cover
Contact Name
Asri Mutiara Putri
Contact Email
asri@malahayati.ac.id
Phone
+628595912060
Journal Mail Official
psikologi@malahayati.ac.id
Editorial Address
Program Studi Psikologi UNIVERSITAS MALAHAYATI Jl. Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Psikologi Malahayati
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26568551     EISSN : 26847469     DOI : https://doi.org/10.33024/jpm.v2i2
JPM provides a platform to publish scientific articles about psychology, especially public mental health. It also seeks to advance the quality of research by introducing or elaborating new methods in psychology. This journal contains a script on Mental Health that includes: Fundamentals of Psychology Public Mental Health Clinical Psychology Educational Psychology Industrial and organizational psychology
Articles 180 Documents
PEREMPUAN DAN NAPZA: ANTARA KESEHATAN MENTAL DAN RESPON SOSIAL Riski Nur Fitriah; Eny Purwandari
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.21384

Abstract

ABSTRAKPerempuan yang menggunakan napza kerap mengalami stigma ganda karena identitas mereka sebagai perempuan dan penyalahguna napza. Stigma ini berkaitan erat dengan budaya patriarki dan diskriminasi gender yang masih mengakar. Akibatnya, stigma dapat menghambat efektivitas program rehabilitasi dan meningkatkan risiko kekambuhan. Artikel ini bertujuan untuk memahami penyalahgunaan napza pada perempuan dalam kaitannya dengan kesehatan mental dan respons sosial menggunakan pendekatan teori Ekologi, Kognitif Sosial, dan Kontrol Sosial. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dengan bantuan Harzing’s Publish or Perish dan VOSViewer. Hasil menunjukkan bahwa topik stigma, depresi, dan penyalahgunaan napza pada perempuan masih kurang diteliti. Budaya patriarki dan stigma sosial memperburuk akses perempuan terhadap layanan kesehatan dan dukungan sosial. Dengan menggunakan teori kontrol sosial dan kognitif sosial, serta teori ekologi Bronfenbrenner, artikel ini memberikan kerangka pemahaman yang holistik mengenai faktor individu dan lingkungan yang memengaruhi perilaku penyalahgunaan napza pada perempuan. Kata Kunci:  Budaya Patriarki, Kesehatan Mental, Napza, Perempuan, Stigma Sosial  ABSTRACT Women who use drugs often face dual stigma related to their identity as both women and substance users. This stigma is closely linked to patriarchal culture and ongoing gender discrimination. As a result, stigma can hinder the effectiveness of rehabilitation programs and increase the risk of relapse. This article aims to understand substance abuse among women in relation to mental health and social responses using the theoretical frameworks of Ecological Theory, Social Cognitive Theory, and Social Control Theory. A systematic literature review was conducted using Harzing’s Publish or Perish and VOSViewer. Findings indicate that research on stigma, depression, and substance use among women remains limited. Patriarchal norms and strong social stigma further restrict women’s access to healthcare and support. By applying social control and social cognitive theories, along with Bronfenbrenner’s ecological theory, this article offers a comprehensive framework to understand individual and environmental factors influencing substance abuse behavior among women. Keywords: Mental Health, Patriarchal Culture, Social Stigma, Substance Use, Women
EKSPLORASI HARAPAN DAN KECEMASAN CALON PESERTA MAGANG LPK KAMISORA TERHADAP KEHIDUPAN KERJA DI JEPANG Isna Ariyanto; Anniez Rachmawati Musslifah; Dhian Riskiana Putri
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.23297

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai harapan dan kecemasan calon peserta magang LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) Kamisora terhadap kehidupan kerja di Jepang. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah siswa aktif dari LPK Kamisora. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketujuh informan memiliki harapan dalam taraf yang cukup baik, dilihat dari tujuan utama dan semangat mereka dalam mengambil langkah untuk mencapai tujuan atau solusi ketika menemui hambatan. Ketujuh informan juga mengungkapkan bahwa memiliki kecemasan selama belajar dan mempersiapkan program magang ini. Temuan dalam penelitian ini menekankan bahwa siswa LPK memiliki harapan dan kecemasan masing-masing tergantung perspektif yang mereka miliki. Harapan mampu menumbuhkan semangat untuk tetap berfokus pada tujuan yang ingin dicapai. Kecemasan sering muncul dalam proses mencapai tujuan itu, namun dengan kemampuan untuk mengatasinya, kecemasan dapat menjadi semangat dan sisi positif untuk terus berjuang dalam mencapai tujuan. Pihak LPK disarankan untuk lebih memperhatikan kondisi emosional siswanya yang cenderung mengalami kecemasan dikarenakan memiliki harapan yang tinggi. Dengan lebih memahami hal ini, diharapkan siswa akan lebih fokus dalam mencapai tujuan tanpa banyak memikirkan kekhawatiran yang menimbulkan kecemasan. Kata Kunci: Lembaga Pelatihan Kerja, Harapan, Kecemasan  AbstractThis study aims to provide an overview of the hopes and anxieties of prospective LPK Kamisora interns regarding work life in Japan. This research method used qualitative methods. Informants in this study were active students of LPK (The Job Placement Institution) Kamisora. The results of this study indicate that the seven informants had a fairly good level of hope, seen from their main goals and enthusiasm in taking steps to achieve goals or solutions when encountering obstacles. The seven informants also expressed anxiety during studying and preparing for this internship program. The findings in this study emphasize that LPK students have their own hopes and anxieties depending on their perspective. Hope can foster enthusiasm to stay focused on the desired goal. Anxiety often arises in the process of achieving that goal, but with the ability to overcome it, anxiety can become a motivation and positive side to continue striving in achieving the goal. LPK is advised to pay closer attention to the emotional state of its students, who tend to experience anxiety due to high expectations. By understanding this, it is hoped that students will be more focused on achieving their goals without dwelling on anxiety-inducing worries. Keywords: Vocational Training Institue, Hope, Anxiety
EFEKTIVITAS ACCEPTANCE AND COMMITMENT THERAPY DALAM MENURUNKAN DERAJAT KECEMASAN WARGA BINAAN PERMASYARAKATAN MENJELANG BEBAS Alifiananda Kartika Destiyan; Dewi Sartika; Fanni Putri Diantina
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.25333

Abstract

Abstrak Permasalahan kesehatan mental di Lapas tiga kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum dan lebih sering dialami oleh perempuan. Menjelang masa kebebasan, warga binaan rentan mengalami permasalahan psikologis seperti kecemasan akibat ketidakpastian masa depan dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dalam menurunkan derajat kecemasan warga binaan menjelang bebas. Metode penelitian menggunakan quasi experiment dengan desain one group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah tiga orang warga binaan. Instrumen yang digunakan adalah Beck Anxiety Inventory (BAI). Intervensi ACT diberikan secara individual dalam enam sesi mingguan. Hasil penelitian menunjukkan ACT cukup efektif menurunkan kecemasan dengan nilai N-Gain sebesar 68,33% (kategori cukup efektif). Aspek yang paling mengalami perubahan adalah aspek fisiologis dengan penurunan kecemasan sebesar 75,47%. Kesimpulannya, ACT cukup efektif dalam menurunkan kecemasan pada warga binaan menjelang bebas. Implikasinya, ACT dapat diterapkan sebagai intervensi psikologis di lembaga pemasyarakatan dengan pendampingan profesional psikolog untuk mendukung kesiapan mental warga binaan menjelang bebas. Kata Kunci: Terapi Penerimaan dan Komitmen, Kecemasan, Warga Binaan Menjelang Bebas AbstractMental health problems in prisons are three times higher than in the general population and are more common among women. As they approach their release date, inmates are prone to psychological problems such as anxiety due to uncertainty about the future and difficulty finding employment. This study aims to determine the effectiveness of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) in reducing the anxiety levels of inmates approaching their release date. The research method used a quasi-experiment with a one-group pretest-posttest design. The research subjects consisted of three inmates. The instrument used was the Beck Anxiety Inventory (BAI). The ACT intervention was administered individually in six weekly sessions. The results showed that ACT was quite effective in reducing anxiety, with an N-Gain value of 68.33% (quite effective category). The aspect that experienced the most change was the physiological aspect, with a 75.47% reduction in anxiety. In conclusion, ACT is quite effective in reducing anxiety among inmates approaching release. As a result, ACT can be applied as a psychological intervention in correctional institutions with the assistance of professional psychologists to support the mental readiness of inmates prior to their release. Keywords: Acceptance and Commitment Therapy, Anxiety, Inmates Approaching Release
KESEHATAN MENTAL DAN KEADILAN HUKUM DALAM KASUS ABORSI : PERSPEKTIF PSIKOLOGI FORENSIK Sheila Aprilia Siswanto; Dharma Alkautsar Mahadika; Wimbuh Tri Widodo
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.23508

Abstract

Abstrak Aborsi kini menjadi isu terbuka dan fakta sosial, terutama di kalangan remaja dalam pergaulan bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesehatan mental dan keadilan hukum dalam kasus aborsi, serta mengeksplorasi perspektif psikologi forensik. Metode yang digunakan adalah systematic narratic review dengan mengevaluasi 10 jurnal terbaru dalam 10 tahun terakhir dari sumber seperti Google Scholar, tanpa populasi atau sampel tertentu. Hasil kajian menunjukkan bahwa aborsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga sangat terkait dengan masalah kesehatan mental, seperti PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Oleh karena itu, penekanan pada bukti ilmiah psikologi perlu diperkuat dalam penerapan keadilan hukum, sehingga pertimbangan putusan hukum yang diberikan lebih komprehensif dan mendukung optimalisasi kesehatan mental jangka panjang bagi pelaku. Kata Kunci: Aborsi, Psikologi Forensik, Kitab Undang-Undang Hukum Pidahan (KUHP), Trauma  AbstractAbortion has become an open issue and a social reality, especially among teenagers in promiscuous relationships. This study aims to analyze the relationship between mental health and legal justice in abortion cases and explore the perspective of forensic psychology. The method used was a systematic narratic review, evaluating 10 recent journals from the past 10 years from sources such as Google Scholar, without a specific population or sample. The results of the study indicate that abortion is not only a legal issue but is also closely linked to mental health issues, such as PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Therefore, the emphasis on psychological scientific evidence needs to be strengthened in the application of legal justice, so that the considerations of legal decisions given are more comprehensive and support the optimization of long term mental health for perpetrators. Keywords: Abortion, Forensic Psychology, Criminal Code, Trauma
EFEKTIVITAS PELATIHAN GROWTH MINDSET UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI SISWA SMA Bunga Karuni; Ellyana Dwi Farisandy; Putri Sahira Bestari; Hanny Savitri; Andi Rafli Alfaudzan
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.25299

Abstract

Abstrak Studi ini dilakukan untuk menguji apakah pelatihan growth mindset dapat menjadi intervensi yang membantu meningkatkan resiliensi siswa SMA. Resiliensi dipengaruhi oleh pola pikir adaptif dalam memaknai pengalaman, yang dikenal sebagai growth mindset. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen pretest–posttest control group. Partisipan berjumlah 40 siswa SMA berusia 15–18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan dibagi secara acak ke dalam kelompok eksperimen (n = 20) dan kelompok kontrol (n = 20). Resiliensi diukur menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) versi adaptasi. Modul pelatihan yang digunakan telah dikembangkan dan teruji validitas serta reliabilitasnya pada siswa SMA. Pengukuran dilakukan pada tahap pretest, posttest, dan follow up. Analisis repeated measures ANOVA menunjukkan adanya efek waktu yang signifikan serta interaksi waktu dan kelompok yang signifikan, yang mengindikasikan bahwa perubahan skor resiliensi berbeda antara kelompok eksperimen dan kontrol. Efek utama kelompok tidak signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa pelatihan berkontribusi terhadap peningkatan resiliensi seiring waktu pada kelompok eksperimen. Secara teoretis, temuan ini memperkuat peran growth mindset sebagai faktor protektif dalam perkembangan resiliensi remaja. Secara praktis, pelatihan ini berpotensi diimplementasikan sebagai intervensi berbasis sekolah. Kata Kunci: Growth Mindset, Pelatihan, Resiliensi, Siswa SMA, Efektivitas Pelatihan. AbstractThis study aimed to examine the effectiveness of a Growth Mindset Training program in enhancing high school students’ resilience. Resilience is influenced by an adaptive way of interpreting life experiences, known as a growth mindset. A quantitative approach with a pretest–posttest control group experimental design was employed. Participants consisted of 40 high school students aged 15–18 years who met the inclusion criteria and were randomly assigned to an experimental group (n = 20) and a control group (n = 20). Resilience was measured using the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). The training module had previously been developed and validated for high school students. Measurements were conducted at pretest, posttest, and follow-up stages. Repeated measures ANOVA revealed a significant main effect of time and a significant time × group interaction, indicating that changes in resilience scores differed between the experimental and control groups over time. The main effect of group was not significant. These findings suggest that the training contributed to increased resilience over time in the experimental group. The results reinforce the theoretical role of growth mindset as a protective factor in adolescent resilience development and support its potential implementation as a school-based intervention program. Keywords: Growth Mindset, Training, Resilience, High School Student, Training Effectiveness
PENGARUH INSECURE ATTACHMENT STYLES TERHADAP PARASOCIAL RELATIONSHIP DENGAN KARAKTER SERIAL TV PADA DEWASA MUDA Aurora Setioadi; Chamilul Hikam Al Karim
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.23609

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh insecure attachment  terhadap PSR dengan karakter TV series pada individu dewasa awal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Partisipan berjumlah 170 individu berusia 18–25 tahun yang sedang atau pernah menjalin hubungan romantis, diperoleh melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Experiences in Close Relationship-Revised (ECR-R) untuk mengukur insecure attachment dan Parasocial Relationship Scale (PRS) untuk mengukur PSR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insecure attachment berpengaruh signifikan terhadap PSR, yaitu 25,9% variasi PSR dijelaskan oleh insecure attachment. Semakin tinggi tingkat insecure attachment, semakin besar kecenderungan individu membentuk PSR dengan karakter media. Selain itu, tidak terdapat perbedaan signifikan tingkat PSR antara individu yang memiliki maupun tidak memiliki hubungan romantis. Hasil penelitian ini memperkaya pemahaman mengenai parasocial relationship dengan menunjukkan peran insecure attachment dalam dinamika relasional individu dewasa awal. Kata Kunci: Gaya Keterikatan Tidak Aman, Hubungan Parasosial, Serial TV, Karakter, Dewasa Muda AbstractThis study aims to determine the effect of insecure attachment on PSR with TV series characters in young adults. The study uses a correlational quantitative approach with a cross-sectional design. There were 170 participants aged 18–25 years who were currently or had previously been in romantic relationships, obtained through purposive sampling. The instruments used were the Experiences in Close Relationship-Revised (ECR-R) to measure insecure attachment and the Parasocial Relationship Scale (PRS) to measure PSR. The results showed that insecure attachment had a significant effect on PSR, which means that approximately 25.9% of PSR variation was explained by insecure attachment. The higher the level of insecure attachment, the greater the tendency for individuals to form PSR with media characters. In addition, there was no significant difference in PSR levels between individuals who had romantic relationships and those who did not. Overall, the findings enrich the understanding of parasocial relationships by highlighting the role of insecure attachment in the relational dynamics of young adults. Keywords: Insecure Attachment Styles, Parasocial Relationship, TV Series, Character, Young Adult
HUBUNGAN KONTROL DIRI DAN KECERDASAN EMOSI DENGAN PERILAKU CYBERBULLYING DI KALANGAN PENGGUNA AKUN ALTER Dian Asti Karina; Nugroho Arief Setiawan; Intan Islamia; Ahmad Zarkasi
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.25301

Abstract

ABSTRAKPenggunaan akun alter di media sosial memungkinkan individu tampil anonim sehingga lebih leluasa mengekspresikan diri, namun juga meningkatkan potensi cyberbullying. Penelitian ini bertujuan menguji korelasi terhadap pengendalian diri dan kecerdasan emosi dengan tindak perundungan siber dikalangan pengguna akun alter menggunakan teknik kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling, dengan 100 partisipan. Data dikumpulkan melalui kuesioner laporan diri dan diolah menggunakan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian diri serta kecerdasan emosi menjabarkan 19,9% variasi perilaku cyberbullying. Pengendalian diri dan  kecerdasan emosi memberikan efek negatif pada cyberbullying, dengan pengendalian diri berperan lebih dominan  dibandingkan kecerdasan emosi, sehingga semakin tinggi kedua kemampuan tersebut, semakin rendah kecenderungan individu terlibat dalam cyberbullying dan keduanya berperan sebagai faktor pelindung dalam interaksi digital anonim.  Kata kunci: Cyberbullying, Kontrol Diri, Kecerdasan Emosi, Akun Alter, Media Sosial  ABSTRACTThe use of alter accounts on social media allows individuals to appear anonymously, thus enabling them to express themselves more freely, but it also increases the potential for cyberbullying. This research aims to test the correlation of self-control and emotional intelligence with cyberbullying behavior among alter account users using a quantitative correlational technique with purposive sampling technique, with 100 participants. Data were collected through self-report questionnaires and analyzed using SEM-PLS. The result reveals that self-control and emotional intelligence explain 19.9% of the variation in cyberbullying behavior. Self-control and emotional intelligence  have a negative effect on cyberbullying, with self-control being more dominant compared to emotional intelligence, thus the higher these two abilities, the lower the individual's tendency to engage in cyberbullying, and both act as protective factors in anonymous digital interactions. Keywords: Cyberbullying, Self Control, Emotional Intelligence, Alter Accounts, Social Media
GAMBARAN PERILAKU SEKSUAL PADA INDIVIDU LESBIAN DI LAPAS PEREMPUAN KELAS IIB JAMBI Felia Siti Grishana; Dessy Pramudiani; Fadzlul Fadzlul
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.23917

Abstract

Abstrak Fenomena perilaku seksual sesama jenis di lingkungan lembaga pemasyarakatan perempuan masih menjadi isu sensitif dan kurang mendapatkan perhatian, terutama terkait bagaimana individu lesbian memenuhi kebutuhan emosional maupun seksual dalam situasi terbatas dan penuh pengawasan. Kondisi ini menunjukkan adanya permasalahan psikososial yang perlu dipahami secara mendalam oleh pihak pemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku seksual pada individu lesbian di Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Lima partisipan dipilih melalui teknik purposive sampling, setelah terlebih dahulu dilakukan identifikasi orientasi seksual menggunakan Skala Kinsey. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menghasilkan enam tema utama, yaitu identitas seksual, aktivitas seksual, dinamika hubungan, preferensi dan pembentukan pasangan, pengaruh lingkungan Lapas, dan aspek psikologis. Perilaku seksual tidak hanya muncul sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi juga menjadi bentuk pencarian kasih sayang, dukungan emosional, dan keamanan di lingkungan tertutup. Penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika seksual di dalam Lapas merupakan bentuk strategi adaptasi yang kompleks terhadap tekanan psikologis dan keterbatasan interaksi sosial. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan pembinaan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kesejahteraan mental warga binaan. Kata Kunci: Perilaku Seksual, Lesbian, Lapas Perempuan, Fenomenologi AbstractSame-sex sexual behavior in women’s correctional facilities remains a sensitive and under-researched issue, particularly regarding how lesbian inmates fulfill their emotional and sexual needs in a restricted and highly supervised environment. This condition indicates psychosocial challenges that require deeper understanding from correctional stakeholders. This study aims to describe the sexual behavior of lesbian inmates at the Class IIB Women’s Prison in Jambi. This research employed a qualitative phenomenological approach. Five participants were selected through purposive sampling, after first being identified as lesbian using the Kinsey Scale. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, and were analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The results revealed six major themes: sexual identity, sexual activities, relationship dynamics, partner preference and formation, influence of the prison environment, and psychological aspects. Sexual behavior was found not only as fulfillment of biological needs, but also as a means of seeking affection, emotional support, and security in a confined setting. The findings indicate that sexual dynamics in prison function as a complex adaptation strategy to psychological pressure and limited social interaction. This study provides implications for developing more inclusive rehabilitation policies that support inmates’ mental well-being. Keywords: Sexual Behavior, Lesbian, Women’s Prison, Phenomenology
PENGARUH ACCEPTANCE AND COMMITMENT THERAPY DALAM MENINGKATKAN REGULASI EMOSI PADA INDIVIDU YANG MELAKUKAN NON SUICIDAL SELF-INJURY Amalia Muslimah; Dewi Sartika; Fanni Putri Diantina
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.24989

Abstract

Abstrak Non-Suicidal Self Injury (NSSI) merupakan perilaku merusak diri tanpa intensi bunuh diri yang semakin menjadi perhatian serius dalam kesehatan mental, khususnya pada dewasa awal. Kesulitan regulasi emosi menjadi faktor risiko utama munculnya NSSI, di mana individu menggunakan perilaku melukai diri sebagai mekanisme koping maladaptif untuk melampiaskan emosi terpendam. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dalam meningkatkan regulasi emosi pada individu dewasa awal yang melakukan NSSI. Penelitian menggunakan desain quasi experimental one group pretest-posttest dengan tiga partisipan perempuan berusia 19-25 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Pengukuran regulasi emosi menggunakan Difficulties in Emotion Regulation Scale-Short Form (DERS-SF) yang diberikan sebelum dan sesudah enam sesi intervensi ACT. Hasil uji Paired Sample T-Test menunjukkan perbedaan signifikan tingkat regulasi emosi sebelum dan sesudah intervensi.  Penurunan skor disregulasi emosi mencapai 45,4% dengan kategori pengaruh moderat. Nilai N-Gain sebesar 60,2% menunjukkan efektivitas cukup baik. Temuan mengindikasikan ACT efektif meningkatkan regulasi emosi melalui pengembangan fleksibilitas psikologis pada individu dewasa awal dengan NSSI, memberikan implikasi praktis bagi intervensi berbasis bukti dalam penanganan NSSI. Kata Kunci: Regulasi Emosi, Acceptance and Commitment Therapy, Non-Suicidal Self-Injury  AbstractNon-Suicidal Self-Injury (NSSI) represents self-damaging behavior without suicidal intent that has become a serious concern in mental health, particularly among emerging adults. Emotion regulation difficulties constitute a primary risk factor for NSSI emergence, where individuals employ self-injurious behaviors as maladaptive coping mechanisms to release suppressed emotions. This study aimed to examine the effect of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) on enhancing emotion regulation among emerging adults engaging in NSSI. The research employed a quasi-experimental one-group pretest-posttest design with three female participants aged 19-25 years selected through purposive sampling. Emotion regulation was measured using the Difficulties in Emotion Regulation Scale-Short Form (DERS-SF) administered before and after six ACT intervention sessions. Paired Sample T-Test results demonstrated significant differences in emotion regulation levels before and after intervention. Emotion dysregulation scores decreased by 45.4% with moderate effect size. N-Gain value of 60.2% indicated reasonably good effectiveness. Findings suggest ACT effectively enhances emotion regulation through psychological flexibility development in emerging adults with NSSI, providing practical implications for evidence-based interventions in NSSI management. Keywords: Emotion Regulation, Acceptance and Commitment Therapy, Non-Suicidal Self-Injury
FEAR OF MISSING OUT DAN KUALITAS HUBUNGAN SOSIAL PADA REMAJA: PERAN PHUBBING SEBAGAI MEDIATOR Yessi Octavia; Etik Darul Muslikah; Eben Ezer Nainggolan
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 2 (2026): JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i2.24643

Abstract

Abstrak Kualitas hubungan sosial termasuk aspek krusial pada konteks perkembangan psikososial remaja karena berperan dalam pembentukan identitas dan kemampuan menjalin relasi interpersonal yang sehat. Kualitas hubungan sosial remaja berpotensi dipengaruhi oleh Fear of Missing Out (FoMO) serta perilaku phubbing, yakni tendensi abai terhadap interaksi tatap muka akibat fokus pada gawai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara FoMO dan kualitas hubungan sosial pada remaja akhir di Kota Surabaya, serta menguji peranan phubbing sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Penelitian ini mempergunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan dari 381 remaja berusia 15–19 tahun menggunakan FoMO Scale, Quality of Relationships Inventory, dan Generic Scale of Phubbing. Analisis data dilakukan menggunakan analisis mediasi melalui PROCESS Macro Model 4. Temuan studi mengindikasikan, FoMO tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap kualitas hubungan sosial. Namun, FoMO berpengaruh positif signifikan terhadap phubbing, dan phubbing berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas hubungan sosial. Selain itu, hasil analisis mediasi menghindikasikan, phubbing memediasi secara signifikan hubungan antara FoMO dan kualitas hubungan sosial. Temuan ini memperluas pemahaman teoretis mengenai mekanisme psikologis yang menghubungkan FoMO dan kualitas hubungan sosial remaja, serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan intervensi dan literasi digital untuk meningkatkan kualitas relasi sosial remaja. Kata Kunci: Kualitas Hubungan Sosial; FoMO; Phubbing; Remaja Akhir AbstractSocial relationship quality is a crucial aspect of adolescents’ psychosocial development, as it plays an important role in identity formation and the ability to establish healthy interpersonal relationships. Adolescents’ social relationship quality may be influenced by Fear of Missing Out (FoMO) and phubbing behavior, which refers to the tendency to ignore face-to-face interactions due to excessive smartphone use. This study aimed to examine the relationship between FoMO and social relationship quality among late adolescents in Surabaya, Indonesia, and to investigate the mediating role of phubbing in this relationship. This investigation employed a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected from 381 adolescents aged 15–19 years using the FoMO Scale, the Quality of Relationships Inventory, and the Generic Scale of Phubbing. Data analysis was conducted using mediation analysis with PROCESS Macro Model 4. The outcomes indicated that FoMO did not have a statistically significant direct effect on social relationship quality. However, FoMO had a significant positive effect on phubbing, and phubbing had a significant negative effect on social relationship quality. Furthermore, mediation analysis revealed that phubbing significantly mediated the relationship between FoMO and social relationship quality. These findings extend the theoretical understanding of the psychological mechanisms linking FoMO and adolescents’ social relationship quality and provide practical implications for the development of digital literacy programs and interventions aimed at improving adolescents’ interpersonal relationships. Keywords: Social Relationship Quality; FoMO; Phubbing; Late Adolescents