cover
Contact Name
LIRA MUFTI AZZAHRI ISNAENI
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
jurnalkesehatantambusai@gmail.com
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jalan Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau, Indonesia Pos Code 28411 Telp. 0762 21677
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Tambusai
ISSN : -     EISSN : 27745848     DOI : 10.31004/jkt.v1i2.1104
Core Subject : Health,
JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI Adalah jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian kesehatan yang terintegrasi dengan bidang kesehatan Jurnal ini berguna bagi tenaga kesehatan di dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit, mahasiswa kesehatan, tenaga pengajar bidang kesehatan lainnya pada umumnya. Jurnal kesehatan tambusai naskah dalam bentuk hasil penelitian baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Naskah yang diterima adalah naskah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Kami berharap artikel-artikel pada edisi ini bermanfaat bagi dunia ilmu kesehatan
Articles 4,346 Documents
FAKTOR LINGKUNGAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PONTAP KOTA PALOPO TAHUN 2025 Nirmala, Nirmala; Ishak , Ishak; Marola, Mutmaina Kasandra
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49904

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada balita di Indonesia. Faktor lingkungan seperti kepadatan hunian, ventilasi, kebiasaan merokok dalam rumah, dan penggunaan obat nyamuk bakar diketahui berkontribusi terhadap tingginya kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor lingkungan yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pontap Kota Palopo Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan kuantitatif. Sampel berjumlah 95 responden yang ditentukan melalui teknik stratified random sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner, lembar observasi, serta alat ukur berupa meteran untuk mengukur luas rumah dengan ventilasi rumah, kemudian dianaisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kepadatan hunian (p=0,000), ventilasi (p=0,000), kebiasaan merokok (p=0,000), dan penggunaan obat nyamuk bakar (p=0,000) dengan kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor lingkungan rumah tangga memiliki peran signifikan terhadap kejadian ISPA pada balita, sehingga upaya pencegahan memalui intervensi berbasis lingkungan dan perubahan perilaku keluarga diperlukan untuk menurunkan risiko ISPA pada balita.
PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN ASAM URAT MENGGUNAKAN METODE POCT DAN FOTOMETER DI PUSKESMAS PAKEM Z. Ahmad, Putri Pratiwi; Murdiyanto, Joko; Widyantara, Aji Bagus
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49945

Abstract

Asam urat terbentuk sebagai produk akhir dari pemecahan purin di dalam tubuh. Proses metabolisme purin, yang merupakan bagian dari asam nukleat pada inti sel, dapat memicu akumulasi kristal di area sendi. Konsentrasi asam urat dapat diperiksa menggunakan perangkat Point Of Care Testing (POCT) maupun fotometer. Fokus penelitian ini adalah menilai apakah terdapat perbedaan hasil pemeriksaan asam urat dengan memakai metode POCT dan fotometer. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan deskriptif komparatif dan rancangan cross-sectional. Responden penelitian adalah pasien yang memeriksakan kadar asam urat di Puskesmas Pakem, dengan jumlah sampel 58 orang berusia 45–75 tahun. Data hasil uji asam urat menggunakan Point Of Care Testing (POCT) dan fotometer dipaparkan secara deskriptif lalu diuji dengan Paired Sample T-Test. Pemeriksaan melalui POCT memperlihatkan rata-rata 5,631 mg/dL, nilai terendah 2,4 mg/dL, tertinggi 9,7 mg/dL, serta simpangan baku 1,670 mg/dL. Hasil pengukuran kadar asam urat melalui fotometer mencatat rata-rata 6,024 mg/dL, batas terendah 2,43 mg/dL, batas tertinggi 10,61 mg/dL, serta standar deviasi 1,706 mg/dL. Pengujian menggunakan Paired Sample T-Test memperoleh nilai p 0,060 lebih besar dari α 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan nyata antara pemeriksaan dengan metode POCT dan fotometer. Kesimpulan penelitian menyatakan kedua metode, Point Of Care Testing (POCT) dan fotometer, memberikan hasil yang sebanding.
MONITORING EVALUASI EFEK SAMPING OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT SENTRA MEDIKA CIKARANG MAHESA, MAHESA; Permanasari, Ike Maya
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49963

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis dengan prevalensi tinggi yang memerlukan pengobatan jangka panjang. Penggunaan obat antihipertensi berpotensi menimbulkan Efek Samping Obat (ESO) yang dapat memengaruhi kepatuhan pasien dan kualitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dugaan ESO pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang serta mengetahui obat penyebab, bentuk manifestasi, obat penanganan, riwayat, dan kesudahan ESO. Penelitian menggunakan desain non-eksperimental deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi periode Januari–Desember 2024, Jumlah sampel yang digunakan adalah 20 pasien yang memenuhi ketentuan inklusi serta eksklusi. Data dikumpulkan dari rekam medis dan formulir Monitoring Efek Samping Obat (MESO), kemudian dianalisis secara deskriptif univariat untuk menggambarkan karakteristik pasien dan distribusi ESO. Hasil penelitian menunjukkan ESO paling banyak dikaitkan dengan Amlodipin (40%), diikuti Ramipril (15%), Spironolactone (15%), Lisinopril (10%), dan Captopril (10%). Manifestasi ESO yang sering muncul adalah pusing dan sakit kepala (35%), disusul keluhan sesak napas, nyeri dada, batuk, dan reaksi kulit. Sebagian besar pasien (80%) tidak diberikan terapi tambahan untuk mengatasi ESO, sementara sebagian kecil memperoleh Paracetamol (15%) atau Ondansetron (5%). Riwayat ESO sebelumnya hanya ditemukan pada 20% pasien, dan seluruh kasus (100%) dinyatakan sembuh. Amlodipin merupakan obat yang paling sering dikaitkan dengan ESO pada pasien hipertensi di rumah sakit ini. Monitoring efek samping obat perlu ditingkatkan melalui pencatatan yang lebih lengkap serta keterlibatan apoteker klinis agar keselamatan pasien dan keberhasilan terapi dapat terjamin.
IMPLEMENTASI SENAM NIFAS OTARIA TERHADAP INVOLUSI UTERI PADA IBU NIFAS DI PUSKESMAS WANADADI 1 KABUPATEN BANJARNEGARA Nadiroh, Fadhilatun
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49964

Abstract

Masa nifas ditandai dengan involusi uterus yang berupa penurunan Tinggi Fundus Uteri (TFU). Penurunan yang terlambat dapat meningkatkan resiko perdarahan postpartum. Salah satu upaya untuk mempercepat proses involusi uteri adalah dengan senam nifas otaria, yang dapat memperkuat otot uterus dan memperlancar sirkulasi darah. Tujuan penelitian ini adalah meingkatkan pengetahan dan mengevaluasi proses involusi uteri pada ibu nifas setelah senam nifas otaria. Metode penelitian ini adalah observasi dan intervensi dengan 5 ibu nifas pada hari ke-2 sampai ke-7. Intervensi dilakukan selama 7 hari, meliputi pemantauan kondisi ibu dan pengukuran TFU setiap hari. Kegiatan diawali dengan pengkajian data, memberikan pengetahuan tentang senam nifas otaria melalui pretest dan posttest, serta mengevaluasi proses involusi uteri.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 20–35 tahun (100%), multipara (60%), dan IMT normal (60%). Tingkat pengetahuan tentang senam nifas otaria meningkat dari kategori kurang (40%) dan cukup (60%) menjadi baik (100%). Hasil pengukuran involusi menunjukkan penurunan TFU optimal hingga pertengahan pusat-simpisis setelah 7 hari.Simpulan : Senam nifas otaria efektif mempercepat involusi uteri dan meningkatkan pengetahuan ibu nifas.
PENGARUH PEMBERIAN JUS NANAS (ananas comosus) DAN WORTEL (daucus carota) TERHADAP KADAR LDL (LOW DENSITY LIPOPROTEIN) PADA PEKERJA DI PT. KANITRA MITRA JAYAUTAMA Putra, Rizki Adi; Nailufar, Farida; Novaria, Astri Ayu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49966

Abstract

Dislipidemia, khususnya peningkatan kadar LDL (Low Density Lipoprotein), merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke. Gaya hidup tidak sehat seperti pola makan tinggi lemak dan rendah serat, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok berkontribusi terhadap kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus nanas (Ananas comosus) dan wortel (Daucus carota) terhadap kadar LDL pada pekerja di PT. Kanitra Mitra Jayautama. Desain penelitian menggunakan quasi experimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Sejumlah 21 responden laki-laki berusia 19–37 tahun diberikan jus nanas dan wortel sebanyak 280 ml (140 g nanas dan 55,5 g wortel) satu kali per hari selama 14 hari. Data kadar LDL diukur sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan rerata kadar LDL dari 118,8 mg/dL menjadi 91,52 mg/dL. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan penurunan tersebut signifikan secara statistic yaitu 0,003 (p<0,05). Kandungan flavonoid, β-karoten, pektin, vitamin C, dan niasin dalam nanas dan wortel berperan dalam menurunkan kadar LDL. Kesimpulan, jus nanas dan wortel berpengaruh signifikan dalam menurunkan kadar LDL. Intervensi ini dapat menjadi alternatif terapi non-farmakologis bagi penderita dislipidemia.
PNEUMONIA NOSOKOMIAL AKIBAT KLEBSIELLA PNEUMONIAE POSITIF ESBL PADA PASIEN DENGAN MENINGIOMA FRONTALIS BESAR : LAPORAN KASUS Rahmadhani, Nadia Putri; Ananda, Pratama; Wijaya, Dewi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49967

Abstract

Pneumonia nosokomial (Hospital Acquired Pneumonia/HAP) adalah infeksi saluran pernapasan bawah yang terjadi ≥48 jam setelah pasien dirawat di rumah sakit dan tidak dalam keadaan inkubasi saat masuk. Klebsiella pneumoniae positif extended-spectrum beta-lactamase (ESBL) merupakan agen etiologi utama yang berhubungan dengan peningkatan morbiditas, mortalitas, serta lama hari rawat pada kasus HAP. Meningioma adalah tumor intrakranial primer yang berasal dari sel meningotelial pada meningen, khususnya lapisan arakhnoid. Tumor ini merupakan neoplasma jinak paling sering pada sistem saraf pusat, meskipun sebagian kecil dapat bersifat atipikal atau ganas. Pasien dengan meningioma, terutama yang menjalani perawatan jangka panjang, memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti HAP. Laporan kasus ini menyoroti interaksi antara kondisi neurologis dasar dan infeksi nosokomial. Pemberian antibiotik empiris dapat memperbaiki prognosis. Seorang pasien perempuan berusia 44 tahun datang dengan keluhan sakit kepala disertai muntah. Pemeriksaan MRI menunjukkan adanya meningioma pada konveksitas frontal posterior kiri dengan ukuran 6x6x6 cm. Pada hari ke-5 perawatan di rumah sakit, pasien mengalami penurunan kesadaran yang disertai sesak napas. Pasien dirawat di ICU, dilakukan intubasi, dan diberikan antibiotik empiris meropenem sambil menunggu hasil kultur sputum. Hasil kultur menunjukkan Klebsiella pneumoniae positif ESBL. Setelah 3 hari terapi antibiotik, kesadaran pasien membaik, serta hasil pemeriksaan laboratorium dan radiografi toraks menunjukkan perbaikan. Pasien dengan keganasan memiliki risiko tinggi untuk mengalami pneumonia nosokomial selama perawatan rumah sakit yang berkepanjangan. Terapi antibiotik empiris sebagai penatalaksanaan awal memberikan prognosis yang baik dalam mencegah perburukan infeksi.
GAMBARAN JUMLAH LEUKOSIT PADA PENDERITA DEMAM TIFOID DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING YOGYAKARTADemam tifoid merupakan penyakit yang menyerang seluruh tubuh dan disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella Typhi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambar Fero, Moh Randy Gunawan; Hadi, Wahid Syamsul; Widyantara, Aji Bagus
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49970

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit yang menyerang seluruh tubuh dan disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella Typhi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran jumlah leukosit pada penderita demam tifoid. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional, dengan teknik pengambilan sampel yang sesuai kriteria inklusi dengan Teknik purposive sampling dengan populasi semua pasien terkena demam tifoid yang tercatat rekam medis RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta pada bulan Januari-Desember tahun 2024 berjumlah 100 data pasien. Hasil dari penelitian bahwa pasien demam tifoid terbanyak pada jumlah leukosit dengan nilai normal sebanyak 57 (57%) responden dengan rata-rata 7.165 /ul darah, pada pasien demam tifoid yang terbanyak pada jumlah limfosit dengan nilai normal sebanyak 63 (63%) responden dengan rata-rata 27.78/ul darah dari total 100 responden, menurut jenis kelamin penderita demam tifoid terbanyak pada perempuan 63 (63%) responden, sedangkan laki-laki 37 (37%) responden. Berdasrkan usia jumlah terbanyak pada usia 19-59 tahun 71 (71%) responden dan jumlah yang paling sedikit usia >60 tahun 4 (4%) responden. Kesimpulan pada penelitian tersebut terhadap 100 pasien demam tifoid di RSU PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta dengan rata-rata jumlah leukosit 7.77/ul darah.
RELAKSASI OTOT PROGRESIF SEBAGAI UPAYA NON FARMAKOLOGIS DALAM MENGONTROL HIPERTENSI DI PUSKESMAS GONDANGREJO setyaningsih, yuniarti; Musta’in, Musta’in; Irawan, Ady
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49975

Abstract

Peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg, dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi. Menurut SKI tahun 2023 prevalensi kejadian hipertensi sebesar 30,8% untuk usia 18 tahun ke atas. Hipertensi jika tidak ditangani dapat menyebabkan gagal jantung, jantung koroner, stroke, dan gagal ginjal. Relaksasi Otot Progresif (ROP) merupakan salah satu penanganan hipertensi dengan cara non farmakologis dan dapat dilakukan dengan cukup mudah oleh setiap orang, tidak menimbulkan efek samping, dan tidak memerlukan biaya besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Relaksasi Otot Progresif (ROP) dalam mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Gondangrejo. Jenis penelitian ini menggunakan desain quasy-eksperimental dengan rancangan pretest-posttest control group design. Sampel berjumlah 36 responden yang terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Analisa data menggnakan uji Paired Samples T Test dan uji Effect Size Cohen’s dengan uji normalitas Shapiro-Wilk. Hasil uji Paired Samples T Test pada kelompok eksperimen didapatkan nilai t = 12,720 dengan p-value 0,000 (p <0,05) pada tekanan darah sistolik, dan pada tekanan darah diastolik didapatkan nilai t = 7,550 dengan p-value 0,000 (p <0,05). Pada kelompok kontrol didapatkan nilai t = -1,797 dengan p-value 0,090 (p >0,05) untuk tekanan darah sistolik, dan untuk tekanan darah diastolik didapatkan nilai t = 1,971 dengan p-value 0,060 (p >0,05). Hasil uji Effect Size didapatkan perbedaan yang sangat besar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sesudah diberikan intervensi pada tekanan darah sistolik didapatkan nilai Cohen’s 1,753 dan tekanan darah diastolik 1,308. Relaksasi Otot Progresif (ROP) efektif dalam mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Gondangrejo.
HUBUNGAN USIA, DURASI DAN LAMA KERJA TERHADAP KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (NPB) PADA PENJAHIT KONVEKSI DI KOTA PALU Nilawati, Nilawati; Filatamar, Anggun; Fitriani, Junjun; Sulistiana, Ria; Rupawan, I Kadek; Akib, Muhammad Ihsan; Pratika, Mayabi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49983

Abstract

Nyeri Punggung Bawah (NPB) merupakan sindrom klinis yang ditandai dengan timbulnya gejala nyeri di sekitar punggung bawah (L5-S1) tanpa atau dapat disertai penularan ke ekstremitas inferior. NPB merupakan keluhan muskuloskeletal yang paling umum. Prevalensinya berkisar 20-33% pada seluruh penderita keluhan nyeri muskuloskeletal di seluruh dunia. Jumlah penderita nyeri punggung bawah di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan antara 7,6% hingga 37%. NPB dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko seperti usia, durasi dan lama bekerja. Penjahit konveksi merupakan pekerjaan dengan risiko tinggi terjadinya keluhan NPB akibat paparan faktor risiko dalam melakukan pekerjaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, durasi dan lama bekerja terhadap keluhan Nyeri Punggung Bawah (NPB) pada penjahit konveksi di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penjahit konveksi, ukuran sampel adalah 36 yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner berdasarkan The Pain and Distress Scale. Uji chi square untuk analisis bivariat. Ada korelasi antara usia dan lama bekerja dengan keluhan NPB pada penjahit konveksi Kota Palu, sesuai dengan hasil, yang menunjukkan nilai p <0,05 untuk usia (p = 0,000) dan lama bekerja (p = 0,000). Namun, tidak ditemukan korelasi untuk durasi kerja (p = 0,148). Usia dan lama bekerja berhubungan, namun tidak ada korelasi antara durasi kerja dan keluhan NPB pada penjahit konveksi Kota Palu.
GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN DAN JUMLAH LEUKOSIT PADA PASIEN PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM (RSU) RAJAWALI CITRA BANGUNTAPAN YOGYAKARTA Surmin, Azalia Sabila Andi; Hadi, Wahid Syamsul; Anwar, Chairil
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49992

Abstract

Penyakit diabetes mellitus (DM) adalah penyakit tidak menular yang sering dialami orang di seluruh dunia. Peningkatan kadar gula darah, atau kondisi hiperglikemia, yang disebabkan oleh penurunan produksi insulin pankreas. Penelitian ini untuk mengetahui gambaran hemoglobin dan jumlah leukosit pasien yang menderita diabetes melitus tipe 2 pada RSU Rajawali Citra Banguntapan Yogyakarta. Penelitian ini metode cross-sectional dengan pengumpulan data sekunder. Selain itu, pengambilan sampel disesuaikan dengan kriteria inklusi melalui teknik purposive sampling. Jenis kelamin dan tingkat keparahan diabetes melitus adalah variabel bebas dalam penelitian ini, sedangkan diabetes melitus, kadar hemoglobin, dan jumlah leukosit adalah variabel terikat. Uji normalitas, distribusi frekuensi, dan korelasi digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh menggunakan program SPSS. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 100 pasien diabetes melitus di RSU Rajawali Citra Banguntapan Yogyakarta, dengan kadar glukosa darah rata-rata 237,63 mg/dL, menunjukkan bahwa 58 pasien menunjukkan kadar hemoglobin yang rendah dan jumlah leukosit yang tinggi, sementara 42 pasien berada di batas normal. Hasil uji korelasi kemudian menunjukkan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara kadar hemoglobin dan leukosit dan kadar glukosa darah.