarga bahkan juga pekerjaan dan lingkungan masyarakat. Pastoral Konseling menjadi bagian integral dari penggembalaan itu senidir. Melalui pelayanan ini jemaat dapat mengalami kedewasaan dan pertumbuhan rohani yang sehat. Jemaat lebih siap menghadapi masalah persoalan dan mengalami perubahan dalam hal karakter pada khususnya. Pelayanan pastoral konseling jarang terlihat dilakukan di Gereja Jemaat Kristus Indonesia “Mahanaim” Blitar, hal ini mendorong peneliti untuk meneliti dan memperoleh pengetahuan mengenai persepsi gembala jemaat mengenai pastoral konseling dan apa yang melatarbelakanginya. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti mengumpulkan data dan melakukan coding data serta menganalisis data wawancara tersebut mengunakan software Nvivo 12. Hasilnya persepsi gembala jemaat mengenai pastoral konseling adalah sebagai media pendampingan, membangun komunikasi gembala dengan jemaat, wadah perjumpaan jemaat dengan Kristus dan bentuk dari penggembalaan itu sendiri. Hasil penelitian ini telah diuji keabsahan data penelitiannya dengan menggunakan Uji Triangulasi Sumber dengan rumus uji Kappa Koefisien, dan memperoleh hasil sebesar 0,80 atau 80% tingkat kesesuaian jawaban informan. Sehingga tingkat kesesuaian sangat tinggi dan keabsahan data penelitian dapat dikatakan sangat valid.
Persoalan Hermeneutis tentang Konsep Allah Kaum Feminis Berdasarkan Perspektif Teologi Injili
Parimpasa, Samuel;
Blegur, Romelus;
Kotte, Yohanis;
Wahyudi, Hari
Missio Ecclesiae Vol 13 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v13i2.316
Teologi Feminis merupakan teologi yang dibangun berdasakan perspektif kaum Perempuan yang berdampak pada cara tefsir terhadap Alkitab. Prinsip hermeneutik atau penafsiran yang digunakan bertolak pada pengalaman konteks, sehingga otoritas teks Alkitab tidak dimutlakkan melainkan terbuka bagi kritik. Dari upaya tersebut, Allah pun kemudian ditafsir dari perspektif gender. Masalah inilah yang menjadi tujuan penelitian, sebab berdampak juga pada kekeliruan berteologi khususnya dari kalangan kaum Injili. Masalah yang disoroti di sini adalah terkait persoalan hermeneutis yang turut memengaruhi cara berteologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini adalah bahwa hermeneutik kaum feminis telah menyebabkan kekeliruan berteologi melalui metode pendekatan terhadap Alkitab yang tidak kredibel. Teologi feminis juga memakai Alkitab sebagai sumber yang mendukung asumsi teologi mereka, namun tidak dengan tujuan mempertahankan otoritasnya. Sebaliknya teks Alkitab dibiarkan terbuka bagi kemungkinan baru melalui kritik demi melayani kepentingan konteks. Feminisme menempatkan Alkitab dibawah perspektif pengalaman manusia, sehingga mendistorsi kewibawaannya. Hal tersebut bertolak belakang dengan kaum injili yang memegang teguh kemutlakan Alkitab sebagai firman Allah.
Kristologi Berdasarkan Injil Yohanes
Sianipar, Yohanes;
Takaliuang, Jammes J.;
Uling, Manintiro
Missio Ecclesiae Vol 14 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v14i1.309
Kristologi adalah doktrin Kristus mengenai Pribadi dan Karya-Nya. Kristologi merupakan ajaran yang fundamental dalam Kekristenan. Pusat penyembahan kekristenan adalah Kristus. Alkitab merupakan sumber utama dalam memahami kebenaran yang mutlak tentang Kristologi. Dalam Alkitab dijelaskan bahwa Yesus Kristus memiliki dua natur dalam satu Pribadi yaitu ilahi dan insani. Yesus adalah Allah dan manusia sejati. Sejarah Gereja mencatat tentang persoalan mengenai Dwi natur Kristus yang bertentangan dengan Alkitab yaitu ada yang menekankan Keilahian saja dan pihak yang lain hanya menekankan kemanusiaan-Nya saja. Dan sampai saat ini pun perdebatan tentang Kristologi masih terus menerus dikumandangkan. Penulis menggunakan metode deskriptif dengan mengumpulkan literatur untuk dapat mengetahui konsep Kristologi yang benar berdasarkan Injil Yohanes dan juga mengumpulkan data-data literatur agar mengetahui fakta-fakta tentang konsep kristologi yang berkembang. Selain itu juga penulis menggunakan metode hermeneutika dengan menggunakan pendekatan kajian gramatikal, konteks, dan sejarah dalam menafsirkan ayat-ayat yang ada di Injil Yohanes terkait dwi natur Kristus. Adapun tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengajaran Kristologi berdasarkan Injil Yohanes, supaya orang percaya memiliki konsep yang benar mengenai Kristologi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah berkenaan dengan Pra-eksistensi Yesus menyatakan: Keberadaan Yesus telah ada sejak pada mulanya, Yesus Kristus bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Allah, Yesus Kristus menjadikan atau menciptakan segala sesuatu dan eksistensi Yesus sudah ada sebelum Abraham ada. Yesus Kristus adalah Allah. Yesus Kristus Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Hak Prerogatif Ilahi Yesus Kristus menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang memberi kehidupan dan memiliki otoritas. Kesatuan Allah Bapa dan Yesus Kristus. sil penelitian karya ilmiah ini guna membentengi iman orang percaya terhadap pengajaran-pengajaran saksi Yehova, Gnostik dan polemikus-polemikus islam yang tidak meyakini akan dwi natur Kristus.
Penerapan Metode Kateketika sebagai Strategi untuk Memotivasi Peningkatan Kunjungan Pastoral oleh Pengerja Gereja
Wong, Fingfing Keren Grace;
Hermanto, Yanto Paulus
Missio Ecclesiae Vol 14 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v14i1.313
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya motivasi pengerja gereja dalam melakukan kunjungan pastoral di gereja-gereja aliran Pentakosta Kharismatik. Kunjungan pastoral, yang seharusnya menjadi bagian integral dari pelayanan gereja, sering kali diabaikan atau dilakukan dengan kurang antusias. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan metode kateketika sebagai strategi untuk memotivasi pengerja gereja dalam meningkatkan frekuensi dan kualitas kunjungan pastoral. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, mengkaji literatur teologis terkait metode kateketika dan pengaruhnya dalam pelayanan pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode kateketika secara sistematis mampu meningkatkan pemahaman teologis pengerja gereja tentang pentingnya kunjungan pastoral, serta memotivasi mereka melalui pengajaran teologis dan pengalaman rohani yang dipimpin oleh Roh Kudus. Peningkatan kualitas dan kuantitas kunjungan pastoral tercermin dari penerapan metode ini, yang memperlihatkan keberhasilan dalam memotivasi pengerja gereja untuk lebih konsisten dalam melaksanakan tugas pastoral mereka.
Dari Petrus ke Guru Sekolah Minggu: Panggilan untuk Menggembalakan Anak Berdasarkan Yohanes 21:15-17
Pandu, Imanuel Yunus;
Gea, Matilda Yurdita;
Gea, Leniwan Darmawati
Missio Ecclesiae Vol 13 No 1 (2024): April
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v13i1.317
Secara fungsional tugas penggembalaan bukan hanya menjadi tanggung jawab pendeta, melainkan dapat diperankan oleh semua orang percaya, termasuk di dalamnya guru sekolah minggu. Peran guru sekolah minggu penting, sebab melalui mereka anak-anak memperoleh bimbingan untuk bertumbuh dalam iman. Sehubungan dengan itu, penelitian ini mengkaji tentang peran guru sekolah minggu sebagai gembala anak yang mengacu pada Yohanes 21:15-17. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran gembala bagi domba-domba sebagaimana yang tampak dalam undangan Yesus kepada Petrus dan korelasinya dengan pelayanan anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis teks Alkitab dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa "domba-domba" Yesus merujuk pada anak-anak yang harus dibimbing dalam iman. Guru Sekolah Minggu sebagai penerima amanat penggembalaan bertanggung jawab untuk merawat dan mengarahkan anak-anak kepada Tuhan dengan kasih dan pengajaran. Penggembalaan ini diterapkan dengan pendekatan yang meneladani Yesus sebagai Gembala Agung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran guru Sekolah Minggu sangat penting dalam membentuk pertumbuhan rohani anak-anak, yang melibatkan seluruh umat percaya dalam menjalankan amanat Yesus untuk menggembalakan umat-Nya.
Integrasi Teologi Dan Teknologi Sebagai Upaya Doing Theology Di Era Digitalisasi
Saragih, Febri Ando Pratama;
Gagola, Megaputri P.;
Nanlohy, Kevin Tomi
Missio Ecclesiae Vol 14 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v14i1.323
Artikel ini mencoba mengkaji bagaimana integrasi yang dapat dilakukan antara teologi dan teknologi, sebagai upaya doing theology di era digitalisasi. Hal ini berangkat dari keresahan penulis dengan melihat perkembangan dunia yang sangat pesat dalam berbagai hal, terutama dalam hal perkembangan teknologi. Dampak dari perkembangan ini juga dirasakan langsung oleh teologi, dan bagaimana gereja dan orang percaya berteologi (doing theology). Di satu sisi, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam menjalankan tugasnya teologi membutuhkan teknologi, tetapi di sisi lain perlu juga dibangun sebuah konstruksi teologis bagaimana penggunaan teknologi tersebut untuk berteologi. Sehingga teologi dan teknologi menjadi hal yang menarik untuk dikaji ataupun dihubungkan dalam sebuah integrasi. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi integratif. Gereja dan orang percaya harus dapat melihat teknologi yang cenderung dimaknai sebagai hal sekuler yang digunakan untuk aktivitas kehidupan manusia, kini menjadi bagian yang dimanfaatkan juga oleh gereja sebagai suatu penghayatan baru akan makna teologis dari ibadah dan praktik-praktik kehidupan Kristen lainnya.
Menginjili Anak Secara Kreatif: Analisis Dampak Program Unit Pembinaan Pelayanan Anak (UPPA) STT ATI di Kalangan Mahasiswa
Blegur, Romelus;
Gea, Leniwan Darmawati;
Atty, Sonya Debora;
Mangngi, Yovita;
Yosua, Yosua
Missio Ecclesiae Vol 14 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Injil Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52157/me.v14i1.331
Anak adalah ciptaan Allah yang serupa dan segambar dan Allah, namun disamping itu mereka pun orang berdosa yang memerlukan keselamatan. Oleh karena itu, pemberitaan Injil merupakan hal yang penting bagi mereka. Meskipun demikian, tugas tersebut tidak mudah karena itu diperlukan kreativitas untuk menyampaikan Injil sesuai dengan minat dan pemahaman mereka. Hal inilah yang menjadi fokus pelayanan UPPA STT ATI dalam rangka memperlengkapi mahasiswa dan pelayan gereja untuk menghasilkan para pelayan anak yang kreatif dan inovatif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dampak program UPPA STT ATI di kalangan mahasiswa STT ATI melalui berbagai pembinaan yang telah dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan beberapa temuan pada para informan yaitu: pertama, mahasiswa memahami tentang penginjilan. Kedua, mahasiswa memahami bahwa penginjilan terhadap anak sangat penting. Ketiga, mahasiswa terlibat dalam program UPPA STT ATI dan memperoleh pembekalan yang memadai untuk melayani anak. Keempat, program UPPA STT ATI efektif bagi mahasiswa dalam melayani anak. Kelima, mahasiswa memiliki kemampuan dan terlibat secara efektif dalam mengijili anak secara kreatif. Keenam, program UPPA berdampak secara signifikan bagi mahasiswa, baik dalam hal membangun kemampuan mereka secara internal, maupun dampak eksternal bagi anak-anak yang diinjili.